MEMUJI DENGAN KATA YAHMADU KEPADA SELAIN ALLAH

Allah swt menurunkan wahyu-Nya kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut:

يَحْمَدُكَ اللهُ مِنْ عَرْشِهِ
(YahmadukAllohu min arsyihi)
“Alloh memuji engkau dari arasy-Nya.” (Tadzkiroh hal. 47; Barahin Ahmadiyah, hishah sum 238).

Sebagian Ulama keberatan mempercayai kebenaran wahyu tersebut, karena menurut mereka kata ‘hamd’ hanya digunakan untuk memuji Allah swt saja, pujian untuk selain Alloh swt harus menggunakan kata lainnya, tidak boleh menggunakan kata itu.

Jawaban:

Pemahaman Ulama tersebut tidak benar, fakta berbicara bahwa kata ‘hamd’ dapat juga digunakan untuk selain Allah swt. Buktinya, Orang-orang Arab, Nabi Muhammad saw dan Allah swt menggunakan kata itu untuk selain Allah, beberapa contohnya dapat disaksikan berikut ini:

a. Nama Yang Mulia, Nabi dan Rasulullah yang paling agung adalah Muhammad saw . Bukankah, nama itu berasal dari kata “hamd”, yang Allah swt sendiri merestuinya, sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

“Dan Muhammad itu tiada lain kecuali seorang Rosul yang sebelumnya para Rosul telah berlalu.” (Ali Imran, 3:145)

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu bukanlah ayah seorang laki-laki di antara kamu, akan tetapi seorang Rasul Allah dan Khatam para Nabi.”(Al-Ahzab, 33:41)

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَءَامَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka.” (Muhammad, 47:3)

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah Rasul Allah dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir dan cinta kasih kepada sesama mereka.” (Al-Fath, 48:29)

Bahkan dalam ayat lain, Nabi kita Al-Mushthafa Sayyidina Muhammad saw dinyatakan oleh Allah swt dengan nama sifat “Ahmad”, sebagaimana tertera pada ayat berikut:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Dan ingatlah ketika Isa bin Maryam berkata: Wahai, Bani Israil sesungguhnya aku adalah Rosul Allah kepada kamu, membenarkan apa yang ada sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar suka tentang seorang Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.” (Ash-Shaff, 61:7)

 

b. Pada suatu ketika ada seorang datang mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw, beliau tertegun sejenak lalu bersabda: “Manakah sang penanya tadi?” Tentang orang tersebut Imam Al-Bukhori menuliskan kata “HAMIDA”, begini bunyinya:

كَأَنَّهُ حَمِدَهُ

“Seolah-olah beliau saw memuji orang itu. (Al-Bukhori, babus-Shadaqah ‘alal-yatama, jilid I, hal. 169, cetakan Mesir dan Muslim bab Takhouwuf maa Takhruju min Zumrotil-Anbiya, Jilid I, hal. 387, cetakan Mesir)

c. Tentang “Maqoman mahmuda” disebutkan:

إِفْعَلْ هذَا الَّذِي أَمَرْتُكَ بِهِ لِنُقِيمَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَقَامًا مَّحْمُودًا يَحْمَدُكَ الْخَلاَئِقُ كُلُّهُمْ وَخَالِقُهُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Kerjakanlah ini yang Aku perintahkan kepadamu, agar Kami menempatkan engkau pada Hari Qiamat pada maqam yang terpuji yang semua makhluk dan Pencipta mereka itu sedang memuji engkau, yaitu Tuhan Yang beberkah dan Luhur.

Maksud dari lafazh ayat 80 surat Al-Isro’ yang berbunyi يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا adalah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman apa yang Aku perintahkan kepadamu laksanakanlah agar supaya pada hari kiamat nanti engkau ditempatkan di ‘maqaman mahmudan’, artinya tempat yang mulia”. Seluruh makhluk di dunia dan Pencipta mereka, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala pun akan memuji engkau.” (Tafsir Ibnu Katsir jilid 6 hal 92 ). Ibnu Katsir menggunakan kata HAMIDA untuk memuji Nabi kita Muhammad SAW dan para hamba Alloh yang taat kepada-Nya.

d. Syekh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rahmatullah ‘alaihi berkata bahwa wahyu yang telah beliau terima dari Allah swt pun juga dengan menggunakan kata HAMIDA, misalnya:

فَيَحْمَدُنِي وَأَحْمَدُهُ وَيَعْبُدُنِي وَأَعْبُدُهُ
“Alloh subhanahu wa ta’ala memujiku dan aku memuji-Nya, Dia menyembahku dan akupun menyembah-Nya.”

Hadhrot Imam Sya’rani rahmatullah ‘alaihi mengulas tentang ungkapan wahyu tersebut sebagai berikut:

إِنَّ مَعْنَى يَحْمَدُنِي “أَنَّهُ يَشْكُرُنِي إِذَا أَطَعْتُهُ كَمَا فِى قَوْلِهِ تَعَالَى”اُذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ” وَأَمَّا فِي قَوْلِهِ “فَيَعْبُدُنِي وَأَعْبُدُهُ” أَيْ يُطِيعُنِي بِإِجَابَتِهِ دُعَائِي كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى “لاَ تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ” أَيْ لاَ تُطِيعُوهُ وَإِلاَّ فَلَيْسَ أَحَدٌ يَعْبُدُ الشَّيطَانَ كَمَا يَعْبُدُ اللهَ”

Maksud dari ungkapan Syeikh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rahmatullah ‘alaihi tersebut adalah bahwa Allah memujiku (YAHMADUNI) ialah Dia menyatakan rasa terima kasih-Nya kepadaku karena ketaatan dan kepatuhanku kepada-Nya, sebagaimana Dia berfirman: “Ingatlah kepada-Ku, pasti Aku akan mengingatmu” .Adapun yang dikatakan Syeikh Akbar rahmatullah ‘alaihi bahwa “Dia menyembahku (YA‘BUDUNI) dan akupun menyembah-Nya.” Maksudnya adalah Dia mengabulkan doa-doaku dan memenuhi keinginanku, sebagaimana firman-Nya:
يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ “Janganlah kamu menyembah setan (36:61), yakni janganlah kamu mengikuti keinginan setan, sebab di dunia ini tak seorang manusia pun yang menyembah setan sedemikian rupa sebagaimana ia menyembah Alloh subhanahu wa ta’ala.

Jadi, berdasarkan uraian tersebut digunakannya kata ‘HAMIDA’ dalam wahyu yang diturunkan kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu persis seperti yang diutarakan oleh Syekh Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rahmatullah ‘alaihi di atas.

e. Di dalam ayat Al-Quran berikut ini Allah swt sendiri menggunakan kata HAMIDA untuk manusia juga, perhatikanlah dengan cermat:

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا
“Dan mereka senang dipuji dengan tanpa berbuat apapun.” (Ali Imran, 3:189).

Sebenarnya masih banyak contoh yang lain, namun dengan contoh-contoh tersebut kiranya sudah cukup memadahi untuk menanggapi keberatan sebagian Ulama terhadap penggunaan kata “HAMIDA” sebagai pujian Allah swt kepada Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tersebut.