Betapa sedihnya, mereka bilang wahyu dihentikan sudah,

Kini umat hanya bergantung pada dongeng kuno sampai Kiamat tiba.

Sungguh keimanan seperti itu melawan Kalam Ilahi, Namun siapa akan membuang belenggu lama ini?

Tuhan tetap memilih siapa yang jadi penerima wahyu-Nya, Dia tetap berbicara dengan siapa Dia suka.

Mengapa kalian buang mustika wahyu Ilahi, hati-hatilah, Karena hanya ini sumber kemuliaan dan kelebihan iman.

Ini adalah bunga tanpa tanding di taman surgawi,

Ini adalah wewangian yang lebih harum kesturi Tartari.

Ini adalah kunci pembuka pintu gerbang langit, Ini adalah cermin pantulan Wujud sang Kekasih.

Hanya inilah senjata yang menjamin kemenangan kita, Hanya inilah benteng, istana keamanan kita.

Dalam Islam, hanya inilah sarana mencapai pengetahuan Ilahi, Dongeng semata tak akan menolong umat dari amukan badai.

Wahyu Ilahi pertanda pengenalan Ilahi

Yang menerimanya akan menemukan juga sang Sahabat Abadi.

Betapa moleknya kebun kasih, jalan menujunya lewat lembah maut, Buahnya adalah persatuan dengan sang Kekasih meski dikepung duri.

(Brãhĩn-i-Ahmadiyah, bag. V, Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 137, London, 1984).



Wahyu adalah pesan tersembunyi yang tidak tergantung kepada perenungan atau pun pemikiran yang mendalam. Wahyu tersebut bersifat jernih dan jelas seperti perasaan seseorang yang mendengarkan seorang pembicara atau pun sentuhan dari seseorang yang menyentuhnya. Jiwa tidak akan mengalami kesakitan ruhani karenanya. Jiwa selalu memiliki keselarasan abadi dengan wahyu sebagaimana halnya kebahagiaan seorang pecinta yang memandang wujud yang dikasihinya. Wahyu adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan yang amat menyenangkan.

(Purani Tehrerain, Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 20, London, 1984).