‘TUHAN KAMI ADALAH GADING GAJAH’

 

Berikut ini adalah jawaban terhadap orang-orang yang melemparkan tuduhan yang menyatakan bahwa Ahmadiyah menyebut Tuhan sebagai gading gajah. (Naudzubillah min dzaalik).

رَبُّنَا عَاجٌّ

(Rabbunaa ‘aajjun)

Sebagian Ulama yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah melafazkannya dengan Robbunaa Aajun (عَاجٌ), dan mereka mengartikannya dengan: “Tuhan kami adalah gading gajah”, sehingga dengan wahyu tersebut mereka mengolok-olok kaum Ahmadi sebagai golongan musyrik, karena mereka anggap menyembah gajah.

 

Jawaban Ahmadiyah: Lafazh dari wahyu tersebut sebenarnya berbunyi: ‘Aajjun’(عَاجٌّ) dengan tasydid di atas huruf jim, artinya bukan gading gajah, melainkan orang yang memanggil. Lafazh ‘Aajj’ adalah isim musytaq, artinya isim yang dapat pecah dan diurai. Silakan pembaca melihatnya dalam Kamus: ‘Ajja – ya‘ajju – ‘Ajjan dan Ajiijan

عَجَّ-يَعَجُّ (يَعِجُّ) عَجًّا وَعَجِيجًا

(‘Ajja – ya‘ajju (Ya‘ijju) ‘Ajjan dan ‘Ajiijan)

Artinya: Panggillah olehmu.

Sebagaimana dalam suatu Hadits, Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الْحَجِّ اَلْعَجُّ وَالثَّجُّ

Haji yang paling utama adalah mengumandangkan talbiyah dan memberikan pengorbanan.

(An-Nasai dari Abu Umar ra, Ibnu Majah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, Al-Baihaqi dalam As-Sunan dari Abu Bakar ra, Abu Daud, At-Turmudzi, An-Nasai, Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud ra dan Kanzul-Ummal, Juz V/ 11883).

Dalam Hadits lain, Rasulullah saw bersabda sebagai berikut:

أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ ، كُنْ عَجَّاجًا ثَجَّاجًا

Jibril telah mendatangiku, lalu berkata: Wahai Muhammad, jadilah kamu orang yang mengumandangkan talbiyah dan memberikan pengorbanan. (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya dan Adh-Dhiya’ dari Saib bin Kholad ra dan Kanzul-Ummal, Juz V/ 11884)

أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ ، كُنْ عَجَّاجًا بِالتَّلْبِيَةِ وَ ثَجَّاجًا بِنَحْرِ الْبُدْنِ

Jibril telah mendatangiku, lalu berkata: Wahai Muhammad, jadilah kamu orang yang mengumandangkan suara dengan talbiyah dan memberikan pengorbanan onta. (Al-Qodhi Abdul Jabbar dalam Amalinya dari Ibnu Umar ra dan Kanzul-Ummal, Juz V/ 11885)

Adapun lafazh talbiyah itu berbunyi:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Aku sambut panggilan-Mu dan dengan setia siap menerima perintah-Mu, wahai Allah, aku sambut panggilan-Mu dan dengan setia siap menerima perintah-Mu, aku sambut panggilan-Mu dan dengan setia siap menerima perintah-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu dan dengan setia siap menerima perintah-Mu, sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan itu milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.

(Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, An-Nasai, Abu Daud, At-Turmudzi, Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra, Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya dari Ibnu Abbas ra, Abu Daud, At-Turmudzi, An-Nasai, Ibnu Majah dari Anas ra, Ath-Thobrani dalam Al-Kabir dari Amer bin Ma’ad Yakrib ra dan Kanzul-Ummal, Juz V/ 11908)

Dalam Hadits tersebut dinyatakan bahwa haji yang paling utama adalah mengumandangkan talbiyah dan memberikan pengorbanan. Wahyu tersebut juga berarti: ‘Tuhan kami adalah Penyeru ahli dunia ke sisi-Nya.

Jadi, hanya karena kebodohannya sendiri orang memperolok-olok Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Pendiri Ahmadiyah atau memang sengaja membangkitkan kebencian dan kemarahan umat kepada Ahmadiyah.