ENGKAU ADALAH NAMAKU YANG TERTINGGI

 Keberatan terhadap wahyu yang diterima oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.

أَنْتَ اِسْمِيَ اْلأَعْلَى

(Anta ismiyal-a’laa)

 Engkau adalah nama-Ku yang tertinggi, yaitu Tuhan.

Jawaban Ahmadiyah:

Terjemahan tersebut salah. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri telah menerjemahkannya dengan ‘Engkau adalah mazhhar penzhahiran sifat a’laa-Ku, yang artinya engkau selalu mendapatkan keunggulan. (Taryakul-Qulub, hal. 81, Taqthi Kalla, hal. 192, cetakan 1922 dan hal. 162 terbitan Book Depo).

Seolah-olah dalam wahyu ini terdapat isyarat kepada ayat Al-Quranul-Karim:

كَتَبَ اللهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي

 Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan Aku dan para Rasul-Ku pasti menang. (Al-Mujadilah, 58:22).

Syekh Abdul Qadir Jailani rohimahullohu mendapatkan wahyu sebagai berikut sebagai pertimbangan:

فَجَاءَ الْخِطَابُ مِنَ الرَّبِّ الْقَدِيرِ اُطْلُبْ مَا تَطْلُبُ فَقَدْ أَعْطَيْنَاكَ عِوَاضًا عَنِ انْكِسَارِ قَلْبِكَ … فَجَاءَهُ الْخِطَابُ مِنَ اللهِ الْعَزِيزِ الْقَدِيرِ جَعَلْتُ أَسْمَآءَكَ مِثْلَ أَسْمَآئِي فِى الثَّوَابِ وَالتَّأْثِيرِ وَمَنْ قَرَأَ اِسْمًا مِنْ أَسْمَآءِكَ فَهُوَ كَمَنْ قَرَأَ اِسْمًا مِنْ أَسْمَآئِي

Kemudian Allah berfirman kepada Syekh Abdul Qodir: ‘Disebabkan karena kerendahan hatimu, Aku berfirman kepadamu ‘mintalah apa yang kamu inginkan, Aku akan memberikan kepadamu. Kemudian Allah swt berfirman kepadanya: ‘Wahai Abdul Qadir, Aku telah menjadikan sifat-sifatmu seperti sifat-sifat-Ku dalam memberikan pahala dan kemuliaan, maka orang yang menyebut sifat-sifat apa saja dari sifat-sifatmu seolah-olah ia telah menyebut satu sifat dari sifat-sifat-Ku.” (Risalah Haqiqatul-Haqaiq, merujuk kepada Kitab Manaqib Tajul-Auliya wa Burhanul-Asfiya’il-Kutubil-r-Rabbani wal-Ghaiutsis-Shaldani As-Sayid Abdul Qadir Al-Kaelani, karya tulis Allamah Abdul Qadir bin Muhyiddin Al-Arbili, cetakan Mathba’i Isa Al-Babi Al-Halabi, cetakan Mesir, hal. 17)

Hadhrot Imam Muhyiddin Ibnu Arobi rohmatulloh ‘alaih menulis dalam bukunya Kitab Khushushul-Hikam bahwa Hadhrat Amirul Mukminin Imamul Muttaqin Ali bin Abi Thalib karromahullohu wajhah menyampaikan khutbah kepada orang-orang: ‘Diberikan kepadaku gelar ismullah, yaitu Lambung Tuhan yang di dalamnya kamu bersikap berlebihan (ifrath dan tafrith), aku adalah Pena Tuhan, aku Lauh Mahfuzh, dan aku adalah Arsy, aku adalah Kursi, dan aku adalah Tujuh lapis langit dan Tujuh lapis bumi.” (Khushushul-Hikam, yang telah dicetak dalam bahasa Urdu oleh Syeh Jalaluddin Sirajuddin Tajiron Kutub Lahore, tahun 1321 H, terbitan Mathba’ Majthaba’i, hal. 60 – 61, Muqaddimah, pasal 6, ‘Alam Insani Ka Hakiqot’ ).

Arti isim dalam wahyu ini adalah sifat, sebagaimana tersebut dalam sebuah Hadits yang berbunyi:

إِنَّ لِي أَسْمَآءً …. وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللهُ بِيَ الْكُفْرَ

Aku mempunyai beberapa sifat … aku adalah Maahi yang dengan itu aku menghapus kekafiran. (Al-Bukhori, Juz II, hal. 270)

Asmaa’ yang bentuk tunggalnya ‘ismun’ dalam Hadits ini adalah sifat dari Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dalam wahyu ini mengisyaratkan kepada sifat Allah Yang Maha-tinggi, yaitu Yang Maha mengungguli segala sesuatu. Oleh karena setiap Nabi merupakan penampakan dari sifat Tuhan ini. Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menetapkan Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam sebagai penampakan sifat Ilahi ini.