Tuhan lebih mendekat melalui doa

Janganlah berpuas diri karena merasa kalian telah berdoa setiap hari tetapi tanpa shalat. Sebenarnya shalat itu merupakan doa juga yang dilakukan setelah memperoleh pemahaman dan rahmat, dan shalat ini merupakan doa tersendiri. Doa seperti ini bisa bersifat menghancurkan layaknya api yang meluluhkan, kekuatan magnetis yang menarik rahmat dan bentuk kematian yang membawa kehidupan. Shalat merupakan hujan lebat yang kemudian berubah menjadi wadah. Setiap kegalauan bisa diatasi olehnya dan setiap racun menjadi penawar karenanya.

Tuhan Lebih Mendekat Melalui Doa

Berberkatlah mereka yang berdoa tanpa lelah saat dipenjara karena mereka akan dibebaskan. Berberkatlah mereka yang buta dan berteguh hati dalam doanya karena mereka nantinya akan nyalang mata. Berberkatlah mereka yang terkubur dan memohon pertolongan melalui doa karena mereka nantinya akan dikeluarkan dari kuburnya itu. Berberkatlah kalian yang tidak pernah merasa lelah dalam berdoa sehingga kalbumu meleleh saat berdoa dengan mata berlinang dan api yang menyala di dalam dada, dan karena kalian dijebloskan dalam kamar- kamar gelap sehingga kalian menjadi gelisah, tak sadar akan dirinya lagi, karena akhirnya kalian akan menjadi penerima rahmat.

Tuhan yang kita sembah sesungguhnya Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Benar, Maha Setia kepada mereka yang berhati lembut. Kalian harus beriman dan berdoa dengan segala kesungguhan dan kesetiaan agar Dia merahmati kalian. Tariklah diri kalian dari kegalauan duniawi dan jangan mengagak-agak keimanan kalian. Terimalah kekalahan kalian demi Tuhan, agar kalian mewarisi kemenangan akbar. Tuhan akan memberikan mukjizat kepada mereka yang berdoa dan mengaruniakan anugerah yang luar biasa kepada mereka yang mengemis kepada-Nya.

Terkait:   Doa dan Takdir

Sesungguhnya doa berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Melalui doa maka Tuhan mendekat kepada kalian sebagaimana nyawa kalian dekat dengan kalian. Karunia pertama dari doa adalah perubahan suci dalam diri si pemohon dan karenanya Tuhan melakukan perubahan dalam sifat-sifat Wujud-Nya sendiri. Sebenarnya sifat-Nya itu tidak mudah berubah, namun demi manusia yang telah merubah dirinya sendiri maka Dia memberikan penjelmaan khusus yang tidak dikenal dunia. Tidak berarti bahwa Dia berubah menjadi Tuhan yang lain, yang dimaksud adalah munculnya penjelmaan baru dalam Wujud-Nya yang memperlihatkan seolah suatu hal yang baru. Dalam manifestasi khusus demikian, Dia melakukan bagi hamba-Nya yang telah berubah, apa yang tidak dilakukan- Nya kepada yang lain.

Singkat kata, doa adalah obat penawar paling utama yang merubah segenggam debu menjadi logam mulia. Doa merupakan air yang membasuh kekotoran di dalam batin. Melalui doa maka kalbu akan meleleh yang kemudian mengalir seperti air dan jatuh di hadirat Ilahi. Doa akan tegak di hadirat Ilahi, ruku di depan-Nya dan bersujud di hadapan-Nya. Sesungguhnya shalat yang diajarkan dalam Islam merupakan refleksi dari doa seperti itu.

Terkait:   Dua Cara Pengabulan Doa

Berdiri tegaknya nurani dalam shalat menunjukkan kesiapan dirinya memikul segala kesulitan demi Allah dan berhasrat melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ruku’nya bermakna kecenderungan kepada Ilahi dan keinginan menjadi milik-Nya dengan meninggalkan kesukaan dan kecintaan kepada yang lainnya. Adapun bersujud di hadirat Ilahi mengandung arti bahwa ia telah melarutkan dirinya secara sepenuhnya. Semua itu merupakan shalat yang menjadi pertemuan di antara Tuhan dengan mereka yang menyembah-Nya. Akidah Islam menggambarkan doa sebagai shalat yang dilakukan setiap hari agar shalat yang bersifat jasmani dapat mendorong seorang pelaku ibadah ke arah shalat ruhani.

Allah Yang Maha Kuasa telah mengatur bahwa kalbu dan raga manusia beraksi dan bereaksi satu dengan lainnya. Ketika jiwa sedang bersedih maka turun air mata dari matanya, sedangkan ketika kalbu sedang bergembira maka wajahnya akan mencerminkan keceriaan yang mendorong orang untuk tertawa. Begitu juga ketika raga sedang mengalami kesakitan maka kalbunya ikut merasakan kesakitan itu, sedangkan saat tubuh merasa nyaman karena tiupan angin sejuk maka hatinya pun ikut terpengaruh. Dengan demikian, tujuan dari ibadah secara ragawi adalah karena adanya keterkaitan di antara kalbu dan raga tubuh dimana kalbu akan cenderung kepada Tuhan serta mengikuti gerak ruku dan sujudnya secara ruhani.

Terkait:   Doa Orang Yang Mulia Tidak Selalu Dikabulkan

(Khutbah Sialkot, Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 222-224, London, 1984).

Akibat dari ketidak-mengertian maka ada orang yang menganggap tidak semua permohonan bantuan kepada Allah Swt akan memberikan hasil dan mengira bahwa sifat Rahmaniyat dan Rahimiyat Ilahi tidak tercermin dalam bentuk suatu pertolongan. Sesungguhnya Tuhan akan mendengar doa yang diajukan secara tulus dan akan membantu mereka yang butuh bantuan menurut cara yang dianggap-Nya patut.

Hanya saja terkadang doa dan permohonan bantuan yang diajukan nyatanya tidak dilambari kerendahan hati dan kondisi keruhanian yang bersangkutan tidak sebaik yang diharapkan. Ketika bibirnya komat-kamit melantunkan doa, hatinya sendiri tidak ikut serta atau malah hanya untuk pamer diri semata. Tuhan sendiri mendengar doa orang dan mengaruniakan apa yang menurut Kebijaksanaan-Nya Yang Maha Sempurna hal yang dianggap-Nya patut bagi yang bersangkutan, namun seorang yang tuna ilmu umumnya tidak menyadari karunia tersembunyi yang telah dilakukan Tuhan baginya. Akibat dari ketidak-tahuan dan ketuna ilmuannya itu ia lalu mengeluhkan keadaan dirinya dan tidak menghayati makna ayat:

“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal hal itu baik bagimu, dan boleh jadi juga kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagimu. Dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (QS. 2, Al-Baqarah: 217).

(Barahin-i-Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 430-431, London, 1984).

Sumber: Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Neratja Press, 2017, hlm. 207-210