Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 27 Juli 2018 (Wafa 1397 HQ/14 Dzulqa’idah 1439 HQ) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

( آمين)

Pada hari ini saya akan menyampaikan riwayat hidup dua sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (صلى الله عليه وسلم). Pertama, Hadhrat Mundzir bin Muhammad Anshari (مُنْذِر بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُقْبة بْنِ أحَيْحَة بْنِ الْجِلَاحِ بْنِ الحَريش بْنِ جَحْجَبِي). Hadhrat Mundzir bin Muhammad bin Uqbah al-Anshari berasal dari kabilah Banu Jahjabi (termasuk anggota klan besar Aus). Setelah hijrah ke Madinah, Hadhrat Rasulullah (saw) menjalinkan ikatan persaudaraan antara Hadhrat Mundzir bin Muhammad Anshari dengan Hadhrat Tufail Bin Harits.[1]

Ketika Hadhrat Zubair bin Awwam, Hadhrat Hathib bin Abi Balta’ah, Hadhrat Abu Sirah Bin Abi Ruham hijrah dari Makkah dan ke Madinah, mereka tinggal di rumah Hadhrat Mundzir Bin Muhammad.[2]

Hadhrat Mundzir ikut serta pada perang Badr dan Uhud dan syahid pada peristiwa Bi’r Maunah (شهد بدرا وأحدا وقتل يوم بئر معونة).[3]

Mengenai peristiwa Bi’r Maunah telah dijelaskan sebelum ini pada dua tempat dalam kisah sahabat. Sekilas akan saya sampaikan lagi kaitannya dengan ini. Rincian peristiwa syahidnya Hadhrat Mundzir ditulis Hadhrat Mirza Basyir Ahmad dalam buku ‘Sirah Khataman Nabiyyin’ (Perjalanan Kehidupan Sang Khataman Nabiyyin). Di dalamnya tertulis bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) pada bulan Shafr tahun 4 Hijriyah mengutus satu kelompok sahabat dibawah komando Mundzir Bin Amru Anshari. Secara umum mereka adalah sahabat Anshari (kalangan Anshar, orang Madinah) yang berjumlah 70 orang. Semuanya adalah Qurra Al-Quran yakni para pakar Al-Quran. Sebagai mata pencaharian pada siang hari mereka mengumpulkan kayu di hutan lalu menjualnya. Sedangkan pada sebagian besar malam mereka lewati dengan ibadah.

Ketika mereka sampai di tempat yang karena keberadaan sebuah sumur di sana sehingga dikenal dengan nama Bi’r (perigi, sumur) Maunah. Salah seorang diantara mereka yang bernama Haram Bin Milhan, paman Anas bin Malik pergi sendiri menemui pemimpin kabilah Banu Amir yakni keponakan Abu Bara Amir bin Malik yang bernama Amir Bin Tufail dengan membawa pesan seruan kepada Islam dari Rasulullah (saw). Sedangkan sahabat selebihnya menunggu di belakang.

Ketika Haram Bin Milhan sebagai pengantar pesan Rasulullah (saw) sampai ke tempat Amir bin Tufail dan kawan-kawannya, pada awalnya mereka bersikap pura-pura menyambutnya, namun ketika Haram Bin Milhan terduduk tenang untuk mulai menyampaikan pesan Islam, sebagian dari antara orang jahat itu memberikan isyarat salah kepada seorang untuk menombaknya dari belakang sehingga terjatuh di tempat.

Saat itu keluar kalimat dari mulut Hadhrat Haram ibn Milhan yang berbunyi, اللَّهُ أَكْبَرُ، فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ‏ Allahu Akbar Fuztu Wa Rabbil Ka’bah – ‘Allahu Akbar (Allah Maha Besar)! Aku bersumpah demi Tuhan Pemilik Ka’bah bahwa aku telah sampai pada tujuan (aku telah berhasil).’[4]

Amir Bin Thufail tidak merasa puas telah membunuh pembawa pesan Rasulullah (saw) saja, bahkan setelah itu dia menghasut penduduk kabilah Banu Amir untuk menyerang kelompok umat Muslim yang selebihnya. Namun mereka menolak dan berkata, “Kami tidak akan menyerang umat Muslim yang dalam tanggungjawab perlindungan Abu Bara Amir bin Malik.”

Mendengar hal itu Amir bin Thufail mengajak orang-orang Banu Sulaim, Banu Ri’l, Dzakwaan, ‘Ushayyah dan lain-lain (رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَبَنِي لِحْيَانَ وَبَنِي عُصَيَّةَ) yakni mereka yang datang mengirimkan delegasi kepada Rasulullah (saw) meminta diutuskan orang-orang yang akan menablighkan Islam kepada kaumnya berdasarkan penjelasan Kitab al-Bukhari. Semua orang ini menyerang sekelompok kecil umat Islam yang tidak berdaya itu.

Ketika kelompok Muslim itu melihat orang-orang buas itu menghampiri mereka, lantas mengatakan, “Kami datang ke sini tidak untuk berperang, melainkan diutus oleh Rasulullah (saw) untuk melakukan suatu tugas, tidak ada maksud untuk bertempur dengan kalian.”

Namun mereka tidak perduli dan menarik pedangnya masing-masing sehingga diantara sekian sahabat itu hanya tinggal satu sahabat yang selamat dan lumpuh pada kaki. Beliau menaiki bukit, nama sahabat tersebut adalah Ka’ab Bin Zaid dan ini telah dijelaskan sebelumnya.

Dari sebagian riwayat lain diketahui bahwa orang kafir menyerang sahabat tersebut dan menyebabkan luka-luka lalu meninggalkannya karena menganggapnya telah wafat, padahal beliau masih bernafas dan selamat.

Diantara kelompok sahabat itu ada dua orang yang bernama Amru Bin Umayyah adh-Dhamri dan Mundzir bin Muhammad saat itu tengah terpisah dari grup untuk memberi makan unta-unta. Mereka berdua melihat dari kejauhan ke arah tempat itu, terlihat burung-burung beterbangan diatasnya. Mereka paham isyarat padang pasir tersebut yaitu ketika burung berputar-putar beterbangan di atas padang, berarti di bawahnya ada makanan bagi burung-burung itu. Di sana telah terjadi pertempuran. Setelah menghampiri, mereka melihat jejak dengan mata sendiri pembunuhan yang dilakukan oleh kaum kuffar yang zalim.

Setelah melihat kejadian itu dari jauh mereka berdua berdiskusi, apa yang harus mereka lakukan saat itu. Salah seorang mengatakan, “Kita harus segera pergi ke Madinah dan melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah (saw).”

Namun orang kedua menolak ide tersebut, mengatakan, “Saya tidak akan meninggalkan tempat Amir kita, Mundzir Bin Amru disyahidkan. Di sana jugalah kita harus bertempur.”

Lalu mereka berdua maju untuk bertarung dan akhirnya syahid.[5]

Maksudnya, Mundzir Bin Muhammad yang terpisah dari grup untuk memberi makan unta, ketika kembali mereka bertarung melawan musuh dan syahid. Syahidnya beliau terjadi pada tahun 4 Hijriyah.

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Hathib ibn Abi Balta’ah (حَاطِبُ بْنُ أَبِي بَلْتَعَةَ). Beliau berasal dari Kabilah Lakham. Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah adalah sekutu Banu Asad. Nama sebutan (kuniyah) beliau adalah Abu Abdullah atau disebut juga Abu Muhammad. Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah berasal dari Yaman.

Asim Bin Amar meriwayatkan ketika Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah dan hamba sahaya beliau Sa’ad hijrah ke Madinah, keduanya tinggal di rumah Hadhrat Mundzir ibn Muhammad ibn Uqbah (مُنْذِر بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُقْبة). Hadhrat Rasulullah (saw) mengikatkan tali persaudaraan antara Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah dengan Hadhrat Rakhilah Bin Khalid. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) mengikatkan tali persaudaraan antara Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah dengan Hadhrat Awim Bin Saidah.

Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah termasuk yang menyertai Rasulullah (saw) dalam perang Badr, Uhud, Khandaq dan seluruh ghazwah (perang) lainnya. Rasulullah (saw) telah mengutus beliau untuk menyampaikan surat berisi pesan tabligh untuk Muqawqis raja Mesir.

Hadhrat Hathib merupakan salah satu pemanah terbaik Rasulullah (saw). Diriwayatkan juga bahwa Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah pada zaman Jahiliyah merupakan penunggang kuda terbaik Quraisy dan penyair.

Sebagian mengatakan bahwa Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah dulunya adalah hamba sahaya Abdullah Bin Hamid lalu beliau mendapatkan kebebasan setelah melakukan perjanjian tertulis dengan majikannya dan uang dari perjanjian itu beliau lunasi pada saat Fatah Makkah.[6]

Hadhrat Ummu Salamah meriwayatkan, “Pesan lamaran yang dikirim oleh Rasulullah (saw) kepada saya paska kewafatan suami saya disampaikan oleh Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah.”[7]

Dalam satu riwayat Hadhrat Anas bin Malik mendengar Hadhrat Hathib bin Abi Balta’ah mengatakan, “Ketika perang Uhud perhatian Rasulullah (saw) tertuju kepada saya dan saat itu Rasulullah (saw) tengah menderita [terluka dalam perang Uhud itu]. Sedikit waktu setelah perang usai, keadaan beliau semakin membaik. Di tangan Hadhrat Ali terdapat wadah berisi air. Dalam kondisi penderitaan itu, Rasulullah (saw) tengah membasuh wajah beliau dengan air itu.

Hathib bertanya kepada Rasul, ‘Siapa yang melakukan ini kepada tuan?’

Rasul bersabda, ‘Utbah Bin Abi Waqas telah melemparkan batu-batu ke wajah saya.’

Saya (Hadhrat Hathib) berkata, ‘Saya telah mendengar suara teriakan di bukit yang mengatakan, “Muhammad telah terbunuh.” Setelah mendengar kabar tersebut, saya datang kemari dan saat rasanya saya tidak memiliki ruh lagi, tidak bernyawa lagi.’

Saya (Hadhrat Hathib) bertanya kepada Rasulullah (saw), ‘Dimana Utbah?’

Rasulullah (saw) mengisyaratkan ke suatu arah.”

Lalu, Hadhrat Hathib pergi menuju arah itu. Utbah tengah bersembunyi. Hathib berhasil menguasainya. Hathib menebaskan pedang memenggal kepalanya. Kemudian, potongan kepalanya (Utbah), barang-barangnya dan kudanya dibawa ke hadapan Rasulullah (saw).

Rasulullah (saw) memberikan semua barang itu kepada Hadhrat Hathib dan mendoakannya, beliau bersabda, ‘Semoga Tuhan ridha kepadamu.’ Beliau bersabda dua kali.[8]

Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah wafat pada tahun 30 Hijriyah di Madinah pada usia 65 tahun. Hadhrat Utsman mengimami shalat jenazah beliau.[9]

Berikut adalah rincian peristiwa pengiriman surat yang dikirim oleh Rasulullah (saw) kepada Muqawqis. Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) menulis bahwa itu merupakan surat ketiga yang dikirim kepada raja-raja.[10]

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) berpendapat bahwa itu adalah surat keempat.[11] Walhasil, diantara surat-surat yang dikirimkan kepada para penguasa dan raja-raja, salah satunya adalah kepada raja Mesir Muqawqis yakni gubernur Mesir atau Iskandariyah yang berada dibawah Kaisar (Romawi). Seperti halnya Kaisar, dia pun adalah penganut agama Kristen. Nama aslinya adalah Juraij (George) bin Mina (جُرَيْجُ بْنُ مِينَا). Dia dan rakyatnya berasal dari kaum Qibti (Koptik).[12]

Surat tersebut dikirimkan oleh Rasulullah (saw) dengan mengutus sahabat Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah, isi suratnya sebagai berikut: بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ عَبْدِ الله وَرَسُولِهِ إلى الْمُقَوْقِسِ عَظِيمِ الْقِبْطِ. سَلاَمٌ عَلى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى. أمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أدْعُوكَ بِدِعَايَة الْإِسلاَمِ, أسْلِمْ تِسْلَمْ يُؤْتِكَ الله أجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَعَلَيْكَ إثْمُ كلّ الْقِبْطِ “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad putra Abdullah utusan Allah, untuk al-Muqawqis, pemimpin bangsa Qibthi. Kesejahteraan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Selain dari pada itu, saya mengajak Anda kepada panggilan Allah. Peluklah agama Islam maka Anda akan selamat dan Allah akan memberikan bagi Anda pahala dua kali. Jika Anda berpaling maka selain menangung dosa sendiri, Anda pun akan menanggung dosa penduduk Mesir. يأَهْلِ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أنَّ لاَ نَعْبُدَ إلاَّ الله وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شيئا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أرْبَاباً مِنْ دُونِ الله فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهدُوا بَأَنَّا مُسْلِمُونَ ‘Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimah (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”’”

Demikianlah surat yang beliau kirim kepada sang raja.

Ketika Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah sampai di Mesir lalu beliau menghadap raja. Kemudian, beliau persembahkan surat Rasulullah (saw) kepadanya.

Muqawqis membaca surat tersebut lalu berkata kepada Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah dengan nada humor, “Jika memang junjungan Anda ini – yakni Hadhrat Rasulullah (saw) – adalah benar seorang Nabi Allah, maka bukannya mengirim surat kepada saya, kenapa dia tidak mendoakan supaya Tuhan menundukkan hati saya kepadanya?”

Hathib menjawab, “Jika memang keberatan ini benar, maka itu akan mengena juga kepada Hadhrat Isa yakni kenapa beliau tidak berdoa seperti itu bagi para penentangnya?”

Lalu Hathib memberikan nasihat kepada Muqawqis, إنه كان قبلك رجل يزعم أنَّه الرب الأعلى -يعني فرعون- فأخذه الله نَكَالَ الآخرة والأولى، فانتقم به ثم انتقم منه، فاعتبر بغيرك، ولا يعتبر غيرك بك. “Silahkan Anda renungkan dengan penuh perhatian, karena sebelum Anda telah hidup seorang raja di Mesir ini – Firaun – yang mendakwakan dirinya sebagai tuhan untuk seluruh dunia dan penguasa tertinggi. Lalu Tuhan mencengkramnya sehingga menjadi pelajaran bagi manusia di kemudian hari dan masa lalu. Walhasil saya sampaikan kepada Anda dengan hati yang tulus untuk mengambil pelajaran dari Raja lainnya dan jangan sampai orang lain pun mengambil pelajaran dari keadaan Anda.”

Ketika sang Raja melihat bahwa orang ini begitu berani berkata seperti itu, ia berkata, إن لنا دينًا لن ندعه إلا لما هو خيرٌ منه “Kami telah menganut satu agama sejak dulu. Karena itu, sebelum kami mendapatkan agama yang lebih baik darinya, kami tidak dapat meninggalkannya (meningggalkan Kristen).”

Hathib (ra) menjawab, ندعوك إلى دين الإسلام، وهو الإسلام الكافي به الله ما سواه، إن هذا النَّبي دعا الناس، فكان أشدَّهم عليه قريشٌ، وأعداهم له اليهود، وأقربهم منه النصارى، ولعمري: ما بشارة موسى بعيسى إلا كبشارة عيسى بمحمد -عليهم الصلاة والسلام أجمعين-، وما دعاؤنا إياك إلى القرآن، إلا كدعائك أهل التوراة إلى الإنجيل، وكل نبي أدرك قومًا فهم من أمته، فالحق عليهم أن يطيعوه وأنت ممن أدركه هذا النبي، ولسنا ننهاك عن دين المسيح، ولكنَّا نأمرك به. “Islam merupakan agama paling sempurna diantara agama-agama lainnya, agama yang terakhir dan mencakup seluruh agama, namun tentunya Islam tidak akan melarang Anda untuk tetap meyakini Hadhrat Isa al-Masih, bahkan Islam memerintahkan untuk beriman kepada segenap mereka yang benar-benar Nabi. Sebagaimana Hadhrat Musa telah menubuatkan kabar suka tentang kedatangan Hadhrat Isa, demikian pula Hadhrat Isa telah menubuatkan kabar suka tentang kedatangan Nabi kami Saw.”

Mendengar hal itu Muqawqis berpikir dalam dan terdiam. Namun setelah itu dalam majelis lainnya yang dihadiri juga oleh para pendeta besar, Muqawqis mengatakan kepada Hathib, ما منعه إن كان نبيا أن يدعو على من خالفه أي من قومه وأخرجوه من بلده إلى غيرها أن يسلط عليهم “Saya dengar Nabi kalian telah diusir dari negerinya? Kenapa lantas Nabi kalian tidak mendoakan buruk bagi orang-orang yang mengusirnya itu, supaya mereka dibinasakan dan Nabi kalian selamat.”

Mendengar hal tersebut, Hathib menjawab, ألست تشهد أن عيسى ابن مريم رسول الله فماله حيث أخذه قومه فأرادوا أن يقتلوه أن لا يكون دعا عليهم أن يهلكهم الله تعالى “Nabi kami hanya terpaksa keluar dari negerinya, namun Nabi Anda sampai-sampai ditangkap oleh orang Yahudi. Mereka ingin membunuhnya di tiang salib, namun tetap saja beliau tidak dapat membinasakan kaumnya dengan mendoakan buruk.”

Setelah mendengarkan jawaban itu Muqawqis sangat terkesan lalu berkata, أنت حكيم جاء من عند حكيم “Tentu Anda adalah seorang yang cerdas (bijaksana) dan dikirim sebagai duta oleh orang yang cerdas juga.”

Lalu mengatakan, “Saya telah merenungkan mengenai Nabi Anda sekalian. Saya meyakini memang Nabi Anda sekalian tidak mengajarkan ajaran yang buruk dan tidak juga melarang untuk melakukan kebaikan.”

Lalu sang raja meletakkan surat Rasulullah (saw) di dalam wadah taring (gading) gajah lalu membubuhkan stempelnya. Untuk menjaganya dia menyerahkan kepada seorang wanita terpercaya dalam keluarganya, intinya dia memperlakukan surat tersebut dengan hormat. Setelah itu Muqawqis memanggil juru tulis Bahasa Arabnya dan menuliskan surat untuk Rasulullah (saw) lalu menyerahkannya kepada Hathib. [Surat tersebut ialah sebagai berikut:]

بسم الله الرحمن الرحيم لمحمد بن عبد الله من المقوقس عظيم القبط سلامٌ عليك، أما بعد: فقد قرأت كتابك وفهمت ما ذكرت فيه وما تدعو إليه، وقد علمت أن نبيًّا بقي، وكنت أظن أنه يخرج بالشام، وقد أكرمت رسولك وبعثت إليك بجاريتين لهما مكان في القبط عظيم، وبكسوة، وأهديت إليك بغلة لتركبها، والسلام عليك.

Terjemahan dari isi surat tersebut adalah: “…dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Surat ini ditujukan kepada Muhammad putra Abdullah dari pemimpin Qibti, al-Muqawqis. Semoga keselamatan tercurah kepada Anda. Saya telah membaca surat anda dan telah memahami isinya dan kepercayaan yang karenanya Anda menyeru saya. Saya mengetahui bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang.

Saya kira ia akan muncul dari Syam (bukan dari Arab). Saya menghormati utusan Anda. Kini saya kirimkan kepada Anda dua gadis yang terhormat di kalangan Qibthi dan beberapa lembar kain. Saya hadiahkan pula seekor baghal (keturunan campuran kuda betina dan keledai jantan) agar dapat Anda pergunakan sebagai kendaraan. Wassalamu ‘alaika.”

Disertai dengan cap.[13]

Dari surat ini jelaslah bahwa Muqawqis Mesir memperlakukan duta Rasulullah (saw) dengan penuh hormat dan sampai batas tertentu memperlihatkan ketertarikan pada seruan Rasulullah (saw). Namun dia tidak menerima Islam dan dari riwayat lainya dapat diketahui beliau wafat sebagai penganut agama Kristen. Dari cara bicaranya dapat diketahui bahwa memang memperlihatkan ketertarikan pada urusan agama, namun keseriusan yang diperlukan dalam hal ini tidak dia miliki. Untuk itu meskipun pada lahiriahnya memperlihatkan rasa hormat, namun dia menolak seruan Hadhrat Rasulullah (saw).

Dua perempuan yang dikirim oleh Muqawqis salah satu diantaranya bernama Mariyah dan yang kedua bernama Sirin. Keduanya bersaudara. Sebagaimana Muqawqis tuliskan dalam suratnya, keduanya berasal dari kaum Qibti yang merupakan kaum Muqawqis sendiri. Kedua perempuan itu bukanlah dari kalangan biasa, melainkan -sesuai dengan tulisan Muqawqis sendiri- berasal dari kalangan terpandang di dalam kaum Qibti.

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Sahib menulis, “Sebetulnya dapat diketahui bahwa merupakan tradisi lama bangsa Mesir, jika ingin meningkatkan hubungan dengan tamu yang dihormati, mereka mempersembahkan wanita yang baik dari kaumnya untuk dinikahi. Sebagaimana ketika Hadhrat Ibrahim datang ke Mesir, pemimpin Mesir waktu itu pun mempersembahkan wanita yang baik yakni Hadhrat Hajrah (Hajar) kepada beliau untuk dinikahi yang di kemudian hari dari perut beliau terlahir Hadhrat Ismail dan banyak kabilah Arab lainnya.

Sesampainya kedua wanita yang diutus oleh Muqawqis tersebut di Madinah, Rasulullah (saw) sendiri menikahi Hadhrat Mariyah Qibtiyah sedangkan saudarinya Sirin dinikahkan dengan penyair Arab terkenal Hasan Bin Tsabit.

Mariyah ini adalah wanita beberkat yang dari perutnya terlahir putra Rasulullah (saw) Hadhrat Ibrahim, yang mana seolah merupakan putra tunggal selama masa nubuwwah (kenabian) beliau. Perlu disampaikan juga bahwa sebelum sampai di Madinah pun kedua wanita ini telah baiat berkat tabligh dan dakwah Hathib Bin Abi Balta’ah.

Hewan Bighal yang didapatkan oleh Rasulullah (saw) sebagai hadiah warnanya putih sering digunakan oleh Rasulullah (saw) untuk berkendara. Pada perang Hunain pun hewan ini jugalah yang ditunggangi oleh Rasulullah (saw).[14]

Berkenaan dengan surat yang ditulis oleh Muqawqis, lebih lanjut Hadhrat Mushlih Mau’ud (رضی اللہ تعالیٰ, ra) bersabda, “Surat tersebut isi suratnya persis seperti yang ditulis kepada raja Roma, bedanya hanyalah di dalamnya tertulis, ‘Jika Anda tidak beriman maka dosa rakyat Roma akan Anda tanggung juga.’ Sedangkan di surat ini tertulis, ‘Beban dosa rakyat Qibti akan ditanggung oleh Anda.’

Ketika Hathib (ra) tiba di Mesir, saat itu Muqawqis tidak berada di ibukota melainkan tengah berada di Iskandariyah (Alexandria). Lalu Hathib menuju Iskandariyah tempat sang Raja tengah mengadakan sebuah pertemuan. Hathib juga tampaknya menggunakan perahu menuju ke suatu pulau. Karena sekeliling sang Raja ada penjagaan maka beliau mulai mengangkat suratnya dan meneriakkan sesuatu. Raja memerintahkan untuk membiarkannya masuk lalu dipersembahkanlah surat tersebut ke hadapannya.

Hathib mengatakan kepada Muqawqis, “Demi Tuhan! Hadhrat Musa (as) tidak mengabarkan Hadhrat Isa (as) sedemikian rupa jelasnya seperti halnya Hadhrat Isa mengabarkan Hadhrat Muhammad saw. Demikianlah kami menyeru Anda kepada Muhammad Rasulullah (saw), sebagaimana kalian menyeru Yahudi kepada Isa. Setiap Nabi memiliki umat dan kewajiban umat itu adalah untuk taat kepada Nabinya. Jadi, karena Anda telah mendapati zaman nabi yang mana diutus bagi seluruh bangsa oleh Tuhan, maka wajib bagi anda untuk menerimanya dan agama kami tidaklah melarang anda untuk meyakini Al-Masih bahkan kami memerintahkan orang lain untuk mengimaninya.”[15]

Inilah orang-orang yang melaksanakan kewajiban tabligh dengan penuh keberanian dan hikmah. Mereka tidak pernah takut walaupun di hadapan penguasa, pemimpin atau raja sekalipun.

Selanjutnya, mengenai peristiwa surat yang dibawa oleh seorang wanita dari Madinah ke Makkah, yang menyuruh menggirimkan surat tersebut adalah Hathib Bin Abi Balta’ah. Di dalam surat itu ia mengabarkan perihal kedatangan Rasulullah (saw) ke Makkah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat ketika Rasulullah (saw) hendak berangkat bersama lasykar untuk Fatah Makkah, saat itu sahabat beliau yang bernama Hathib bin Abi Balta’ah mengirim surat kepada Quraisy Makkah melalui seorang wanita.

Sebelum merincikan peristiwa tersebut, Imam Bukhari menulis ayat ini, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ Berdasarkan syarh (penjelasan) Shahih al-Bukhari karya Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Syah Sahib, beliau juga menulis ayat Al-Quran, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ “Wahai orang-orang yang beriman janganlah jadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai kawanmu.”

Hadhrat Ali (ra) meriwayatkan, “Rasulullah (saw) mengutus saya, Zubair dan Miqdad Bin Aswad. Beliau (saw) bersabda, انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ، فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً وَمَعَهَا كِتَابٌ، فَخُذُوهُ مِنْهَا ‘Berangkatlah kalian ketika kalian sampai di Raudhah Khah disana ada seorang wanita yang tengah mengendarai unta, dia membawa sepucuk surat, ambillah surat itu darinya!’

Lalu kami berangkat, ketika kami sampai di Raudhah Khah, apa yang kami lihat di sana? Di sana ada seorang wanita yang sedang menunggangi unta.

Kami katakan kepada wanita itu untuk mengeluarkan suratnya. Dia mengatakan tidak membawa surat. Kami katakan, ‘Jika kamu tidak mau mengeluarkan suratnya maka akan kami paksa keluarkan.’

Lalu dia mengeluarkan surat tersebut dari rambutnya kemudian kami bawa surat itu kepada Rasulullah (saw), di dalamnya tertulis bahwa surat itu dari Hathib Bin Abi Balta’ah ditujukan untuk kaum Musyrik Makkah mengabarkan perihal suatu rencana Rasulullah (saw).

Rasulullah (saw) memanggil Hathib dan menanyakan, يَا حَاطِبُ، مَا هَذَا ‘Apa ini semua?’

Dia menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لاَ تَعْجَلْ عَلَىَّ، إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ، وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا، وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ، يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي، وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا وَلاَ ارْتِدَادًا وَلاَ رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الإِسْلاَمِ‏ ‘Wahai Rasulullah (saw), mohon untuk tidak tergesa-gesa memutuskan mengenai diri saya. Saya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan kalangan Quraisy dan hidup di tengah mereka namun saya bukan dari kalangan mereka (bukan kerabat secara hubungan darah dengan mereka).

Hal kedua, muhajirin yang bersama dengan tuan memiliki banyak kerabat di Makkah yang melalui mereka, mereka menyelamatkan rumah, harta dan segala prasarananya. Kekurangan hubungan kekeluargaan saya dengan kaum Quraisy membuat saya ingin berbuat jasa baik kepada orang-orang Makkah itu supaya mereka menghargai kebaikan saya ini dengan cara melindungi keluarga saya di Makkah. Saya tidak melakukan ini karena kekufuran atau kemurtadan saya, tidak juga saya munafik. Saya yakinkan tuan.’

Mendengar keterangan itu Rasulullah (saw) bersabda, لَقَدْ صَدَقَكُمْ ‘Dia telah memberikan keterangan yang benar pada kalian.’

Karena saat itu Hadhrat Umar hadir di sana, Hadhrat Umar mengatakan, يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ ‘Wahai Rasulullah (saw)! Izinkan saya memenggal leher orang munafik ini.’

Beliau (saw) bersabda, إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ ‘Dia (Hathib) ikut serta dalam perang Badr dan siapa yang tahu bahwa Allah Ta’ala pernah berfirman mengenai para sahabat Badr, “Apapun yang kalian inginkan silahkan lakukan, Aku telah mengampuni segala dosa kalian.”’[16]

Hadhrat Syah Waliyullah Sahib menulis syarh (penjelasan) atas satu Hadits lain dari Shahih al-Bukhari, “Dalam Hadits lain tertulis bahwa wanita itu disebut termasuk orang musyrik dan yang diutus untuk mengepungnya adalah Hadhrat Ali, Hadhrat Abu Martsad al-Ghanawi dan Hadhrat Zubair. Wanita itu tengah menunggangi unta.[17]

Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika wanita itu melihat kami bersungguh-sungguh maka dia keluarkan surat dari kain yang diikat di pinggangnya. Lalu kami bawa wanita itu ke hadapan Rasulullah (saw).”

Hadhrat Umar (ra) mengatakan, يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ، فَدَعْنِي فَلأَضْرِبْ عُنُقَهُ‏ “Dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Ya Rasulullah (saw) izinkanlah saya untuk memenggal lehernya.”

Rasul bersabda, أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ “Bukankah dia (Hadhrat Hathib) ikut dalam perang Badr? لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمُ الْجَنَّةُ، أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ Semoga Allah Ta’ala menyaksikan para pejuang Badr dan telah berfirman, ‘Apapun yang kalian inginkan, lakukanlah! Telah ditetapkan surga bagi para pejuang Badr’, atau Dia berfirman, ‘Aku telah menutupi kesalahan kalian dan telah memaafkan.’”

(فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ) Mendengar hal itu Hadhrat Umar mencucurkan air mata dan mengatakan, اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ‏ “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”[18]

Hadhrat Abu Bakr juga pernah mengutus Hadhrat Hathib kepada Muqawqis di Mesir dan memberikan padanya urutan perjanjian yakni perjanjian damai yang terus berlangsung antara kedua belah pihak sampai terjadinya serangan Hadhrat Amru Bin As ke Mesir.[19]

Berkenaan dengan Hadhrat Hathib diriwayatkan Hadhrat Hathib memiliki postur tubuh yang bagus, janggut yang tipis, leher tertunduk yakni cenderung untuk menundukkan kepala, dan memiliki jemari yang berisi.

Yaqub Bin Utbah (یعقوب بن عتبہ) meriwayatkan, تَرَكَ حَاطِبُ بْنُ أَبِي بَلْتَعَةَ يَوْمَ مَاتَ أَرْبَعَةَ آلافِ دِينَارٍ وَدَرَاهِمَ وَدَارًا وَغَيْرَ ذَلِكَ. وَكَانَ تَاجِرًا يَبِيعُ الطَّعَامَ وَغَيْرَهُ. وَلِحَاطِبٍ بَقِيَّةٌ بِالْمَدِينَةِ Hadhrat Hathib Bin Abi Balta’ah pada hari kewafatannya meninggalkan 4000 dinar (uang logam emas) dan dirham (perak), beliau adalah seorang pedagang biji-bijian dan lain-lain. Ia meninggalkan harta peninggalannya di Madinah.[20]

Hadhrat Jabir meriwayatkan عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ عَبْدًا، لِحَاطِبٍ جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَشْكُو حَاطِبًا فَقَالَ suatu ketika hamba sahaya Hadhrat Hathib datang ke hadapan Rasulullah (saw) untuk mengeluhkan majikannya. Hamba sahaya itu mengatakan, يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيَدْخُلَنَّ حَاطِبٌ النَّارَ “Wahai Rasul Allah, Hathib pasti akan masuk ke dalam neraka.” Mungkin dia mengatakan majikannya sangat malas.

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, كَذَبْتَ لاَ يَدْخُلُهَا فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ Kamu berdusta, sama sekali dia tidak akan masuk neraka, karena dia ikut perang Badr dan perjanjian Hudaibiyah.”[21]

Sebagaimana dikatakan bahwa Hadhrat Hathib adalah pedagang. Beliau biasa menjual barang dagangan di pasar. Bagaimanakah ajaran Islam berkenaan dengan penjualan barang dan penetapan harga? Mengenai hal itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan bahwa sejak zaman Rasulullah (saw), pemerintahan yang berdasarkan Islam mengendalikan harga-harga di Madinah. Itu artinya, pemerintah Islam menetapkan harga pasar. Sebagaimana diriwayatkan (di dalam Atsar) bahwa Hadhrat Umar (ra) – saat itu beliau ialah Khalifah – suatu ketika berjalan-jalan di pasar Madinah. Beliau melihat ada seorang bernama Hathib Bin Abi Balta’ah tengah duduk menjual dua karung anggur kering atau kisymisy di pasar yang bernama Al Mushla (المصلى).

Hadhrat Umar menanyakan harganya kepadanya. Beliau menjawab satu dirham untuk dua mud yang mana harga tersebut lebih rendah dari harga pasar. Mendengar hal itu, Hadhrat Umar mengatakan padanya untuk menjualnya di rumah saja karena itu terlalu murah.[22]

Beliau tidak akan mengizinkan untuk menjual di pasar dengan harga murah seperti itu, karena akan merusak harga pasar dan membuat para pembeli berburuk sangka kepada para pedagang lainnya. Pedagang lain yang menetapkan harga lebih tinggi akan dianggap terlalu banyak mengambil keuntungan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis bahwa para ahli fiqih banyak memperdebatkan hal itu. Sebagian ada yang meriwayatkan juga Hadhrat Umar merubah pemikiran seperti itu. Namun, pada umumnya para ahli fiqh mengakui pendapat Hadhrat Umar tersebut sebagai pendapat yang perlu diamalkan. Mereka mengatakan bahwa merupakan tanggung jawab pemerintah Islami untuk menetapkan harga pasar, jika tidak, akan terjadi degradasi (kemerosotan) akhlak di dalam kaum.

Namun perlu diingat bahwa dalam hal ini dibahas tentang barang dagangan yang dijual di pasar atau areal dagang yang terbuka. Yang dibahas bukanlah barang dagangan yang tidak dibawa ke pasar karena itu statusnya khusus atau perorangan. Jadi, barang-barang yang dijual di pasar dan didagangkan, berkenaan dengan itu terdapat hukum Islam yang jelas bahwa harus ditetapkan satu harga, supaya tidak ada pedagang yang dapat melebihi atau mengurangkan harga. Hal ini sebagaimana para ahli fiqih menulis Atsar dan Hadits yang di dalamnya terdapat dukungan terhadap hal ini.[23]

Di bawah peraturan pemerintah, pengadaan area lahan untuk makanan ternak dan tugas untuk menggali sumur air di dalamnya adalah tugas pemerintah. Berkenaan dengan hal ini suatu ketika Rasulullah (saw) pernah memerintahkan Hadhrat Hathib untuk melakukannya. Sebagaimana dalam riwayat, sepulang dari perang Banu Mustaliq, melewati daerah Naqi’ dan melihat lahan luas hijau di sana dan terdapat banyak sumur air juga dan kualitas air tanahnya baik.

Rasulullah (saw) bertanya perihal air sumur itu, mereka menjawab, يا رسول الله، إذا صفنا قلّت المياه وذهبت الغدر “Wahai Rasulullah (saw)! Airnya sangat baik, namun jika kita memuji sumur-sumur itu, airnya malah berkurang.”

Lalu Hadhrat Rasulullah (saw) memerintahkan Hadhrat Hathib untuk menggali sebuah sumur dan menjadikan areal Naqi’ sebagai areal pangan ternak yakni lahan pangan ternak milik pemerintah yang berada dibawah pengaturan pemerintah. Hadhrat Bilal Bin Harits Muzni (بلال بن الحارث المزني) ditetapkan sebagai pengawasnya.

Hadhrat Bilal mengatakan, “Wahai Rasulullah (saw)! Berapa bagian dari lahan ini yang akan dijadikan lahan pangan ternak?” (Karena lahan tersebut sangat luas)

Beliau (saw) bersabda, “Ketika terbit fajar nanti, perintahkan seseorang yang bersuara keras (karena ketika suasana gelap, suara dapat terdengar jauh) lalu suruh orang itu berdiri dan berteriak di atas sebuah bukit kecil bernama Muqammal, setelah itu ukurlah jarak sampai terdengarnya suara orang tersebut untuk dibuatkan areal pangan ternak untuk kuda dan unta para mujahidin Islam.”

Ini pun merupakan pengaturan ukuran yang tidak diukur dengan satuan foot (kaki) atau mil. Jadi, sejauh mana suara teriakan itu sampai, pada ujungnya letakkanlah orang-orang pada pojok-pojoknya sebagai batas yang mana akan dibuatkan lahan pangan ternak untuk kuda dan unta para mujahidin yang mereka gunakan untuk berjihad. Lahan pangan ternak itu adalah milik Baitul Maal atau pemerintah yang akan digunakan para Mujahidin untuk memberi makan ternaknya.

Hadhrat Bilal bertanya, “Ya Rasulullah (saw)! Bagaimana halnya dengan hewan ternak milik umat Muslim pada umumnya, karena banyak juga ternak milik umat Muslim yang makan rumput di lahan terbuka, bagaimana halnya juga dengan mereka?”

Beliau bersabda, “Hewan ternak mereka tidak boleh masuk area tersebut, area ini diperuntukan bagi ternak yang digunakan untuk berjihad.”

Hadhrat Bilal bertanya, “Wahai Rasulullah (saw)! Bagaimana halnya dengan pria dan wanita yang lemah, yang hanya memiliki ternak dalam jumlah kecil saja dan tidak mampu untuk memindahkan ternaknya ke tempat lain.”[24]

Lalu Rasulullah (saw) bersabda, “Bagi orang yang miskin dan lemah diizinkan untuk memberi makan ternaknya di lahan pangan ternak milik pemerintah.” Walhasil, harta kekayaan kaum hendaknya digunakan untuk tujuan kaum, lain halnya jika ada orang miskin, meskipun keperluannya bersifat pribadi bisa ambil bagian di dalamnya.

Dalam menjelaskan perihal akhlak Hadhrat Hathib bin Abi Balta’ah, penyusun Siratus Sahabah atau sejarah para Sahabat (سیرۃ الصحابہ) menulis bahwa beberapa keistimewaan sifat beliau diantaranya beliau sangat setia, sangat menghargai kebaikan orang lain dan jujur.

Beliau sangat memperhatikan kerabat. Begitu juga surat yang ditulis oleh beliau kepada orang-orang Musyrik pada saat Fatah Makkah, yang dikirimkan melalui seorang wanita – hal ini sudah disampaikan sebelumnya – , sebetulnya didasari perhatian beliau yang dalam kepada kerabat. Melihat niat baik dan kejujuran beliau, Hadhrat Rasulullah (saw) pun memaafkan beliau.[25]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan dalam diri kita keistimewaan luhur para sahabat tersebut dan meninggikan senantiasa derajat-derajat mereka.

 

 

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

 

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

 

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

 

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

 

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

 

[1] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 248, Mundzir bin Muhammad, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

[2] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 55-61, Zubair bin Awwam, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

[3] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 248, Mundzir bin Muhammad, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996. Al-Isti’aab karya Ibn Abdil Barr. (الاستيعاب – ابن عبد البر – ج ٤ – الصفحة ١٤٥١)

[4] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab tentang Jihad dan ekspedisi (كتاب الجهاد والسير), bab pahala luka di jalan Allah (باب مَنْ يُنْكَبُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ), no. 2801, riwayat Anas ibn Malik saat menceritakan pamannya, Haram ibn Milhan yang syahid ditusuk tombak dari belakang. Shahih al-Bukhari ialah koleksi Hadits (sabda Nabi Muhammad saw) yang disusun Imam Muhammad al-Bukhari (wafat 256 AH/870 M) (rahimahullah). Beliau berasal dari Bukhara (dekat Samarkand, sekarang wilayah Uzbekistan, Asia Tengah atau selatan Rusia). Hingga abad 13, wilayah tersebut didominasi penduduk cabang keturunan Iran kuno (Persia), seperti Sogdians, Baktria dan lain-lain. Penguasaan orang-orang Arab, kemudian bangsa Turki lalu Mongol dan kemudian Rusia mempengaruhi komposisi dan varietas etnisitas dan bahasa di sana.

From Sogdian to Persian to Sart to Tajik & Uzbek: The Reformulation of Linguistic and Political Identity in Central Asia

[5] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 518-519

[6] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 242, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

[7] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Janaiz (Jenazah), bab ma yuqaalu indal mushibah, 1516

[8] Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi, jima’ abwaab al-anfaal, bab lil qaatil, no. 13041, Maktabah ar-Rusyd, 2004

[9] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 61, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

[10] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 818.

[11] Debacah Tafsirul Qur’an (Pengantar Mempelajari Al-Qur’an), Anwarul ‘Ulum jilid 20, h. 321.

[12] Pada abad 6 dan 7 Masehi, Kekaisaran Romawi yang beribukota di Bizantium (Istambul sekarang) di samping menguasai sebagian Laut Tengah dan sebagian Eropa bagian timur juga membawahi Mesir, Afrika Utara, Syam (Suriah, Palestina dsk), sebagian Irak dan Turki. Romawi Barat yang beribukota di Roma (Italia sekarang) sudah runtuh. Wilayah Romawi di Timur Tengah mulai berkurang dan diambil alih pihak Muslim disebabkan kekalahan perang mereka dengan umat Muslim.

[13] Sirah al-Halabiyah oleh al-Halabi (السيرة الحلبية – الحلبي).

[14] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 818-821. Za’dul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim al-Jauziyah menyebutkan hal demikian bahkan dengan tambahan bahwa hewan baghal itu dinamai Duldul dan bertahan hidup sampai zaman Muawiyah. Artinya, hidup terus lebih dari 35 tahun sejak diterima Nabi saw. (والبغلة دُلْدُلُ بقيت إلى زمن معاوية. (انظر: زاد المعاد 2/603، 604))

[15] Debacah Tafsirul Qur’an (Pengantar Mempelajari Al-Qur’an), Anwarul ‘Ulum jilid 20, h. 322.

[16] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab tentang Jihad dan ekspedisi (كتاب الجهاد والسير), bab mata-mata (باب الْجَاسُوسِ , al-Jasus), no. 3007, syarh oleh Sayyid Zainul Abidin

[17] Mustadrak ‘alash Shahihain.

[18] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab Maghazi (كتاب المغازى), bab keistimewaan mereka yang mengikuti perang Badr (باب فَضْلُ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا), no. 3983, terjemahan dan syarh (komentar) oleh Hadhdrat Sayyid Zainul Abidin WaliyuLlah Syah Shahib, jilid 8, h. 53-55, Nazharat Isya’at.; tercantum juga dalam Kanzul ‘Ummal.

[19] Al-Isti’aab fii Ma’rifatil Ash-haab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب) jilid 1, h. 376, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002.

[20] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 61, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996.

[21] Shahih Muslim (صحيح مسلم), Kitab keutamaan para Sahabat Nabi (saw) (كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم), bab (باب مِنْ فَضَائِلِ أَهْلِ بَدْرٍ رضى الله عنهم وَقِصَّةِ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ); Sunan at-Tirmidzi, Abwaabul Manaqib, Bab fi man sabba Ashhaban Nabiyyi saw, 3864.

[22] Muwatha Imam Malik, Sunan al-Kubra karya Imam Baihaqi menuliskan sebuah atsar, أن عمر مر بحاطب بن أبي بلتعة وهو يبيع زبيبا له بالسوق ، فقال له عمر : Umar bin Khattab melewati Hatib bin Abi Balta’ah radiyallahu anhuma yang sedang menjual anggur kering di pasar. Maka Umar berkata kepadanya, إِمَّا أَنْ تَزِيدَ فِي السِّعْرِ ، وَإِمَّا أَنْ تُرْفَعَ مِنْ سُوقِنَا “Naikkan harganya atau silahkan meninggalkan pasar.”. Perdebatan para Fuqaha (ahli FIqh) mengenai boleh-tidaknya atau sejauh mana Pemerintah (government) mencampuri atau menetapkan harga-harga pasar (wilayatul Hisbah atau pengawasan ekonomi) telah ada sejak lama. Silakan klik link berikut: https://noprizal.blogspot.com/2011/05/pengawasan-ekonomi-wilayah-al-hisbah.html dan http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/10467/Skripsi%20A31110903.pdf;sequence=1

[23] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 19, h. 307-308, khotbah Jumat 10 Juni 1938.

[24] Subulul Huda war Rasyaad jilid 4 h. 352-353, ghazwah Banu Musthaliq, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996.

[25] Siyarush Shahaabah jilid 2, h. 411-412, terbitan Islami Kutub khanah.