‘WAHAI ANAKKU, DENGARKANLAH’

 

اِسْمَعْ وَلَدِي

(Isma’ waladiy).

Wahai anak-Ku, dengarkanlah! (Al-Busyro, Jilid I, hal. 49)

 

Sebagian Ulama berkeberatan mengakui lafazh tersebut sebagai wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Pendiri Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Karena wahyu tersebut mereka anggap bertentangan dengan sifat Allah swt, bahkan mereka menilai lafazh tersebut mengandung syirik yang dalam Islam merupakan dosa yang tidak akan diampuni.

Jawaban Ahmadiyah:

Tuduhan ini sungguh tidak benar dan salah besar. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah menerima wahyu yang berbunyi demikian. Hendaknya Ulama yang melontarkan tuduhan tersebut dapat menunjukkan dari buku beliau yang mana, jika mau Ahmadiyah berkenan akan memberikan hadiah!

Wahyu yang diterima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  tidak berbunyi seperti yang Ulama tuduhkan di atas, tetapi wahyu itu berbunyi demikian:

أَسْمَعُ وَأَرَى

“Artinya Aku Alloh mendengar dan melihat.”

(Maktubah Ahmadiyah, jilid I, halaman 23 dan  Anjami Atham, hal. 54).

 Wahyu tersebut terdapat juga dalam Al-Quran:

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

Dia Alloh berfirman: “Kalian berdua Musa dan Harun jangan takut, sesungguhnya Aku bersama kalian, Aku mendengar dan melihat. (Thoha, 20:47)

Rujukan buku yang diberikan oleh penentang bukan dari tulisan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, tetapi tulisan Babu Manshor Ilahi. Di dalamnya ia memberikan rujukan jilid I, hal. 49 bahwa wahyu ini dikutip dari Maktubat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Jilid I, hal. 23. Akan tetapi ternyata wahyu yang berbunyi ‘Isma’ waladiy’ itu tidak terdapat dalam Maktubat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang ada adalah wahyu yang berbunyi ‘Asma’u wa araa”. Di dalam kitab Al-Busyro ada kesalahan tulis yang seharusnya ‘wa araa’ ditulis menjadi ‘waladiy’.

Di kitab manapun dari Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tidak ada kata ‘waladiy’. Babu Manshor Ilahi mengakui kesalahan ini dan dimuat dalam Al-Fazal, jilid IX, hal.96 bahwa di dalam Al-Busyro Jilid I, hal. 49, baris ke 10 secara keliru telah tercetak satu wahyu yang diterima Hadrat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang berbunyi ‘Asma’u wa Ara’, tercetak menjadi ‘Isma’ waladiy ’ dan terjadi juga kesalahan pada terjemahannya.

Nampaknya fitnah-fitnah yang keluar dari mulut sebagian Ulama seperti ini merupakan bukti dari kebenaran Hadits Sayyidina Nabi Besar kita Al-Mushthafa Muhammad saw berikut ini:

يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ اْلإِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَآءُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَآءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَإِلَيْهِمْ تَعُودُ

“Hampir-hampir datang kepada manusia satu zaman yang tiada Islam kecuali tinggal namanya dan tiada Al-Quran kecuali tinggal tulisannya, masjid mereka ramai namun sunyi dari petunjuk, Ulama mereka seburuk-buruk orang yang berada di bawah kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu kembali.” (Ibnu Addiy dalam Al-Kamil, Al-Baihaqi dalam Syi‘abul Iman dari Ali rodhiyallohu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz IX/31136, 31522)

Fitnah seperti ini merupakan kejahatan yang besar, karena dapat menghalangi-halangi umat dari kebenaran, bahkan fitnah tersebut dapat menimbulkan kebencian umat kepada orang suci yang sebenarnya mereka itu berupaya menyampaikan kebenaran yang akan membawa keselamatan mereka. Oleh karena itu layak kalau dikatakan bahwa fitnah itu lebih keras daripada pembunuhan, karena hal itu dapat merugikan dan mencelakakan kehidupan umat, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, sebagai muslim Ahmadi tidak boleh takut dan membenci kepada fitnah. Fitnah itu harus dihadapi dan dilawan dengan argumentasi dan bukti kebenaran agar fitnah dan pembuatnya tersebut hancur serta umat mendapatkan pencerahan. Sikap demikian merupakan implementasi dari pesan Rosulullah saw dalam Hadits berikut:

لاَ تَكْرَهُوْا الْفِتْنَةَ فِى آخِرِ الزَّمَانِ فَإِنَّهَا تُبِيْرُ الْمُنَافِقِيْنَ

“Janganlah engkau membenci fitnah di akhir Zaman, karena fitnah itulah yang akan menghancurkan orang-orang munafiq.” (Abu Nu’aim dari Ali ra dan Kanzul-Ummal, Juz XI/ 31170)

 

Lihat Juga: