Jalsah Salanah UK 2018

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,
Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز,
ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz)
03 Agustus 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK

Alhamdulillāh, hari ini, sekali lagi, kita mendapat taufik untuk mengikuti Jalsah Salanah. Sebagian orang ada yang baru pertama mengikuti Jalsah dan juga ada yang dengan mudahnya mengadakan perjalanan ke sini dan tiap tahun mengikuti Jalsah. Ada juga orang-orang yang memang sudah lama tinggal di sini (UK atau Inggris) atau ada juga anak-anak yang baru menikmati suasana Jalsah. Namun yang paling penting adalah semua peserta hendaknya berusaha memperhatikan setiap acara Jalsah Salanah dalam tiga hari ini dengan diam dan perhatian. Dengan demikian barulah kita bisa mengambil faedah dari Jalsah Salanah. Pada saat itulah mereka menjadi orang yang memenuhi tujuan mengikuti Jalsah Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Sebagaimana telah semua ketahui, kepanitiaan Jalsah 100 persen atau 95 persen anggota Jemaat bekerja secara suka rela sehingga sedikit banyak pasti ada kelemahan dan kekurangan namun kita semua yang hadir harus ikut serta membetulkan kelemahan tersebut.

Pada satu segi para panitia mengevaluasi kelemahan diri mereka dan berusaha memperbaikinya sementara pada segi lain para tamu pun hendaknya melihat kelemahan mereka sendiri dan dimana saja melihat para panitia mengalami kesukaran, mereka dapat bekerjasama dan membantu. Jika ada tamu yang memerlukan bantuan, maka panitia harus membantunya. Begitu juga sebaliknya. Persatuan barulah akan kita dapatkan ketika kita saling memikul beban bersama-sama dan membantu satu sama lain.

Dengan karunia Allah Ta’ala sejak waktu yang lama para panitia datang untuk berkhidmat, sehingga banyak dari mereka yang sudah tertarbiyati mengenai hal ini. Dan setiap tahun para panitia berdasarkan pengalamannya mereka terus berkhidmat. Namun tentu pasti ada saja kekurangan di sana-sini. Hal pokok dan mendasar ini harus diingat oleh Mezbaan (tuan rumah) dan Mehmaan (tamu).

Umumnya satu minggu sebelum Jalsah saya membicarakan perihal tanggungjawab dan kewajiban-kewajiban para panitia dan tuan rumah sedangkan di hari Jumat saat Jalsah saya membicarakan kewajiban-kewajiban para tamu. Inilah keistimewaan Jalsah kita, bahkan keistimewaan Nizham Jemaat kita atau ketika setiap orang dari kita secara baik menunaikan hak dan kewajiban masing-masing dan memahaminya maka di sana akan menetap saling menyayangi satu dengan yang lain. Kelebihan Jalsah Salanah kita ini adalah kita tinggal satu sama lain dengan kasih sayang. Atau kita saling menunaikan hak kewajiban kita, baik itu tamu maupun panitia.

Pada khotbah Jumat lalu saya tidak mengatakan apa-apa perihal kepanitiaan tapi pada hari Senin lalu saat rapat umum panitia Jalsah, saya telah mengarahkan perhatian terhadap bagaimana seharusnya mereka dan pekerjaan mereka. Suatu karunia dari Allah ta’ala bahwa kebanyakan panitia ialah orang-orang yang telah tertarbiyati (terlatih dan terdidik). Mereka paham tugasnya dengan baik. Mereka yang baru bergabung menjadi panitia pun pernah bekerja sebelumnya. Demikian pula para Officer (pimpinan panitia) telah berpengalaman. Namun, saya ingin mengarahkan perhatian pada hal-hal yang harus lebih ditegaskan lagi dan dituntut untuk lebih banyak diperhatikan. Jadi, pada khotbah kali ini saya ingin mengingatkan para tamu dan juga tuan rumah.

Sebelum membahas hal lainnya, para panitia datang ke sini untuk mengkhidmati para tamu. Para tamu tersebut menghadiri Jalsah sesuai perintah Hadhrat Masih Mau’ud (as), bahkan perintah Allah Ta’ala. Mereka tidak datang demi kecenderungan duniawi bahkan datang ke Jalsah demi memperbaiki tolok ukur ruhani, keilmuan dan akhlaknya. Saya harap para peserta harus mencamkan hal tersebut. Jika tidak, berarti tidak ada tujuannya datang ke Jalsah ini. Lalu para panitia harus ingat untuk menampakkan akhlak tertinggi serta memperhatikan perasaan dan senantiasa memperhatikan keperluan tamu meskipun ada tamu yang bersikap kurang baik. Para panitia harus mengendalikan emosinya. Janganlah menjawab yang serupa dengan perkataan buruknya. Jika kalian harus menahan emosi karena kelakuan para tamu demi Allah Ta’ala maka lakukanlah itu. Barulah kalian akan bisa mendapatkan Ridha Allah Ta’ala.

Kita yang mengimani Nabi Muhammad saw sebagai uswah hasanah (teladan terbaik) tidak pernah mendapati bahwa beliau (saw) satu kali pun – meskipun beliau banyak kesibukan – lalu mengatakan kepada para tamu yang sebagian dari mereka sehari-hari sering beliau temui, “Saya sibuk. Datanglah lebih awal!” atau “Segera setelah makan, cepatlah pergi! Karena Anda di sini, pekerjaan saya jadi tertunda.”

Dalam satu riwayat ada para sahabat datang bertamu ke rumah beliau saw dan mereka duduk terlalu lama sehingga mengganggu Rasulullah saw. Meskipun begitu, beliau saw bersabar dan tidak bilang apa-apa demi menjaga perasaan mereka. Demi melihat keadaan orang-orang itu dan bagaimana Nabi (saw) menahan diri atas para tamunya dengan sabar, Allah Ta’ala berfirman,

فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

fayastahyi mingkum waLlahu laa yastahyi minal haqq –

“karena dia malu terhadap kalian tapi Allah tidak malu untuk menyampaikan kebenaran”. (Surah al-Ahzab, 33:54)

Artinya, “Dia (Nabi saw) menjaga perasaan kalian sehingga malu untuk melarang kalian.” Namun, Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini supaya jangan mengganggu orang lain dengan duduk-duduk lama di rumahnya tanpa ada keperluan penting. Jadi, di satu sisi, Allah Ta’ala menyebutkan memang Rasulullah saw memperlihatkan teladan pengkhidmatan tamu yang luar biasa, namun, di sisi lain, para tamu juga harus tahu diri berkenaan dengan hal itu. Jangan sampai melampaui batas sehingga justru bisa mengganggu waktu orang lain. Dalam kondisi sebagai tamu, tamu hendaknya tidak membuat kerugian pada orang lain.

Selanjutnya, tolok ukur mehman nawaasi (pengkhidmatan terhadap tamu) terhadap orang-orang yang selain Muslim yang Nabi saw lakukan demikian membuat takjub. Ada suatu peristiwa yang dengannya kita dapat membayangkan betapa Hadhrat [Nabi Muhammad] saw demikian tingginya sikap berkhidmat kepada tamunya. Seorang tamu non Muslim (Yahudi) yang bermalam di rumah Rasulullah saw, pagi-pagi sekali ia sudah pergi tanpa pamit, lalu ditemukan kemudian bahwa ia meninggalkan kotoran di tempat tidurnya disebabkan sakit perut. Kemudian beliau saw sendiri yang membersihkan tempat itu sedangkan para sahabat berkata ketika mengetahui hal itu, “Wahai [Rasul] kesayangan kami, yang bagi engkau kami bersedia mengorbankan ibu-bapak kami, biarlah kami saja yang mengerjakan hal itu!”

Namun Rasulullah saw bersikeras kepada para Sahabat, “Tidak! Ia adalah tamu saya. Biar saya sendirilah yang membersihkannya.”

Inilah tolok ukur keteladanan luhur yang tidak ada bandingannya. Di Jalsah kita juga datang orang-orang Ahmadi dan yang bukan Ahmadi (baik Muslim atau non Muslim. Mereka semua yang datang ke Jalsah ini telah meraih suatu keluhuran akhlak tersendiri dan mereka datang untuk mempelajari agama atau ingin mencari tahu soal Islam dan Ahmadiyah.

Tiap orang toh mempunyai kelemahan manusiawi. Jika ada orang yang bersuara tinggi atau berbuat yang kurang tepat, kita tidak bisa katakan akhlaknya buruk atau niatnya tidak baik. Ini kelemahan manusiawi yang karenanya terkadang membuat kita harus toleran.

Para Ahmadi apakah itu mereka tuan rumah maupun tamu, mereka harus memperlihatkan akhlak yang mulia. Setiap panitia apapun bidangnya, harus menunjukkan akhlak yang mulia dibandingkan orang-orang selain mereka. Jika para panitia berakhlak mulia, orang-orang pun akan menjadi malu. Jadi, tiap anggota panitia – apa pun bidangnya – hendaknya menampakkan akhlak luhur. Hal ini adalah sebuah tantangan besar. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an, قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “Bicaralah kepada orang-orang secara baik dan dengan lemah lembut” (Surah al-Baqarah, 2:83)

Kelemah-lembutan dan pembicaraan secara baik ialah hal mendasar yang dapat menghilangkan pertengkaran. Memperlihatkan akhlak luhur ialah suatu keharusan. Namun, prinsip ini bukan hanya untuk sementara di event-event khusus, tapi juga selamanya harus terus berusaha untuk mengamalkannya. Jika orang-orang berpegang teguh pada prinsip ini, pasti tidak akan tersisa pertengkaran dan keributan. Para tamu dan para panitia hendaknya mengarahkan perhatian pada arahan Ilahi ini senantiasa sekarang dan seterusnya.

Semuanya wajib memperhatikan hal ini secara khusus pada tiga hari Jalsah ini. Semua pihak hendaknya menjadikan lingkungan ini lingkungan yang berbahagia dan beruntung supaya tercapai tujuan yang demi itu pertemuan ini diselenggarakan. Akhlak ini akan mengikat mereka yang datang ke Jalsah dari kalangan non Muslim dengan ikatan akhlak Islam nan mulia. Ini akan menyebar di kalangan para tamu dan panitia serta berperan sebagai Khamusyi Tabligh (tabligh secara diam-diam).

Nabi Muhammad (saw) bersabda,

مَا مِنْ شَيءٍ أَثْقَلُ في ميزَانِ المُؤمِنِ يَومَ القِيامة مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وإِنَّ اللَّه يُبْغِضُ الفَاحِشَ البَذِيَّ

“Tidak ada timbangan yang lebih berat selain kebagusan akhlak.”[1]

Kita perhatikan bahwa demi penciptaan akhlak luhur secara kontinyuitas memerlukan penegakan shalat dan puasa juga. Artinya, hal-hal itu mengarahkan pada pencapaian kebaikan-kebaikan. Secara khusus pencapaian kebaikan yang demi ridha Allah lalu menciptakan perhatian pada ibadah. Syukur demi Allah juga bahwa tampak akhlak mulia ini tengah diamalkan sesuai perintah Allah. Kesyukuran ini membuat tercipta perhatian pada ibadah. Artinya, suatu kebaikan mendatangkan kebaikan lain yang lebih tinggi lagi mutunya. Suatu kebaikan akan beranak (melahirkan) kebaikan-kebaikan lain. Dengan demikian, para panitia hendaknya, bagaimanapun keadaan para tamu harus tetap memperlihatkan senyum kepada mereka. Penampakkan keadaan lahiriah penuh senyum ini akan memberi kesan pada hati mereka. Tidak menimbulkan kekerasan hati. Jika hati tanpa sebab menjadi keras (kasar), tentu hal itu mengarah pada kemarahan.

Demikian luhurnya akhlak Rasulullah (saw) sampai-sampai ada seorang Sahabat ra berkata, “Saya tidak pernah melihat wajah penuh senyum melebihi Rasulullah saw.”

Rasulullah saw bersabda,

مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَمَنْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ

“Orang yang jauh dari kelemah-lembutan, maka dia akan jauh dari kebaikan.” [2]

Jika para sukarelawan dan para tamu memahami hal ini maka keberkatan lingkungan ini akan penuh dengan tarikan-tarikan kebaikan dan berkah.

Para sukarelawan (panitia) mengkhidmati para tamu dengan keikhlasan hati, dengan karunia Allah. Bersamaa dengan itu, jika ada tamu yang merasa diperlakukan tidak adil atau misalnya menganggap si Fulan dari kalangan tamu lebih dihormati darinya, para panitia harus membuat betul pemikiran ini. Namun, saya ingin berkata kepada para peserta Jalsah juga bahwa ketertiban Jalsah yang cakupannya luas dengan karunia Allah melalui sarana para panitia yang sukarelawan juga. Para panitia bukanlah pembantu kita. Sebagian mereka ialah pejabat di sebuah instansi atau lembaga. Mereka mengajukan diri demi mengkhidmati tamu-tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan simpati dan semangat. Demikian pula, para panitia juga terdiri dari para pemuda/i, pelajar dan mahasiswa. Anak-anak juga berkhidmat dengan penuh semangat.  Oleh karena itu jika ada kesalah-pahaman yang sepele dan kekurangan-kekurangan kecil dalam kepanitiaan maka ingatlah satu hal, “Saya datang ke sini berkumpul di Jemaat dalam rangka mendengarkan firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya saw saja.”

Apabila hal ini yang dikedepankan, maka Insya Allah semua kesalah-pahaman ini akan menjauh. Terdapat suatu Nizham khas demi menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dan mengorganisasi Jalsah. Demi penyempurnaan hal itu, ada berbagai bagian dan bidang.

Jika ada dari antara tamu melihat kekurangan panitia di bagian tertentu atau terpikir bahwa si panitia tidak menyambut tamu dengan hormat, maka jangan bicara dengan panitia tersebut, tapi langsunglah tulis kepada officer  (atasan) mereka. Jika tidak bisa diperbaiki tahun ini maka tahun depan akan diperbaiki. Merupakan keistimewaan Nizham Jemaat kita – itu harus demikian – kelemahan-kelemahan yang diadukan kepada kita maka kita berusaha menghilangkannya.

Bagian penting dari Dhiyafat ialah masak-memasak di langgar khanah Jalsah dan penyediaan makanan. Langgar Khanah (dapur umum) Jalsah memasak masakan tertentu. Sekurang-kurangnya ada masakan yang ditemukan di dunia lain. Ada mayoritas orang Pakistani dan India. Ada makanan khusus untuk di luar dua negara atau kebangsaan itu. Untuk regional Pakistan dan India ada masakan khusus kentang, daging dan daal dan juga roti di Langgar Khanah. Orang-orang Pakistan dan India dianggap sebagai tuan rumah. Meskipun begitu, untuk mereka juga harus diperhatikan makanannya. Jangan memasak sesuka hati. Misalnya kemaren saya cek daging kurang matang, maka yang semacan ini harus segera ditanggulangi. Karena pada hari kemarin tamu belum banyak maka tidak ada keluhan yang datang. Saya harap tidak datang pengaduan dari para tamu, insya Allah. Namun bila pun datang pengaduan, itu boleh, hanya saja bukan dengan kemarahan tapi dengan kesantunan dan kecintaan menyampaikan kepada para panitia, “Ini sebuah kelemahan yang harus disempurnakan. Sebab, jika demikian (makanan tidak matang), makanan akan tersia-siakan. Menjaga rezeki ialah sesuatu yang diperintahkan kepada kita.”

Para peserta Jalsah hendaknya memperhatikan hal ini bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ Salah satu akhlak baik yang merupakan keistimewaan Islam ialah seorang Mu’min meninggalkan hal-hal yang laghau/sia-sia.[3] Oleh karena Jalsah ini adalah pertemuan rohani maka jangan nodai dengan hal-hal yang laghau. Perhatikan (ikutilah) setiap program-program Jalsah. Penceramah apakah itu kalian sukai atau tidak, kalian harus tetap memperhatikannya. Pasti ada hal-hal yang bisa mempengaruhi dan bermanfaat bagi kalian dari antara tema atau isi pidato yang dibahas. Jangan pergi dari Jalsah Gah kecuali untuk keperluan-keperluan mendesak.

Keikutsertaan dalam Jalsah dan kehadiran dalam program-programnya berpera dalam membentuk pemikiran pada anak-anak dan para pemuda untuk menjalin ikatan dengan agama. Di tengah-tengah lingkungan materialistik pada masa ini, para pemuda dan anak-anak perlu diarahkan perhatian ke arah pentingnya agama dan menjalin hubungan dengan agama. Hal itu teramat maha penting dan para orangtua secara khusus harus memperhatikan hal ini. Setiap ibu dan setiap bapak harus berusaha ke arah ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik untuk semua.

Dari segi tarbiyat, hal terpenting dalam jalinan atau ikatan dengan agama ialah ibadah-ibadah. Kalian harus perhatian terhadap Shalat lima waktu berjamaah. Dikarenakan kesibukan program Jalsah dan kondisi Musafir, shalat-shalat kita jamak. Suatu keharusan untuk disiplin melaksanakannya. Anak-anak pun perlu datang ke Hadiqatul Mahdi ini di waktu-waktu shalat. Jika tidak dapat datang kemari saat shalat Shubuh, waktu Maghrib dan Isya; mereka besa mengatur shalat berjamaah di rumah masing-masing atau di Shalat Center (Mushalla) atau di Masjid dan bagi yang jauh dari Masjid bisa berjamaah di rumah masing-masing. Hendaknya hal ini diperhatikan.

Demikian pula, para panitia  harus memperhatikan hal ini. Bagi yang longgar waktunya dari tugas dapat datang kemari (Jalsah Gah, Hadiqatul Mahdi) atau jika tidak punya waktu yang longgar karena kesibukan, sebelum menyelesaikan tugasnya, ia shalat. Bagi para panitia yang bertugas hendaknya memperhatikan pengaturan waktu-waktu shalat. Jangan sampai waktu shalat lewat karena bekerja di kepanitiaan. Hendaknya ada shift (giliran), supaya masing-masing shift mengalami shalat berjamaah. Jika kita tidak memperhatikan Shalat, maka semua pekerjaan akan sia-sia dan tidak berguna.

Saya juga ingin menambahkan beberapa hal terkait kepengurusan (intizhaam, pengaturan) Jalsah. Mereka yang memarkir kendaraannya hendaknya bekerjasama dengan para panitia dan memarkir kendaraan di tempat yang ditunjuk panitia. Kadang-kadang orang-orang yang parkir kendaraan bersikap keras kepala sehingga menimbulkan masalah dan permusuhan. Mereka parkir sesuka hati, bahkan bisa beresiko. Demikian pula, para tamu yang datang ke selain Jalsah gah yaitu ke Masjid Fazl, perhatikanlah mengenai parkir mobilnya. Jangan sampai mengganggu tetangga. Dari antara mereka (lingkangan tetangga kita) ada yang keberatan. Pada hari Senin lalu, ada tetangga yang sampai berkata kepada panitia, “Kalian memarkir kendaraan di depan rumah kami sehingga membuat jalan tertutup. Kami tidak bisa mengeluarkan mobil kami dan juga memasukkannya ke garasi rumah” Bahkan, ada yang sampai mengatakan, “Kata kalian Khilafat pembimbing kalian. Demi menjalin hubungan dengan Khilafat kalian tiap tahun shalat Id dan menghadiri hari-hari Jalsah. Kalian bilang supaya kami menerima Khalifah. Apa kalian tidak dapat tarbiyat (didikan) dari Khalifah kalian tentang menghormati hak-hak tetangga? Kalian banyak bicara tentang Khilafat tapi amal perbuatan kalian seperti ini.”

Hal-hal semacam ini patut bagi tiap orang untuk merasa malu karena seorang bukan Ahmadi sampai mengata-ngatai seperti ini karena kelakuan orang kita. Saya pun merasa malu. Kata-kata orang itu boleh-boleh saja dan benar. Jika kita menghalangi jalan, dua hal yang terjadi, secara khusus pasti membuat susah internal kita juga dan kedua membuat susah para tetangga. Islam yang mengajarkan untuk menghormati hak-hak tetangga dan tidak ada yang sepertinya dalam kejelasan mengajarkan hal ini namun meskipun demikian sebagian dari kita tidak mengamalkan hal itu. Ini hal yang patut untuk membuat kita malu. Orang-orang yang berbuat seperti ini adalah pendosa.

Secara khusus saya katakan ini kepada mereka yang datang dari luar London, datang dari Eropa, orang-orang yang bawa mobil seperti dari Jerman dan sebagainya,  mereka harus memperhatikan hal ini. Sebagian ada yang tidak perhatian dan sesuai laporan petugas kepada saya, ketika panitia berusia muda memperingati mereka, justru mereka keras kepala dan berkata yang tidak baik. Jika sampai seperti itu, berarti mereka sudah melakukan kesalahan. Satu, dosa mengganggu hak orang lain karena parkir bukan di tempat yang tepat dan  mempermalukan Jemaat. Kedua, menghilangkan rasa hormat di dalam hati para pemuda dan anak-anak terhadap orang-orang dewasa.

Jika anak-anak meniru yang mereka katakan maka itu akan menjadi contoh buruk. Mengapa memasukan mereka dalam cobaan dan ujian? Tidak ada gunanya menghabiskan biaya begitu besar untuk menghadiri Jalsah jika perilakunya demikian. Mereka sudah merusak tarbiyat anak-anak yang berkhidmat. Jika terjadi yang demikian, contoh apa yang mereka berikan? Orang-orang yang seperti ini sebaiknya tidak datang ke Jalsah supaya tidak hanya merugikan diri mereka sendiri tapi juga mereka melawan Allah Ta’ala, di samping itu mereka juga merusak tarbiyat anak-anak sebagaimana telah saya katakan. Oleh karena itu kita harus memperhatikan hal ini di masa mendatang.

Saya juga ingin menarik perhatian bagian kebersihan dalam kepengurusan mereka. Kita harus selalu ingat bahwa kebersihan ialah sebagian dari iman. Perihal kebersihan toilet. Terdapat keluhan terkadang air kurang. Kebersihan jalan-jalan, lapangan dan lain-lain.

Hari-hari ini, tidak ada hujan. Jadi ada kemungkinan bahaya kebakaran. Baik para tamu dan panitia harus perhatikan benda-benda yang menimbulkan bahaya api. Ini adalah hakikat bahwa ada yang suka merokok, mereka harus memperhatikan hal ini. Bagaimanapun juga di Hadiqatul Mahdi tidak boleh merokok. Jika mau merokok pergilah keluar dari Hadiqatul Mahdi. Tapi jangan kalian beranggapan saya mengizinkan merokok (Urdu: sigaret pina). Merokok adalah suatu keburukan. Hadhrat Masih Mau’ud (as) memang tidak mengharamkannya tapi beliau menampakkan tidak menyukainya. Bersamaan dengan itu beliau juga menekankan untuk meninggalkan rokok. Jika ada yang punya kebiasaan minum minuman keras, hal ini tidak bisa ditoleransi. Ini adalah dosa.

Terkait pengawasan keamanan lingkungan Jalsah, baik di dalam maupun di luar ruangan Jalsah, hendaknya perhatikan apa-apa saja unsur yang membahayakan, benda atau tindakan yang perlu dicurigai, jika melihatnya, segeralah laporkan hal itu kepada para panitia terdekat.

Secara khusus bagi kaum perempuan, janganlah menutup wajahnya (termasuk mulut) saat di tempat Jalsah Gah. Tidak memakai niqab di tempat Jalsah. Di pintu gerbang atau di tempat screening secara benar wajah mereka dapat terlihat. Di dalam tempat Jalsah bukalah wajah masing-masing [tidak bercadar]. Jika memang harus menunggu melewati x-ray atau scanning di pintu gerbang, tunggulah dengan sabar. Langkah antisipasi dan keamanan ialah hal yang perlu dan suatu keharusan.

Terkadang terdapat keluhan mengenai kaum ibu yang mempunyai anak-anak. Jika anak-anak ribut masih bisa dimengerti karena lebih kecil keributannya dibanding ibu-ibu jika ribut. Jika para ibu yang mempunyai anak-anak di tenda memberikan sesuatu kepada anak-anak itu atau anak-anak itu dalam kesibukan terus bermain atau diberikan makanan tentu mereka akan sibuk dalam hal itu dan diam. Tapi, setelah anak-anak itu diam, para ibu ini yang berpikiran, “Sekarang waktunya kami yang membuat keributan (bising).”

Maka dari itu, mereka pun mulailah mengobrol satu sama lain. Terkadang mereka mengobrol di sela-sela pidato tengah disampaikan. Bila ada yang bising, kaum ibu lain yang ingin menyimak pidato Jalsah jadi terganggu. Jika anak-anak yang ribut maka ini bisa ditoleransi. Kalau kaum ibu, hal ini tidak bisa ditolerir [kita tidak bisa tahan]. Ada pengaduan dari kaum ibu bahwa terkadang selama pidato Jalsah di tenda kaum itu terdapat orang-orang yang tanpa kepentingan melakukan obrolan dan jika ada panitia gadis (yang berusia muda) mengingatkan mereka agar diam, mereka berkata-kata yang tidak pantas dan menjawab yang tidak tepat.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada semua supaya menarik manfaat dari Jalsah dan mengamalkan semua petunjuk-petunjuk yang baru saja saya sampaikan itu atau yang tertulis dalam program masing-masing. Namun, satu hal yang harus diingat diantara semua petunjuk itu yang mana merupakan kewajiban dan teramat penting yaitu berdoa supaya Jalsah berlangsung sukses. Berdoalah supaya hanya karunia Allah semata sehingga Jalsah mendapat keberkatan-Nya dari setiap segi, terjaga dai semua keburukan dan kita meraih aliran karunia yang demi itu kita datang ke Jalsah ini.

Demikian pula, saya ingin menyampaikan bahwa di bawah supervisi redaksi Review of Religion diselenggarakan pameran kain kafan Turin di marquee (tenda)nya yang telah disediakan. Ada Al-Qalam Project (menulis indah dalam huruf Arab) yang ada di tempatnya sendiri. Departeman Tabligh UK juga mengadakan pameran Al-Quran Karim juga. Hari ini ada launching (peluncuran) 2 website, Turislam dan Rational Religions. Departemen Tabligh juga menampilkan pidato-pidato mengenai riwayat hidup Rasulullah (saw) secara online. Ini pun merupakan termasuk salah satu keistimewaan Jalsah yang dimulai sekarang. Bagaimanapun juga, selain program rutin di Jalsah Gah, masih ada program-program yang lain. Maka sebanyak-banyaknya ambillah faedah dari program-program Jalsah Salanah ini. Semoga Allah Ta’ala menjadikan orang-orang yang hadir di Jalsah ini mendapatkan bagian doa-doa dari Hadhrat Masih Mau’ud as, Aamiin

 


Penerjemah: Dildaar Ahmad

Referensi : http://www.islamahmadiyya.net/cat.asp?id=116 (bahasa Arab); Bantuan referensi : terjemahan bebas oleh: Mln. Saifullah Mubarak Ahmad

[1] Sunan at-Tirmidzi, riwayat Abu Darda (أَبي الدَّرداءِ)

[2] Sunan At-Tirmidzi no.2013

[3] Sunan at-Tirmidzi, 3976.

(Visited 93 times, 1 visits today)