18 Agustus 2016

Jalsah Salanah UK ke-50 ditutup pidato Hazrat Mirza Masroor Ahmad

Jalsah Salanah ke-50 (Pertemuan Tahunan) Jamaah Muslim Ahmadiyah di United Kingdom ditutup pada Sabtu 14 Agusut 2016 dengan pidato berkesan dan penuh inspirasi yang disampaikan pemimpin dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Khalifatul Masih ke-5, Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba.

Dalam pidato penutupan yang disampaikan beliau, Yang Mulia menyatakan banyak kritik ditujukan terhadap Islam. Semestinya menilai agama Islam berdasar pada ajaran aslinya bukan melulu menilai Islam dari tindakan-tindakan tak manusiawi dari kelompok kecil ekstrimis.

Lebih dari 38.000 orang hadir pada Jalsah Salanah ini yang bertempat di Hadeeqatul Mahdi di Alton, Hampshire.

Selain dari ribuan Muslim Ahmadi yang turut hadir, terdapat banyak pula tamu-tamu non-Ahmadi dan non-Muslim. Semua kegiatan pada acara Jalsah ini disiarkan langsung melalui MTA International dan online.

Salah satu kegiatan utama dalam tiga hari Jalsah Salanah ini adalah Janji Setia atau dikenal dengan sebutan Bai’at yang dilaksanakan pada hari Minggu siang dimana banyak partisipan bersama-sama menyatakan Bai’at di tangan Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba yang merupakan Khalifatul Masih ke-5 Masih Mau’ud alaihi salam.

Para partisipan membentuk barisan berantai terpusat kepada Khalifah dan mereka secara serempak mengulang kata-kata Bai’at. Sebelum seremoni ini, Huzur aba mengumumkan bahwa lebih dari 584.000 orang dari seluruh dunia bergabung dengan Jamaah Muslim Ahmadiyah sepanjang satu tahun terakhir  Beliau juga menyampaikan bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah telah berdiri di 209 negara.

Dalam pidato penutupan, Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba mengatakan bahwa kritikan terhadap Islam semakin menambah keberatan tak berimbang dan sepenuhnya tuduhan terhadap Islam tak mendasar. Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba menyatakan:

“Saat ini kekacauan dan terorisme terjadi karena faktanya mereka sedang memutarbalikkan ajaran-ajaran sejati Islam. Aksi-aksi mereka yang penuh dengan kebencian dan kejahatan sepenuhnya tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam.”

Huzur Aba mengatakan, Islam didasarkan pada pondasi perdamaian yang mengusung persamaan derajat semua orang dan semua bangsa. Islam mengajarkan bahwa tidak ada bangsa atau kaum manapun yang memiliki superioritas atas bangsa dan kaum lain.

Huzur aba melanjutkan, Islam mendorong terciptanya perdamaian di semua tingkat masyarakat dan dasar bagi perdamaian dalam masyarakat tergantung pada kedamaian rumah setiap anggota masyarakat. Beliau menambahkan bahwa Islam melandasi penekanan khususnya pada hak-hak orang tua.

Sebaliknya, Huzur menjelaskan bahwa masyarakat di negara-negara maju terus-menerus menjuluki Islam sebagai agama yang kejam sementara mereka sendiri melupakan kewajiban mendasar mereka terhadap orangtua.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba mengatakan:

“Di dunia maju banyak orang mengakui bahwa mereka tidak memiliki waktu bahkan untuk sekedar menjumpai orang tua mereka dengan rutin, maka buktikanlah bahwa mereka mengabdi untuk orang tua mereka dan peduli kepada orangtuanya pada usia tua. Semakin jauh mereka hanya memikirkan diri sendiri maka semakin melangkah jauh mereka dari keharusannya memenuhi kewajiban mendasarnya .”

Huzur menekankan bahwa keadilan yang sebenarnya hanya dapat dibentuk dengan menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba menyampaikan:

“Tanpa mengenal dan tanpa memenuhi hak-hak beribadah kepada Allah Ta’ala, maka keadilan tidak dapat ditegakkan dan seseorang tidak bisa memberikan perhatian terhadap kebajikan dan kemanusiaan. Mereka yang mengaku sebagai Muslim namun melakukan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam jelas karena mereka tidak benar-benar   mengenal Tuhan tidak pula memenuhi kewajibannya terhadap-Nya.”

Huzur Aba mengingatkan kewajiban-kewajiban orang-tua terhadap anak-anaknya berdasarkan pada Al-Qur’an suci yang berbunyi, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin”.

Huzur aba menjelaskan, surah ini terkait dengan mereka yang gagal memenuhi kesejahteraan moral anak-anak mereka.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba:

“Kurangnya kepedulian dan pendidikan moral dari orang-tua menjadi satu alasan anak-anak menjadi rentan terhadap ektrimisme dan melakukan tindakan keliru yang mengatasnamakan Islam. Orang-tua demikian tengah mengabaikan tugas mereka terhadap anak-anaknya karena sibuk mengejar dengan sia-sia kekayaan dunia dan membiarkan anak-anaknya kehilangan pengetahuan dasar keagamaan. Inilah maksud dari kata ‘merusak anak-anak mereka.”

Huzur aba mengutip surah 49 Al-Qur’an ayat 12 yang melarang umat Muslim mengolok-olok sentimental golongan lain.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba menyampaikan:

“Pada saat dan masa ini agama terus-menerus dihinakan dan diolok-olok khususnya agama Islam menjadi target hal terkait. Saat orang-orang menghina dengan kata-kata atau membuat karikatur yang memancing dan merendahkan Islam dan Rasulullloh saw sungguh melukai umat Muslim di seluruh dunia. Tentu saja reaksi kekerasan dalam bentuk apapun jelas bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam namun dimana nilai bijaknya bila menciptakan hal-hal demikian yang bisa mengancam perdamaian masyarakat?”

Huzur aba melanjutkan:

“Apakah kenyataan tindakan-tindakan bertentangan dengan ajaran Islam yang dilakukan oleh kelompok-kelompok atau individu-individu tertentu menjadi pembenaran bagi Non-Muslim untuk memprovokasi dan menyinggung perasaan semua Muslim termasuk kami Muslim Ahmadi yang selama ini ada di garis terdepan mempromosikan ajaran-ajaran islam yang damai?”

Menjelaskan ajaran Islam dalam hubungannya dengan saling hormat menghormati dan dialog antar keyakinan, Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba mengatakan:

“Islam mengajarkan bahwa kekacauan harus dihentikan bukan diprovokasi atau dipanas-panasi.”

Berbicara mengenai keadaan damai dunia yang mengkhawatirkan, Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba mengatakan:

“Konflik-konflik yang muncul dalam skala kecil saat ini malah dibawa menjadi konflik-konflik internasional. Sebelumnya saya pernah menyatakan bahwa ketidakadilan di dunia dapat mendorong kita menuju perang nuklir yang melibatkan banyak pemerintah-pemerintah resmi, namun para analis dan politikus-politikus mengatakan bahwa klaim ini mengada-ada dan terlalu pesimis. Namun sekarang mereka sendiri mengatakan bahwa perang nuklir tengah mengancam dan apapun bisa terjadi.”

Huzur aba menjelaskan bahwa baik bangsa-bangsa Muslim maupun kekuatan-kekuatan besar memainkan peranan mengacaukan perdamaian dunia.

Beliau mengutip laporan-laporan media yang menanyakan mengapa negara-negara tertentu menjual senjata-senjata mereka ke negara-negara yang terlibat dalam peperangan dimana banyak orang tak bersalah terbunuh.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba mengatakan:

“Pada satu sisi, bangsa-bangsa Muslim gagal bertindak dengan adil sementara di sisi lain negara-negara maju tertentu memprioritaskan perdagangan senjata di atas penegakkan kedamaian. Jika saja mereka berlaku adil dan bersatu maka situasi bahaya yang tengah dihadapi dunia saat ini bisa dihindari. Sayangnya kepentingan-kepentingan pribadi telah membutakan kedua belah pihak.”

Huzur aba mengatakan:

“Ini menjadi tugas dan tanggung jawab Muslim Ahmadi untuk memberitahukan kepada dunia kebaikan-kebaikan ajaran-ajaran damai Islam. Semoga Allah Ta’ala meridhai kita untuk mewujudkannya dan memberikan pemahaman kepada penduduk dunia.”

Jalsah Salanah ditutup dengan doa bersama dipimpin Huzur aba. @AhmadiyyatIslam

22 Deer Park Road, London, SW19 3TL UK
Tel/Fax: (44) 020 8544 7678 Email: media@pressahmadiyya.com


Ahmadiyya Muslim Community
Press & Media Office

URL sumberpressahmadiyya.com

(Visited 24 times, 1 visits today)