Sejarah Ahmadiyah Jawa Timur

Tabligh Ahmadiyah Masuk ke Surabaya

Pada tahun 1926 seorang pemuda asal India bernama Abdul Ghafoor pergi merantau ke Surabaya mengikuti jejak abang beliau yang bernama Abdul Hamid yang telah lebih dahulu ada disana. Kakak beliau itu telah tinggal di Surabaya sejak tahun 1918 sebagai tabib disana. Kedua kakak beradik ini mempunyai saudara sepupu yang bernama Abdul Wahid di Surabaya yang berprofesi sebagai pedagang.

Pada akhir tahun 1926  Abdul Ghafoor pulang ke India dan disana beliau baiat ke dalam Ahmadiyah. Baiat ini dilakukan bertepatan pada saat acara Jalsah Salanah[1] di sana. Sekembalinya ke Surabaya beliau menyampaikan Ahmadiyah kepada saudara-saudara beliau dan tak lama kemudian kedua saudara beliau itu menerima dan baiat ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Kedatangan Abdul Ghafoor juga membuat klinik pengobatan tradisional kakak beliau menjadi lebih dikenal masyarakat Surabaya khususnya oleh mereka yang berasal dari India, terlebih lagi di tengah  kesibukannya  beliau menyempatkan berkiprah dalam berbagai organisasi kemasyarakatan[2] di Surabaya. Dedikasi beliau yang tulus dalam organisasi tersebut membuat beliau dalam waktu singkat dipercaya menjadi pucuk pimpinannya.

Dalam tahun 1937, seorang Muballigh Ahmadiyah ditugaskan di Surabaya, beliau bernama Maulana Malik Aziz Ahmad Khan. Kedatangan Maulana Malik Aziz Ahmad Khan disambut gembira oleh tiga[3] orang Ahmadi yang telah ada di Surabaya. Abdul Ghofur, salah satunya, adalah Ahmadi pendatang dari India yang cukup sukses berbisnis di Surabaya. Beliau membuka klinik pengobatan ketimuran yang terbilang terkenal di masyarakat Surabaya, terutama dari kalangan keturunan India. Beliau sendiri merupakan aktivis yang aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan[4], sehingga beliau dikenal oleh berbagai kalangan disana. Dedikasi dan pengorbanan beliau di organisasi itu tidak terperanai besarnya, sehingga dalam waktu singkat beliau dipercaya sebagai pucuk pimpinan. Setelah ditunjuk sebagai pucuk pimpinan, beliau tidak berhenti memberi dukungan moral maupun material kepada organisasi tersebut.

ahmadiyah jawa timur

Gambar 9.1. Mln. Malik Aziz Ahmad Khan berfoto bersama pengurus Ahmadiyah Purwokerto (foto diambil tanggal 8 Januari 1939)

Bapak Mln. Malik Aziz Ahmad Khan bertempat tinggal di kediaman Bapak Abdul Ghofur, selanjutnya beberapa minggu kemudian pindah ke Kampung Kedung Anyar dan akhirnya beliau menetap di kampung Kedondong Kidul, bersebelahan dengan kediaman Bapak Ibrahim yang kelak menjadi Ahmadi.

Dalam tahun 1938 juga ada seorang Ahmadi dari Bogor yang pindah ke Surabaya, beliau bernama Oesman yang bekerja di perusahaan minyak BPM[5], yang tinggalnya di kampung Gundhih. Di kampung Gundhih waktu itu ada sebuah perkumpulan yang bernama ‘Tambah Pengetahuan’, yang mengadakan pertemuan seminggu sekali diantara anggotanya. Dalam suatu pertemuan, Maulana Malik Aziz mengisi acara dengan topik keagamaan, diantaranya: ‘Islam Sejati’, Wafat  Nabi Isa as’, ‘Masih Mau’ud as’. Ketenangan berbicara dan runutnya penjelasan yang disampaikan beliau, mencerminkan kecerdasan dan luasnya pehamaman beliau atas masalah yang dibahas. Tak pelak lagi hal ini menimbulkan kekaguman pada anggota perkumpulan itu, sehingga beliau diminta secara rutin mengisi materi dalam pertemuan mereka. Terlebih lagi Maulana Malik Aziz Ahmad Khan selalu membuka ruang tanya jawab yang selalu beliau isi dengan pencerahan yang tangkas dan cerdas bagi pendengarnya.

Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, maka pada tahun 1938 itu pada jam 19.30 ba’da Isya, beliau menerima janji bai’at dari beberapa anggota perkumpulan itu, yakni: Mangkoe Wisastro, R. Soelaiman, M. Soepardi, M. Soemowidjojo. Beberapa minggu kemudian, baiat pula sejumlah orang, sehingga ada total sepuluh orang Ahmadi. Selanjutnya dibentuklah Andjoeman Ahmadiyah Qodian Departement Indonesia Gemeente Surabaya, lengkap dengan kepengurusannya sebagai berikut:

  • Ketua               : Mangkoe Wisastro
  • Sekretaris        : R. Soelaiman
  • Maal                 : M. Abdul Gafoor

Upaya Mendirikan Masjid Ahmadiyah di Surabaya

Di tahun 1939, pada suatu pertemuan pengurus Andjuman di sore hari, Maulana Malik Aziz Ahmad Khan menganjurkan kepada Ahmadi untuk segera mendirikan Masjid, walau sederhana namun dapat digunakan untuk shalat dan berbagai kegiatan, mengingat jumlah Ahmadi yang semakin banyak.

Menanggapi anjuran itu Mangkoe Wisastro menyumbangkan sebidang tanah[6] di kampung Gundhih untuk didirikan Masjid diatasnya. Setelah itu Mangkoe Wisastro menggadaikan rumahnya guna pembangunan Masjid di atas tanah yang telah ia hibahkan. Maka dimulailah pembangunan Masjid sederhana disertai sebuah ruangan kecil sebagai tempat tinggal Muballigh. Konstruksi Masjid berupa dinding papan dan bambu, dan di desain beratap rendah. Di dinding Masjid dibagian depan dipancangkan papan nama ‘Andjoeman Ahmadiyyah Qadian Indonesia Gemeente Surabaya’. Selesainya Masjid ini disambut sukacita oleh para Ahmadi dan segera sesudahnya tempat itu digunakan untuk shalat Jum’at secara teratur dan pengajian-pengajian serta rapat rutin pengurus. Walau terkadang pengajian juga dilakukan di kediaman Bapak Harun, seorang pegawai ‘Marine Ujung’ di jalan Benteng, Surabaya. Selanjutnya dalam tahun 1941 beliau menggantikan Mangkoe Wisastro yang wafat[7].

Pada tahun 1942 balatentara Jepang menduduki Surabaya, mereka menempatkan pasukan di tempat-tempat strategis, termasuk kampung Gundhih yang waktu itu bersebelahan dengan pangkalan bahan bakar minyak milik BPM. Dengan segera mereka meminta warga sekitar kampung Gundhih untuk meninggalkan rumah termasuk tempat peribadatan mereka dengan alasan tempat itu dapat menjadi sasaran serangan pasukan sekutu. Dengan rasa takut bercampur sedih, Masjid Jemaat yang merupakan hasil pengorbanan para anggota itu pun harus dibongkar paksa.

Untuk sementara sebelum ada Masjid yang baru, shalat Jumat dilakukan di rumah Sulaiman di Kranggan IV/4 Surabaya. Hilangnya Masjid mereka membuat para anggota dan khususnya Mln. Malik Aziz Khan berdoa dan berupaya agar mereka dapat segera mendirikan Masjid yang baru[8]. Maulana Sayyid Shah Muhammad yang berkunjung waktu itu juga men-doakan agar Ahmadi Surabaya memperoleh Masjid dengan segera.

sayyid shah muhammad ahmadiyah

Gambar 9.2. Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jaelani

Dengan karunia Allah pada tahun 1943, Pemerintah Kota Surabaya berkenan meminjamkan tanahnya[9] kepada Jemaat disana. Maulana Malik dan semua anggota Jemaat besar-kecil, tua-muda, bekerja keras membersihkan lahan itu dari semak, pepohonan dan sampah, segera sesudahnya dimulailah proses pembangunan Masjid yang dipimpin oleh Soelaiman.

Masjid itu dibangun dengan konstruksi beton, terdiri dari tiga ruangan, yakni ruang utama untuk shalat, ruang perpustakaan dan ruang Lajnah Imaillah. Beberapa bulan kemudian selesailah Masjid itu yang diberi nama ‘An-Noer’. Selanjutnya dibangun pula sebuah paviliun kecil yang sederhana untuk tempat tinggal tamu.

Pada masa pendudukan Jepang ini aktivitas Ahmadiyah sangat dibatasi, terlebih lagi para penentang waktu itu sekali lagi memanfaatkan alat negara yang ada guna meredam[10] dakwah Ahmadiyah. Namun pada tahun 1943 Andjuman Ahmadiyah Departement Indonesia Gemeente Surabaya mengadakan satu majlis tabligh akbar dengan penceramah Maulana Abdul Wahid. Beliau dengan berani dan lantang menantang kepada para hadirin untuk membantah uraian beliau dengan Al-Qur’an, seraya memberikan hadiah sebesar Rp 10.000 kepada siapa saja yang dapat mematahkan kebenaran kedatangan Imam Mahdi. Pada waktu itu juga beliau dengan tegas mengatakan senjata tidak dapat memuntahkan pelurunya dengan izin Tuhan. Hal ini beliau katakan menanggapi kekhawatiran akan ancaman senjata pasukan Jepang yang waktu itu terkenal kejam.

Gambar 9.3. Mln. Abdul Wahid, HA.Sy.

Gambar 9.3. Mln. Abdul Wahid, HA.Sy.

Dalam tahun itu juga Andjuman Ahmadiyya Departement Indonesia Gemeente Surabaya dikunjungi Maulana Rahmat Ali. Selama dua malam[11] beliau di Surabaya dan walau singkat kunjungan beliau memberi dampak ruhani yang besar bagi anggota Jemaat disana.

Sejak proklamasi kemerdekaan keadaan Soerabaya begitu tegangnya dan dalam bulan November ditahun 1945 kota ini diultimatum agar penduduk secara sukarela menyerahkan senjata yang mereka miliki kepada tentara sekutu. Himbauan ini tidak ditanggapi oleh kebanyakan penduduk dan pada tanggal 10 November 1945 kota ini digempur lewat darat laut maupun udara oleh sekutu. Para pemuda Ahmadi[12] turut serta berjuang menghadapi gempuran tentara sekutu. Mereka bergabung dalam beragam organisasi massa[13] yang ada dan memilih tinggal di Surabaya yang digempur secara total, sementara kebanyakan penduduk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Begitu banyak bahan peledak digunakan pihak yang bertempur namun Masjid ‘An-Noer’ milik Ahmadiyah tetap tegak berdiri, walaupun di beberapa bagian Masjid terlihat banyak lubang bekas tembakan dan atau peluru nyasar.

Dalam tahun 1946, A. Ghafoor dan A. Hamid kembali dari pengungsiannya di Jakarta. Mereka secara bertahap memperbaiki Masjid An-Noer yang rusak. Dalam kurun waktu 1947 hingga 1949, A. Ghafoor dalam kapasitasnya selaku pengurus oraganisasi massa[14] waktu itu banyak memperbaiki Masjid-Masjid di luar Masjid Jemaat Ahmadiyah di seantero Soerabaya. Dalam upaya ini beliau kerap kali menghubungi pihak pemerintah dan para ulama dan kaum muslimin disana dalam upaya memperbaiki Masjid dan sarana penunjangnya. Dan akhirnya upaya beliau ini membuahkan hasil khususnya Masjid An-Noer dapat dipergunakan kembali untuk kegiatan ibadah dan kegiatan Jemaat sehingga para anggota yang sempat mengungsi dapat kembali ke Soerabaya dan melaksanakan kegiatan disana.

Pada tanggal 29 September 1950, A. Ghafoor membeli sebuah rumah persis dibelakang Masjid An-Noer dan dengan ikhlas diserahkan kepada Jemaat sebagai rumah misi[15].

[1] 27 Desember 1926.

[2] 1). Yayasan Sosial Umat Islam Surabaya, 2). Perserikatan Sosial Umat Islam, 3). Pakistan League.

[3] Abdoel Ghofoer (Bai’at di Qadian pada tahun 1926), Abdoel Hamid (bai’at tahun 1931), dan Abdoel Wahid (bai’at di Soerabaya tahun 1933). Kedua yang terakhir ini adalah saudara dari Abdoel Ghofoer.

[4] 1). Yayasan Sosial Oemat Islam Soerabaya, 2). Perserikatan Sosial Oemat Islam, 3). Pakistan League.

[5] British Petroleum Maschappij.

[6] Tanah itu seluas 225 meter persegi terletak di kampung Gundhih gang IV/67 Surabaya, Jawa Timur. Tanah itu sudah disertifikatkan oleh pejabat pertanahan yang berwenang pada tahun 1952 oleh Ibrahim dihadapan saksi-saksi; Ny. Mangkoe Wisastro, Soelaiman, Sarkun.

[7] Shalat Jenazah dipimpin oleh Bapak Malik Aziz Ahmad Khan dan Almarhum Mangkoe Wisastro dikuburkan di Trowulan, Modjokerto.

[8] Pada satu perbincangan Maulana Malik Aziz Ahmad Khan berujar, ’Biar anak saya mati, saya bisa tahan!, tapi hilangnya Masjid saya tidak bisa tahan’.

[9] Lahan itu seluas 210 meter persegi berada di jalan Bubutan I/2, Surabaya, Jawa Timur.

[10] Tuduhan dan fitnah itu antara lain bahwa Ahmadiyah adalah antek Inggris.

[11] Beliau tinggal di kediaman Bapak Ibrahim di kampung Kedondong Kidul, Surabaya.

[12] A. Halim, Abu Hasan, M. Subari, Ibrahim, Soeroso, Soebandi, Bambang Yuwono, Soendoro Sediono.

[13] BKR (Barisan Keamanan Rakjat), BPRI (Barisan Pemberontak Repoeblik Indonesia), Hisboellah, PRI (Pemoeda Repoeblik Indonesia), API (Angkatan Pemoeda Indonesia), TRIP (Tentara Repoeblik Indonesia Peladjar) dan lain-lain.

[14] 1). Yayasan Sosial Umat Islam Surabaya, 2). Perserikatan Sosial Umat Islam

[15] Penyerahan dibawah akta notaris Sie Khwan Ho, No. 22 Tahun 1952.

(Visited 231 times, 1 visits today)