Pengakuanku jelas dan benar bahwa dengan mengikuti jalan yang lurus maka seorang pencari kebenaran bisa menjadi penerima wahyu Ilahi. Pengalaman diriku sendiri menjadi buktinya. Lagi pula setiap orang yang jernih berfikir akan memahami bahwa di dunia ini tidak ada lagi tingkat yang lebih tinggi dalam pemahaman Ilahi selain kondisi dimana seseorang bisa berkomunikasi dengan Tuhan-nya. Pada tingkatan inilah jiwa akan dipuaskan secara sempurna dan semua keraguan dan kecurigaan dihilangkan. Saat mencapai tingkatan ini seseorang akan memperoleh pengertian yang untuk itu ia telah diciptakan. Tahapan ini menjadi kunci surga yang membuktikan betapa dekat sang Maha Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya yang lemah. Kami mengetahui tingkatan ini berkat Nur yang bernama Al-Quran. Nur tersebut memberikan kabar gembira bahwa mata air wahyu Ilahi tidak pernah mengering. Semua penghuni bumi di Timur dan di Barat, jika mau mencari Allah yang Maha Luhur dan berdamai dengan-Nya serta menepis semua tirai yang ada di antara keduanya, pasti akan menemukan Diri-Nya. Bila ia bisa menemukan Tuhan-nya secara hakiki dan sempurna, maka Tuhan akan berbicara kepadanya. Kitab-kitab Veda tidak memberikan kesempatan kepada manusia untuk mencapai tingkatan tersebut karena katanya hanya terbatas kepada keempat orang Rishi yang, menurut kaum Arya Samaj, adalah pengarang atau penyusun kitab Veda tersebut. Ini adalah kekeliruan kitab Veda sebagaimana juga dengan banyak kekeliruan lain di dalamnya.

Sesungguhnya semua manusia sama fitratnya dan apa yang dimungkinkan bagi seseorang pasti mungkin juga bagi orang lain. Kedekatan seseorang kepada Tuhan dan pemahaman tentang Wujud-Nya, bisa pula diperoleh oleh orang lain karena kesamaan fitrat tersebut. Memang benar bahwa ada perbedaan dalam tingkat keluhuran, namun tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari keluhuran yang dapat dicapai di antara sesama manusia. Kalau ternyata ada yang sama sekali tidak memiliki kemampuan guna mencapai keluhuran kemanusiaan maka orang tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai termasuk makhluk manusia. Singkat kata, bisa saja ada perbedaan dalam kapasitas, tetapi tidak ada yang sama sekali tidak memiliki kapasitas tersebut.

(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 239-240, London, 1984).



Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang Yang membekali manusia dengan fitrat haus dan lapar akan pemahaman Ilahiah, telah mengaruniakan dua bentuk kemampuan guna menggapai pemahaman tersebut. Bentuk yang pertama adalah kemampuan intelektual yang bersumber pada otaknya, sedangkan bentuk yang kedua adalah kemampuan spiritual yang bersumber dari hati, dimana kemurnian ruhani yang bersangkutan amat tergantung kepada kemurnian hatinya. Segala sesuatu yang tidak mungkin ditemukan melalui kemampuan intelektual bisa dicapai melalui kemampuan spiritual. Kemampuan spiritual bisa berkembang menjadi demikian murninya sehingga berkat-berkat dari Sumber Segala Berkat akan tercermin di dalamnya. Untuk itu persyaratannya adalah yang bersangkutan memang mendambakan berkat tersebut dengan cara menghilangkan semua tabir dan rintangan kearah itu sehingga ia menjadi penerima rahmat pemahaman yang sempurna. Pengakuan dirinya tentang Tuhan tidak hanya terbatas kepada keyakinan semata bahwa alam ini pasti ada Pencipta-nya, tetapi juga karena telah mampu menyaksikan Wujud-Nya melalui pengamatan berbagai tanda- tanda-Nya yang akbar sehingga meyakini sepenuhnya bahwa sang Pencipta itu memang benar ada.

Hanya saja karena sebagian besar manusia tidak bisa terbebas dari berbagai rintangan dan mereka itu dijangkiti kecintaan dan kerakusan akan dunia, keangkuhan, takabur, rasa harga diri tinggi, kemunafikan, sifat mementingkan diri sendiri serta berbagai kelemahan akhlak lainnya sehingga secara sengaja mereka mengabaikan Tuhan dan para hamba-Nya dan secara sadar berpaling dari ketulusan, kejujuran dan kecintaan serta pengabdian kepada Allah Swt, maka mereka tidak memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan rahmat untuk komunikasi dengan Tuhan. Namun karunia Tuhan yang abadi yang tidak menginginkan manusia menjadi makhluk yang sia-sia, telah memungkinkan manusia terkadang mendapat kasyaf atau wahyu hakiki agar mereka bisa melihat terbukanya pintu gerbang untuk kemajuan ruhani. Tetapi kasyaf dan wahyu yang mereka terima tidak lantas menjadi indikasi bahwa mereka itu termasuk yang diridhai Tuhan, sepanjang tidak diikuti dengan tanda-tanda kecintaan dan rahmat Ilahi dan mereka belum disucikan dari segala kekotoran ego mereka. Mereka diberi kasyaf demikian hanya agar mereka mendapat dasar alasan untuk beriman kepada para Rasul Tuhan, karena jika tidak diberikan kesempatan untuk mendapat kasyaf atau wahyu seperti itu guna menguatkan keyakinannya maka mereka bisa menggugat Allah Yang Maha Kuasa bahwa mereka tidak ada memperoleh pemahaman realitas kenabian karena mereka tidak mendapat contoh-contoh yang bisa dilihatnya sendiri.

Sehubungan dengan itu maka sudah menjadi tradisi Tuhan untuk memberikan kasyaf dan wahyu kepada manusia, terlepas dari apakah yang bersangkutan itu bersifat baik atau jahat, muttaqi atau durhaka atau pun menjadi penganut dari agama yang benar atau yang salah, agar ia mempunyai contoh untuk menyesuaikan pandangannya yang bisa menjadikannya yakin dan mendorong dirinya kepada kemajuan keruhanian. Sang Maha Pencipta telah membentuk otak manusia sedemikian rupa dan membekalinya dengan kemampuan ruhaniah agar mampu juga menerima kasyaf dan wahyu hakiki. Hanya saja adanya kasyaf dan wahyu itu tidak lantas menjadi indikasi derajat keruhanian yang bersangkutan karena hanya merupakan contoh yang dapat dimanfaatkan bagi kemajuan ruhani.

(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 8-10, London, 1984).