Pada masa sekarang ini kehidupan telah menjadi semakin rumit dan kompleks, dan orang-orang berupaya mencari jawaban untuk itu. Umat manusia, sebagaimana di masa lalu, sekali lagi tengah berada di persimpangan jalan. Manusia dipaksa oleh perubahan sosial dan kondisi global untuk mengevaluasi kembali pandangan mereka terhadap kehidupan. Jika tidak ada langkah-langkah yang diambil untuk menghapus kebingungan ini, maka sangat mungkin di masa yang akan datang, zaman ini akan diingat sebagai zaman dari pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Dalam upaya untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, saya ingin mengetengahkan kepada anda semua tentang pesan Hazrat Masih Mau’ud as (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad) bagi masyarakat kontemporer.

Konsep mengenai Almasih sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Agama Kristen, Agama Yahudi, dan 72 dari 73 golongan Islam, semuanya menganut suatu keyakinan tentang kedatangan Almasih dalam satu sosok atau lainnya. Apa yang membedakan Ahmadiyah, golongan ke 73 dari Islam, adalah sementara yang lain masih menunggu kedatangan dari Almasih, anggota jamaah ini meyakini bahwa Almasih yang dijanjikan tersebut telah datang. Bahkan beliau telah wafat dalam wujud Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as dari Qadian (sebuah desa di India). Jamaah ini tidak menganut suatu keimanan baru, melainkan kembali pada sumber asli Islam, yaitu Al-Qur’an itu sendiri, untuk semua akidah dan ajaran-ajarannya.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian memiliki misi rohani untuk membersihkan adat-adat kebiasaan yang keliru, yang dikait-kaitkan kepada agama Islam oleh para pengikutnya. Ini merupakan rumah pemurnian yang merupakan amanat yang diberikan Allah Swt kepada beliau. Beliau tidak menambahkan dalam akidahnya suatu ajaran baru dari beliau sendiri, beliau hanya berupaya untuk menghapuskan kesalahpahaman yang telah merasuk secara perlahan kepada para pemeluk agama selama berabad-abad. Merupakan fakta umum dimana sebagai ajaran yang diwariskan secara berkesinambungan, ajaran itu sedikit demi sedikit mengalami perubahan selama perjalanannya sesuai dengan pandangan dan prasangka dari masing-masing individu si penyampai pesan. Hasil akhirnya adalah pada mata rantai terakhir, bentuk asli dan bentuk akhir dari ajaran tersebut menjadi sangat berbeda. Misi Hazrat Masih Mau’ud as adalah untuk menghilangkan penjelasan-penjelasan yang keliru – yang tercampur dengan kebenaran selama berabad-abad – dan membawa kaum Muslimin kembali kepada bentuk keimanan yang asli.

Maksud membahas permasalahan ini lebih dalam adalah dengan mengikuti jalan pikiran ini, akan menjadi jelas bahwa pesan Hazrat Masih Mau’ud as untuk masyarakat kontemporer sekarang sebenarnya adalah pesan Islam bagi masyarakat kontemporer zaman sekarang. Sekarang marilah kita meneliti pesan ini melalui sudut pandang Ahmadiyah, dan hanya merujuk kepada contoh dari Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah saw.

Satu keberatan yang paling sering dikemukan terhadap pesan-pesan tersebut adalah bahwa saat ini pesan tersebut sudah ketinggalan zaman. Saya ingin menunjukkan kepada anda bahwa tidaklah demikian keadaanya. Keadaan sosial di masa Arab kuno (pada masa Nabi Muhammad saw) hampir sama dengan zaman modern saat ini. Tingkah laku para pemuda Mekah pada masa itu telah terlibat dalam minum-minuman keras, judi dan dan seks bebas. Ketiga macam hal itu nyatanya juga terjadi di masa sekarang. Meskipun berjudi mungkin sekarang ini telah digantikan dengan kepentingan sosial yang lain, namun minum dan seks bebas masih menyedot perhatian yang besar dalam masyarakat sekarang ini.

Arabia kuno juga menjadi pemain dalam perebutan dominasi global. Pada zaman sekarangpun, berbagai negara atau blok-blok negara berlomba-lomba untuk mendapatkan supremasinya.

Pada masa itu, kekerasan disebabkan oleh provokasi kecil dengan dendam yang melintas batas generasi. Paralel dengan situasi sekarang ini dimana pertikaian-pertikaian berkecamuk selama bertahun-tahun antar geng yang saling bertikai karena alasan yang sangat remeh.

Pada taraf yang sedikit berbeda, maka sebagaimana juga sekarang, orang-orang tersebut memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk kota pada saat itu, dengan mengirimkan kaum muda mereka dibawah pemeliharaan orang-orang suku yang tinggal di gurun pasir, sehingga mereka dapat dibesarkan dalam udara yang segar di gurun pasir terbuka.

Pesan Islam bagi masyarakat kontemporer merupakan salah satu bagian dari keseluruhan pesan Islam. Sangat sulit untuk memisahkan antara keduanya dan dalam upaya memperoleh pemahaman pada masa awal, konteks yang terkini harus dipahami terlebih dahulu. Pesan itu sendiri didasarkan pada tiga prinsip berikut ini: 1. Keesaan Tuhan 2. Tujuan keberadaan (hidup) manusia 3. Martabat dan persamaan derajat umat manusia.

Prinsip Pertama: Keesaan Tuhan

Prinsip pertama yaitu Keesaan Tuhan, merupakan poros dimana ajaran dan doktrin Islam berpusar. Dari sini, dasar kesatuan alam semesta, manusia dan kehidupan berjalan. Tujuan Islam adalah untuk membangun sebuah keseimbangan dan menciptakan keserasian dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan dan dengan alam semesta melalui penyesuaian yang tepat.

Al-Quran dengan tegas menolak beberapa doktrin, ide atau konsep yang secara langsung maupun tidak langsung mengasosiasikan hal atau wujud lain kepada Tuhan, memiliki kedudukan yang sama atau sederajat. Dalam Al-Quran 112: 2-5 difirmankan:

“Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah yang tidak bergantung pada apapun, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tiada yang sama seperti diri-Nya’…”

Allah adalah pencipta yang tunggal, Al-Quran menjelaskan dalam surah 39: 63-64,

“Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia adalah pelindung segala sesuatu, dan kepada-Nya lah kunci langit dan bumi”

Al-Quran memberikan penjelasan yang sangat detail tentang sifat-sifat Allah swt. Sebagai contoh: Dia adalah Sang Pencipta serta Pemelihara seluruh dunia dan membawa mereka setahap demi setahap kearah kesempurnaan; Dia adalah Yang Maha Pengasih, Yang melengkapi segala sesuatu untuk tujuan penciptaan manusia dan alam semesta; Dia Yang Maha Penyayang, yang memberikan ganjaran kebajikan bagi mereka yang melakukan amal sholeh; dan Dia adalah Pemilik Hari Pembalasan, Yang akan menghakimi dan menentukan hukuman dan ganjaran.

Prinsip Kedua: Tujuan Hidup Manusia

Prinsip yang kedua adalah tujuan dari keberadaan umat manusia telah menjadi pertanyaan yang diperdebatkan oleh para filusuf sejak zaman dahulu. Agama Islam pun memiliki pandangan terkait hal ini. Bahwa terdapat sebuah tujuan dalam penciptaan alam semesta ini, Al-Qur’an menjelaskan dalam surah 21 : 17-18,

“Kami tidaklah menciptakan langit dan bumi dan apapun diantara keduanya sebagai permainan. Sekiranya Kami berkehendak untuk menjadikan suatu hiburan, tentulah Kami akan menjadikannya di hadapan Kami, itu pun seandainya Kami mau berbuat demikian.”

Tujuan penciptaan alam semesta adalah untuk membantu manusia dalam memperoleh pengaruh dari sifat-sifat Allah Ta’ala dan menjadi manifestasi dari sifat-sifat tersebut dalam batas-batas kemampuannya, sehingga manusia menjadi cerminan Tuhan.

Mungkin satu perbedaan yang dapat dibuat antara masa lalu dan masa modern adalah kontinum waktu untuk perubahan dalam komunitas global telah berubah secara drastis. Dinamika peristiwa-peristiwa global memiliki kapasitas perubahan yang luar biasa, misalnya peristiwa pecahnya Uni Soviet dan runtuhnya tembok Berlin. Sebelumnya status quo menikmati stabilitasnya untuk jangka yang lebih lama, tetapi sekarang wajah dunia terus berubah. Banyak orang yang mengamati perubahan skala besar ini yang berdampak kepada kita semua secara kolektif sebagai sesama ras manusia. Hal ini menjadi sulit untuk meredam peningkatan kecemasan pribadi, ditambah dengan ketidakpastian global. Disinilah ibadah mengambil perannya.

Tatkala jiwa menjadi terlalu terbebani dan membutuhkan pelipur lara, maka secara alami ia akan kembali kepada Sang Pencipta yang darinya tidak ada satupun rahasia. Dorongan alami yang menjadi luarbiasa berpengaruh khususnya pada kondisi sulit ini dengan sendirinya menjadi bukti akan keberadaan Tuhan dan kebutuhan untuk menjalin hubungan erat kepada Tuhan.

Izinkan saya untuk lebih jelas menyoroti poin ini. Jawaban atas pertanyaan “Manakah jalan yang lurus itu” dan “Seperti apa jalan Tuhan itu?” bisa didapat dengan jelas melalui doa yang sungguh-sungguh. Anda lihat, Tuhan sendiri yang akan menampakkan kepada kalbu anda seperti apakah jalan-Nya itu. Al-Qur’an menjelaskan dalam surah 2:187, “Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah ”Sesungguh nya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.”

Prinsip Ketiga: Martabat dan persamaan derajat umat manusia.

Beralih kepada prinsip ketiga dari pesan ini yaitu martabat dan persamaan derajat umat manusia. Telah awam diketahui bahwa kini ada tren untuk mengelompokkan individu-individu. Hal ini kontra-produktif dan menentukan. Dalam konteks pesan ini, setiap individu memiliki potensi yang sama untuk meraih derajat tertinggi dalam kerohanian dan keduniawian. Perbedaan ras, warna kulit, bahasa, budaya, kesejahteraan dan sebagainya tidak menjadikan seseorang superior ataupun inferior. Tidak ada satu individupun dapat mengklaim kehormatan atau martabat berdasarkan pada keanggotaan dari suku tertentu atau kewarganegaraan dari suatu negara tertentu. Al-Qur’an menjelaskan hal ini dan menyatakan bahwa sumber sejati dari kehormatan dalam pandangan Tuhan adalah kehidupan yang penuh ketakwaan.

Al-Qur’an menyebutkan dalam surah 21:108 bahwa Rasulullah saw telah diutus sebagai manifestasi rahmat Allah untuk umat manusia. Untuk alasan ini Nabi Muhammad saw dipandang memiliki derajat tertinggi diantara manusia, oleh para penganut Islam. Tetapi Rasulullah saw berupaya keras mengajarkan kepada umatnya bahwa beliau hanyalah manusia biasa seperti halnya mereka.

Di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw, salah satu perhatian utama beliau adalah kekhawatiran beliau kalau-kalau setelah kewafatannya, umat Islam terlalu meninggikan posisi beliau diatas manusia yang lain, seperti yang telah dilakukan oleh para pengikut nabi-nabi lainnya. Inilah mengapa selama periode tersebut beliau senantiasa menegaskan berulang kali bahwa beliau adalah seorang manusia biasa, yang Allah Ta’ala  telah menurunkan wahyu kepada beliau untuk membimbing umat manusia. Bukti dari kekhawatiran ini dinyatakan dalam Pidato Terakhir beliau yang disampaikan di lembah Arafah diluar kota Mekah. Diantara hal-hal yang Rasulullah saw sampaikan kepada para pengikutnya adalah bahwa para pengikutnya yang beriman menjalani kehidupan mereka sesuai dengan perintah-perintah Allah. Mereka harus memperlakukan wanita dengan hormat dan memperhatikan dan memenuhi hak-hak mereka sama seperti hak-hak yang dimiliki kaum laki-laki, dan terakhir, bahwa semua manusia adalah sama, apapun status mereka dan tidak ada seorangpun yang dapat menyatakan ia lebih istimewa atau lebih unggul diatas yang lain.

Dengan keseriusan dan pentingnya permasalahan sejauh ini, mari kita mengambil jeda sejenak. Merupakan hal yang penting bagi kita untuk senantiasa melihat kepada kehidupan kita yang lebih sederhana, seperti yang ditunjukkan sendiri oleh Rasulullah saw. Mari kita simak beberapa contoh.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw suatu kali ditantang oleh istri beliau Aisyah ra untuk lomba lari yang kemudian dimenangkan oleh Aisyah. Satu tahun kemudian, beliau menantang Aisyah ra untuk bertanding ulang dan kali ini beliau menang. Setelah itu beliau tertawa dan bersabda: “Aisyah sekarang kita seri”.

Diriwayatkan pula bahwa seorang laki-laki miskin suatu kali dinyatakan bersalah karena suatu pelanggaran dan Rasulullah mengenakan denda kepadanya dalam bentuk memberi sedekah. Sayangnya orang tersebut karena sangat miskinnya sehingga ia tidak memiliki sedikitpun uang untuk membayar denda. Kebetulan Rasulullah saw baru saja menerima sekeranjang kurma dari sahabat yang lain untuk dibagikan sebagai sedekah. Rasulullah saw berpaling kepada laki-laki miskin tersebut dan bersabda kepadanya untuk membagikan keranjang tersebut kepada mereka yang membutuhkan. Kemudian laki-laki tersebut menjawab “Tuan, yang saya tahu bahwa tidak ada orang lain yang lebih berhak menerima sedekah ini selain diriku sendiri,” Rasulullah saw tertawa dan bersabda “Baiklah kalau begitu, ambillah keranjang tersebut untuk dirimu sendiri dan hal tersebut akan dianggap sebagai pembayaran denda kamu”.

Jadi terlepas dari beban dan tanggung jawab berat yang diletakkan pada pundak Rasulullah saw, beliau tetap memiliki waktu untuk bercanda. Hal ini merupakan sesuatu yang berharga dan jika kita semua mulai menerapkan ini, tingkat stress kita akan menurun baik di tempat kerja maupun di rumah.

Setelah menutup aspek yang luas dari pesan ini, sekarang saya ingin memberikan penekanan kepada beberapa aspek tertentu yang memiliki relevansi yang lebih besar untuk masa sekarang.

Persaudaraan dan Perdamaian

Titik awal yang penting untuk mengurai masalah besar yang dihadapi oleh kita sekarang ini adalah dengan menyadari bahwa kita semua bersaudara. Hal ini mungkin terdengar sederhana namun kita semua adalah keturunan dari dua sosok, Adam dan Hawa. Kondisi global telah mempengaruhi kita berangkat ke arah yang berbeda, menempati relung kecil dunia kita sendiri di tengah bumi yang luas. Kita berkembang dalam keterasingan antara satu sama lain dan di suatu tempat di dalam perjalanan, kita kehilangan arah dari warisan kita bersama. Kita semua adalah anak-anak Tuhan dan kita semua merupakan anggota dari persaudaraan universal manusia. Sekali saja kesadaran ini dimiliki, perbedaan kita yang nampaknya tidak dapat diatasi menjadi runtuh dan malah tergantikan, dengan sebuah tujuan yang berdasar pada pikiran sehat.

Pada masa sekarang ini meningkatnya intoleransi harus dihentikan. Kebijakan yang bersifat alienasi melalui pembeda-bedaan telah mempengaruhi cara berpikir kita. Kita harus memperkuat kualitas toleransi, kesabaran, sifat memaafkan dan saling menghargai khususnya di ranah keimanan dan dalam urusan pribadi kita. Islam mengarahkan perhatian terhadap hal ini dan memberikan nasihat sebagai berikut.

Dalam agama Islam, meskipun Keesaan Tuhan merupakan landasan utama, Rasulullah saw melarang Kaum Muslimin untuk menggunakan kata-kata kasar terhadap berhala-berhala yang disembah oleh kaum Mekah, karena hal itu akan mendorong mereka untuk menghujat Allah. Semboyan “Perlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan” membantu untuk menjelaskan semangat dari pesan ini.

Dalam bidang hubungan internasional, hubungan antar agama juga sangat penting. Hal yang umum dipahami adalah dikarenakan keimanan merupakan hal yang bersifat pribadi, maka ia seharusnya tidak memiliki peran dalam pembahasan isu-isu sosial atau politik. Ini merupakan sebuah kekeliruan karena suatu keyakinan umum dapat digunakan sebagai alat yang efektif untuk mengembangkan kesatuan dan kesepakatan.

Saling pengertian dan saling menghargai merupakan hal pokok yang berulang diantara mereka yang berbeda keyakinan, dan hal tersebut menarik dengan sendirinya ke tahapan hubungan internasional. Sekarang, marilah kita secara singkat memeriksa apa yang ajaran Islam perintahkan berkaitan dengan keyakinan agama lain beserta penganut mereka.

Dalam Al-Qur’an surah 5:70 kita melihat,

“Sesungguhnya, orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi dan orang-orang Shabi, dan orang-orang Nasrani barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta beramal saleh, maka tidak akan ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih.”

Kemudian dalam surah 2:257 kita mengetahui:

“Tidak ada paksaan dalam agama, dan sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”

Tujuan dari dua ayat ini adalah untuk menciptakan perdamaian antara pengikut agama yang berbeda dan membangun sebuah landasan saling menghargai dan saling menghormati antar sesama mereka. Lebih lanjut, bahwa keyakinan dan keimanan merupakan masalah hati nurani, dan hati nurani tidak dapat dipaksakan.

Anda akan mengetahui bahwa dalam pesan tersebut terdapat sebuah peralihan yang terus menerus yang menekankan pada hubungan timbal balik antara level intra-individu dan tingkat inter-individu. Hal ini disengaja untuk menyoroti kebutuhan untuk memastikan bahwa kedua keadaan tersebut seimbang. Penting bagi seseorang untuk memiliki kedamaian batin dan sebuah tujuan pribadi. Bagaimanapun hal ini harus seimbang, dengan pandangan yang baik terhadap orang lain, karena ia pasti terus berinteraksi dengan mereka. Manusia sering disebut sebagai makhluk sosial, tujuan dari pesan ini adalah untuk membuatnya menjadi manusia sosial. Kebutuhannya harus dipenuhi dan dilengkapi pada dua level tersebut.

Tetapi sungguh disayangkan bahwa ajaran Islam telah keliru digambarkan bersifat tidak fleksibel dan tidak toleran terhadap keyakinan agama lain. Saya ingin menampilkan satu contoh utama yang menggambarkan sikap Islam terhadap agama lain. Contoh prinsip agama Islam yang dipraktekkan sendiri oleh Rasulullah saw sendiri, dimana tidak ada yang lebih baik dalam menafsirkan ajaran Islam dibandingkan beliau. Ikramah, putra abu Jahal, telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban di pihak umat Islam pada perang Uhud. Ia menyadari bahwa kurangnya penjagaan pada jalan masuk merupakan kelemahan pasukan Muslim. Dibawah komando Ikramah terobosan serangan kaum Mekah berikutnya mengakibatkan banyak korban dari kaum Muslim. Bertahun tahun kemudian ketika Mekah jatuh ke tangan kaum Muslim, Ikramah melarikan diri ke pesisir, akan tetapi istrinya mendatangi Rasulullah saw, dan bertanya apakah suaminya bisa kembali ke Mekah dan tetap beriman kepada berhala-berhala. Rasulullah saw menjawab bahwa keyakinan merupakan masalah hati, dan hati nurani itu bebas untuk memilih.

Jadi pada saat jatuhnya kota Mekah, terlepas dari semua kesulitan yang dialami oleh Rasulullah saw dan pengikutnya berupa tahun-tahun penganiayaan rohani dan kesulitan fisik, kehilangan nyawa dari para sahabat beliau di tangan orang-orang Mekah karena alasan yang sederhana yaitu beriman kepada Tuhan Yang Esa, semua ini dikesampingkan oleh Rasulullah saw dan beliau berikan pengampunan kepada semua musuh Islam karena Allah semata.

Keluarga

Nilai dari pesan ini tidak akan lengkap tanpa menyebutkan  keluarga. Keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat manusia. Disinilah dasar pelatihan untuk menghadapi dunia dimasa mendatang. Keluarga merupakan mata rantai dari seorang anak berhubungan dengan dunia ini, sehingga penting untuk memberikan perhatian penuh kepada institusi ini. Pondasi keluarga adalah melalui pernikahan dan struktur yang dihasilkan adalah anak-anak. Para orang tua harus memastikan bahwa nilai dari anak-anak mereka adalah yang mereka miliki sendiri dan bukan mengambil di jalan. Kekayaan sejati dari seorang laki-laki dan perempuan adalah anak keturunan mereka, dimana hal tersebut dapat berubah menjadi sumber kesenangan atau kesedihan terbesar mereka, tergantung pada usaha yang mereka lakukan dalam memberikan perhatian. Salah satu sabda Rasulullah saw adalah “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dalam memperlakukan keluarga”.

Kedudukan Perempuan dalam Islam

Beralih pada pokok bahasan terakhir dari bagian ini: Kedudukan perempuan dalam Islam. Berdasarkan sifat dasar yang luas dari subjek (Al-Qur’an sendiri memiliki lebih dari 40 ayat yang berkaitan secara khusus dengan isu-isu perempuan), saya hanya akan menyampaikan hal yang umum dari tema ini.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah saw memerintahkan para suami untuk memperlakukan para isteri dengan baik dan memenuhi hak-hak mereka sepenuhnya dimana hal ini berkaitan penuh dengan hak yang dimiliki kaum laki-laki. Perempuan diberi kedudukan yang bermartabat dan terhormat sebagaimana yang digambarkan dengan julukan ibu, istri, anak perempuan, saudari perempuan dan sebagainya. Hak mereka telah diakui untuk pertama kalinya dalam sejarah keagamaan dalam bidang kepemilikan tanah, hak waris, kemerdekaan, pengasuhan anak, persetujuan lamaran, dan penentuan sikap pribadi.

Suatu kali seseorang bertanya kepada Aisyah (istri Rasulullah saw) mengenai tabiat suaminya dirumah. Beliau menjawab bahwa Rasulullah saw membantu pekerjaan rumah tangga, menambal pakaiannya sendiri, menisik sepatunya dan merupakan sahabat yang sangat baik serta penuh kasih sayang. Wahai kaum bapak, istri-istri kalian tidak akan pernah membiarkan kalian melupakan contoh tersebut!

Al-Qur’an menasihatkan kepada kaum laki-laki mengenai perlakuan terhadap kaum perempuan dalam surah 4:20, bergaulah dengan mereka secara baik-baik; jika kamu tidak menyukai mereka, maka ingatlah bahwa boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah Swt menjadikan di dalamnya banyak kebaikan.” Jadi berbeda dengan pandangan umum, pria tidak memiliki kehendak yang bebas untuk memperlakukan mereka sesuai dengan keinginan dan kesukaan mereka terhadap perempuan.

Diriwayatkan bahwa dalam satu rombongan, Rasulullah saw berjalan di belakang selama perjalanan. Terdapat seorang perempuan juga di kafilah tersebut. Ketika pengendara unta ingin mempercepat jalannya unta untuk menyusul, Rasulullah saw mencegah mereka dan bersabda: “Berilah perhatian kepada ‘kristal’.” Riwayat yang menyebut perempuan sebagai kristal ini merupakan isyarat bahwa mereka itu adalah makhluk yang lembut dan sensitif, dan perhatian hati-hati harus diambil terkait dengan kehormatan, martabat dan posisi yang merupakan hak asasi mereka.

Penutup

Begitu banyak informasi telah disampaikan pada bagian ini, dan berpulang kepada anda semua untuk merenungkannya pada waktu senggang anda. Saya akan menutup artikel ini dengan beberapa pemikiran akhir.

Sangat mudah melihat pepohonan dan melupakan hutan, begitu juga sebaliknya. Pesan yang ingin disampaikan kepada anda sebagai anggota masyarakat kontemporer memiliki banyak sisi yang berbeda. Dan harus diingat bahwa kita semua adalah bagian dari keseluruhan. Keindahan pesan Islam terletak pada kenyataan bahwa prinsip-prinsip Islam dapat diterapkan dimanapun di dunia ini, terlepas dari letak geografis, pilihan agama, gender, latar belakang ras dan status sosial. Prinsip-prinsip ini dapat diterapkan baik dalam level individu maupun antar individu. Prinsip tersebut berperan penting bagi penyelesaian masalah-masalah pribadi dan isu-isu global dengan cara yang damai dan adil.

Proses perubahan harus dimulai dari dalam. Harus disadari bahwa keimanan dan keyakinan merupakan masalah pribadi dan mereka yang mencari kebenaran harus menjalaninya sendiri. Hal ini dikarenakan tidak ada seorangpun dapat memaksakan pandangannya kepada orang lain. Pandangan dari orang lain, jika kita tidak menyetujuinya, juga harus dihargai. Oleh karena itu jadilah manusia yang baik dan anda telah mulai menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan anda.

Inilah pesan Islam bagi masayarakat zaman sekarang. Tujuan utama dari kedatangan Hazrat Masih Mau’ud as adalah menyebarkan pesan ini kepada umat manusia. Hazrat Masih Mau’ud as sendiri bersabda:

“Ia yang membedakan antara Nabi Muhammad saw dengan aku, ia tidak mengenaliku”.

Saya tidak meminta anda untuk merenungkan pesan ini, dan tidak peduli jalan mana yang anda pilih, semoga Karunia Allah, dimana masyarakat kontemporer begitu putus asa mencarinya, senantiasa menyinari anda.


Judul Asli: The Message of the Promised Messiah for Contemporary Society
Penulis: Imran Ahmad Chaudhry
The Ahmadiyya Gazette, August 1995
Penerjemah: Rokhila Farida
Link sumber: www.alislam.org

(Visited 67 times, 1 visits today)