Benarkah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Menduduki Ketauhidan Allah?

أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ تَوْحِيدِي وَتَفْرِيدِي

(Anta minniy bimanzilati tauhiidiy wa tafriidiy)

“Engkau dari-Ku menduduki ketauhidan-Ku dan ketunggalan-Ku.”

Sebagian Ulama menolak lafazh tersebut sebagai wahyu dari Allah swt yang turun kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, karena mereka menilainya bertentangan dengan Ke-Esaan-Nya, bahkan lafazh tersebut bernuansa syirik, yang tidak mungkin hal itu berasal dari Allah swt.

Jawaban Ahmadiyah:

  1. Kata tauhiid dan tafriid adalah bentuk mashdar dari kata WAHHADA yang artinya mempertunggal dan meng-Esakan Allah, maka maksud wahyu tersebut adalah bahwa Tuhan itu Tunggal dan Esa. Jadi, pada zamannya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad  adalah seorang Muwahhid yang besar. Dalam arti demikian apakah ada keberatan?

  1. Berkenaan dengan ungkapan itu, Hazrat Mirza Shahib  menjelaskan: Engkau disisi-Ku begitu dekat, demikian pula Aku menghendaki engkau seperti Kemanunggalan-Ku dan Ke-Esaan-Ku (Arbain III, hal. 25).

  1. Hadhrot Bayazid Busthomi rohmatulloh alaihi berkata: Setelah Allah subhanahu wa taala meletakkan mahkota kekeramatan di atas kepalaku, maka terbukalah pintu ketauhidan bagiku. Ketika aku diberitahu bahwa sifat-sifatku dan sifat-sifat-Nya menyatu, maka setelah Dia subhanahu wa taala menganugerahkan kemuliaan dari sisi-Nya lalu memberitahukan nama dari hadirat-Nya sehingga dua wujud menjadi sirna dan melarut menjadi satu wujud, kemudian Tuhan berfirman: Apa yang menjadi keridhaan itulah yang menjadi keridhaan-Ku, keadaan sampai pada puncak sedemikian rupa dimana aku mendapatkan segenap sifat kemanusiaan lahir dan batin menjadi hilang sirna, Dia membukakan sebuah lubang di dalam kegelapan dada, lalu aku dianugerahi lidah tajriid dan tauhiid, artinya wahyu-wahyu mengalir dari lidahku, maka sekarang pasti lidahku dari Tuhan yang bersifat berdiri sendiri dan hatiku dari cahaya ketuhanan dan mataku dari ciptaan Wujud yang tiada tanding dan dengan pertolongan-Nya itulah aku berkata dan dengan kekuatan-Nya aku bergerak. Apabila dengan itu aku hidup, maka sekali-kali aku tidak akan mati. Manakala aku telah mencapai maqom ini, maka isyarahku merupakan isyarah Tuhan Yang Azali dan ibadahku merupakan ibadah yang abadi dan lidahku lidah tauhid dan ruhku ruh tajriid (yang tiada duanya). Aku tidak berkata dengan kehendakku sendiri bahwa aku sebagai orang yang berbicara dan aku tidak mengetahui kepada diriku bahwa aku yang berbicara. Dialah yang menggerakkan lidahku ini dan sebagai penerjemah di antara keduanya. Pada hakikatnya Dialah yang ada, aku tidak ada. (Zahirul-Ashfiya, terjemah Urdu Tadzkirotul-Auliya, bab XIV, Dzikir Miraj Syah Bayazid Basthomi, cetakan Matbaul-Islamiyah, Lahore, Barshoum cetakan ke III, hal. 186-187. Tadzkirotul-Auliya, Cetakan bahasa Urdu, edisi Syekh Barkat Ali, cetakan Mathbaul-Ilmi Lahore, hal. 130. ).

  1. Catatan tentang kepribadian agung Hadhrot Bayazid Basthomi rohmatulloh alaih ada tertulis di tempat lain dengan judul Hajar Aswad Manam, hal. 642 dan 662 tertulis seperti itu.