Manusia ini diciptakan untuk suatu tujuan luhur yaitu pemahaman hakiki mengenai Wujud Tuhan karena atas dasar pemahaman itulah tergantung keselamatan kita. Pemahaman demikian akan mengkaliskan kita dari setiap cara tidak bersih yang meragukan dan menuntun kita ke tepi sebuah sungai yang jernih dan murni. Hal ini hanya dapat diperoleh melalui wahyu Ilahi.

Ketika sedang fana dengan diri kita sendiri, kita akan menyelam dalam dengan hasrat yang menggebu ke lubuk Wujud yang tersembunyi dan sampai di hadirat Tuhan untuk kemudian kembali sambil membawa beberapa tanda-tanda dan nur dari dunia tersebut.  Sesungguhnya apa yang dicemoohkan oleh dunia adalah satu-satunya cara yang bisa mempertemukan seketika seseorang dengan Wujud yang dikasihinya dimana Dia akan mengaruniakan ketentraman kepada para pecinta-Nya. Pengalaman demikian akan memupus kalbu seseorang dari segala bentuk keterbatasan egonya karena tanpa nur hakiki yang turun ke hatinya maka tidak mungkin seseorang memperoleh pencerahan. Justru karena ketidak-sempurnaan penalaran manusia serta keterbatasan pengetahuan menjadikannya membutuhkan wahyu.

(Izalah Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 326-329, London, 1984).



SANGKALAN: Kepercayaan yang mengatakan bahwa Tuhan menurunkan firman-Nya dari langit adalah suatu hal yang sama sekali tidak benar karena tidak ditopang oleh hukum alam, di samping manusia memang belum pernah mendengar adanya suara yang secara langsung datang dari atas. Yang disebut wahyu dianggap sebagai hasil buah fikiran yang muncul di benak manusia bijak sebagai hasil dari suatu telaah atau perenungan.

JAWABAN: Suatu kebenaran yang sudah dibuktikan dan dihayati dengan mata kepala sendiri oleh manusia-manusia bijak yang tidak terhitung jumlahnya dimana buktinya bisa dilihat oleh para pencari kebenaran pada setiap masa, tidak akan menjadi rancu hanya karena sangkalan seseorang yang tidak memiliki wawasan keruhanian. Bila kemampuan berfikir atau pengetahuan dangkal seseorang yang hatinya tertutup berbagai tirai ternyata tidak mampu membuktikannya, maka kebenaran tidak lantas dapat dianggap sebagai bertentangan dengan hukum alam.

Sebagai contoh, jika ada seorang yang tidak mengetahui kemampuan daya tarik-menarik dari besi berani (magnet) dan memang belum pernah melihatnya, lalu menyatakan bahwa magnet itu hanya sebutir batu dan karena ia tidak pernah melihat batu yang memiliki daya tarik- menarik, mengatakan bahwa kekuatan demikian bertentangan dengan hukum alam, apakah pernyataannya itu akan menjadi-kan sifat magnet diragukan? Jelas tidak. Pernyataan yang dilontarkan olehnya hanya akan membuktikan bahwa yang bersangkutan adalah seorang yang tak berilmu dimana ia menjadikan ketuna ilmuannya sebagai dasar untuk menisbikan suatu realitas dengan menolak bukti-bukti dari ribuan orang yang telah mengalaminya sendiri. Tidak mungkin setiap kaidah hukum alam bisa diuji oleh setiap perorangan.

Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan spesi manusia dengan berbagai fitrat nyata dan tersembunyi yang amat bervariasi. Sebagai contoh, sebagian orang mempunyai daya penglihatan yang amat baik, sebagian lain lemah matanya dan bahkan ada yang buta sama sekali. Mereka yang penglihatannya lemah jika mereka mendengar bahwa yang lainnya yang bermata sehat melihat suatu hal dari kejauhan (misalnya hilal di awal bulan) yang mereka sendiri tidak mampu mendeteksinya, tidak serta merta akan menyangkalnya karena penyangkalan mereka itu hanya akan menunjukkan kelemahan dirinya sendiri. Adapun mereka yang buta dengan sendirinya tidak bisa ikut berkomentar. Begitu pula dengan orang yang tidak memiliki indera penciuman, sepatutnya mempercayai orang- orang yang dianggap benar jika mereka berbicara tentang aroma yang harum atau busuk. Mereka tidak akan membantahnya karena mereka meyakini bahwa sedemikian banyak orang pasti tidak mungkin berdusta karena menyadari indera penciuman mereka sendiri cacat adanya.

Manusia juga memiliki perbedaan-perbedaan dalam fitrat tersembunyi dirinya. Kemampuan sebagian orang nyatanya amat rendah dan tertutup berbagai macam tirai. Sebagian lainnya sejak awal sudah dibekali nurani yang bersih dan luhur dimana mereka sudah terbiasa menerima wahyu Ilahi. Jika golongan yang disebut pertama di atas lalu menyangkal kemampuan pribadi dari mereka yang disebut belakangan, sama saja dengan seorang yang berpenglihatan buruk atau buta menyangkal hasil pandangan mereka yang bermata awas.

Ada beberapa cara guna meyakinkan seseorang yang menyangkal eksistensi daripada wahyu berdasarkan indera yang nyata. Sebagai contoh, seorang yang sejak lahir tidak memiliki indera penciuman dan menyangkal adanya aroma yang harum atau yang busuk, lalu menganggap orang lainnya sebagai salah atau pendusta, maka ia bisa disadarkan mengenai kesalahannya dengan cara sebagai berikut. Ia agar diminta memilih beberapa potong kain dimana pada yang sebagian dibubuhi wewangian dan yang lainnya tidak. Lalu potongan kain itu ditunjukkan kepada orang-orang normal lainnya sehingga dari pengalaman berulangkali ia akan memperoleh kesimpulan bahwa memang ada eksistensi aroma dan memang ada orang-orang yang bisa membedakan mana yang harum dan mana yang tidak mengandung aroma sama sekali. Dengan cara yang sama seorang pencari kebenaran bisa membuktikan eksistensi wahyu melalui pengalaman berulang.

Ketika kepada seorang penerima wahyu dibukakan  hal-hal  dan misteri yang tersembunyi yang tidak mungkin  diungkapkan oleh penalaran semata, atau melihat sebuah kitab yang berisikan banyak keajaiban yang tidak ditemui dalam kitab lainnya, seorang pencari kebenaran akan menyadari bahwa wahyu Ilahi itu merupakan suatu keniscayaan. Dalam hal manusia bersangkutan memiliki hati yang bersih maka ia sendiri dengan mengikuti jalan yang lurus, akan memperoleh pencerahan kalbunya sendiri, mengalami berbagai wahyu Ilahi sebagaimana halnya para wali serta sebagian pengetahuan tentang wahyu yang umumnya diturunkan kepada para Rasul Ilahi. Bagi para pencari kebenaran yang berhasrat untuk menerima Islam, aku bersedia memberikan sarana untuk pemuasan keinginan-tahunya. Kalau ada yang meragukan, silakan yang bersangkutan datang kepadaku dengan hati yang tulus. Allah Swt memiliki kemampuan sepenuhnya guna menzahirkan apa yang aku sampaikan dan Dia adalah Maha Penolong dalam segala bidang.