Tanggapan Islam terhadap Terorisme

Oleh Abdul Ghany Jahengeer Khan – Inggris

tanggapan islam terhadap terorisme

Islam adalah agama yang damai. Orang yang mengikuti Islam akan menemukan bahwa ia dilingkupi oleh ajaran-ajaran yang mulia, yang bertujuan membangun perdamaian antara manusia dan Allah, Pencipta alam semesta; antara manusia dan manusia; dan di antara manusia dan ciptaan Allah lainnya.

Bagaimana agama yang seperti itu menghadapi isu terorisme? Dan apa arti dari kata teroris itu? Dalam kamus, teroris didefinisikan sebagai sesuatu yang menggunakan kekerasan dan intimidasi secara sistematis untuk mencapai tujuan politik- atau sesuatu yang mengontrol atau memaksa orang lain dengan menggunakan kekerasan, rasa takut atau ancaman.

Definisi tersebut tercakup oleh dua kata dalam Al Qur’an fitnah dan Ikrâh.

Menghadapi isu terorisme Allah di dalam Alquran mengajarkan umat Islam supaya tidak menjadi teroris. Dua ayat mengatakan: ‘Al-Fitnatu asyad-du minal qatl’ [1]– yang berarti bahwa di hadapan Allah, ‘ penganiayaan, atau mengintimidasi kehidupan orang lain secara terus menerus, lebih buruk dari pada membunuh’. Dan juga: ‘La ikrâha fid-dîn’ [2]– ‘Tidak boleh ada paksaan dalam agama’,  menjelaskan bahwa, tak seorang pun memiliki hak untuk memaksa orang lain menuruti keinginan mereka atau menuntut orang lain agar sejalan dengan mereka.

Allah taala memperingatkan orang-orang mukmin secara berulang kali bahwa mereka tidak boleh meninggalkan Tuhan, sumber dari segala kebaikan. Allah taala mengingatkan kita bahwa mereka yang meninggalkan Dia dan membuang semua kebaikan, serta melepaskan diri dari segala  norma-norma kemanusiaan, merekalah yang pada akhirnya akan meneror orang lain, memaksa agar tunduk atas tuntutan mereka. Orang-orang beriman  diingatkan bahwa mereka akan kehilangan cinta dan rahmat Allah taala jika mereka berperilaku seperti itu.

Tidak cukup dengan memberikan aturan yang keras terhadap umat Islam supaya tidak menjadi teroris, Islam juga memastikan orang-orang beriman memiliki tingkatan moral dan perilaku yang luhur, dengan menanamkan nilai-nilai tersebut, yang dapat merubah mereka menjadi orang-orang yang dengan tulus mencintai sesama manusia tanpa membedakan agama, ras, ataupun status sosial. Islam tidak diragukan lagi mendorong diskusi sehat dan rasional diantara para penganut semua kepercayaan dengan cara yang tenang dan tanpa emosi, dengan satu tujuan bahwa kebenaran unggul atas kesalahan dan kepalsuan. Islam menekankan bahwa kesalahan dan kepalsuan itulah yang selayaknya dibenci dan dijauhi, tetapi pribadi yang tetap berpegang pada kesalahan itu tidak mesti dibenci. Itulah mengapa moto dari Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah ‘Love for all, hatred for none – cinta untuk Semua, tiada kebencian bagi siapapun.’

Islam memberi penekanan luar biasa  pada pengembangan cinta sesama manusia dan tentang pentingnya menunjukkan kasih sayang dan simpati terhadap setiap makhluk Allah, termasuk manusia dan binatang. Karena sesungguhnya, cinta dan simpati adalah sarana penangkal terorisme.

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, istri Rasulullah saw, bahwa suatu hari beberapa orang Arab datang Rasulullah saw dan bertanya: ‘Apakah engkau mencium anak-anak Anda?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Mereka berkata: ‘Kami tidak pernah mencium mereka.” [3] Nabi saw bersabda: ‘Apa yang dapat saya lakukan jika hatimu telah terlepas dari kasih sayang?’ Beliau juga bersabda bahwa Allah taala tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya.[4]

Kadar kasih sayang yang ditunjukkan oleh Nabi saw tidak bisa tidak pasti memukau siapa saja yang mengetahui bahwa betapa kasar dan kerasnya masyarakat di tempat beliau dilahirkan itu. Abu Qatadah ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda kepadanya: ‘Saat berdiri memimpin sholat aku pernah ingin memanjangkan bacaanku, namun aku mendengar tangisan bayi. Maka aku pendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya.’[5]

Islam tidak mengajarkan kebencian dan sikap agresif kepada pengikutnya tetapi Islam memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan rasa simpati kepada semua. Rasulullah saw bersabda: ‘Setiap bagian tubuh manusia dapat melakukan sedekah setiap harinya ketika matahari terbit. Mendamaikan  dua orang yang berselisih adalah sedekah, membantu seseorang menaiki hewan tunggangannya atau menaikkan barang bawaannya ke atasnya adalah sedekah, perkataan yang baik adalah amal baik. Setiap langkah menuju masjid untuk shalat adalah amal baik. Menyingkirkan hal yang menjadi gangguan dari jalan adalah amal baik.’ [6]

Beliau saw tak henti-hentinya mengingatkan umat Islam untuk bersikap baik terhadap tetangga mereka, dengan mengatakan: ‘Tidak masuk surga orang yang tetangganya merasa tidak aman dari perilaku buruknya.’[7]

Beliau juga bersabda:

‘Demi Allah Yang hidupku ditanganNya, engkau tidak dapat masuk surga sebelum kamu beriman , dan kamu belum dikatakan beriman sebelum kamu saling mengasihi satu sama lain. Maukah kamu aku tunjukkan jalan untuk saling mengasihi? Perbanyaklah salam antar sesamamu.’[8]

Suatu ketika  Beliau menemukan induk burung mengepakkan sayapnya di tanah dalam kesulitan. Beliau bertanya pada sahabatnya: ‘Siapa yang melakukan ini?’ Mereka berkata: ‘Kami mengambil anak-anaknya keluar dari sarangnya.’ Nabi saw bersabda: ‘Kembalikan mereka padanya. Jangan ada induk  yang  sengsara karena anaknya.’[9]

Pada kesempatan lain, ia menemukan salah satu dari sahabatnya membakar sarang semut. Beliau segera memerintahkan mereka untuk memadamkan api dan mengatakan: ‘Tidak ada yang memiliki hak untuk menyiksa makhluk lain dengan api”.[10]

Allah taala berfirman dalam Al-Qur’an bahwa mukmin sejati adalah: ‘Mereka yang menahan amarah dan memaafkan orang lain’, [11] demikian pula, Rasulullah saw bersabda: ‘ Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan. Mempermudah urusan dan tidak mempersulit. Dan menghibur manusia dan tidak mengusir mereka.’[12]

Jelas bahwa mukmin sejati dan orang-orang yang baik dan jujur, selalu menjadi korban terorisme, tidak pernah menjadi pelaku. Setiap kali muncul kecenderungan dalam masyarakat, dimana perdamaian terganggu dan orang tidak dapat menjalani hidup dengan aman, umat Islam diperintahkan untuk menanggapinya terlebih dahulu dengan bertukar pikiran dengan hikmah kepada mereka yang bertanggung jawab atas kekacauan tersebut. Al-Qur’an mengatakan:

ادعُ إِلىٰ سَبيلِ رَبِّكَ بِالحِكمَةِ وَالمَوعِظَةِ الحَسَنَةِ ۖ وَجادِلهُم بِالَّتي هِيَ أَحسَنُ

“Panggilah kepada jalan Tuhan engkau dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya.” (QS.16: 126)

Dan Al-Qur’an berulang kali mengatakan kepada kita untuk mencari pertolongan Allah taala dengan sabar dan doa. Tetapi jika bertukar pikiran dan berdoa kepada mereka yang condong pada kejahatan gagal membawa perubahan, maka Allah berfirman:

وَإِن عاقَبتُم فَعاقِبوا بِمِثلِ ما عوقِبتُم بِهِ

‘Dan jika kamu memutuskan akan menghukum, maka hukumlah mereka setimpal dengan kesalahan yang dilakukan terhadap kamu..’ (QS.16:127)

Allah taala memerintahkan umat Islam bahwa ketika hal-hal diluar kendali, mereka harus ikut serta untuk memulihkan perdamaian sesuai kemampuan. Mereka telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw dalam pelaksanaannya jika perlu untuk bergabung dengan pengikut dari agama lain. Sebagaimana tertera dalam dokumen yang dikenal sebagai Piagam Madinah, Rasulullah saw menyatakan:

Pasal 1:

Ini adalah perjanjian dari Muhammad (Rasulullah) antara kaum mukminin dan muslimin Quraisy dan Yatsrib, dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang (melawan musuh yang sama).

Pasal 2:

Sesungguhnya mereka satu umat (ummatan wahidah), dari komunitas yang berbeda.

Pasal 25:

Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin – Walaupun bagi kaum Yahudi tetap dengan agama mereka, dan bagi kaum muslimin dengan agama mereka – dan ini berlaku bagi sekutu dan diri mereka sendiri. (Dikutip dari Reuben Levy dalam ‘Sosiologi Islam, Bagian I, halaman 279-282)

Di sini, Semua penduduk kota Yathrib, atau Madinah diseru untuk bergabung melawan kekuatan yang meneror penduduk.

Umat Islam telah berjanji bahwa mereka akan membantu dalam membela pengikut agama lain dari ketidak adilan dan kekejaman. Sebagai contoh, dalam piagam perjanjian yang ditujukan kepada semua orang Kristen yang tinggan sebagai warga di bawah pemerintahan Islam, Nabi Muhammad saw, menegaskan:

“Aku berjanji bahwa para biarawan dan musafir yang meminta bantuanku di pegunungan, di hutan, padang pasir atau di tempat tinggal, atau di tempat ibadah, aku akan mengusir musuh-musuh mereka, bersama-sama dengan para sahabat dan penolong-penolongku, dan para pengikutku dan akan membela mereka, karena mereka berada dalam perjanjianku. Dan aku akan membela mereka dari penganiayaan, rasa sakit dan malu yang dikarenakan oleh musuh-musuh mereka sebagai ganti dari pajak yang mereka telah mereka janjikan untuk membayar. Jika mereka memilih untuk mempertahankan harta benda dan diri mereka sendiri, mereka diizinkan untuk melakukannya dan tidak akan dipersulit dalam hal tersebut.

Tidak ada Uskup akan di usir dari keuskupannya, biarawan dari biaranya, imam dari rumah ibadahnya, dan tidak ada peziarah yang akan diilarang untuk berziarah. Tidak satupun gereja dan tempat ibadah mereka yang akan dibongkar atau dihancurkan atau diratakan. Tidak ada bagian dari gereja mereka yang akan diambil untuk membangun masjid atau rumah bagi umat muslim; setiap muslim yang melakukan hal tersebut akan dianggap membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya. Para rahib dan uskup tidak akan dikenakan pajak atau tanggungan, baik mereka tinggal di hutan maupun di sungai, di timur maupun di barat, di utara maupun selatan. Aku memberikan penghormatan kepada mereka. Mereka ada diatas perjanjianku, dan akan dijauhkan dari segala bentuk ketidaknyamanan. Semua bantuan akan diberikan kepada mereka untuk memperbaiki gereja mereka. Mereka akan dibebaskan dari keharusan mengangkat senjata. Mereka harus di lindungi oleh umat Islam. Tidak ada yang boleh melanggar perjanjian ini sampai hari kiamat.” (Dikutip dari Balâdhar)

Dalam Islam segala upaya telah di lakukan untuk melindungi kedamaian, bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga para penganut agama lain. Allah taala berfirman:

وَلَولا دَفعُ اللَّهِ النّاسَ بَعضَهُم بِبَعضٍ لَهُدِّمَت صَوامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَواتٌ وَمَساجِدُ يُذكَرُ فيهَا اسمُ اللَّهِ كَثيرًا

“Dan sekiranya tidak ada perlindungan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. (QS.22: 41)

Namun, umat Islam telah diperingatkan oleh Rasulullah saw, bahwa ketika mereka memasuki wilayah yang meneror dan menganiaya mereka, mereka tidak boleh kehilangan rasa adil, dan tergoda untuk mulai bertindak kejam sebagaimana seorang teroris. Hal terburuk dari rasa tidak bersyukur dilakukan oleh seseorang yang melupakan bahwa mereka pernah menjadi korban kekejaman dan mulai melakukan hal yang sama atau lebih buruk lagi kepada orang lain, Nabi saw memerintahkan:

“Anda akan bertemu orang-orang yang mengingat Allah taala dalam rumah ibadah mereka. Janganlah berselisih dan menimbulkan masalah kepada mereka. Di negara musuh, janganlah membunuh perempuan atau anak-anak, atau orang buta, atau orang tua. Jangan pula menebang pohon atau meruntuhkan bangunan.’ (Dikutip dari Halbiyyah, Vol.3).

Jadi satu satunya jihad yang diperbolehkan dalam Islam adalah perang dari pihak tertindas melawan sang penindas, perang yang dilakukan untuk melindungi perdamaian semua orang terlepas dari agama atau keyakinan mereka. Cara-cara yang digunakan saat ini seperti bom bunuh diri, dll bukanlah tindakan dari mukmin sejati. Allah taala berfirman:

وَلا تَقتُلوا أَنفُسَكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ كانَ بِكُم رَحيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadapmu. (QS.4: 30)

وَلا تُلقوا بِأَيديكُم إِلَى التَّهلُكَةِ

… dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dengan tanganmu ke dalam kebinasaan… (QS.2: 196)

Islam melarang ketat membunuh orang tak berdosa:

فَلا عُدوانَ إِلّا عَلَى الظّالِمينَ

… maka tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang aniaya.. (QS.2:194)

Ketiga ayat ini saja sudah cukup untuk mencegah umat Islam dari menabrakan pesawat ke gedung-gedung, atau mengirim pembom bunuh diri untuk meledakkan warga sipil yang tidak bersalah.

Setelah pelaku kejahatan berhenti melakukan kejahatan dan telah dihukum dengan adil atas kejahatan tersebut, Allah taala berfirman:

وَقاتِلوهُم حَتّىٰ لا تَكونَ فِتنَةٌ وَيَكونَ الدّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوا فَلا عُدوانَ إِلّا عَلَى الظّالِمينَ

Dan perangilah mereka sehingga tak ada fitnah lagi, dan agama itu hanya untuk Allah swt. Tetapi, jika mereka berhenti, maka tidak ada permusuhan, kecuali terhadap orang-orang aniaya. (QS.2: 194)

Kesimpulannya, Islam menganjurkan tiga langkah melawan terorisme:

  1. Meningkatkan pendidikan akhlak yang tinggi kepada semua umat Islam, sehingga mereka menjadi pribadi yang jujur, adil, berakhlak, lembut dan mengasihi orang lain, sehingga membuat mereka tidak akan pernah mengganggu kedamaian orang lain.
  2. Setiap kali kedamaian terganggu, bertukar pikiran dan berargumen dengan para pelaku kejahatan, dan sungguh-sungguh berdoa untuk mereka supaya mereka mengubah perilaku mereka.
  3. Jika semua proses gagal, maka bergabunglah dengan sesama orang yang baik untuk memerangi para pelaku kejahatan sampai perdamaian dipulihkan, tapi selalu mentaati prinsip keadilan.

Kami meyakini bahwa tidak hanya Islam, tetapi setiap agama yang benar, tidak ada yang menyetujui kekerasan dan pertumpahan darah kepada pria, wanita dan anak-anak yang tak bersalah atas nama Allah. Teroris mungkin menggunakan label agama atau politik, tetapi semestinya tidak ada yang terperdaya oleh kelicikan dan tipu daya mereka yang tidak ada hubungannya dengan agama. Mereka adalah musuh perdamaian. Mereka harus diperangi pada setiap tingkat sesuai anjuran Islam, agama yang damai.


[1] Alquran Surah Al-Baqarah [2]: 192

[2] Alquran Surah Al-Baqarah [2]: 257

[3] Hadits Riwayat Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قَالَتْ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: تُقَبِّلُوْنَ الصِّبْيَانَ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

[4] Hadits riwayat Bukhari: مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

[5] Hadits riwayat Bukhari:

إِنِّي لأَقُومُ فِي الصَّلاَةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاَتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

[6] Hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ .

[7] Hadits Riwayat Muslim: لاَيَدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارَهُ بَوَائِقَهُ

[8] Hadits riwayat Muslim:

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

[9] Hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلّم فِى مَقْبَرَةٍ فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ، فَرَأَيْنَا حُمْرَةً مَعَهَا فَرْخَيْنِ فَأخَذْنَا فَرْخَيْهَا، فَجَاءَتِ الْحَمْرَةُ تَفْرِشُ، فَخَاءَ النَّبِىُّ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ: مَنْ فَجَعَ هذِهِ بِوَلَدِهَا؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إلَيْهَا

[10] Hadits Riwayat Abu Dawud:

وَرَأَى قَرْيَةَ نَمْلٍ قَدْ حَرَّقْنَاهَا فَقَالَ: «مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ؟» قُلْنَا: نَحْنُ. قَالَ: «إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ

[11] Alquran Surah Ali Imran: 135: وَالكاظِمينَ الغَيظَ وَالعافينَ عَنِ النّاسِ

[12] Hadits riwayat Bukhari: يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ


Sumber       : Islams Response to Terrorism
Penerjemah : Balya Ibnu Mulkan
Editor          : Damayanti Natalia