Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 8 Agustus 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden-UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

]أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأَرْضِ أَإلَهٌ مَعَ اللهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ[ (النمل: 63)

‘Atau, siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya, dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah- khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Kamu sangat sedikit mendapat pelajaran.’(Surah an-Naml; 27:63)

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam berulangkali menasehati Jemaat beliau supaya lebih fokus kepada doa karena kemajuan Jemaat dan pembebasan dari kejahatan musuh adalah melalui doa! Beliau menerangkan dengan jelas bahwa satu-satunya senjata kita untuk meraih kemenangan atas musuh adalah doa. Betapa besarnya kepentingan yang harus kita upayakan dengan doa, dan Berapa jumlah yang mesti kita fokuskan atas itu; memang, begitu besarnya signifikasi dan kefokusan yang perlu kita lakukan pada doa. Hal ini lah yang bisa menjadi ukuran setiap orang untuk merefleksikan hal tersebut terhadap kondisi mereka sendiri.

Baru-baru ini seorang kerabat menceritakan mimpi mereka kepada Hudhur yang didalamnya Hudhur menjelaskan kepada mereka bahwa Ramadhan berlalu begitu cepat, sedangkan Hudhur berniat untuk mengarahkan perhatian besar Jemaat kearah doa. Salah satu point penting disini adalah fokus kita kepada doa tidak akan tetap sama seperti halnya saat bulan Ramadhan kendatipun Jemaat amat memerlukan doa. Bahkan sebelum mimpi ini diceritakan ke Hudhur, Hudhur telah diilhami agar menarik perhatian Jemaat terhadap doa pasca Ramadhan dan hal ini diperkuat setelah mendengarkan mimpi tersebut. Ini merupakan cara Tuhan; walaupun Dia mengilhami qalbu seseorang akan sesuatu, Dia pun memotivasi orang mukmin terhadap sesuatu hal melalui orang mukmin lainnya. Secara umum intensitas dalam berdoa tidak akan tetap sama setelah Ramadhan!

Permasalahan global saat ini amat mengerikan; situasi di dunia Islam, terlebih khususnya serangan keji yang terus menerus dilancarkan Israel terhadap warga Palestina. Hingga kemarin genjatan senjata yang sifatnya sementara telah terjadi namun kabarnya telah berakhir hari ini. Tuduhannya bahwa yang merusak gencatan senjata ini adalah pihak Palestina meskipun “Allahu a’lamu bishawab” Allah-lah Yang Paling Mengetahui Segalanya. Semoga Allah bagaimanapun juga menjadikan penganiayaan ini berakhir!

Kita juga melihat Umat Islam garis keras membunuh umat Islam lainnya dan kelompok garis keras yang bejad ini berasal dari orang-orang yang mengucapkan Kalimah (dua kalimat syahadat) bahwa dengan nama Allah dan Rasul-Nya, mereka menganiaya orang-orang Ahmadiyah. Dan dengan pernyataan yang keras mereka mencari alasan untuk melanjutkan penganiayaan ini. Mereka ingin menganiaya orang-orang Ahmadiyah di setiap level, dan setiap kesempatan.

Dipengaruhi oleh para ulama, inilah cara dari mayoritas besar non-Ahmadi di Pakistan. Kaum muda diracuni, pikiran mereka diracuni. Mereka tidak mengerti sama sekali apa itu agama dan siapa itu musuh agama, namun mereka berkata bahwa orang-orang Ahmadiyah adalah Kafir dan membunuh mereka adalah halal. Para siswa bertindak kurang ajar terhadap guru-guru yang berasal dari Ahmadiyah hanya karena keimanan mereka. Selanjutnya para siswa itu bergerak untuk mengeluarkan para guru Ahmadiyah itu dari sekolah dan para siswa menolak diajar oleh mereka!

Baru-baru ini di sebuah kota kecil di Pakistan para pelajar dan orang tua mereka berunjuk rasa terhadap seorang guru Ahmadiyah dan memboikotnya atas dasar keimanannya. Kepala sekolah atau beberapa orang lain yang bijak berkata kepada mereka bahwa Rasulullah[saw] dahulu pernah membebaskan tahanan perang yang memiliki ilmu pengetahuan dengan syarat bahwa tawanan tersebut mau mengajarkan ilmunya kepada umat Islam meskipun sebenarnya para tawanan itu datang untuk memerangi umat Islam dengan niat membunuh mereka. Para penentang dari kota kecil di Pakistan tersebut menjawab bahwa Rasulullah [saw] boleh saja bersabda untuk orang-orang kafir, namun mereka tidak setuju sebab ‘Qadiani’ ini lebih buruk daripada orang-orang kafir, lagian pula, mereka akan melepaskan ‘Qadiani ini’ meskipun membunuh mereka diperbolehkan.

Penganiayaan dan kekejaman ini tidak berakhir setelah ada insiden tertentu saja, sebaliknya, hal ini terus berkelanjutan. Suatu saat, ketika tetangga-tetangga para Ahmadi di Gujranwala yang telah bermasyarakat dengan mereka melihat rumah para Ahmadi itu dikosongkan, para tetangga tersebut malah bergabung dengan massa. Saat akhlak sudah terjun begitu rendah tidak ada yang dapat diucapkan selain ‘Inna Lillah’! Mengingat keadaan ini, kita perlu datang kepada Tuhan lebih sering lagi daripada sebelumnya. Kita tidak boleh membiarkan doa kita berkurang. Ketika umat Islam yang lain merespon serangan penganiayaan dengan cara membalas dendam, maka cara kita adalah beralih kepada Tuhan dengan kesedihan yang mendalam agar Dia segera menyelesaikannya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam salah satu bait puisi beliau [as]:

‘Ketika musuh melebihi kegaduhannya’

‘Kita menyerap diri kita kedalam Sahabat gaib kita’[2]

Dan inilah apa yang dibutuhkan itu; apa yang dibutuhkan adalah menanamkan suatu kondisi dalam diri kita guna dapat menggetarkan langit. Mimpi tersebut menceritakan kepada Hudhur dengan mengatakan bahwa Hudhur lebih jauh memotivasi Jemaat untuk berdoa. Meminta Jemaat agar berdoa bersama demi kesuksesan dan kemajuan Jemaat serta untuk melenyapkan segala kesulitan. Ini merupakan keinginan kita satu sama lainnya supaya masa ujian segera berakhir. Oleh karena itu aliran doa kita harus mengalir bagi Jemaat dan bagi perlindungan terhadap kejahatan musuh. Inilah yang diperlukan pada hari ini yaitu banyak berdoa bagi perlindungan terhadap kejahatan musuh.

Saya (Hudhur) teringat sebuah mimpi lama saya yang telah pernah saya sebutkan sebelumnya. Di dalamnya saya diberitahukan bahwa supaya situasi ini dapat berbalik dengan cepat, seluruh komponen Jemaat perlu berpaling kepada Tuhan dengan ikhlas yang tulus karena-Nya dan berdoa untuk perlindungan Jemaat dari segala ujian. Jika kondisi ini ditanamkan pada seluruh anggota Jemaat dan sepanjang malam waktunya dihabiskan untuk berdoa bagi jemaat, perubahan yang revolusioner bisa terjadi dalam beberapa hari disebabkan doa yang kita lakukan pada beberapa malam tersebut. Memang, sebuah perubahan yang revolusioner ditakdirkan kedatangannya, ini adalah janji Tuhan, namun hal itu memerlukan waktu. Pesan yang diberikan kepada Hudhur dalam mimpi beliau adalah bahwa seluruh anggota Jemaat yang mengasosiasikan dirinya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as perlu beralih kepada Tuhan dalam doa yang benar-benar tulus.

Mimpi itu memberikan kesan bahwa pesan tersebut dikhususkan bagi para Ahmadi Pakistan, baik mereka itu orang kaya atau orang miskin, pria ataupun wanita. Penganiayaan yang biadab terhadap para Ahmadi terjadi di Pakistan dan para Ahmadi di seluruh dunia pun perlu memerhatikan hal itu. Karena kekekalan dunia ini dikaitkan dengan kemenangan Ahmadiyah, bagi Umat Muslim lainnya untuk menerima berkat Tuhan dikaitkan dengan Ahmadiyah dan berakhirnya penganiayaan ini pun dikaitkan dengan Ahmadiyah.

Apakah itu kemerdekaan Palestina atau kebebasan umat Islam dari pemerintahan tirani, hanya doa para Ahmadi yang dapat memberikan garansi (jaminan) kepada itu semua. Saat ini orang-orang Ahmadiyalah orang-orang yang paling teraniaya dan itulah sebabnya mengapa doa kita menjadi doa yang الْمُضْطَرَّ (mudhtarr; orang yang sengsara – sebagaimana kutipan ayat al-Quran diatas) dan doa tersebut bukan hanya menjadi sumber kebebasan kita namun juga sumber terhapusnya penganiayaan umat manusia.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa efek yang menakjubkan pada doa menjadi nyata selama masa ujian dan kebenarannnya adalah bahwa Tuhan menerimanya melalui doa![3]

Seperti telah saya sebutkan, kini siapakah yang lebih teraniaya daripada orang-orang Ahmadiyah di beberapa Negara Muslim? Akhlak sebagian besar orang-orang yang berada di Negara ini (Pakistan) adalah, sebagaimana Hadhrat Khalifatul masih III (rh) biasa sabdakan, menjadi bisu (mati).[4]

Ayat Al-Quran [sebagaimana dikutip diatas] mengatakan ‘siapa pun’ namun Tuhan mendengar orang-orang yang dalam kesukaran ini saat mereka ‘mudhtarr’! Mudhtarr (orang yang sengsara) adalah orang yang melihat dirinya ditimpa ujian dari berbagai arah dan tidak melihat ada jalan keluar secara lahiriah atau duniawi baginya dan hanya melihat jalan Tuhan sebagai solusinya. Mudhtarr bukan sama sekali menunjukan orang yang bingung karena tidak menemukan jalan keluar, sebaliknya Mudhtarr adalah orang yang menemukan nur cahaya dan berlari kearahnya dan bukan orang yang berlari dengan serampangan ketika dikelilingi api. Cara demikian akan membuatnya jatuh ke dalam api. Mudhtarr adalah orang yang melihat cahaya tertentu di saat cobaan dan kesukaraan mengikutinya. Tuhan berfirman bahwa Dia adalah tempat bernaung yang mendamaikan bagi Mudhtarr yang menyelamatkan dirinya dari api. Kita harus kembali kepada Tuhan dengan keyakinan kuat bahwa Dia akan membawa kita keluar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda keanehan-keanehan yang amat mengagumkan menjadi nyata dalam memberikan dukungannya kepadamu.

Salah satu jenis Mudhtarr yang tidak mengakui atau menerima adanya perlindungan lain selain perlindungan Tuhan dan tidak mengakui atau menerima siapapun selain Tuhan sebagai penyelamat dari cobaan dan kesukarannya adalah seorang Mudhtarr yang sejati dan doa-doanya menunjukan kemukjizatannya. Dalam situasi demikian Tuhan berlari kearah Mudhtarr tersebut dan menghapus kesukaran-kesukarannya, masalah-masalahnya lenyap, baik itu umum maupun pribadi.

Hal ini bukan berarti bahwa Tuhan hanya menghapus masalah yang seperti itu kepada orang-orang tersebut, namun sebenarnya Dia menganugerahkan keberkatan-Nya kepada mereka tanpa batas. Disini, dalam ayat diatas Tuhan berfirman bahwa Dia tidak hanya akan menghapus masalah orang mukmin yang ada dalam kesulitan namun juga berjanji untuk menjadikan mereka (ويجعلكم خلفاء الأرض) ‘Khulafaul Ardi [Khalifah-khalifah di bumi]’. Tuhan akan meruntuhkan tirani [pemerintahan yang lalim] yang kuat dan kokoh serta memberikan kemasyuran kepada orang-orang tersebut di tempat mereka dengan melahirkan orang-orang yang taat dan santun. Dengan demikian Dia menghapus kesulitan-kesulitan yang sifatnya pribadi maupun umum!

Al-Quran menyatakan bahwa ketika orang-orang sebelumnya berlaku tidak adil terhadap nabi-nabi Allah, Tuhan menghancurkan mereka dan menganugerahi tempat mereka orang-orang yang taat dan santun. Banyak penguasa lalim yang termasyhur telah dimusnahkan sepenuhnya. Hukum ini masih berlaku hingga hari ini. Tuhan menghancurkan ketidak adilan disaat seseorang yang menjadi korban berdoa dengan cara seorang Mudhtarr seraya menjerit: (مَتَى نَصْرُ اللَّهِ)  ‘…Kapankah akan datang pertolongan Allah?…’ (2:215). Kasih sayang Tuhan akan didapatinya dan Tuhan akan membalas dengan cepat para penindas tersebut. Semoga Tuhan memberikan pengertian kepada mereka yang menindas orang lain dengan menyalahgunakan kekuasaan mereka, Jika tidak power dan mayoritas yang hampir sama tersebut akan menjadi sumber kehancuran bagi mereka.

Tuhan berfirman bahwa mereka yang tidak tunduk dengan keadilan dikarenakan power dan mayoritas mereka akan memiliki akhir yang buruk. Ketika orang-orang yang mengucapkan Kalimah Syahadat dan mengagungkan nama Rasulullah [saw] namun melakukan penindasan terhadap orang lain, Kalimah dan rasulullah [saw] tidak akan sudih dengan orang-orang seperti itu. Tuhan berfirman bahwa para penindas tersebut akan memiliki akhir yang buruk. Siapapun yang bertentangan dengan perintah-perintah Tuhan akan berakhir buruk, namun, guna menyingkirkan penindasan-penindasan itu dengan segera, perlu bagi kita untuk mengadopsi kondisi seorang Mudhtarr dan meminta pertolongan Tuhan lalu melihat bagaimana cara Dia datang untuk menolongnya! Masing-masing kita perlu menanamkan kondisi ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ‘Lihatlah, Tuhan Yang Maha kuasa dan Maha Berdiri Sendiri. Dia tidak akan perduli jika tidak ada doa-doa yang begitu banyak, berulang-ulang dan dengan rasa keperihan yang mendalam. Betapa sengsaranya seseorang yang istri dan anaknya jatuh sakit atau seseorang yang menghadapi kasus pengadilan yang pelik. Tanpa adanya doa yang dilakukan dengan kesungguhan yang pilu, dan hanya menghasilkan rasa keperihan semata hal tersebut tidak akan berguna dan bermanfaat sama sekali. Terkabulnya doa merupakan syarat bagi rasa keperihan yang mendalam.’

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa untuk syarat terkabulnya doa yaitu bahwa doa-doa tersebut dibuat dengan begitu banyak dan berulang-ulang. Hal ini harus lah jelas bahwa merupakan sebuah kesalahan mengasumsikan doa pada bulan Ramadhan itu mencukupi. Kita perlu berdoa terus menerus. Bahkan saat kita akan dianugerahkan kemenangan yang nyata, guna menghimpun keberkatan Tuhan, kita masih membutuhkan doa. Singkatnya, hubungan seorang mukmin sejati dengan Tuhannya tidak akan berkurang. Rasa keperihan perlu dihasilkan selama masa-masa sulit dan berdzikir kepada Tuhan dibutuhkan selama masa-masa baik. Seorang mukmin sejati tidak pernah mementingkan dirinya sendiri dan tidak menganggap doa yang bersifat sementara itu sudah mencukupi. Hal inilah yang menghubungankannya dengan Tuhan dimana menunjukan tanda dikabulkannya doa selama masa-masa normal.

Hadhrat Masih Mau’ud as satu kali bersabda: ‘Ingatlah, berpaling kepada siapapun selain Allah akan tersingkir dari Tuhan yang Maha Kuasa.’ Memang, hal ini merupakan scenario yang tak terpikirkan bagi orang beriman saat itu, yang disebabkan lemahnya mereka dalam berdoa dan salah satunya mereka beralih kepada sarana-sarana duniawi. Olehkarena itu, masing-masing kita harus selalu merefleksikan diri jangan sampai kita menjadi sedemikian terlilit dalam isu dan masalah kita sendiri sehingga kita lupa untuk berdoa bagi mereka yang berada dalam kesulitan sebab mereka pun milik Jemaat. Kita harus ingat bahwa doa setiap orang yang dibuat dengan menyadari adanya Rahmat Tuhan, Pengamunan Tuhan dan atribut lainnya menghapus problem yang dihadapi oleh Jemaat.

Hadits berkisah bahwa ada tiga orang dari orang-orang terdahulu yang terjebak badai. Mereka berlindung dari badai tersebut di dalam goa. Badai yang begitu dahsyat tersebut menggerakan sebuah batu besar hingga jatuh di mulut goa dan pintu keluar gua itu pun terkunci. Tiga orang tersebut pergi ke Goa untuk melindungi diri mereka dari kesulitan yang kecil dan berakhir pada kesulitan yang besar. Mereka secara fisik tidak mampu menggerakan batu tersebut tidak juga orang yang berada diluar mampu menggerakannya untuk mereka. Mereka amat gelisah dan mulai betanya-tanya dalam hati apakah mereka akan terkubur hidup-hidup di dalam gua tersebut. Salah satu dari orang itu menyarankan bahwa mereka harus berdoa dengan referensi perbuatan baik yang mereka lakukan di kehidupan ini, sebuah perbuatan yang dilakukan hanya demi Tuhan semata.[5]

Salah satu dari mereka berkata, Wahai Tuhan, Aku jatuh cinta dengan gadis yang masih kerabatku dan aku ingin melakukan tindakan buruk dengannya namun dia tidak setuju. Aku melakukan beberapa planning, memberikannya beberapa uang dan akhirnya ia setuju. Ketika aku hendak menguasainya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, Aku mohon kepadamu demi Allah, jangan lakukan dosa ini.’ Seketika itu aku menjauhinya. Wahai Tuhan! Jika yang aku lakukan ini demi keridhaan-Mu, singkirkanlah batu itu untuk kami.’ Karena doanya, badai itu membuat batu tersebut bergeser sedikit, namun belum cukup bagi mereka untuk keluar.[6]

Orang yang kedua berkata, “Wahai Tuhan, Engkau mengetahui bahwa seorang buruh datang kepadaku dan melakukan beberapa pekerjaan kasar untukku namun ia pergi sebelum mendapatkan upah dari pekerjaannya. Upahnya dikembangkan menjadi setara dengan jumlah biji-bijian dan aku menaburkan biji-bijian yang banyak itu hingga menghasilkan tanaman yang bagus. Aku membeli beberapa hewan ternak yang terus tumbuh dan berkembang biak menjadi kawanan kambing dan domba.

Beberapa tahun kemudian, orang itu datang kepadaku dan meminta upahnya. Aku mengatakan kepadanya bahwa kawanan kambing yang tersebar luas di seluruh lembah itu miliknya dan ia boleh mengambilnya. Ia menyahut bahwa ia datang untuk menagih upahnya sedangkan aku malah bercanda. Aku menceritakan kepadanya bahwa aku telah menginvestasikan upahnya kedalam perniagaan yang telah berubah menjadi kawanan ternak besar seperti itu dan aku mengatakan semua itu adalah miliknya. Orang itu pun mengambil kawanan ternak tersebut. Wahai Tuhan, jika yang aku lakukan ini demi mencari ridha-Mu, Kasihanilah kami dan singkirkan batu ini.’ Hembusan angin yang besar menggeserkan batu itu sedikit lebih banyak namun masih belum ada cukup ruang bagi mereka untuk keluar.[7]

Kemudian orang yang ketiga menengadah kepada Tuhan dengan doa seperti ini: ‘Wahai Tuhan, Engkau mengetahui bahwa aku menggembalakan kambing dan kami hidup dari susunya. Suatu hari aku terlambat pulang ke rumah dan kedua orang tuaku yang sudah sepuh yang tinggal bersamaku dan yang senantiasa aku berikan susu sebelum anak-anakku telah tertidur. Aku tidak berani membangunkan mereka, hingga aku berdiri di sisi mereka dengan susu ditangan supaya aku dapat memberikannya kepada mereka ketika mereka terjaga.

Anak-anakku nangis karena lapar namun aku tetap berdiri di sebelah kedua orangtuaku dengan susu higga pagi menjelang, lalu mereka terbangun dan aku memberikan mereka susu tersebut, setelah itu aku berikan susu juga kepada anak dan istriku. Wahai Tuhan, jika tindakanku ini demi keridhaan-Mu, dan tidak ada motive duniawi di dalamnya, Kasihanilah aku dan singkirkanlah batu ini.’ Badai tersebut semakin dahsyat dan batu itu bergerak lebih banyak hingga sebuah jalan keluar pun terbuka dan orang itu pun keluar.[8]

Ketiga orang ini mengerjakan tiga hal yang berbeda; yang satu adalah orang yang adil dan berlaku adil terhadap seorang buruh, yang selanjutnya orang yang baik hati dan perhatian kepada kedua orangtuanya dan ketiga orang yang menghindarkan teradinya perzinahan demi mencari keridhoan Tuhan. Meski demikian, tujuan dari doa mereka adalah sama; mereka ingin batu tersebut dilenyapkan dan disingkirkan. Hadits ini mempunyai banyak pelajaran, salah satunya adalah bahwa perbuatan baik individu [perorangan] menjadi sumber lenyapnya kesulitan bersama.

Mereka yang mengeluarkan rasa kepedihan yang mendalam pada waktu doa bagi pribadinya harus menghasilkan perasaan yang sama ketika berdoa bagi Jemaat. Ketika ditawarkan dua unit doa tambahan [nafl] sebagaimana yang disarankan Hudhur untuk kemajuan Jemaat dan untuk perubahan situasi, doa yang dipenuhi rasa keharuan yang mendalam perlu dilakukan. Rasa empati bisa tergambar dari orang-orang yang terjebak di goa tersebut. Mereka telah kehilangan semua harapan akan pertolongan duniawi dan berdoa dengan merujuk pada perbuatan baik yang telah dilakukan guna mencari keridhoan Tuhan. Sementara kita perlu untuk menjadikan amalan kita sepenuhnya demi Tuhan, kita pun perlu memikirkan masalah-masalah yang dihadapi Jemaat sebagai masalah pribadi kita dan berdoa dengan segala kerendahan hati dan kelembutan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hal ini pun sangat penting bagi terkabulnya doa bahwa manusia menanamkan perubahan suci dalam dirinya sendiri. Jika ia tidak dapat menghindari keburukan dan batas larangan yang ditetapkan Tuhan Yang Maha Kuasa, doanya tidak akan memberikan efek sama sekali.”[9]

“Jika kalian ingin menjadi seperti orang lain, Tuhan Yang Maha Esa tidak akan membuat perbedaan antara mereka dengan kalian. Apabila kalian tidak menghasilkan sebuah perubahan yang istimewa dalam diri kalian sendiri, Tuhan juga tidak akan membedakan kalian dari orang lain. Manusia yang baik adalah ia yang mengikuti sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Namun, manusia yang memiliki sesuatu yang lain di luar dan lain di hati adalah orang yang munafik, dan orang munafik lebih buruk daripada orang kafir. Yang pertama dan paling utama adalah kesucian hati. Apa yang paling saya cemaskan adalah bahwa kita tidak akan meraih kemenangan melalui pedang atau kekuatan lainnya. Senjata kita hanya doa dan kemurnian hati.”[10]

Semoga Tuhan menjadikan hal tersebut supaya kita mampu membawa perubahan suci dalam diri kita, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as yang menghendaki dan melakukan segalanya demi untuk Tuhan dan berdoa layaknya seorang Mudhtarr kepada-Nya! Marilah kita berdoa demi kemajuan Jemaat dan demi menghapus cobaan pada Jemaat dengan intensitas yang sama seperti kita berdoa untuk pribadi kita sendiri! Marilah kita berdoa seperti orang yang berlindung dari kejahatan musuhnya!

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, jika kita tidak berpaling kepada Tuhan dengan ketulusan guna menghilangkan cobaan yang sifatnya umum ini kita tidak akan meraih tujuan kita dengan cepat. Setelah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as doa kita yang sifatnya umum pun menghapus kesulitan pribadi kita. Ketika setiap orang berdoa satu sama lain para malaikat pun berdoa untuk mereka. Batu tersingkir dari mulut gua saat tujuan doa itu sama. Penderitaan orang-orang Ahmadiyah yang hidup dimana pun di dunia ini harus menjadi penderitaan kita dan kita harus berdoa dengan perasaan seperti itu. Ini merupakan senjata yang kearah itu Hadhrat Masih Mau’ud as menarik perhatian kita.

Kita juga harus ingat di dalam gairah semangat kita tersebut mengenai para musuh kita atau penentang kita, janganlah berdoa, “Ya Tuhanku, turunkanlah bala bencana dan adzab bagi mereka!” Sebaliknya, kita berdoa, “Wahai Allah, kami menginginkan kesuksesaan dan kami ingin cobaan kami dihapuskan! Sementara kita pun berdoa agar masa-masa sulit ini berakhir, Wahai Allah, kami juga menghendaki perbaikan bagi musuh kami dan bukan kebinasaan mereka. Engkau menutupi kelemahan kami dengan rahmat-Mu dan meskipun melalui priode yang amat sulit kami menemukan Rahmat dan Keberkatan-Mu. Jika Engkau juga menutupi kelemahan musuh dan membimbing mereka, hal itu akan sangat menguntungkan bagi kita dan bagi mereka. Namun, apabila di dalam Kebijakan Engkau, Engkau tidak mengangggap beberapa dari mereka layak untuk mendapatkan itu dan hal yang terbaik adalah membinasakan mereka, maka singkirkanlah mereka dari jalan kami sehingga kehadiran mereka bukan halangan dalam kemajuan Islam yang kini telah Engkau takdirkan melalui Ahmadiyah, Islam yang sejati.”

Kebijakan Tuhan akan menjadikan hal ini sebuah doa yang dianggap benar. Ini adalah cara bagaimana seharusnya kita berdoa dan bukan memberikan doa kutukan terhadap mereka. Semoga Tuhan meridhoi kita semua agar memenuhi doa tersebut! (Yusuf Awwab)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2]

[3]

[4]

[5] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahaadits al-Anbiya, bab hadits al-ghar, 3465

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يَمْشُونَ إِذْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فَانْطَبَقَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إِنَّهُ وَاللَّهِ يَا هَؤُلَاءِ لَا يُنْجِيكُمْ إِلَّا الصِّدْقُ فَليَدْعُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ بِمَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ صَدَقَ فِيهِ

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahaadits al-Anbiya, bab hadits al-ghar, 3465

فَقَالَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ لِي أَجِيرٌ عَمِلَ لِي عَلَى فَرَقٍ مِنْ أَرُزٍّ فَذَهَبَ وَتَرَكَهُ وَأَنِّي عَمَدْتُ إِلَى ذَلِكَ الْفَرَقِ فَزَرَعْتُهُ فَصَارَ مِنْ أَمْرِهِ أَنِّي اشْتَرَيْتُ مِنْهُ بَقَرًا وَأَنَّهُ أَتَانِي يَطْلُبُ أَجْرَهُ فَقُلْتُ لَهُ اعْمِدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ فَسُقْهَا فَقَالَ لِي إِنَّمَا لِي عِنْدَكَ فَرَقٌ مِنْ أَرُزٍّ فَقُلْتُ لَهُ اعْمِدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ فَإِنَّهَا مِنْ ذَلِكَ الْفَرَقِ فَسَاقَهَا فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا فَانْسَاحَتْ عَنْهُمْ الصَّخْرَةُ

[7] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahaadits al-Anbiya, bab hadits al-ghar, 3465

فَقَالَ الْآخَرُ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ فَكُنْتُ آتِيهِمَا كُلَّ لَيْلَةٍ بِلَبَنِ غَنَمٍ لِي فَأَبْطَأْتُ عَلَيْهِمَا لَيْلَةً فَجِئْتُ وَقَدْ رَقَدَا وَأَهْلِي وَعِيَالِي يَتَضَاغَوْنَ مِنْ الْجُوعِ فَكُنْتُ لَا أَسْقِيهِمْ حَتَّى يَشْرَبَ أَبَوَايَ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا وَكَرِهْتُ أَنْ أَدَعَهُمَا فَيَسْتَكِنَّا لِشَرْبَتِهِمَا فَلَمْ أَزَلْ أَنْتَظِرُ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا فَانْسَاحَتْ عَنْهُمْ الصَّخْرَةُ حَتَّى نَظَرُوا إِلَى السَّمَاءِ

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahaadits al-Anbiya, bab hadits al-ghar, 3465

فَقَالَ الْآخَرُ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ لِي ابْنَةُ عَمٍّ مِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ وَأَنِّي رَاوَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَأَبَتْ إِلَّا أَنْ آتِيَهَا بِمِائَةِ دِينَارٍ فَطَلَبْتُهَا حَتَّى قَدَرْتُ فَأَتَيْتُهَا بِهَا فَدَفَعْتُهَا إِلَيْهَا فَأَمْكَنَتْنِي مِنْ نَفْسِهَا فَلَمَّا قَعَدْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا فَقَالَتْ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ فَقُمْتُ وَتَرَكْتُ الْمِائَةَ دِينَارٍ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا فَفَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَخَرَجُوا

[9] Malfuzhat, jilid 7, halaman 27, 1984, terbitan UK

[10] Malfuzhat, jilid 7, halaman 386, 1984, terbitan UK