Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 2 Fatah 1390 HS/Desember 2011

di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

 

Segolongan dari kaum Muslimin memusuhi Ahmadiyah tanpa menimbang-nimbang (tanpa pemikiran mendalam) sebagai akibat taqlid (patuh dan menuruti secara membuta, tanpa kritisme) kepada apa saja yang dikatakan oleh mereka yang dinamakan ulama, yang pekerjaannya menimbulkan fasad (keonaran, kerusuhan).

Sementara itu, segolongan lainnya dari mereka (kaum Muslimin) dan merupakan berjumlah sangat banyak tidak memiliki hubungan dengan agama. Mereka shalat hanya pada waktu Id atau sebanyak-banyaknya shalat Jumat, yang itu pun dilakukan kadang-kadang saja. Banyak diantara mereka yang tidak menyukai segala macam pemaksaan dan kekerasan dalam hal agama dan tidak menyetujui fatwa-fatwa pengkafiran yang bersumber dari para mullah (ulama) namun bersamaan dengan itu disebabkan adanya rasa takut maka mereka itu diam saja.

Namun, ada juga sebagian dari antara mereka yang meskipun sedikit pengetahuan agamanya, tetapi memiliki ghairat (semangat kepedulian) agar berbagai keberatan yang dilontarkan oleh beberapa pihak luar Islam dapat segera dijawab. Mereka sangat mendambakan berbagai macam firqah di dalam Islam dapat bersatu-padu menghadapi musuh-musuh Islam dan dajjaliyat. Di dalam golongan ini terdapat orang-orang Muslim yang tinggal di Pakistan, India, negara-negara Arab dan orang-orang Muslim dari negeri-negeri lainnya.

Sesungguhnya, orang-orang yang mengenal Islam hanya sebagai nama Islam saja itu dan tidak termasuk ke dalam golongan mana pun berkeberatan dengan Jemaat Ahmadiyah atau mempertanyakan di berbagai kesempatan, “Bukankah di masa awal di dalam Islam tidak ada firqah sedangkan anda telah membuat satu firqah (golongan) dalam Islam?” Mereka menyampaikan kepada kita, “Apabila anda sekalian (Ahmadiyah) bersimpati kepada Islam, berusahalah agar bebas dari belenggu firqah-firqah (tidak terpecah-belah atau tidak masuk dan membuat golongan tersendiri)”.

Maka dengan ini, hal pertama dari yang banyak hal [yang ingin saya sampaikan] adalah saya mengucapkan terima kasih dari segi ini kepada pihak yang mempertanyakan karena sekurang-kurangnya mereka itu telah menganggap kita sebagai satu golongan dalam kaum Muslimin, menganggap kita orang Islam. Mereka tidak menyematkan fatwa kafir tanpa pemikiran.

Kepada orang-orang yang demikian, inilah yang ingin saya tanyakan, “Allah Ta’ala telah bersikap kasih-sayang kepada umat Muslim sehingga sesuai dengan janji-Nya sendiri, sesuai dengan nubuatan (kabar tentang masa kemudian) dari Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dia telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani ‘alaihish shalaatu was salaam dan menjadikannya al-Masih al-Mau’ud dan al-Mahdi al-Ma’huud untuk mengakhiri firqah-firqah (golongan-golongan, kelompok-kelompok).

Kaum Muslimin yang masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah [sebenarnya] telah menyampaikan salaam Nabi Muhammad saw kepada Masih Mau’ud as, mereka berasal dari berbagai macam golongan Islam; masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah sembari meninggalkan golongannya masing-masing; untuk mengamalkan ajaran Islam yang hakiki mereka masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah. Allah Ta’ala telah memberi karunia kepada mereka dengan membukakan mata bashirah mereka sehingga setelah mengatakan, “Salam sejahtera, selamat tinggal!” kepada ikatan firqah (kelompok) mereka pun menerima Islam hakiki (yaitu Jemaat Ahmadiyah).

Selanjutnya dengan berbaiat kepada hakam dan ‘adal ini yang mengenainya telah dinubuatkan oleh Hadhrat Muhammad Rasulullah saw supaya riwayat-riwayat, ajaran-ajaran dan bid’ah-bid’ah yang salah yang masih terdapat di berbagai firqah Islam dapat dibersihkan; mereka dapat diperlihatkan cahaya ajaran yang sebenarnya dari Alqur’an dan mereka dapat diusahakan agar sesuai dengan ajaran yang sebenarnya dari Alqur’an dan beramal berdasarkan hal itu. Hal ini semata-mata adalah natijah (buah, akibat, dampak positif) dari tarbiyat dan pencerahan hakiki ajaran Islam dari seorang wujud yang diutus oleh Allah Ta’ala, bahwa Jemaat Ahmadiyah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul saw, menganggap setiap orang yang mengikrarkan Kalimah adalah Muslim.

Bagi seorang Muslim, untuk disebut Muslim bagi seseorang cukup mengikrarkan, “لا إله الله محمد رسول الله” ‘Laa illaaha illAllaah, Muhammadur Rasulullah’ dan ini terbukti dari Hadits.[2]

Tetapi, sebaliknya, perhatikanlah firqah-firqah (golongan-golongan Muslim) lainnya maka akan nampak satu dengan yang lain terus-menerus mengeluarkan berbagai fatwa takfir (yang menyatakan atau menuduh seseorang keluar dari Islam). Jadi, kesalahan pemahaman orang-orang yang jauh dari Islam itu [yang mengatakan] bahwa dalam kondisi umat Islam yang telah terbagi menjadi berbagai firqah lalu Jemaat Ahmadiyah telah menambah satu lagi dasar kerusakan dengan mendirikan satu kelompok lain lagi (dalam kalangan umat Islam) merupakan akibat dari kekurangan dalam ilmu pengetahuan tentang Alqur’an dan Hadits. Siapa saja yang menelaah literatur firqah (golongan) lain pasti melihat tumpukan fatwa takfir dari satu golongan menentang golongan lain.

[Sebaliknya], apabila seseorang mempelajari literatur (buku-buku atau tulisan-tulisan terbitan) Jemaat Ahmadiyah, akan didapatinya berbagai dalil yang membela (mempertahankan) Islam dari berbagai macam serangan [kritikan] pihak luar [Islam]. Atau, nampak permintaan seruan kepada kaum Muslimin agar meninggalkan racun fatwa takfir dan menaruh perhatian kepada kesiapsediaan terhadap pengkhidmatan kepada Islam. Atau, kiat apa saja yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban terhadap huquuqullooh dan huquuqul ‘ibaad. Atau akan terlihat dengan jelas apa saja yang seharusnya kita lakukan untuk menyebarluaskan perdamaian dan cinta kasih di dunia dan bagaimana upaya kita untuk mendinginkan api kebencian. Atau, bagaimana kedudukan para sahabat Hadhrat Rasulullah saw yang setiap dari mereka adalah bintang bercahaya yang patut kita ikuti, masing-masing dari mereka mempunyai kedudukan tersendiri.

Jadi, dalam literatur-literatur Jemaat Ahmadiyah, hal-hal yang indahlah yang nampak dan bukan fatwa-fatwa pengkafiran. Seperti telah saya katakan sebelumnya, siapa saja dapat menyaksikan tumpukan demi tumpukan fatwa takfir (saling mengkafirkan) dan fatwa saling menentang satu dengan yang lain kala mempelajari buku fatwa kelompok-kelompok (Muslim).

Poin terakhir yang telah saya sebut tadi ialah tentang apakah maqam (kedudukan) para sahabat? Pembicaraan ini yang saya ambil [untuk dibahas di kesempatan ini]. Bila diperhatikan di dalam Islam telah terbagi menjadi dua golongan besar. Masing-masing golongan itu selanjutnya terbagi menjadi firqah-firqah. Syiah dan Sunni. Syiah dan Sunni keduanya sama-sama ghulluw (melampaui batas) dan berlebihan; mereka tidak mau menahan diri dalam merendahkan kemuliaan derajat para sahabat Rasulullah saw.

Dikarenakan sikap ghulluw ini, mereka sudah dan sedang terus-menerus saling memfatwakan kafir antara satu terhadap lainnya. Bila salah satu pihak (golongan Syiah) menyajikan kemuliaan derajat Hadhrat Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu dan Hadhrat Imam Husain ra sedemikian luhurnya, sekaligus pula berupaya menjatuhkan dengan sangat menzalimi kedudukan para sahabat besar dan Khulafaur Rasyidin lainnya. Sementara itu, di pihak lain (Sunni) pun tidak kurang (tidak kalah sengit) dalam menjawabnya. Lalu, di dalam dua aliran besar tersebut, terpecah-belah lagi menjadi berbagai macam firqah seperti telah saya sampaikan tadi. Firqahfirqah hasil perpecahan ini satu dengan yang lain saling menimbulkan pertikaian. Pendek kata, semua pertikaian tersebut mengarahkan kepastian (mencitrakan) bahwa Islam – nau’dzubillah – agama keras, yang hanya mengeluarkan fatwa kufr dan menimbulkan kerusakan.

Akan tetapi sebaliknya, seperti telah baru saja saya jelaskan, Jemaat Ahmadiyah toh mempunyai satu maksud dan tujuan (cita-cita) yang indah. Maksud dan tujuannya adalah untuk menyajikan gambaran kebaikan dan keindahan Islam. Oleh karena itu, memandang Jemaat Ahmadiyah sama dengan kelompok-kelompok dan firqah-firqah lainnya, menurut sudut pandang Jemaat Ahmadiyah adalah hal yang berlebih-lebihan.

Sekarang ini, kita sedang memasuki bulan Muharram [26 November hingga 26 Desember 2011] dan tiap tahun kita melewati bulan ini maka kita menyaksikan di bulan ini di beberapa negara yang jumlah penduduknya sama-sama banyak dari golongan Sunni (atau yang menyatakan diri ahlus sunnah wal jama’ah) dan Syiah (atau yang menamakan diri Jamaah Ahlul Bait, pecinta Ahlul Bait); keduanya sama-sama menderita kerugian jiwa dan harta-benda [karena saling bertikai, saling serang]. Apakah itu di Pakistan, Iraq ataupun di beberapa negara lainnya, kita melihat di bulan Muharram terjadi berbagai macam fasaad (kerusuhan, pertikaian), sedang terjadi kehilangan nyawa dan kerugian harta-benda. Kerusakan ini telah menjadi pemandangan umum sehari-hari namun terjadi lebih banyak khususnya di bulan Muharram.

Seperti telah saya sampaikan, orang-orang itu, satu dengan yang lain saling bertentangan dan menyematkan tumpukan (sangat banyak) fatwa takfir. Ketika saya melihat kumpulan artikel akan tetapi berisi sejumlah fatwa yang sedemikian demikian kasar dan menistakan, maka saya pun tidak hendak untuk menyampaikannya di sini, meskipun hanya satu sebagai contohnya.

Saat ini saya hanya menyajikan petunjuk-petunjuk yang sarat hikmah dari hakam (yang memutuskan) dan ‘adl (penegak keadilan) zaman ini, Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud yang telah beliau as jelaskan mengenai Khulafaur Rasyidin, para sahabat Nabi saw yang mulia, Hadhrat Imam Husain ra dan yang lainnya. Dengan [menelaah] ini dapat diketahui bahwa dengan cara yang sedemikian indah beliau as berusaha keras untuk menghilangkan bangunan pertikaian. Tatkala saya menyuruh mengumpulkan petunjuk-petunjuk beliau as tersebut, halaman-halaman kutipan telah disesuaikan, namun karena melihat dari sisi waktu maka saat ini yang saya pilihkan untuk saudara-saudara hanya beberapa di antaranya saja.

Di dalam Jemaat Ahmadiyah juga orang-orang yang masuk untuk baiat berasal dari berbagai golongan yang boleh jadi masih belum mendapat tarbiyyat (pendidikan) dengan benar, perlu bagi mereka untuk memperdengarkan petunjuk-petunjuk ini dan beberapa orang yang telah saya sebutkan contohnya yaitu mereka yang kadang-kadang menonton MTA atau mendengar khotbah atau yang tertarik dengan Jemaat Ahmadiyah atau yang menaruh simpati kepada Islam namun di dalam otak mereka tersimpan pertanyaan apakah Jemaat adalah sebuah firqah yang sama seperti firqah lainnya.

Beberapa kutipan tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as ini perlu disampaikan ke hadapan mereka agar mereka mengetahui bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as datang untuk mempersatukan berbagai firqah dan membersihkan hal-hal yang berlebihan (tambahan-tambahan dalam agama). Tuhan lewat ilham telah memberi amanat satu tugas kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bagi kaum Muslimin, “Himpunlah kaum Muslimin yang ada di atas muka bumi على دين واحد ‘alaa diinin waahid’ – “diatas satu diin (corak ketaatan, agama).” [3]

Jadi, beliau datang untuk mengakhiri firqah-firqah, menyatukan seluruh kaum Muslimin dalam satu tangan dan mengumpulkannya diatas satu agama. Dari segi ini seperti telah saya katakan, saya akan mempersembahkan beberapa kutipan. Yang pertama dari semuanya, saya sampaikan satu kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang di dalamnya beliau as menyampaikan bahwa tanda keislaman dan keimanan seseorang ialah dengan menjalani jalan Khulafa ur Rasyidin (para khalifah lurus). Beliau as bersabda, “Sesungguhnya saya mengetahui, bahwa tidak akan ada orang yang dapat menjadi Mukmin (orang beriman) atau Muslim (orang Islam) sebelum menyerap semua corak sifat Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar, Hadhrat Usman, dan Hadhrat Ali ridhwaanulloohi ‘alaihim ajma’iin; mereka tidak cinta dunia melainkan mewaqafkan kehidupan mereka di jalan Allah semata.”[4]

Beliau as bersabda di tempat lain di buku karya tulis beliau, ‘Sirrul Khilafah’ (‘Rahasia Khilafat’, diterbitkan pada tahun 1894) halaman 328 mengenai maqam (kedudukan) Khulafaa-ur Rasyidiin (para khalifah lurus). Nomor halaman ini saya sampaikan di sini karena ini adalah buku berbahasa Arab dan saya pagi-pagi harus menyampaikan nomor halaman rujukan kepada pencatat dalam bahasa Arab [Jemaat berbahasa Arab] agar mereka mudah menerjemahkannya. Sebab, bahasa Hadhrat Masih Mau’ud as dalam kata-kata aslinya akan sangat berkesan bila disampaikan di hadapan orang-orang Arab dan orang-orang yang mengetahui bahasa Arab yang [mana kesan itu] tidak akan bisa dicapai kedudukannya oleh sebuah terjemahan sebagaimana penjelasan Hadhrat Masih Mau’ud as. Sesungguhnya beliau as bersabda,

“Demi Allah, sesungguhnya mereka [para Khalifah mulia, Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar, Hadhrat Utsman dan Hadhrat Ali ridhwaanulloohi ‘alaihim ajma’iin] adalah para lelaki perkasa yang telah menyerahkan nyawa mereka untuk membantu Khairul Kaa-inaat (Sebaik-baik makhluk, Hadhrat Muhammad Rasulullah saw) dan telah meninggalkan bapak-bapak dan anak-anak mereka karena Allah dan telah memutuskan hubungan dengan mereka. Mereka telah berperang melawan orang-orang yang mereka cintai [rekan sejawat atau keluarga mereka yang memerangi Nabi saw dan para sahabat], dan memenggal kepala-kepala [para musuh dalam perang].

Mereka telah menyerahkan jiwa dan raga mereka kepada Allah, walaupun demikian mereka pun banyak menangis dan menyesal karena merasa amal mereka masih sedikit. Mereka tidak mau memejamkan mata untuk beristirahat kecuali sedikit sekedar memberi hak kepada mata-mata mereka beristirahat dan mereka itu bukanlah orang-orang yang mengejar kesenangan dunia.

Maka bagaimana mungkin kalian dapat berprasangka bahwa mereka telah berbuat zalim, merampas hak milik orang lain, tidak berlaku adil dan terus berbuat dosa?

Telah pasti dan terbukti, bahwa mereka benar-benar telah terlepas dari keinginan pribadi mereka dan jatuh melebur dalam kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Agung, dan adalah mereka itu suatu kaum yang fana (telah melebur dalam kehendak Allah).” [5]

Jadi, beliau bersabda bahwa orang-orang ini yang adalah para khulafa ur rasyidin, telah berkorban untuk Nabi saw dan Islam; mereka juga telah fana dalam Allah Ta’ala. Selanjutnya, di dalam ‘Sirrul Khilaafah ’ halaman 355 beliau as bersabda mengenai Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu,

“Beliau seorang arif bermakrifat sempurna; berakhlak santun berfitrat penyayang; menjalani hidup dengan penuh kerendahan hati dan papa; sangat pengampun, hangat dan berkasih-sayang; ciri khas beliau ra dapat dikenali dengan cahaya yang senantiasa bersinar di dahi beliau. Beliau ra memiliki hubungan yang sangat dekat dengan al-Mushthafa; dan jiwa beliau pun telah berjumpa dengan jiwa Khairul Wara’ (sebaik-baik ciptaan, Nabi Muhammad saw); beliau ra telah diliputi oleh sebagian nur dan yang juga telah meliputi pembimbing beliau, mahbuub al-Maula (kekasih Allah, Sang Pelindung yakni Nabi Muhammad saw); beliau bersembunyi (disinari) di bawah cahaya hikmah kebijaksanaan sang Rasul saw dan senantiasa berada di dalam keberkatan agung beliau saw.

Beliau ra mumtaaz (sangat baik, istimewa) diantara manusia dalam hal memahami Alqur’an dan menyintai Sayyid ar-Rusul (tuan para rasul) dan Fakhri nau’il insaan (kebanggaan umat manusia). Tatkala benda-benda ukhrawi dan rahasia-rahasia Ilahiyyah nampak kepada beliau maka beliau memutuskan semua hubungan-hubungan duniawi; meninggalkan semua hubungan-hubungan jasmaniah dan mewarnai diri dengan corak warna al-Mahbub; meninggalkan semua tujuan untuk memilih satu tujuan; jiwanya telah bebas dari lumpur kekotoran; telah terwarnai dalam corak warna al-Haqq al-Ahad; dan hilang sirna dalam keridhaan Rabbul ‘Aalamiin.

Manakala kecintaan yang benar kepada Ilahi telah menetap kuat di dalam seluruh urat dirinya; di dalam kepingan-kepingan qalbunya dan di dalam dzarrah-dzarrah wujudnya; maka tampak pula cahaya-cahayanya dalam setiap perbuatan, perkataan, bangun dan berbaringnya, maka beliau dinamai shiddiiq.” [6]

Kemudian sembari membukakan tambahan gambaran maqam shiddiiqiyyat Hadhrat Abu Bakr ra bahwa kenapa dan bagaimana beliau ra mendapatkan maqam tersebut, beliau as bersabda, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui keistimewaan apa lagi yang dimiliki oleh beliau ra, sehingga Hadhrat Rasulullah saw pun memberi gelar kepada Hadhrat Abu Bakr, sebagai Ash-Shiddiiq. Hadhrat Rasulullah saw pun bersabda demikian, ‘Keistimewaan Hadhrat Abu Bakr ra adalah berkat apa yang ada di dalam hatinya.’

Jika diamati secara mendalam, adalah sulit untuk menemukan contoh sifat shiddiiq lainnya sebagaimana yang diperlihatkan oleh Hadhrat Abu Bakr ra. Sesungguhnya, sangat penting bagi setiap insan di setiap zaman yang berkehendak untuk mencapai keistimewaan Ash-Shiddiiq, untuk itu adalah harus agar sedapat mungkin berusaha keras untuk menciptakan (mewarnai) dalam dirinya corak fitrat dan semangat Abu Bakri (sifat-sifat seperti Hadhrat Abu Bakr ra) kemudian banyak berdoa sekuat mungkin. Apabila naungan sifat Abu Bakri tidak menaungi dirinya dan warna-warni corak beliau ra tidak ada pada dirinya, keistimewaan sifat ash-shiddiqi tentu tidak akan dapat diperoleh olehnya.”

Bersabda, “Apakah fitrat Abu Bakr itu? Pembahasan dan pembicaraan mendetail mengenainya tidak dapat dilakukan karena membutuhkan waktu yang sangat banyak.”

Bersabda, “Secara ringkas saya ingin menyampaikan penjelasan satu peristiwa dan itu adalah ketika Hadhrat Nabi [Muhammad] saw menyatakan kenabian beliau saw. Waktu itu Hadhrat Abu Bakr ra sedang berkafilah dagang ke Syria. Di tengah perjalanan pulang [ke Makkah], beliau berjumpa dengan seseorang. Beliau ra bertanya kepadanya mengenai keadaan Makkah, ‘Ada kabar terbaru apa di negeri kita?’ Seperti telah menjadi hal umum bahwa tatkala seseorang kembali dari suatu perjalanan dan di jalan berjumpa dengan kawan satu negeri maka ia biasa menanyakan keadaan atau kabar negerinya. Orang itu menjawab, ‘Sahabatmu, Muhammad (saw) telah menyatakan diri sebagai Nabi !’ Hadhrat Abu Bakr ra segera menimpali, ‘Jika ia mendakwakan diri demikian, sesungguhnya tanpa ragu lagi hal itu adalah benar!’

Dari peristiwa ini dapat diketahui bagaimana nilai husnuzh zhann (sangka baik) yang beliau ra terapkan kepada Hadhrat Nabi saw. Beliau tidak memerlukan mukjizat. Hakikatnya juga adalah orang yang meminta bukti sesuatu mukjizat, berarti ia tidak mengenal keadaan si pendakwa (pengaku kenabian) dan ia asing mengenainya sehingga memerlukan tambahan keterangan guna menenangkan dirinya. Akan tetapi, orang ini yang mengenal betul pribadi tersebut, apalah arti mukjizat baginya.

Walhasil, Hadhrat Abu Bakr ra segera beriman ketika dalam perjalanan mendengar kabar pernyataan kenabian Hadhrat Nabi saw. Ketika sampai di Makkah, beliau pun segera hadir di hadapan mubarak beliau saw dan bertanya, ‘Apakah tuan menyatakan diri sebagai nabi?’ Hadhrat Nabi saw bersabda, ‘Ya, itu benar.’ Atas hal itu Hadhrat Abu Bakr ra berkata, ‘Saksikan oleh tuan, sayalah orang pertama yang mengimani tuan.’ Kesaksian Hadhrat Abu Bakr ra ini tidak sebatas hanya di mulut belaka melainkan beliau ra menegaskannya dengan bukti-bukti perbuatan beliau, dan beliau memenuhi janji [keimanan] ini hingga menghembuskan nafas yang terakhir, bahkan, janji itu tidak terpisah dengan beliau setelah kewafatan beliau ra.”[7]

Selanjutnya, simaklah bagaimana Hadhrat Abu Bakr ra memperlihatkan kesetiaan dan pengorbanannya. Hadhrat Masih Mau’ud as menulis, “Suatu hari, beberapa orang musuh menemukan Hadhrat Rasulullah saw sedang sendiri. Maka mereka pun memperdayai beliau dengan cara melilit leher beliau saw dengan gulungan kain, lalu menariknya, hingga beliau saw tercekik dan nyaris kehilangan nafas. Hampir saja beliau mendekati kehilangan nyawa sampai bersamaan dengan waktu itu Hadhrat Abu Bakr ra sedang melintas di tempat itu, maka beliau pun segera berusaha membebaskan Hadhrat Rasulullah saw dengan susah payah. Atas hal itu, para musuh memukuli beliau ra dengan bertubi-tubi hingga beliau ra jatuh ke tanah.” [8]

Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian bersabda menyebutkan salah satu jasa Hadhrat Abu Bakr Shiddiiq yang sangat besar kepada umat, “Begitu pula, Hadhrat Abu Bakr ra pun ini menjadikan istidlaal (dasar pengambilan dalil atau argumentasi), وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ‘wa maa Muhammadun illa rasuulun qad khalat min qablihir rusul’ – “Dan Muhammad tidak lain melainkan seorang Rasul. Sesungguhnya telah berlalu semua Rasul sebelumnya…” (Surah Ali Imran, 3 : 145) Artinya, itu menjadi dalil yang sangat jelas sempurna, bahwa beliau ra beritikad Hadhrat Isa as sudah wafat. Sebab, jika ayat ini diartikan bahwa sejak zaman para nabi terdahulu hingga zaman Janab Khatamul Anbiya saw ada sebagian nabi yang telah wafat dan ada sebagian lagi diantara para nabi itu yang masih belum wafat, maka adalah tidak benar untuk mengutip ayat tersebut secara apa adanya. Sebab, suatu dalil cacat yang tidak berupa suatu kaidah umum dan tidak mencakup semua orang yang telah berlalu dalam kaitannya dengan pernyataannya tersebut, berarti dalil itu tidak dapat diperhitungkan sebagai suatu dalil yang benar. Maka, dengan [pemaknaan ada sebagian nabi masih hidup] itu, dalil yang dikemukakan oleh Hadhrat Abu Bakr ra pun menjadi tidak berguna.

Hendaklah diingat! Pernyataan dalil Hadhrat Abu Bakr ra tersebut mengenai telah wafatnya semua nabi terdahulu tidak ada riwayat bahwa ada seorang sahabat pun yang menolak padahal waktu itu seluruh sahabat masih ada. Bahkan, sesudah mereka mendengarnya pun sama sekali mereka diam. Hal ini membuktikan, bahwa semua sahabat telah ijma’ (bersama-sama sepakat) atas perkara ini dan ijma’ (pembenaran bersama dalam satu kesepakatan) para sahabat Rasulullah saw ini menjadi hujjah (argumentasi kuat) yang tidak pernah berada diatas kesesatan.

Walhasil, dari sekian ihsaanaat (kebaikan-kebaikan) Hadhrat Abu Bakr ra bagi umat ini, salah satunya adalah untuk menghindarkan kesalahan ini bagi generasi di masa yang akan datang, pada zaman Khilafat Haqqah beliau ra, beliau ra membukakan pintu kebenaran dan kejujuran serta (guna) membangun suatu dinding penutup (penghalang) yang kokoh terhadap banjir kesesatan sehingga bahkan seandainya seluruh jin bersatu padu dengan kaum maulwi (ulama) di zaman kini, mereka tak akan pernah berhasil meruntuhkannya. Oleh karena itu, kita doakan, semoga Allah Ta’ala menurunkan ribuan kasih sayang-Nya kepada jiwa Hadhrat Abu Bakr ra, yang setelah menerima ilham suci Tuhan, beliaupun menetapkan pendapat bahwa Al-Masih (Nabi Isa as) telah wafat.”[9]

Hadhrat Masih Mau’ud as pun menulis mengenai betapa besar jasa Hadhrat Abu Bakr ra ketika harus menjauhkan suatu fitnah besar. Beliau as bersabda, “Pada waktu itu Musailamah memberontak mengumpulkan banyak sekali pengikut di sekitar dirinya. Dalam keadaan seperti itu Hadhrat Abu Bakr ra baru terpilih sebagai Khalifah, seseorang dapat membayangkan begitu besar kesulitan yang akan muncul. Seandainya beliau ra tidak memiliki kekuatan hati dan corak keimanan Hadhrat Nabi saw tidak terdapat di dalam imannya, tentulah beliau pun mendapat kesulitan besar dan terguncang. Namun, Shiddiq ra berada di naungan Nabi saw.” (yakni berada di bawah dan dalam naungannya) “Pengaruh atau kesan akhlak beliau saw membekas atas diri beliau ra, maka hati beliau ra pun telah dipenuhi cahaya keyakinan. Inilah mengapa sebabnya keberanian dan keistimewaan yang beliau perlihatkan sepeninggal Hadhrat Rasulullah saw sungguh musykil menemukan bandingannya. Kehidupan beliau ra adalah kehidupan Islam. Tak perlu perdebatan panjang atas perkara ini. Berbagai peristiwa [yang beliau hadapi] pada waktu itu menunjukkan indikasi yang baik akan pengkhidmatan Hadhrat Abu Bakr ra terhadap Islam.

Ini suatu masalah yang tentangnya tidak memerlukan pembahasan panjang, saya berkata dengan sesungguh-sungguhnya bahwa Hadhrat Abu Bakr Shiddiq ra ini adalah Adam Tsani (Adam yang Kedua) bagi Islam. Saya memegang keyakinan bahwa seandainya sepeninggal Hadhrat Nabi saw tidak ada wujud Hadhrat Abu Bakr, tentulah tak akan ada lagi Islam.

Jadi, ihsan (jasa kebaikan) yang besar dari beliau adalah menegakkan kembali Islam. Menghukum seluruh pemberontak dengan keteguhan iman dan menegakkan keamanan. Demikianlah sesuai firman Tuhan dan janji-Nya, “Aku akan menegakkan keamanan diatas Khalifah yang benar.” [tercantum dalam Alqur’an, وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ‘wa layubaddilannahum mim ba’di khaufihim amnaa’ – “Akan Kami ganti rasa takut mereka dengan keamanan.” (Surah an-Nur, 24:56). Nubuatan ini sempurna pada Khilafat Hadhrat Shiddiq ra dan langit serta bumi memberikan kesaksian atasnya secara amalan. Jadi, pengertian shiddiq adalah seharusnya yang ada di dalamnya terdapat martabat dan kesempurnaan shidq (kelurusan, kebenaran).” [10]

Kemudian mengenai kedudukan Khalifah Tsaani Hadhrat Umar bin Khaththaab al-Faruq radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu dalam hal ‘hubbi Rasul’ (kecintaan kepada Rasul saw) dan keikhlasan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Suatu hari Hadhrat Umar ra datang ke rumah beliau saw dan menyaksikan di dalam rumah beliau saw tersebut ternyata tidak berperabot. Selanjutnya, beliau ra mendapati Hadhrat Rasulullah saw sedang berbaring di selembar tikar yang ketika beliau bangun, membekaslah di punggung beliau saw. Hadhrat Umar ra berlinangan air mata demi menyaksikannya. Rasulullah saw pun bertanya, ‘Wahai Umar, mengapa menangis?’

Hadhrat Umar ra menjawab, ‘Saya tidak kuasa menyaksikan derita tuan, ya Rasulullah. Kaisar [Raja Romawi] dan Kisra [Raja Persia] adalah orang kafir tapi mereka melewati hidup dalam kemewahan dan menikmati berbagai hal yang enak dan nyaman. Sedangkan tuan melewati hidup dalam penderitaan seperti ini?’ Hadhrat Nabi saw segera menjawab, ‘Apalah arti dunia bagi saya. Keadaan saya di dunia ini semisal seorang pengelana yang sedang mengendarai unta di bawah teriknya panas sinar matahari dan ketika tengah hari teriknya sinar matahari demikian menyengat yang begitu membuatnya menderita, masih dalam mengendarai kendaraannya berteduhlah ia sejenak di bawah kerindangan sebuah pohon, kemudian ia melanjutkan perjalanannya.”[11]

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis lagi di tempat lain mengenai ketinggian kedudukan Hadhrat Umar ra,

“Derajat Hadhrat Umar ra ini mulia di kalangan para sahabat. Sehingga beberapa kali ayat-ayat Quran Syarif turun sesuai dengan cetusan pikiran beliau ketika itu. Hadits ini menjelaskan mengenai beliau ra, إن الشيطان يهرب من ظل عمر ‘Bahkan setan pun lari dari bayangan Hadhrat Umar.’ Hadits lain meriwayatkan, لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ Lau kaana ba’dii nabiyyun lakaana ‘Umara bn al-Khaththaab’ – “Jika ada lagi nabi sesudahku, itulah Umar, putra al-Khaththaab.” Hadits ketiga meriwayatkan, إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ innahu qad kaana fiimaa madha qablakum minal umami muhaddatsuuna wa innahu in kaana fii umatii haadzihi minhum fa innahu ‘Umar ubnul Khaththaabi’ – “Sesungguhnya di dalam kaum agama terdahulu terdapat para Muhaddats (penerima kalam Ilahi), maka bila ada Muhaddats diantara umatku ini, tentulah Umar putra al-Khaththab orangnya.”[12]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai Hadhrat Umar ra, “Berbagai peristiwa yang dinubuatkan [dikabarkan sebelumnya lewat wahyu, kasyaf atau ru’ya] yang didambakan menjadi sempurna, boleh jadi akan menjadi kenyataan secara bertahap atau sempurna pada wujud (seseorang) yang lain. Sebagai contoh, satu kabar gaib yang disaksikan oleh Hadhrat Rasulullah saw adalah diserahkannya kunci-kunci khazanah kekayaan Kaisar dan Kisra ke tangan beliau saw. Namun, nampak jelas bahwa sebelum peristiwa tersebut terjadi, Hadhrat Nabi saw telah wafat. Yakni, ketika beliau saw masih hidup, tak pernah melihat harta kekayaan maupun kunci-kunci khazanah Kaisar ataupun Kisra itu.

Namun telah ditakdirkan kunci-kunci tersebut diserahkan kepada Hadhrat Umar ra karena wujud Hadhrat Umar ra secara zhilli adalah seperti wujud Hadhrat Nabi saw hal demikian karena telah ditetapkan di alam wahyu bahwa tangan Hadhrat Umar ra adalah tangan Utusan Tuhan [Nabi Muhammad] saw.” [13]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Selama Imam tidak membantu upaya menyampaikan ilmu-ilmu, selama itu sekali-kali tidak aman dari bahaya. Kesaksian mengenai hal itu kita peroleh pula dalam wujud ‘Shadr Islam’ (Sang Penghulu atau Pendiri Islam yaitu Nabi Muhammad saw), yaitu seorang yang pernah menjadi katib (juru catat) Quran Syarif, karena amat seringnya berdekatan dengan cahaya nubuwwah (kenabian), ketika Imam — yakni Nabi [Muhammad] saw. — hendak menyuruhnya menuliskan sesuatu ayat, saat itu pula ayat tersebut turun kepadanya. Suatu hari timbul padanya pikiran, jika demikian apa perbedaan dirinya dengan Rasulullah saw, karena ia pun mendapat ilham? [14]

Dengan pikiran itulah ia menjadi binasa, dan menurut riwayat kuburannya pun melemparkan dia, sebagaimana halnya keadaan Bal’am dibinasakan.

Umar pun menerima ilham, namun beliau tidak beranggapan menjadi sesuatu mengenai dirinya dan tidak berkeinginan menjadi tokoh saingan Imaamah Haqqah (Keimaman yang Sebenarnya) yang Tuhan Samawi telah menegakkannya di muka bumi ini, bahkan menganggap dirinya lebih rendah lagi dari seorang sahaya. Karena itu, karunia Allah menjadikan beliau naib (wakil) Imāmah Haqqah.[15]

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan dalam ‘Sirrul Khilaafah ’ halaman 326 sebagai berikut, “Dan Tuhanku telah memperlihatkan kepadaku bahwa sesungguhnya Hadhrat Abu Bakr Ash-Shiddiq ra, Hadhrat Umar Al-Faruq ra dan Hadhrat Utsman radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu adalah orang-orang saleh lagi beriman. Mereka itu termasuk orang-orang yang diutamakan secara khusus oleh Allah Yang Maha pengasih dengan berbagai karunia-Nya. Banyak arif billah telah menjadi saksi akan keistimewaan-keistimewaan mereka itu. Mereka [Hadhrat Abu Bakr, Umar dan Utsman] telah sering meninggalkan negeri mereka sendiri demi untuk mencari ridha Hadhrat al-Kibriyaa-i (Yang Maha Agung).

Mereka senantiasa bergabung dalam setiap peperangan Islam pada zamannya, kendati panas teriknya tengah hari di musim panas dan dinginnya malam pada musim dingin mereka terus berjuang di jalan agama laksana para pemuda yang tangkas dan gagah. Mereka tidak memihak kepada orang-orang yang dekat di sekitar mereka dan tidak pula memihak kepada orang-orang yang jauh, mereka telah meninggalkan segala sesuatu demi Allah Tuhan sekalian alam.

Begitu banyak bentangan amal-amal perbuatan baik dan anugerah-anugerah mereka yang kesemuanya itu menunjukkan akan raudhaat (taman-taman) ketinggian derajat mereka dan jannaat (kebun-kebun) kebaikan mereka.

Hembusan dan kencangnya angin yang menyebar membawa kabar tentang rahasia mereka (para sahabat ra) dengan keharumannya dan cahaya-cahayanya telah menampakkan kepada kita dengan terang-terangnya. Maka dengan wangi harum mereka akan mengarahkan kepada petunjuk menuju reputasi baik mereka yang sudah dikenal.”[16]

Selanjutnya, beliau as bersabda di satu tempat, “Akidah ini adalah sangat penting bahwa Hadhrat Shiddiiq Akbar [Abu Bakr] ra, Hadhrat Faruqi Umar ra, Hadhrat Dzun Nuurain [Usman] ra, dan Hadhrat Ali Murtadha ra, semuanya secara fakta dan peristiwa adalah amiin (terpercaya dalam hal agama dan memiliki keimanan yang lurus dengan sesungguh-sungguhnya).

Hadhrat Abu Bakr ra adalah Adam Tsani (Adam kedua) bagi Islam dan demikian pula Hadhrat Umar dan Hadhrat Usman ra, seandainya tidak tepercaya dalam agama, maka kini sangat sulit bagi kita untuk menyampaikan bahwa setiap ayat Alqur’an Syarif adalah berasal dari Allah Ta’ala.” [17]

Hadhrat Masih Mau’ud as selanjutnya juga menyebutkan mengenai maqam dan martabat Hadhrat Ali radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu yang tercantum dalam ‘Sirrul Khilaafah halaman 358. Terjemahannya demikian, “Beliau adalah seorang taqiyy (yang sangat bertakwa) dan naqiyy (sangat suci) serta termasuk dari antara orang-orang yang sangat dicintai Allah. Beliau berasal dari keluarga terhormat dan dari antara para pembesar pada waktu itu. Beliau adalah singa Tuhan Yang Maha Tinggi dan seorang pemuda dari Tuhan Yang Maha Baik. Beliau sangat dermawan dan memiliki hati yang bersih. Beliau adalah seorang gagah berani yang tidak pernah lari dari medan peperangan bahkan ketika balatentara musuh menyerang beliau.

Beliau menjalani hidup dalam keadaan zuhd (hidup sangat sederhana dalam fasilitas sehari-hari seperti pakaian, makanan dan tempat tinggal) dan mencapai kedudukan yang tinggi dalam hal kesederhanaan. Beliau membagi-bagikan harta, meringankan kesusahan dan kesedihan, dan beliau sangat perhatian dalam hal mengurus anak yatim, orang miskin dan para tetangga.

Beliau menampilkan keberanian yang besar pada saat berbagai ekspedisi (gerakan militer), dan terampil memakai pedang serta tombak di peperangan. (Tidak demikian maksudnya bahwa hanya beliau yang ahli, melainkan, keahlian beliau sangat baik dalam hal itu) Tambahan pula (disamping itu), kata-kata beliau pun demikian indah [berirama] lagi fasih dalam pembicaraan (yakni, dalam berpidato tata bahasa dan irama kata-kata beliau demikian rupa indahnya hingga tak ada bandingannya di kalangan manusia awam).

Ucapan beliau memiliki pengaruh yang mendalam, dengan kata-katanya beliau menghilangkan karat-karat kalbu serta menerangi hati-hati dengan cahaya pertimbangan [argumentatif, berakal sehat].

Beliau menguasai berbagai kecakapan (ketrampilan) dan orang-orang yang ahli dalam berbagai hal yang datang kepada beliau pun seperti orang kalah yang berhelah [pembelaan diri mencari alasan atas kekalahan kemampuannya]. Beliau ahli dalam berbagai bidang kebaikan dan pandai dalam fashaahat dan balaaghat (berbahasa), dan penolakan terhadap keunggulannya sama dengan menampilkan rasa tidak tahu malu.”[18]

Menyebutkan mengenai para sahabat ridhwaanulloohi ‘alaihim secara keseluruhan, beliau as bersabda, “Saya telah menyaksikan keadaan para sahabat lalu saya sampaikan bahwa mereka setelah beriman kepada Hadhrat [Muhammad] Rasulullah saw, dan keadaan amalan mereka memperlihatkan, mereka telah menyaksikan adanya Tuhan yang Ghaib Al-Ghaib, Waraa-a al-Waraa’ dan Tersembunyi dari mata para makhluk yang menolak-Nya. Ya, sesungguhnya mereka itu telah melihat Allah dengan mata sendiri; ya, dengan mata mereka sendiri; ya, dengan mata mereka sendiri. Jika tidak demikian, apa pula yang menyebabkan mereka tidak ragu sedikitpun untuk meninggalkan kaumnya, kampung halamannya, meninggalkan harta bendanya serta memutuskan hubungan dengan karib dan keluarganya? Ini disebabkan mereka itu yakin [bertawakkal] sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan setelah mereka yakin kepada satu Tuhan kemudian mereka memperlihatkan apa-apa yang apabila lembaran-lembaran sejarah ditelaah akan membuat pembacanya bertambah takjub dan heran. [Penyebab semuanya ini adalah] Keimanan dan hanya keimanan saja tak ada lagi hal yang lain.

Sebaliknya, rencana, ikhtiar dan usaha-usaha kaum duniawi [para penentang] yang dalam keadaan panas penuh kemarahan tidak dapat berhasil. (Yakni para pecinta dunia tidak dapat berhasil). Mereka itu jauh lebih besar dari segi jumlah, jemaat (organisasi) dan harta kekayaannya, dan hanya dikarenakan kosong dari iman saja, sehingga mereka pun hancur dan dapat dilihat dalam gambaran ketidakberhasilan. Sedangkan para sahabat senantiasa menang berkat kekuatan iman mereka. Ketika mereka mendengar seruan seorang [yaitu Nabi saw] yang terdidik dalam keadaan ummiy namun dikenal akan kejujuran, terpercaya dan kesalehannya (kelurusannya). Tatkala ia berkata, ‘Saya datang dari Allah Ta’ala.’ Bersamaan dengan mendengar hal ini kemudian seperti orang lupa diri mereka berjalan di belakangnya. Kemudian saya katakan bahwa hal itu sesungguhnya hanya satu aspek yang membuat keadaan seperti ini dan itu ialah iman. Ingatlah! Beriman kepada Tuhan adalah perkara yang sangat pokok.”[19]

Hadhrat Masih Mau’ud as menampakkan kecintaan dan hubungan dengan para Khulafaur Rasyidin atau para sahabat atau anak keturunan Nabi Muhammad saw dikarenakan kecintaan beliau as kepada Hadhrat Nabi saw. Seperti telah saya sebutkan sebelumnya beliau as menganggap hal itu sebagai bagian dari keimanan.

Hadhrat Masih Mau’ud as di satu tempat lain lagi menyatakan hal itu bersabda, “Keimanan kita adalah hendaknya senantiasa bersikap ta’zhim kepada orang-orang suci dan ahlullooh (para wali Allah), akan tetapi menjaga martabat adalah sesuatu yang penting.” (hendaknya bersikap ta’zhim (hormat) namun sesuai maqam [kedudukan] dan tingkatannya masing-masing). “Sedemikian rupa tidak melebihi batas yang menjadikan dirinya sendiri berdosa.” (hendaknya tidak ghulluw atau berlebih-lebihan dalam memandang orang suci) “dan menghina Nabi saw atau nabi-nabi lainnya. Barangsiapa yang mengatakan, semua nabi ‘alaihimussalaam, bahkan juga termasuk Hadhrat [Muhammad] Rasulullah saw akan mendapat keselamatan melalui syafaat Hadhrat Imam Husain ra adalah sedemikian ghulluw yang dengan itu ia telah menghina (merendahkan) semua nabi dan Nabi [Muhammad] saw.” [20]

Kemudian beliau as bersabda mengenai hubungan beliau as dengan Hadhrat Ali ra dan Hadhrat Husain ra, “Dan saya memiliki hubungan yang halus (cocok, compatible) dengan Ali dan al-Husain dan tidak ada yang mengetahui rahasia ini kecuali Allah, Rabb (Tuhan Pemilik) dua arah di timur dan dua arah di barat, dan sesungguhnya saya menyintai Ali dan kedua putranya (Hasan ra dan Husain ra). Karena itu, siapa yang memusuhi beliau, saya pun memusuhinya. Bersamaan dengan itu, saya bukan termasuk orang-orang yang bersalah dan berbuat tanpa pemikiran (aniaya). Saya tidak mungkin memalingkan muka dari apa-apa yang telah Allah bukakan kepada saya dan saya bukan termasuk orang-orang yang melampaui batas.” [21]

Kemudian beliau as bersabda, “Di kalangan Islam pun demikian, ada orang-orang bersifat Yahudi yang memilih jalan ini dan setelah bersikeras dalam kesalahan pemahaman, mereka menimpakan kesulitan kepada orang-orang suci Ilahi di tiap zamannya. Perhatikanlah bagaimana ribuan orang ‘naadaan’ (tuna ilmu, bodoh) meninggalkan Imam Husain ra lalu bergabung dengan Yazid.” (Setelah meninggalkan Imam Husain ribuan orang bodoh ini bergabung dengan tentara Yazid). “..dan mereka menimpakan penderitaan kepada Imam Ma’shum ini baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Akhirnya, mereka tidak merasa puas selain dengan membunuh beliau.[22]

Selanjutnya, waktu demi waktu selalu saja mereka meremehkan para imam, orang-orang saleh dan para mujaddid di kalangan umat ini dan mereka menyebut-nyebut beliau-beliau sebagai orang kafir, tidak beragama dan zindiq. Ribuan shiddiiqiin telah mereka nistakan. Bukan hanya menyebut beliau-beliau itu sebagai ‘kufur’, bahkan guna menghinakan beliau-beliau itu, mereka pun berusaha membunuh, merendahkan dan memenjarakan beliau-beliau itu.

Hingga akhirnya sampai kepada zaman kita ini, orang-orang pada abad 13 Hijri sendiri biasa menasehatkan, bahwa pada abad Ke-14 [Hijriah], Imam Mahdi atau Masih Mau’ud akan datang atau sekurang-kurangnya seorang Mujaddid A’zam (besar) akan lahir. Tetapi, saat abad ke-14 itu datang, dan Sang Mujaddid itu muncul, bahkan, bukan hanya melalui ilham, Allah Ta’ala menamakannya Al-Masih Al-Mau’ud, namun fitnah-fitnah yang muncul ketika zaman itu dengan bahasa keadaan juga memfatwakan demikian akan wajibnya sebuah nama yang haruslah Al-Masih al-Mau’ud (Al-Masih Yang Dijanjikan).

Mereka pun dengan keras mendustakannya bahkan sampai-sampai bila memungkinkan menyakitinya dengan berbagai macam cara tipuan dan berkomplot (konspirasi) untuk menghinakannya bahkan menghabisinya (membunuhnya).”[23]

Dalam satu tempat lain lagi beliau as bersabda, “Dalam qasidah ini, saya menulis berkaitan dengan Imam Husain ra, atau menjelaskan dalam kaitannya dengan Hadhrat ‘Isa ‘alaihissalam yang mana ini bukan buatan manusia. Khabits (kotorlah) dia yang dari dirinya menggunakan bahasa kecaman kepada orang-orang yang kamil (sempurna) dan saleh. Saya berkeyakinan, bila ada manusia yang menggunakan kata-kata buruk kepada Husain atau Isa atau orang suci mana pun, satu malam saja ia tidak akan hidup dan ancaman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, tentu Sahabatnya (Tuhan) akan mencengkeramnya’ akan berlaku kepadanya. Selamatlah ia yang memahami urusan-urusan langit dan menaruh perhatian kepada amalan-amalan berdasarkan hikmat Tuhan.” [24]

Hadits ini, “من عادى لي وليّا فقد أذنته بالحرب” ‘man ‘aada lii waliyyan faqad adzantuhu bil harb’ – “Barangsiapa yang berupaya memusuhi wali-Ku, niscaya Aku umumkan perang terhadapnya.”[25]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Apa-apa saja yang saya tulis adalah atas izin, ridha (restu) dan perintah Allah Ta’ala.

Kemudian di satu tempat beliau as menulis, “Orang mu’min (beriman) adalah yang amal perbuatannya memberi kesaksian bahwa di dalam hatinya ada tertulis iman, dan ia mendahulukan kepentingan Allah Ta’ala dan keridhaan-Nya diatas setiap kepentingan pribadinya, dan ia berusaha melangkahkan kakinya diatas jalan takwa kendati pun susah dan sempit demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, dan ia terbenam dalam lautan kecintaan-Nya, dan dia singkirkan sejauh-jauhnya setiap benda seperti patung berhala yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Tuhan, apakah berupa keadaan akhlak, ataupun perbuatan fasik, atau kemalasan dan kelalaian.

Tetapi, Yazid yang malang itu bagaimana dapat memperolehnya. Kecintaan terhadap dunia telah membutakannya.

Namun, Imam Husain ra adalah thahir dan muthahhar (suci dan tersucikan) dan tanpa ragu beliau adalah salah seorang manusia terpilih yang Tuhan sendiri telah menyucikannya melalui tangan-Nya, dan Dia telah menjadikannya hamba pilihan-Nya yang Dia cintai, dan tanpa ragu beliau salah seorang pemimpin ahli surga, dan jika satu dzarrah (sangat sedikit) saja menyimpan rasa benci dalam hati kepadanya akan mengakibatkan hilangnya iman. Ketakwaan, kecintaan kepada Tuhan, kesabaran, istiqamah (teguh pendirian) dan zuhd (kesederhanaan), serta ibadah dari Sang Imam ini bagi kita merupakan uswah hasanah (teladan yang baik), dan kita adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk yang diterima Imam mashum (suci lagi terjaga dari dosa) ini.

Rusaklah hati orang yang menjadi musuhnya, dan berjayalah hati yang menaruh kecintaan kepadanya serta menampakkannya dalam corak amal perbuatan. Iman beliau, akhlak beliau, keberanian beliau, ketakwaan dan istiqamah beliau serta kecintaan beliau kepada Tuhan; gambaran semuanya itu telah terlukis secara sempurna dalam diri beliau, laksana bayangan seseorang yang tampan atau cantik terlihat di sebuah cermin yang bersih dan jernih. Orang ini tersembunyi dari mata dunia. Siapa yang dapat mengetahui martabat orang ini, selain mereka yang daripadanya. Mata orang dunia tidak akan dapat mengenalnya sebab beliau sangat jauh dari dunia. Itulah yang menyebabkan kesyahidan Husain ra sebab beliau tidak dikenal. Dunia pada zamannya telah menyintai orang-orang suci dan saleh sehingga kepada Husain ra pun dicintai juga.

Ringkasnya, merendahkan Husain ialah perkara yang membuat seseorang masuk kedalam tingkat yang sangat dari kemalangan dan ketiadaan iman, dan barangsiapa yang menghina Husain ra atau siapa pun wali yang termasuk dari a-immah (para imam) yang muthahhirin (tersucikan) atau sekalipun secara halus menggunakan kata-katanya maka ia menyia-nyiakan imannya. Sebab, Allah Yang Gagah Perkasa menjadi musuh orang-orang seperti itu, yang memusuhi hamba pilihan dan orang-orang yang dicintai-Nya.” [26]

Walhasil, inilah ajaran yang didasari oleh keindahan dan keadilan serta pelajaran untuk mempersatukan kaum Muslimin kedalam satu tangan dan mengakhiri berbagai macam firqah sebagaimana yang telah diberikan kepada kita oleh seorang kiriman dan utusan Ilahi yang pada zaman ini ia menjadi ‘ghulam shadiq’ – “pecinta dan pengabdi sejati” Nabi Islam [Muhammad Rasulullah] saw yang datang dengan membawa pesan perdamaian dan keselamatan. Semoga Allah Ta’ala membuat umat Muslimin dapat memahami pesan ini dan dapat terhindar dari belenggu firqah, fasad (kerusuhan) dan saling menindas serta menumpahkan darah antara satu dengan yang lain sehingga Islam pun dapat memperlihatkan sinarnya ke seluruh pelosok dunia dengan keagungannya yang baru.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan bulan Muharram [1433 Hijriah] ini dapat dilalui dengan damai dan aman sentosa di setiap tempat. Semoga setiap orang Muslim dapat menjaga orang Muslim lainnya dari [kejahilan] perkataan maupun perbuatannya. Doa perlu senantiasa dipanjatkan bagi kondisi umum negara-negara Muslim sekarang ini agar dilindungi dari segala fasaadat (kerusakan, kerusuhan). Sebab, sebagian besar mereka ini sedang menghadapi saat-saat yang sangat buruk. Semoga Allah Ta’ala melindungi Islam dan kaum Muslimin dari segala keburukan. Mayoritas negeri-negeri Muslim seperti telah saya sampaikan sedang mengalami kerusakan internal dan keburukan juga yang dengan itu di sana keamanan menjauh dan alih-alih (bukannya) memperoleh berbagai kemajuan dengan cepat malahan mengarah mundur ke belakang. Kondisi umum perekonomian dunia pun mencemaskan, yang dampak buruknya mempengaruhi Barat juga sudah demikian jauh sehingga mempengaruhi negeri-negeri Muslim di Timur atau setiap negeri lainnya. Kondisi kritis [stadium] ketiga dari semua permasalahan dunia ini, tampak sedang meluncur cepat ke arah Perang Dunia.

Allah Ta’ala insaniyat par rehem karee’ – “Semoga Allah Ta’ala mengasihi kemanusiaan (humanity). Mengaruniai mereka dengan akal dan pemahaman. Pada hari-hari ini, kita harus banyak-banyak berdoa, harus mengupayakan berbagai macam kehati-hatian [mempersiapkan segala kewaspadaan]. Semoga Allah Ta’ala menolong kita semua. [Aamiin]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang perkasa

[2] Muslim, Kitab al-Imaan bab bayan al-imaan wal islaam wal ihsaan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ»

Rasulullah saw bersabda, “Aku diperintahkan memerangi (menghadapi) manusia hingga mereka beriman tiada yang patut disembah selain Allah dan beriman kepada apa-apa yang kubawa dan jika mereka mengerjakannya wajib bagiku menjaga darah dan harta mereka kecuali pada haknya dan hisab (perhitungan amalnya) adalah hak Allah.” (Shahih Muslim, kitabul iman)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun atas lima hal, syahadat (kesaksian atau ikrar) ‘laa ilaaha illallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu’ – Tiada yang patut disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, menegakkan shalat, membayar zakat, haji dan shaum Ramadhan.” (Shahih Muslim, kitabul iman, bab qaulun nabi saw, buniyal islaam…) Redaksi

[3] Tadzkirah, halaman 490, edisi cehaaram (IV), 2004

[4] Lecture Ludhianah, Ruhani Khazaain jilid 20 halaman 294

“إنني أعلمُ أن المرءَ لا يُصبحُ مؤمنًا ومسلمًا ما لا يَصْطَبِغُ بِصِبْغَةِ أَبِي بكرٍ وعمرَ وعثمانَ وعليَّ رضوانَ اللهِ عليهم أجمعين. فلم يكونوا يحبون الدنيا بل كانوا قد وقفوا حياتهم في سبيل الله “

‘Innanii a’lamu anal mar-a laa yushbihu mu-minan wa musliman maa laa yashthabaghu bi shibghati Abi Bakrin wa ‘Umara wa ‘Utsmaana wa ‘Aliyyin ridhwaanullaahu ‘alaihim ajma’iin. Fa lam yakuunuu yuhibbuunad dunyaa bal kaanuu qad waqafuu hayaatahum fii sabiilillaah’

[5] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 328

“واللهِ إنهم رجالٌ قاموا في مواطنِ المماتِ لنصرةِ خيرِ الكائناتِ، وتركوا للهِ آباءَهمْ وأبناءَهمْ ومَزَّقُوهمْ بالمُرْهَفَاتِ، وحارَبُوا اْلأَحِبَّاءَ فَقَطَعُوا الرؤوسَ، وأَعْطُوا للهِ النَّفَائِسَ والنفوسَ، وكانوا مع ذلك باكينَ لِقلةِ الأعمالِ ومتندمينَ. وما تَمَضْمَضَتْ مُقَلِّتُهُمْ بِنَومِ الراحةِ، إلا قليلٌ من حقوقِ النفسِ للاستراحةِ، وما كانوا مُتَنَعِّمِينَ. فكيف تَظُنُّونَ أَنَّهُمْ كانوا يَظْلِمُونَ وَيَغْصِبُونَ، ولا يعدلونَ ويجُورونَ؟ وقدْ ثَبَتَ أنهم خَرجُوا من الأهواءِ، وسقطُوا في حَضْرَةِ الكِبْرِيَاءِ، وكانوا قومًا فانينَ.”

‘Walloohi innahum rijaalun qaamuu fi mawaathinil mamaati li nushrati khairil kaa-inaati wa tarakuu lillaahi aabaa-ahum wa abnaa-ahum wa mazaquuhum bil marhiqaati wa harabul ahibbaa-a faqatha’uur ru-uusa, wa u’thuu lillaahin nafaa-isi wan nufuus, wa kaanuu ma’a dzaalika baakiina liqalatil a’maali wa mutanadimiin. Wa maa tamdhamadhat muqlituhum bi naumir raahah, illa qaliilum min huquuqin nafsi lil istiraahah, wa maa kaanu mutana’’imiin. Fa kaifa tazhunnuuna annahum kaanuu yazhlimuuna wa yaghshibuun, wa laa ya’diluuna wa yajuuruun? Wa qad tsabata annahum kharajuu minal ahwaa-i, wa saqathuu fii Hadhratil Kibriyaa-i, wa kaanuu qauman faaniin.’

[6] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 355

“كان عارفًا تامَّ المعرفةِ، حليمَ الخُلقِ رحيمَ الفطرةِ، وكان يعيشُ في زيِّ الانكسارِ والغربةِ، وكان كثيرَ العفوِ والشفقةِ والرحمةِ، وكان يُعرف بنورِ الجبهةِ. وكانَ شديدَ التَّعَلُّقِ بِالمُصطفَى، واِلْتَصَقَتْ روحُهُ بروحِ خيرِ الوَرَى، وَغَشِيَهُ مِنَ النورِ ما غَشَّى مُقْتَدَاهُ محبوبُ المولَى، وَاخْتَفَى تحتَ شَعْشَعَانِ نورِ الرسولِ وَفُيُوضِهِ الْعُظْمَى. وكان ممتازًا من سائرِ الناسِ فِي فَهمِ القرآنِ وفي محبةِ سيدِ الرسلِ وفخرِ نوعِ الإنسانِ. ولما تَجَلَّى لهُ النشأةُ الأخرويةُ والأسرارُ الإلهيةُ، نفَض التعلقاتِ الدنيويةِ، ونبَذ العُلقَ الجسمانيةَ، وانصبغَ بصبغِ المحبوبِ، وتركَ كلَّ مُرادٍ للواحدِ المطلوبِ، وتَجَرَّدَتْ نفسُهُ عنْ كدوراتِ الجسدِ، وَتَلَوَّنَتْ بِلونِ الحقِ الأحدِ، وغابَتْ في مرضاةِ ربِّ العالمينَ. وإذا تمكنَ الحبُّ الصادقُ الإلهِي من جميعِ عروقِ نفسهِ، وَجَذَرَ قلبُهُ وَذراتُ وجودِهِ، وظهرتْ أنوارُهُ في أفعالِهِ وأقوالِهِ وقيامِهِ وقعودِهِ، سُمِّيَ صِدِّيقًا”

‘Kaana ‘aarifan taammal ma’rifah, haliimal khulqi rahiimal fithrah, wa kaana ya’iisyu fii zayyil inkisaari wal ghurbah, wa kaana katsiiral ‘afwi wasy syafaqati war rahmah, wa kaana yu’rafu bi nuuril jabhah. Wa kaana syadiidat ta’alluqi bil Mushthafaa, wa iltashaqat ruuhuhu bi ruuhi Khairil Waraa, wa ghasyiyyahu minan nuuri maa ghasysya muqtadaahu mahbuubul Maula, wa khtafaa tahta sya’sya’aani nuurir Rasuuli wa fuyuudhihil ‘uzhmaa. Wa kaana mumtaazan min saa-irin naasi fii fahmil qur’aani wa fii mahabbati sayyidir rusuli wa fakhri nau’il insaani. Wa lammaa tajallaa lahun nasy-atul ukhrawiyyati wal asraarul ilahiyyah, naqdhut ta’alluqaatid dunyawiyyah, wa nabadzal ‘ulqal jasmaaniyyah, wanshabagha bi shabghil mahbuub, wa taraka kulla muraadil lil waahidil mathluub, wa tajarradat nafsuhu ‘an kaduuraatil jasad, wa talawwanat bi launil Haqqil Ahad, wa ghaabat fii mardhaati Rabbil ‘aalamiin. Wa idzaa tamakkanal hubbush shaadiqul Ilaahiyyu min jamii’i ‘uruuqi nafsihi, wa jadzara qalbuhu wa dzarraatu wujuudihi, wa zhaharat anwaaruhu fii af’aalihi wa aqwaalihi wa qiyaamihi wa qu’uudihi, sumiyya shiddiiqa.’

[7] Malfuuzhaat jilid awwal, halaman 247-248

[8] Sawaanih ‘Umri Hadhrat Muhammad Sahib Bani Islam, disusun oleh Syardhe Prakasy Dewaji halaman 37, publisher Narayan Dat Sahgal and Sons, Lahore. Casymah Ma’rifaat, Ruhani Khazaain, jilid 23 halaman 257-258

[9] Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazaain jilid 15 halaman 461-462

[10] Malfuuzhaat jilid awwal, halaman 251-252

[11] Casymah Ma’rifaat, Ruhani Khazaain, jilid 23 halaman 299-300

[12] Izaalah Auham, Ruhani Khazaain jilid 3 halaman 219. Hadits pertama tercantum dalam karya al-Haitsami yaitu Majma az-Zawaid, 9/51 dan Fadhail Shahabah karya al-Imam Ahmad; hadits ke-2 terdapat dalam Tirmidzi dalam Sunan-nya 5/619 no 3686, Ahmad dalam Fadhail Shahabah no 519 dan no 694; hadits ke-3 diriwayatkan dalam Muslim dan juga Bukhari.

[13] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazaain, jilid 14 halaman 265

[14] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Manaqib, bab alamatun nubuwwah fil Islam.

[15] Zharuuratul Imaam (Perlunya Imam), Ruhani Khazaain jilid 13, h. 473-474

[16] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 326

“وأَظْهَرَ عليَّ رَبِّي أن الصِدّيقَ والفاروقَ وعثمانَ، كانوا من أهلِ الصِّلاحِ والإيمانِ، وكانوا من الذين آثرَهُمُ اللهُ وخُصُّوا بِمَواهبِ الرحمنِ، وشَهِدَ على مزاياهُمْ كثيرٌ من ذوي العِرفانِ. تركوا الأوطانَ لمرضاةِ حضرةِ الكِبرياءِ، ودخلُوا وَطِيسَ كلِّ حربٍ وما بالَوا حَرَّ ظهيرةِ الصَّيفِ وبردِ ليلِ الشِّتاءِ، بلْ ماسُوا في سبلِ الدينِ كَفِتْيَةِ مُتَرَعْرِعِينَ، وما مالوا إلى قريبٍ ولا غريبٍ، وتركوا الكُلَّ للهِ ربِّ العالمينَ. وَإِنَّ لهم نشرًا في أعمالِهِمْ، ونفحاتٍ في أفعالِهِمْ، وَكُلُّهَا تُرْشَدُ إلى روضاتِ درجاتِهِمْ وجناتِ حسناتِهِمْ. وَنَسيمُهُمْ يُخبرُ عن سرِّهِمْ بِفَوْحَاتِهَا، وأنوارِهم تَظهرُ عَلينَا بإِناراتِهَا. فَاسْتَدِلُّوا بِتأرُّجِ عَرْفِهِمْ على تَبَلُّجِ عُرْفِهِمْ.”

                ‘Wa azh-hara ‘alayya Rabbii anash-Shiddiiqa wal Faruuqa wa ‘Utsmaana, kaanuu min ahlish shilaahi wal iimaan, wa kaanuu minal ladziina aatsarahumulloohu wa khushshuu bi mawaahibir Rahmaan, wa syahida ‘alaa mazaayaahum katsiirum min dzawil ‘irfaan. Tarakul authaana li mardhati Hadhratil Kibriyaa-i, wa dakhaluu wathiisa kulli harbin wa maa baaluu harra zhahiiratish shaifi wa bardi lailisy syitaa-i, bal maasuu fii subulid diini kafityati mutara’ri’iin, wa maa maaluu ilaa qariibin wa laa ghariibin, wa tarakul kulla lillaahi Rabbil ‘aalamiin. Wa inna lahum nasyran fii a’maalihim, wa nafahaatin fii af’aalihim, wa kulluhaa tarsyudu ilaa raudhaati darajaatihim wa jannaati hasanaatihim. Wa nasiimuhum yukhbiru ‘an sirrihim bi fawhaatihaa, wa anwaarihim tazhharu ‘alaina bi inaaratihaa. Fastadilluu bita-arruji ‘arfihim ‘alaa taballuji ‘urfihim.’

[17] Maktuubaat Ahmad (surat-surat Ahmad) jilid 2 halaman 151, maktuub (surat) nomor 2 untuk Hadhrat Nawab Muhammad Ali Khan, cetakan Rabwah

[18] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 358

 “كان تقيًّا نقيًّا مِن الذين هُمْ أَحَبُّ الناسِ إلى الرحمن، ومِن نَخَبِ الجيلِ وساداتِ الزمانِ. أَسَدُ اللهِ الغالبُ وَفَتىَ اللهِ الحنّانُ، نديُّ الكفِّ طيبُ الجنانِ. وكان شُجَاعًا وحيدًا لا يُزايلُ مركزُهُ في الميدانِ ولو قَابَلَهُ فوجٌ من أهل العُدوانِ. أَنفدَ العُمرُ بِعَيشٍ أنكدَ وبلغَ النهايةُ في زهادةِ نوعِ الإنسانِ. وكان أولُ الرجالِ في إِعطاءِ النَّشبِ وإِماطةِ الشجبِ وتفقُّدِ اليتامَى والمساكينِ والجيرانِ. وكان يجلّي أنواعُ بِسالةٍ في معاركَ وكان مظهرُ العجائبِ في هيجاءِ السيفِ والسنانِ. ومع ذلك كان عذبُ البيانِ فصيحُ اللِّسانِ. وكان يُدخلُ بيانَهُ في جذرِ القلوبِ ويَجْلُو بِهَ صدأُ الأَذهانِ، ويَجْلِي مطلعُهُ بِنورِ البرهانِ. وكان قادرًا على أنواعِ الأسلوبِ، ومَنْ نَاضَلَهُ فيها فَاعْتَذِرْ إليه اعتذارَ المغلوبِ. وكان كاملا في كل خيرٍ وفي طُرُقِ البلاغةِ والفصاحةِ، وَمَنْ أَنْكَرَ كمالَهُ فقد سَلَكَ مَسْلَكَ الوقاحةِ.”

‘Kaana – radhiyallahu ‘anhu – taqiyyan naqiyyan minal ladziina hum ahabbun naasi ilar Rahmaan, wa min nakhabil jaili wa saadaatiz zamaan. Asadulloohil ghaalibu wa fatalloohil Hannaan, nudiyyul kaffi thayibul jinaan. Wa kaana syujaa’an wahiidan laa yuzaayilu markazuhu fil maidaani walau qaabalahu faujun min ahlil ‘udwaan. Anfadal ‘umru bi’aisyin ankada wa balaghan nihaayatu fii zahaadati nau’il insaan. Wa kaana awwalur rijaali fii i’thaa’in nasyabi wa imaathatisy syajabi wa tafaqqudil yataama wal masaakiini wal jiiraan. Wa kaana yujalli anwaa’u bisaalatin fii ma’aarika wa kaana mazh-harul ‘ajaaibi fii hijaa-is saifi was sinaan. Wa ma’a dzaalika kaana ‘adzbul bayaani fashiihul lisaan. Wa kaana yudkhilu bayaanahu fii jadzril quluubi wa yajluubiha shad-ul adzhaan, wa yajli mathla’uhu bi nuuril burhaan. Wa kaana qaadiran ‘alaa anwaa’il usluub, wa man naadhalahu fiihaa fa’tadzir ilaihi i’tidzaaral maghluub. Wa kaana kaamilan fii kulli khairin wa fii thuruqil balaaghati wal fashaahah, wa man ankara kamaalahu faqad salaka maslakal wiqaahah.’

[19] Malfuzhaat jilid awwal (I) halaman 407-408, edisi 2003, cetakan Rabwah

[20] Malfuzhaat, jilid 3 halaman 268-269, catatan kaki, cetakan Rabwah, 2003

[21] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 359

” وَلِي مُناسبةٌ لطيفةٌ بِعَلِيٍّ والحسينِ، ولا يَعْلمُ سرُّهَا إلا رَبُّ المشرقينِ والمغربينِ. وإني أُحِبُّ عليًا وابناه، وأُعَادِي مَنْ عَاداهُ، ومع ذلك لستُ مِنَ الجائرينَ المتعسفينَ. وما كان لي أَنْ أعرضَ عما كشفَ اللهُ عليَّ، وما كنتُ من المعتدينَ.”

‘Wa lii munaasibatun lathiifatun bi ‘Aliyyin wal Husain, wa laa ya’lamu sirruhaa illa Rabbul masyriqaini wal maghribain. Wa inni uhibbu ‘Aliyyan wa bnaahu, wa u’aadii man ‘aadaahu, wa ma’a dzaalika lastu minal jaa-iriinal muta’asiffiin. Wa maa kaana lii an a’radha ‘ammaa kasyifalloohu ‘alayya, wa maa kuntu minal mu’tadiin.’

[22] Ribuan orang bodoh dalam kalimat diatas ialah orang-orang Kufah [Irak] di zaman Hadhrat Imam Husain. Mereka yang mengundang dan berjanji setia kepada Imam Husain, mereka pula yang mengkhianati beliau.

[23] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazain jilid 14, halaman 254-255

[24] I’jaaz Ahmadi (Zhamimah Nuzuul al-Masih), Ruhani Khazain j. 19, h. 149

[25] Shahih al-Bukhari Kitab ar-Riqaaq, Bab at-Tawadhu (Kerendahan Hati)

 عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِي بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَىْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ‏”‏‏.

Dari Atha, dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang berupaya memusuhi wali-Ku, niscaya Aku umumkan perang terhadapnya.’…”

[26] Majmu’ah Isytihaarat jilid III halaman 544-546, selebaran 270, Rabwah