Nubuwwat atau kenabian adalah suatu kurnia dan nikmat yang tertinggi dari Allah Swt. yang semenjak dahulu kala diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih dan diridhai-Nya. Mereka yang terpilih ini dinamakan Nabi dan Rasul selaku petugas Allah Taala untuk memperbaiki keadaan ummat manusia dan menghubungkan kembali dengan Khalik-nya.

Adalah sunnatullah, bahwasanya apabila kegelapan dan keburukan telah sampai ke puncaknya, Dia mengutus Nabi-Nya untuk menghilangkan kegelapan dan memperbaiki keburukan-keburukan itu. Dengan kedatangan mereka bertukarlah kegelapan menjadi terang dan keadaan yang buruk menjadi baik.

Seorang mukmin akan menetapkan langkah keimanannya kepada Rasul-rasul didasarkan kepada ayat berikut ini :

AlBaqarah 286

“Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-nya, dan begitu pula orang-orang mukmin; semuanya beriman kepada Allah swt. dan Malaikat-malaikat-Nya, dan Kitab-kitab-Nya, Dan Rasul-rasul-Nya mereka mengatakan, ‘Kami tidak membeda-bedakan di antara seorang pun dari Rasul-rasul-Nya yang satu terhadap yang lainnya;’ dan mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, kami mohon ampunan Engkau dan kepada Engkau kami akan kembali.” (Al-Baqarah [2] :286)

Dalam ayat yang lain diterangkan:

Nisa 151_152“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah. dan Rasul-rasul-Nya dan mereka ingin membedakan antara Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan mereka mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami ingkar kepada sebagian lain,” dan mereka ingin mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu. Mereka inilah orang-orang sebenar-benarnya kafir (ingkar); dan kami sediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kafir (ingkar)” (QS An-nisa [4]:151-152)

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalām, pendiri Jemaat Ahmadiyah menyebutkan:

Anjami Atam 73

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah berbuat baik kepada kami dengan mengutus para Rasul dan Kitab-kitab dan telah menjadikan Nabi-nabi itu sebagai tali untuk kemah-kemah tauhid dan menghubungkan di belakang mereka wali-wali supaya menjadi paku bagi tali-tali dan shalawat dan salam kepada sebaik-baik dan semulia-mulia Rasul, dan juga bagi Penerus yang menghidupkan missi Nabi Muhammad-Khātamunnabiyyīn; Pemberi syafa’at untuk orang-orang yang berdosa dan beliau itu lebih utama dari semua orang awwalīn dan ākhirīn dan para pengikutnya yang suci dan yang disucikan (Anjaami Atham, hal. 73).

Nabi dan Rasul itu dibangkitkan Allah SWT. pada setiap bangsa (Q.S. An Nisaa’: 48, An Nahl: 37, 35:25). Jumlah nabi yang diutus Allah SWT. yang diutus ke dunia ini sangat banyak jumlahnya. Menurut sabda Nabi Muhammad saw. “Para nabi itu jumlahnya ada seratus dua puluh empat ribu” (Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Al-Baihaqi dalam Syu’batul-Iman As-Sunan Abu Dzar dan Kanzul-Umal Juz XI/32276). Namun perlu diketahui tidak semua nama nabi dan rasul itu tertulis di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah SWT. di dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa’: 165

وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلاً لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيماً

Dan ada rasul-rasul yang telah Kami beritahukan kepada engkau sebelum ini, dan ada rasul-rasul yang tidak Kami beritahukan kepada engkau. Dan Allah telah berfirman kepada Musa dengan firman Nya.”

Apabila nabi dan rasul datang di tengah-tengah kita sekalian, kita dapat mengenalinya dengan mengenali ciri-ciri khasnya, yaitu:

1. Dia dipilih oleh Allah SWT. QS. Al-Hajj: 76 :

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia”.

 2. Dia menerima wahyu dari Allah SWT. Diterangkan di dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi: 110

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”.

 3. Dia mengumumkan/mendakwakan diri sebagai nabi dan rasul. Diterangkan dalam surat Al-A’raaf: 159

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

”Katakanlah, Hai Manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kamu sekalian”

4. Dia membacakan wahyu yang dibawanya, kemudian mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada umatnya. Dalam surat Al-Jumu’ah: 3

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dia-lah yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka tanda-tanda-Nya , dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah…”

5. Ciri yang paling khas dari pada kedatangan seorang utusan adalah pada awal pendakwaannya dia akan di perolokan dan banyak penolakan-penolakan. Dalam surat Yasin: 31, dan surat Az-Zukhruf: 8

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون

“Ah, sayang bagi hamba-hamba-Ku! Tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.” (Q.S. Yaasin: 31).

وَمَا يَأْتِيهِم مِّن نَّبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون

“Dan tidak pernah datang kepada mereka seorang nabi, melainkan mereka selalu memperolok-olok.” (Q.S. Az-Zukhruf: 8)

Seorang Nabi adalah mendapatkan perlindungan dari Allah swt dan memperoleh kemajuan dalam setiap visi dan misinya.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ، لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ، ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ ، فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

Dan sekiranya ia mengada-adakan atas nama kami sebagian perkataan. Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan. Kemudian, tentulah kami memotong urat nadinya; dan tiada seorang pun di antaramu dapat mencegah darinya. (Q.S. Alhaqqah [69]: 45-48)

(Visited 239 times, 1 visits today)