بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

 

KHUTBAH JUM’AH HAZRAT AMIRUL MU’MININ

KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal 30-03-2007 dari Mesjid  Baitul Futuh,

London United Kingdom

Setelah membaca syahadah dan surah Alfatihah beliau atba membaca surah  Al Imran ayat 190 :

وَلِلّهِ مُلْكُ السَّمـوتِ وَاْلاَرْضِ واللهَُ عَلى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ

 

Artinya: “ Dan kepunyaan Allah kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Allah adalah  مَلِكُ اْلكُلِّ  Yang memiliki segala-galanya. Dia Pemilik Langit dan juga Pemilik Bumi seluruhnya. Tidak ada sebarang benda yang berada diluar kekuasaanNya. Allah swt telah menerangkan Sifat Maalik dan sifat MalikNya dalam berbagai macam cara dengan berbagai macam pokok pembicaraan didalam Kitab Suci Alquran. Adalah kewajiban setiap orang mu’min untuk memahami sifat Ilahi ini, dan menyimpannya didalam benak dan sambil memohon pertolongan dari Allah swt berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan hukum-hukumNya, memberi perhatian terhadap ibadah kepadaNya, mengamalkan perintah-perintahNya, menunaikan hak-hak kewajiban terhadap makhluk-makhlukNya. Dia Yang Maaliki Yaumiddin, Yang Memiliki Hari Pembalasan, takutlah kepada hari itu, dimana akan diambil keputusan baik dan buruk amal manusia. Tidak akan ada orang yang berakal yang mempunyai angan-angan didalam fikirannya bahwa :”Saya telah banyak melakukan amal-amal soleh, saya pasti akan masuk kedalam surga.” Tidak dapat menda’wakan diri bahwa saya akan masuk surga. Jika ada orang demikian ia akan disebut orang sangat bodoh didunia ini. Kita sudah membaca hadis ini berulang kali bahwa Hazrat Rasulullah saw bersabda : “ Aku juga tidak akan dapat masuk surga tanpa ada karunia dari Allah swt.” Atas pertanyaan seorang sahabat beliau bersabda: “ Saya juga barulah akan masuk kedalam surga kalau mendapat karunia dari Allah swt.” Jadi, orang seperti beliaupun, orang yang telah menjadi sebab diciptakannya langit dan bumi ini, beliau sebagai Nabi yang paling mulia diatas semua nabi-nabi dan sebagai Khataman Nabiyyin, tentang beliaupun Allah swt berfirman :

اِنَّ اللهَ وَ مَلـئكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلى النَّبِيِّ يـاَ يُهَا اَّلذِيْنَ امَنُوْا صَلُّوْا

عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (سورة الاحزاب اية 57 )

Artinya : “ Sesungguhnya Allah mengirimkan RahmatNya kepada Nabi ini dan para MalaikatNya juga mendo’akan dia. Wahai orang-orang mu’min ! Kamupun harus mengirimkan selawat atas dia, Nabi ini,dan sampaikanlah salam kepadanmya dengan do’a keselmatan.”

          Beliau saw yang dalam keadaan duduk atau berdiri, bangun ataupun tidur selalu berusaha memproleh ridha Allah swt, yang sepanjang malam berdiri menunaikan ibadah sehingga kaki beliau saw bengkak-bengkak. Tentang beliau saw Hazrat Aisyah r.a. menjadi saksi bahwa gerak-gerik beliau saw siang-malam merupakan gambaran Tafsir Alquran. Dan Allah swt juga memberi kesaksian dan juga mengumumkan didalam surah  Al Qalam ayat 5 :

اِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

 

Artinya : “ Sesungguhnya engkau memiliki akhlaq yang amat luhur.”  Artinya Allah swt mengumumkan : Engkau hai Muhammad dalam ta’lim dan amal purbuatan engkau telah mencapai martabah yang teramat luhur dan mulia.Kemudian Allah swt mengiklankan melalui beliau saw :

قُلْ اِنَّ صَلاَ تِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَـالَمِيْنَ

 

Artinya : “ ( Hai Muhammad ) katakanlah kepada mereka, salatku, pengurbananku, hidupku dan matiku semata-mata  kuserahkan kepada Allah Rab sekalian Alam”

          Sekalipun ada jaminan ini semua, ada jaminan amal-amal saleh, ada kesaksian dari orang-orang yang telah beriman maupun yang tidak beriman, beliau saw merasa takut. Beliau takut bukan karena tidak yakin kepada sempurnanya janji-janji Allah swt, melainkan disebabkan beliau saw orang yang paling banyak memahami dengan sesungguhnya semua sifat-sifat Allah swt. Beliau memahami dengan sesungguhnya Sifat Malikiyyat dan sifat Maaliki Yaumiddin Tuhan. Itulah sebabnya beliau saw senantiasa memohon kasih-sayang Tuhan. Dan itulah juga yang beliau nasihatkan kepada orang-orang beriman. Itulah maksud utama Tuhan Yang Maaliki Yaumiddin itu. Manusia akan mendapat keselamatan dengan memohon karunia dan kasih sayang dari Tuhan. Siapa yang tahu, amal perbuatan yang mana yang patut diterima oleh Allah swt. Dengan niyyat apa suatu kebaikan telah dikerjakan. Allah swt yang paling tahu dari semua tentang keadaan hati setiap orang. Sekalipun orang lain nampak seseorang telah melakukan suatu kebaikan. Namun Allah swt tahu pasti dengan niyyat apa seseorang melakukan kebaikan itu.

          Sekalipun Rasulullah saw memiliki fasilitas itu semua namun beliau selalu merasa takut kepada Allah swt. Maka untuk seorang mu’min biasa betapa diperlukannya hal itu semua dengan amat sangat. Allah swt Yang menyatakan diriNya Maaliki Yaumiddin, mengatakan, ditanganKu kekuasaan untuk memberi pembalasan yang baik ataupun yang buruk. Aku berkuasa mema’afkan orang yang berdosa. Dan memang Aku mema’afkan.Kepada orang-orang mu’min juga Dia meyakinkan, firmanNya : Langit dan bumi ini kepunyaanKu, dan secara kekal Aku berkuasa atas stiap benda. KekuasaanKu berlangsung semenjak dulu kala dan akan berlanjut seterusnya. Maka amalkanlah semua hukum-hukumKu semata-mata karena Aku, penuhilah setiap hak dan kewajiban. Maka kalian akan berada dibawah perlindunganKu dan diselamatkan dari setiap keburukan. Maka sambil memahami hal itu semua, amalkanlah semua hukum-hukumKu. Kalau tidak, kalian harus ingat, jika kalian mencari pelindung lain selain dari padaKu maka kalian akan mendapat kerugian besar. Kalian tidak akan diberi perlindungan selama-lamanya. Didunia ini yang nampak kepada kalian banyak sekali barang-barang kesenangan yang bersifat sementara, akan tetapi barang-barang itu semua tidak akan memberi tempat perlindungan kepada kalian di Hari  Pembalasan. Semua orang yang berlomba-lomba dalam kekufuran didunia ini, bagi mereka tidak akan ada tempat perlindungan diakhirat nanti.

          Sekalipun Allah swt didalam KerajaanNya menunjukkan kasih RahmaniyyatNya, namun dihari pembalasan akan menjadi sangat pahit dan susah sekali bagi mereka yang tidak mau berhenti didalam usaha perlawanan atau kekufuran. Maka jika kalian bermaksud untuk mendapatkan barkat dan keselamtan dari Allah swt dihari pembalasan itu, maka kalian harus melangkahkan kaki diatas jalan yang telah Dia tunjukkan kepada kalian. Namun kalian juga haruslah merasa takut jangan-jangan Dia menangkap kalian disebabkan sesuatu kesalahan, karena Dia Maha Kuasa Yang Berdaulat secara mutlak. Oleh sebab itu setiap sa’at kita harus berusaha keras untuk memohon rahmat dan pengampunan dari Pemilik langit dan bumi ini. Sekalipun bagi orang berdosa, ia harus tetap berharap rahmat dan kasih sayang dari padaNya. Oleh sebab itu sebagai Maalik dan sebagai Raja, Dia berfirman : melebihi  batas keadilan, Aku berlaku baik dan menganugrahkan ni’mat-ni’mat juga. Jika hanya berurusan secara adil maka banyak sekali manusia yang akan dicekal atau ditangkap. Ada sebuah kisah, katanya sesorang dituduh telah membunuh sedangkan dia tidak bersalah. Lalu ia berdo’a kepada Allah swt : “Ya Allah berbuatlah Engkau adil dan selamatkanlah aku dari pada hukuman. Engkau Maha tahu tuduhan ini tidak benar. Sekalipun ia orang baik, do’a-do’anya makbul. Namun do’anya tidak dikabulkan bahkan ia djatuhi hukuman. Lalu ia berdo’a lagi Ya Allah Engkau Maha Adil tidak ada yang lebih adil dripada Engkau. Engkau Maha tahu hukuman yang telah Engkau jatuhkan padaku ini, aku sendiri tidak melakukan pembunuhan itu. Dikatakan kepadanya: Engkau meminta keadilan ! Keadilan itulah yang telah engkau terima ! Sekalipun secara keliru engkau telah ditangkap dan telah dikenakan hukuman. Akan tetapi pada suatu waktu engkau telah membunuh seekor binatang atau seekor ulat secara zalim. Maka kerana pebuatan itulah yang akibatnya engkau sedang menerima hukumannya.

Maka detik-detik semacam itulah yang patut ditakutkan. Sebagaimana  kebanyakan orang berpikir, aku telah melakukan banyak amal saleh, atau orang yang telah beramal saleh menganggap dirinya seperti itu. Padahal mereka juga bisa saja terlibat dalam kesalahan. Oleh sebab itu disa’at-sa’at penentuan pembalasan kebaikan dan keburukan hal-hal serupa itu harus diperhatikan dan harus selalu memohon karunia dan rahmat serta kasih-sayang Tuhan. Supaya bisa termasuk didalam kelompok orang-orang yang diampuni oleh Allah swt.

          Maka perkara-perkara penting ini yang telah Rasulullah saw jelaskan kepada kita dengan sunnah-sunahnya , dengan do’a-do’anya, kita harus menanamkan rasa takut kepada Allah swt didalam hati kita. Hal itulah yang patut selalu diingat. Hazrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa beliau saw dalam setiap salat memanjatkan do’a dibawah ini :

سُبْحَانَكَ اَللّهُمَّ رَبَّـنَا وَبِحَمْدِكَ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِىْ

 

Artinya : “Wahai Allah! Engkau Maha Suci, wahai Tuhan kami ! Dengan merendahkan diri aku memohon kepada Engkau. Ampunilah daku !

          Kita sangat perlu unrtuk memohon rahmat dan ampun dari Allah swt. Bukan memohon keadilan. Karena Allah swt maha mengetahui keadan lubuk hati kita semua. Maka sambil menunaikan hak-hak kewajiban, kita harus memohon rahmat dan kasih-sayang sebagai karunia dari Allah swt.

          Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, mengapa Allah swt mengatakan Maaliki Yaumiddin ? Dan mengapa tidak mengatakan Adili Yaumiddin ? Rahasianya adalah bahwa adil tidak dapat dibayangkan sebelum hak-haknya belum diakui. Dan tidak ada hak atas siapapun untuk memantau Allah Yang Maha Kuasa seluruh alam. Dan keselamatan dihari akhirat nanti semata-mata sebuah anugrah bagi orang-orang yang beriman kepadaNya. Dan orang-orang ithaat kepadaNya, mengamalkan hukum-hukumNya, beribadah kepadaNya dan untuk menghasilkan ma’rifatNya melangkah begitu cepat sehingga sangat mengherankan. Maka mengamalkan semua hukum-hukum, sekalipun dengan cepatnya yang luar biasa melangkah untuk berbuat amal saleh, ganjaran yang baik yang diterimanya itu bukanlah merupakan hak baginya disebabkan amal-amal saleh itu, melainkan semuanya itu merupakan anugearh dan kebaikan dari Allah swt. Dan tidak ada orang berakal menganggap ihsan dan anugerah itu sebagai hak. Dan anugerah itu akan berakhir apabila penampakan MalikiyyatNya sampai kepada puncaknya, sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Sekalipun seseorang tidak memenuhi keita’atan secara sempurna dan tidak pula dapat menunaikan perintah ibadah secara sempurna ataupun tidak dapat melakukannya dan tidak pula ia mencapai hakikat ma’rifat sepenuhnya. Akan tetapi untuk menerima perkara-perkara itu ia sangat menginginkannya, yaitu ia tidak mampu memperoleh kebaikan-kebaikan itu akan tetapi ia sangat menginginkannya dan ia maju berusaha terus untuk mendapatkannya. Dan keinginannya itu sudah ia mulai nyatakan dengan usaha. Maka Allah swt pun memberi pembalasan yang baik terhadap orang semacam itu. Karena anugerah dan kebaikan Tuhan. Dan Maalik mempunyai hak, sesuai kehendakNya Ia berkuasa memberi kebaikan. Jika Allah swt hanya Adil saja, maka manusia tidak akan memperoleh bahagian dari Rahmat Allah swt yang diberikan kepada orang-orang bekerja keras. Karena orang-orang semacam diatas tidak memperoleh martabah seperti itu seperti yang sedang diusahakan oleh mereka. Demikian juga tentang orang yang berbuat kejahatan beliau bersabda : “ Orang yang berbuat kejahatan dan keberaniannya untuk berbuat kejahatan terus meningkat bahkan dia tidak ada kesan untuk berhenti dari kejahatannya itu, maka orang semacam itu dikenakan hukuman. Maalik mempunyai ikhtiar atau kekuasaan sendiri. Oleh karena itu melebihi batas keadilan Dia kuasa untuk berlaku ihsan. Kita harus selalu berdo’a memohon ampunan kepada Tuhan. Akan tetapi orang yang berbuat keburukan itu jika ia tidak degil dan mulai melangkah kearah kebaikan, maka iapun akan dapat meraih karunia Allah swt. Sebagaimana Allah swt berfirman :

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَّغْـفِرُالذُّنُوْبَ اِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلى مَافَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ( سورة ال عمران اية 136 (

 

Artinya : “ Dan, orang-orang yang apabila mereka melakukan sesuatu perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu mereka memohon ampunan bagi dosa mereka dan siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah ? Dan mereka tidak bersikeras pada apa yang telah dikerjakan mereka sedang mereka mengetahui.”

          Maka betapa buruknya jika seorang tidak tunduk dihadapan Tuhan Yang sangat Muhsin (Sangat Baik) itu. Semoga Allah swt memberi akal kepada mereka yang telah menjadikan tuhan lain selain Allah sabagai persembahannya. Semoga mereka memahami bahwa hanya ada satu Tuhan Pemilik Kekuasaan secara kekal. Luas KerajaanNya meliputi langit dan bumi. Dan kita semua akan kembali kepadaNya. Kepada siapapun kalian mengambil kawan dan penolong selain dari pada Dia, sama-sekali tidak berguna bagi kalian.  Maka tunduklah kalian dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Berdaulat itu. Dan dapatkanlah berkat dari padaNya di Hari Pembalasan kelak.

          Hazrat Maulana Ghulam Raziki r.a. telah menulis sebuah kitab. Beliau telah mengutip dari Buku Mir Nasir Nawab r.a. yang menceritakan tentang kisah yang telah disampaikan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s bagaimana Allah swt memberi keputusan ganjaran dan siksaan didunia juga. Katanya dizaman Hazrat Nabi Daud a.s. ada seorang darwisy yang selalu tinggal menyendiri didalam sebuah bilik (kamar) untuk beribadah kepada Allah swt. Ketika beliau sedang sibuk berzikir kepada Allah swt tiba-tiba timbul didalam hati beliau satu keinginan yang keras untuk memakan daging kambing atau daging lembu. Tatkala keinginannya itu sudah memuncak, maka tiba-tiba datanglah seekor anak lembu masuk kedalam bilik beliau itu. Beliau mengira bahwa anak lembu ini telah datang sesuai dengan keinginannya dan tentu Allah swt telah mengirimkannya kepada beliau. Lalu lembu itu disembelih supaya beliau boleh memakan dagingnya untuk menyempurnakan keinginan beliau itu. Baru saja anak lembu itu disembelih tiba-tiba datang seseorang dari atas. Setelah melihat anak lembu itu sudah disembelihnya, iapun berkata sambil marah kepada Darwisy itu ; Hai Saudara, lembu ini punya saya. Kenapa sudah engkau sembelih ? Engkau telah mencuri khaiwanku ini lalu dibawa kesini dan engkau sembelih. Ini perbuatan sangat keji dan akan saya tuntut kepengadilan. Maka orang itu telah mengajukannya kepengadilan yang dipimpin oleh Hazrat Dawud. Ketika sedang dituntut di Pengadilan, Hazrat Dawud bertanya kepada orang bersalah (Darweisy) itu. Hakim penuntut yang menuduh kamu berbagai macam tuduhan ini, jawaban apa yang akan kamu berikan ? Darwisy itu menjawab, ketika saya masih kecil ayah saya pergi kesuatu negeri untuk berniaga. Waktu sudah lama berlalu sayapun sudah menjadi dewasa dan berusaha belajar mencari ilmu kemudian menjalin hubungan dengan seorang Wali yang banyak beribadah. Saya mengikuti cara-cara yang dilakukannya. Dan sayapun menjalani kehidupan menyendiri didalam sebuah bilik. Tatkala saya sedang sibuk berzikir Ilahi tiba-tiba timbul didalam hati saya keinginan untuk memakan daging lembu. Disaat kerasnya bergejolak keinginan saya untuk memakan daging itu, tiba-tiba datang seekor anak lembu dan masuk kedalam bilik saya. Saya anggap Allah swt telah mengirimkan anak lembu ini kedalam bilik saya untuk menyempurnakan keinginan saya. Itulah sebabnya saya sembelih anak lembu itu. Tiba-tiba orang ini datang dari atas dan sambil marah berkata kepada saya : Kamu telah mencuri lembu ini dan menyembelihnya. Sekarang saya mau meminta ma’af kepada pengadilan karena saya telah berbuat salah telah mengira bahwa Allah swt telah mengirim lembu ini kpada saya sesuai dengan keinginan saya. Sekarang pengadilan mau memberi keputusan apapun tentang saya, putuskanlah !

 Hazrat Dawud sangat terkesan mendengar jawaban Darwisy ini yang polos dan jujur dan nampak baik. Lalu beliau berkata kepada hakim penuntut serta orang penggugat dan juga kepada darwisy itu : “ Sekarang pergilah kalian semua, nanti datang lagi apabila ada panggilan dihari-hari tertentu. Nanti apapun keputusannya akan diperdengarkan.” Setelah Hakim penuntut dan penggugat itu disuruh pergi, Hazrat Dawud berdo’a dengan sangat kepada Allah swt : Ya Allah saya sama sekali tidak suka dipengadilan saya dikeluarkan suatu keputusan secara tidak adil untuk siapapun juga yang menurut Engkau ada campur tangan kezaliman didalamnya. Ya Allah bimbinglah kami untuk memberi keputusan yang tepat dalam pengadilan ini. Dan apapun yang sebenarnya terjadi singkaplah dan bukalah dengan jelas kepadaku.

Maka berkat rintihan do’a yang khusyu’ Hazrat Dawud, Allah swt telah memberitahu Hazrat Dawud bahwa apa yang telah diceritakan oleh Darwisy itu sungguh benar. Keinginan yang timbul didalam hatinya ketika ia sedang sibuk berzikir Akulah yang memasukkan kedalam hatinya. Anak lembu yang masuk kedalam biliknya itu sesungguhnya Akulah yang menggerakkannya. Penyembelihannyapun ia lakukan sesuai dengan keinginanKu. Semua yang telah ia lakukan itu ada dibawah ikhtiarku. Peristiwa sesungguhnya adalah ayah Darwisy itu seorang saudagar besar. Setelah ia berniaga dinegeri orang dalam waktu yang cukup lama  iapun telah menghasilkan harta bernilai ratusan ribu dan dia telah memiliki banyak sekali kambing-domba, lembu dan bahan-bahan makanan lainnya juga. Pada suatu hari ia sedang dalam perjalana kembali kekampung halamannya. Si penggugat yang telah menuduh Darwisy mencuri lembu, ia seorang pengkhianat dan sebenarnya dia adalah pelayan ayah Si Darwisy itu. Tatkala Saudagar itu sudah hampir sampai kekota, turunlah ia disebuah medan (lapangan) dan pada malam hari ia tidur disana. Pelayan khianat dan tidak tahu bersyukur itu tiba-tiba menyerang dan membunuhnya dengan sebilah pisau. Pada pisau itupun tertulis namanya yaitu Kandar. Dia menggali lubang sederhana saja disebuah sudut lapangan itu dan mayat Saudagar itu diseretnya dan dikuburkan didalam lobang itu bersama pisau yang bertuliskan nama pembunuh itu serta pakaian Saudagar itu yang penuh dengan darah.

Allah swt telah memperlihatkan semua pemandangan peristiwa itu kepada Hazrat Dawud berupa kasyaf. Sehingga pisau yang digunakan sipengkhianat itu dan pakaian yang berlumuran darahpun diperlihatkan dalam kasyaf itu kepada Hazrat Dawud. Dan diberitahukan bahwa semua wang dan harta yang dimiliki oleh Sipembunuh Khianat itu sebenarnya hak milik Darwisy anak Saudagar yang dibunuh itu sebagai ahli warisnya. Dan Sipenggugat Khianat itu adalah pembunuh ayah Darwisy itu. Dan sebagai qishash (pembalasan pembunuhan) dia dijatuhi hukuman.

Pada hari yang telah ditetapkan mereka berdua, sipenggugat dan yang digugat kedua-duanya telah hadir, Hazrat Dawud berkata kepada sipenggugat : Jika kamu ma’afkan Darwisy itu kamu akan selamat ! Mendengar permintaan itu Sipenggugat merasa tidak senang dan mulai bikin ribut didewan persidangan itu. Katanya : Lihatlah macam apa pengadilan ini ! Apakah ini namanya pengadilan? Orang yang telah berbuat jahat harus dima’afkan oleh Sipenggugat ? Saya tidak pernah mendengar dan tidak pernah melihat pengadilan seperti ini didalam kehidupan saya.

Hazrat Dawud berulang kali meminta Sipenggugat itu untuk mema’afkan Darwisy itu namun dia tetap bersikeras dan menolak permintaan beliau itu. Maka Hazrat Dawud akhirnya berkata : Kalau begitu baiklah kami akan berlaku adil ! Sesuai dengan kehendak kamu ! Maka beliau menyuruh petugas untuk memborgol kedua tangan Sipenggugat Khianat itu. Lalu digiring kearah kuburan ditepi medan (lapangan) dimana ia telah membunuh dan mengubur Saudagar ayah Darwisy itu. Lalu beliau bertanya kepadanya : “Beritahulah kuburan siapa ini ? Dan siapa pembunuhnya ? Setelah kuburan itu dibongkar Hazrat Dawud menemukan pisau yang bertuliskan nama dia dan pakaian Saudagar yang berlumuran darah itu. Maka nyatalah Sipenggugat Khianat itu pembunuh Saudagar itu sesuai dengan apa yang telah diberitahukan Allah swt kepada beliau melalui kasyaf. Maka ketika Hazrat Dawud membacakan hukuman yang dijatuhkan kepada Sipenggugat Khianat itu tiba-tiba iapun berkata : Sekarang saya ma’afkan orang yang telah melakukan kejahatan ini dan saya menarik balek gugatan saya. Sekarang Tuan ma’afkanlah saya ! Hazrat Dawud berkata : Kamu tidak dapat dima’afkan !! Lihatlah inilah namanya “adil“ yang kamu ributkan itu yang sekarang akan diperlakukan kepada kamu. Dan sesuai dengan itulah pengadilan akan memutuskan. Maka sebagai qihsash, pembalasan pembunuhan terhadap ayah Darwisy itu diputuskan supaya Pembunuh itu dibunuh. Dan dia dibunuh dengan pisau itu juga yang telah dia gunakan untuk membunuh Saudagar itu. Semua harta apapun yang telah dia rampok dari Saudagar itu seluruhnya diberikan kepada Darwisy itu sebagai ahli warisnya. Demikian Allah swt telah menolong Hazrat Dawud memecahkan perkara yang sangat sulit dan rumit itu. Tuhan telah menghukum dengan keadilanNya sesuai dengan permintaan Sipembunuh Khianat itu. Dan Darwisy yang berkata lurus dan benar itu, yang setiap sa’at berzikir dan menggunakan sebagian besar kehidupannya untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah swt telah dianugerahi pembalasan yang sangat baik oleh Allah swt

          Jika Sipembunuh itu mengakui dosa-dosanya maka  kasih-sayang Tuhan juga menyinarinya dan Allah Ta’alapun  mengasihaninya. Akan tetapi oleh karena ia bersikeras atas kesalahannya dan ia mengira dengan tipudaya akalnya itu ia sedang mengelabui lawannya. Maka dengan petunjuk dan bimbingan Allah   swt melalui tangan orang lain dia telah menerima hukuman pembalasan yang adil.

      Sekarang beberapa buah hadis akan saya jelaskan. Amir meriwayatkan bahwa beliau mendengar dari Nu’man Bin Basyir r.a. Rasulullah saw bersabda : “ Halal dan haram jelas-jelas sekali.Dan diantara keduanya terdapat mutasyabihaat (hal-hal yang tersembunyi atau meragukan) kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Dan siapapun yang menghindarkan diri dari perkara-perkara yang mutasyabihaat itu berarti dia telah menyelamatkan iman dan kehormatan dirinya. Dan siapa yang terlibat didalamnya maka keadaannya seperti seorang penggembala yang membiarkan binatang gembalaannya mendekati ladang orang, yang besar kemungkinan binatang gembalaannya itu akan masuk kedalam kebun itu dan memakan tanaman orang. Ingatlah setiap Raja memiliki ru’ub. Dan Ru’ub Allah swt didunia ini adalah maharam dan nawahi. Ingatlah baik-baik ! Didalam tubuh terdapat sekerat daging., Jika daging itu mulus maka seluruh badan menjadi mulus. Dan jika ia rusak maka seluruh badan menjdi rusak karenanya. Maka Allah swt telah menjelaskan sebagian hukum-hukumNya. Ada yang harus dikerjakan dan ada yang tidak boleh dikerjakan. Banyak diantaranya hal-hal yang menimbulkan keraguan. Hal-hal seperti itu harus kalian hindari dan jauhi. Itulah yang disebut Taqwa. Itulah perkara-perkara yang telah dilarang Allah swt yang keadaannya dimisalkan dengan sebuah taman seorang Raja yang telah dipagar sekelilingnya dan telah ditempatkan seorang penjaga supaya jangan ada kambing masuk kedalamnya. Lalu beliau saw bersabda bahwa didalam tubuh ada sekerat daging yaitu hati. Jika ia mulus maka seluruh tubuhpun baik dan mulus keadaannya. Jika ia rusak maka seluruh tubuhpun menjadi rusak juga.

          Jadi jika kehidupan manusia sesuai dengan semua hukum, perintah dan semua larangan Allah swt apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan, maka pada Hari Pembalasan amalan itu dapat menarik rahmat dan kasih sayang Allah swt Yang Maaliki Yaumiddin. Kalau tidak tentu manusia akan berada dibawah ancaman hukuman Allah swt yang akan menimpa dirinya. Dan beliau saw telah memberi isyarah dengan hati, karena dari dalam hatilah timbulnya kebaikan dan dari itu pula timbulnya keburukan. Maka jika ingin mendapatkan keridhaan Allah swt maka bersihkanlah hati kalian dari setiap perkara yang kotor.

          Kadangkala hati manusia condong dan tertarik kepada beberapa keburukan. Dia tidak merasa bahwa dirinya sedang terlibat dalam perbuatan dosa. Oleh sebab itu perhatian kita harus selalu tertumpu kepada hati kita. Itulah hati tempat timbulnya bermacam-macam pikiran dan manusia berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang terkandung didalam hatinya. Dan dari hati itu pulalah timbulnya sumber kebaikan yang menjadikan manusia patut memperoleh ganjaran yang baik atau mendapat ganjaran yang buruk.

          Hazrat Abu Hurairah meriwayatkan katanya Rasulullah saw bersabda bahwa : “ Malaikat-malaikat Allah swt keluar kelorong-lorong mencari orang-orang yang sedang berzikir kepada Allah swt. Apabila mereka menemukan orang-orang sedang berzikir, maka Malaikat-malaikat berkata kepada mereka : “ Ceritakanlah apa keinginan kamu !” Malaikat-malaikat itu mengelilingi mereka dan menjadi perantara bercakap dengan Tuhan mereka. Tuhan akan bertanya kepada mereka. Padahal Allah swt lebih mengetahui segala-galanya. Dia bertanya, apa yang sedang diucapkan oleh hamba-hambaKu? Malaikat menjawab : Mereka sedang bertasbih dan sedang memuji-muji Engkau dan sedang menyebut-nyebut kebesaran Engkau. Lalu Allah swt bertanya lagi : Apakah mereka melihat Aku ? Malaikat-Malaikat menjawab : Ya Allah ! Mereka tidak melihat Engkau! Allah swt bertanya lagi: Jika mereka dapat melihat Aku bagaimana keadaan mereka ?  Malaikat2 menjawab, jika mereka melihat Engkau tentu mereka lebih giat lagi beribadah kepada Engkau dan mereka lebih giat lagi mengagungkan nama Engkau dan dengan penuh semangat bertasbih kepada Engkau. Tuhan bertanya lagi : Mereka minta apa dari Aku ? Jawab Malaikat : Mereka memohon surga kepada Engkau! Tuhan bertanya : Apakah mereka telah melihat surgaKu ? Jawab Malaikat : Ya Allah ! Mereka tidak pernah melihatnya. Allah swt bertanya lagi : Jika mereka melihat surgaKu bagaimana keadaan mereka ? Jawab Malaikat : Ya Allah ! Jika mereka melihat surga Engkau tentu keinginan mereka akan bertambah dan bersemangat sekali memohon surga Engkau itu ! Lalu Allah bertanya lagi : Dari apa mereka minta perlindunganKu?Jawab Malaikat : Mereka meminta perlindungan dari api neraka ! Allah swt bertanya lagi: Apakah mereka melihat api nerakaKu ? Jawab Malaikat : Ya Allah, mereka tidak melihat ! Tuhan bertanya lagi, jika mereka kelihat api neraka itu, bagaimana keadaan mereka ? Jawab Malaikat : Kalau mereka melihatnya tentu mereka sangat takut dan akan jauh melarikan diri daripa danya. Allah swt berfirman, sekarang Aku jadikan engkau sebagai saksi bahwa Aku mengampuni dosa-dosa mereka itu. Disebabkan mereka menginginkan surga dan takut dari api neraka maka Aku ampuni mereka. Dari antara Malaikat2 itu ada seorang Malaikat berkata, katanya : Ya Allah dari antara mereka ada yang terlambat datang disebabkan ada keperluan yang mendesak. Maka Allah berfirman kepadanya : Siapapun yang duduk bersama mereka itu, Aku mengampuninya juga.

          Itulah ihsan dan in’am (kebaikan dan anugerah) dari Maalik. Memberikan pengampunan kepada orang yang duduk bersama mereka. Baru berupa keinginan tanpa melihat dan mengamalkan kebaikan itu Allah swt memberi pengampunan kepadanya. Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa disini bukan berkaitan dengan keadilan. Disini perkaranya sedang membagi-bagikan ihsan (kebaikan). Pembagian ihsan (kebaikan) Nya itu dilaksanakan dibawah sifat Maalikiyat. Allah swt memberikan pengampunan dan memberikan barkatNya kepada orang-orang yang duduk bersama mereka yang tengah berzikir kepadaNya.

          Lihatlah bagaimana perlakuan Allah swt terhadap hamba-hambaNya yang beramal saleh dan kepada yang berbuat keburukan dibawah sifat MaalikiyatNya. Bagaimana banyaknya amal-amal buruk telah ditulis pada Hari Pembalasan dan bagaimana pula Dia melakukan keringanan dalam hukumanNya.

          Hazrat Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, katanya Nabi Muhammad saw bersabda bahwa Allah swt sedang menulis kebaikan dan keburukan manusia kemudian diceritakan olehNya maka, barangsiapa yang berniyat untuk melakukan amal saleh namun ia tidak sempat melakukannya, maka Allah swt mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Seorang berniyat melakukan suatu kebaikan namun dia tidak sempat melakukannya, Allah swt menghisabnya sebuah kebaikan baginya. Seorang berniyat melakukan kebaikan dan ia melakukan niatnya itu maka Allah swt mencatat kebaikannya 10 sampai 700 kali lipat ganda bahkan lebih banyak lagi dari itu kebaikannya. Dan orang yang berniyat untuk melakukan keburukan namun ia tidak sempat melakukannya, maka Allah swt mencatatnya sebuah kebaikan baginya. Orang berniyat berbuat keburukan dan tidak diamalkan niyatnya itu, maka Allah swt mencatatnya sebuah kebaikan baginya. Jika bermaksud berbuat keburukan dan dia lakukan keburukan itu maka Allah swt menghisabnya satu keburukan baginya.

Dibawah sifat Maalikiyyat ini Allah swt menganugerahkan kebaikan-kebaikan dan macam-macam ni’matNya kepada hamba-hambaNya, maka sesuai dengan itu hamba-hamba Tuhanpun harus menerapkan sifat ini pada diri mereka. Dan sebagaimana kita tahu bahwa Rasulullah saw adalah paling banyak menyerap sifat ini dan juga sifat-sifat Allah swt lainnya dan menzahirkannya juga.

Sebagai missal dapat dikemukakan ketika Rasulullah saw telah memperoleh kemenangan dan kedudukan beliau sebagai seorang Raja Arab, walaupun beliau mempunyai kekuasaan dan kekuatan penuh, beliau berlaku ihsan (sangat baik) terhadap musuh-musuh beliau. Peristiwa Ikramah Bin Abu Jahhal sangat masyhur. Telah diperintahkan oleh Rasulullah saw supaya Ikramah dibunuh. Sebabnya ialah ayah Ikramah yaitu Abu Jahhal sangat menyakiti dan menyiksa orang-orang beriman. Dan diapun salah seorang yang sangat kejam. Ketika Ikramah mendengar bahwa Rasulullah saw telah memerintahkan untuk membunuhnya, ia cepat lari kearah negeri Yaman. Isterinya, sebagai saudara sepupunya dan anak Haris, lari mengejarnya dari belakang. Ketika sampai pesisir laut nampak olehnya Ikramah sedang bersiap-siap mau naik perahu. Maka dia pegang tangannya lalu berkata : Hai anak pamanku, aku datang padamu dari orang yang paling baik dalam akhlaq, paling  baik dalam silatur rahmi, orang yang paling baik dalam perlakuannya terhadap orang lain dan orang yang paling baik dari semua. Janganlah engkau membinasa diri sendiri. Aku sudah memohon jaminan dan minta perlindungan untuk engkau dari Muhammad saw. Beliau telah mengizinkan aku untuk membawa engkau pulang. Beliau mengatakan jika Ikramah datang dan ita’at kepada beliau maka engkau dijamin dan diberi perlindungan oleh beliau. Dengan susah payah isterinya membujuk Ikramah, untuk kembali ke Mekah.

Dan tatkala sudah sampai di Mekah dia berkata kepada Nabi Muhammad saw : “ Hai Muhammad isteriku memberitahuku bahwa engkau telah menjamin dan memberi perlindungan padaku. Beliau saw bersabda : Apa yang isterimu katakan itu betul, kamu telah diberi perlindungan ! Mendengar jawaban dari Rasulullah saw itu Ikramah lalu mengucapkan dua kalimah syahadat :

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلـهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

 

Sesudah itu karena malu Ikramah menundukkan kepalanya dihadapan Rasulullah saw. Melihat gerak gerik Ikramah demikian Rasulullah saw bersabda : “ Hai Ikramah setiap benda yang berada dibawah kekuasaanku jika kamu memintanya dari padaku maka akan berikan kepada kamu. Apa yang kamu minta dari apa yang ada dibawah kekuasaanku akan aku berikan kepada kamu. Ikramah berkata, Hai Muhammad saya hanya meminta supaya engkau mema’afkan semua perbuatan-perbuatanku yang telah melampaui batas yang saya lakukan terhadap engkau.

Lalu Rasulullah saw berdo’a :

اَللّهُمَّ اغْفِرْ  ِلاِكْرَمَةِ كُلَّ اَعْدَاوَةٍ اَعْدَانِيْهَا اَوْ مُنْطَقٍ تَكلَّمَ بِهَا

 

Artinya : Ya Allah ma’afkanlah semua perbuatan Ikramah yang melampaui batas yang ia lakukan terhadapku atau semua yang ia ucapkan yang melampui batas menentangku !

Tercatat didalam tarikh pada peristiwa Fatah Makkah juga Rasulullah saw bersabda dalam pidato beliau saw : “ Wahai Suku Bangsa Quraisy Allah swt telah menghapuskan masa kejahilan kalian yang dibenci itu. Dan sekarang dengan menyebut nenek moyang kalian telah memberi keagungan kepadanya. Dan semua manusia adalah anak cucu Adam. Dan Adam diciptakan dari tanah. Sesudah itu Rasulullah saw menilawatkan Surah Al Hujuraat ayat 14 sebagai berikut :

يـاَ يُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنـكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثى وَجَعَلْنـكُمْ  شُعُوْباً وَّ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا أِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ

اَتْقـكُمْ اِنَّ اللّـهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

 

Artinya : “ Hai sekalian manusia ! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah membuat kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu dapat saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”

Sesudah itu beliau bersabda : Hai Quresy ! Sekarang perlakuan apa yang kalian harapkan daripadaku ? Quresy menjawab : Kami mengharapkan seorang saudara. Karena engkau seorang saudara terhormat kami dan anak seorang saudara terhormat kami !

Didalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Suhail bin Amar dalam jawapannya terhadap pertanyaan Rasulullah saw itu berkata :  Kami sentiasa berkata-kata baik dan dengan kata-kata baik ini kami mengharapkan hubungan yang baik dengan engkau, karena engkau saudara terhormat kami dan anak saudara terhormat kami. Dan engkau berkuasa diatas kami. Mendengar jawaban dari pihak Qraisy ini Rasulullah saw bersabda : « Aku berkata seperti Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya :

 

لاَ تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ  يَغْفِرُ اللّـهُ لَكُمْ وَهُوَ اَرْحَمُ الرّحَمِيْنَ   ( سورة يوسف اية 93 )

 

Artinya : “ Tiada celaan lagi bagi kamu pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kamu sekalian ! Dan Dialah Yang Paling Penyayang dari semua penyayang ! Pergilah kalian semua, sekarang kalian sudah merdeka !! 

Dikatakan dalam riwayat bahwa setelah mendengar sabda Rasulullah saw ini mereka semua keluar dengan sangat girang seperti keluar dari kuburan. Setelah itu merekapun menggabungkan diri masuk Islam. Demikianlah kasih-sayang Rasulullah saw !! Walaupun kemenangan telah diperoleh, kekuasaan sudah ada ditangan dan kedudukanpun sudah menjadi seorang Raja Arabia namun beliau saw dengan pancaran nur sifat-sifat Allah swt tetap berlaku kasih-sayang sekalipun terhadap musuh yang setiap sa’at mengincar nyawa beliau saw.

Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua supaya dengan pancaran nur haqiqi sifat-sifatNya, sambil menekan nafsu, kita mampu berlaku ihsan terhadap sesama dimasing-masing daerah kita. Dan semoga kita kelak hadir di Hari Pembalasan sambil mempersembahkan amalan-amalan yang dapat menarik rahmat dan kasih-sayang Allah swt. Amin  !!!

Alih bahasa : Hasan Basri

Dipublikasikan oleh www.ahmadiyya.or.id