MENJAWAB TUDUHAN BAHWA HADHRAT MIRZA GHULAM AHMAD DIBERI SIFAT UNTUK MEMATIKAN DAN MENGHIDUPKAN

“Mematikan adalah membunuh kekafiran, dosa dan kezholiman, sedangkan sifat menghidupkan maksudnya menganugerahkan kerohanian dan menghidupkan kembali”


 

أُعْطِيتُ صِفَةَ اْلإِفْنَاءِ وَاْلإِحْيَاءِ

(U‘thiitu shifatal-ifnaa’i wal-ihyaa’i)

“Aku dianugerahi sifat memfanakan (mematikan) dan juga menghidupkan.”

Wahyu ini oleh para penentang Ahmadiyah dianggap tidak masuk akal, karena kedua sifat itu hanyalah milik AllAh swt.

Jawaban Ahmadiyah

  1. Pendakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  sebagai Al-Masih yang dijanjikan.

Kalian mengakui bahwa sifat Al-Masih Israili (Nabi Isa as) terdahulu itu dapat menghidupkan, dan bukankah kalian tidak berkeberatan terhadap  hal itu? Lalu mengapakah kalian berkeberatan terhaap Al-Masih Muhammadi? Apakah ucapan Al-Masih terdahulu itu tidak pernah  disebutkan di dalam Al-Quran? Coba perhatikan ayat Al-Quran yang berbunyi:

أُحْيِ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللهِ

(Uhyil-mautaa bi idznillahi)

 Artinya: Bahwa aku menghidupkan dan mematikan dengan izin Alloh?

Hadhrat Masih Mauud ‘alaihis salam menjelaskan:

 

أُعْطِيتُ صِفَةَ اْلإِفْنَاءِ وَاْلإِحْيَاءِ مِنْ رَّبِّ الْفَعَّالِ

(U‘thiitu shifatal-ifnaa’i wal-ihyaa’i mir-Robbil-Fa’aal)

“Aku dianugerahi sifat memfanakan (mematikan) dan juga menghidupkan dari Tuhan alam semesta.”

Aku dianugerahi Allah Yang Maha Kuasa sifat mematikan dan menghidupkan. Lalu, mengapa kalian berkeberatan atas hal itu ?

  • Jika kalian menyatakan  bahwa menghidupkan orang mati itu adalah merupakan satu sifat dari ke Al-Masihan, akan tetapi sifat mematikan tidak terdapat di dalam sifat  Al-Masih terdahulu.

Jawabannya ialah Alloh subhanahu wa ta’ala telah mengangerahkan sifat itu kepada Al-Masih Muhammadi-Nya, sebagaimana di dalam Hadits disebutkan bahwa Al-Masih Muhammadi dianugerahi sifat menghancurkan musuh –musuh , sebagaimana tertulis :

فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ مِنْ رَّيْحِ نَفْسِهِ إِلاَّ مَاتَ

(Falaa yahillu likaafirin yajidu mir-riihi nafsihii illaa maata)

Artinya: Tidak boleh bagi seorang kafir yang mendapatkan tiupan ruhnya, kecuali ia mati. (Muslim, Mirqat Mulla Ali Qari), jilid V, hal. l97 dan Misykat hal 473. Mathba Ashabul Mathabi, bab I ‘alamat baina yadayis saa’ah.)

 

Maksud dari Hadits tersebut adalah Orang orang kafir yang terkena hembusan Al-Masih ‘alaihis salam, pasti akan mati. Fakta telah menunjukkan bahwa ratusan musuh  Hadhrat Masih Mauud  yang mati karena hembusan beliau di antaranya: Lekhram, Abdullah Athom, Alexander Dowie, Saadullah dan lain lainnya.

 

Maksud Mematikan dan Menghidupkan

Kutipan Hadhrat Masih Mauud  yang kalian ajukan sebagai keberatan adalah merupakan kutipan dari buku Khutbah Ilhamiyyah. Setelah itu, Hadhrat Masih Mauud  sendiri mmberikan komentar arti membunuh dan menghidupkan sebagai berikut:

إِيزَاِئي سِنَانٌ مُذَرَّبٌ – وَدُعَائِي دَوَاءٌ مُجَرَّبٌ – أُرِي قَوْمًا جَلاَلاً – وَقَوْمًا آخَرِينَ جَمَالاًْ وَبِيَدِي حَرْبَةٌ أُبِيدُ بِهَا عَادَاتُ الظُّلْمِ وَالذُّنُوبِ وَفِى اْلأُخْرَى شَرْبَةٌ أُعِيدُ بِهَا حَيَاةَ الْقُلُوبِ – فَاسٌ لِلإِفْنَاءِ – وَأَنْفَاسٌ لِْلإِحْيَاءِ

(Iizaaiy sinaanun mudzarrobun – wadu’aaiy dawaa’un mujarrobun – uriy qouman jalaalan – wa qouman aakhoriina jamaalan wa bi yadiy harbatun ubiidu bihaa aadaatuzh-zhulmi wadz-dzunuubi wa fil-ukhroo syarbatun ‘u’iidu bihaa hayaatal-quluubi – faasun lil-ifnaa’i – wa amfaasun lil-ihyaa’i)

Menyakiti aku itu sama dengan pedang tajam dan do’aku  adalah obat yang sangat  manjur. Kepada satu kaum aku menunjukkan kejalalanku (kegagahanku) dan kepada kaum yang lain aku menunjukkan keindahanku (sifat keelokan dan kelembutan budi-perkertiku ). Di tanganku yang satu ada sebilah senjata yang dengan itu kuhancurkan segala kebiasaan perlakuan aniaya, dan perlakuan dosa, sedangkan di tangan yang lain ada minuman yang menghidupkan kembali segala jiwa yang sudah mati; seolah-olah di tanganku ada satu kapak yang mematikan dan satu nafas yang menghidupkan.”

(Khutbah Ilhamiyyah, hal 28).

Sekarng, coba lihatlah di dalam Khutbah Ilhamiyyah, betapa indahnya penjelasan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengenai sifat mematikan  dan menghidupkan. Mematikan adalah membunuh kekafiran, dosa dan kezholiman dan sifat menghidupkan maksudnya menganugerahkan kerohanian dan menghidupkan kembali, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al-Masih terdahulu. Beliau ‘ tidak pernah menghidupkan orang mati secara lahiriyah, dan tidak pula Al-Masih ‘alaihis salam yang kedua akan dapat  melakukan hal yang sama. Selain Allah tak seorang manusia yang dapat menghidupkan kembali secara lahiriyah orang yang sudah mati. Namun secara rohani, di dalam diri setiap  Nabi didapati daya dan kemampuan ini. Inilah maksud pernyataan yang dikemukakan di dalam kutipan diatas.