Wahyu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Menyalahi Kaidah Bahasa Arab

Keberatan KH. Achidin Noor, MA terhadap wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad  yang berbunyi:  اَالصَّلاَةُ هُوَ الْمُرَبِّي  (Tadzkiroh, hal. 51).

Wahyu tersebut beliau sangkal dan beliau nyatakan bukan wahyu dari Allah ta‘ala karena kalimat itu dianggap salah, karena menyalahi kaidah bahasa Arab; Menurutnya kata (َالصَّلاَةُ) itu berbentuk muannats, mestinya kalimat itu berbunyi (اَالصَّلاَةُ هِىَ الْمُرَبِّي). (Ada Apa dengan Ahmadiyah, hal. 31)

Jawaban Ahmadiyah:

Kalau KH. Achidin Noor, MA menyalahkan setiap kalimat (dalam bahasa Arab disebut kalam atau jumlah mufidah) yang menyalahi kaidah bahasa Arab (Shorf atau Nahwu) yang disusun pada masa yang jauh setelah turunnya Al-Quran dan menilai setiap wahyu dalam bahasa Arab harus sesuai dengan kaidah itu serta kalau bertentangan dengan kaidah itu harus dinyatakan bathil dan bukan berasal dari Allah ta‘ala, sikap demikian adalah sangat keterlaluan, dan tidak sopan kepada Allah ta‘ala, sebab dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, suatu kaidah yang disusun pada masa yang jauh kemudian dari masa diturunkannya Al-Quran, sebagai contoh:

Allah swt berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

Dalam surat At-Taubah, ayat 103 tersebut (tercetak tebal), khobarnya inna seharusnya tertulis (سَاكِنَةٌ \سَكِينَةٌ), karena kata sholah menurut KH. Achidin Noor, MA berbentuk muannats. Tetapi Allah ta‘ala dalam ayat itu menggunakan kata (سَكَنٌ) dalam bentuk mudzakkar sebagai khobarnya inna. Dalam hal ini, apakah KH. Achidin Noor, MA berani menyatakan ayat Al-Quran itu salah dan bukan sebagai wahyu dari Allah ta‘ala, sehingga konsekuensinya harus dihilangkan dari kitab suci Al-Quran? Padahal, Nabi Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh umat Islam dari zaman ke zaman, termasuk Ahmadiyah berkeyakinan bahwa ayat itu adalah firman Allah ta‘ala yang telah dibacakan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya perhatikan ayat Al-Quran berikut ini (QS Annisa: 161-162:

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ

الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا

Dalam ayat tersebut, kata (وَالْمُقِيمِينَ) I‘rabnya menggunakan tanda manshub atau jar (khofadh), padahal menurut ilmu Nahwu I‘robnya seharusnya marfu‘ yang menggunakan tanda wawu, sehingga harus ditulis (وَالْمُقِيمُونَ). Dalam kasus ini, apakah KH. Achidin Noor, MA berani menyalahkan i’rab ayat tersebut dan berani merubahnya?

Selanjutnya, silakan memperhatikan ayat Al-Quran berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ – التوبة: ۳٤

Pada kalimat (يُنْفِقُونَهَا) terdapat dhomir muttashil mahal nashob berupa (هَا), karena menjadi maf‘ul bih yang kembali kepada dua kata (اَلذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ). Menurut kaedah Ilmu Nahwu mestinya (هُمَا), bukan (هَا), sebab marji‘nya dua kata (tatsniyah). Apakah dalam kasus itu KH. Achidin Noor, MA ragu terhadap kebenaran wahyu Al-Quran?

Perhatikan lagi ayat Al-Quran berikut ini!

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ  – التوبة،۹:٤۲

Dalam ayat tersebut terdapat firman Allah ta‘ala yang berbunyi (يُرْضُوهُ أَنْ). Dhomir muttashil mahal nashob berupa lafazh (هُ) menurut kaedah ilmu Nahwu seharusnya ditulis (هُمَا), karena kembali kepada kata Allah dan Rosuluhu (وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ). Apakah KH. Achidin Noor, MA yang sangat jeli dan kritis kepada wahyu yang diturunkan kepada Pendiri Ahmadiyah, tidak pernah memperhatikan ayat ini sebagai pembanding yang sama-sama dinyatakan berasal dari Allah ta‘ala?

Agar bertambah mantap, silakan memperhatikan ayat Al-Quran berikut!

فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ – الشعراء، ۲٦:۱٦

Dalam ayat tersebut kata (رَسُولُ) seharusnya ditulis (رَسُولاَ / رُسُلُ) dalam bentuk jamak atau tatsniyah, karena isimnya inna dalam bentuk jamak atau bermakna tatsniyah yaitu Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam. Sebagai Khobarnya inna harus menyesuaikan dengan isimnya inna. Bukankah demikian menurut Ilmu Nahwu? Apakah dalam kasus ayat tersebut KH. Achidin Noor, MA berani menyalahkan ayat Al-Quran itu?

Demi untuk menambah ilmu, perhatikanlah ayat Al-Quran berikut ini!

فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ (الشعراء، ۲٦:۷۷

Dalam ayat Al-Quran tersebut tertulis kata (عَدُوٌّ), menurut Ilmu Nahwu, mestinya kata itu ditulis dalam bentuk jamak, yaitu (أَعْدَاءُ), karena isimnya inna kata dhomir jamak (هُمْ). Apakah KH. Achidin Noor, MA berani merubah ayat itu?

Perhatikan lagi ayat Al-Quran berikut ini!

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ (النحل، ۱٦:٦٦)

Dalam ayat Al-Quran tersebut terdapat kata (بُطُونِهِ), dalam kata itu terdapat dhomir muttashil mahal jarr (هِ), dhomir ini kembali kepada kata jamak, yaitu (الْأَنْعَامِ). Apakah menurut kaedah ilmu Nahwu penulisan dhomir (هُ) untuk mufrod mudzakkar dalam ayat itu sudah sesuai dengan kata (الْأَنْعَام), sebagai bentuk jamak taksir? Apakah KH. Achidin Noor, MA berani merubah mushhaf Al-Quran yang tertulis demikian?

Perhatikan lagi ayat Al-Quran berikut ini!

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (يوسف،۱۲:۳۱

Dalam ayat tersebut terdapat kata (نِسْوَةٌ) sebagai faa‘il dari kata (قَالَ). Menurut kaedah bahasa Arab fi‘ilnya mestinya ditambah dengan tak taknits, sehingga tertulis (قَالَتْ). Apakah KH. Achidin Noor, MA meragukan kebenaran wahyu tersebut berasal dari Allah ta‘ala?

Perhatikan lagi ayat Al-Quran berikut!

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلَائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ (التحريم، ٦٦:۵)

Dalam ayat tersebut terdapat kata jamak (الْمَلَائِكَةُ), sedang khobarnya berbentuk mufrod mudzakkar (ظَهِير), menurut ilmu Nahwu mestinya dibaca jamak, atau ditulis dalam bentuk lafazh muannats ZHOHIROH (ظَهِيرَةٌ). Apakah KH. Achidin Noor, MA berani menolak ayat Al-Quran itu sebagai wahyu Allah ta‘ala?

Terakhir, perhatikan baik-baik ayat Al-Quran berikut!

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ (الطلاق، ٦۵:۱)

Dalam ayat itu khithobnya adalah kata (النَّبِيُّ), berupa isim mufrod mudzakkar, tapi dhomir yang menjadi faa‘il pada fi‘il madhi itu tum, jamak mukhothab (طَلَّقْتُمُ), menurut kaedah bahasa Arab seharusnya tertulis (طَلَّقْتَ). Apakah KH. Achidin Noor, MA berani menyalahkan dan menolak ayat Al-Quran tersebut sebagai wahyu Allah ta‘ala? Sebetulnya masih banyak kasus-kasus semisal itu, tapi contoh-contoh tersebut penyusun anggap sudah cukup sebagai pertimbangan bahwa ternyata banyak ayat Al-Quran sebagai wahyu Ilahi yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu Shorf dan Nahwu yang disusun oleh manusia puluhan tahun sesudah Nabi Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam wafat. Jadi, wahyu-wahyu yang diterima Pendiri Ahmadiyah yang selama ini disalahkan oleh KH. Achidin Noor, MA hanya dengan alasan tidak sesuai dengan kaedah bahasa Arab, ternyata ayat-ayat Al-Quran tersebut justru mendukungnya.

Sehubungan dengan kitab suci Al-Quran, Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau‘ud menyatakan pendiriannya dengan tegas:

فَإِنَّ الْقُرْآنَ أَكْمَلُ وَطْرِ الشَّرِيعَةِ وَلاَ يُعْطُونَ إِلاَّ فَهْمَ الْقُرْآنِ وَلاَ يَزِيدُونَ عَلَيْهِ وَلاَ يَنْقُصُونَ مِنْهُ وَمَنْ زَادَ أَوْ نَقَصَ فَأُولئِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الْفَجَرَةِ

Sesungguhnya Al-Quran itu syari‘at paling sempurna yang diperlukan, mereka (yang dikaruniai pembicaraan dan percakapan dengan Ilahi) itu tidak dikaruniai wahyu kecuali pemahaman Al-Quran, mereka tidak akan menambahkan sesuatu padanya dan tidak pula mengurangi sesuatu darinya; dan siapa saja yang menambah atau menguranginya, maka mereka itu tergolong setan yang jahat.” (Mawahibur-Rohman, hal. 285, Ruhani Khozain Jilid XIX).

اِشْهَدُوُا إِنَّا نَتَمَسَّكُ بِكِتَابِ اللهِ الْقُرْآنِ وَنَتَّبِعُ أَقْوَالَ رَسُولِ اللهِ مَنْبَعَ الْحَقِّ وَالْعِرْفَانِ وَنَقْبَلُ مَا انْعَقَدَ عَلَيْهِ اْلإِجْمَاعُ بِذَالِكَ الزَّمَانِ لاَنَزِيدُ عَلَيْهَا وَلاَ نَنْقُصُ مِنْهَا وَعَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَمَنْ زَادَ عَلَى هَذِهِ الشَّرِيعَةِ مِثْقَالَ ذَرَّةِ أَوْ نَقَصَ مِنْهَا أَوْ كَفَرَ بِعَقِيدَةٍ إِِجْمَاعِيَّةٍ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Saksikanlah, bahwa kami berpegang teguh kepada Kitab Allah Al-Quran dan kami mengikuti sabda-sabda Rasulullah yang menjadi sumber kebenaran dan makrifat, dan kami menerima apa yang telah disepakati oleh ijmak pada masa itu, kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu darinya; dan di atasnya kami hidup dan mati. Siapa saja yang menambah pada syari’at Al-Quran ini seberat dzarroh (atum) atau menguranginya atau menolak aqidah ijma‘iyah, maka baginya kutukan Allah, Malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atam, hal. 144)

وَبِأَنَّ الْقُرْآنَ الْمَجِيدَ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ مَحْفُوظٌ مِنْ تَحْرِيفِ الْمُحَرِّفِينَ وَخَطَأِ الْمُخْطِينَ وَلاَ يُنْسَخُ وَلاَ يَزِيدُ وَلاَ يَنْقُصُ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ وَلاَ يُخَالِفُهُ إِلْهَامُ الْمُلْهَمِينَ الصَّادِقِينَ

“Dan Al-Quranul-Majid itu sesudah Rasulullah terpelihara dari perubahan yang dilakukan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al-Quran itu tidak akan dimansukh dan tidak akan bertambah serta berkurang sesudah Rasulullah; dan ilham orang-orang yang diilhami yang benar tidak akan menyalahinya.” (Ainah Kamalati Islam, hal. 21)

 

KESALAHAN DALAM PENULISAN

Disamping itu terdapat wahyu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang berbunyi

أَتَعْجَبِينَ ِلأَمْرِ اللهِ
( Ata’jabina li amrillah ).
Artinya: Apakah engkau heran karena urusan Allah?

Sebagian Ulama keberatan mengakui pernyataan tersebut sebagai wahyu dari Allah swt, sebab mereka menganggap kalimat itu salah dari segi struktur bahasa Arab, seharusnya kalimat itu tertulis: ” مِنْ أَمْرِ اللهِ” bukan “لِأَمْرِ اللهِ” Sebab setelah kata ‘ عَجَبَ ’ tidak dapat disambung dengan kata ‘ لاَمٌ ’.

Jawaban Ahmadiyah:

Setelah kata ‘Ajaba’ dapat saja dipakai kata sambung laam (لاَمٌ ). Coba perhatikan syair seorang penyair terkenal bernama Ja’far bin Al-Batul Hartsi ketika beliau dipenjara di kota Mekah, beliau menulis demikian:

عَجِبْتُ لِمَسْرَاهَا وَأَنَّى تَخَلَّصَتْ
إِنِّي وَبَابُ السِّجْنِ دُونِي مُغَلَّقٌ
“Aku benar-benar heran atas kedatangan sang kekasih kepadaku, padahal saat itu pintu penjara dalam keadaan terkunci.” (Humasah, hal. 8)

Di dalam syair tersebut, setelah kata ‘ajaba’ digunakan kata sambung ‘Laam’. Jadi, dengan contoh kalimat dari Ahli bahasa Arab itu, gugurlah keberatan Ulama tersebut.