Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz[1]

Tanggal 27 Fatah 1392 HS/27 Desember 2013

Di Masjid Baitul Futuh, UK

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

[آمين. ]

Dengan karunia Allah Ta’ala Jalsah Salanah Qadian dimulai pada hari ini. Mungkin sebagian orang menganggap Jalsah Salanah yang diadakan setelah pembagian negara Hindustan (menjadi India dan Pakistan) sebagai Jalsah Salanah India saja. Akan tetapi oleh karena Qadian mempunyai kedudukan sangat agung sebagai tempat kelahiran Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as dan sebagai pusat tersebarnya amanat Hadhrat Masih Mau’ud as ke suluruh dunia — dan juga kota ini menjadi pusat kebangkitan Islam kedua kali — dengan demikian Jalsah Salanah yang diadakan di kota Qadian ini menjadi Jalsah International.

Dengan karunia Allah Ta’ala pada hari ini 32 atau 33 negara sedang mewakili Jemaat mereka hadir dalam Jalsah Salanah Qadian ini. Maka para Ahmadi penduduk Qadian juga dan para peserta Jalsah Salanah Qadian yang datang dari beberapa negara itu kedua-duanya mempunyai kedudukan istimewa.

Akan tetapi keistimewaan ini akan berarti apabila penduduk yang tinggal di kota ini mematuhi hak-hak kewajiban mereka, dan juga apabila semua peserta Jalsah Salanah ini akan menggunakan waktu mereka di siang dan malam hari untuk meraih maksud-maksud Jalsah ini. Yaitu maksud-maksud Jalsah Salanah yang telah dijelaskan oleh Pencinta Hakiki Rasulullah saw, Imam Zaman, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as kepada orang-orang yang telah mengikat perjanjian Bai’at dengan beliau as.

Pada umumnya suasana lingkungan Jalsah Salanah — di manapun juga diadakan di seluruh dunia — menyalurkan kesan ruhani yang mendalam kepada para peserta Jalsah, dan kesan-kesannya itu selalu diungkapkan oleh para peserta Jalsah. Akan tetapi kesan ruhani suasana Jalsah Salanah Qadian itu dirasakan dalam bentuk lain lagi.

Keistimewaan perasaan itu memang harus dirasakan oleh setiap mukhlis Ahmadi, sebab suasana udara dan lorong-lorong di kota ini harum dengan kenangan Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as yang membawa nilai-nilai keruhanian ke berbagai dimensi yang berlainan, maka nasihat-nasihat yang diterima di dalam suasana lingkungan ini mempunyai nilai warna dan kesan yang khusus dan memang di dalam hati sanubari orang-orang yang mukhlis harus ada warna kesan yang istimewa.

 

Meraih Berkat-berkat dari Maksud dan Tujuan Jalsah Salanah

Oleh sebab itu pada hari ini saya ingin mengingatkan semua peserta Jalsah yang hadir, dimana dengan menghadiri Jalsah Salanah bisa memperoleh berkat-berkat dari pidato-pidato ilmiah dan tarbiyah, di sana mereka harus ingat selalu kepada maksud dan tujuan Jalsah Salanah. Bahkan setiap waktu mereka harus berulang kali mengingatnya.

Yang mungkin perwakilan saya dalam pidato pembukaan Jalsah Salanah ini telah menjelaskan tujuan mengadakan Jalsah Salanah langsung dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri. Saya berkata demikian karena saya tidak tahu apa yang disampaikan dalam pidato pembukaan itu. Namun pada umumnya pidato pembukaan itu disampaikan sambil menekankan kepada maksud dan tujuan Jalsah Salanah. Pendeknya setiap orang yang menghadiri Jalsah Salanah ini harus melewatkan hari-hari Jalsah sedemikian rupa agar dapat memenuhi harapan-harapan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Sebagaimana telah saya katakan, bahwa di dalam Jalsah ini hadir perwakilan dari berbagai negara, dan salah satu dari tujuan Jalsah ini Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan, yaitu untuk meningkatkan perkenalan satu sama lain, menegakkan kecintaan dan kasih-sayang serta persaudaraan. Maka sekarang perkenalan dan persaudaraan di kalangan Jemaat telah tercipta sangat luas sekali sehingga tidak ada tandingannya.

Kita menyaksikan apabila penduduk Qadian berjumpa dengan para pendatang dari Jemaat Amerika, dari negara-negara Arab, dari negara-negara Eropah atau para pendatang dari semua negara manapun apabila berjumpa satu sama lain, maka nampak jelas sekali ruh kecintaan dan persaudaraan mereka satu sama lain betul-betul telah tertanam cemerlang selaku orang-orang Mukmin hakiki.

Jika terdapat rasa sombong atau takabbur sedikit saja di dalam lubuk hati seseorang maka tidak mungkin mereka akan berjumpa mesra dengan ruh atau semangat kecintaan seperti itu. Seorang kaya penduduk sebuah kota terhadap saudara yang miskin, apakah dia kenal ataupun tidak, atau hubungan dengannya kuat atau lemah, atau ada keluhan atau tidak tentang keburukannya, selama semua keburukan-keburukan tidak disingkirkan, semua kesombongan atau perbedaan kaya-miskin tidak dihapuskan, angkuh, tidak menunjukkan contoh persaudaraan dan persahabatan, maka pidato-pidato dan suasana ruhani Jalsah itu tidak akan memberi faedah positif apa pun kepada hadirin seperti itu, dan kedatangan mereka untuk menghadiri Jalsah tidak akan ada faedahnya. Suasana lingkungan ruhani Qadian juga bagi orang-orang yang berhati keras seperti itu akan terasa hampa.

Jadi, jika ingin mengambil faedah sebanyak-banyaknya dari Jalsah ini maka kita harus menaruh perhatian penuh terhadap maksud yang diharapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yang salah satu diantara maksud-maksud Jalsah ini sangat penting sekali yang telah beliau jelaskan secara khusus, yaitu hapuskan perbedaan kedudukan orang besar dan orang kecil antara si kaya dan si miskin, dendam peribadi terhadap seseorang harus dijauhkan seolah-olah tidak pernah terjadi.

 

Nasihat bagi Penduduk Qadian

Penduduk tetap Qadian juga harus mengadakan inspeksi terhadap diri pribadi mereka dan harus menghargai bahwa Allah Ta’ala telah memberi kesempatan kepada mereka tinggal di kota kelahiran Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka harus menciptakan suasana lingkungan di tempat ini sesuai dengan yang dikehendaki oleh Hadhrat Imam Zaman as, dan untuk itu harus diusahakan tarbiyat Jemaat dengan sebaik-baiknya.

Dan satu lagi yang secara khusus harus diperhatikan sepenuhnya, bahwa Allah Ta’ala telah memberi kesempatan istimewa kepada penduduk di sana untuk mengambil bagian di dalam setiap Jalsah Salanah. Mereka harus mengambil faedah yang sebesar-besarnya dari kesempatan yang istimewa ini untuk meningkatkan rasa takut dan cinta terhadap Allah Ta’ala.

 Karena itu tegakkanlah hubungan kecintaan dan persaudaraan dengan setiap orang yang datang ke Qadian, dan dengan cara demikian para penduduk Qadian pun harus mengadakan analisa terhadap diri pribadi masing-masing, apakah mereka sedang berusaha untuk mencapai hal itu atau tidak?

Analisa seperti itu jugalah yang harus dilakukan untuk dapat mensucikan hati sanubari dari pengaruh buruk kecintaan terhadap duniawi, dan timbulkanlah kesadaran untuk menundukkan perhatian sepenuhnya terhadap kehidupan ukhrawi agar timbul rasa takut kepada Allah Ta’ala.

Tidak akan membiarkan pikiran selalu tercurah kepada kehidupan duniawi, sebagaimana firman Tuhan akan selalu menjadi tumpuan, وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ yakni apa yang harus kita persiapkan bagi kehidupan di alam ukhrawi. (Al Hasyr 19). Demi meraih keridhaan Allah Ta’ala dan demi meraih kebaikan dalam kehidupan di alam ukhrawi nanti persiapan apakah yang harus kita lakukan?

Apakah menaruh perhatian penuh terhadap penyerahan diri dan taqwa, ataukah memberi contoh untuk hanya menjalani kehidupan duniawi? Ataukah menjalani kehidupan sambil membuang rasa takut kepada Tuhan dari dalam hati sanubari? Apakah hendak menepati janji-janji bai’at, ataukah menganggap cukup hanya dengan menyatakan diri sudah bai’at?

 Apakah hendak menanamkan sifat takut kepada Tuhan, kesucian diri, dan perangai lemahlembut di dalam hati sanubari? Ataukah menanamkan sifat khianat, akhlaq buruk, bercakap buruk di dalam hati sanubari kemudian menzahirkannya melalui amal nyata? Apakah hendak menegakkan contoh merendahkan diri dan lemah-lembut, ataukah menunjukkan kesombongan dan ketakabburan sambil berjalan membusungkan dada?

Apakah hendak menyebarkan keindahan mutiara kebaikan ataukah membiasakan berdusta secara membabi buta, akibatnya mengundang kemarahan Tuhan ? Apakah mempersiapkan diri untuk melakukan pengkhidmatan agama demi menyempurnakan Missi Masih Muhammadi? Ataukah membuat lupa diri karena terbenam kedalam kemewahan duniawi? Maka analisa ini memberitahukan kritikan analisa terhadap amal-amal kita, bahwa sampai dimanakah kita menaruh perhatian terhadap firman: وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ persiapan apa untuk hari esok?

Jadi, selama tiga hari Jalsa ini merupakan kesempatan yang sangat baik sekali dimana terdapat kecenderungan kesan-kesan ruhani yang hangat untuk mengadakan analisa terhadap semua hal itu dan terhadap amal-amal pribadi kita dan untuk berusaha menerapkannya sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala.

 

Pentingnya Kesesuaian Ucapan dengan Perbuatan

 

Pelaksanaan Tahajjud secara berjama’ah ataupun secara perorangan menciptakan sebuah suasana ruhani yang sangat istimewa sekali. Tempat-tempat sujud dan tempat-tempat memanjatkan doa Hadhrat Masih Mau’ud as juga memberi banyak sekali taufiq terhadap kalbu kita untuk memanjatkan doa dengan penuh ghairat dan kekhusyuan yang sangat khas, yang memberi isyarah bagaimana mutu keruhanian kita.

Kita harus mengambil faedah sepenuhnya selama tiga hari Jalsah ini, dan jangan ada seorang Ahmadi pun yang kembali dari sana tanpa meraih maksud-maksud itu dan jangan ada seorang-pun Ahmadi penduduk Qadian yang tidak membuat tiga hari Jalsah Salanah ini menjadi sarana istimewa perbaikan terhadap dirinya dan harus diikuti dengan usaha sekuat tenaga untuk mengadakan perbaikan terus secara tetap di dalam menjalani kehidupan.

Hal ini dapat dilakukan apabila setiap orang yang duduk mendengarkan pidato Jalsah itu mempunyai keinginan teguh agar perbaikan yang akan diciptakan itu akan tetap berlangsung sampai akhir hayat.

Keinginan agar ilmu pengetahuan yang kita dengar dari pidato-pidato Jalsah Salanah itu bukan hanya sekedar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan agama belaka melainkan juga untuk berusaha secara tetap meningkatkan dan menambah ilmu pengetahuan agama agar tidak menjadi seperti orang-orang yang berbicara di mulut lain dan amal perbuatannya lain lagi.

Ilmu pengetahuan yang kita peroleh itu harus kita terapkan juga pada diri sendiri. Kita harus selalu menaruh perhatian terhadap firman Allah Ta’ala berikut ini: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ — yakni Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian berbicara sesuatu di mulut yang kalian sendiri tidak mengamalkannya. (Ash-Shaff ayat 3).

Apabila kita selalu menaruh perhatian terhadap itu semua barulah maksud dan tujuan menghadiri Jalsah juga akan menjadi sempurna, dan maksud-maksud itu akan berhasil diraih secara kekal, yang untuk menghasilkannya Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengambil bai’at dari kita, sehingga kita akan dapat meraih berkat-berkat Jalsah Salanah secara kekal.

Menjadi Penegak Contoh yang Baik

Kita akan selalu menaruh perhatian terhadap perbaikan diri serta akan selalu menganalisa keadaan diri pribadi kita. Kita akan menjadi penegak contoh yang baik di hadapan anak-anak kita dan menjadi sarana bagi perbaikan anak-anak kita. Dan kita akan menaruh perhatian terhadap menyempurnakan hak dan kewajiban membimbing terhadap anak-anak buah dan terhadap orang-orang yang ada dibawah tanggungan kita. Dan kita akan menjadi para pelaksana kewajiban tabligh.

Hal itu semua merupakan pekerjaan yang sangat besar sekali yang setiap orang harus melaksanakannya. Namun mutunya akan dapat dipertahankan, apabila kita menjadi pecinta kebenaran dan mengawasi serta memeriksa kelemahan-kelemahan diri pribadi kita kemudian memperbaikinya.

Apabila dengan hati penuh takut kita berusaha untuk meraih maghfirah (pengampunan) Allah Ta’ala; apabila kita menyerahkan leher kita dihadapan hukum-hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw., apabila kita menunjukkan contoh ketaatan yang tidak dipengaruhi alasan-alasan dan uzur, bahkan menegakkan dinding penghalang agar tidak melarikan diri dariya. Dan kedudukan seperti itu akan dapat diraih apabila kita mengutamakan ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengutamakan harapan-harapan serta keinginan beliau as dari Jemaat.

Apabila kita menunjukkan contoh kejujuran dan ketaatan sesuai dengan keinginan beliau as, berkenaan dengan keinginan dan harapan itu beliau as bersabda:

“Pertahankanlah amal dan perkataan kalian agar selalu benar dan tidak bertentangan satu sama lain. Sebagaimana yang telah ditunjukkah oleh para Sahabah r.a. di dalam kehidupan mereka, begitu jugalah kalian harus mengikuti jejak langkah mereka dengan menunjukkan contoh kebenaran dan kejujuran. Contoh teladan Hadhrat Abu Bakar Shiddiq r.a. harus selalu menjadi perhatian kalian. Jika kita merenungkan hal itu semua nampak contoh yang sangat menakjubkan.”

 

Keistimewaan Abu Bakar Shiddiq r.a.

Dari contoh kehidupan Hadhrat Abu Bakar Shiddiq yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as maka nampak kepada kita sebuah pemandangan ketulusan dan ketaatan Hadhrat Abu Bakar Shiddiq r.a. yang sangat agung dan cemerlang sekali.

Ketika Hadhrat Rasulullah saw bersabda: Allah Ta’ala telah menurunkan wahyu kepada-ku bahwa aku adalah Nabi. Maka Hadhrat Abu Bakar Shiddiq tanpa bertanya lagi beliau langsung percaya.

Ketika Hadhrat Rasulullah saw. bersabda bahwa untuk kepentingan agama orang-orang mukmin harus mengurbankan harta mereka, maka Hadhrat Abu Bakar Shiddiq membawa semua harta yang ada di rumah beliau dan diserahkan kepada Hadhrat Rasulullah saw..

Ketika Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa, “Disebabkan kezaliman orang-orang kuffar telah melampaui batas sekarang perintah berperang melawan mereka sudah diperintahkan kepada-ku, sudah diperintahkan kepada-ku untuk melawan mereka dengan menggunakan pedang, maka Hadhrat Abu Bakar Shiddiq r.a. segera datang membawa pedang terhunus sambil berkata: Labbaik, Ya Rasulallah. Aku siap ya Rasulallah!

Di waktu Persetujuan Hudaibiyah Hadhrat Rasulullah saw. dengan segera mengubah keputusan, menzahirkan keinginan agar peperangan jangan dilakukan melainkan harus berdamai, maka semua para Sahabah merasa kecewa. Bahkan beberapa orang Sahabah penting mulai merasa bingung dan ragu apa gerangan yang akan terjadi. Namun Hadhrat Abu Bakar Siddiq r.a. berkata: Sungguh benar! Perdamaian harus ditegakkan!

 Jadi, keteladanan itulah yang diharapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dari Jemaat beliau as. Apabila standar ketaatan ini sudah dapat dipertahankan maka ruh harapan Hadhrat Masih Mau’ud as juga akan tetap bertahan. Jika harapan-harapan Hadhrat Masih Mau’ud as tidak terpenuhi di dalam suatu Jalsah Salanah, beliau as merasa sangat gelisah dan risau sekali bahkan sampai menzahirkan kemarahan juga.

 Di zaman ini, jika kita ingin memperoleh bagian dari maksud dan tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as maka kita harus menerima dan mentaati apa yang beliau perintahkan kepada kita. Kita harus berusaha menciptakan perubahan besar dalam diri kita seperti semangat yang telah ditunjukkan oleh para Sahabah Rasulullah saw. di waktu perang Hunain.

Sebab tanpa disertai semangat seperti itu kita tidak dapat terhindar dari perkara-perkara lagaw (sia-sia) dan tidak pula akan terhindar dari keserakahan akan barang-barang duniawi. Tidak akan dapat memperbaiki diri pribadi dan tidak akan dapat memahami ruh Jalsah Salanah, dan tidak akan dapat pula kita memahami maksud kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as ke dunia. Dan tidak akan dapat tertanam ruh hakiki di dalam diri kita untuk mengkhidmati agama Islam.

Hikmah Perang Hunain

Apakah gerangan yang telah terjadi di dalam Perang Hunain? Dalam Tarikh Perang Hunain dikatakan bahwa pertama kali terjadi lasykar orang-orang Muslim yang jumlahnya jauh lebih banyak dari tentara musuh yang sudah siap untuk melawan mereka. Akan tetapi yang tergabung di dalam lasykar itu kebanyakan tidak memahami inti sari pengurbanan. Ketika 4000 orang pasukan pemanah musuh yang terlatih tiba-tiba mulai melepaskan anak-anak panah mereka, maka disebabkan kelemahan iman itu mereka mulai buyar melarikan diri kesana-kemari sehingga lasykar menjadi kacau balau. Di medan perang hanya tinggal 12 orang Sahabah bersama Rasulullah saw., akan tetapi beliau saw tidak mundur, sekalipun disarankan untuk mengambil kebijaksanaan agar semua lasykar ditarik mundur kemudian dihimpun lagi. Beliau bersabda: Tidak! Nabi Allah tidak pernah mundur dari medan perang. Bahkan beliau menyuruh Hadhrat Abbas r.a. untuk memanggil kaum Anshar, maka dengan suara sangat keras dan nyaring sekali beliau berseru: Hai kaum Anshar, datanglah segera! Nabi Allah memanggil kalian!

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. telah menjelaskan hal itu dengan cara yang sangat menarik dan indah sekali, mengapa Hadhrat Rasulullah saw. hanya menyebut Kaum Anshar saja. Banyak sekali sebab-sebabnya, salah satu di antaranya adalah tanggung jawab kekalahan perang terletak di atas beberapa orang dari Mekkah yang mempunyai hubungan erat dengan Kaum Anshar, karena itu kaum Anshar hanya sedikit saja ditegur, sebab jumlah mereka sekarang sudah cukup besar, mereka mengira bahwa tidak akan ada yang dapat mengalahkan mereka. Mereka bertumpu kepada kaum keluarga dan para sahabat mereka yang jumlahnya cukup banyak padahal anggapan itulah yang mengakibatkan telah terjadinya kekalahan.

Ringkasnya, hanya Kaum Anshar saja yang dipanggil. Kaum Anshar berkata: “Ketika suara Hadhrat Abbas sampai ke telinga kami bahwa Nabi Allah sedang memanggil kami, sebetulnya kami sedang siap-siap untuk memacu kendaraan kami melompat ke arah medan perang. Akan tetapi suara panggilan itu laksana sengatan panas api yang membuat kami beringas dengan serempak menaiki kuda-kuda kendaraan kami melompat menuju ke arah Hadhrat Rasulullah saw.. Dan kuda-kuda kendaraan yang tidak mau berlari sekali pun telah dipacu sekuat tenaga kami penggal batang leher mereka dan kami berlari sekuat tenaga untuk segera hadir di hadapan Hadhrat Rasulullah saw sambil mengucapkan: “Labbaik ya Rasulallaah labbaik!”[2]

Semangat Labbaik ya Rasulallah labbaik! inilah yang harus betul-betul kita fahami dan lakukan pada zaman sekarang ini. Pada zaman sekarang juga seorang Utusan Tuhan, pencinta sejati Rasulullah saw. yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi, Masih Mau’ud as sedang memanggil kita agar kita menaruh perhatian khas terhadap perbaikan amal pribadi kita.

Setelah datang untuk menghadiri Jalsah, maka usahakanlah sedapat mungkin untuk meraih maksud-maksud Jalsah Salanah ini. Gunakanlah waktu selama tiga hari menghadiri Jalsah ini untuk meningkatkan iman dan takwa serta zikir Ilahi. Jadikanlah waktu tiga hari ini sebagai sarana untuk meraih qurb (kedekatan) permanent kepada Allah Ta’ala. Usahakanlah pada waktu ini untuk memotong leher kuda nafsu (diri) pembangkang.

Pada zaman ini Hadhrat Masih Mau’ud as memanggil kita untuk mengadakan reformasi diri kita, maka untuk menyambut seruan beliau itu kita harus berkumpul di sekeliling beliau sambil mengucapkan Labbaik kepada beliau. Dan kewajiban kitalah untuk berkumpul di sekeliling beliau. Sekarang kita tidak dipanggil untuk berjihad menggunakan pedang, melainkan dipanggil untuk berjihad melawan hawa nafsu yang kemenangannya akan menjadi sarana untuk mengibarkan bendera Islam ke seluruh dunia.

Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, bahwa kita harus menegakkan standar baru kasih-sayang dan persaudaraan. Kita harus meningkatkan kesederhanaan dan ketakwaan kita. Harus mengambil sikap merendahkan diri dan berperangai lemah-lembut. Kita harus menjadi contoh dalam kebenaran dan kejujuran. Demi tabligh Islam kita harus menunjukkan contoh yang nyata dalam pengurbanan harta dan jiwa raga serta kehormatan kita. Kita harus sibuk setiap waktu berzikir kepada Allah Ta’ala. Melalui ibadah-ibadah yang bermutu kita harus berusaha untuk meraih qurb (kedekatan) Allah Ta’ala.

Jadi, ambillah faedah sebanyak-banyaknya dari Jalsah Qadian selama tiga hari in dan dimana juga Jalsah sedang diadakan misalnya, di West Coast of America, di Mali, di Niger, di Nigeria, di Senegal dan juga di Ivory Coast sedang diadakan Jalsah, para peserta harus mengambil faedah secara khas dari Jalsa Salana ini.

Sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as

Sekarang saya ingin menyampaikan beberapa kutipan dari sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as yang memberi bimbingan ke arah perkara-perkara yang diinginkan oleh seorang Nabi Allah Ta’ala dari kita. Beliau as bersabda:

“Saya sudah sering sekali berkata kepada Jemaat tentang kasih-sayang dan persaudaraan. Bersatu-padulah kalian dan berhimpunlah selalu. Allah Ta’ala mengajar orang-orang Muslim untuk menjadi wujud tunggal yang kuat, jika hal itu tidak ada, kekuatan pasti akan lenyap.

Mengapa shalat wajib dikerjakan secara berjamaah, sebabnya, agar dengan cara itu persatuan dapat diwujudkan dan agar kekuatan iman sesorang dapat tersalur kepada yang lain. Jika terjadi perselisihan dan tidak ada persatuan maka malanglah nasib kalian. Hadhrat Rasulullah saw bersabda: ‘Jalinlah kasih-sayang satu sama lain, dan berdoalah secara gaib bagi yang lain. Jika seorang berdoa secara diam-diam, maka malaikat juga berkata: “Bagi engkau juga akan berlaku seperti yang engkau harapkan.”’

Betapa tingginya nilai nasihat-nasihat itu. Jika doa orang itu tidak terkabul, namun doa malaikat pasti dikabulkan. Saya ingin memberi nasihat: Janganlah kalian berselisih satu sama lain.

Saya membawa hanya dua masalah. Pertama, peganglah Tauhid Ilahi. Kedua, wujudkanlah kasih-sayang dan simpati terhadap yang lain. Tunjukkanlah teladan yang akan menjadi mukjizat bagi yang lain. Itulah dalil yang tercipta di dalam wujud para Sahabat ridwanullaah ‘alaihim كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ “dahulu kamu saling bermusuhan kemudian Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan satu sama lain.” Ingatlah taleef (penyatuan hati) adalah sebuah mukjizat.

Ingatlah, selama setiap orang tidak berlaku: Apa yang disukai bagi dirinya itulah pula yang dia sukai bagi yang lain, dia bukanlah dari Jemaatku. Dia akan selalu berada dalam musibah atau mara bahaya, akhir kesudahannya sangat buruk.”

Beliau as bersabda: “…Ingatlah, bersih dari kedengkian adalah salah satu tanda Imam Mahdi. Apakah tanda itu tidak akan sempurna? Pasti akan sempurna. Mengapa kalian tidak bersabar. Sebagaimana halnya dengan pengobatan, selama penyakit-penyakit tidak dibasmi maka penyakit tidak akan terhindar. Melalui wujud saya insya Allah Ta’ala akan berdiri sebuah Jemaat yang shaleh.

Apakah penyebab permusuhan antara sesama manusia? Tiada lain adalah: kikir (kedekut), takabbur, tidak memikirkan orang lain, hanya mementingkan diri sendiri dan emosi. Semua orang yang tidak dapat menguasai emosi dan tidak dapat tinggal bersama yang lain dengan kasih-sayang akan dikeluarkan dari Jemaat….

Ingatlah, orang-orang demikian itu adalah tamu-tamu sementara. Selama tidak menunjukkan contoh yang baik, dengan alasan apa pun, saya tidak mau menerima keluhan, maka orang-orang yang masuk ke dalam Jemaat namun tidak beramal sesuai dengan kehendak saya, mereka itu adalah ranting-ranting kering, jika tukang kebun membiarkan dan tidak memotongnya pun tidak ada gunanya.

Ranting kering menghisap air bersama-sama dahan dan ranting yang segar, namun ia tidak bisa membuat dirinya sendiri segar menghijau, melainkan dahan atau ranting itu merusak dahan dan ranting lain. Takutlah kalian! Barangsiapa yang tidak memperbaiki dirinya ia tidak akan tinggal bersama kami.[3]

Beliau juga bersabda: “Di dalam Alqur’anul Karim Allah Ta’ala berfirman: وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (Dan Tuhan akan menjadikan para pengikut engkau menang di atas orang-orang yang ingkar (kuffar) hingga Hari Kiamat.(Ali Imran:56).

 Janji Allah Ta’ala yang menenteramkan hati ini disampaikan kepada Ibnu Maryam yang lahir di Nazaret. Namun saya beri kabar suka kepada kalian bahwa Isa Ibnu Maryam yang akan datang di Akhir Zaman atas nama Yesus Masih juga dengan wahyu inilah telah diberi kabar suka.

Kalian harus berpikir! Orang-orang yang telah menjalin hubungan dengan saya ingin tergabung bersama-sama dalam kabar Suka dan Janji Agung ini. Namun dapatkah orang-orang yang masih bergelimang dalam nafsu amarah, yang masih bergulat dengan perbuatan-perbuatan dosa? Tidak, sama sekali tidak!

Orang yang betul-betul menghargai janji dengan Allah Ta’ala dan yang tidak menganggap perkataan-perkataanku sebagai kisah atau cerita belaka, maka ingatlah dan dengarlah dengan telinga hati kalian: Orang-orang yang menjalin hubungan dengan saya dan hubungan mereka itu bukan hubungan biasa, melainkan hubungan yang sangat luar biasa eratnya dan kesan hubungan mereka itu bukan hanya kepada diri saya sendiri melainkan sampai kepada Zat Yang telah menanamkan spirit insan kamil ke dalam diri saya dan yang telah membawa ruh kebenaran dan kejujuran kedunia.

Saya hanya berkata, jika kesan (pengaruh) itu hanya sampai kepada saya, maka tidak ada suatu kekhawatiran dan kerisauan apapun pada diri saya. Namun tidak cukup sampai di situ, kesannya (pengaruhnya) harus sampai kepada Nabi Karim saw dan kepada Zat Allah Ta’ala. Jika kalian dalam keadaan seperti itu, maka dengarlah dengan penuh perhatian: Jika kalian ingin mengambil bagian di dalam Kabar Suka dan Janji Agung itu, dan berharap agar layak untuk meraihnya, dan diri kalian betul-betul merasa haus akan kemenangan yang sangat agung yang akan mengalahkan kaum kuffar sampai Hari Kiamat, maka saya katakan: Kemenangan tidak akan dapat diraih selama kalian belum melewati martabah اللوّامة (Lawwaamah) sampai ke puncak martabah المطمئنة (Mutmainnah). Lebih dari ini saya tidak bisa berkata lagi.

Kalian telah merapatkan hubungan dengan seorang insan Ma’mur minallah (Utusan Allah), maka dengarlah perkataan-perkataannya dengan kuping hati kalian, dan siaplah selalu dengan tekad yang sungguh-sungguh untuk mengamalkannya, supaya jangan kalian termasuk orang-orang yang setelah berikrar jatuh ke dalam jurang ingkar, sehingga di dalam dunia ini juga kalian menuai azab.”[4]

Beliau bersabda: “Semua orang Jemaat harus selalu ingat kepada nasihat-nasihat saya itu dan curahkanlah perhatian sepenuhnya kepada perkara-perkara yang telah saya jelaskan, saya selalu berpikir bahwa di alam dunia ini Risyta Nata (perjodohan, berpasangan) selalu terjadi. Banyak orang yang memilih risyta atau pasangan karena kecantikannya, banyak yang memandang karena marga dan kekayaannya, dan banyak juga yang mengutamakan kekuatannya.

Akan tetapi Allah Ta’ala tidak menghiraukan perkara-perkara itu semua, Dia sangat jelas sekali berfirman: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ‘Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.’ (Hujarat ayat 14). Sekarang, Allah Ta’ala akan menyelamatkan orang-orang Jemaat yang bertakwa dan yang lain akan dibinasakan. Sungguh rawan kedudukan ini sebab di dalam satu tempat tidak dapat tinggal dua buah kelompok manusia, yakni orang muttaqi (bertakwa) dengan orang jahat dan kotor tidak dapat tinggal bersama di dalam satu tempat. Pastilah orang-orang muttaqi akan tinggal dan orang-orang jahat dan kotor akan binasa.

Karena hanya Tuhanlah Yang Mahatahu siapa orang muttaqi itu menurut pandangan-Nya. Jadi, kedudukan ini sangat menakutkan sekali. Alangkah bahagianya manusia yang bertakwa itu, dan alangkah sial nasib orang-orang yang terlaknat.”[5]

Nasihat bagi Seluruh Ahmadi

Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua untuk memahami kerisauan dan kepedihan hati Hadhrat Masih Mau’ud as. Semoga Dia memberi taufiq kepada kita untuk memperbaiki diri pribadi kita dan harus diingat bahwa nasihat-nasihat dalam khotbah ini bukan hanya ditujukan kepada para peserta Jalsah Salanah saja melainkan ditujukan kepada setiap Ahmadi yang tinggal di berbagai negara di seluruh dunia.

Saya ingin mengingatkan juga bahwa setiap Ahmadi di manapun berada di seluruh dunia pada hari-hari Jalsah yang sedang diadakan di kota kelahiran Masih Muhammadi (Imam Mahdi) ini, dimana berkat-berkatnya sedang mengalir, harus menaruh perhatian sepenuhnya terhadap zikir Ilahi dan doa-doa harus dipanjatkan secara khusus.

Khususnya para peserta Jalsah Qadian dan para peserta Jalsah di negara-negara lain juga dimana sedang mengadakan Jalsah, harus banyak memanjatkan doa. Setiap orang Ahmadi di seluruh dunia harus berdoa bagi para anggota Jemaat di negara-negara yang sedang menghadapi banyak kesulitan disebabkan mereka telah bai’at kepada Hadhrat Masih Muhammadi as, atau disebabkan mereka telah beriman kepada Imam Zaman ini.

 Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kesulitan dan kerisauan hati mereka, terutama para anggota Jemaat di Pakistan, Indonesia, Syria dan di negara-negara lainnya juga yang sedang menghadapi banyak kesulitan.

Semoga Allah Ta’ala menyediakan sarana-sarana kemudahan bagi mereka. Semoga Allah Ta’ala menyediakan sarana kebebasan bagi mereka. Doa-doa itu sangat penting sekali bagi terpenuhinya tuntutan persatuan dan persaudaraan di kalangan warga Jemaat, yang sangat diperlukan oleh mereka. Untuk itu semua semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua. Amin!

Pengalihbahasa: Mln Hasan Basri Sy

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Tarikh al-Khaamis, jilid 2, halaman 102-103, bab dzikr ghazwah Hawazin, Terbitan Beirut.

[3] Malfuzhat jilid 1, halaman 336, edisi 2003, terbitan Rabwah

[4] Malfuzhat jilid 2, halaman 177, edisi 2003, terbitan Rabwah

[5] Malfuzhat jilid 2, halaman 177, edisi 2003, terbitan Rabwah