“Engkau dari Kami, Sedang Mereka dari Kegagalan”

 (Klarifikasi atas keberatan terhadap wahyu-wahyu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad)

 

أَنْتَ مِنْ مَائِنَا وَهُمْ مِنْ فَشَلٍ

(Anta min maa’inaa wa hum min fasyal)

Artinya: Engkau dari air Kami, sedang mereka dari kegagalan

 

Sebagian ulama menerjemahkan wahyu tersebut dengan “Engkau dari air Kami, sedang mereka dari kegagalan”, sehingga mereka keberatan mengimani itu sebagai wahyu dari Allah swt.

 

Jawaban Ahmadiyah:

  1. Hadhrat Masih Mauud  menerangkan mafhumnya demikian. Di tempat ini arti dari ‘air’ adalah air keimanan, air istiqomah, air ketakwaan, air kesetiaan, air kebenaran, air kecintaan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala yang didapatkan dari Tuhan. Dan ‘fasyal’ berarti kepengecutan, kepenakutan dan kegagalan yang berasal dari setan (Anjam Atham, catatan hal. 56).
  1. Dalam Al-Quranul-Majid terdapat ayat yang dapat kita jadikan pertimbangan dalam memahami wahyu tersebut, yaitu:

خُلِقَ اْلإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ

Artinya: Manusia diciptakan dari ketergesaan (Al-Anbiya, 21:38).

 

Jalaluddin As-Sayuthi rohmatulloh ‘alaih menerangkan tentang tafsirnya demikian:

إِنَّهُ لِكَثْرَةِ عَجَلِهِ فِى أَحْوَالِهِ كَأَنَّهُ خُلِقَ مِنْهُ

“Oleh karena manusia itu banyak ketergesaannya dalam prilakunya, seakan-akan ia diciptakan darinya (ketergesaan).”

 

Manusia dalam berbagai keadaan selalu menempuh cara yang tergesa-gesa seolah-olah ia diciptakan dari ketergesaan. Dengan demikian, bukankah berarti manusia itu anak dari ketergesa-gesaan?.

 

  1. Air Tuhan dimaknai dengan wahyu Ilahi dan kecintaan kepada-Nya sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud menjelaskan: ‘Satu alam telah mati tanpa air-Mu, wahai Tuhan, salurkanlah aliran sungai itu ke arah sini! (Barahin Ahmadiyah Jilid V, hal. 99).

Di tempat lain beliau mengatakan:

فَإِنْ شِئْتَ مَاءَ اللهِ فَاقْصُدْ مَنَاهِلِيْ فَيُعْطِيْكَ مِنْ عَيْنٍ وَعَيْنٌ تُنَوَّرُ

“Apabila engkau menginginkan air Allah, maka datanglah ke mata air-ku ini, maka Dia akan memberikan mata air kepadamu, dan kamu akan diterangi dengan mata ruhani. (Karamatus-Shadiqin, hal. 39).

 

Lihat juga Durus-Samin Arabi, hal. 33. Di tempat ini juga maksud dari ‘air Allah’ ini adalah keridhaan Ilahi. Maka demikian pula maksud dari wahyu tersebut. Jadi, makna yang benar wahyu tersebut adalah Allah swt memberitahukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang hamba-Nya yang telah mendapatkan karunia dari-Nya berupa air keimanan, air istiqamah, air ketakwaan, air kesetiaan, air kebenaran, air kecintaan kepada-Nya, sedangkan orang-orang yang memusuhi beliau adalah orang-orang yang telah dipengaruhi setan sehingga mereka menjadi pengecut, penakut dan gagal dalam perjuangannya.

Sebagaimana Allah swt berfirman:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Itu hanyalah syetan yang menakut-nakuti kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku, jika kamu memang orang-orang mukmin”. (Ali Imran, 3:176)

Sebagai orang yang beriman harus taat kepada Allah swt dan Rasulullah saw serta menghindarkan dari berbantah-bantahan, karena hal itu dapat membuat gentar dalam menghadapi para musuh, bahkan dapat menghilangkan kekuatan, sebagaimana Allah swt berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai, orang yang beriman, taatlah kepada Allah swt dan Rasulullah-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, karena jika kamu berbuat demikian, kamu akan menjadi gentar dan kekuatanmu akan hilang; dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar (Al-Anfal, 8: 47).