KESALAHAN DALAM PENULISAN WAHYU

 

أَتَعْجَبِينَ ِلأَمْرِ اللهِ

( Ata’jabina li amrillah ).

Artinya: Apakah engkau heran karena urusan Allah?

 

Sebagian Ulama keberatan mengakui pernyataan tersebut sebagai wahyu dari Allah swt yang turun kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, sebab mereka menganggap kalimat itu salah dari segi struktur bahasa Arab, seharusnya kalimat itu tertulis: ” مِنْ أَمْرِ اللهِ” bukan “لِأَمْرِ اللهِ” Sebab setelah kata ‘ عَجَبَ ’ tidak dapat disambung dengan kata ‘ لاَمٌ ’.

 

Jawaban Ahmadiyah:

Setelah kata ‘Ajaba’ dapat saja dipakai kata sambung laam (لاَمٌ ). Coba perhatikan syair seorang penyair terkenal bernama Ja’far bin Al-Batul Hartsi ketika beliau dipenjara di kota Mekah, beliau menulis demikian:

عَجِبْتُ لِمَسْرَاهَا وَأَنَّى تَخَلَّصَتْ

إِنِّي وَبَابُ السِّجْنِ دُونِي مُغَلَّقٌ

 “Aku benar-benar heran atas kedatangan sang kekasih kepadaku, padahal saat itu pintu penjara dalam keadaan terkunci. (Humasah, hal. 8).

Di dalam syair tersebut, setelah kata ‘ajaba’ digunakan kata sambung ‘Laam’. Jadi, dengan contoh kalimat dari Ahli bahasa Arab itu, gugurlah keberatan Ulama tersebut.