Ateisme, Filsafat Barat, dan Muslim: Dorongan seorang reformis Islam melawan arus

Muslih Mau'ud tentang Ateisme

Ateisme, Filsafat Barat, dan Muslim: Dorongan seorang reformis Islam melawan arus

 “Dia akan sangat cerdas dan tanggap, berhati lembut, dan dipenuhi dengan pengetahuan sekuler dan spiritual.” (Bagian dari nubuat tentang Mushlih Mau’ud)

Ataul Fatir Tahir, Al Hakam
Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono

Jajak pendapat dan survei terus menunjukkan meningkatnya ateisme, termasuk di kalangan pemuda Muslim. Namun, menurunnya religiusitas bukanlah fenomena baru bagi umat Islam. Selama era kolonial, penyebaran filsafat ateis Barat, serangan terhadap agama, dan munculnya pertanyaan tentang ajaran Islam telah mengakar di seluruh India.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam [Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad] telah memperingatkan pada tahun 1897:

“Dajjal [yang dalam istilah agama lain ialah antikristus] sesungguhnya tak lain adalah orang-orang yang dikenal sebagai misionaris Kristen dan filsuf Eropa. Mereka bertindak seperti dua rahang Dajjal Mau’ud (dajjal yang dijanjikan) yang dengannya ia melahap iman manusia bagaikan ular piton. Pertama, orang-orang biasa dan bodohlah yang terperangkap dalam tipu muslihat para misionaris, lalu mereka yang lolos dari cengkeraman mereka, karena muak dengan keyakinan yang tercela dan salah, terperangkap dalam jaring para filsuf Eropa. Saya melihat bahwa orang-orang biasa lebih rentan terhadap kebohongan para ulama, sedangkan kaum intelektual lebih rentan terhadap kepalsuan yang disebarkan oleh para filsuf.” (Kitab-ul-Bariyyah, Ruhani Khaza‘in, Vol. 13, hlm. 252-253 [catatan kaki])

Puluhan pemuda Muslim terpelajar dipengaruhi oleh filsafat Barat yang baru dan serangannya terhadap agama. Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu (Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad), di masa mudanya, menyaksikan pengaruh kuat ini secara langsung ketika beliau melakukan perjalanan ke Mekah di awal usia 20-an, sebelum Khilafah.

Beliau bercerita tentang mahasiswa Muslim dan pengacara Muslim yang melakukan perjalanan ke Inggris dengan kapal yang sama yang beliau tumpangi. Saat berdiskusi tentang agama dengan mereka, mereka mengatakan bahwa mereka telah menjadi ateis yang fanatik, sesuatu yang sangat meresahkan Mahmud (ra) muda. (Tarikh-e-Ahmadiyyat, Vol. 3, hlm. 410)

Selama 52 tahun masa Khilafahnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu dengan kuat menegaskan keberadaan Tuhan tidak hanya bagi Muslim Ahmadi tetapi juga bagi banyak orang lainnya. Beliau memberikan langkah-langkah praktis untuk membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan, mendapatkan kedekatan dan persekutuan-Nya – membawa seseorang kepada keyakinan mutlak.

Namun, secara intelektual dan dengan cara yang unik, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menunjukkan keberadaan Tuhan sekaligus membuktikan bagaimana ajaran Islam dan realitas Islam mengalahkan gagasan-gagasan filosofis, pandangan dunia, dan cara hidup Barat yang anti-agama.

Tujuan tulisan ini bukanlah untuk menyajikan setiap argumen tentang keberadaan Tuhan yang dikemukakan Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu (karena argumen-argumen tersebut sangat luas dan terperinci), tetapi untuk menunjukkan bagaimana beliau membangun kembali kepercayaan diri para pemuda Muslim yang menjauh dari Islam dan menuju ateisme.

Salah satu premis yang akan dikemukakan Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu adalah jika ajaran Al-Qur’an terbukti sebagai cara hidup yang sempurna dan terbaik, maka terdapat realitas ilahi di balik Al-Qur’an.

Setelah menunjukkan bahwa ajaran Islam terus menunjukkan keunggulannya, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu tidak hanya membuktikan keberadaan Tuhan, tetapi juga mengibarkan bendera Islam di atas semua filsafat lainnya.

Dengan cara yang menakjubkan, beliau melanjutkan untuk memenuhi pernyataan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam berikut: “Demikianlah aku digerakkan oleh Allah untuk memasuki medan pertempuran ilmu pengetahuan dan kemajuan akademis ini dengan berbekal persenjataan sastra dan juga untuk menunjukkan keberanian spiritual Islam dan menunjukkan keajaiban kekuatan batinnya …” (Malfuzat, Vol. 1, hlm. 58).

Penyebab Atheisme Modern

Dalam pidatonya, Hasti-e-Bari Ta‘ala (Keberadaan Tuhan), yang disampaikan pada tahun 1921, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu mengatakan bahwa meningkatnya dosa di zaman modern menyebabkan manusia menjauh dari Tuhan; dosa mengikis spiritualitas (keruhanian), yang mengarah pada ateisme (ketidakpercayaan kepada Tuhan).

Kedua, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menjelaskan bagaimana filsafat Barat, yang pada dasarnya ateis, menyebabkan ketidakpercayaan kepada Tuhan menyebar. Secara historis, kebangkitan ilmu pengetahuan di Barat ditentang oleh para pendeta Kristen karena penemuan-penemuan baru bertentangan dengan pemahaman teologis mereka tentang alam semesta.

Misalnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu berbicara tentang model heliosentris alam semesta yang dikemukakan Galileo – karena bertentangan dengan teologi Kristen (dengan Bumi sebagai pusat dan Matahari yang berputar mengelilinginya), beliau berada di bawah tekanan ekstrem dan dipaksa untuk secara terbuka melepaskan penemuannya, atau menghadapi hukuman mati.

Hal ini menciptakan senja ateisme di kalangan ilmuwan dan peneliti – mereka mulai berpikir. Hudhur bersabda:

“Jika fakta-fakta yang terbukti dan mapan – yang dapat diamati dengan mata – bertentangan dengan Firman Tuhan, maka Tuhan tidak ada karena bagaimana mungkin Firman Tuhan dan ciptaan-Nya saling bertentangan?” (Hasti-e-Bari Ta‘ala, hlm. 269)

Para filsuf, yang sudah skeptis terhadap keberadaan Tuhan, semakin kuat dalam penentangan mereka terhadap agama dan bergabung dengan mereka yang membuat penemuan-penemuan baru dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini menyebabkan agama kehilangan pengaruhnya dan kaum terpelajar membenci agama Kristen.

Setiap penemuan baru merupakan cara untuk menyangkal keberadaan Tuhan dan hal ini tercermin dalam tulisan-tulisan para ilmuwan, peneliti, dan filsuf Barat; permusuhan mereka terhadap agama Kristen dan agama membawa mereka ke ekstrem yang lain.

Terkait:   Pengalaman Pribadi Dengan Tuhan

Para pendeta Kristen melabeli penemuan-penemuan yang dibuat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan, sementara para ilmuwan dan filsuf memanfaatkan hal ini untuk berarti bahwa setiap penemuan membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. (Hasti-e-Bari Ta‘ala, hlm. 270)

Pengkajian Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu tentang akar ateisme modern yang disampaikan pada tahun 1921 sungguh mencengangkan. Para akademisi dan peneliti modern telah mengonfirmasi penjelasan historis yang diberikan Hudhur pada tahun 1921. Salah satu contohnya adalah buku “The Twilight of Atheism: The Rise and Fall of Disbelief in the Modern World” karya teolog dan Peneliti Senior di Oxford, Alister McGrath, yang melukiskan gambaran serupa dalam bukunya yang ditulis pada tahun 2004.

Agama dan Sains: Solusi Al-Quran

Namun, dilema yang dihadapi dunia Kristen antara agama dan sains bukanlah masalah bagi Islam. Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menjelaskan:

“Keunggulan kesepuluh yang dimiliki ajaran Al-Quran adalah dengan menyatakan Firman Tuhan dan ciptaan-Nya sebagai perpanjangan dan padanan satu sama lain; Al-Quran membawa agama ke dalam ranah pengalaman dan pengamatan, meskipun sebelumnya [Al-Quran, agama] dinyatakan sebagai sesuatu yang supranatural.

“Al-Quran Suci menyatakan bahwa bumi adalah ciptaan Tuhan dan agama adalah Firman Tuhan dan mustahil bagi ciptaan Tuhan dan Firman-Nya untuk saling bertentangan. Karena itu, setiap kali muncul masalah, hubungkan Firman Tuhan dan ciptaan-Nya. Jika keduanya selaras, maka ketahuilah bahwa itu adalah kebenaran dan jika tidak, maka realitasnya belum diungkapkan kepadamu.

Poin ini menghilangkan konflik antara sains dan agama karena sains adalah ciptaan Tuhan dan agama adalah firman-Nya. Mustahil bagi Firman Tuhan dan ciptaan untuk tidak selaras. Dan kapan pun keduanya bertentangan, maka kita tersandung dalam memahami firman-Nya atau kita keliru dalam memahami ciptaan-Nya; dari keduanya, kesalahan apa pun yang diperbaiki, harmoni akan terjalin kembali [di antara keduanya]. Poin penting ini memungkinkan agama meninggalkan ranah filsafat dan memasuki ranah observasi.” (Inqilab-e-Haqiqi, hlm. 108-109)

Dalam buku beliau, Undangan kepada Ahmadiyah (Dakwatul Amir), Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menunjukkan bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam menyajikan penemuan-penemuan baru dari Al-Qur’an di masa ketika umat Islam menganggapnya berlebihan atau tidak memiliki kekuatan untuk mengungkap lebih banyak kebenaran – bagi umat Islam, Al-Qur’an kini tak bernyawa. Hudhur menjelaskan:

“Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam menunjukkan dengan meyakinkan bahwa sains dan filsafat modern tidak dapat mengalahkan Al-Qur’an. Mereka tidak dapat menunjukkan kontradiksi apa pun antara Al-Qur’an dan akal. Sains berkaitan dengan alam, karya tangan Tuhan. Al-Qur’an adalah Firman Tuhan. Baik karya tangan-Nya maupun Firman-Nya adalah milik-Nya. Tidak mungkin ada kontradiksi di antara keduanya. Jika Firman Tuhan tampak bertentangan dengan fakta-fakta alam, itu pasti karena itu bukan firman-Nya yang sejati, atau jika memang demikian, itu tidak dapat dipahami dengan benar. Firman Tuhan yang sejati tidak dapat mengajarkan apa pun yang bertentangan dengan fakta-fakta alam.

Publikasi penemuan-penemuan tentang Al-Qur’an ini menghasilkan sebuah keyakinan baru, keyakinan baru tentang Al-Qur’an. Para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam saat ini sama sibuknya dengan yang lain dalam memperoleh pengetahuan modern, pengetahuan tentang ilmu-ilmu sosial dan filsafat. Namun pada saat yang sama, keyakinan mereka tentang keyakinan dan aturan yang diajarkan oleh Al-Qur’an sama kuatnya seperti yang pernah mereka miliki dalam sejarah Islam.” (Dakwatul Amir, hlm. 308-309)

Penemuan-penemuan yang dilakukan oleh Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam tidak akan dirinci dalam artikel ini, tetapi tersedia untuk dibaca oleh semua orang. Salah satu contohnya adalah penemuan menakjubkan tentang bagaimana Surah al-Takwir menggambarkan, dengan sangat rinci, era penemuan dan penemuan modern.

Daya Tarik Filsafat

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu dalam Hasti-e-Bari Ta’ala mencatat masalah mendasar dengan munculnya pemikiran filsafat anti-agama, obsesi di sekitarnya, dan mengapa orang-orang begitu tertarik padanya. Hudhur menjelaskan:

“Ada masalah lain dengan tren filsafat – mereka hanya berfungsi sebagai sarana penyegaran mental; tidak ada tindakan yang diperlukan – oleh karena itu banyak orang tertarik padanya. Sebaliknya, merenungkan agama mengarah pada [melakukan] perbuatan baik; sesuatu yang sulit bagi orang-orang.

“Misalnya, seseorang yang merenungkan Islam dan menerima keindahannya serta mulai meningkatkan keimanannya, juga harus meningkatkan amal salehnya. Jika mereka memulai dengan amal wajib, setelah belajar lebih lanjut, mereka akan mulai melakukan amal saleh juga.”

Saat ini, penjelasan ini dapat dilihat di semua aspek masyarakat modern. Orang-orang – termasuk Muslim, yang tidak menjalankan agama mereka dengan benar – cenderung menghindari sisi praktis yang dianjurkan agama.

“Terlalu banyak usaha”; “Saya suka kebebasan saya”; “Mengapa saya harus berbagi kekayaan saya” dan “Saya tidak bisa melepaskan kebiasaan saya saat ini” adalah tanggapan umum yang sering didengar dari orang-orang yang menentang agama. Bukan tanpa alasan bahwa orang-orang religius, dibandingkan dengan ateis, lebih cenderung menjadi sukarelawan (www.theosthinktank.co.uk/comment/2019/07/15/selfless-or-selfserving-the-distinctive-character-of-religious-volunteering) atau bahkan lebih banyak beramal.

Akal, Rasionalitas, dan Emosi

Periode Pencerahan berfokus pada rasionalitas dan akal, sementara mengesampingkan Tuhan. Festival Akal yang diadakan setelah Revolusi Prancis di Notre Dame menunjukkan bagaimana “dewa” baru ateisme adalah akal dan rasionalitas.

Terkait:   Apakah Tuhan ada? Pembahasan tentang Keberadaan Tuhan

Dalam sebuah pidato (diterbitkan di Al Fazl, 24 April 1932), Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menunjukkan bagaimana baik rasionalitas maupun emosi manusia tidak dapat menjadi sarana untuk membimbing umat manusia secara independen, karena keduanya sering kali berbenturan. Hudhur mengatakan rasionalitas dan emosi saling bertentangan ketika digunakan sebagai sarana bimbingan.

Bahkan dalam perang, rasionalitas dan logika tidak membawa seseorang menuju kesuksesan. Hal rasional yang harus dilakukan dalam perang adalah berlari dan menyelamatkan nyawa – tetapi kemenangan berada di tangan mereka yang memiliki ikatan emosional dan siap mengorbankan nyawa demi tujuan tersebut. Keberanian dan kepahlawanan tidak muncul dari akal, melainkan emosi. Jika orang tidak memiliki semangat berkorban, yang dihasilkan dari emosi, mereka tidak akan pernah berhasil, kata Hudhur.

Kemudian, emosi juga dapat menguasai orang-orang ketika pendekatan rasional dibutuhkan. Misalnya, Hudhur mengatakan banyak orang yang mengkhotbahkan pentingnya rasionalitas dan mendesak orang lain untuk bersikap logis dan rasional, seringkali akan mengabaikan semua khotbah mereka ketika menyangkut anak-anak mereka, sahabat dan keluarga – mereka akan melakukan ketidakadilan dan membiarkan emosi menguasai mereka serta mengutamakan bias orang-orang terdekat mereka. Oleh karena itu, rasionalitas dan akal budi tidak menciptakan masyarakat yang bermoral.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu bersabda bahwa diperlukan perantara ketiga untuk menyatukan rasionalitas dan emosi agar keduanya bekerja secara efektif – perantara ketiga adalah wahyu ilahi yang membimbing rasionalitas dan emosi serta memungkinkan keduanya bekerja secara harmonis, seperti mesin uap yang menggunakan api dan air (dua elemen yang berlawanan) secara efektif dan saling melengkapi.

“Dalam setiap perselisihan, dibutuhkan hakim ketiga. Demikian pula, hakim ketiga dibutuhkan untuk pertikaian antara rasionalitas dan emosi manusia – dan itulah wahyu ilahi.” “[Wahyu ilahi] menempatkan keduanya pada tempatnya.”

Menjelaskan hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu merujuk pada negara-negara Eropa yang, seiring waktu, harus menerima ajaran Islam tentang hak-hak perempuan, ekonomi, dan hubungan internasional. Orang Eropa akan mengatakan pengalaman telah membawa mereka pada kesimpulan ini dan akan mengabaikan ajaran Islam, tetapi kenyataannya Islam telah mengajarkan moral ini 1.400 tahun yang lalu dan mereka terpaksa menerimanya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu bersabda bahwa wahyu Allah SWT tidak bertentangan dengan rasionalitas, tetapi akal manusia dapat keliru dalam memahami. Beberapa orang menempatkan akal dan gagasan filosofis mereka sendiri di atas Al-Qur’an dan menganggap pemahaman pribadi mereka sebagai kebenaran. Orang-orang seperti itu, kata Hudhur, jatuh ke dalam kesesatan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu berpesan bahwa jika seseorang tidak memahami firman Allah SWT, hendaknya mereka bertanya kepada orang yang memahaminya, melakukan penelitian, dan mencari tahu sendiri makna di balik firman Allah SWT sebelum mengambil kesimpulan yang salah.

Islam: Agama Fitrati Dunia

Pemuda Muslim mempertanyakan prinsip-prinsip Islam dan sering kali terjerumus ke dalam kerumitan ketika menghadapi budaya dan etika Barat. Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu akan membangun kembali keyakinan mereka dan menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak dapat dihindari oleh umat manusia.

Berpidato di hadapan para mahasiswa Muslim India di London pada tahun 1924, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu mengatakan bahwa akal sehat dan pengalaman dunia membuktikan bahwa agama Islam merupakan kecenderungan alami manusia.

“Islam adalah agama yang jika seseorang, tanpa prasangka, merenungkannya secara mendalam, maka fitrah manusianya akan mendorong mereka untuk menerima Islam. Islam telah datang untuk seluruh dunia dan merupakan satu-satunya agama universal. Allah SWT telah menganugerahi manusia dengan akal sehat dan kekuatan untuk membuat keputusan sehingga jika mereka menggunakan kemampuan ini, mereka dapat dibimbing …

“Selalu ingat, siapa pun yang berusaha dengan ikhlas, mereka akan selalu mencapai tujuan sejati mereka dan meskipun menyimpang dari jalan [yang benar], mereka masih dapat menemukan jalan kembali. Allah SWT telah menetapkan aturan ini dalam Al-Qur’an:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Artinya, barangsiapa yang berikhtiar menuju Kami, niscaya Kami akan membukakan jalan bagi mereka yang beriman kepada Kami… Maka, untuk meraih kesuksesan, diperlukan ikhtiar, dan ikhtiar ini harus sesuai dengan apa yang telah Allah SWT tetapkan – yaitu dengan menggunakan akal dan kebijaksanaan yang telah Allah berikan.

“Kebenaran Islam telah dibuktikan oleh akal dan pengalaman, dan saya yakin, jika wajah Islam yang sejati terungkap, maka Islam pasti akan menyebar di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, dan seluruh dunia. Karena Islam telah datang untuk seluruh dunia.” (Al Fazl, 24 Oktober 1924, hlm. 6)

Pendekatan Hudhur terhadap ateisme menunjukkan bagaimana Islam tidak hanya membawa seseorang kepada persahabatan dengan Tuhan, tetapi juga menyajikan ajaran-ajaran yang paling bermanfaat bagi umat manusia. Jika ajaran Islam terus-menerus terbukti kebenarannya, wajar jika seseorang mulai percaya bahwa penulis Al-Qur’an pastilah Sang Pencipta umat manusia, karena kitab suci semacam itu bukanlah sabda manusia.

Perselisihan antara Pandangan Islam dan Barat

Dalam pidato tentang perbandingan antara pandangan Islam dan Barat, yang disampaikan pada 21 Agustus 1949 (Anwar-ul-Ulum, Vol. 21, hlm. 255-260), Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menjelaskan bagaimana Barat dipaksa untuk mengadopsi prinsip-prinsip Islam yang selama ini mereka anggap remeh dan abaikan.

Terkait:   Bagaimana Berdiskusi dengan Ateis, Berikut 7 Prinsipnya

Setelah memaparkan ayat-ayat Al-Qur’an (Surah al-Maidah, 5: Ayat 4, Ayat 49-52) yang menyatakan bahwa Islam adalah ideologi dan cara hidup yang paling lengkap dan bermanfaat, Hudhur bersabda:

“Dalam ayat-ayat ini, Allah SWT, dengan kata-kata yang jelas, telah melarang [umat beriman] untuk mengikuti para legislator dan filsuf modern dan telah berfirman, semua kesuksesan kalian terletak pada beramal berdasarkan Islam dan Al-Quran, bukan dengan mengikuti para ahli logika, filsafat, ekonomi, sains, dan penemu.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu kemudian menjelaskan bagaimana ajaran Islam menghadapi benturan dengan cita-cita Barat dalam masalah agama, politik, dan ekonomi. Namun, ajaran Barat selalu dikalahkan oleh ajaran Islam. Sebagai contoh, kebolehan perceraian ditertawakan oleh para filsuf dan akademisi Barat yang hebat, catat Hudhur (ra).

Mereka mengatakan kebolehan perceraian menciptakan keretakan antara hak-hak cinta antara seorang pria dan seorang wanita. Namun, Amerika telah mulai memberlakukan undang-undang perceraian, Inggris, pada saat itu, secara perlahan mengizinkan perceraian melalui undang-undang dan Rusia juga mulai mengizinkan perceraian. Mereka telah dipaksa untuk mengikuti Islam dalam mengizinkan perceraian. (Undang-undang kebolehan perceraian, seperti yang kita lihat sekarang di Inggris, baru terwujud pada tahun 1969 melalui Undang-Undang Reformasi Perceraian.)

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu mengatakan perceraian di Amerika, mengikuti undang-undang barunya, akan terjadi bahkan untuk masalah-masalah kecil, sedangkan Islam telah menetapkan berbagai syarat untuk perceraian (untuk melindungi hubungan dan memastikan perceraian tidak terjadi karena hal-hal sepele). Dengan demikian, pertikaian antara Islam dan Barat mengenai kebolehan perceraian justru berujung pada kemenangan Islam.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menjelaskan bahwa Islam, secara gamblang, melarang minum alkohol sekaligus mengakui beberapa manfaatnya, tetapi juga menyatakan bahwa keburukan alkohol lebih besar daripada manfaatnya. Barat juga mempermasalahkan ajaran ini dan mengatakan bahwa Islam tidak memahami kebahagiaan dan kenikmatan manusia, sehingga Islam adalah agama yang tidak mengakui kodrat manusia.

Meskipun Barat menentang keras larangan alkohol dalam Islam, Amerika tetap melarang alkohol dan, sebagai hasilnya, menjadi saksi ajaran Islam yang agung ini. Hal ini membuktikan kebenaran Islam dan menunjukkan bahwa ajaran Al-Qur’an memiliki Tuhan di baliknya. Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu juga menunjukkan bahwa ketika Islam melarang alkohol, Islam dapat melarangnya selamanya. Namun, Amerika terpaksa mencabut Undang-Undang Larangan Alkohol hanya setelah 15 tahun – membuktikan bahwa ajaran Islam abadi dan lestari.

Poligami juga menunjukkan hikmahnya di zaman modern, catat Hudhur. Pidato ini disampaikan pada tahun 1949, dan pemisahan anak benua India baru saja terjadi. Hudhur bersabda, jika umat Islam di India memperhatikan dakwah, mereka bisa saja meng-Islamkan separuh India. Dan seandainya mereka menerapkan ajaran poligami, mereka bisa saja meng-Islamkan separuh sisanya.

Namun, sungguh disayangkan umat Islam menjadi takut kepada umat Kristen dan Eropa terkait hal ini, dan mulai mengatakan bahwa karena poligami merupakan praktik bangsa Arab, Nabi Muhammad saw. mengizinkan untuk menikahi empat istri pada masa itu. Seandainya umat Islam memperhatikan ajaran ini ketika pertikaian dan perpecahan mulai terjadi di India, mereka mungkin bisa melihat masa depan yang berbeda, jelas Hudhur.

Dalam tulisan-tulisan lain, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu mencatat bagaimana setelah perang dunia, karena tingginya angka kematian kaum pria, banyak negara Eropa melihat kaum wanita (yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada pria) ingin menikahi bahkan pria yang sudah beristri – hal ini dipublikasikan di surat kabar. Sekali lagi, ini membuktikan realitas praktis ajaran Islam tentang poligami.

Larangan perjudian dalam Islam ditertawakan oleh Barat dan dianggap tidak perlu. Membahas ejekan ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu berkata: “… tunjukkan negara mana saja saat ini yang tidak membuat undang-undang tentang perjudian.

Mereka tidak dapat meninggalkannya begitu saja karena mereka merasa malu melepaskannya secara tiba-tiba; namun, mereka membuat undang-undang yang melarang jenis perjudian ini dan itu atau permainan ini dan itu dilarang. Dengan demikian, mereka telah sampai pada apa yang diajarkan Islam tetapi sekarang mereka menganggap pelarangan perjudian secara langsung sebagai penghinaan bagi mereka.”

Dengan memberikan keyakinan, melalui bukti yang dapat diamati, kepada pemuda Muslim tentang agama mereka dan menunjukkan kebodohan praktis filsafat ateis Barat, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu mampu menyelamatkan umat Islam yang terperangkap dalam jaring para filsuf ateis.

Keyakinan ini terlihat pada pemuda Muslim Ahmadi yang paling unggul dalam pendidikan sekuler dan religiusitas mereka. Mereka telah diberikan langkah-langkah praktis oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu – Pembaharu yang Dijanjikan – tentang cara membangun hubungan mereka dengan Allah dan dibekali dengan bukti-bukti intelektual untuk secara tegas melawan ateisme.

Tulisan-tulisan Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu tentang ateisme sangat luas dan tersebar dalam puluhan ceramah, tulisan, dan diskusi. Membacanya menunjukkan betapa Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu sungguh diberkahi dengan wawasan yang mendalam tentang masalah spiritual dan sekuler, sebagaimana dijanjikan Allah dalam nubuat Muslih-e-Mau’ud ra.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.