Hadhrat Hamzah putra Abdul Muthallib

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam mengenai Kedudukan Para Sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; Pembahasan para Sahabat yang mengikuti perang Badr; Awal Mula Masuk Islamnya Hadhrat Hamzah; Penjelasan Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ‘anhu berdasarkan riwayat Tarikh (sejarah); Kesabaran dan pengaruh ru’b (wibawa) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi penganiayaan Abu Jahl; Kutipan pendapat Orientalis (peneliti ketimuran), Sir William Muir mengenai pribadi Hamzah; penjelasan berdasarkan Kitab-Kitab Tarikh dan Hadits.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 Mei 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam bersabda dalam suatu kesempatan, “Bagaimana keadaan bangsa Arab dari segi tamaddun (peradaban), akhlak dan keruhanian pada saat pengutusan Hadhrat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam? Mereka saling berperang satu terhadap yang lain, meminum minuman keras, berzina dan merampok. Bahkan, di setiap rumah tersebar segala keburukan. Tidak ada yang dapat meraih hubungan dengan Allah Ta’ala dan berakhlak mulia. Setiap orang menjadi Firaun dalam batas tertentu. Namun, setelah kedatangan Rasulullah (saw), ketika mereka masuk Islam, di dalam diri mereka sedemikian rupa timbul kecintaan Ilahi dan semangat persatuan sehingga setiap orang rela mati di jalan Allah Ta’ala. Mereka menampilkan hakikat baiat dan memperlihatkan teladannya melalui amal perbuatan.”

Beliau as bersabda: “Sedemikian rupa para sahabat memperlihatkan contoh dalam kesetiaan yang permisalannya tidak kita dapatkan sebelum itu dan juga sesudahnya. Namun, jika Allah Ta’ala menghendaki, Allah dapat melakukannya lagi. Dengan teladan ini, orang-orang lain mendapatkan faedah.”

Beliau bersabda: “Allah Ta’ala dapat menciptakan contoh seperti itu di dalam Jemaat ini (yaitu Jemaat beliau). Betapa indahnya firman Allah Ta’ala dalam menyanjung para sahabat radhiyAllahu ‘anhum, مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبْدِيلًا ‘Minal mu`miniina rijaalun shadaquu maa ‘aahaduLlaha ‘alaihi faminhum man qadha nahbahu wa minhum man yantazhiru wa maa baddaluu tabdiilaa(n).’ – ‘Di antara orang-orang mukmin terdapat mereka yang memenuhi apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Diantara mereka ada yang telah mengorbankan jiwanya dan sebagiannya lagi siap untuk menyerahkan nyawanya. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).’ (Surah al-Ahzaab, 33:24).”

Beliau (as) bersabda dalam memuji para sahabat, “Jika telah dikumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an Syarif niscaya tidak akan ditemukan keteladanan yang lebih baik dibanding keteladanan para sahabat tersebut. (sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat tersebut.)”[1]

Dengan demikian teladan pengorbanan para Sahabat ini bagi kita merupakan teladan. Sejak beberapa waktu lalu saya menyampaikan perihal kehidupan para sahabat di dalam rangkaian khotbah. Sebagiann dari mereka ialah para sahabat yang ikut dalam perang Badar (Ahlul Badri) dan beberapa yang bukan Ahlul Badr. Namun saya terpikir untuk terlebih dahulu menyampaikan mengenai para sahabat Ahlul Badri karena mereka memiliki maqom yang khas. Mereka adalah wujud yang diridhai Allah dan meraih keridhaan Allah Ta’ala yang khas. Pada hari ini saya akan sampaikan perihal Hadhrat Hamzah bin Abdul Muthallib  (حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ) radhiyAllahu ‘anhu.[2]

Terdapat keterangan rinci dalam sejarah dan Hadits perihal bagaimana kehidupan beliau dan masuk Islamnya beliau begitu juga kisah syahidnya beliau. Beliau dikenal dengan gelar Sayyidusy Syuhadaa (pemimpin para syahid, سيد الشهداء). Beliau dijuluki juga dengan gelar AsaduLlah (singa Allah, أسد الله) dan Asadur Rasul (singanya Rasul, أسد الرسول).

Hadhrat Hamzah radhiyAllahu ‘anhu adalah putra pemimpin Quraisy, Abdul Muthallib (عبد المطلب). Beliau merupakan paman Rasulullah. Ibunda Hadhrat Hamzah, bernama Halah (هالة) binti Wuhaib bin Khuwailid, beliau sepupu ibunda Rasul, Hadhrat Aminah binti Wahb bin Khuwailid. Menurut riwayat, Hadhrat Hamzah berusia lebih berumur dua atau empat tahun dari Rasulullah. Hadhrat Hamzah juga adalah saudara sepesusuan Rasulullah (saw). Seorang perempuan hamba sahaya bernama Tsuwaibah (ثُوَيْبَة) menyusui keduanya ketika kecil. Hadhrat Hamza juga merupakan saudara angkat Rasulullah (saw). Hadhrat Hamzah mendapatkan taufik untuk baiat pada tahun 6 kenabian, yaitu paska pendakwaan kenabian Rasulullah di masa-masa Darul Arqam (ta’lim dan tarbiyat di Rumah Arqam).

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ‘anhu menjelaskan perihal kisah baiatnya beliau berdasarkan sejarah dengan cara beliau yang khas. Setelah menyimak hal ini saya akan sampaikan ringkasannya sebagian dan sebagiannya lagi secara rinci supaya dengan menyimaknya orang-orang dapat memahami bagaimana Hadhrat Hamzah baiat masuk Islam, apa penyebabnya dan bagaimana timbul ghairat beliau ketika Abu Jahl menganiaya Rasulullah.

Peristiwa tersebut dikisahkan sebagai berikut bahwa satu kali Rasulullah (saw) sedang duduk di atas sebuah batu antara bukit Safa dan bukit Marwa. Beliau hanyut dalam perenungan tentang bagaimana cara menegakan ketauhidan Allah Ta’ala. Datanglah Abu Jahl menghampiri beliau dan mengatakan: “Muhammad! Kamu tidak menghentikan perkataan dan perbuatanmu!” Setelah itu, dia melontarkan cacian kotor kepada Rasulullah. Namun beliau Saw mendengarkan caciannya dengan diam dan sabar, tidak satu kata pun beliau berucap. Setelah Abu Jahl puas melontarkan cacian lalu mendekat dan menampar wajah Rasulullah Saw, namun Rasulullah tidak mengatakan apapun atau tidak membalasnya.

Rumah Hadhrat Hamzah terletak tidak jauh dari tempat Rasulullah duduk. Pada saat itu Hadhrat Hamzah masih belum beriman. Hadhrat Hamzah biasa pergi di pagi hari membawa senjata panah untuk berburu, kembali di sore hari dan biasa juga duduk di majlis orang-orang Quraisy. Ketika Abu Jahl mencaci maki Rasulullah (saw) dan berlaku aniaya, Hadhrat Hamzah tengah berburu saat itu. Namun secara kebetulan, perempuan hamba sahaya Hadhrat Hamzah tengah berdiri di pintu menyaksikan penganiayaan terhadap Rasulullah tersebut. Ketika Abu Jahl berkali-kali menyerang Rasulullah dan melontarkan caci-maki yang banyak, Rasulullah mendengarkan saja cacian itu dengan diam dan sabar. Semua pemandangan itu dilihat oleh hamba sahaya itu dari tempatnya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud Ra menulis: “Memang dia seorang perempuan kafir namun pada zaman itu ketika orang-orang di Makkah biasa berbuat aniaya kepada para hamba sahaya, di sisi lain, ada juga orang-orang baik yang biasa berlaku baik kepada hamba sahaya dan setelah berlalu masa yang panjang, hamba sahaya tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Begitu juga hamba sahaya perempuan Hadhrat Hamzah, setelah menyaksikan penganiayaan tersebut dengan mata dan telinganya, dia sangat tersentuh, namun tidak dapat berbuat apa-apa, hanya dapat melihat, mendengar dan memendam rasa sedih dan kekesalan itu dari dalam rumah. Setelah Rasulullah (saw) beranjak pergi dari tempat itu, wanita itu pergi untuk bekerja lagi.

Ketika Hadhrat Hamzah pulang pada sore hari lalu turun dari kendaraannya dengan memegang busur panah di tangan dengan gaya keberaniannya yang khas lalu masuk ke dalam rumah. Setelah memendam rasa kesal dan emosi, hamba sahaya mengutarakan hal itu dengan nada tinggi kepada Hadhrat Hamzah mengatakan: ‘Apakah Anda tidak malu berpenampilan gagah berani?’ Hamzah keheranan dan bertanya: ‘Apa yang terjadi?’

Perempuan itu mengatakan, ‘Tadi keponakan Anda, Muhammad, tengah duduk di sana, tiba-tiba datang Abu Jahl yang kemudian melontarkan cacian yang sangat keras dan menampar wajahnya. Namun Muhammad tidak mengeluh sedikitpun dan terus mendengarkan. Abu Jahl terus mencaci, setelah kelelahan dia pulang. Namun saya melihat Muhammad tidak membalas ucapannya. Sementara Anda berpenampilan gagah berani pulang ke rumah, tidak malukah melihat keponakan Anda diperlakukan seperti itu dalam keberadaan Anda?’

Hadhrat Hamzah belum beriman saat itu. Hal demikian karena beliau termasuk kalangan pemuka Quraisy. Disebabkan status beliau sebagai pemuka, beliau masih belum siap masuk Islam. Meskipun beliau memahami Hadhrat Rasulullah (saw) adalah benar, namun Hamzah masih belum siap untuk mengorbankan kehormatan dan martabatnya demi keimanan. Namun, setelah mendengarkan apa yang telah terjadi tersebut dari hamba sahayanya, dari mata beliau mengucur ‘air mata darah’ dan muncul solidaritas kekeluargaannya.

Tanpa istirahat, beliau beranjak menuju Kabah dengan perasaan emosi. Pertama, beliau tawaf lalu pergi menuju kerumunan tempat Abu Jahl duduk tengah menyampaikan sesuatu yakni memperdengarkan kejadian yang sudah dialaminya dengan nada olok-olok. Abu Jahl menceritakannya dengan sombongnya: ‘Pada hari ini aku telah mencaci-maki Muhammad dan berbuat ini dan itu kepadanya.’

Ketika Hamzah sampai dalam kerumunan itu, langsung saja menghampiri Abu Jahl dan memukulkan busur panahnya ke kepala Abu Jahl dengan keras dan mengatakan: ‘Kamu sedang membanggakan keberanianmu? Dan menceritakan kepada orang-orang bagaimana kamu telah menghinakan Muhammad dan Muhammad tidak membalas sedikit pun, sekarang aku hinakan kamu, jika kamu punya nyali ayo balas kepadaku!’

Saat itu Abu Jahl (أبو جهل) ialah salah seorang pemimpin kaum. Ia berkedudukan seperti Raja di Makkah, seolah-olah ia seperti Firaun. Ketika kawan-kawannya melihat pemandangan itu, mereka emosi dan bangkit dan ingin menyerang Hamzah, namun Abu Jahl yang telah terkena ru’b (pengaruh kewibawaan) Rasulullah (saw) yang bersabar ketika dianiaya dan juga ru’b Hamzah, melarang kawan-kawannya untuk menyerang Hamzah. Abu Jahl mengatakan, ‘Biarkan dia! Memang aku telah berbuat aniaya dan Hamzah benar adanya.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu menulis dalam cara-cara beliau yang khas, “Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) kembali dari bukit Safa dan Marwah, beliau mengatakan di dalam hati, ‘Tugas saya bukanlah untuk berkelahi melainkan untuk bersabar mendengarkan cacian. Namun, Allah Ta’ala berfirman di Arasy, أليس الله بكاف عبده؟  AlaisaLlaahu bikaafin abdahuu ‘Tidak cukupkah Allah bagi hamba-Nya? Wahai Muhammad (saw) memang engkau tidak untuk berkelahi, namun apakah Kami tidak ada untuk menghadapi mereka yang memusuhi engkau?’

Lalu hari itu jugalah Allah Ta’ala mengirimkan seorang pembela yang berani kepada beliau untuk menghadapi Abu Jahl. Dalam kerumunan itu juga tempat Abu Jahl dipukul dengan busur panah oleh Hamzah, Hamzah mengikrarkan keislamannya lalu mengatakan kepada Abu Jahl, ‘Kamu telah mencaci Muhammad (saw) hanya karena dia mendakwakan sebagai Rasul Allah dan malaikat turun kepadanya. Coba dengarkan dengan baik sejak hari ini aku teguh diatas agama Muhammad (saw). Aku katakan apapun yang dikatakan Muhammad (saw). Jika kamu punya nyali, ayo lawan aku.”

Demikianlah, Hamzah baiat. Di dalam riwayat dikatakan paska baiatnya Hamzah, keimanan umat Muslim Makkah mendapatkan kekuatan bahkan seorang sejarawan Barat Sir William Muir mengakui dakwah Muhammad (saw) mendapatkan kekuatan paska baiatnya Hadhrat Hamzah dan Hadhrat Umar.

Lalu, Hadhrat Hamzah hijrah ke Madinah bersama kaum Muslim lainnya. Beliau tinggal di rumah Kultsum bin al-Hadam. Dalam riwayat lain disebutkan beliau tinggal di rumah Sa’d ibn Khaitsamah. Setelah hijrahnya ke Madinah, Nabi (saw) mempersaudarakan beliau dengan Sa’d ibn Haritsah sehingga menjelang perang Uhud, beliau menitipkan wasiat kepada Sa’d. Bahkan, setelah hijrah umat Muslim ke Madinah, rencana dan rancangan orang-orang kafir menganggu umat Muslim pun belum berakhir. Mereka terus menganggu umat Muslim yang sudah memisahkan diri dari mereka, untuk itu umat Muslim dituntut untuk selalu berhati-hati dan berjaga-jaga.

Diriwayatkan bahwa untuk berjaga-jaga dan mencari tahu gerak-gerik kaum kuffar Makkah, Nabi (saw) terpaksa mengirim beberapa Sariyah (sekumpulan orang yang melakukan ekspedisi). Hal itu memerlukan adanya penetapan tugas-tugas berat dan Hadhrat Hamzah mendapatkan taufik yang besar untuk berkhidmat dalam tugas Sariyah tersebut. Pada bulan Rabiul Awal tahun ke-2 Hijriah Hadhrat Rasulullah mengutus 30 orang Muhajirin berkendaraan unta ke arah timur di bawah komando Hadhrat Hamzah.

Hamzah dan para sahabat lainnya segera meluncur ke sana. Mereka mendapati pemuka tertinggi Mekah, Abu Jahl mempersiapkan satu lasykar pasukan berkendara berjumlah 300 orang untuk menyambut pasukan Muslim, jadi jumlah mereka 10 kali lipat banyaknya dibanding pasukan Muslim. Namun, rombongan umat Muslim itu beranjak dari rumah untuk mengamalkan perintah Tuhan dan Rasul-Nya. Maka dari itu, rasa gentar akan kematian tidak dapat membuat mereka mundur. Kedua belah pasukan itu saling berhadapan dan saling bersiaga. Ketika akan dimulai peperangan, datanglah pemimpin kawasan itu yang bernama Majdi Bin Amru Al-Juhani (مجدي بن عمرو الجهني) yang memiliki hubungan dengan kedua belah pihak untuk mendamaikan sehingga peperangan tidak terjadi.

Diriwayatkan juga bahwa bendera pertama yang Hadhrat Rasulullah (saw) serahkan ialah kepada Hadhrat Hamzah. Sedangkan dalam riwayat-riwayat lain juga menyatakan Hadhrat Abu Ubaidah dan Hadhrat Hamzah pergi bersama-sama dalam suatu peperangan (sariyah), sehingga membuat perkara ini (siapa yang dipercayai memegang bendera) samar. Namun pada tahun 2 Hijriyah dalam peperangan dengan Banu Qainuqa bendera Rasulullah (saw) dipegang oleh Hadhrat Hamzah Ra.

Hadhrat Rasulullah (saw) memberikan nasihat supaya menghargai diri sendiri dan membangun rasa percaya diri adalah baik. Hal tersebut harus selalu diteguhkan dan Hadhrat Hamzah senantiasa mengamalkannya secara konsisten. Sebagaimana dalam riwayat dikatakan setelah Hijrah ke Madinah kondisi ekonomi Hadhrat Hamzah pun tidak baik sebagaimana umat Islam yang lainnya. Hadhrat Abdullah Bin Amru meriwayatkan pada suatu hari Hadhrat Hamzah datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) dan menyampaikan, يَا رَسُولَ اللهِ! اجْعَلْنِي عَلَى شَيْءٍ أَعِيشُ بِهِ “Wahai Rasulullah! Semoga Anda berkenan melimpahkan suatu pekerjaan (kedudukan) kepada saya supaya saya dapat memperoleh penghasilan uang dari itu. Atas hal itu Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada beliau, يَا حَمْزَةُ! نَفْسٌ تُحْيِيهَا أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ نَفْسٌ تُمِيتُهَا؟ قَالَ: بَلْ نَفْسٌ أُحْيِيهَا، قَالَ: عَلَيْكَ بِنَفْسِكَ “Wahai Hamzah! Apakah engkau lebih suka menegakkan dan menghidupkan harga diri atau membunuhnya?”

Hadhrat Hamzah menjawab: “Saya menyukai untuk menghidupkannya.”

Rasulullah (saw) bersabda: “Jagalah kehormatan dirimu.” [3]

Lalu, Hadhrat Rasulullah (saw) menasihatkan kepada Hadhrat Hamzah untuk menekankan pada doa-doa dan mengajarkan beberapa doa khusus kepadanya, sebagaimana Hadhrat hamzah meriwayat bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda: الْزَمُوا هَذَا الدُّعَاءَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الأَعْظَمِ رِضْوَانَكَ الأَكْبَرَ “Lazimkanlah doa ini untuk dibaca Allaahumma inniiy asaluka bismikal a’zhami wa ridhwaanakal akbar’, yang artinya “Ya Allah aku memohon kepada Engkau dengan syafaat Nama-Mu yang agung dan keridhaan-Mu yang maha besar.”[4]

Beliau senantiasa merasakan buah doanya selalu. Betapa besar keimanan dan keyakinan Hadhrat Hamzah atas doa-doa terlihat dari riwayat-riwayat. Bagaimana mungkin beliau tidak meyakini padahal berkat dari doa-doa tersebut, Allah ta’ala memenuhi segala keperluan beliau. Pada saat berhijrah, Hadhrat Hamzah tidak punya apa-apa. Beberapa masa kemudian beliau menikah seorang wanita kalangan Anshar yang berasal dari Bani Najjar bernama Khaulah binti Qais (خولة بنت قيس).

Hadhrat Rasulullah (saw) biasa berkunjung ke rumah Hadhrat Hamzah. Khawlah di kemudian hari sering menceritakan kembali Hadits-Hadits Nabi (saw) yang penuh dengan kasih sayang di hari-hari itu. Hadhrat Khawlah menuturkan, “Pada suatu ketika Hadhrat Rasulullah (saw) berkunjung ke rumah kami dan saya bertanya kepada beliau (saw), ‘Wahai rasul Allah! Saya mengetahui Anda telah bersabda bahwa pada hari kiamat Anda akan dianugerahi Haudh Kautsar (telaga berlimpah) yang pasti luas sekali.’

Nabi (saw) bersabda: ‘Ya, memang benar. Dengarkan juga bahwa saya jauh lebih menyukai telaga itu diairi oleh telaga kaum Anda, yaitu Anshar, lebih dari orang-orang lainnya.’”

Betapa dalamnya kecintaan beliau (saw) kepada kaum Anshar karena ketika beliau diusir oleh kaum beliau (saw), kaum Anshar-lah yang mengurbankan segala sesuatu yang mereka miliki bagi beliau.

Kita jumpai satu riwayat dalam sejarah berkenaan dengan perang Badar yang terjadi pada tahun 2 Hijriah. Pada kesempatan peperangan tersebut dari pihak kaum kafir tampil Al-Aswad Bin Abdul Asad Makhzumi (الأسود بن عبد الأسد المخزومي). Dia adalah orang yang sangat licik dan jahat. Dia berjanji dengan bersumpah demi Allah untuk dapat menembus telaga kolam air Rasulullah dan meminumnya atau merusaknya atau atau mati di dekatnya.

Itu ialah tempat yang digunakan oleh umat Muslim untuk menyimpan persediaan air. Orang itu tampil dengan keinginan tadi lalu Hadhrat Hamzah Bin Abdul Mutallib datang untuk menghadangnya. Ketika keduanya saling berhadapan, lalu Hadhrat Hamzah menebaskan pedangnya memotong setengah betisnya lalu dia terjatuh di dekat kolam penampungan air. Untuk memenuhi sumpahnya dia terus merangkak ke arah kolam air namun Hadhrat Hamzah terus mengikutinya dan menebaskan sekali lagi pedang dan menghabisinya. Memang dia mati di dekat kolam air namun tidak dapat memenuhi sumpahnya untuk meminum atau merusak air itu.

Hadhrat Ali meriwayatkan perihal perang Badar, “Pada saat itu jumlah kaum kafir jauh lebih banyak jumlahnya dibanding pasukan Muslim. Semalaman Rasulullah (saw) menyibukkan diri untuk berdoa dan merintih di hadapan Allah Ta’ala. Ketika pasukan Musyrikin (Makkah) mendekati kami, kami siap berbaris menghadapi mereka. Pandangan kami langsung tertuju kepada seseorang yang berada di atas unta merah dari kalangan mereka dan berjalan-jalan di tengah pasukan mereka.

Rasulullah (saw) bersabda: ‘Wahai Ali! Tanyakan kepada Hamzah yang sedang berdiri di dekat kaum Musyrikin siapakah yang sedang berada di atas unta merah? Dan apa yang sedang dikatakannya?’

Lalu, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Jika diantara mereka ada yang dapat memberikan nasihat kebaikan kepada mereka, mungkin orang yang berada diatas unta merah-lah orangnya.’

Tidak lama kemuadian Hadhrat Hamzah Ra datang dan mengabarkan, ‘Orang itu adalah Utbah Bin Rabi’ah (عتبة بن ربيعة) yang tengah melarang kaum Musyrikin untuk berperang. Ia berkata, “Saya melihat mereka (kaum Muslim) telah siap untuk mati. Kalian tidak akan mampu mencapai mereka.” Sebagai jawabannya Abu Jahl mengatakan kepadanya, “Kamu pengecut dan tidak ada nyali untuk berperang.”

Dengan emosi Utbah menjawab: “Kita lihat nanti, siapa yang sebetulnya pengecut?”’”

Hadhrat Ali meriwayatkan bahwa Utbah Bin Rabi’ah bersama saudaranya, Syaibah ibn Rabi’ah (شيبة بن ربيعة) dan putranya, Al-Walid ibn Utbah ibn Rabi’ah yang berada di belakangnya tampil dan meneriakkan, “Siapa yang berani melawan kami?” Enam orang pemuda Anshar menjawabnya dan maju ke depan.

Utbah bertanya: “Siapa kalian?”

Kaum Anshar menjawab: “Kami kaum Anshar (orang-orang Madinah).”

Utbah berkata, “Kami tidak ada urusan dengan kalian. Kami hanya ingin berperang dengan anak-anak paman kami (umat Muslim yang asal Makkah)”

Nabi Karim (saw) bersabda: “Wahai Hamzah, majulah! Wahai Ali, majulah! Wahai Ubaidah Bin Harits bin Abdul Muthallib, majulah.”

Hadhrat Ali mengatakan, “Hamzah melangkah ke arah Utbah. Saya melangkah ke arah Syaibah. Ubaidah berhadapan dengan Walid, yang mana keduanya saling melukai satu sama lain. Kami berdua (Hamzah dan Ali) lalu berpindah kepada Walid dan membunuhnya. Kami lalu membawa Ubaidah keluar dari medan perang.”

Keduanya yakni Hadhrat Ali dan Hadhrat Hamzah telah membunuh lawannya masing masing. Ketika Hadhrat Rasulullah bersabda: “Wahai Hamzah, majulah! Wahai Ali, majulah! Wahai Ubaidah Bin Harits, majulah”, ketiganya semua berdiri dan melangkah ke arah Utbah. Utbah mengatakan: “Bicaralah supaya kami dapat mengenali kalian.” karena wajah mereka memakai penutup kain. Pada saat itu Hamzah mengatakan : “Aku Hamzah singa Allah dan singa Rasul-Nya.” Lalu Utbah mengatakan, “Lawan yang bagus.”

Hadhrat Hamzah berperang dengan berani. Beliau memasangkan bulu sayap burung unta sebagai tanda perang.

Diriwayatkan oleh Hadhrat Abdur Rahman Bin Auf, “Umayyah Bin Khalaf adalah satu diantara pemuka Quraisy yang selalu menganiaya Hadhrat Bilal saat di Mekah. Dia terbunuh pada peperangan Badar di tangan seorang Anshar. Sebelum kematiannya, Umayyah Bin Khalaf bertanya kepadaku (Abdur Rahman Bin Auf): ‘Siapa orang yang terpasang sayap burung unta di dadanya?’

Saya jawab, ‘Dia adalah Hamzah Bin Abdul Muthallib.’

Umayyah mengatakan: ‘Inikah orang yang telah memberikan paling banyak kerugian kepada kami hari ini?’”

Sejarawan dan Orientalis Inggris, Sir William Muir menulis berkenaan dengan perang Badar dan keberadaan Hadhrat Hamzah bahwa Hamzah tampak jelas di berbagai tempat dengan mengenakan sayap burung unta di dada dan beliau telah membunuh banyak pemuka Quraisy dalam perang tersebut.

Pada perang Uhud pun Hadhrat Hamzah memperlihatkan kesempurnaan nyali. Keberanian beliau ini sangat melukai pandangan kaum Quraisy Mekkah. Secara rinci hal tersebut diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari. Hadhrat Ja’far Bin Amru Bin Umayyah adh-Dhamri (جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ) mengatakan: “Saya melakukan perjalanan bersama dengan Ubaidullah Bin Adi Bin Khayaar (عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ) ketika sampai di Himsh yakni kota terkenal di negeri ini, Ubaidullah Bin Adi mengatakan kepada saya: ‘Apakah Anda ingin menemui Wahsyi Bin Harb Habsyi? Kami akan menanyakan padanya perihal pembunuhan Hamzah.’

Saya menjawab, ‘Baiklah.’ Wahsyi dulu biasa tinggal di Hamas. Lalu kami mencari tahu alamatnya. Kami mendapat jawaban bahwa Wahsyi tengah duduk di samping istananya seperti tengah latihan keras.

Kami pergi kepadanya dan tidak lama kemudian telah berdiri di sana. Kami mengucapkan assalamu alaikum dan dia menjawabnya. Ubaidullah saat itu mengenakan sorban dan wajah tertutup. Wahsyi hanya dapat melihat mata dan kakinya. Ubaidullah mengatakan: ‘Wahsyi, apakah kamu mengenaliku?’ Wahsyi menatapnya dengan seksama lalu mengatakan, ‘Demi Tuhan, tidak kenal. Yang saya ketahui hanyalah bahwa Adi Bin Khayar telah menikah dengan seorang wanita yang dikenal dengan sebutan Ummu Qital binti Abil ‘Aish. Terlahir darinya seorang anak di Makkah. Saya biasa menggaji seorang perempuan untuk menyusukan anak itu. Saya menggendong anak itu dan membawanya beserta ibunya lalu saya berikan kepada ibunya. Saya kenal dari kaki kamu bahwa kamulah orangnya.’

Mendengar hal itu Ubaidullah membuka penutup mukanya karena Wahsyi dapat mengenalinya dari kakinya. Lalu, Ubaidullah mengatakan: ‘Ceritakan kepada kami kisah terbunuhnya Hadhrat Hamzah.’

Wahsyi mengatakan, ‘Baiklah. Sebenarnya, Hamzah telah membunuh Thu’aimah Bin Adi Bin Khiyar (طُعَيْمَةَ بْنَ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ) pada perang Badar. Majikan saya, Jubair Bin Muth’im (جُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ) mengatakan kepada saya, ‘Jika kamu dapat membunuh Hamzah sebagai balasan kematian pamanku, maka kamu akan dimerdekakan.’ Ketika orang-orang melihat perang Uhud akan terjadi, diantara bukit kecil Ainain Uhud terdapat satu bukit. Di tengah bukit Uhud itu terdapat lembah. Saya pun pergi untuk berperang dengan orang-orang.

Ketika orang-orang bersiap untuk perang lalu Syaiba maju ke medan perang dan mengumumkan: ‘Apakah ada yang akan tampil ke medan untuk bertarung.’

Mendengar hal itu Hamzah Bin Abdul Muthallib tampil untuk mengahadapinya dan mengatakan: ‘Wahai Siba (سِبَاعُ)! Apakah kamu memerangi Allah dan Rasul-Nya?’ Setelah mengatakan itu Hamzah menyerangnya dan seketika saja Syaiba dapat dikalahkan dan dibunuh.”

Wahsyi menuturkan: “Saya duduk di bawah tebing. Ketika Hamzah dekat dengan saya, saya tusukkan tombak ke dadanya sehingga menembus sampai ke belakang dan itulah detik detik terakhir kehidupannya. Ketika orang-orang (Makkah) pulang, saya pun ikut dengan mereka dan menetap sementara di Makkah sampai Islam menyebar luas di Makkah lalu saya pun keluar menuju ke Thaif.

Kemudian, orang-orang dari berbagai kaum mengutus duta-duta kepada Rasulullah (saw). Orang-orang memberitahukan kepada saya bahwa Rasulullah (saw) tidak membunuh para duta (pembawa kabar). Lalu saya pun pergi bersama para pembawa kabar itu.

Ketika sampai kepada Rasulullah (saw), setelah melihat saya beliau bertanya: ‘Apakah Anda Wahsyi?’ Saya jawab, ‘Ya.’

Beliau bertanya: ‘Anda-kah yang membunuh Hamzah?’

Saya jawab, ‘Ya. Benarlah kabar yang sampai kepada Anda.’

Beliau bersabda: ‘Jika mungkin jangan biasakan datang kepada saya.’”

Wahsyi mengatakan: “Mendengarkan hal tersebut saya beranjak dari sana. Setelah Rasulullah (saw) wafat, Musailamah al-Kadzdzab tampil melakukan pemberontakan. Saya berkata pasti akan pergi ke Musailamah mungkin saya akan membunuhnya dengan begitu saya akan menebus kematian Hamzah.”

Wahsyi menuturkan, “Saya pun ikut serta berperang dengan orang-orang [untuk memberantas Musailamah]. Lalu, terjadilah apa yang terjadi dalam perang. Saya melihat ada orang yang tengah berdiri di atas ngarai (Musailamah), tampaknya seperti unta yang berwarna gandum dan rambut acak-acakan. Saya menusukkan tombak ke dadanya lalu menekannya kuat pada bagian ulu hati tembus sampai ke punggung. Kemudian, seorang Anshar memenggal lehernya. Itulah akhir hayatnya.”

Umair Bin Ishak meriwayatkan bahwa pada perang Uhud, Hamzah tengah bertempur di depan Rasulullah dengan dua pedang dan mengatakan, ‘Aku adalah Asadullah (singa Allah)’, sambil terkadang ke depan atau ke belakang. Dalam kondisi demikian tiba-tiba tergelincir terjatuh ke belakang, Dalam keadaan demikian, baju besinya tersingkap. Wahsyi al-Aswad melihat keadaan ini. Abu Usamah meriwayatkan bahwa Wahsyi menombaknya dan membunuhnya. Ishaq ibn Yusuf meriwayatkan bahwa al-Habsyi menikamnya dengan tombak. Dengan demikian Hadhrat Hamzah syahid pada bulan ke-32 paska Hijrah dalam peperangan Uhud, pada usia 59 tahun.

Riwayatnya demikian, istri Abu Sufyan bernama Hindun binti Utbah ikut serta dalam lasykar (Makkah) pada perang Uhud. Dia bernadzar (bersumpah) ingin membalas kematian ayahnya yang terbunuh pada peperangan Badar ketika bertarung dengan Hadhrat Hamzah. Dia bernazar jika mendapatkan kesempatan akan mengunyah jantung Hamzah. Ketika hal itu terjadi dan musibah menimpa Hadhrat Hamzah, kaum Musyrikin Makkah memotong-motong anggota tubuh musuh yang terbunuh (Syuhada Muslim), merusak wajahnya, memotong telinga, hidung dan lain-lain. Mereka lalu membawa potongan jantung Hamzah kepada Hindun. Hindun mengunyahnya dan berusaha menelannya namun ketika tidak mampu dia telan, dimuntahkannya lagi.

Ketika kabar tersebut sampai kepada Hadhrat Rasulullah (saw), beliau (saw) bersabda,  إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ أَنْ تَذُوقَ مِنْ لَحْمِ حَمْزَةَ شَيْئًا أَبَدًا “Allah ta’ala telah mengharamkan atas api untuk menyentuh bagian tubuh Hamzah walaupun sedikit.”[5]

Setelah menghampiri jenazah Hadhrat Hamzah bagaimana gejolak yang Rasulullah (saw) ungkapkan dan berkenaan dengan kabar suka yang Rasul berikan bagi Hamzah. Mengenai itu terdapat riwayat dalam buku Sirat Ibnu Hisyam bahwa ketika Rasul Karim melihat jenazah Hadhrat Hamzah yang mana jantung beliau telah dikeluarkan dan dikunyah, Rasulullah (saw) berdiri di dekat jenazah Hadhrat Hamzah lalu bersabda, لَنْ أُصَابَ بِمِثْلِك أَبَدًا مَا وَقَفْتُ مَوْقِفًا قَطّ أَغْيَظَ إلَيّ مِنْ هَذَا “Tidak akan ada musibah yang sampai kepada saya seperti musibah engkau ini. Saya tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menyedihkan dari ini sampai hari ini.”

Beliau (saw) bersabda: جَاءَنِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنّ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطّلِبِ مَكْتُوبٌ فِي أَهْلِ السّمَوَاتِ السّبْعِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطّلِب، أَسَدُ اللّهِ وَأَسَدُ رَسُولِه “Jibril datang kepada saya mengabarkan bahwa Hamzah putra Abdul Muthallib telah tertulis di kalangan penghuni ketujuh langit sebagai Singa Allah dan singa Rasul-Nya.”

Hadhrat Zubair ibn al-Awwam Ra meriwayatkan, “Pada hari terakhir perang Uhud terlihat ada seorang wanita dari arah depan saya berjalan dengan cepat. Tidak jauh lagi dia akan sampai ke jenazah para syuhada. Nabi Karim (saw) tidak menganggap baik jika ada wanita datang untuk melihat jenazah, untuk itu Rasul bersabda: ‘Keadaan jenazah sangatlah buruk untuk itu larang perempuan itu.’”

Hadhrat Zubair Ra mengatakan, “Saya melihat dengan seksama wanita itu adalah ibu saya sendiri. (Hadhrat Shafiyah binti Abdul Muthallib, saudari Hamzah dan juga bibi Nabi (saw) dari pihak Ayah, Abdullah ibn Abdul Muthallib). Lalu, saya pergi berlari mendekati ibu saya dan melarang beliau mendekati jenazah para syuhada. Melihat saya begitu, beliau menghentakkan dada saya dan mendorong saya, beliau wanita yang kuat dan mengatakan: ‘Menyingkir kamu, aku tidak akan menuruti kata-katamu.’

Saya katakan, ‘Rasulullah-lah yang memerintahkan saya untuk melarang ibu ke sana.’

Mendengar hal itu beliau berhenti lalu mengeluarkan dua helai kain dan mengatakan: ‘Ada dua potong kain yang saya bawakan untuk saudara saya Hamzah karena saya mendapatkan kabar kesyahidannya.’

(Demikianlah ketaatan pada masa itu yakni seketika mendengar Rasulullah (saw) bersabda, meskipun kondisi yang sangat berduka dan dalam kondisi diliputi gejolak emosi namun dapat mengontrol emosinya dan berhenti seketika mendengar nama Hadhrat Rasulullah (saw). Inilah ketaatan sempurna)

Ibu lalu mengatakan, ‘Kafanilah jenazah Hamzah dengan kain tersebut.’

Ketika kami akan mengafani Hadhrat Hamzah dengan kain tersebut, di sebelah jenazah beliau ada lagi jenazah sahabat dari kalangan Anshar. Jenazah beliau pun diperlakukan sama seperti kepada jenazah Hadhrat Hamzah. Kami merasa malu jika memberikan dua kain itu kepada Hadhrat Hamzah sementara di sisi lain sahabat Anshar itu tidak dapat satu pun. Untuk itu kami memutuskan satu kain dipasangkan pada jenazah Hadhrat Hamzah sedangkan kain yang satu lagi kepada jenazah sahabat Anshari. Setelah diperkirakan kami mengetahui satu diantara kedua jenazah tersebut bertubuh lebih tinggi lalu kami mengundi. Nama yang muncul untuk kain yang ditentukan akan dikuburkan dengan kafan tersebut.”

Hadhrat Hamzah dikafani dengan satu kain saja. Ketika kain ditarik untuk menutupi kepala, kedua kaki beliau tampak begitu juga sebaliknya. Lalu Rasulullah (saw) bersabda supaya menutupi wajah beliau dengan kain kafan itu sedangkan kaki beliau ditutupi dengan jerami. Hadhrat Hamzah dikuburkan bersama dengan putra saudari beliau (keponakan beliau) bernama Hadhrat Abdullah Bin Jahsy (عبد الله بن جحش).[6]

Awalnya, Nabi Karim (saw) menyalatkan jenazah Hadhrat Hamzah. Hadhrat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ حَمْزَةَ فَصَلَّى عَلَيْهِ وَجِيءَ بِرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَوُضِعَ إِلَى جَنْبِهِ فَصَلَّى عَلَيْهِ فَرُفِعَ الْأَنْصَارِيُّ وَتُرِكَ حَمْزَةُ ثُمَّ جِيءَ بِآخَرَ فَوَضَعَهُ إِلَى جَنْبِ حَمْزَةَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ رُفِعَ وَتُرِكَ حَمْزَةُ حَتَّى صَلَّى عَلَيْهِ يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ صَلَاةً Rasulullah (saw) meletakkan jenazah Hadhrat Hamzah di depan lalu menyalatkannya. Jenazah seorang sahabat Anshar diletakkan di sebelahnya dan beliau pun menyalatkannya. Lalu jenazah sahabat Anshari tadi diangkat, namun jenazah Hadhrat Hamzah masih dibiarkan di tempat itu. Lalu, didatangkan lagi jenazah lainnya dan diletakkan di samping jenazah Hadhrat Hamzah lalu beliau (saw) menyalatkannya. Lalu jenazah tadi diangkat, namun jenazah Hadhrat Hamzah masih dibiarkan di tempat itu sampai-sampai Hadhrat Rasulullah (saw) pada hari itu menyalatkan jenazah Hadhrat Hamzah bersama dengan jenazah sahabat lainnya sebanyak 70 kali karena setiap dishalatkan jenazah Hadhrat Hamzah tetap berada di sana.

Hadhrat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Hadhrat Hamzah selalu terdepan dalam bersikap baik kepada kerabat-kerabat beliau dan selalu giat dalam setiap amalan baik. Karena itu paska syahidnya Hadhrat Hamzah ra, Hadhrat Rasulullah (saw) berdiri di dekat tempat tergeletaknya Hadhrat Hamzah dan bersaabda: يرحمك الله، إن كنت لوصولا للرحم، فعولا للخيرات، ولولا حزن من بعدي عليك، لسرني أن أدعك حتى تحشر من أفواج شتى “Semoga rahmat Allah tercurah atas engkau. Engkau (wahai Hamzah!) orang yang selalu bersilaturahmi dan berbuat baik? Dan setelah hari ini engkau tidak akan mendapatkan kesedihan lagi. Dengan senang hati, kan kudoakan engkau hingga engkau berhimpun dengan berbagai arah.”

Pemakaman paman Rasulullah (saw) dan pemuka umat Muslim yang berani itu yang menyedihkan dan menyayat hati itu selalu dikisahkan para sahabat dengan hati yang pilu. Pada masa lapang (makmur dan aman), Hadhrat Khabbab selalu menceritakan masa-masa sulit itu yaitu jenazah Hadhrat Hamzah hanya ditutupi oleh sehelai kain kafan itu pun ukurannya tidak cukup. Akhirnya kain itu digunakan untuk menutupi wajah sedangkan bagian kaki ditutupi dengan idzkir (rerumputan, jerami).

Demikian pula Hadhrat Abdur Rahman Bin Auf meriwayatkan peristiwa yang serupa. Suatu ketika beliau tengah puasa dan pada saat buka puasa dihidangkanlah makanan mewah yang setelah melihatnya beliau teringat keadaan pada masa-masa sulit. Beliau mengatakan, “Hamzah telah syahid dan beliau lebih baik dari saya. Kain kafan pun tidak mencukupi untuk menutup jenazahnya. Jika kepalanya ditutupi dengan kain itu, maka kedua kakinya nampak terlihat dan jika kedua kakinya ditutup maka kepalanya tampak terlihat. Lalu kenikmatan dunia dibukakan lebar-lebar kepada kita. Kami khawatir pahala amal-amal kebaikan kami telah disegerakan kepada kami di dunia ini.”

Lalu beliau menangis dan begitu menangis sehingga beliau tinggalkan hidangan. [7]

Mereka-lah orang-orang yang diridhai Allah Ta’ala dan mereka ridha kepada Allah Ta’ala. Mereka yang dalam keadaan lapang (makmur) selalu mengenang saudara-saudara mereka yang telah mendahului mereka. Mereka selalu mengingat keadaan yang terjadi di masa lalu. Bahkan, Allah Ta’ala pun mengaruniai kabar gembira dengan surga. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfirah kepada mereka semua.

Dalam satu riwayat dikatakan diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah Bin Umar (عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ) bahwa ketika Hadhrat Rasulullah (saw) kembali dari perang Uhud, beliau (saw) mendengar para istri sahabat dari kalangan Anshar menangisi kewafatan suami mereka dan bersikap berlebihan. Beliau (saw) bersabda: لَكِنْ حَمْزَةُ لَا بَوَاكِيَ لَهُ “Kenapa tidak ada yang menangisi Hamzah.” Ketika para wanita itu mendengar hal itu mereka langsung berkumpul untuk menangisi syahidnya Hadhrat Hamzah. Lalu mata Rasulullah (saw) terbuka dan terjaga pada malam hari itu. Para wanita itu masih menangis berlebihan seperti itu. Nabi Karim (saw) bersabda, وَيْحَهُنَّ لَمْ يَزَلْنَ يَبْكِينَ بَعْدُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ مُرُوهُنَّ فَلْيَرْجِعْنَ وَلَا يَبْكِينَ عَلَى هَالِكٍ بَعْدَ الْيَوْمِ “Masih saja Anda sekalian terus menangisi Hamzah sampai larut malam ini? Perintahkan kepada para wanita itu untuk pulang ke rumah masing-masing dan sejak saat ini kalian tidak akan lagi menangisi seorang mayit secara demikian (berlebihan).”

Dengan demikian, Nabi Muhammad (Saw) melarang berbagai jenis (النياحة, niyaahah) yaitu menangisi mayit secara berlebihan (meratap). Hadhrat Rasulullah (saw) telah menjaga perasaan para wanita Anshar dengan penuh bijak. Beliau bukannya secara langsung melarang mereka menangisi para suami atau saudara mereka, terlebih dahulu beliau menarik perhatian mereka kepada Hadhrat Hamzah. Itu artinya, mengalihkan perhatian pada kedukaan besar secara kaum yang mana itu amat menyayat hati Rasulullah (saw). Dengan demikian, beliau (saw) sendiri memperlihatkan teladannya dengan menasihati kaum wanita sembari tidak menangis berlebihan atas Hamzah dan menasihati mereka untuk bersabar. Nasihat yang demikian sangat berpengaruh. Berkenaan dengan kesedihan atas kepergian Hadhrat Hamzah, hal itu terus membayangi Hadhrat Rasulullah (saw).

Ka’b Bin Malik (كعب بن مالك) mengatakan di dalam syairnya:

بكت عيني وحق لها بكاها … وما يغني البكاء ولا العويل.

على أسد الإله غداة قالوا … لحمزة: ذاكم الرجل القتيل.

Air mata tangisan mengalir dari kedua mataku, tangisan keduanya atas kematian Hamzah adalah haq,

Namun apa yang akan didapat dengan menangis dan berteriak atas kematian singa Allah yang telah syahid pagi tadi,

Dunia mengatakan kepada Hamzah, ‘Engkau yang Syahid ini, seorang pemberani.’

Semoga Allah Ta’ala senantiasa meninggikan derajat-derajat para sahabah. Teladan pengorbanan yang telah mereka tampilkan, semoga senantiasa diingat umat Islam sampai akhir dunia. Begitu juga contoh dan teladan yang telah diperlihatkan mereka. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan kebaikan-kebaikan yang telah mereka perlihatkan kepada kita.

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi                     : www.alislam.org dan islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Malfuzhat

[2] Abdul Muthallib (Syaiba), putra Hasyim, putra Abdu Manaf, putra Qushay. Beliau mempunyai 10 putra dan 6 putri dari beberapa pernikahan. Mereka ialah Harits, Abdullah, Zubair, Abu ThalibHamzah, Maqum, Abbas, Dharar, Qatsam, Abu Lahab (nama lainnya Abdul ‘Azi) dan Ghaidaq.  Atikah, Shafiyah, Amimah (Umaimah), Barah, Urwa dan Ummu Hakim.

[3] Musnad Ahmad (مسند أحمد)

[4] Al-Mu’jam al-Kabir karya Ath-Thabrani.

[5] Ath-Thabaqaat karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), ( طَبَقَاتُ الْبَدْرِيِّينَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ )

[6] Ibunda Hadhrat Abdullah Bin Jahsy ialah Umaimah binti Abdul-Muththalib.

[7] Sahih Bukhari, Kitab al-maghazi (peperangan), Bab Ghazwah Uhud, hadis no 4045. Ucapan Hadhrat Abdurrahman bin Auf ra suatu kali ketika dihidangkan makanan lezat saat berbuka, “Mush’ab bin Umair telah terbunuh, sedangkan ia lebih baik dariku. Ia hanya dikafani dengan sebuah kain pendek dari bulu domba. Jika kepalanya ditutupi dengan kain itu, maka kedua kakinya nampak terlihat dan jika kedua kakinya ditutup maka kepalanya tampak terlihat. Hamzah bin Abdul Muthalib juga telah terbunuh dan ia lebih baik dariku….” Abdurrahman bin Auf kemudian menangis tersedu-sedu dan meninggalkan makanan lezat tersebut.