Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Haid?

 

حَيْضٌ

( Haid )

Sebagian Ulama keberatan menerima pernyataan tersebut sebagai wahyu dari Allah swt, karena haid itu hanya terjadi pada kaum wanita. Masak, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang laki-laki mengalami haid.

Jawaban Ahmadiyah: Sebagai Ulama seharusnya pernah membaca kitab-kitab yang membahas tentang ilmu Tashowwuf dan pengalaman rohani kaum Shufi. Guna keperluan ini bacalah beberapa rujukan di bawah ini!

  • Orang yang buta dari hakikat sholat:

كَمَا أَنَّ لِلنِّسَآءِ مَحِيْضًا بِالظَّاهِرِ وَ هُوَ مُوجِبُ نُقْصَانِ إِيمَانِهِنَّ لِمَنْعِهِنَّ عَنِ الصَّلاَةِ وَالصَّوْمِ فَكَذَالِكَ لِلرِّجَالِ مَحِيضٌ فِى الْبَاطِنِ وَهُوَ مُوجِبُ نُقْصَانِ إِيمَانِهِمْ لِمَنْعِهِمْ عَنْ حَقِيقَةِ الصَّلاَةِ

Sebagaimana wanita-wanita datang haid secara lahir yang itu menyebabkan kerugian bagi keimanan mereka karena mereka terhalang untuk mendirikan sholat dan puasa, demikian juga datangnya haid secara batiniah bagi laki-laki menyebabkan kerugian bagi keimanan mereka, yaitu menyebabkan mereka terhalang dari hakikat sholat.

Orang yang buta dari hakikat sholat dalam istilah Sufi dikatakan dalam kondisi haid.

  • Sebagaimana perempuan mengalami haid begitu juga para murid mengalami haid dalam menempuh tahapan jalan keinginan (suluknya). Dan haid yang datang pada murid itu melalui ucapan, bahkan ada juga murid yang selamanya dalam keadaan haid dan dia tidak pernah suci dari haid itu. (Anwarul-Azqiya, terjemahan Urdu, Tadzkirotul- Auliya, Karangan Fariduddin Ath-Thor, cetakan Majidi Kan Fur, hal. 450,Darudz-Dikr Abu Bakar Wasti rohimahullah).

Sebagian ulama telah menghilangkan kalimat-kalimat dalam cetakan baru terjemahan ‘Tadzkirotul-Auliya’ akan tetapi dalam terjemahan cetakan tahun 1928 kalimat-kalimat ini masih ada tertulis. Seolah-olah mereka ini telah menggenapi ayat Al-Quran yang berbunyi:

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِه

Mereka mengubah-ubah firman itu dari tempatnya (An-Nisa, 4:47)

  • Hadhrot Syekh Fariduddin Ath-Thor rohmatullah ‘alaihi menulis tentang Hadhrot Bayazid Bastomi rohmatullah ‘alaihi: “Suatu hari beliau (Hadhrot Bayazid Bastomi) berjalan sampai di pintu masjid sambil menangis. Orang-orang bertanya ‘mengapa engkau menangis?’, maka beliau menjawab: “Bahwa saya mendapati diri saya seperti wanita yang sedang dalam keadaan haid yang merasa takut masuk masjid karena ketidak suciannya”.(Tadzkirotul-Auliya, Jilid XIV, bab Dzikir Khawaja Bayazid Bastomi rahmatullah ‘alaihi, cetakan Syeh Barkat Ali edisions, hal. 108 Wa Zhohirul Ashfiya, terjemahan Urdu, Tadzkirotul-Auliya, terbitan Haaji Caroghdiin Sirojuddin,hal. 108).

Kebesaran pribadi Bayazid Bastomi rahmatullah ‘alaihi

Ketahuilah bahwa Hadhrot Bayazid Bastomi adalah seorang manusia besar yang berkenaan dengannya Daata Ganj Bakhs rohmatullah ‘alaihi menulis dalam bukunya Kasyful Mahjub: “Langit ma’rifat dan bahtera cinta Abu Yazid Tighur bin Ali Bastomi rohmatulloh ‘alaih adalah seorang yang besar di antara para Syekh. Dan keadaannya sangat besar dan kemuliaannya sangat agung sehingga Junaid rohmatullah ‘alaihi berkata demikian:

أَبُو يَزِيدَ مِنَّا بِمَنْزِلَةِ جِبْرِيلَ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ

Abu Yazid di tengah-tengah kami adalah berkedudukan seperti Jibril dari kalangan Malaikat … Penjelasan-penjelasannya sangat bernilai tinggi di antaranya berupa Hadits-hadits Yang Mulia Rasulullah shollAllohu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau adalah termasuk 10 Imam Ahli Tashowwuf dan sebelumnya tidak ada seorang pun yang setaraf beliau dalam memiliki keluasan pemahaman hakikat ilmu Tashowwuf. Dan dalam berbagai keadaan beliau sangat mencintai ilmu dan menjunjung tinggi syariat. (Kasyful-Mahjub, bab Dzikir pengikut para Syekh Imam Thorikat, terjemah Urdu, cetakan tahun 1332 H, hal 122).

  • Orang-orang berkata: “Apakah ada seorang Nabi yang menggunakan lafazh haid untuk laki-laki?”. Jawabannya adalah simaklah Hadits berikut ini:

اَلْكَذِبُ حَيْضُ الرَّجُلِ وَاْلإِسْتِغْفَارُ طَهَارَتُهُ

Dusta itu haidnya seorang laki-laki, sedangkan istighfar itu thaharahnya. (Firdausul-Akhbar Daelami, hal. 161, alinea 17, diriwayatkan Muslim).

 

Maksud wahyu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu hanyalah demikian, yaitu bahwa musuh menghendaki engkau terjerumus dalam kebohongan dan keburukan. Namun,  dengan karunia Alloh subhanuhu wa ta’ala dalam diri engkau tidak terdapat keburukan sedikitpun.

  • Hazrat Mirza Ghulam Ahmad di dalam kitab manapun tidak pernah menulis: “Aku haid”. Bahkan beliau telah menafikannya.
  • Di samping Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menolak lafazh haid, beliau juga menerangkan tentang mafhumnya, sebagai berikut: “Orang-orang ingin melihat dalam diri engkau darah haid, yakni mencari-cari ketidak sucian, kotoran dan keburukan-keburukan” (Arbain, nomor 4, hal. 19).

Di sini, maksudnya bukan haid perempuan melainkan haid laki-laki. Sebagaimana rujukan pada: a, b, c dan lain-lain yang telah diperlihatkan oleh para Sufi dan Hadits.