Press Release :

Dialog Muslim Menyambut Ramadhan :

Meneguhkan Persaudaraan Muslim, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan

Yogyakarta, 16 Mei 2017

Akhir-akhir ini semangat persaudaraan muslim, persaudaraan keindonesiaan dan kemanusiaan makin menghadapi banyak tantangan, terutama terkait persaingan politik kekuasaan di Indonesia maupun dampak globalisasi, kesenjangan sosial dan ketidaksiapan dalam menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat. Tantangan ini mestinya menuntun semua pihak untuk memandang ke dalam, untuk menghidupkan kembali ruh persaudaraan sebagai modal menghadapi berbgai tantangan bersama. Adanya pengabaian terhadap praktek-praktek diskriminasi pada kelompok minoritas dan berkembangnya paham kebencian terhadap liyan menjadi potret kelam ketidakmampuan banyak muslim meneladani contoh Nabi untuk menghidupi ruh persaudaraan, saling menghargai perbedaan paham dan dalam mengutamakan kepentingan bersama. Padahal dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad telah memberi contoh membangun hidup damai bersama, termasuk dengan kelompok yang berbeda kitab suci dan dengan mereka yang bukan ahlul kitab.

Terkait:   Internalisasi Budaya Damai pada Komunitas Muda di Ambon

Menanggapi hal ini, Paguyuban Penggerak Pendidikan Interreligius (PaPPIRus) yang mengembangkan pendidikan agama-agama yang terbuka pada perbedaan, bersama Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang mengupayakan tumbuhnya peradaban yang damai berkeadilan dan Pusat Studi Agama-agama  Universitas Kristen Duta Wacana (PSAA-UKDW) yang tengah mengembangkan multikulturalisme dan nilai-nilai kebhinnekaan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi generasi muda Indonesia. Tiga lembaga ini pada tanggal 16 Mei 2017 bergotong royong menyelenggarakan Dialog muslim Menyambut Ramadhan, dengan tema Meneguhkan Persaudaraan Muslim, Keindonesiaan dan Kemanusiaan.

Dialog ini dilaksanakan di Universitas Kristen Duta Wacana diselenggarakan dengan tujuan dapat mengingatkan dan memantik kembali semangat persaudaraan muslim yang terbuka dan bersama saudara-saudara kaum beriman agama lain mampu membangkitkan nasionalisme sebagai sarana pengembangan perdamaian dan pertumbuhan martabat kemanusiaan di Indonesia.

Terkait:   Peace In Diversity = Berbhinneka dalam Damai

Narasumber kegiatan ini adalah Prof. DR. KH. Muhammad Machasin, (Mustasyar PBNU), DR. H. Abdul Mukti (Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah),  DR Jalaluddin Rahmat (Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia) dan Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Maulana Abdul Basit, Shd. Peserta dialog adalah utusan dari ormas-ormas keagamaan NU, Muhammadiyah, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia, Ahlul Bayt Indonesia, Para Pendidik anggota PaPPIRus dan Peninjau Mahasiswa Paska Sarjana  Fakultas Teologi UKDW beberapa Pendeta dari Gereja Kristen Jawa dan Gereja Kristen Indonesia.

Jakarta, 16Mei 2017

Yendra Budiana

Juru Bicara & Sekretaris Pers
Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Email : [email protected]
Twiter : @AhmadiyahID

Terkait:   Peace In Diversity = Berbhinneka dalam Damai