B A B     II

 

Wahyu, Ilham, Kasyaf Dan Mimpi

Aku beritahukan kepada kalian bahwa sesungguhnya semua pintu bisa saja telah tertutup namun pintu turunnya Ruh-ul-qudus tidak pernah ditutup.

Bukalah pintu hati kalian agar ruh itu bisa masuk ke dalamnya.

Tidak ada suatu kaidah apa pun yang dapat menjamin bahwa dengan mengikutinya maka manusia akan mutlak terpelihara

dari segala kesalahan. Karena itulah para filosof yang merangkai aturan- aturan logika dan mengemukakan cara-cara diskusi serta membangun argumentasi filosofi, selalu terjerumus dalam kesalahan dan mewariskan kepada manusia ketiadaan pengetahuan mereka tentang suatu pandangan, pendapat filosofi yang salah serta berbagai pandangan kosong. Hal ini menunjukkan bahwa adalah tidak mungkin mengungkap kebenaran setiap hal, lalu menentukan akidah yang benar berdasarkan telaah sendiri tanpa melakukan suatu kesalahan. Kami belum pernah mengetahui atau mendengar atau pun membaca ada perorangan di kitab sejarah mana pun yang terbebas dari kesalahan dalam keseluruhan pandangan dan renungannya. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin menemukan seseorang yang melalui penelitian tentang hukum alam dan yang menyelaraskan kesadaran dirinya sejalan dengan kondisi dunia, lalu sanggup membawa penelitiannya ke tingkat kebenaran tertinggi dimana tidak ada lagi kemungkinan munculnya kesalahan.

Kalau nyatanya manusia tidak mungkin berlepas diri dari kesalahan dengan mengandalkan pengetahuannya sendiri, sedangkan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Yang bersih dari segala kesalahan dan mengetahui kebenaran segala hal, lalu tidak menolong hamba-Nya melalui wahyu, bagaimana mungkin kita ini sebagai makhluk yang lemah dapat keluar dari kungkungan kegelapan ketuna ilmuan dan kesalahan, serta bagaimana membebaskan diri dari segala keraguan dan kecurigaan? Karena itu, aku dengan sangat yakin menyatakan bahwa kebijakan, kasih dan kecintaan Allah Swt, dari waktu ke waktu bilamana dalam pandangan- Nya sudah tepat saatnya, akan menciptakan manusia-manusia pilihan yang menjadi penerima wahyu demi penegakkan akidah hakiki dan menetapkan akhlak yang benar. Kepada manusia-manusia pilihan tersebut dikaruniakan kemampuan menyampaikan ajaran mereka kepada manusia lainnya sehingga tujuan bahwa umat manusia diciptakan agar mendapat bimbingan yang benar tidak akan kehilangan apa yang menjadi hak mereka.

(Purani Tehrirain; Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 20-21, London, 1984).