Khotbah Jumat (Ringkasan)

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز pada 26 Januari 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Seorang anak bayi ketika lapar dan merengek-rengek meminta susu maka dengan sendirinya air susu ibu mengalir di dada ibunya. Anak yang baru lahir tidak mengetahui apa itu doa, tapi teriakan dan rengekannya tersebut dapat menarik air susu ibunya keluar. Terkadang bahkan sang ibu berpikiran di dadanya telah tidak ada ASI-nya. Namun, segera si anak merengek, seketika itu pula ASI keluar dari dada sang ibu. Lalu, bagaimana mungkin tangisan kita di hadapan Allah ta’ala tidak bisa menarik apapun sama sekali?

Hal tersebut merupakan pemahaman yang sudah umum. Hanya mata hati yang buta-lah dan para filsuf yang mata hatinya telah tertutup tidak dapat melihat hal ini. Jika seseorang merenungkan dan memikirkan tentang filosofi Do’a dan mengaitkannya dengan hubungan antara anak dan ibunya maka ia akan mudah memahami hal tersebut.”

Ini merupakan karunia Allah Ta’ala yang luar biasa kepada kita para Ahmadi bahwa kebanyakan anak muda dan juga orang-orang tua kita memahami betul ketika seseorang merendahkan diri berdoa di hadapan Allah Ta’ala dengan kerendahan hati dan gairat yang tinggi maka Allah Ta’ala akan mengabulkan doa-doa tersebut. Banyak orang menulis surat ke saya tentang bagaimana adakalanya mereka dikecewakan oleh orang lain, lalu dalam keadaan benar-benar telah putus harapan dari berbagai segi, mereka berdoa kepada Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala menampakan karunia-Nya dengan cara yang menjadi sarana untuk menguatkan keimanan mereka.

Terkadang pula, pengabulan doa-doa para Ahmadi diketahui oleh orang-orang non Ahmadi sehingga menakjubkan mereka. Kini saya akan menyampaikan beberapa kejadian tersebut, yang saya temukan dalam berbagai laporan.

Nazir Da’wat Ilallah Qadian menuliskan laporan bahwa Amir wilayah di Hosyarpur mengatakan: “Beberapa tahun lalu dikarenakan kurangnya hujan di desa mereka, Khera Acharwal, penduduk desa merasa prihatin karena kekeringan yang parah dan berkepanjangan. mengeluh karena kekeringan. Hujan tidak turun. Mereka amat cemas.

Orang-orang Hindu datang kepada Mualim (Muballigh) kita. Di Punjab timur, mereka memanggil Muballigh kita dengan ‘Mian Ji’. Mereka yakin bahwa doa Muballigh Ahmadi makbul sehingga hujan akan turun dan meminta Mu’alim kita berdoa, maka Mualim menjelaskan tentang adab dan cara berdoa di dalam Islam. Beliau juga menjelaskan perihal sifat-sifat Allah Ta’ala lalu berdoa.

Allah Ta’ala mengabulkan doa Muallim Jemaat Ahmadiyah ini. Dengan karunia-Nya, hujan lebat pun turun dalam dua jam. Dengan demikian, Allah Ta’ala menegaskan sebagai Sami’ud Du’a (Maha Pendengar Doa). Dengan karunia Allah, di seluruh kampung itu menjadi terkenal ucapan bahwa hujan turun karena terkabulnya doa orang Ahmadi, sehingga sangat berpengaruh kepada warga setempat.”

Demikian pula, Amir Nasional Kepulauan Fiji menceritakan sebuah kejadian tentang terkabulnya doa Khalifah agar turun hujan di sebuah pulau kecil, di dekat Tuvalu. Muballigh Tuvalu mengirim kabar di sana sedang menghadapi kekeringan ekstrim karena hujan tidak akan turun di pulau tersebut dalam waktu yang lama. Air di sana tergantung hujan.

Sebelum Amir Jemaat daurah (melawat, berkunjung) ke sana, ia mengirim surat kepada saya (Hudhur atba) supaya mendoakan mereka. Ketika tiba di Tuvalu pada sore hari, orang-orang memperlihatkan kecemasan karena kekeringan ekstrim tersebut. Bpk. Amir menekankan kepada anggota untuk berdoa dengan menyampaikan pada malam itu sebelum shalat Isya: “Pada sujud terakhir kita akan berdoa khusus untuk turunnya hujan.” Maka Allah Ta’ala mendengarkan doa para Ahmadi. Malam itu juga hujan pun turun. dan di sana hujan turun selama 4 hari berturut-turut. Lalu setelah itu, kemana pun orang Jemaat pergi orang-orang begitu senang dengan mereka. Orang-orang non Jemaat mengatakan, “Kedatangan kalian membuat hujan turun.

Kepala Gereja Katolik di sana dan kepala suku Funafuti menyinggung dengan berkata bahwa hal tersebut semata-mata berkat karunia Tuhan, doa-doa Jemaat Ahmadiyah dan doa Khalifah sehingga hujan turun di daerah ini dengan sangat luar biasa. Jadi hujan tersebut tidak hanya menguatkan keimanan para Ahmadi tapi juga berfungsi sebagai tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud (as) bagi para non Ahmadi.

Adakalanya turunnya hujan terbukti menjadi tanda pertolongan dan pengabulan doa dari Allah Ta’ala. Namun terkadang, berhentinya hujan pun menjadi tanda dari pengabulan doa. Setelah itu terlepas dari apakah orang-orang non Ahmadiyah mau menerima Islam atau tidak, yang pasti mereka menyaksikan dengan jelas bahwa Tuhan Islam adalah Dia yang Maha Mendengarkan doa-doa.

Di Guinea Bissau, sebuah Negara di Afrika, ada Muallim kita yang bernama Abdullah melaporkan, “Kami pergi bertabligh ke sebuah desa yang bernama Sinchang Kamsa. Setelah orang-orang berkumpul, mereka menyampaikan tabligh Jemaat. Hujan lebat mengancam pertemuan tabligh tersebut. Suara kami tidak terdengar oleh mereka yang hadir dan orang-orang mulai pergi. Saya (Muallim) berdoa, ‘Ya Allah, Hujan ini kepunyaan Engkau dan pesan tabligh yang hamba bawa juga milik Engkau. Namun karena hujan lebat ini, orang-orang tersebut tidak dapat mendengarkan pesan tabligh ini dan akan meninggalkannya.’ Hanya beberapa saat kemudian setelah doa tersebut, Allah Ta’ala menghentikan hujan itu, kemudian, saya bertabligh kira-kira kepada seratus lima puluh orang, dan setelah itu mereka semua baiat.”

Begitupun, Mubaligh Bandundun, Hafiz Muzzammil juga menceritakan sebuah peristiwa yang sama, ”Ketika kami pergi tabligh ke suatu pelosok yang jalannya berlumpur, maka hujan pun turun. Kelihatannya hujan akan berlanjut sampai sore hari. Lalu saya berdoa kepada Allah Ta’ala: Ya Allah, kami sekarang akan menyampaikan tabligh dari Al-Masih Engkau, maka hentikanlah hujan ini. Maka seketika itu juga hujan berhenti dan kami sampai ketempat tujuan sehingga bisa melaksanakan program tabligh juga tarbiyat dengan lancar.”

Tn. Wahhab Tayyab, Muballigh Switzerland, menceritakan bahwa upacara Penanaman Pohon Perdamaian di Zuchwil tampaknya sangat diragukan akan terlaksana karena hujan turun sangat lebatnya. Hal tersebut disebabkan karena semua proses acara berlangsung di tempat terbuka (out door), sehingga membuat mereka amat tertekan. Ia pun menulis surat kepada saya sehubungan dengan hal tersebut, ia mengatakan bahwa ketika kami pergi ke tempat acara tersebut pada hari yang sudah ditentukan, hujan mulai turun dengan lebatnya dan tidak ada tanda-tanda jika hujan akan berhenti. Namun karena doa kami, Allah Ta’ala memperlihatkan keberkatan-Nya [kepada kami], dan hujan pun berhenti satu jam sebelum upacara penanaman tersebut dan matahari pun bersinar terang.

Semua orang terkemuka yang hadir tercengang dan berkomentar kelihatannya anda yang telah mengendalikan cuaca ini. Namun dijelaskan kepada mereka bahwa itu merupakan berkat dari doa. Tidak diragukan bahwa kita tidak memerintahkan cuaca, dan kita tidak akan bisa melakukannya. Akan tetapi kita tentu saja berserah diri dihadapan Allah Yang mengendalikan cuaca dan memperlihatkan kekuasaan-Nya.

Sekarang saya akan menceritakan beberapa peristiwa berkenaan dengan pengabulan doa yang tidak berhubungan dengan cuaca. Tuhan kita bukan semata-mata Tuhan yang hanya mengendalikan cuaca. Melainkan Dia adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Dia Yang Maha Mendengarkan doa-doa. Dia memiliki banyak sifat yang tak terhitung dan memanifestasikan sifat-sifat tersebut.

Muallim kita di Benin, Tn. Matin menceritakan, “Beberapa hari yang lalu seorang Mubayyi’in baru mengontak saya datang dan menyampaikan bahwa istrinya sakit parah. Maka saya bersama istri saya datang ke rumahnya untuk membantu perawatannya. Sang istri Mubayyin Baru itu sudah kehilangan dua anak untuk kasus yang sama di masa lalu. Rahimnya telah mengerut sehingga tidak bisa melahirkan. Hanya ada satu pilihan, yaitu antara keselamatan jiwa sang ibu atau bayi dalam kandungan. Ini yang ketiga kalinya.

Ia masuk persalinan dalam kondisi prematur dan sangat menderita. Wanita tersebut pun dalam keadaan sakit dengan suhu tubuh yang tinggi. Dalam suasana seperti itu, bersamaan dengan perawatan medis, kami pun berdoa, dan menulis surat ke Hudhur, memohon beliau mendoakannya. Namun, saat itu waktunya mendesak. Sehingga dengan menyebut nama-nama sifat Allah Ta’ala dan bershalawat kepada Rasulullah (saw), saya mulai berdoa.

Setelah selesai, saya membacakan surah al-Fatihah dan meniupkannya pada air minum lalu saya minta suaminya untuk meminumkannya. Ketika yang ketiga kalinya saya suruh lagi untuk meminumkan air yang ditiup Al-Fatihah maka suaminya keluar dengan wajah yang penuh senyum sambil membawa seorang anak laki-laki yang sehat. Allah Ta’ala tidak hanya melindungi istri mubayyi’ baru tersebut, tapi juga menganugerahi mereka dengan seorang anak laki-laki. Dengan karunia Allah Ta’ala, Keimanan dari Mubayyin Baru tersebut semakin kuat dan bahkan keyakinannya terhadap pengabulan doa pun meningkat.”

Demikian pula, membahas tentang seseorang yang sakit, Amir Kenya menulis: “Sadr (Ketua) di salah satu Jemaat mereka menderita sakit. Ketika ia menanyakan kabar tentang kesehatannya, Sadr menjawab bahwa dua rumah sakit telah memulangkannya (karena tidak ada harapan untuk sembuh sama sekali). Ia sendiri sudah pucat, tubuhnya kebiru-biruan dan dingin. Setelah mereka (Sang Amir dan anggota) intens mendoakannya, kondisi sang Sadr pun mulai membaik. Mereka juga menerima surat doa saya (Hudhur) yang berbunyi ‘Semoga Allah Ta’ala menganugerahinya kesembuhan yang sempurna’. Setelah itu sang Sadr berkata bahwa kesehatannya berangsur-angsur membaik dan tak lama kemudian ia benar-benar sembuh total. Sekarang ia mengerjakan semua urusannya. Oleh karena itu, dengan karunia Allah Ta’ala melalui doa, ia dianugerahi kehidupan yang baru dan semakin memperkuat keimanannya.”

Amir wilayah Karnataka, India, menulis surat bahwa ketua di salah satu Jemaat di India, Tn. Husein, terdiagnosa tumor otak dan dirawat di rumah sakit. Dokter telah memvonis penyakitnya tidak bisa disembuhkan, dioperasi pun sangat beresiko. Ia menulis surat kepada saya (Hudhur atba) agar didoakan dan menerima surat balasan dari saya yang berbunyi: ‘Semoga Allah Ta’ala memberikan kesembuhan yang menyeluruh kepada anda.’ Ia berkata bahwa setelah satu bulan para dokter melakukan pemeriksaan ulang dan mereka pun benar-benar tercengang karena tidak ditemukan jejak tumor sedikit pun. Kesembuhan total Tn. Husein semata-mata karena karunia Allah Ta’ala yang bersumber dari doa.

Tn. Hafiz Ehsaan Sikandar, Mubaligh Belgia, menulis tentang anggota jemaat yang bernama Tn. Dawood yang jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Ia dipasangi ventilator. Ia benar-benar sekarat dan hampir mati. Pihak dokter memberi saran kepada keluarganya untuk kepengurusan jenazahnya dan menyiapkan pemakamannya. Tn. Hafiz mengatakan bahwa ia juga menulis surat kepada saya (Hudhur), Ia sendiri banyak berdoa serta mendorong kepada seluruh Jemaat untuk melakukan hal yang sama. Di hari berikutnya, kondisi tubuh tuan Dawud mulai membaik. Ia mengatakan: “Kami memberitahukan dokter bahwa ini merupakan mukjizat doa”, dan Allah Ta’ala menganugerahinya kehidupan baru dengan cara seperti itu.

Ada berbagai macam peristiwa lainnya tentang pengabulan doa yang mana itu memperkuat hubungan anggota dengan Jemaat dan Khilafat serta merupakan sarana meningkatkan keyakinan akan kebenaran Jemaat dan juga kemajuan keimanan kepada Allah Ta’ala.

Tn. Mustafa dari Arab Saudi mengatakan, “Saya menulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih atba supaya saya didoakan sehingga pindah tempat kerja ke tempat lain, dengan begitu saya bisa berkumpul dengan keluarga. Meskipun terlihat mustahil, karena saya ada di urutan ke-33 tapi tiba-tiba saya ada di urutan pertama sehingga saya dimutasikan dan bisa berkumpul dengan keluarga. Ini benar-benar mukjizat bagi saya. Dengan cara yang menakjubkan, saya dipindahkan hingga dapat tinggal dengan keluarga saya.

Ini bukan mukjizat yang kecil buat saya. Setiap orang lebih memahami keadaan diri mereka masing-masing dibandingkan orang lain. Beberapa hal mungkin tampak sepele, namun orang yang mengalami keadaan tersebut merasakannya sebagai keajaiban. Mereka lebih memahami bagaimana keajaiban yang telah mereka alami karena karunia Allah Ta’ala dan doa-doa itu tampaknya tadinya ialah mustahil.

Tn. Latif, Muallim di sebuah wilayah Morogoro, Tanzania, menulis: “Ada seseorang yang mencuri baterai dari listrik tenaga surya masjid kita. Keesokan harinya saat anggota kita mendapati kejadian tersebut mereka memutuskan bahwa daripada melaporkan hal tersebut kepada polisi, lebih baik berdoa kepada Allah Ta’ala supaya pencurinya disadarkan oleh Allah Ta’ala dan baterai kita bisa ditemukan. Mendengar kabar ini masyarakat non Ahmadi pun berkumpul dan mereka berbisik satu sama lain, ‘Doa-doa orang Ahmadi ini pasti terkabul, pencurinya pasti tertangkap.’ Hanya berselang satu hari sang pencuri mengembalikan baterai tersebut dan meletakannya diam-diam di depan rumah ketua Jemaat.”

Dengan cara tersebut Allah Ta’ala mendengarkan doa para Ahmadi dan hal tersebut semakin menguatkan keyakinan orang-orang non Ahmadi atas doa orang-orang Ahmadi jika orang-orang Ahmadi adalah benar-benar shaleh.

Pada satu segi, sekurang-kurangnya seorang pencuri takut akan Allah sehingga mengembalikan barang yang dicurinya kepada Jemaat. Ia gentar dengan nama Allah. Namun, di segi lain, ada dari kalangan Mullah di Pakistan yang atas nama Allah menentang hukum-hukum Allah [menyebarluaskan kebencian, penentangan terhadap Jemaat] yang mengindikasikan mereka kosong dari rasa takut kepada Allah. Mereka menjadi penyebab kerusakan dan fitnah di di negara itu sesungguhnya. Kita harus terus berdoa untuk mereka agar Allah Ta’ala mengasihani bangsa Pakistan dan lepas dari cengkeraman orang-orang aniaya semacam ini.

Missionary in-charge Guinea Conakry menceritakan sebuah peristiwa dimana seorang Mubayyin Baru yang mukhlis bernama Tn. Sulaiman mengungkapkan hasratnya untuk mendedikasikan hidupnya demi mengkhidmati Jemaat. Oleh karena itu, ia disarankan untuk masuk ke Jamiah Ahmadiyah di Sierra Leone. Ia dengan senang hati menerimanya dan mulai bersiap-siap. Jemaat di sana mengundangnya dan orang tuanya ke rumah misi guna memastikan kerelaan mereka. Setelah dua hari berbagai informasi diberikan dan mereka menunjukkan senang hati lalu mereka pulang.

Setelah pulang, orang tua Mubayyi’ itu bermusyawarah dengan Maulwi (ulama) di tempatnya yang non Ahmadi. Maulwi tersebut mempengaruhinya dengan mengatakan Jemaat Ahmadiyah bukan Islam, organisasi teroris dan merekrut pemuda tersebut untuk didik menjadi radikal. Kemudian, orang tua Mubayyi’ baru itu mengajukan kasus ke Pengadilan dan membuat tuduhan palsu terhadap kita bahwa Jemaat Ahmadiyah bukan Islam, organisasi teroris dan merekrut pemuda tersebut untuk didik menjadi radikal.

Missionary in-charge sahib mengatakan bahwa mereka sangat khawatir akan hal ini dan bahkan mereka menulis surat kepada saya untuk didoakan. Saya membalasnya dengan mengatakan Semoga Allah memperlihatkan karunia-Nya. Teruslah berupaya dan teruslah berdoa. Ketika pihak kepolisian melakukan penyelidikan dan pihak Jemaat kita melakukan perkenalan soal Jemaat dengan memberikan selebaran dan sebagainya maka dengan karunia Allah Ta’ala, komisaris polisi tidak hanya menutup kasus tersebut, namun ia juga berkata, “Tampaknya Islam yang Anda jelaskan ini adalah Islam yang sejati dan penuh damai.” Kemudian ia minta diberikan informasi lainnya tentang Ahmadiyah karena ia berkeinginan bergabung dengan Jemaat.

Tn. Mustensar, Mubaligh di wilayah Mali menceritakan sebuah kejadian bahwa Tn. Yahya, seorang nelayan miskin, pernah ikut Jalsah pada tahun-tahun sebelumnya, namun saat itu ia hanya mampu memberangkatkan istrinya pergi Jalsah karena mereka benar-benar tidak punya banyak uang. Muballigh menyampaikan kepada beliau, “Berdoalah supaya tuan bisa juga ikut ke Jalsah.”

Beliau berkata, “Sehari sebelum rombongan Jalsah berangkat ketika saya pergi di pagi hari untuk menjaring ikan, saya berdoa dengan sungguh-sungguh karena saat itu saya tidak mempunyai cukup uang (dana), dan supaya kelompok yang akan Jalsah tersebut perginya besok, ‘Ya Allah saya juga ingin ikut Jalsah, tolonglah’. Ketika masuk waktu Ashar, saya menarik jaring tersebut dan banyak ikan yang terperangkap di dalamnya. Ketika sampai di tepi pantai, seseorang datang dan membeli ikan-ikan tersebut seharga 18.000 CFA Francs. Karena ikan tersebutlah maka saya memiliki dana untuk memberangkatkan istri saya dan juga saya pergi menghadiri Jalsah. Bahkan ada juga uang ekstra yang tersimpan di kantong.”

Ada sebuah kejadian yang menggambarkan bagaimana melalui pengabulan doa, Allah Ta’ala memperkuat keimanan para Ahmadi dan menjaga mereka agar tetap terikat dengan Khilafat. Seorang Ahmadi dari Mali, Tn. Idris Traore, kehilangan seluruh ayam titipan orang lain yang dipeliharanya saat ia pergi untuk menghadiri Jalsah Khilafat Jubilee (100 tahun Khilafat) di Ghana pada tahun 2008.

Tn. Idris menceritakan bahwa beliau Ahmadi dan ketika beliau pergi ke Ghana untuk Jalsah, ayam-ayam yang ditinggalkan mati. Pemilik ayam tersebut yang ternyata juga menentang Jemaat sangat marah dan meminta Tn. Idris untuk mengembalikan kerugiannya sebesar 150.000 CFA Francs dalam waktu satu minggu. Tn. Idris mengatakan, “Saya sangat risau karena saya tidak mempunyai uang dan juga khawatir pemilik ayam tersebut akan mempermalukan saya. Dia penentang juga. Sepanjang malam saya terus saja berdoa, ‘Ya Allah, bantulah hamba. Hamba pergi waktu itu untuk menghadiri Jalsah karena kecintaan hamba kepada Khalifah.’ Lalu saya melihat dalam mimpi sebuah truk jatuh terguling di sebuah tempat.

Pagi-paginya saya pergi ketempat itu tapi tidak ada truk yang jatuh, justru saya menemukan sebuah plastik hitam yang didalamnya ada uang sejumlah 180.000 CFA Franc. Saya tanyakan kepada orang kampung apa ada truk yang jatuh di sini? Orang kampung mengatakan tidak ada. Saya juga memberi tahu orang-orang kampung soal uanag yang saya temukan di tempat tersebut serta berusaha mencari pemilik uang tersebut, tapi tidak ada yang mengakuinya.

Akhirnya saya sadar ini adalah rezeki dari Allah Ta’ala sehingga saya bisa mengganti rugi ayam-ayam yang mati dan uang itu masih ada lebih. Kemudian pada malam hari si pemilik ayam datang, dan dengan kasarnya meminta agar uang kerugian tersebut dikembalikan. Saya berkata kepadanya, ‘Bersabarlah karena saya akan mengembalikan uang itu. Allah Ta’ala telah merancang sedemikian rupa untuk saya supaya bisa mengembalikan uangnya tersebut.’ Saya pun memberikan uang itu. Sampai beberapa tahun tidak ada warga kampung yang mengakui mempunyai uang itu.”

Begitu juga, Mubaligh Jerman, Tn. Hafeezullah Bharwana mengatakan bahwa ada seorang mubayyin baru bernama Ihsan Sahib asli Libanon. Saya berjumpa dengannya di Jerman dan selama perjumpaan tersebut ia menceritakan kesulitannya akan suaka. Tetapi keimanannya kemudian meningkat tatkala Allah Ta’ala memperlihatkan kepadanya sebuah mukjizat berkenaan dengan masalahnya tersebut, karena ia diberikan suakanya secara resmi selama tiga tahun, dan kini ia begitu bahagia, sehingga ia menceritakan kepada setiap orang bahwa Allah Ta’ala memperlihatkan mukjizat-Nya karena doa-doa.

Allah Yang Mahakuasa pun mewujudkan tanda pengabulan doa para Ahmadi yang bahkan dipanjatkan bagi orang-orang non-Muslim sehingga meyakinkan mereka bahwa Tuhannya orang Islam mendengarkan semua doa. Tn. Mirza AFzal dari Kanada menulis bahwa ia pergi untuk ikut konferensi agama-agama di kota West Vancouver. Untuk itu ia mendapat nomor telepon seorang Sikh dan berkata, “Saya meneleponnya dan mengatakan ingin berjumpa dengannya karena kami ingin menyelenggarakan Konferensi Agama-agama di sini. Ia senang dengan kami dan menyambut kami di rumahnya. Ia mengizinkan kami shalat Zhuhur dan Ashar di rumahnya. Ia juga berjanji untuk membantu sebisa mungkin dalam konferensi tersebut. Ketika kami keluar dari rumahnya, dengan kerendahan hati ia meminta agar didoakan supaya mendapatkan seorang cucu laki-laki. Putranya punya anak-anak perempuan semua tiga orang. Kami menjawab dengan langsung mengangkat tangan dan berdoa baginya. Kami juga berkata akan menulis surat kepada Khalifah untuk meminta didoakan dalam hal ini. Dengan karunia Allah Ta’ala setelah satu setengah tahun ia menelpon dengan gembira dan berkata bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa telah menganugerahinya seorang cucu laki-laki.

Ini hanya beberapa peristiwa berkenaan dengan pengabulan doa.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Di dalam Qanun Qudrat (hukum alam) terdapat penampakan pengabulan doa. Berdasarkan Qanun tersebut, di tiap zaman Allah Ta’ala kirim teladan hidup.”

Untuk menjadi bagian contoh hidup pengabulan doa maka suatu keharusan untuk menyempurnakan adanya kelaziman-kelaziman dan syarat-syarat.

“Hal pertama dari kelaziman-kelaziman dan syarat-syarat dalam berdoa, seseorang perlu membangun amal saleh dan memiliki i’tiqaad (keyakinan). Seseorang yang tidak membuat lurus (benar) keyakinannya dan tidak mengadopsi perbuatan amal saleh, atau memperbaiki keduanya, lalu ia berdoa maka hal tersebut seakan-akan ia memerlukan Allah Ta’ala saat ada musibah (kesusahan) saja.”

Jadi, demi keimanan kita, suatu hal yang penting untuk pada satu segi menguatkan I’tiqaad; dan pada segi lainnya membuat keadaan perbuatan dan tindakan kita sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala dan perintah-perintah-Nya. Jangan sampai terjadi demikian bahwa di saat situasi normal kita mengabaikan perintah-Nya untuk menunaikan shalat lima waktu atau untuk memenuhi hak-hak orang lain. Namun ketika kita dalam keadaan susah tiba-tiba kita ingat kepada Allah Ta’ala dan berupaya untuk memenuhi hak-hak orang lain.

Jadi penting bagi seseorang untuk lebih dulu memperbaiki amal perbuatannya sendiri. Hanya dengan memperbaiki keadaan i’tiqaad (keyakinan) saja itu belum sempurna hingga seseorang menerapkan amal perbuatan yang saleh. Dan amal saleh adalah jika seseorang memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga menunaikan hak-hak para hamba-Nya. Ketika hal itu terjadi maka Allah Ta’ala akan menjawab doa-doa kita.

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk menjalani hidup kita sesuai dengan perintah-perintahNya dan juga memenuhi hak-hak para hamba-Nya.

Setelah shalat Jumat, saya akan mengimami shalat jenazah ghaib bagi dua jenazah. Jenazah yang pertama adalah Chaudhry Nimatullah Sahi Sahib. Beliau seorang waqif zindegi, sebelumnya pun beliau berkhidmat sebagai Nazim Jaidad di Sadr Anjuman Ahmadiyya, Pakistan. Beliau wafat pada tanggal 15 Januari di Kanada, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau lewat Hadhrat Husain Bibi Shahibah, ibu Coudri Zafrullah Khan. Mereka baiat di Qadian. Tn. Coudri Almarhum mendapat taufik banyak berkhidmat di Jemaat yaitu sebagai Amir wilayah Haiderabad, Nazhim Ansharullah wilayah Haiderabad, Qaid Khuddamul Ahmadiyah; demikian pula sebagai Nazhim Jaidad dan Sadr Anjuman Ahmadiyah di Rabwah-Pakistan.

Beliau telah rutin shalat tahajud dari semenjak kecil dan selalu berusaha untuk itu hingga nafas terakhir. Beliau amat yakin dengan doa. Bagaimanapun musimnya beliau selalu berusaha datang ke masjid untuk shalat berjemaah. Beliau sangat mencintai Khalifah. Beliau sangat penyabar, suka bersyukur memikirkan kesusahan orang lain, tidak egois dan berbicara dengan lembut.

Beliau senantiasa memberikan perhatian untuk menghadiri Jalsah. Beliau senantiasa datang ke kantor sebelum staf beliau. Beliau orang yang sangat ramah.

Beliau bekerja dengan sangat jujur. Anak beliau bekerja di bagian pajak. Orang-orang berkata, bagi kami anda sudah tidak perlu diragukan dalam hal kejujuran karena anda adalah anak Chodri Sahib. Beliau masih keluarga dengan Chodri Zafrullah Khan. Staf beliau menulis: Beliau tidak pernah membesar-besarkan diri, tidak pernah memerintah seperti bos. Beliau sangat rendah hati dan lembut. Setelah Waqaf Zindegi, beliau telah menyingkirkan ego beliau. Beliau tidak pernah memikirkan diri sendiri. Beliau orang yang sangat baik terhadap keluaga. Tapi, suatu ketika ada seorang saudara beliau dengan membanggakan diri berkata, saya adalah saudara Chodri Sahib maka jangan berani-berani dengan saya. Ketika beliau tahu akan hal itu maka beliau sangat murka, mungkin beliau tidak pernah semurka itu sebelumnya. Beliau tidak pernah sekalipun bertengkar dengan istri.

Jenazah kedua adalah Zafrullah Khan Buttar Sahib dari Karto, Sheikhupura. Beliau wafat pada tanggal 9 January [2018], Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Beliau Ahmadi keturunan. Beliau mendapat taufik sebagai Ketua Jemaat Sheikhupura. Beliau rajin shalat tahajjud, shalat 5 waktu, menyimak khotbah-khotbah saya, teratur membayar candah dan bertabiat sederhana. Beliau meninggalkan 3 putri dan 3 putra. Semoga Allah memungkinkan amal salehnya terus berlanjut melalui anak-anaknya.

Putra almarhum sekarang adalah Mubaligh dan bertugas sebagai dosen di Jamiah Ghana. Karena jarak yang jauh maka anaknya tersebut tidak bisa hadir di saat ayahnya wafat.

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada putranya untuk terus melanjutkan kebaikan Almarhum dan sebagaimana ghairat dan antusias yang sama yang dimiliki ayahnya, semoga jiwa wakaf berlangsung di kalangan anak keturunannya. Semoga Allah Ta’ala memberi kesabaran kepada beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya dan menyiraminya dengan ampunan dan rahmat Allah ta’ala.

(Visited 271 times, 2 visits today)