Masjid – Pusat Perdamaian dan Cinta Kasih

Hazrat Mirza Masroor Ahmad – Khalifatul Masih V(aba)

Pidato Peresmian Masjid Baitus Samad, Baltimore, USA

20 Oktober 2018

 

masjid pusat perdamaian dan cinta, baitus samad

Pertama-tama dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh tamu undangan yang telah menyempatkan waktu untuk hadir di acara ini. Kehadiran anda semua patut dihargai dan dipuji, karena anda sekalian menghadiri acara sebuah kelompok agama, di saat perhatian terhadap agama semakin menurun di seluruh dunia.

Terlebih lagi anda sekalian menghadiri acara Islam, yakni peresmian sebuah masjid, padahal kalian semua adalah non-muslim yang tidak memiliki hubungan keagamaan atau ikatan emosional dengan masjid atau Islam. Karena memang kami menyadari bahwa di masa ini banyak orang yang keberatan dan bahkan ketakutan terhadap Islam atau Muslim. Mengingat semua hal itu, tentu saja kehadiran anda sekalian adalah sangat berharga dan menuntut saya untuk menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada anda sekalian.

Di samping itu, saya hendak menegaskan bahwa rasa terima kasih ini bukanlah sekedar tata krama belaka, melainkan bentuk kewajiban agama saya, sebagaimana Rasulullah saw mengajarkan bahwa mereka yang tidak menunjukkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada orang lain, maka sama artinya ia tidak mensyukuri Allah. Oleh karena itu, saya menganggap ini adalah sebuah kewajiban agama saya untuk menyampaikan rasa syukur yang tulus kepada anda semua.

Selanjutnya, saya juga ingin memastikan bahwa anda hadir disini dengan niatan untuk mempelajari Islam lebih dalam dan mempelajari apa tujuan kami membangun masjid ini. Karena realitanya memang banyak orang-orang yang berkeberatan terhadap Islam berdasarkan apa yang mereka lihat di media, jadi rasa penasaran dan ketertarikan seperti itu adalah hal yang wajar. Dan tentu saja, disebabkan kondisi masyarakat saat ini, jika anda memendam ketakutan dan kekhawatiran terhadap masjid ini, maka hal itu cukup dipahami.

Tidak diragukan lagi, di sebagian besar dunia, semakin meluas pandangan yang menyatakan bahwa umat Islam itu harus ditakuti. Secara kolektif, umat Islam dicap sebagai “pembuat rusuh’ yang berusaha memecah belah masyarakat dan berkeinginan merusak persatuan dan perdamaian sosial. Muslim dipandang sebagai orang-orang yang tidak dapat hidup berdampingan dengan orang lain secara damai. Lebih jauh lagi, pembangunan sebuah masjid semakin menambah ketakutan dan kecemasan di kalangan non-Muslim. Banyak orang yang takut bahwa masjid nantinya akan menjadi pusat bagi umat Islam untuk mengisolasi diri dari masyarakat lainnya dan merusak kedamaian dan ketenteraman daerah sekitar, kota atau bahkan negara. Saya pribadi telah menyaksikan bahwa ketakutan semacam itu memang benar ada di kalangan non-muslim, dan sayangnya, kecemasan dan ketakutan terhadap Islam dan pengikutnya itu semakin meningkat.

Tetapi fakta sebenarnya adalah, dan akan selalu demikian, bahwa Islam sepenuhnya menentang segala bentuk ekstrimisme, terorisme, atau kekerasan. Islam sangat mengecam segala upaya untuk merusak kebebasan berkeyakinan dan kebebasan hati nurani. Dalam keadaan apapun Islam tidak mengizinkan pemaksaan dalam hal agama; sebaliknya Islam mengajarkan bahwa agama kaitannya dengan hati, sebagaimana tertulis dalam Alquran. Oleh karena itu, saya sangat yakin bahwa persepsi umum yang tersebar di kalangan non-Muslim adalah tidak benar. Dan terkait dengan masjid, maka penting bagi orang-orang untuk mencari tahu sesuai ajaran Islam apa tujuan sebenarnya pembangunan masjid.

Tujuan Hakiki Pembangunan Masjid

Apa niat muslim hakiki dalam membangun masjid? Jika seseorang menilai dengan bijaksana tujuan adanya sebuah masjid dan alasan mengapa masjid dianggap sebagai tempat yang suci bagi umat Islam, mereka akan segera menyadari bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dari masjid. Untuk mengurangi rasa kekhawatiran masyarakat di sini, sekarang saya akan menyampaikan secara singkat tujuan utama dibangunnya sebuah mesjid, sehingga anda sekalian dapat lebih memahami apa pentingnya masjid baru ini, dan juga semua masjid lainnya.

Tujuan utama dari sebuah mesjid tentu saja untuk beribadah kepada Allah, jadi masjid adalah tempat umat Islam bersama-sama bersujud dan bersimpuh di hadapan Allah taala. Ibadah semacam itu dilaksanakan lima kali sehari yang dikenal dengan shalat. Shalat merupakan bagian dari rukun Islam bagi setiap Muslim yang harus dikerjakan.

Tujuan kedua dari masjid adalah menjadi tempat berkumpulnya umat Islam, untuk menguatkan hubungan dan persatuan antar sesama Muslim. Jadi melalui masjid umat Islam dapat menjalin hubungan kekeluargaan yang lebih erat dan membangun suasana persaudaraan dan saling peduli.

Tujuan ketiga sebuah masjid adalah sarana memperkenalkan ajaran Islam kepada non-muslim dan pemenuhan hak-hak masyarakat yang lebih luas. Masjid menyediakan ruang dan tempat bagi berkumpulnya umat Islam untuk berbuat baik kepada tetangga sekitar dan semua masyarakat tanpa memandang keyakinan, kasta atau warna kulit.

Allah taala berfirman:

“Dan, sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya; dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan handai taulan, dan orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang sombong, membanggakan diri.” (QS An-Nisa [4]: 37)

Dalam ayat ini, Alquran memerintahkan kepada umat Islam untuk menunjukkan kebajikan dan kasih sayang kepada seluruh manusia. Ayat ini menyerukan manusia agar berbuat baik kepada orang tua, kaum kerabat, saudara lainnya dan masyarakat yang lemah. Ayat ini juga menekankan kepada pemenuhan hak tetangga. Tetangga bukan hanya mereka yang tinggal di sekitar rumah seseorang, melainkan ruang lingkup tetangga dalam Islam sangatlah luas yakni mencakup mereka yang tinggal berdekatan atau jarak yang jauh; termasuk rekan kerja, teman dalam perjalanan, dan masih banyak lagi. Jadi pada hakikatnya, semua penduduk di kota ini adalah tetangga bagi masjid ini. Maka, masjid ini bukanlah untuk merusak perdamaian, tetapi masjid-masjid dibangun untuk menciptakan perdamaian dalam masyarakat dari berbagai kelompok dan keyakinan.

Ringkasnya, masjid adalah tempat bagi umat Islam untuk meningkatkan hubungan mereka kepada Sang Pencipta, Allah yang Maha Kuasa, dan untuk memenuhi hak-hak sesama manusia. Mesjid manapun yang tidak memenuhi tujuan utama ini maka tidak ada nilainya sama sekali, ia tak lebih sebuah bangunan kosong yang tidak memiliki manfaat.

Sejak awal berdirinya, Jamaah Muslim Ahmadiyah telah membangun masjid-masjid di seluruh dunia dan sejarah kami menjadi saksi bahwa di manapun kami mendirikan masjid, kami selalu berusaha memenuhi tujuan-tujuan yang baru saya uraikan. Melalui amal dan tingkah laku, kami berupaya untuk mewujudkan dan menghayati slogan kami, “Love for all, hatred for none” (cinta untuk semua, dan kebencian tidak untuk siapapun).

Kami membangun hubungan persahabatan dengan non-Ahmadi dan non-Muslim.

Kami mengupayakan dialog antar keyakinan.

Kami menghargai dan mengasihi tetangga kami.

Kami selalu siap membantu orang-orang yang membutuhkan.

Kami memperjuangkan hak-hak orang lemah dan tertindas.

Kami hadir untuk melayani masyarakat dan menjadi warga negara yang taat dan setia.

Ini adalah keyakinan kami dan inilah ajaran kami.

Inilah mengapa kami membangun masjid-masjid.

Dari penjelasan ini, saya berharap dan berdoa semoga anda sekalian tercerahkan bahwa masjid bukanlah tempat yang harus ditakuti. Masjid bukan hanya sebagai pusat beribadah kepada Tuhan, tetapi juga sarana umat Islam untuk melayani sesama. Al-Quran Surah 107: 5-7 menyatakan:

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang dari shalat mereka lalai, orang-orang yang berbuat ria.”

Ayat-ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa ibadah seseorang kepada Allah akan tertolak jika gagal memenuhi hak-hak terhadap makhluk-Nya. Shalat dan masuknya mereka ke masjid tidak lain hanyalah perbuatan dan gerakan yang kosong adanya. Alquran dengan jelas menyatakan bahwa ibadah mereka tidak artinya sama sekali dan kemunafikan hanya akan mendatangkan aib dan keputusasaan bagi mereka. Alhasil, mukmin sejati, yang menyembah Allah secara tulus, tidak akan pernah melakukan sesuatu yang merugikan atau memberi efek negatif bagi perdamaian dan kesejahteraan masyarakat. Mereka juga tidak akan merusak dan mengambil hak orang lain, karena dengan berbuat demikian akan mengkhianati keyakinan mereka dan mengabaikan ajaran Alquran suci dan Nabi Muhammad saw.

Jadi, izinkan saya sekali lagi meyakinkan anda tentang keberadaan masjid ini. Tidak ada alasan bagi kalian untuk khawatir dan cemas. Pintu masjid ini akan selalu terbuka bagi semua orang yang cinta damai.

Masjid ini akan selalu terbuka bagi orang-orang yang menghargai kemanusiaan. Saya sepenuhnya yakin, insyaallah, masjid ini akan menjadi simbol perdamaian, dan semata-mata akan memancarkan cinta, kasih sayang, dan persaudaraan ke seluruh kota bahkan lebih luas lagi.

Masjid akan berperan sebagai sumber cahaya yang menerangi sekelilingnya dan menyebarkan cahaya ke segala arah. Masjid ini akan menjadi rumah perdamaian di mana para jamaahnya bekerja sama untuk berbuat baik kepada tetangga dan memenuhi hak-hak mereka. Masjid akan menunjukkan ajaran Islam hakiki dan menghilangkan semua ketakutan dan mitos yang tersebar mengenai agama kami. Insyaallah semua ketakutan apapun yang melekat dalam hati dan pikiran masyarakat akan segera menghilang. Ketika mereka melihat masjid ini atau bertemu dengan para jamaah yang beribadah di sini, mereka akan segera menyadari bahwa sebetulnya tidak ada yang patut ditakuti dan dikhawatirkan.

Meskipun mudah membuat pernyataan semacam itu, namun saya yakin anda sekalian akan segera menyaksikan bahwa para Ahmadi akan mengamalkan apa yang mereka nyatakan, menjadi orang-orang yang tidak hanya menyatakan ajaran-ajaran damai Islam, tetapi juga memegang teguh ajaran itu. Saya yakin bahwa masyarakat setempat akan menyadari bahwa apa yang saya katakan tentang tujuan masjid bukanlah pemanis saja, tetapi menunjukkan hal yang sebenarnya.

Bekerjasama Untuk Kedamaian Masyarakat

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan bahwa seluruh anggota masyarakat, baik muslim maupun non-muslim, beragama ataupun tidak beragama, agar dapat bekerjasama untuk perdamaian dan kemakmuran dunia. Bukannya membuat tuduhan-tuduhan atau saling menunjuk kekurangan dan kelemahan satu sama lain, kita harus membuka hati kita terhadap orang lain dan menunjukkan kasih sayang dan belas kasih. Bukannya saling menyerang agama dan memprovokasi satu sama lain, tetapi kebutuhan penting saat ini adalah menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi. Perdamaian hakiki yang berkesinambungan tidak dapat terbentuk tiba-tiba dengan menjentikkan jari, tetapi menuntut kita untuk fokus terhadap hal-hal yang menyatukan kita dan kerjasama, bukannya memelihara perbedaan-perbedaan yang dapat memecah belah dan merusak masyarakat kita.

Saya sepenuhnya yakin bahwa kita sedang melewati masa-masa kritis dalam sejarah dunia, di mana dunia semakin terpolarisasi dan terpecahbelah, baik di level nasional maupun internasional. Kita sedang berada di ambang bencana dan oleh karenanya sekarang adalah saatnya untuk mundur selangkah dan fokus kepada upaya melindungi masa depan umat manusia. Sekarang adalah waktu untuk menunjukkan kemanusiaan kita dan mengupayakan segala cara untuk meningkatkan perdamaian di masyarakat kita, di negara dan tentunya di seluruh dunia.

Hanyalah dengan persatuan dan menghormati keyakinan satu sama lain kita akan dapat memperbaiki perpecahan yang telah mengakar di seluruh dunia.

Hanya dengan cara inilah kita dapat mewariskan harapan bagi anak-anak kita.

Hanya dengan cara ini kita dapat meninggalkan dunia yang penuh kemakmuran dan perdamaian untuk generasi yang akan datang.

Kita jangan dibutakan oleh kepentingan diri sendiri dan keserakahan, tetapi kita harus membuka mata dan mencari kebaikan bersama. Saya berharap dan berdoa semoga kita semua dapat bekerjasama dengan semangat kebaikan dan saling menghormati, tanpa membeda-bedakan agama atau keyakinan, dan cita-cita bersama kita adalah menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi generasi mendatang. Tujuan bersama kita adalah meningkatkan perdamaian, keharmonisan, dan niat baik di antara semua kelompok, dan kita harus terus menerus mendambakan dan berupaya menciptakan dunia yang damai bagi anak-anak kita di mana orang-orang dapat hidup berdampingan, tanpa membeda-bedakan ras, agama dan kepercayaan.

Semoga Allah yang maha Kuasa memberikan kemampuan kepada kita semua untuk bekerjasama demi kebaikan umat manusia. Amiin.

Akhir kata, saya ucapkan terimakasih sekali lagi atas kehidaran bapak/ibu sekalian.
Semoga Allah memberkati anda semua.

Terimakasih banyak.


Sumber: Review of Religions
Penerjemah: Mayang Asri
Editor: Jusmansyah