Menjelang akhir abad ke delapan belas, muncul berbagai jenis sistem sosial dan ekonomi yang masing-masing mengklaim dapat menghilangkan kemiskinan serta membangun tatanan sosial-ekonomi yang adil bagi umat manusia.

Bolshevisme, Fasisme, Nazisme, Komunisme, Nasional-Sosialis dan Internasional-Sosialis, yang lahir dari bangsa-bangsa terjajah, merupakan sistem tandingan yang melihat dirinya sebagai supremasi bagi dunia atas kekacauan politik, ketidakseimbangan ekonomi, juga ketidakadilan sosial akibat sistem Imperialisme, Kolonialisme dan Apartheid.

Sistem-sistem tersebut, baik yang dasarnya kuat maupun lemah, mendapat dukungan dari banyak negara dan mengakar sehingga dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Namun, ternyata salah. Runtuhnya Tembok Berlin mengandung sebuah pesan yang sangat jelas, bahwa suatu tatanan sosial yang adil berasal dari petunjuk Allah Ta’ala, bukan dari buah pikiran manusia.

Dalam sejarah manusia, dari Adam as sampai Nuh as, Ibrahim as, Musa as dan Isa as, dan sampai akhirnya berpuncak pada kedatangan Rasulullah saw, sebenarnya  Allah Ta’ala, dengan karunia-Nya, telah memberikan bimbingan kepada umat manusia demi perkembangan fisik, mental, sosial, moral dan spiritualnya. Utusan Tuhan-lah yang membuka Tatanan Sosial Baru bagi umat manusia.

Berdasarkan fakta memang benar bahwa agama sebelum Islam bersifat kesukuan atau nasional. Selain itu, karena ajaran agama-agama ini sudah tidak utuh lagi, beberapa ajaran dianggap sebagai sumber ketidakadilan dan diskriminasi, juga cenderung memberikan keuntungan kepada suku tertentu, dan kerugian kepada suku dan bangsa lainnya. Seperti itulah ajaran dalam Judaisme dan Kristen yang menguntungkan umat Yahudi, namun merugikan umat non-Yahudi. Begitu juga sistem kasta dalam Agama Hindu yang memberikan keuntungan bagi kaum Brahma, namun menekan kaum Paria.

Satu fakta masih dapat dilihat bahwa wahyu Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Rasulullah saw 1400 tahun yang lalu, bersifat universal serta merupakan dasar Tatanan Sosial dan Ekonomi Baru yang adil yang belum pernah disaksikan dalam sejarah umat manusia. Sesuai dengan nubuatan, Islam akan terlahir kembali ketika Almasih Mau’ud  (Almasih yang dijanjikan) datang.

Dalam wahyu yang turun kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as, yang menyatakan dirinya sebagai Almasih dan Mahdi yang ditunggu kedatangannya, beliau yang akan menciptakan Dunia Baru dan Langit Baru. Dalam bukunya yang berjudul Aina Kamaalaat-e-Islam, Masih Mau’ud as sendiri menjelaskan bahwa Surga dan Dunia Baru tersebut bukanlah penciptaan suatu tata surya melainkan terciptanya surga dan dunia rohani melalui seorang nabi. Dengan kata lain, transformasi mental, sosial, moral dan spiritual  secara drastis akan terjadi pada masa Almasih Mau’ud as (Almasih yang dijanjikan).

Pertama, perlu digarisbawahi bahwa sistem seperti yang telah saya sebutkan di atas, Bolshevisme dan sejenisnya, berakhir dengan kegagalan karena mereka berdiri di atas kebencian bukan kasih sayang, diatas kekerasan bukan kedamaian serta diatas pemaksaan bukan pemahaman. Mereka mengekang usaha individu, membunuh ide personal dan tidak menghargai hasil kerja intelektual. Selain itu juga mereka sangat eksploitatif demi meraih tujuan mereka. Mereka hanya memikirkan bangsa sendiri. Lebih dari itu, mereka tidak menghargai akhlak dan keimanan individu.

Dalam memprediksikan kegagalan mereka di tahun 1942 saat mereka sedang di puncak kejayaan, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II, menyampaikan nubuatan ini:

…Generasi baru akan mulai memberontak kepada sistem keseragaman mutlak yang dipaksakan oleh Bolshevisme dan berbagai keburukan akan terkuak. (Ahmadiyyat or the True Islam)

Setelah itu rangkaian kejadian terjadi di Eropa Timur telah menjadi saksi kebenaran nubuatan tersebut.

Kapitalisme, Kolonialisme, Imperialisme dan Apartheid juga tidak lebih baik.

Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, dengan berpedoman pada ajaran Islam, mengutuk ajaran mereka serta teori-teori lain yang bermunculan di akhir abad kedelapan belas. Termasuk teori yang mengajarkan bahwa yang berkuasalah yang benar, hanya mereka yang kuat dan mampu yang bisa maju, kaum mayoritas memiliki kekuasaan yang berarti kaum minoritas tidak punya pilihan selain teraniaya.

Teori lainnya adalah memberi pernyataan bahwa penemu pertama bukanlah pemilik. Berdasarkan teori ini, bangsa yang lemah yang sebelumnya sudah mendiami daerah tertentu menjadi korban penindasan dan penjajahan bangsa yang kuat dan maju. Lebih buruk lagi, bangsa penguasa tersebut tidak memperdulikan rakyat miskin, dan terdapatnya sistem yang mengizinkan kekayaan Negara dikuasai hanya oleh individu tertentu dan kekayaan tersebut pun digunakan sebebas-bebasnya untuk kepentingan pribadi.

Menurut statistik, pada tahun 1989 dunia memiliki 157 orang milyader dan 2 juta orang jutawan. Di Amerika Serikat sendiri, 5 milyar dolar dihabiskan setiap tahun hanya untuk menu khusus penurun berat badan sementara sekitar 400 juta orang di dunia menderita kelaparan! Perbedaan status sosial semakin besar. Sungguh sayang karena mereka membuatnya semakin terlihat jelas sehingga menimbulkan kebencian dan kegetiran. Tidak ada manfaatnya lagi mengatakan sistem ekonomi yang sekarang diterapkan dunia gagal membuat sejahtera manusia. Pernyataan bagus diberikan oleh Presiden Mikail Gorbachev yakni baik sosialisme maupun kapitalisme gagal memecahkan masalah ekonomi di dunia.

Sementara itu, Islam memiliki ajaran yang dapat mewujudkan tatanan ekonomi dan sosial dunia yang berperikemanusiaan.

Mungkin ada yang bertanya, dalam keadaan yang menuju perpecahan, bagaimana bisa Umat Islam berhasil membangun tatanan dunia baru? Pertanyaan tersebut pernah dikemukakan dalam editorial jurnal the Muslim World League, Mekah pada bulan Januari 1975:

Bagaimana Umat Muslim yang bertebaran di seluruh dunia, terbagi-bagi dalam golongan, penafsiran dan dalam keegoisan masing-masing, juga berbeda negara, bahasa, kebiasaan, dan budaya digabung ke dalam satu ikatan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah?

Selanjutnya, sang editor meminta para pembaca, terutama mereka yang peduli dengan dunia Islam, menyampaikan padangan mereka terhadap masalah penting ini. Masalah tersebut bahkan membuat Umat Muslim mengalami kesulitan mengatur rumahnya sendiri, apalagi mengatur keadaan ekonomi dan sosial manusia di seluruh dunia!

Al-Qur’an memberikan janji kepada Umat Muslim seorang Khalifah sebagai pemimpin rohani yang dapat menjamin keberlangsungan sosial, moral dan spiritual (24:56)

Faktanya, Khilafat yang berdiri hanya ada pada Muslim Ahmadiyah. Hal ini merupakan testimoni yang cukup kuat bahwa Jemaat Ahmadiyah akan membawa Tatanan Dunia Baru yang akan mengantar dunia kepada kedamaian dan kesejahteraan yang berdasarkan kepada keadilan dan kesamaan seluruh bangsa di mata Allah Ta’ala serta penghargaan atas hak asasi manusia.

Khalifah, yang juga dipilih, dikelilingi penasihat-penasihat bijaksana yang berasal dari seluruh dunia, dengan demikian, memungkinkan untuk terwujudnya kebijakan bersama dan penilaian yang penuh pemikiran.

Pada masa awal berdirinya Islam, sistem yang diperkenalkan Rasulullah saw ini dapat memenuhi kebutuhan kaum yang tidak mampu. Pembagian kekayaan melalui warisan yang sesuai ajaran Islam serta larangan untuk menimbun uang dan peminjaman dengan riba, yang keduanya menjadi penyebab bertambahnya kekayaan bagi sebagian kecil orang, Islam menjawab tatanan sosial dan ekonomi yang tidak merata. Ditambah dengan kewajiban membayar Zakat dan ajaran untuk sukarela memberi kepada mereka yang miskin dan memerlukan.

Pada masa kekhalifahan Rasulullah saw, ketika negara-negara Islam sedang berjaya dan memiliki sistem yang baik, terdapat badan yang menangani kebutuhan ekonomi dan sosial negara-negara tersebut. Sensus penduduk diadakan secara teratur, data seluruh penduduk selalu diperbaharui dan kebutuhan hidup penduduk dipenuhi sesuai skalanya. Bahkan, semua anak yang lahir di negara tersebut diberi tunjangan yang dananya diambil dari Kas Negara. Semua penduduk, baik kaya maupun miskin, tercukupi oleh negara. Maka dapat dilihat bahwa prinsip memelihara tiap individu diperkenalkan pertama kali oleh Islam, bukan oleh isme lain.

Keindahan ajaran Islam terletak pada kelenturan pengamalannya. Dan sangat jelas bahwa suatu ajaran dapat bertahan jika ia mampu menanggulangi segala kemungkinan yang timbul di masa mendatang.

Menurut Surah Albaqarah ayat 196, selain iuran wajib, iuran sukarela kadarnya tidak ditetapkan, melainkan Khalifah-lah yang menetapkannya sesuai dengan keperluan pada masanya.

Sekarang ini ketika kehidupan manusia dan lingkungan sudah kompleks, sangat beralasan merancang suatu sistem yang berdasar kepada Al-Quran sehingga semua kebutuhan ekonomi dan sosial manusia terpenuhi.

Beralasan pula jika Tuhan mengirimkan seorang utusan yang akan menegakkan suatu sistem di bawah petunjuk-Nya demi terpenuhinya keperluan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, juga demi terselamatkan dari kemunduran akal, tirani dan penjajahan. Dengan kata lain, Tatanan Dunia Baru harus dapat menjaga kedamaian antar bangsa dan semua tingkatan manusia, juga harus dapat menemukan sumber yang mampu memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia.

Maka pada tahun 1905 atas perintah Allah Ta’ala, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Jema’at Ahmadiyah menetapkan Al-Wasiyyat berdasarkan peritah Allah, pondasi Tatanan Dunia Baru dari Jema’at Ahmadiyah.

Sebelumnya, di dalam 10 Syarat Baiat, beliau telah membuat perintah yang harus dipatuhi oleh para pengikut beliau untuk meyakini satu Tuhan dan simpati kepada sesama. Beliau bersabda:

Saya diutus hanya untuk dua tujuan, pertama, agar kalian beriman kepada Keesaan Allah. Kedua agar tumbuh rasa cinta dan kasih sayang di antara kalian. (Pronouncements of the Promised Messiah, Vol. II, hal. 54)

Sangat jelas bahwa jika beriman kepada Tuhan dengan tulus ikhlas, segala prasangka akan hilang, lalu cinta kasih kepada sesama makhluk Tuhan akan tumbuh. Berkaitan dengan hal tersebut, Hazrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih V, pernah menjelaskan:

Jemaat Ahmadiyah tidak akan pernah terpengaruh untuk mengeluarkan pendapat atas dasar prasangka karena hati kami terikat kepada “Tauhid”, yakni keimanan kepada Keesaan Tuhan. (Al-Fazl, 14 Maret 1991).

Untuk memperkuat kararakter keberagaman dari Ahmadiyah, berikut kutipan perkataan Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II. Pidato yang disampaikan di Rabwah pada 1951, bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada Alhajj Hassan Attah. Beliau mengatakan:

Jika kalian (Bangsa Afrika) tidak memiliki kepandaian, atau dengan kata lain, bangsa yang terbelakang, maka, Naudzubillah, kesalahan Tuhan yang mengutus seorang nabi kepada bangsa yang bodoh untuk mengimani-Nya. Namun tidak demikian. Islam mengatakan bahwa Bangsa Eropa, Amerika, Asia, Afrika, bahkan yang jauh kepedalaman pun adalah sederajat. Semuanya memiliki kemampuan yang sama untuk memahami, mempelajari, mengingat dan berkarya… Selama Ahmadiyah berdiri, saya pastikan bahwa kami—dan ketika saya berkata kami, maksudnya adalah saya dan semua Ahmadi akan menganggap semua manusia di dunia sederajat.

Berkaitan dengan isu keunggulan bangsa, beliau mengatakan:

Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw, bahwa beliau akan menghancurkan pemikiran tersebut dengan kaki beliau, maka saya pastikan, bahwa saya pun akan menghancurkan pemikiran tersebut dengan kaki saya. (Lampiran dalam the History of Ahmadiyyat, Vol., hal. 2)

Pada kesempatan lain beliau mengatakan:

Selama manusia tidak memahami seperti yang diajarkan oleh Islam, yakni bahwa semua manusia adalah sama…maka tidak mungkin terwujud perdamaian… Bangsa yang menghina bangsa lain, akan memulai lingkaran tirani dan penindasan tanpa akhir. (Ahmadiyyat or the True Islam, hal.360)

Perlu diingat dengan baik bahwa kami, para Ahmadi, tidak memusuhi siapa pun: Kami menginginkan kebaikan dan kesejahteraan untuk semua. Bahkan untuk musuh terbesar sekalipun, kami tidak meninggalkan jejak niat buruk di relung hati. Keinginan kami hanya satu yakni perdamaian di dunia, disertai dengan kualitas moral yang bagus, penggabungan kekuatan rohani dan disiplin, dan hukum yang berlaku haruslah hukum Tuhan dan Rasul-Nya. (The Economic Structure of Islamic Society, hlm. 136)

Hazrat Khalifatul Masih III telah meleburkan itu semua dalam sebuah moto yang digunakan oleh Ahmadiyah, ‘Love for all, hatred for none’ (Kasih sayang kepada semua, kebencian tidak kepada siapa pun). Beliau juga mengingatkan anggota Jemaat Ahmadiyah agar selalu mencamkan bahwa jangan ada diantara mereka beranjak tidur, jika tetangga mereka masih ada yang kelaparan. Jenis tatanan masyarakat seperti inilah yang Allah Ta’ala minta kepada Jemaat Ahmadiyah untuk didirikan di muka bumi. Untuk membangun tatanan masyarakat seperti itu, kekerasan dan paksaan harus dimusnahkan.

Setelah mengecam keyakinan umum Umat Muslim mengenai ‘Almasih darah’ sebagai ajaran yang tidak Islami, Pendiri Jemaat Ahmadiyah menyatakan:

Setiap orang yang bijak pasti akan setuju bahwa jika seseorang belum sepenuhnya memahami kebenaran suatu ajaran dan belum secara luas mempelajarinya, sangat tidak boleh memaksanya, apalagi dengan ancaman kematian, untuk menerima ajaran tersebut. (Jesus in India, hlm. 12)

Dalam wasiyatnya, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra berdoa:

Saya berdoa semoga para Ahmadi selalu membangun dasar keadilan dan kasih sayang, bukan ketidakadilan dan kejahatan juga semoga para malaikat selalu menjaga di kanan dan kiri mereka… Semoga tidak seorangpun, sebesar apapun kekuasaannya, melakukan kejahatan kepada orang lain. (The Testament of our beloved Imam, hlm. 15)

Setelah menjelaskan secara singkat prinsip utama ajaran Ahmadiyah, sekarang saya akan menuju kepada tatanan ekonomi dan sosial yang dipaparkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Almasih dan Mahdi. Hal ini sejalan dengan Al Quran:

Dan belanjakanlah harta dan jiwamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dengan tanganmu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, seseungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. (2: 195)

Ayat ini memerintahkan Umat Muslim agar selain membayar iuran wajib, mereka juga harus dengan sukarela memberi kepada fakir miskin, jika tidak mereka akan menjerumuskan diri mereka sendiri kepada kehancuran.

Perlu diperhatikan, pada ayat tersebut, tidak terdapat aturan pasti berkenaan dengan kadar iuran. Umat Muslim hanya diingatkan, selain zakat, mereka juga diminta membayar iuran lain serta sumbangan, namun kadar serta bentuk iuran tersebut tidak dijelaskan.

Khalifah diberi kebebasan untuk menentukan kadar dari iuran sesuai dengan kebutuhan masa.

Almasih Mau’ud as, yang diberi tugas oleh Allah Ta’ala untuk menerjemahkan ajaran Islam sesuai dengan kebutuhan zaman ini, atas bimbingan Ilahi, memperkenalkan gerakan Al-Wasiyyat. Mereka yang menginginkan ridho Allah Ta’ala dan surga-Nya harus memberikan antara 1/10 sampai 1/3 harta benda dan pendapatannya demi penyebaran ajaran Al-Quran. (Syarat Al-Wasiyyat No. 2)

Penyebaran ajaran Al Quran ini mempunyai penerapan yang lebih mendalam lagi. Seperti yang disabdakan oleh Almasih Mau’ud as:

Dana ini juga dipergunakan bagi kesejahteraan yatim-piatu dan fakir-miskin yang tidak bisa menafkahi diri sendiri. (Ibid.)

Beliau juga memerintahkan:

Anjuman, yakni badan yang mengatur dana ini, dipersilakan untuk menambah dana melalui investasi komersial.

Beliau melanjutkan, tugas tiap anggota adalah ikut serta dalam gerakan ini. Kita dapat membayangkan sungguh sangat besar dana yang dapat digunakan untuk menuntaskan kemiskinan jika gerakan ini menyebar bersama menyebarnya Jemaat Ahmadiyah ke seluruh penjuru dunia. Beliau menerangkan bahwa gagasan tersebut masih luas, rincian penjelasannya masih prematur, nanti orang lain akan memberikan penjelasan rincinya pada masanya.

Sangat jelas, melalui gerakan Al-Wasiyyat, Almasih Mau’ud as memaparkan sistem ekonomi dan sosial secara Islami yang dengan sistem tesebut sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan dapat dinikmati umat manusia.

Perlu diingat juga, demi tujuan mulia ini, usaha dan kegigihan setiap individu tidak boleh melemah. Selain itu, hal ini harus sukarela tidak boleh sedikitpun ada usaha perampasan dan penyitaan harta.

Perlu dicatat, saat sistem-sistem yang bermunculan sangat cenderung menguntungkan bangsa tertentu saja, sistem yang dipaparkan oleh Almasih Mau’ud as (Almasih yang dijanjikan) bersifat universal, tidak berpihak kepada Inggris, Rusia, Cina, Jepang, Ghana, atau negara lainnya. Dana yang terkumpul bukan untuk negara manapun, namun dipersembahkan demi menghapuskan kemiskinan dan kesengsaraan di mana saja. Jika ada yang bertanya, bagaimana mungkin sebuah jamaah kecil seperti Ahmadiyah mampu menanggung tanggung jawab besar seperti menghapuskan kemiskinan di seluruh dunia, jawabannya adalah keyakinan teguh kami bahwa penyebaran Jemaat Ahmadiyah sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Langit dan bumi dapat terkikis oleh waktu, namun tidak dengan janji Allah Ta’ala!

Almasih Mau’ud as berterus-terang dalam Al-Wasiyyat:

Jangan kira ini hanya khayalan. Ini adalah janji Allah Ta’ala, Sang Pengatur langit dan bumi. Saya tidak mengkhawatirkan bagaimana dana ini dapat terkumpul atau bagaimana suatu jemaat dapat mencapai ini semua dengan penuh keyakinan. Yang saya khawatirkan adalah, setelah sekian lama, mereka yang bertugas menangani dana ini akan tergoda dengan besarnya jumlah dana yang terkumpul juga tergoda pada nafsu duniawi. Maka saya berdoa semoga Allah Ta’ala selalu memberikan jemaat ini orang-orang jujur dan setia yang hanya bekerja demi ridha Allah Ta’ala.

Pernyataan Almasih Mau’ud as (Almasih yang dijanjikan) sangat jelas menunjukkan bahwa beliau tidak sedikitpun ragu bahwa Jemaat ini akan berkembang sehingga sumber-sumber daya yang diperlukan untuk memelihara semua umat tersedia. Beliau yakin dana tersebut akan terkumpul. Kekhawatiran beliau satu-satunya adalah agar mereka tidak menggunakan dana tersebut untuk keperluan yang tidak seharusnya!

Dari pemaparan di atas, cukup jelas bahwa gerakan Al-Wasiyyat memerlukan waktu untuk menjadi matang karena gerakan ini terikat erat dengan penyebaran Ahmadiyah menjadi suatu jemaat besar di dunia.

Berdasarkan alasan ini, Khalifatul Masih II, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, atas petunjuk Allah Ta’ala, memperkenalkan gerakan Tahrik Jadid. Gerakan ini menghendaki setiap anggota jemaat menyumbangkan 1/5 dari pendapatan sebulan untuk 1 kali dalam setahun.

Walaupun Tahrik Jadid, jika dilihat dari kemunculannya adalah setelah Al-Wasiyyat, namun gerakan ini adalah sebuah pembuka. Setiap anggota yang ikut serta dalam gerakan Tahrik Jadid, maka ia membantu mempercepat gerakan Al-Wasiyyat, dan mereka yang berpartisipasi ini membantu mewujudkan Tatanan Dunia Baru.

Saya pastikan, Tatanan Dunia Baru tidak akan diperkenalkan oleh Tuan Churchill atau Tuan Roosevelt. Deklarasi seperti Piagam Atlantik tidak akan menghasilkan apapun. Mereka penuh dengan kelemahan. Tatanan Baru didirikan di atas muka bumi hanya oleh Utusan-utusan Tuhan. Mereka tidak memiliki kepahitan kepada kaum kaya dan tidak ada prasangka kepada kaum miskin. Mereka bukan Timur atau Barat. Mereka adalah Utusan Tuhan yang menyerukan ajaran yang membawa kepada perdamaian sejati. Zaman ini pun, perdamaian hanya bisa dibangun oleh ajaran Almasih Mau’ud as (Almasih yang dijanjikan), pondasinya terdapat dalam ‘Al-Wasiyyat’ yang diperkenalkan pada tahun 1905.

Di bawah gerakan ini, tanpa paksaan atau tekanan, melainkan atas dasar kasih sayang dan amal baik, seseorang akan sangat berusaha menolong saudaranya. Pengorbanan ini tidak akan sia-sia. Setiap orang yang memberi akan dibalas berkali lipat oleh Allah Ta’ala. Yang kaya tidak akan kehabisan, yang miskin tidak akan hidup melarat. Setiap bangsa tidak akan saling berperang, setiap kelas tidak akan saling bersitegang. Dunia mencari Tatanan Baru dengan cara menghancurkan agama. Melalui Tahrik Jadid dan Al-Wasiyyat kalian akan membangun Tatanan Baru yang jauh lebih baik sekaligus memelihara integritas agama.

Bagi mereka yang sudah berwasiat, saya ucapkan selamat dan bagi mereka yang belum, saya doakan semoga Allah Ta’ala memberikan karunia untuk melaksanakannya, sehingga mereka bisa memperoleh berkah material maupun spiritual untuk diri sendiri.

Beliau juga berdoa agar melalui gerakan ini dunia akan dipenuhi oleh kilauan cahaya pengetahuan sejati sehingga bisa menghapuskan penderitaan serta membuat yang kaya dan miskin, kelas atas dan bawah hidup bersama dalam kasih sayang dan kebaikan hati.

Akhir kata: Alhamdulillahirobbil a’lamiin


Judul Asli: The New World Order Presented by Ahmadiyyat
Penulis: Maulvi Abdul Wahab
Terjemah: Habibah
Sumber: www.alislam.org

(Visited 127 times, 2 visits today)