Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 08 November 2019 (08 Nubuwwah 1398 Hijriyah Syamsiyah/ Rabi’ul Awwal 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

۞ لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ ()

Bukanlah tanggungjawab engkau memberi petunjuk kepada mereka tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan harta apa pun yang kamu infakkan maka manfaatnya adalah untuk dirimu sendiri; dan tidaklah kamu menginfakkannya melainkan untuk mencari keridaan Allah. Dan harta apa pun yang kamu infakkan niscaya akan dikembalikan kepadamu dengan penuh dan kamu tidak akan dianiaya.” (Surah al-Baqarah, 2:273)

Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam ayat tersebut bahwa memberi hidayah, membawa kepada jalan yang lurus, atau menempatkan seseorang di jalan yang membawa pada tujuan sebenarnya lalu meneguhkan diatas jalan itu atau diatas petunjuk dan bimbingan itu dan menyampaikannya sampai ke tempat tujuan dan menyelamatkan dari ketersesatan jalan serta memberikan akhir kehidupan yang baik bergantung pada karunia Allah Ta’ala dan merupakan tanggung jawab Allah Ta’ala. Memang kita dapat menunjukkan jalan kebaikan kepada seseorang namun bukan di bawah kekuasaan kita untuk dapat menempatkannya di jalan itu dan membuatnya tetap teguh di jalan itu. Allah Ta’ala lah yang mengambil tanggung jawab ini.

Siapa saja yang berusaha menuju kepada Allah Ta’ala dan berusaha untuk melangkah di jalan-Nya dan juga berdoa maka dengan karunia dan berkat Allah Ta’ala ia akan sampai pada tempat tujuan. Jadi, suatu keharusan setelah mendapat petunjuk, kita terus berusaha untuk berjalan di jalan petunjuk itu sesuai dengan cara-cara yang diajarkan Allah Ta’ala. Teruslah berdoa, dan teguh diatasnya sembari memohon karunia-Nya supaya kita mendapatkan akhir kehidupan yang baik dan jangan sampai kelemahan kita menyesatkan kita dari jalan yang membawa kita kepada Allah Ta’ala.

Aspek kedua yang Allah firmankan pada ayat ini adalah, وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ wa maa tunfiquu min khairin falianfusikum.’ – “Jika kamu membelanjakan sebagian dari hartanya yang suci maka kamu jugalah yang akan mendapatkan manfaatnya.” Allah Ta’ala tidak berhutang melainkan mengembalikan hutang dengan melipatgandakannya. Sebagaimana seorang pertani yang menebar benih di sawah maka orang yang tidak bijak dapat mengatakan, “Apa yang tengah dilakukan orang ini dengan membuang-buang benih di tanah”?

Namun orang yang bijak mengetahui bahwa benih yang ditebarkan ke tanah ini akan tumbuh dan berubah menjadi ratusan ribu bahkan jutaan benih baru lalu tumbuh kecuali jika terdampak bencana atau musibah lainnya sehingga rusak dan tidak mendapatkan apa-apa. Jadi, sebagian yang ia belanjakan dari harta yang suci dengan niat baik, maka ia dapat memperolehnya kembali bahkan sampai ribuan kali lipat. Para Ahmadi sering menulis surat berisi pengalaman pribadi yang mengungkapkan bagaimana mereka memberikan pengorbanan di jalan Allah lalu Allah Ta’ala mengembalikannya kepada mereka dengan berlipat. Sebagian dari mereka ada yang masih lemah iman atau baru baiat. Mereka mengalami secara langsung kebenarannya bahwa Allah memberkati mereka dengan ganjaran berlipat ganda untuk menguatkan keimanan mereka.

Akan tetapi, kebanyakan dari mereka meyakini firman Allah Ta’ala, وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ wa maa tunfiquu illabtighaa’a wajhillaah. Siapa saja yang membelanjakan untuk memenuhi keperluan agama; mereka melakukannya demi mencari perhatian dan ridha Allah Ta’ala. Allah Ta’ala mendefinisikan orang mumin yakni orang yang membelanjakan hartanya untuk meraih perhatian Allah Ta’ala dan tentu Allah Ta’ala mengetahui keadaan orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk mencari keridhaan-Nya. Orang yang membelanjakan harta untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala dapat melihat curahan karunia Allah Ta’ala yakni bagaimana Allah Ta’ala menerima pengorbanan mereka dan mengembalikan harta mereka dengan penuh. Hal tersebut semakin meningkatkan keimanan mereka.

Allah Ta’ala berfirman, “Aku tidak akan berhutang. Jika kalian membelanjakan sebagian harta kalian yang suci untuk meraih perhatian-Ku, demi agama-Ku dan sebagai bentuk ketaatan pada perintah-Ku maka Aku pun akan mengembalikan kepadamu dengan penuh.” Syaratnya adalah harta yang dibelanjakan harus suci. Bagi mereka yang hidup di negeri negeri maju hendaknya memperhatikan secara khusus untuk mencari nafkah yang suci. Janganlah menipu pemerintah demi memperoleh nafkah pribadi dan mendapatkan keuntungan banyak dengan memberikan keterangan dusta. Orang seperti itu mengambil keuntungan dari pemerintah dengan cara yang tidak benar. Mereka tidak membayar pajak yang notabene merupakan hak pemerintah dan kewajiban warga negara. Di sisi lain, mereka pun merampas hak orang lain karena uang pajak yang dapat digunakan untuk kemajuan negara melalui suatu cara malah mereka menjadi penghalangnya.

Hal yang terpenting adalah mereka berdusta karena memberikan keterangan palsu. Semua perbuatan ini adalah keliru dan berdosa dan membawa terjauh dari harta suci. Begitu juga harta yang dihasilkan dari pekerjaan yang dilarang oleh Allah Ta’ala tidaklah suci. Allah Ta’ala berfirman, “Pengorbanan harta yang dilakukan untuk meraih perhatianKu, tidak hanya Aku terima”, bahkan, وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ “Akan Kukembalikan kepadamu dengan penuh, Aku akan kembalikan dengan berbagai sarana. Aku tidak pernah berbuat zalim pada siapapun.”

Manusialah yang melakukan berbagai ulah, berbuat aniaya pada dirinya sendiri dengan membangkang pada perintah Allah sehingga ia menanggung kerugian sendiri.

Dengan karunia Allah Ta’ala, ribuan Ahmadi mendapatkan limpahan karunia Allah Ta’ala, memahami dan mengalami sendiri hal itu. Beberapa diantaranya akan saya sampaikan pada hari ini. Kita terus menyaksikan pemandangan pengorbanan ini sejak dari zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) sampai saat ini, ini bukanlah kisah usang. Bagaimana mutu pengorbanan mereka, meskipun tengah dalam keadaan yang sulit namun mereka lakukan demi untuk meraih perhatian dan keridhaan Allah Ta’ala. Pada khutbah hari ini akan saya sampaikan juga pengumuman tahun baru Tahrik Jadid, untuk itu akan saya sampaikan beberapa peristiwa berkaitan dengan hal tersebut.

Seorang Muballig dari Region Lunsar, Sierra Leone menulis, “Ada seorang mubayyin baru bernama Bpk. Kamara yang ketika disampaikan perihal Tahrik Jadid dan keberkatan Candah kepada beliau lalu seiring dengan membayar candah Aam, sang Mubayyin baru membayar Tahrik Jadid juga. Uang yang tersisa pada saat itu cukup hanya untuk membeli beras keperluan satu bulan, namun beliau bayarkan uang tersebut untuk Tahrik Jadid.

Beberapa hari kemudian, beliau datang lagi menemui Bpk. Muballigh dan mengabarkan, ‘Pada hari ketika saya datang membayar Tahrik Jadid, pada hari berikutnya perusahaan mengabarkan, “Kami telah merubah departemen kamu ke yang lain dan di departemen baru ini kamu akan mendapatkan gaji dua kali lipat dan selain itu banyak juga keuntungan lainnya. Apa yang saya dengar perihal keberkatan candah dan turunnya karunia Tuhan, Allah Ta’ala telah menampakkan hal itu kepada saya, di masa yang akan datang saya akan selalu memberikan canda aam dengan tahrik jadid juga, insya Allah.”’”

Muballig Region Port Loko, Sierra Leone menuturkan bagaimana Allah Ta’ala pun memberikan anugerahnya kepada seseorang yang meskipun miskin tapi beliau rajin berkorban. Hal tersebut menjadi penyebab meningkatnya keimanan beliau. Seorang Ahmadi bernama Muhammad Sahib dari desa Sanda Magbolontoro, belum membayar perjanjian Tahrik Jadid. Ketika tiba akhir tahun Tahrik Jadid, menuturkan bahwa selain beberapa gelas beras, tidak ada lagi yang lainnya (mungkin hanya 1 atau 1,5 kg beras saja). Beliau menjual beras tersebut lalu membayarkan uangnya untuk melunasi perjanjian. Pada hari berikutnya, kerabat jauhnya mengirimkan kepadanya sekarung beras dan sejumlah uang sebagai hadiah. Kejadian tersebut membuat keimanannya semakin bertambah, yang mana hanya mempersembahkan beberapa gelas beras saja di jalan Allah Ta’ala, namun sebagai balasannya Allah Ta’ala memberikan sekarung beras (100 kg) dan sejumlah uang.”

Muballigh Guinea Bissao menulis (bagaimana standar pengorbanan orang-orang yang miskin dan Allah Ta’ala meningkatkan keimanannya), “Bpk. Diallo, anggota jemaat Kabodo, ketika disampaikan kepada beliau perihal keberkatan Tahrik Jadid, saat itu juga beliau memasukkan tangan ke sakunya lalu menyerahkan uang sejumlah 1000 CFA Francsifa untuk Tahrik Jadid, berkata: ‘Tadinya uang tersebut akan saya gunakan untuk membeli sesuatu dipasar untuk anak saya. Setelah membayar candah beliau pulang lagi ke rumah dan sekarang sudah tidak ada uang lagi.’

Bpk. Diallo lalu menuturkan, “Saya lalu mengambil jaring lalu pergi untuk menjaring ikan supaya dapat membeli sesuatu untuk dimakan. Setelah saya lemparkan jaring, dalam waktu satu jam, Allah Ta’ala memenuhi jaring saya dengan 73 kg ikan. Melihat hal itu kawan saya mengatakan: ‘Beruntung sekali anda, dalam waktu satu jam saja kamu telah mendapatkan begitu banyak ikan, padahal semalaman pun kami tidak akan mendapatkan sebanyak itu.’

Saya beritahukan bahwa ini merupakan keberkatan dari candah Tahrik Jadid yang telah saya lunasi satu jam yang lalu. Setelah itu saya pergi lagi ke rumah misi lalu menyerahkan lagi sejumlah uang dari hasil penjualan ikan untuk candah, karena uang yang didapatkan cukup.”

Meskipun mereka orang-orang yang sederhana namun memiliki kelapangan hati. Ketika Allah Ta’ala menganugerahkan keberkatan maka hati tidak menjadi sempit. Tangan tidak lantas menjadi tertutup melainkan mereka persembahkan lagi di jalan Allah Ta’ala.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 46)

Bpk. Amir Jemaat Kongo menulis, Muallim local jemaat Bandundu menghimbau para Ahmadi berkenaan dengan Tahrik Jadid.”

Saya (Huzur) pun katakan kepada jemaat untuk mengupayakan supaya dapat meningkat jumlah pejanji sebanyak banyaknya.

“Ketika pa Muallim menyampaikan sabda Huzur tersebut, saat itu para Ahmadi di sana dalam keadaan sempit ekonominya. Namun mereka bertekad untuk membayar candah. Lalu mereka pergi ke hutan untuk mencari kayu lalu kayu itu mereka jadikan arang. Lalu karung-karung yang berisi arang dibawa ke kota dengan menggunakan perahu menelusuri sungai. Lalu kami menjualnya di kota dan uang sejumlah 96000 frang yang didapatkan dari penjualan dibayarkan oleh penduduk kampung secara berjamaah untuk tahrik jadid.”

Sungguh menakjubkan orang-orang yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang berkenaan dengannya, beliau sendiri telah bersabda: “Setelah melihat teladan para Ahmadi saya merasa takjub bagaimana mereka memberikan pengorbanan.” Sebagaimana yang disabdakan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) perihal standar pengorbanan para Ahmadi pada masa awal dicanangkannya Tahrik Jadid, diantaranya ada wanita yang hanya memiliki telur, sedikit uang lalu dipersembahkan. Pada saat ini pun kita melihat contoh tersebut yakni bagaimana untuk menarik perhatian Allah Ta’ala, orang-orang membelanjakan hartanya.

Muballigh Guinea Bissao menulis, “Ada seorang wanita Ahmadi berusia 50 tahun dari sebuah kampung terpencil, Kabukere, beliau cukup miskin dan tidak ada pencaharian tetap. Beberapa waktu lalu telah dihimbau berkenaan dengan Tahrik Jadid lalu beliau meniatkan untuk membayar Tahrik jadid. Beliau menuturkan, ‘Saya hanya memiliki seekor ayam betina, akan saya pelihara supaya setelah besar nanti saya dapat persembahkan untuk melunasi Tahrik Jadid. Selang beberapa masa muncul wabah virus yang menyerang ayam, sehingga ayam saya pun terjangkit penyakit. Kerabat saya mengatakan bahwa ayam saya juga akan mati, untuk itu sembelih saja.

Saya menolak untuk menyembelih ayam lalu beliau berdoa: ‘Ya Tuhan! Hamba tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipersembahkan selain ayam ini, tolong selamatkan ayam hamba.’

Keesokan harinya ayamnya itu sehat lagi. Ayam itu tumbuh dan dua puluh hari kemudian beliau serahkan ayam tersebut kepada pak Muallim untuk melunasi candah. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa tanda tersebut tidak tampak kepada mereka padahal jika disertai dengan niatan baik dan jalinan yang baik dengan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala akan memperlihatkan tanda tersebut. Tanda-tanda kecil tadi menjadi sarana peningkatan keimanan mereka.

Contoh lain perlakuan Allah Ta’ala. Muallim dari wilayah Mara, Tanzania menuturkan, pemuda Ahmadi mukhlis bernama Rashid Husein memiliki kedai kecil makanan pokok. Beliau telah melunasi candah Tahrik Jadid sesuai janji. Ketika pada akhir tahun pa Muallim menghimbau lagi jika ada yang mau menambahkan tahrik jadidnya dapat memberikannya. Beliau tidak mampu untuk memberikan pengorbanan tambahan karena keadaan ekonomi beliau tengah sulit. Di kedai beliau hanya tersisa barang-barang yang tidak diharapkan akan laku cepat. Namun demikian pemuda itu memberikan uang yang hanya ia miliki saat itu yakni 3000 ciling. Pada sore harinya beliau pergi lagi menemui pak Muallim menuturkan, ‘Sungguh aneh ketika saya diliputi kekhawatiran, namun bagaimana keberkatan candah, Allah Ta’ala memberikan pertolongan yang menakjubkan. Pada siang hari datang pembeli ke toko saya, barang yang pada awalnya saya anggap tidak akan laku cepat ternyata dibelinya juga sehingga setelah terjual saya mendpatkan keuntungan 3000 ciling dan saya menganggap ini sebagai keberkatan dari candah yang Allah curahkan.’”

Bpk. Ajana, seorang Ahmadi di kota Bangui, Central Afrika, (bagaimana Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau sehingga menyebabkan kuatnya iman). Beliau menuturkan, “Saya baru baiat 8 bulan, saya biasa menyimak khutbah Huzur dan MTA dengan dawam. Ketika saya mendengar dari khutbah yang disampaikan bahwa orang yang membelanjakan harta dijalan Allah tidaklah miskin, karena Allah Ta’ala akan memberkati hartanya. Saat itu pa Mubaligh tengah menghimbau Tahrik Jadid sedangkan di saku saya saat itu hanya ada 500 frang dan itu jumlah yang kecil lalu saya berikan uang itu. Saat itu saya khawatir memikirkan apa yang dapat saya makan untuk malam ini, lalu saya teringat sabda khalifah bahwa Tuhan akan melipatgandakan pengorbanan kita sehingga beliau ingin melihat sendiri bagaimana datangnya pertolongan-Nya.”

 Sampai batas tertentu telah terjadi peningkatan dalam keimanan beliau meskipun belum sempurna, namun memiliki niatan yang baik.

“Saat itu saya berada di rumah misi untuk 3-4 jam, saat itu datang telepon dari kerabat mengatakan bahwa ia memiliki berlian yang ingin dia jual di kota saya namun dia tidak paham dengan keadaan di kota saya dan perlu bantuan. Lalu kerabat itu datang lalu saya mengajaknya ke penjual berlian untuk dijual. Setelah dijual, kerabat atau kawan saya itu memberikan imbalan 27000 frang kepada saya bahkan si pembeli pun memberikan upah kepada saya 10000 frang. Saat itu saya paham bahwa baru saja saya membayar 500 frang, bagaimana beberapa jam kemudian Allah Ta’ala memberikan 37 ribu frang kepada saya. Kejadian itu semakin memperkuat keimanan saya.”

Seorang wanita Ahmadi dari UK (bagaimana perlakuan Allah Ta’ala padanya sehingga bertambah keimanannya menuturkan, “Saya sudah melunasi candah Tahrik jadid lalu saya menerima pesan dari ketua local untuk memenuhi target perolehan Tahrik Jadid diperlukan sejumlah uang tambahan. Saat itu saya berfikir bahwa saya tidak dapat memberikan candah tambahan karena uang saya miliki saat itu akan saya pergunakan untuk keperluan lainnya. Namun saya memutuskan untuk membayar candah tambahan lagi dengan memberikan semua uang yang saya miliki itu. Keesokan harinya saya mengecek rekening bank saya heran ketika melihat ada sejumlah uang yang banyaknya 4 kali lipat dari uang yang saya berikan untuk candah kemarin. Rupanya itu uang kiriman dari perusahaan saya yang tidak saya sangka-sangka. Tidak hanya di Afrika, di sini, di Eropa pun para Ahmadi berkorban dengan niatan suci sehingga Allah Ta’ala memberikan keberkatan kepada beliau.”

Bpk. Amir Jemaat Burkina Faso menulis, “Di kota Kolo ada seorang Ahmadi bernama Sawado Sahib biasa membayar 100 frang untuk candah Tahrik Jadid. Suatu ketika ada yang memberi hadiah 3 ekor kambing kepada beliau, salah satunya beliau persembahkan untuk Tahrik jaded dan dua sisanya beliau pelihara. Sedemikian rupa keberkatan Allah Ta’ala berikan kepada beliau, sehingga beliau memiliki banyak sekali hewan ternak. Bukannya seratus, beliau muli membayar seribu frang perbulan.

Muballigh di wilayah Lokossa, Benin menulis, “Di banyak tempat di Lokossa biasa terkena banjir, sehingga jalan akses transportasi pun terhambat. Ada beberapa jemaat yang bias dikontak dengan melalui telepon, namun disebabkan oleh area perbatasan sehingga banyak juga jemaat yang tidak dapat dikontak menggunakan telepon. Moballigh local memberikan usulan untuk menyampaikan permohonan kepada polisi untuk dapat menggunakan fasilitas motorboat milik polisi untuk menjangkau kawasan tersebut. Polisi siap mengantarkan kami dengan syarat mengisi bahan bakar boat.

Sampailah kami di sana dan bertemu dengan ketua jemaat di sana. Ketika bertemu pak ketua menangis. Kami tahu bahwa beliau baru saja mengalami kerugian besar karena banjir, panen rusak dan salah satu bagian rumah beliau pun roboh. Saya menghibur beliau dengan mengatakan, ‘Semoga Allah Ta’ala mencurahkan karuniaNya kepada tuan sehingga kerugian tuan dapat tergantikan.’

Beliau menjawab: Saya menangis bukan karena saya mengalami kerugian, melainkan sebelum datangnya banjir saya biasa mengumpulkan candah saya lalu menungu kapan pa Muallim datang untuk mengambil candah kami. Namun disebakan oleh banjir, jalan-jalan tertutup sehingga saya sangat khawatir. Saya berdoa kepada Allah Ta’ala bahwa saat ini tida ada perantara lagi untuk menyampaikan candah saya ini dan batas waktupun tinggal sedikit lagi, tolonglah aku. Ketika tuan datang lagi kemari untuk mengetahui kabar kami, bukannya untuk mengambil candah kami karena itu saya langsung menangis karena begtu cepatnya Allah Ta’ala mengabulkan doa saya, sehingga saya mampu untuk memenuhi tanggung jawab ini.’”

Beliau tidaklah memikirkan kerugian yang menimpa diri beliau, melainkan apa yang beliau pikirkan ialah apa yang telah beliau janjikan kepada Allah Ta’ala, pengorbanan yang harus beliau lunasi untuk meraih perhatian dan kedekatan Allah Ta’ala semoga dapat terlunasi pada waktunya.

Ibrahim Sahib Inspektur Tahrik Jadid India daerah Karnatak menulis, “Seorang khadim dari Gulbargah, mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan di Banggalore dengan gaji 20.000 rupees per bulan. Beliau terdorong mempersembahkan setengah dari gaji perbulan untuk Tahrik Jadid berdasarkan standar pengorbanan yang disabdakan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra). Meskipun keadaan ekonomi beliau tidak baik tetap saja beliau berjanji 10.000 rupees untuk Tahrik Jadid (dilunasi setahun). Kerabat beliau mengatakan, ‘Kamu baru saja mendapatkan pekerjaan baru, seharusnya perjanjian TJ kamu tidak perlu terlalu besar seperti itu, kamu bisa mendapatkan kesulitan nantinya.’

Beliau menjawab, ‘Sesuai dengan sabda Hazrat Muslih Mau’ud bahwa selama manusia belum berusaha sepenuhnya, malaikat Tuhan tidak memberikan kekuatan dan daya di dalamnya, karena itu saya berikan untuk candah.’

Beliau menuturkan: ‘Baru saja berlalu beberapa hari, beliau mendapatkan pekerjaan baru dari perusahaan lain dimana dengan karunia Allah Ta’ala mendapatkan gaji 127 ribu rupees perbulan dan itupun merupakan keberkatan dari candah.’”

Inspektur Tahrik jaded India provinsi Kerala menulis, “Di sini terdapat seorang Ahmadi mukhlis yang memiliki keistimewaan dalam memberikan pengorbanan candah tahrik Jadid. Beliau memiliki bisnis furniture dan seorang pengusaha sukses. Ketika Wakilul Maal sahib melakukan kunjungan, beliau memperlihatan pabriknya dan sembari memohon doa beliau mengatakan bahwa saat ini bisnis nya sedang menurun. Lalu berdoa bersama. Meskipun demikian beliau menulis janji untuk candah Tahrik Jadid sebesar 1,5 juta rupees, namun sepanjang tahun beliau hanya mampu membayar 200,000 saja tidak sesuai dengan janji. Batas waktu perjanjian tinggal sedikit lagi untuk itu beliau sedih dan gelisah memikirkan bagaimana candah dapat dilunasi. Beliau pun menulis surat kepada saya. Pada hari terakhir tahun Tahrik Jadid beliau menulis surat memohon doa semoga Allah Ta’ala memberikan taufik untuk dapat melunasi perjanjian. Baru saja beberapa jam berlalu ada uang yang masuk kedalam rekening beliau sehingga dengan uang tersebut tidak hanya dapat melunasi perjanjian bahkan dapat menambahkannya dalam jumlah banyak begitu juga dengan uang tersebut dapat memenuhi kebutuhan akan uang yang beliau perlukan untuk bisnis.”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 53)

Muallim region Naati di Benin menulis, “Ada seorang Ahmadi di Jemaat Katampoti, ketika dihimbau kepada beliau untuk candah, langsung saja beliau mempersembahkan uang sebesar 3000 frang sifa. Dengan penuh keheranan saya bertanya kepada beliau, karena sebelum sebelumnya meskipun ditekankan sedemikian rupa biasanya beliau membayar tidak lebih dari 500 frang. Namun sekarang anda membayar uang yang lebih banyak. Ditanyakan kepada beliau apa peyebabnya? Beliau menjawab, ‘Saya biasanya lalai membayar candah dan saya perhatikan masalah saya semakin banyak, panen yang dapatkan pun tidak baik. Namun ketika saya membayar candah yang terakhir, saya membayarkannya sambil berfikir, lihat nanti, bagaimana keberkatan yang akan saya dapatkan dari pengorbanan ini? Saya mengalami sendiri dimana berkat candah, memang Tuhan menolong kita secara diam diam dan memenuhi kebutuhan kami. Memberkati panen. Karena saya telah merasakan sendiri keberkatannya, sehingga sebelum anda mengatakanpun saya tingkatkan candah 5 kali lipat bahkan enam kali lipat.’”

Terdapat contoh teladan anak di jemaat Vaughan, Kanada. Ketua di sana menuturkan, “Kami tengah berupaya pada bulan oktober untuk memenuhi target perjanjian tahrik jadid dan kamipun menghimbau anak anak yang mana mereka pun membayar tahrik jadid dari uang saku mereka sendiri lebih dari perjanjian. Ada seorang remaja putri yang baru lulus engineering, ia membayarkan semua uang yang ia milliki saat itu. Sebelumnya ia telah melaksanakan interview untuk pekerjaan, namun tidak berhasil, Adapun sehari setelah ia melunasi candah melaksanakan interview. Ketika pulang ia sangat gembira karena ia merasa ada pertolongan ghaib. Ketika interview pun ia dapat menghadapinya dengan baik. Selain dia masih banyak lagi yang melaksanakan interview untuk melamar di perusahaan yang sama dan hasilnya akan diketahui pada akhir tahun. Namun dalam dua hari saja ia menerima telepon dari perusahaan bahwa beliau terpilih untuk bekerja dan dapat bekerja pada bulan februari 2020. Pada hari berikutnya ia menerima telepon yang mengatakan bahwa peserta lain akan memulia bekerja pada bulan februari tahun depan namun kamu bias mulai pada bulan November tahun ini juga.”

Dengan kejadian tersebut remaja tersebut semakin meningkat keimanannya. Ia telah menyaksikan turunnya karunia Tuhan.

 (Di setiap negara, Allah Ta’ala memperlihatkan pemandangan keberkatan dari pengorbanan) Muballig Moscow menulis, Bpk. Zair seorang Ahmadi berasal dari Uzbekistan, kota Bukhara, sudah sejak lama beliau datang ke Moscow untuk bekerja beberapa waktu lalu lalu pulang dengan membawa uang yang didapat dari pekerjaan. Pada awalnya istri beliau keberatan untuk baiat, namun terus mengkaji jemaat dan juga berdoa sehingga istri beliau mendapatkan taufik untuk baiat. Beberapa waktu sebelum ini, mereka dihimbau untuk membayar perjanjian Tahrik jadid. Dikatakan juga kepada istri beiau untuk memberikan pengorbanan Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid.

Beliau menuturkan bahwa saat ini beliau bekerja sebagai sopir taksi di Uzbekistan. Sedangkan istri beliau menjahit. Kedua suami istri membuat satu prinsip untuk membagi penghasilannya menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk anak mereka, satu bagian untuk keperluan rumah tangga dan satu bagian lagi disimpan untuk pengorbanan dijalan Allah. Dengan begitu kedua suami istri merasakan ketentraman dan ketenangan. Kehidupan mereka berjalan dengan baik.

Semenjak mereka ikut serta dalam candah Allah Ta’ala menganugerahkan keberkatan yang khas kepada beliau, sehingga penghasilan beliau mendapatkan keberkatan, yang mana tahun tahun sebelumnya tidak pernah mendapatkan limpahan rezeki seperti itu.”

Muballigh Incharge Rusia, menulis, “Seorang Ahmadi bernama Bpk. Ruslan bekerja di Moskow sebahai chef. Beberapa waktu lalu beliau telah meminjam sejumlah uang yang banyak untuk membeli rumah. Sejak lama beliau bekerja dua kali lipat untuk dapat melunasi hutang. Suatu hari beliau menelpon mengatakan bahwa beliau ingin segera mengirimkan candahnya kepada saya. Setelah ditanya beliau menuturkan bahwa tempat sebelumnya beliau bekerja, upah yang beliau dapatkan dalam jumlah banyak masih tersendat di tangan atasan beliau.” (Beliau pun telah menulis surat kepada saya/Hudhur) Beliau menuturkan, ‘Dengan karunia Allah Ta’ala saya mendapatkan kembali uang yang tersendat itu. Dalam hati saya timbul satu keinginan besar untuk dapat melunasi candah secepat mungkin.’ Pada saat itu juga beliau mengirimkan sejumlah uang besar untuk melunasi candah kepada pak Muballigh.”

Ada seorang wanita Ahmadi dari Jerman menulis, “Pada saat usia kehamilan saya dua bulan, dan anak tersebut sudah terlahir yang mana sekarang berusia dua tahun. Ketika saya hamil saya berdoa dan berjanji untuk membayar tahrik jaded 100 euro setiap bulan. Selama 7 bulan Allah Ta’ala telah memampukan saya melewatkannya dengan baik. Sempat ada kendala namun sudah mendapatkan solusi. Dengan karunia Nya Allah Ta’ala memberikan putra kepada saya. Sampai saat ini saya selalu melunasi janji Tahrik Jadid dengan membayarnya setiap bulan.”

Mereka yang terdampar dalam kebendaan di belahan dunia sehingga tercipta jarak dengan Allah Ta’ala, di sini Allah ta’ala mencurahkan karunia-Nya kepada para Ahmadi dengan mengabarkan keberadaan-Nya dan tampak kepada mereka hakikat Ahmadiyah dan kebenarannya.

Muballig Latvia menulis, seorang Ahmadi bernama Bpk. Wahidu berasal dari Uzbekistan daerah Bukhara. Beberapa tahun lalu beliau mendapatkan taufik untuk baiat. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau meningkat dalam keikhlasan dan kesetiaan. Setelah melihat perlakuan beliau yang baik kepada keluarga, istri beliau pun ikut baiat.

Beliau memberitahu saya melalui telepon terkait pembayaran candah. Beliau mengatakan: dalam waktu 6 bulan saya bekerja di Uzbekistan dan 6 bulan lagi saya bekerja di rusia. Pada tahun itu, saya membeli sebuah flat di kota bukhara yang untuk itu saya harus menjual mobil saya sendiri. Beliau mengatakan: “Ketika saya pergi ke rusia untuk bekerja, maka saya berpikir bahwa saya harus jual beli dengan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, saya mulai bayar candah dengan niat bahwa Allah Ta’ala telah menganugerahi saya taufik untuk membeli mobil berkat candah. Setelah membayar candah, Allah Ta’ala telah memberkati pekerjaan saya sehingga terkumpul banyak uang untuk membeli mobil selain kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu, saya pulang ke bukhara dan membeli mobil dan lebih bagus dibandingkan mobil sebelumnya yang untuk membeli flat tersebut saya terpaksa jual.

Beliau mengatakan: ini adalah hasil keberkatan candah semata. Jika tidak, tidak mungkin bagi saya untuk mengumpulkan uang sebanyak ini. Sejak beberapa waktu silam saya telah baiat, hal inilah yang menambah iman saya juga.’”

Mubalig Guinea bissao mengatakan bahwa ada seseorang, meskipun seorang ahmadi keturunan dan berulang kali dianjurkan, beliau tidak berpartisipasi dalam tahrik jadid. Beliau mulai membangun bisnis bloks. Beliau mulai membangun bloks dengan 40 sak semen. Pada malam hari terjad hujan. Semua bloks menjadi hancur dan mengalami kerugian total. Beliau mengatakan: saya tidur malam hari dalam keadaan amat gelisah. Dalam mimpi saya melihat bahwa almarhum bapak saya datang dan berkata kepada beliau: apakah kamu sudah melunasi candah-candah? Setelah berkata demikian, kemudian berlalu. Oleh karena itu, tn idris mengatakan bahwa pada waktu bangun pagi, saya pergi ke rumah misi dan berkata kepada mubalig: anda telah menganjurkan candah tahrik jadid. Saya hanya punya 2000 frank yang saya ingin bayarkan dan hari berikutnya setelah membayar candah, Allah Ta’ala menutupi kerugian sehingga beliau mendapat kontrak baru yang gajinya 800000 dan utang beliau juga menurun dan dengan karunia Allah Ta’ala beliau sekarang sudah berwasiat dan ini juga menambah keimanan beliau.

Ada seorang Ahmadi dari kepulauan Mayotte. Beliau tidak punya pekerjaan tetap. Namanya tn ali muhammad. Beliau mengatakan: “Semenjak saya membayar candah tahrik jadid, saya tidak kesulitan mencari pekerjaan. Pekerjaan satu rampung, dapat pekerjaan yang lain. Setelah membayar candah, pekerjaan terus berlanjut hingga sekarang.”

Ini adalah jemaat yang baru berdiri beberapa tahun lalu. Tetapi ini adalah jemaat yang maju dalam iman dan keikhlasan.

Kemudian Bpk. Amir Jemaat Indonesia menulis, “Ada seorang Ahmadi di jemaat pagentan (Jawa Tengah) bernama Bpk. Waryono. Beliau tinggal seorang diri. Istri beliau sudah wafat. Kini beliau menempuh berbagai cara untuk membayar candah. Ini mengherankan. Mereka adalah insan yang sangat ikhlas nan setia dalam berjemaat. Beliau adalah seorang miskin dan demi nafkahnya beliau bercocok tanam. Anak-anak beliau sudah menikah. Istri sudah tiada. Dalam banyak kesempatan beliau menyertai Mubaligh dalam tugas tablig dan tarbiyat. Beliau punya kebun kecil. Penghasilan dari kebun ini didapat setelah beberapa bulan. Setelah 3 atau 4 bulan baru dapat penghasilan. Tetapi beliau rutin dalam bayar candah (tiap bulan). Suatu kali, mubalig bertanya kepada beliau: ‘Anda kan panen 3 atau 4 bulan. Tetapi anda bayar candah dawam.’

Atas hal itu, beliau menuturkan: ‘Saya menempuh cara untuk membayar candah dawam. Saya khususkan bagian di kebun tersebut untuk ditanami pisang saja. Setelah agak lama satu pohon ditanam maka tanam yang kedua. Setelah yang kedua, maka ditanam yang ketiga. Demikianlah tiap bulan pohon pisang tersebut berbuah sepanjang tahun dan saya tiap bulan potong buahnya dan jual di pasar. Uang yang saya dapatkan dari itu, saya lunasi semua candah.’”

Terkait:   Pembangunan Masjid-Masjid Peresmian Masjid Mahdi di Strasbourg, Prancis

Kemudian Bpk. Amir Jemaat Indonesia menulis, “Ada seorang mubayin baru jemaat pasir pangaraian (Riau). Beberapa waktu sebelumnya beliau baiat. Ada penentangan keras dari pihak istri. Tetapi beliau teguh pendirian.

Ketika tahun baru tahrik jadid dimulai, mubalig kita mendorong beliau untuk ikut serta dalam jihad harta tahrik jadid. Atas hal itu, beliau berjanji membayar 500.000 rupiah indonesia. Nilai rupiah indonesia sangat kecil. Tetapi uang tersebut bagi beliau amat banyak. Beliau adalah seorang guru honorer. Gajinya sangat minim. Mubalig kita bertanya lagi kepada beliau: ‘Anda telah berjanji uang sekian, apakah bisa bayar? Sebaiknya tidak menyulitkan diri sendiri dengan berjanji yang amat banyak.’

Atas hal itu, beliau mengatakan dengan yakin, ‘Ini kan perjanjian saya.’

Oleh karena itu, pada bulan ramadan ketika dianjurkan untuk melunasi 100%, beliau melunasi perjanjiannya. Suatu hari kerabat beliau memberikan uang sebagai hadiah kepada beliau dalam amplop. Beliau tidak membuka amplop tersebut. Bahkan segera mendatangi ketua jemaat dan mengatakan: seberapapun uang dalam amplop ini, saya berikan untuk tahrik jadid.

Ketua jemaat ketika membuka amplop tersebut, melihat bahwa di dalamnya ada uang 500000 rupiah indonesia, yang beliau bayarkan sesuai janjinya saat itu.”

Lalu kesadaran pentingnya pengorbanan dan keikhlasan diantara anak-anak, perubahan ini nampak di jemaat hadhrat masih mauud as yang beliau ciptakan.

Mubaligh Ghana menulis, “Beberapa waktu sebelumnya saya menyampaikan khotbah tentang pengorbanan harta dalam jemaat khususnya tahrik jadid dan saya tekankan pada anak-anak bahwa kita harus membiasakan berkorban supaya mereka membayar candah dari tangannya sendiri. Atas hal itu, pada jumat selanjutnya ada seorang atfal hadir salat jumat yang umurnya kira 9 atau 10 tahun. Dia datang membawa uang. Dia menyerahkannya dalam pos tahrik jadid. Setelah ditanya dia menjawab: ‘Saya meminta uang dari orang tua untuk candah, namun saya tidak dapat, karena orang tua tidak punya uang. Saya mulai buruh pada sebuah warung dan uang yang saya dapat, saya berikan untuk candah.’”

Kemudian ada satu contoh di sierra leone. Mualim lokal di sana, tn bashiro kenemake menulis, “Ketika para anggota jemaat ditarik perhatiannya untuk membayar candah tahrik jadid di jemaat seerabo, maka saat itu ada seorang anak kecil berusia 9 atau 10 tahun. Saya melihat dia datang membawa seikat kayu di kepalanya (kayu bakar). Dia mengatakan kepada Bpk. mualim: ‘belilah kayu ini dari saya dan berapapun harganya, masukkanlah dalam candah.’ Bpk. mualim membeli kayu itu dari anak tersebut lalu memberikan kuitansi candah. Sesudahnya, kayu itu dikembalikan dan mengatakan, ‘Candahmu sudah masuk.’”

Semoga Allah Ta’ala memberkati harta dan iman orang-orang tersebut sebanyak-banyaknya. Jenis pengorbanan seperti tadi (yaitu bekerja keras, buruh, pergi ke hutan, menebang kayu dan membayar candah) tidak ada dalam konsep pada anak-anak di sini. Keadaan di sini bagus. Tentu saja di sini juga ada contoh-contoh yang amat bagus. Sebagian anak menyerahkan uang saku sepenuhnya. Tadinya mau beli benda istimewa dan mengumpulkan uang, tapi mereka korbankan. Walhasil di setiap tempat didapati contoh-contoh keikhlasan dan kesetiaan. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meningkatkan keikhlasan dan kesetiaan tersebut.

Sekarang saya akan sampaikan beberapa rincian pengorbanan. Allah Ta’ala telah menganugerahkan taufik kepada Jemaat hadhrat Masih Mau’ud (as) dan semua pengorbanan yang dilakukan tanpa pertolongan khusus dan dukungan Allah Ta’ala menyertai, segalanya tidak bisa terjadi. Allah Ta’ala-lah yang mengubah hati dan Allah Ta’ala-lah yang menanamkan dalam hati mereka. Hati orang dewasa dan anak-anak juga. Begitu juga orang-orang Ahmadi yang tinggal di berbagai belahan dunia. Inilah perkara yang dapat dipahami bila ada orang berakal bahwa ini bukti kebenaran hadhrat masih mauud as. Jadi, sebagaimana saya katakan bahwa sekarang saya akan sampaikan data.

Dengan karunia Allah Ta’ala, tahun ke-85 tahrik jadid sudah berakhir pada tanggal 31 oktober dan tahun ke-86 sudah mulai dan tahun ini taufik pengorbanan dalam nizam tahrik jadid adalah 13,6 juta pound. Pendapatan ini bertambah sejumlah 802.000 pound dibandingkan tahun sebelumnya dengan karunia Allah Ta’ala.

Tahun ini nilai mata uang di pakistan sangat kecil disebabkan keadaan politik tidak baik dan keadaan perekonomian juga tidak baik. Keadaannya memprihatinkan. Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka. Senantiasalah berdoa buat pakistan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan karunia kepada orang-orang Ahmadi di sana. Posisi yang ada memang tidak tetap. Posisi pertama tahun ini adalah Jerman (total). Kemudian nomor duanya adalah Pakistan. Kemudian Inggris. Sebelum ini saya biasa tidak memasukkan Pakistan [dalam data 10 besar]. Pakistan selalu pertama dan saya biasa merinci negara-negara di luar pakistan. Oleh karena itu, meskipun sekarang Pakistan nomor dua, saya akan sampaikan 10 negara pertama secara rinci. Pertama ialah jerman dan di negara-negara luar Pakistan, setelah Pakistan, keduanya adalah inggris, kemudian amerika, kemudian kanada, kemudian india, kemudian negara timur tengah, kemudian Indonesia, lalu australia, kemudian ghana, kemudian negara timur tengah lagi.

Dengan karunia Allah Ta’ala, meskipun keadaannya memprihatinkan, di pakistan dan tiap tempat di dunia, keadaan ekonominya menurun, tetapi ada kenaikan jumlah pungutan dalam mata uang lokal. Ada 3 negara yang mata uang naik. Diantaranya adalah negara timur tengah dan nomor duanya adalah india yang ada kenaikan, dari hitungan persentasi, mereka maju. Kemudian kanada, kemudian jerman, kemudian inggris, kemudian Ghana, kemudian pakistan, kemudian indonesia, kemudian amerika, kemudian australia.

Peringkat dari segi nilai tinggi jumlah pembayaran per orang, ada 3 negara yaitu switzerland, kemudian amerika, kemudian singapura dan nomor keempat adalah inggris dan nomor limanya adalah swedia dan sesudahnya negara-negara lain.

Di negara-negara afrika, dari segi pendapatan kolektif, jemaat-jemaat maju yaitu nomor pertama adalah ghana, kemudian nigeria, kemudian burkina faso, kemudian tanzania, kemudia gambia, kemudian benin.

Banyaknya partisipan (peserta) juga senantiasa dianjurkan. Dalam beberapa tahun yang lalu saya mengatakan tingkatkanlah jumlah partisipan dan untuk maksud tersebut diberikan target untuk mengikutsertakan orang-orang Jemaat hal mana itu lebih ditegaskan daripada target jumlah uangnya.

Dengan karunia Allah Ta’ala tahun ini jumlah partisipan adalah lebih dari 1.827.000 dan ada 112.000 partisipan baru dalam scheme candah Tahrik Jadid ini. Partisipan terbanyak dibandingkan tahun lalu adalah negara-negara di afrika: niger, sierra leone, nigeria dan kamerun, benin, senegal, kemudian guinea bissao, pantai gading, tanzania, gunea Conakry.

Diantara jemaat-jemaat besar dari segi penambahan jumlah total kontributor ialah: bangladesh, kanada, malaysia, india, indonesia, jerman, inggris, amerika dan australia.

Data Mujahidin Tahrik Jadid pembayar daftar awal sesuai rekord pusat adalah 5.927 nama orang. Diantara mereka 36 orang yang masih hidup sedang membayar candah. Daftar almarhum yang lain, ahli waris mereka dan anggota mukhlisin jemaat melanjutkannya.

Jerman yang nomor pertama, sepuluh jemaat pertamanya adalah rodermark, neuss, pinneberg, mehdiabad, aansaberg (tertulis dalam bahasa urdu. Mungkin pembacaannya tidak demikian), kiel, Flörsheim, weingarten, dan koln. Sepuluh keamiran lokal pertama adalah Hamburg, Frankfurt, Gross-Gerau, Mörfelden, Dietzenbach, Wiesbaden, Riedstadt, Darmstadt, Mannheim dan Azalsheim.

Dari segi penerimaan tahrik jadid di pakistan dalam pengorbanan yang terkemuka ialah: lahore, rabwah, karachi. Sepuluh besar distrik yaitu Islamabad is 1st, Sialkot, Faisalabad, Gujranwala, Umerkot, Hyderabad, Mirpur Khas, Qasur, Toba Tek Singh and Mirpur Azad Kashmir. Sepuluh jemaat di pakistan yang lebih dalam pengorbanan dari segi penerimaan yaitu imarat defence lahore, township lahore, imarat Cantt rawalphindi, Rawalphindi, multan, imarat azizabad karachi, imarat delhi gate lahore, Quetta, Peshawar and Bahawalnagar.

Lima jemaat kecil di pakistan: Wah Cantt, Sabundasti, Khokhar Gharbi, Chak Nau Paniyara dan Chawinda.

Lima region pertama di inggris: region baitulfutuh, region masjid fazl, midland, region baitul ihsan, region islamabad.

Dari segi pembayaran kolektif, sepuluh jemaat besar di inggris: Masjid Fazl, Worcester Park, Islamabad, Aldershot, Putney, New Malden, Gillingham, Birmingham West, Glasgow dan Scunthorpe.

Jemaat-jemaat kecilnya yaitu swansea, spen valley, keighley, north wales, northampton.

Jemaat-jemaat amerika dari segi penerimaan yaitu silver pring, los angeles, silicon valley, seattle, central virginia, detroit, chicago, oshkosh, houston, georgia south dan virginia.

Imarat-imarat lokal kanada dari segi penerimaan yaitu Calgary, Peace Village, Vancouver, Mississauga and Saskatoon.

Jemaat-jemaat kecilnya yaitu Edmonton West, Durham, Bradford, Hamilton dan Ottawa West.

Sepuluh Jemaat-jemaat besar di India dari segi pengorbanan yaitu Karelia, Qadian, Pathapiriyam, hyderabad, kuombitor, pengari, bangalore, calicut, calcutta, yadgir.

Sepuluh provinsi pertama di India yaitu Kerala, Karnataka, tamil nadu, telangana, jammu kashmir, odissa, punjab, bengal, delhi, utter pradesh. Keadaan kashmir juga memprihatinkan, baik dari segi politik dan ekonomi juga. Di sini juga pengorbanan besar jemaat-jemaat.

Sepuluh jemaat besar australia dari segi penerimaan kolektif yaitu Castle Hill, Melbourne, Berwick, Melbourne Long Warren, ACT Canberra, Marsden Park, Adelaide South, Penrith, Monteith Parramatta, Adelaide West.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan keberkatan tidak terhingga dalam harta dan jiwa semua orang yang berkorban tersebut.

 

 

 

 

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah         : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK), Mln. Hashim dan Mln. Agus Mulyana; Editor: Dildaar Ahmad Dartono.