Menanggapi Penggambaran Negatif Terhadap Rasulullah saw dalam Literatur Barat

Sebuah pidato yang disampaikan oleh Atif Munawar Mir pada 31 Maret 2007 yang menjabarkan lima alasan utama terjadinya serangan-serangan terhadap sisi Kehidupan dan Ajaran Nabi Muhammad saw. Pidato ini juga menjelaskan tentang arah tindakan yang harus dilakukan.

Keyword: Rasulullah – Nabi Muhammad – Al-Qur’an – Serangan terhadap Al-Qur’an – Richard Dawkins – Sam Harris – Robert Spencer – Perang – Tawanan Perang – Kebebasan Berbicara – Kartun controversial – Maulana Maududdi – Ateis – Ekstremis Kristen

Pengantar

Selama berabad-abad, Nabi Muhammad saw telah dituduh melancarkan perang yang bersifat agresif oleh musuh-musuh beliau. Untuk menjawab tuduhan ini, saya akan jelaskan dalam pidato saya ini hal-hal berikut:

  • Apa yang dijelaskan Al-Qur’an dan Rasulullah saw tentang perang?
  • Mengapa Nabi Muhammad saw sering digambarkan sebagai nabi yang mengajarkan kekerasan dalam literatur barat?
  • Apa alasan sebenarnya di balik penggambaran negatif ini?
  • Dan akhirnya, mengapa kita harus berusaha untuk menghapus kesalahpahaman terhadap Rasulullah saw di dunia barat?

Apa yang Dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Rasulullah saw tentang Perang?

Adalah benar bahwa Rasulullah saw melakukan peperangan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah mengapa beliau melakukan peperangan tersebut. Jawabannya dapat ditemukan dalam ayat-ayat berikut:

أُذِنَ لِلَّذينَ يُقاتَلونَ بِأَنَّهُم ظُلِموا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلىٰ نَصرِهِم لَقَديرٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya Dan sesungguhnya Allah berkuasa untuk menolong mereka.” (Q.S. 22: 40)

الَّذينَ أُخرِجوا مِن دِيارِهِم بِغَيرِ حَقٍّ إِلّا أَن يَقولوا رَبُّنَا اللَّهُ 

وَلَولا دَفعُ اللَّهِ النّاسَ بَعضَهُم بِبَعضٍ لَهُدِّمَت صَوامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَواتٌ وَمَساجِدُ يُذكَرُ فيهَا اسمُ اللَّهِ كَثيرً

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزيزٌ

“Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Dan sekiranya Allah tidak menangkis (serangan) sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa. (Q.S. 22: 42)

Ayat ini jelas menerangkan bahwa peperangan yang diperbolehkan dalam Islam hanyalah perang yang bersifat defensif.  Dan kalaupun karena suatu kondisi terjadi perang defensif, Nabi Muhammad saw memberikan aturan-aturan kepada para pengikut beliau apa saja yang tidak boleh mereka lakukan selama peperangan terjadi. Misalnya, Beliau menjelaskan:

  • Para orang tua, anak kecil dan wanita tidak boleh dibunuh. Perdamaian harus selalu menjadi perhatian. (Abu Daud)
  • Jika kaum Muslimin memasuki wilayah musuh, mereka tidak boleh melakukan teror terhadap khalayak penduduk. Mereka tidak diizinkan melakukan perlakuan buruk terhadap rakyat jelata (Muslim).
  • Kerusakan dan kerugian yang ditimpakan kepada musuh harus ditekan sampai sekecil-kecilnya (Abu Daud).
  • Jika seorang Muslim menjamin hidup seorang tawanan perang, maka tawanan itu harus diberi makan dan pakaian yang sama seperti orang Muslim itu sendiri (Bukhari).

Berdasarkan Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw sangat jelas tergambar bahwa kendatipun saat umat Islam menjadi target dari perang ofensif, mereka terap harus menghargai nyawa, kebebasan, dan harta benda musuh, terutama warga sipil.

Gambaran Barat Terhadap Nabi Muhammad saw

Ada banyak sejarawan dan sarjana-sarjana Barat yang telah memberikan gambaran yang benar dan obyektif terhadap Rasulullah saw sebagai nabi yang damai. Tetapi serangan terhadap Rasulullah saw pun telah dilakukan juga selama berabad-abad. Terlebih setelah peristiwa 11 september, kita melihat begitu meningkatnya serangan terhadap Rasulullah saw.

Beberapa buku terbaru seperti yang ditulis oleh Robert Spencer, Richard Dawkins dan Sam Harris mereka telah menggambarkan Nabi Muhammad saw sebagai sosok yang bengis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan dalam pidato ini saya akan fokus kepada tiga penulis tersebut. Misalnya, Robert Spencer dalam buku terbarunya, “Truth about Muhammad” (Kebenaran tentang Muhammad) menyalahkan ajaran Nabi Muhammad saw atas tindakan-tindakan kekerasan terorisme di zaman sekarang. Ia berpendapat bahwa perang dan konflik serta pertumpahan darah akan terus berlanjut selama umat Islam tetap menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai teladan mereka.

Tudahan-tuduhan yang dilancarkan oleh Richard Dawkins, Sam Harris dan Robert Spencer dan penulis-penulis lainnya yang mendeskreditkan Rasulullah saw sebenarnya bukanlah tuduhan baru. Mereka hanya mengulang-ulang kritikan yang sama yang telah dibuat oleh para penentang Nabi Muhammad saw sepanjang milenium ini. Mengapa Nabi Muhammad saw digambarkan secara negatif oleh beberapa sarjana Barat? Terdapat lima alasan:

  1. Kesalahan tafsir dari orang-orang yang disebut ulama Islam terhadap Rasulullah saw
  2. Generalisasi dari beberapa ayat atau ajaran Rasulullah saw yang dilakukan oleh para sarjana
  3. Prasangka para sarjana
  4. Atheisme
  5. Penerapan yang salah terhadap Kebebasan Berpendapat

Kelima alasan ini sangatlah mendasar tetapi krusial dalam memahami sifat serangan-serangan yang dilancarkan terhadap Nabi Muhammad saw sepanjang sejarah.

  1. Mereka Yang Disebut Ulama Islam

Beberapa ulama Islam ternyata juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw menyebarkan Islam melalui pedang. Salah satunya adalah Maududi, seorang ulama Islam, yang untuk tujuan politisnya berpendapat dalam bukunya bahwa Nabi Muhammad saw menyebarkan Islam dengan pedang. Orang-orang seperti Maududi telah merusak nama baik Rasulullah saw dengan menggambarkan beliau sebagai ‘manusia pedang’; bahkan yang lebih buruk ia telah mengarahkan umat Islam yang lugu untuk percaya bahwa kekerasan dan terorisme adalah solusi bagi tantangan yang dihadapi oleh dunia Islam.

Mereka yang konon disebut ulama tersebut telah memberikan amunisi kepada para kritikus barat untuk mengkritik Rasulullah saw. Oleh karena itu diantara yang bertanggung jawab atas penggambaran negatif kepada Rasulullah saw adalah Muslim ekstremis.

  1. Generalisasi atas Pembacaan Parsial oleh Sarjana Barat

Para penentang Islam tidak menggunakan semua sumber-sumber awal Islam seperti Al-Qur’an, sejarah awal Rasulullah saw, hadits, sunah dll ketika mereka menulis tentang kehidupan Rasulullah saw. Dan kalaupun mereka memakainya, mereka akhirnya memilih bagian-bagian dari sumber-sumber asli tersebut yang mendukung prasangka mereka terhadap Rasulullah saw. Misalnya mereka memilih satu ayat atau satu aspek kehidupan dan ajaran Rasulullah saw dan berdasarkan hal itu mereka membuat generalisasi pada seluruh kehidupan dan ajaran Rasulullah saw dan mengabaikan ayat-ayat lain yang dapat memberikan gambaran yang akurat. Saya akan gambarkan hal ini dengan sebuah contoh.

Simak kutipan ini baik-baik “Anda bertanya apa kebijakan kami. Saya akan mengatakan, kebijakan kami adalah berperang dengan sekuat tenaga kami, dengan semua kekuatan yang Tuhan berikan kepada kami”. Menyimak kalimat ini tanpa mengetahui latar belakangnya mungkin kalian akan mengartikan ini sebagai kata-kata dari seorang Osama bin Laden. Padahal kutipan ini diambil dari pidato Winston Churchill pada saat Perang Dunia II ketika tentara Jerman bertekad menghancurkan Inggris. Jadi ini adalah kalimat dari seorang Perdana Menteri yang membuat pernyataan yang kuat bahwa kebijakannya adalah mempertahankan negaranya dari tirani.

Beberapa kritikus Rasulullah saw juga memilih ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an dan hadits. Misalnya dalam upaya mereka membuktikan Rasulullah saw telah menyerukan pembunuhan terhadap orang kafir mereka mengambil ayat Al-Qur’an yang nyata-nyata keluar dari konteksnya. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah:

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.” (47:5)

Robert Spencer menggunakan penggalan ayat ini dalam bukunya, dengan mengatakan bahwa Rasulullah saw telah memberikan izin kepada umat Islam untuk menghantam leher orang-orang kafir bahkan pada zaman sekarang. Dalam bukunya, ia menjelaskan bagaimana Zarqawi, seroang teroris Irak yang tewas tahun lalu, telah terinspirasi oleh ayat ini untuk menculik dan memenggal kepala seorang warga negara Amerika. Apa yang dilakukan Zarqawi memang layak dikecam. Tetapi apakah Zarqawi telah terinspirasi dari ayat ini atau menyalahgunakan ayat ini untuk tujuan politiknya bukanlah topik pidato saya.

Tetapi apa yang kami ketahui adalah Robert Spencer telah abai dalam menganalisa ayat pada arti yang seharusnya. Ia tidak memberikan konteks yang lengkap dan latar belakang dari ayat ini. Ia juga dengan gampang melupakan pembahasan bagian kedua ayat ini dalam uraiannya.

Ayat ini turun saat umat Islam sedang menghadapi orang-orang Mekkah dalam Perang Badar. Jumlah orang Islam pada waktu itu sebanyak 313 orang sedangkan kaum Mekkah berjumlah lebih dari 1000 orang. Kaum Quraisy memiliki senjata yang lebih lengkap dibandingkan umat Islam. Kaum Quraisy sudah siap untuk menghabisi umat Islam. Ayat ini diturunkan dalam konteks ini.

Jika kalian berpikir secara rasional tentang ayat ini maka pengertiannya adalah di dalam perang umat Islam diizinkan untuk membunuh, sebagaimana pasukan Amerika atau pasukan lainnya di dunia mengajarkan para tentaranya untuk membunuh selama peperangan. Bagian kedua ayat ini berbunyi bahwa ‘apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka perkuatlah belenggu mereka’. Bagian ini dengan jelas menunjukkan bahwa pembunuhan itu diperbolehkan di masa peperangan tetapi saat kalian telah menundukkan tentara musuh, perkuatlah ikatannya sehingga ia tidak bisa melarikan diri dan ia dapat bergabung kembali dengan musuh. Setelah perang berakhir kalian dapat membebaskan mereka sebagai bentuk kebaikan atau untuk tebusan.

Seperti yang kalian lihat, Robert Spencer telah gagal memberikan konteks yang lengkap dan gagal menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya dan hadits-hadits Nabi saw yang menjelaskan tentang perang dan ia telah membuat kesimpulan yang sangat keliru tentang ajaran Rasulullah saw. Ia telah menggambarkan Rasulullah saw bukan sebagai seorang yang telah memperkenalkan hak kepada para tawanan perang 1400 tahun yang lalu. Sebaliknya ia menggambarkan beliau sebagai sosok yang menginspirasi pemancungan seorang warga sipil Amerika yang tidak bersalah.

  1. Prasangka

Penjelasan kedua dari penggambaran negatif terhadap Rasulullah saw adalah karena prasangka yang ditampilkan oleh ekstremis Kristen. Mereka tidak mewakili pandangan arus utama kekristenan. Tetapi mereka sering mendapat liputan di beberapa saluran terkenal sehingga sangat penting untuk membuka kedok dari tujuan mereka sebenarnya. Mereka memandang Rasulullah saw sebagai sosok yang telah mencuri kisah-kisah Alkitab dan memasukkannya ke dalam Al-Qur’an setelah memodifikasinya. Mereka tidak bisa memahami bagaimana seseorang yang disebut sebagai nabi palsu tapi mampu mengajak jutaan orang ke dalam agamanya. Bagaimana kalian menjelaskan kesuksesan yang besar dari seorang yang disebut nabi palsu? Satu-satunya penjelasan yang dapat mereka kemukakan adalah bahwa beliau telah menggunakan pedang untuk menyebarkan agama Islam. Orang-orang Kristen ekstrem ini, jika saya menggunakan ungkapan, tidak berupaya menjelaskan seperti apa Rasulullah saw melainkan mereka menggambarkan Rasulullah saw sedemikian rupa demi membantu mereka untuk meyakinkan orang-orang Kristen akan keimanan mereka sendiri. Sayangnya dalam prosesnya mereka telah menyesatkan orang-orang Kristen tentang ajaran yang benar dari kehidupan Rasulullah saw.

  1. Atheisme

Alasan ketiga dari penggambaran negatif terhadap Rasulullah saw adalah meningkatnya gerakan atheis di barat. Orang-orang atheis ini tidak menyerang hanya pada agama tertentu saja melainkan kepada semua agama. Mereka memiliki interpretasi sejarah yang sangat sempit. Mereka yakin pada satu teori bahwa sebagian besar dari peperangan telah terjadi karena berlatarkan agama. Mereka juga menyertakan kehidupan Rasulullah saw dalam teori mereka. Jika Beliau saw dapat memasukkan begitu banyak orang dalam waktu yang singkat, maka itu pasti menggunakan kekerasan. Sam Harris dan Richard Hawkins termasuk dalam kelompok ini. Untuk membenarkan teorinya, bahkan mereka secara implisit telah menyalahkan agama atas terjadinya Perang Dunia II. Pertama-tama kesimpulan ini tentu saja adalah omong kosong belaka. Terjadinya Perang Dunia II bukan karena agama. Kalian mungkin saja berpendapat bahwa agama termasuk satu faktor dalam perang tersebut tetapi jelas itu bukanlah faktor utama. Peperangan adalah bagian dari kondisi manusia. Sayangnya peperangan telah terjadi sejak awal peradaban. Itulah salah satu alasan mengapa Nabi Muhammad saw memperkenalkan kode etik perang. Tentunya beliau telah menggunakan segala sarana yang memungkinkan untuk mencegah perang, tetapi jika perang benar-benar dilarang maka kemungkinan Nazi masih akan menguasai Eropa dan mungkin semua masjid, sinagog dan juga gereja akan hancur.

  1. Penerapan yang Salah Terhadap Kebebasan Berpendapat

Paham kebebasan berbicara telah menciptakan serangan yang tidak adil terhadap Rasulullah saw. Para pendukung kebebasan berbicara yang memulai kartun kontroversi yang menyerang Nabi Muhammad saw bukan karena mereka adalah atheis atau Kristen ekstrim tetapi karena agama mereka adalah kebebasan berbicara. Mereka menerbitkan kartun Nabi Muhammad saw untuk ‘berkontribusi bagi perdebatan mengenai kritik Islam dan sensor diri.”

Mereka membuat kartun yang ofensif tersebut hanya untuk membuat satu maksud saja yaitu supaya umat Islam terbiasa dengan penghinaan terhadap Nabi mereka seperti agama-agama lain yang telah terbiasa dengan penghinaan terhadap nabi-nabi mereka. Mereka mungkin telah menyuarakan kebebasan berbicara tetapi dengan mengorbankan perdamaian. Dunia menjadi terpecah karena agama, nasionalisme, ideologi dan etnis, dan bahkan lebih banyak lagi perpecahan. Kebebasan berbicara itu penting namun ketika hal itu menjadi semacam lisensi untuk menyebarkan kebencian maka hal itu tidak akan jauh beda dengan Kristen atau Islam ekstremis yang berupaya menyeret dunia ke jurang kekerasan global. Tujuan dari kebebasan berbicara sejatinya adalah untuk menciptakan kebenaran bukan untuk menyebarkan kebencian.

Mengapa Menghilangkan Kesalahpahaman tentang Nabi Muhammad saw penting?

Banyak diantara kita yang hidup di alam demokrasi barat, seperti Kanada dan Amerika Serikat, yang semakin multikultural. Orang-orang dari budaya yang berbeda berinteraksi setiap hari. Salah satu aspek dari multikulturalisme adalah menghormati budaya dan agama masing-masing, sehingga jika Nabi Muhammad digambarkan sebagai sosok yang bengis dan diperlakukan dengan tidak hormat di media, sementara kita menganggap beliau sebagai manusia yang sempurna, maka hal itu akan menciptakan hubungan yang buruk diantara kita dan orang-orang-orang di sekitar kita, di tempat kerja ataupun sekolah.

Ini adalah tanggung jawab kita sebagai pembela Islam untuk memperdalam ilmu tentang sejarah dan kehidupan Rasulullah saw dan menyoroti peri kehidupan Rasulullah saw yang sempurna secara rasional dan menjawab argumen dari para kritikus ketika diperlukan. Dengan kalimat yang sederhana, jika kita mengedukasi non Muslim Barat tentang kehidupan Rasulullah saw, kita akan meningkatkan hubungan budaya di masyarakat barat dan pada saat yang sama kita akan menyampaikan pesan Islam. Tapi pesan harus disampaikan dengan efektif. Bagaimana penyampaian yang efektif itu? dakwah kita akan efektif bila kita bertindak berdasarkan ajaran dari pesan kita, dengan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad saw dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini adalah cara terbaik untuk menanggapi kesan negatif terhadap Nabi Muhammad saw di dunia barat. Nabi Muhammad saw telah menyerap sifat Allah ke dalam hati dan jiwa beliau melebihi yang dapat orang lain lakukan, sehingga beliau menjadi manusia pilihan Tuhan dan memperlihatkan kasih sayang, cinta dan pengampunan. Itulah alasan sebenarnya dari ekspansi Islam. Beliau biasa berbuat kebaikan yang luar biasa saat beliau sendiri tinggal di rumah yang kecil tanpa tempat tidur yang memadai dan tanpa makanan yang enak, di saat beliau sangat mudah untuk menjalani kehidupan seorang raja. Ini adalah bagian terbaik kehidupan beliau saw yang para pengkritik Rasulullah saw lupakan dalam penelitian mereka.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah menggambarkan kehidupan Rasulullah saw dengan kata-kata yang begitu dalam. Beliau bersabda:

“Dia adalah sosok terdepan yang telah mengembalikan Keagungan Tuhan ke dunia ini yang telah lama menghilang; ia mencintai Tuhan pada tingkat tertinggi dan jiwanya telah melebur dalam bersimpati kepada umat manusia. Oleh karenanya Allah, yang mengetahui rahasia hatinya, telah meninggikan derajat beliau diatas semua nabi dan dari semua orang yang pertama dan yang terakhir.

Kita harus berdoa agar Allah dapat membimbing kita dan membantu kita dalam melakukan bagian kita dalam menjelaskan kebenaran tentang Nabi Muhammad saw ke seluruh dunia.

Penerjemah:  Khaeruddin Ahmad Jusmansyah

Sumber: https://www.alislam.org/topics/Response_to_the_Negative_Portrayal_of_Holy_Prophet.pdf

(Visited 207 times, 1 visits today)