HAZRAT MIRZA GHULAM AHMAD MENGAKU MARYAM

 

 يَا مَرْيَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

KH. Achidin Noor, MA mengutip wahyu Pendiri Ahmadiyah yang termaktub dalam Tadzkirah halaman 71, 72, 628 dan menyatakan keberatannya jika kalimat tersebut dikategorikan sebagai wahyu dari Allah swt dengan memberikan komentar terhadap wahyu berikut:

يَا مَرْيَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Maryam, nama untuk perempuan dan kalau yang dimaksud adalah ibunya Nabi Isa AS, harusnya: يَا مَرْيَمُ اسْكُنِي أَنْتِ وَزَوْجُكِ الْجَنَّةَ atau mungkin hal ini turun ketika Mirza hamil mengandung Isa dan menjadi Maryam padahal Mirza tidak pernah berganti kelamin. Subhanalloh, Maha Suci Alloh dari kesalahan-kesalahan dan kelupaan.” (Ada Apa Dengan Ahmadiyah, halaman 31).

Jawaban Ahmadiyah

Sebetulnya kalau KH. Achidin Noor, MA mengutip langsung dari Tadzkirah, pasti tahu bahwa hakikat Maryam dalam kalimat itu adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, bahkan kalimat yang dikutip KH Achidin Noor itu diapit dengan kalimat yang jelas menunjukkan  mudzakkar (Adam dan Ahmad) sebagaimana kutipan berikut:

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ – يَا مَرْيَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ- يَا أَحْمَدُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Wahai Adam, tinggallah engkau dan pasangan engkau di Surga; wahai Maryam, tinggallah engkau dan pasangan engkau di Surga; wahai Ahmad tinggallah engkau dan pasangan engkau di Surga. (Tadzkirah, hal. 69 dan 575, cetakan I, tahun 1935)

Jadi, Allah ta’ala menggunakan makna mudzakkar (laki-laki) meskipun lafazhnya dalam bentuk muannats (Maryam). Dalam Ilmu Nahwu yang sangat dasar saja sudah diajarkan itu. Bahkan Nabi Muhammad shollAllohu ‘alaihi wa sallam yang paling alim dalam bahasa Arab sering menggunakan lafazh muannats, tetapi beliau mengutamakan hakikat maknanya daripada bentuk lafazhnya, sebagaimana Hadits berikut:

يَا طَلْحَةُ، أَنْتَ مِمَّنْ قَضَى نُحِبُّهُ

“Wahai Tholhah, engkau adalah termasuk orang yang telah memberi keputusan yang aku sukai.” (Ibnu Manduh, Ibnu Asakir dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyAllohu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz XI/33374)

يَا عُبَادَةُ، عَلَيْكَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِى يُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ

Wahai Ubadah, wajib atas kamu mendengarkan dan ta’at dalam kemudahanmu, kesenanganmu dan kebencianmu… (Ibnu Jarir, Ibnu Asakir dan Kanzul-Ummal, Juz V/14372)

Sebagai seorang mukmin yang percaya bahwa Allah ta‘ala itu masih berbicara kepada para hamba-Nya yang dikendaki-Nya perlu mengambil manfaat dari wahyu tersebut. Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  secara majazi telah menjadi Maryam dan Ibnu Maryam, sehingga Allah Ta’ala dalam wahyu itu memanggil beliau dengan Kalimat:

يَا مَرْيَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Wahai Maryam, tinggallah engkau dan pasangan engkau di Surga. (Tadzkiroh, hal. 69 dan 575, cetakan I 1935)

إِنَّا جَعَلْنَاكَ الْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ لِأُتِمَّ حُجَّتِيْ عَلَى قَوْمٍ مُتَنَصِّرِيْنَ

Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau Al-Masih ibnu Maryam agar Aku menyempurnakan argumentasi-Ku untuk mengalahkan kaum Nasrani (Ainah Kamalati Islam, halaman 308, Ruhani Khozain, Jilid V, halaman 373)

Untuk memahami wahyu tersebut perlu mengkaji Hadits Rasulullah shollAllohu ‘alaihi wa sallam riwayat Al-Bukhori berikut ini:

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلاَّ يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Tiada anak Adam yang dilahirkan kecuali setan menyentuhnya sewaktu ia dilahirkan, maka ia menjerit karena sentuhan setan itu, selain Maryam dan anaknya. Kemudian Abu Hurairoh berkata: “Dan sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau akan ia dan keturunannya dari setan yang terkutuk.” (Al-Bukhori dari Abu Huroiroh radhiyAllohu ‘anhu, Juz I, hal. 253)

مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلاَّ وَالشَّيْطَانُ يَمَسُّهُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ إِيَّاهُ إِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَأُوا إِنْ شِئْتُمْ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Tiada anak yang dilahirkan kecuali setan menyentuhnya sewaktu ia dilahirkan, maka ia menjerit karena sentuhan setan kecuali Maryam dan anaknya. Kemudian Abu Huroiroh berkata: “Dan bacalah jika engkau mau ‘dan sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau akan ia dan keturunannya dari setan yang terkutuk (Al-Bukhori dari Abu Huroiroh rodhiyAllohu ‘anhu, Juz III, hal. 110)

Dari dua Hadits tersebut timbul pertanyaan, apabila hanya Maryam dan anaknya, Nabi Isa ‘alaihis salam saja yang bebas dari sentuhan setan, maka bagaimana dengan para Nabi dan Rasul yang lainnya, dan khususnya bagaimana sentuhan setan kepada Yang Mulia Muhammad Rosulullah shollAllohu ‘alaihi wa sallam. Guna menjawab pertanyaan ini Hadhrat Az-Zamakhsari menjelaskan dalam Tafsir Kasysyafnya:

فَمَعْنَاهُ أَنَّ كُلَّ مَوْلُودٍ يَطْمَعُ الشَّيْطَانُ فِى إِغْوَاعِهِ إِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا فَإِنَّهُمَاكَانَا مَعْصُومَيْنِ وَكَذَالِكَ كُلُّ مَنْ كَانَ فِى صِفَاتِهِمَا

Maka, maksud Hadits ini adalah setiap anak yang dilahirkan, setan senantiasa menginginkan untuk menyesatkannya kecuali terhadap Maryam dan anaknya, karena mereka itu suci (ma’shum). Dan demikian juga setiap anak yang memiliki sifat-sifat seperti mereka, yaitu Maryam dan anaknya (Al-Kasysyaf, Juz I, hal. 426, Dzul-Fikar).

Dalam Hadits Yang Mulia Muhammad Rosulullah shollAllohu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa yang dimaksud Maryam dan Ibnu Maryam tidak hanya terbatas dua macam manusia saja. Tetapi, maksudnya adalah kaum mukmin dan para Nabi, yang mereka itu oleh Yang Mulia Nabi Muhammad shallAllohu ‘alaihi wa sallam dijuluki dengan sebutan Maryam dan Ibnu Maryam. Lebih lanjut sifat mereka itu dijelaskan dalam ayat Al-Quran berikut:

ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَءَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِه وَنَجِّنِي مِنَ الْقوْمِ الظَّالِمِينَ وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِه وَكَانَتْ منَ الْقَانِتِينَ

Dan Allah telah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman dengan istri Firaun, ketika ia berdoa, ‘wahai Tuhanku, dirikanlah untukku satu rumah di sisi Engkau dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan peliharalah aku dari kaum yang aniaya, dan begitu juga Maryam binti Imron yang telah menjaga kesuciannya, kemudian Kami meniupkan padanya ruh Kami dan ia membenarkan firman dan Kitab-kitab Tuhannya dan dia termasuk orang yang patuh (At-Tahrim, 66:12-13)

Dalam ayat sebelumnya, orang-orang kafir dimisalkan dengan dua perempuan, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth ‘alaihimas salam. Oleh karena kedua suaminya mukmin bahkan keduanya berpangkat Nabi, namun mereka sendiri menjadi kafir. Sedangkan ayat-ayat tersebut ini menjelaskan bahwa orang mukmin itu terbagi menjadi dua golongan. Pertama adalah mukmin yang memiliki sifat Hadhrat Asiah binti Muzahim (istri Firaun); kedua mukmin yang memiliki sifat Hadhrot Maryam binti Imran.

Kaum mukmin golongan pertama kehidupannya berada dibawah kekuasaan seorang kafir yang zholim. Dan ia memanjatkan doa untuk mendapatkan keselamatan dari kezhoimannya, sedangkan kaum mukmin kedua kehidupannya  sejak semula berada dalam lingkungan kekuasaan yang sholeh dan keburukan tidak dapat menguasainya. Potongan ayat yang berbunyi:

اَلَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا

Artinya, orang yang menjaga kehormatannya (kemaluannya).

Mukmin dalam bentuk inilah yang oleh Al-Quran disebut dengan nama Maryam, seperti Pendiri Ahmadiyah. Kemudian dari keadaan Maryam itu meningkat ke derajat Ibnu Maryam, sesuai dengan ayat Al-Quran yang berbunyi:

فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا

Lalu, Kami tiupkan ruh Kami ke dalamnya (Al-Anbiya’, 21:92)

Karena maqom Maryam adalah derajat siddiqiyah, sedangkan maqom Ibnu Maryam adalah derajat Kenabian. Maka, bagi setiap Nabi mengalami dua zaman, pertama maqom Maryam. Keadaan maqom ini diisyaratkan oleh ayat Al-Quran yang berbunyi:

فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Lalu, sesungguhnya aku hidup di tengah-tengah kamu bertahun-tahun lamanya sebelum itu, apakah kamu tidak berfikir? (Yunus, 10:17)

Sesudah mengalami keadaan Maryam ini (maqom Shiddiqiyah), lalu ia meningkat ke maqam kenabian dan di dalam kedua keadaan maqam ini, ia itu suci dari sentuhan setan. Arti inilah yang dimaksudkan oleh Hadits Al-Bukhori tersebut di atas.

Ayat-ayat surat At-Tahrim tersebut membuktikan bahwa sebagaimana Hadhrot Maryam Siddiqoh mencapai maqam kesucian yang sangat tinggi kemudian mengandung dan melahirkan Isa ‘alaihis salam yang menjadi Nabi Allah. Demikian juga, seorang mukmin laki-laki pun mengalami keadaan Maryam kemudian akan mengandung secara kerohanian atau mengandung secara kiasan yang menyebabkan kelahiran Ibnu Maryam secara majazi atau kiasan. Jadi, mukmin laki-laki itu disebut dengan nama Maryam dalam arti majaz dan istiarah, bukan dalam arti hakiki.

Demikian juga dia mengandung dalam makna majaz dan istiarah, dan dalam makna ini menyebabkan kelahiran Ibnu Maryam. Allah subhanahu wa ta’ala telah membuat perumpamaan orang–orang kafir dan mukmin dengan 4 orang wanita. Memang laki-laki itu bukan perempuan, tapi dalam arti istiarah dan majaz mereka disamakan dengan perempuan. Inilah sebabnya Syekh Fariduddin Ath-Thar rahmatullah ‘alaih telah mengutip perkataan Hadhrat Abbasiyah Thasi rahmatullah ‘alaih: “Pada hari Qiamat ketika datang seruan, “Wahai laki-laki, kalian dari shaf laki-laki yang paling pertama harus mengikuti jejak langkah Maryam” (Tadzkiratul Auliya, Dzikir Hadhrot Rabiah Bashra, Bab 9, hal. 51. Cetakan Syekh Barkat Ali, Edisinal Lahore wa Zhahirul Asfiya, Terjemahan Urdu, Tadzkiratul Auliya hal. 55)

Ke arah poin ma’rifat inilah Pendiri Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud, mengisyaratkan melalui syair-syair dalam bahasa Parsi yang terjemahannya sebagai berikut ini:

Sesudah mencapai maqom Maryam

Kemudian Tuhan Yang Maha Kuasa meniupkan ruh Isa ke dalam Maryam

Sesudah beliau mengalami keadaan yang sulit. (Haqiqotul-Wahyi, hal. 339)

Dan kemudian:

‘Yakni sifat-sifat Maryam telah berpindah kepada sifat-sifat Isa. (Kisyti Nuh, hal. 45).

Selanjutnya simaklah baik-baik sabda Pendiri Ahmadiyah, berikut ini:

Semua itu adalah kalimat-kalimat yang tercantum di dalam kitab “Barahin Ahmadiyah”, dan ilham-ilham itu sebenarnya adalah ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan Isa ‘alaihis salam dan ibunda beliau. Di dalam ayat-ayat itu disebutkan tentang Isa yang oleh orang-orang dinyatakan sebagai seorang insan yang lahir secara tidak sah. Mengenai dialah Allah ta’ala berfirman, bahwa Dia akan menjadikannya (Isa) sebagai Tanda. Isa itulah yang ditunggu-tunggu; dan di dalam kalimat-kalimat ilham yang dimaksudkan dengan Isa dan Maryam itu adalah diriku ini. Mengenai dirikulah dikatakan, bahwa Dia akan menjadikan sebagai Tanda. Selain itu dikatakan, bahwa akulah Isa ibnu Maryam yang akan datang itu, tapi orang-orang meragukannya. Ini adalah kebenaran, dan inilah orangnya yang akan datang itu. Dan keraguan itu timbul hanya karena kekurangpahaman belaka. Siapa saja tidak mengerti rahasia-rahasia Ilahi dan memuja kepada keadaan lahiriyah, ia tidak akan dapat melihat kepada realita (hakikat) (Bahtera Nuh, hal. 75, terjemahan Indonesia oleh R. Ahmad Anwar dan Sayid Shah Muhammad, edisi ke 4, tahun 1996, Jemaat Ahmadiyah Indonesia).