Jihad Menurut Islam

Dalam Islam Jihad dibagi menjadi tiga macam, yakni: 1). Jihad paling kecil (Ashghar), yaitu perang jasmaniah seperti perang Badar, Uhud, Ahzab, Khandak dll, 2). Jihad besar (kabir), yaitu jihad menyiarkan Islam dengan menggunakan Al-Qur’an (tabligh) dan 3). Jihad melawan hawa nafsu sendiri (akbar), yakni perang rohaniah. Ketiga macam jihad tersebut berdasarkan Firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw berikut:

فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْ هُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيْرًا

“Maka janganlah kalian mengikuti orang-orang kafir dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an ini sebagai jihad yang besar.” (Al-Furqan, 25: 53)

Kemudian Rasulullah saw bersabda:

قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقْدَمٍ وَقَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ الْاَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْاَكْبَرِ مُجَاهَدَةَ الْعَبْدِ هَوَاهُ

“Kalian telah mendatangai sebaik-baik tempat kedatangan (medan Badar) dan kalian telah kembali dari jihad paling kecil menuju jihad paling besar, yakni jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya.” [1]

Sehubungan dengan perang jasmaniah, Pendiri Ahmadiyah, Hadhrat Masih Mau’ud dan Imam Mahdi as bersabda:

“Memang betul bahwa kepada Islam telah diberikan dua macam kekuatan untuk berperang. Pertama, kekuatan yang telah digunakan pertahanan dan pembalasan. Yakni, ketika orang-orang musyrik Arab mengacau dan menyakiti, maka seribu orang Mukmin telah memperlihatkan keberanian mereka melawan seratus ribu orang kafir. Dan dalam setiap ujian, mereka telah memperlihatkan bukti kekuatan serta keberanian yang suci itu. Zaman itu telah berlalu.”[2]

Selanjutnya Pendiri Ahmadiyah bersabda:

“Sekarang ini adalah masa aman dan damai. Dan kita mendapatkan segala macam kemudahan serta ketentraman. Dengan bebas setiap orang dapat menyebarluaskan dan menablighkan (menyampaikan) agamanya serta mengamalkan hukum-hukum agamanya. Lalu, Islam yang merupakan pendukung sejati bagi kedamaian – bahkan pada hakikatnya hanya Islamlah yang menebarkan kedamaian, keselamatan dan kerukunan – bagaimana mungkin pada zaman damai dan kebebasan ini dapat menyukai upaya-upaya untuk memperlihatkan contoh yang pertama (perang jamaniah)? Jadi, pada masa sekarang ini, yang dituntut adalah contoh kedua, yakni peperangan rohani.”[3]

“Pada masa permulaan Islam, timbul kebutuhan untuk melakukan peperangan pembelaan diri dan peperangan jasmaniah, sebab para pengimbau ke arah Islam pada masa-masa itu tidak dijawab dengan dalil-dalil maupun argumentasi, melainkan dijawab dengan pedang. Oleh karena itu, tidak ada cara lain kecuali terpaksa menggunakan pedang.”[4]

“Saat ini yang dibutuhkan adalah pahamilah dengan seyakin-yakinnya – bukanlah pedang, melainkan pena. Para penentang kita telah menaburkan kebimbangan-kebimbangan mengenai Islam dan dari sudut pandang berbagai ilmu pengetahuan, mereka ingin menyerang agama sejati Allah Ta’ala. Allah telah menggerakkan saya untuk mengenakan senjata pena lalu turun di medan pertempuran pengetahuan dan kemajuan ilmiah ini. Dan supaya saya juga memperlihatkan hebatnya keberanian rohani serta kekuatan batiniah yang dimiliki Islam. [5]

Inilah jihad yang masih terus berlangsung di zaman ini, yakni jihad menyampaikan pemahaman Islam yang benar dengan Al-Qur’an dan jihad melawan hawa nafsunya sendiri. Inilah jihad yang dilaksanakan Ahmadiyah, yakni jihad Kabir dan jihad Akbar.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih Al-Khamis atba bersabda:

“Our Jihad is not a Jihad of swords, guns or bombs. Our jihad is not a Jihad of cruelty, brutality and injustice. Rather, our Jihad is love, mercy and compassion. Our jihad is of tolerance, justice and human sympathy. Our Jihad is to fulfill the rights of God Almighty and of His Creation.”

“Jihad kami tidak menggunakan pedang, senapan atau bom. Jihad kami bukan melakukan tindakan aniaya, brutal dan berbuat tidak adil. Melainkan Jihad kami adalah mencintai, menyayangi serta mengasihi. Jihad kami adalah bertoleransi, berbuat adil dan bersimpati terhadap sesama. Jihad kami adalah menunaikan hak-hak makhluk-Nya.”[6]

MASIH MAU’UD DAN IMAM MAHDI AS

Apabila manusia sudah mengalami kerusakan akhlak dan rohani yang sedemikian parah dan menyedihkan. Maka Allah swt akan mendatangkan seorang laki-laki dari umat Islam untuk mengajak dan memimpin mereka kembali kepada ajaran Islam (QS 36:21), yakni, Islam yang dulu pernah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah saw (QS 62: 3-4). Beliau as adalah seorang pria, yang dari pihak ibu berasal dari keturunan Fathimiah, putrid Nabi Muhammad saw, [7] dan dari pihak ayah keturunan kaum Salman Al-Farisi sahabat Rasulullah saw [8], yang muncul dari timur Damsyik. [9] Beliau menggunakan nama “Ahmad”, salah satu dari nama Rasulullah saw.[10]

Pada hakikatnya beliau dibangkitkan di zaman Akhir ini hanya semata-mata untuk menampakkan kembali wujud Rasulullah saw. Oleh karena itu, ajaran beliau adalah ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Seorang pria yang ditakdirkan menjadi mazhar (penampakan) Nabi Muhammad saw. Beliau diberi gelar Nabiyullah Isa as. [11]

Sebagimana Sabda Nabi Muhammad saw:

فَاِذَ رَاَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِىِّ

“Maka apabila kamu sekalian memahaminya (Imam Mahdi), maka berbai’atlah kamu kepadanya, meskipun kamu merangkak di atas salju, karena ia Khalifatullah, Al-Mahdi.”[12]

Ketiga gelar tersebut dikaruniakan kepada seorang figur bernama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, sebagaimana sabda beliau as:

فَأَنَا ذَالِكَ النُّوْرُ وَالْمُجَدِّدُ الْمَأْمُوْرُ وَالْعَبْدُ الْمَنْصُوْرُ وَالْمَهْدِيُّ الْمَعْهُوْدُ وَالْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ

“Maka, akulah cahaya itu, Mujaddid yang mendapat perintah, seorang hamba yang ditolong, Al-Mahdi yang dijanjikan dan Al-Masih yang dijanjikan.” [13]

Sektab PB JAI, Cet. 1. 2017

[1] Al-Khatib dalam At-Tarikh dari Jabir ra, Ad-Dailami dari Jabir ra dan Kanzul-Ummal, Juz IV, nomor Hadits 11260, 11779, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon, 1989

[2] Malfuzhat, Add Nazir Isyaat, London, 1984, Jilid I, h. 57-58/MI 07-09-2000

[3] Malfuzhat, Add Nazir Isyaat, London, 1984, Jilid I, h. 58/MI 07-09-2000

[4] Malfuzhat, Add Nasir Isyaat, London, 1984, Jilid I, h. 58-59/MI 08-09-2000

[5] Malfuzhat, Add Nazir Isyaat, London, 1984, Jilid I, h. 59-60/MI 08-09-2000

[6] Reception at the inauguration of Mahmood Mosque in Regina, Canada, 8 November 2016

[7] Kanzul Ummal, Juz XIV, Hadits no. 38653,  ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 2989

[8] Kanzul Ummal, Juz XII, Hadits no. 35125, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisaamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[9] Kanzul Ummal, Juz XIV, Hadits no. 38852, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisaamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[10] Kanzul Ummal, Juz XIV, Hadits no. 38655, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisaamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[11] Shahih Muslim, “Bab Dajjal dan Sifat-sifatnya” dan Imam Mahdi serta Khalifatullah (Kanzul Ummal, Juz XIV, Hadits no. 38808

[12] HR Ibnu Majah, dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” – dari Tsauban ra dan Kanzul Ummal, Juz XIV, Hadits no. 38658, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisaamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[13] Al-Khutbah al-Ilhamiyah, hal. 50-51

(Visited 6 times, 1 visits today)