Memang benar bahwa doa dari  orang-orang  yang  diridhai  Tuhan selalu diterima. Bahkan sesungguhnya mukjizat akbar mereka adalah penerimaan doa itulah. Ketika hati mereka sedang merana di saat menghadapi kesulitan dan mereka kemudian memohon kepada Tuhan maka pada saat demikian tangan mereka seolah-olah menjadi tangan Tuhan.

Tuhan merupakan khazanah yang tersembunyi. Melalui hamba- hamba yang dikasihi-Nya tersebut Dia memperlihatkan Wujud-Nya. Tanda- tanda Ilahi akan diperlihatkan saat hamba yang dikasihi-Nya sedang teraniaya. Saat aniaya itu mendekati puncak deritanya, keadaan tersebut merupakan indikasi bahwa tanda-tanda Ilahi sudah mendekat di ambang pintu. Tidak ada manusia yang mencintai putranya melebihi kasih Allah kepada mereka yang sepenuhnya telah menjadi hamba-Nya. Dia akan memperlihatkan keajaiban-Nya kepada mereka dan memanifestasikan kekuatan bagi mereka layaknya harimau tidur yang terjaga. Tuhan itu tersembunyi dan hamba-hamba-Nya inilah yang menjadikan Dia berwujud. Dia itu berada di belakang ribuan tabir dan orang-orang pilihan ini yang mampu memperlihatkan Wujud-Nya.

Tetapi harus diingat, adalah salah jika beranggapan bahwa setiap doa dari mereka yang dikasihi Tuhan akan selalu dikabulkan. Sebenarnya hubungan mereka dengan Tuhan adalah sebagai sahabat, terkadang Dia mengabulkan permohonan mereka dan terkadang Dia akan menerapkan kemauan-Nya atas mereka. Hal itulah yang terjadi dalam suatu hubungan persahabatan. Suatu ketika seseorang akan menerima apa yang diusulkan sahabatnya dan melakukan apa yang diinginkannya, kali lain ia akan menetapkan apa yang diinginkannya sendiri. Dalam Al-Quran, Tuhan menjanjikan penerimaan doa para minimin dengan menyatakan:

“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doamu.”

(QS. 40, Al-Mumin: 61)

dan di tempat lain memerintahkan kepada mereka agar menerimakan takdir-Nya dengan berbesar hati, yaitu:

“Sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan dan kekurangan dalam harta benda dan jiwa dan buah- buahan, tetapi hai Rasul, berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah, tidak gelisah bahkan mereka berkata “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali.”

(QS. 2, Al-Baqarah: 156-157).

Dengan membaca kedua ayat-ayat ini maka kita bisa mengetahui bagaimana cara AllahSwt menanggapi doa dan bagaimana hubungan antara yang Maha Kuasa dengan hamba-Nya.

(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 20-21, London, 1984).