Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 9 Maret 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud ‘alaihishalaatu was salaam (as) pada satu kesempatan menyebutkan pengorbanan para sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, kedudukan luhur mereka, ketinggian derajat mereka dan karunia-karunia yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka. Beliau (as) bersabda: “Hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) mengorbankan segala yang dimilikinya di jalan Allah Ta’ala sampai-sampai beliau tinggal mengenakan kain selimut. Lalu, apa yang Allah Ta’ala berikan kepada beliau sebagai gantinya?

Dia menjadikannya raja untuk seluruh Arabia. Melalui tangan beliau-lah, Allah Ta’ala menghidupkan Islam sekali lagi dan membuatnya kokoh menghadapi bangsa Arab yang murtad serta menganugerahi rezeki yang di luar dugaan siapa pun.”

Sabda beliau as, “Ringkasnya, keikhlasan, kejujuran dan akhlak mereka menjadi panduan bagi setiap Muslim. Kehidupan para Sahabat tidak kita temukan bandingannya dalam kehidupan Nabi mana pun.”

Beliau (as) bersabda, “Hal yang pokok ialah selama seseorang tidak datang ke gerbang pintu Allah Ta’ala dengan meninggalkan segala hasrat dan keinginan pribadi mereka, ia tidak akan dapat apa-apa bahkan merugikan diri mereka sendiri saja. Namun, jika mereka menjaga jarak diri dari semua hawa nafsu dan harapan pribadi lalu datang kepada Allah dengan tangan hampa dan hati yang bersih maka Allah akan memberikan ganjaran, bimbingan dan pertolongan kepada mereka. Namun, syaratnya, seseorang siap-sedia menghadapi maut dan menanggung kehinaan dan kematian di jalan-Nya.”

Beliau (as) bersabda, “Ketahuilah! Dunia ialah fana. (Tidak ada seorang pun yang hidup abadi di dunia.) Namun, seseorang tidak akan menemukan kelezatan dan kenikmatan dunia kecuali dengan meninggalkannya demi Allah. Dan untuk itu, seseorang yang mendekat kepada Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala akan menyebarluaskan qabuliyyat (penerimaan)-Nya di dunia.

Penerimaan tersebut sedemikian rupa sehingga orang-orang duniawi akan bersedia mati demi hal itu sehingga memperoleh sesuatu gelar atau kursi atau didaftar nama-namanya sebagai orang-orang yang memperoleh kedudukan. Ringkasnya, mereka yang bersedia meninggalkan segala sesuatu di jalan Allah akan diberikan semua jenis penghormatan madiah (duniawi) dan di hati tiap orang akan dirasukkan rasa takzim atas mereka. Bukan hanya meninggalkan segala sesuatu demi Allah melainkan secara amal perbuatan benar-benar meninggalkannya. Dengan demikian, mereka yang meninggalkan semua demi Allah Ta’ala, akan mendapat anugerah semua hal.”

Pada saaat itu beliau (as) duduk di majelis dan membicarakan tema ini. Dalam riwayat lain terdapat penjelasan sebagai berikut: “Telah diketahui seseorang yang merugi sedikit saja demi zamini government (pemerintahan duniawi) maka ia akan meraih upah.” (Anda amati di dunia jika seseorang memberikan dan menyelesaikan sesuatu demi penguasa, ia akan mendapat sesuatu. Lalu, beliau (as) bersabda,) “Apakah seseorang yang merugi sesuatu demi Allah tidak akan mendapatkan apa-apa?”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Orang-orang yang seperti itu tidak akan mati sampai mereka menerima ganjaran dari Allah Ta’ala sejumlah beberapa kali lipat dibandingkan apa yang mereka korbankan di jalan-Nya. Allah Ta’ala akan tetap memberikan ganjaran kepada siapapun tanpa tersisa sedikit pun hutang ganjaran pada mereka. Namun, amat disayangkan, sedikit sekali orang yang menerima hal ini dan memahami hakikat ini.”[1]

Jika kita amati keteladanan kebenaran orang-orang yang tulus dan setia itu maka itu akan menakjubkan orang-orang. Kekuatan penyucian dari Nabi Muhammad (saw) telah mengubah arah-arah perhatian kecintaan mereka sampai-sampai pada masa sebelum Islam mereka menyintai sesuatu sementara tampak pada masa setelah Islam mereka menyintai hal lain. Mereka telah berganti dari dunia kepada Allah. Bahkan, mereka telah menaikkan tolok ukur kecintaan itu. Mereka berikan keluhuran dan ketinggian derajat pada kecintaan tersebut yang mana tidak akan ada bandingannya pada masa lalu. Betapa indahnya Hadhrat Masih Mau’ud (as) menguraikan contoh ketinggian dan keluhuran derajat mereka ini!

Beliau (as) bersabda, “Tidak ditemukan contoh kecintaan dan pengorbanan mereka di kalangan para Nabi zaman dulu juga. Mengenai pengikut para Nabi zaman dulu tidak ada yang berkeberatan mengenai apa yang telah terjadi pada mereka. Keadaan mereka lebih rendah dibanding para Sahabat Nabi saw. Para Sahabat telah menyucikan hawa nafsunya sepenuhnya. Mereka lebih bersih hatinya dan tulus kepada Allah. Hidup mereka demi meraih ridha Allah saja. Jika seseorang meraih derajat ini maka Allah-lah Yang akan memuliakan mereka dengan kehormatan tanpa hitungan. Kita menyaksikan itu dalam kehidupan para Sahabat.”

 Dan sekarang saya menyampaikan beberapa kejadian kehidupan para sahabat bagaimana mereka menundukkan jiwa kepada Tuhan dan teladan apa yang telah mereka tunjukkan.

Hadhrat Abbad bin Bishr radhiyAllahu ‘anhu dari golongan Anshar [orang Islam asal Madinah], menjadi syahid di masa muda saat berusia 35 tahun.[2] Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan Hadits yang menjelaskan ibadah beliau dan tilawat Qur’an oleh beliau, “Suatu kali Nabi (saw) bertahajjud di rumah saya.” (Rasulullah (saw) selalu cepat bangun untuk tahajjud.) Nabi (saw) mendengar Abbad tengah membaca Al-Quran di dalam masjid. Beliau (saw) bertanya, ‘Wahai Aisyah ra, apakah ini suara Abbad?’ Saya menjawab: ‘Iya.’ Rasulullah (saw) berdoa, اللَّهُمَّ ارْحَمْ عَبَّادًا ‘Semoga Allah Ta’ala menyayangi Abbad.’[3]

Betapa senangnya orang-orang yang melalui waktu dalam ibadah dan membaca Alquran lalu mendapatkan doa langsung dari Nabi saw. Mereka biasa bangun di malam hari dan berdoa kepada Tuhan untuk meraih ridha dan rahmat-Nya.

Hadhrat Abbad yakin berdasarkan ru-ya (penglihatan dalam mimpi) yang dia lihat bahwa dia akan mencapai kesyahidan. Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Abbad bin Bisyir mengatakan kepada saya: ‘Hai Abu Sa’id! Saya bermimpi langit terbelah dan saya masuk kedalamnya, setelah itu langit tersebut tertutup lagi dan kembali seperti semula. Saya yakin penjelasan mimpi ini Allah Ta’ala akan menganugerahi saya kedudukan syahid!’

Mimpi tersebut tergenapi ketika pertempuran Yamamah. Ia mati syahid saat bertempur dengan sangat gagah berani. Namun batalionnya, yang semuanya orang Ansar mengalahkan orang-orang kafir. Beliau syahid namun peperangan dimenangkan umat Muslim. Hadhrat Abu Sa’id meriwayatkan bahwa wajahnya tidak bisa dikenali karena luka-luka pedang di wajahnya. Tubuhnya hanya dikenali karena ada tanda tertentu di badannya.[4]

Kemudian sejarah menceritakan kepada kita tentang Sahabat lain bernama Haraam ibn Milhan (حَرَامُ بن مِلحان) radhiyAllahu ‘anhu. Hadhrat Haraam bin Milhan (ra) adalah orang yang sangat aktif dan berdedikasi untuk mengajarkan al-Quran kepada para pemuda dan yang lainnya serta mengkhidmati kaum fakir-miskin dan para Ashab-e-Suffa [para sahabat yang menetap di Masjid].

Suatu ketika sebuah delegasi dari Bani ‘Amir datang dan memohon kepada Rasulullah (saw) agar dikirim beberapa orang guna menablighi (menyampaikan pesan Islam) kepada mereka. Niat mereka buruk, tapi mereka memintanya, dan karena mereka tidak layak dipercaya, Rasulullah (saw) bersabda kepada mereka, “Saya khawatir mereka akan menyakiti orang-orang yang saya kirimkan kepada Anda.”

Namun, pemimpin mereka yang masih belum Islam berkata, “Saya yang bertanggungjawab menjamin keamanan mereka. Semuanya akan aman dibawah perlindungan saya.”

Nabi (saw) pun mengutus sebuah delegasi untuk mengenalkan Islam kepada mereka. Hadhrat Haraam ditunjuk sebagai pemimpin delegasi. Ketika Haram bin Milhan dan para sahabatnya sampai di wilayah orang-orang tersebut, Hadhrat Haraam merasa curiga karena tampak tindak-tanduk mereka mencurigakan. Dari jarak jauh terlihat niat mereka tidak benar.

Hadhrat Haram berkata kepada teman-temannya, “Kita harus berhati-hati dan waspada. Sebaiknya kita tidak semuanya mendekat dan menghadap mereka karena jika pada saat bersamaan mereka mengepung kita, mereka akan lebih kuat menimpakan kerugian pada kita. Jadi, Anda semua harus tinggal di sini, saya akan pergi dengan satu orang saja.

Jika mereka memperlakukan kami dengan benar, Anda semua boleh datang kepada mereka. Jika mereka menyakiti kami berdua, Anda semua putuskankanlah sesuai dengan keadaan, baik untuk kembali ke Madinah atau melawan mereka atau tinggal di sini.”

Ketika Haraam ibn Milhaan dan rekannya mendatangi mereka, pemimpin mereka berpaling kepada seseorang [memberi isyarat penyerangan] untuk menyerang Haram bin Milhaan dengan tombak dari belakangnya. Darah pun mengucur deras dari lehernya. Beliau menyeka darah dengan tangannya dan berkata, فزتُ ورب الكعبة ‘Fuztu wa Rabbil Ka’bah!’ – “Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah, aku telah berhasil. Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah, aku telah berhasil.” Kemudian mereka membunuh rekannya juga. [5]

Mereka kemudian menyerang anggota delegasi lainnya dan membunuh mereka semua kecuali satu atau dua orang yang selamat. Ketika mereka diserang dengan tidak adil dan ditipu, mereka berdoa, اللهم بلغ عنا نبينا أنا قد لقيناك فرضينا عنك ورضيت عنا ‘Allahumma balligh ‘anna Nabiyyana anna qad laqiinaaka fa radhiina ‘anka wa radhiita ‘anna.’ – ‘Ya Allah, terimalah pengorbanan kami ini. Sampaikanlah keadaan kami kepada Nabi kami bahwa kami telah menemui Engkau, sehingga kami ridha atas Engkau dan Engkau ridha atas kami.’

Hal demikian karena mereka tidak memiliki cara dan sarana untuk memberitakan hal itu.

Malaikat Jibril datang kepada Nabi (saw) dan mengucapkan salam. Nabi menjawab salamnya. Lalu, Jibril menyampaikan mengenai para sahabat itu dan menceritakan kasus dan kesaksian mereka kepada beliau saw. Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, إِنَّ إِخْوَانَكُمْ قَدْ قُتِلُوا “Saudara-saudara kalian telah disyahidkan (terbunuh).”

Sebagaimana telah saya katakan, ada 70 sahabat yang disyahidkan. Nabi (saw) sangat sedih dengan peristiwa ini, sehingga beliau (saw) berdoa selama 30 hari supaya Allah Ta’ala sendiri yang mencengkram kaum yang zalim tersebut. Nabi menamai syahadah (kesyahidan) ini sebagai kesyahidan yang agung.[6]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda di suatu kesempatan mengenai kecintaan dan pengorbanan agung demi agama ini, “Cinta kasih ialah sesuatu yang menjadikan seseorang rela melakukan apa saja. Jika seorang pecinta menyintai seseorang, apakah yang tidak ia lakukan untuk orang dicintainya? Ada contoh di kalangan penduduk dunia, jika seorang wanita menyintai seseorang pria sementara pria itu berlaku aniaya terhadapnya, melukainya dan menimpakan berbagai jenis kesakitan hingga membuatnya terluka namun wanita itu tetap saja mengatakan, ‘Saya merasakan sejenis kelezatan.’

Jika seseorang merasakan kenikmatan dalam menanggung kesusahan dan kesulitan demi sebuah cinta palsu dan cinta yang dalam corak kefasikan dan dosa (inilah keadaan orang-orang duniawi), maka renungkanlah seseorang yang menyintai Tuhannya dan bercita-cita mengorbankan dirinya di istana Ilahi. Sejauh mana ia dapat meraih kelezatan dalam kesulitan dan musibah-musibah.

‘Perhatikanlah keadaan para sahabat (ra) yang mulia tersebut. رضوان الله عليهم أجمعين Berapa banyak kekejaman yang ditimpakan kepada mereka di Makkah? Beberapa dari mereka ditangkap, disiksa dan dihukum dengan berbagai macam cara. Dan tidak hanya laki-laki, tapi beberapa wanita Muslim juga mengalami siksaan yang jika digambarkan siksaannya akan menggoncang tubuh kita.

Jika mereka berdiri bersama [mengikuti] orang-orang Makkah, niscaya orang-orang Makkah akan menghormati mereka pada saat itu karena mereka adalah masih satu jalur keluarga. Tetapi, apa yang menyebabkan mereka tetap teguh berdiri atas kebenaran bahkan dalam masa diterpa badai kesulitan dan kesukaran? Itu adalah mata air kelezatan dan kebahagiaan yang memancar dari dada mereka karena kecintaan mereka terhadap kebenaran tersebut.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan contoh peristiwa, “Diriwayatkan mengenai seorang Sahabat ketika tangannya akan dipenggal [dia akan dieksekusi oleh penganiaya], ia berkata, ‘Saya ingin berwudhu terlebih dahulu.’ Ketika pada akhirnya kepalanya akan dipenggal, ia mengatakan akan bersujud terlebih dahulu. Ia berdoa, اللهم بلّغ النبيَّ ‘Allahumma ballighin Nabiyy.’ – ‘Kabarkanlah kepada Nabi, Ya Allah!’

Saat itu Nabi tengah berada di kota Madinah. Malaikat Jibril datang kepada beliau dan memberi salam. Nabi menjawab salamnya. Jibril menceritakan kepada Nabi kabar tentang mereka. Singkatnya, setelah kesenangan yang diterima seseorang dari Tuhan dalam keadaan bencana dan kesulitan, seorang beriman akan senang diinjak-injak dan dibunuh seperti cacing.” (seperti yang dikatakan Sahabat Nabi saw, ‘Fuztu wa Rabbil Ka’bah!’, Mereka telah mencapai puncak kecintaan sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud as). “Bagi seorang yang beriman menanggung kesulitan demi kesulitan nan keras itu terasa mudah. Memang, tanda orang beriman adalah dia tetap siap untuk dibunuh.”

Demikian pula, jika seorang mukmin (beriman) diberi tahu untuk memilih antara menjadi Nashrani (Kristen) atau dibunuh, kita harus melihat suara yang berasal dari hatinya, apakah ia merasa puas dengan menawarkan lehernya untuk dibunuh atau apakah ia lebih suka menjadi Kristen daripada dibunuh. Jika dia memilih untuk terbunuh daripada menjadi Kristen, dia benar-benar orang beriman, kalau tidak demikian, dia adalah orang kafir. Singkatnya, terdapat kebahagiaan yang tersembunyi di dalam bencana yang ditanggung oleh orang-orang beriman, jika tidak, bagaimana para Nabi menghabiskan waktu yang lama dalam kesulitan jika mereka tidak menganggapnya penuh kelezatan dan menyenangkan.”[7]

Inilah contoh para Sahabat yang telah ditiupkan pada mereka kekuatan penyucian Nabi Muhammad (saw) sehingga mereka mengatakan pada saat terakhir dari hidupnya, ‘Saya telah menang demi Tuhan Ka’bah!’, yang artinya saya telah menang dengan sampai kepada Tuhan saya, seperti yang kita dengar dalam kisah Hadits ini.

Namun, harus jelas bahwa orang-orang ini melakukan perbuatan-perbuatan baik, menerima ketidakadilan dan mempersembahkan pengorbanan di jalan Allah. Mereka bukan tipe penindas dan kejam terhadap orang-orang lain yang membunuh orang-orang secara tidak adil sembari berkata: “Jika kita membunuh si fulan dan si fulan, maka kita akan memiliki tingkat kesyahidan atau masuk surga firdaus”, sebagaimana dilakukan anggota gerakan-gerakan terorisme. Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) tidak seperti ini. Mereka menentang kekejaman dan tidak menyebarluaskan ketidakadilan.

Kemudian, ada Sahabat lain yang bernama Hadhrat Abdullah Bin Amru radhiyAllahu ‘anhu dari kalangan Anshar. Ketika beliau berangkat ke perang Uhud, ia berkata: “Saya akan menjadi orang pertama yang meraih syahid.” (sepertinya ia berkata demikian berdasarkan ru-ya yang dilihatnya atau pengabaran dari Allah Ta’ala) Beliau berkata kepada putranya, “Jagalah saudara-saudara perempuanmu setelah kewafatanku. Ayah juga telah meminjam uang dari seorang Yahudi. Pada waktunya lunasilah hutang tersebut dari hasil kebun kurma Ayah ketika kamu panen.”[8]

Perhatikanlah bagaimana tingkat kecintaan, ketakwaan dan kesucian seorang Sahabat Nabi kepada Allah, serta dalam memenuhi (mengembalikan) hak-hak orang lain. Sahabat tersebut keluar rumah untuk berperang namun tidak mencemaskan diri sendiri. Bahkan, amat bahagia karena akan menjadi orang pertama yang syahid dalam perang tersebut. Beliau tidak mencemaskan putri-putrinya karena harus memenuhi hak-hak mereka, bahkan sebaliknya, beliau yakin kepada Allah yang akan memenuhi hak-hak putri-putrinya tersebut dan menaruh kepercayaan kepada-Nya.

Beliau memberikan wasiyat kepada putranya, ‘Kamu kini menjadi kepala keluarga karena statusmu sulung di keluarga, penuhilah kewajiban-kewajiban tersebut serta jagalah saudari-saudarimu.’

Beliau juga memperhatikan tentang pelunasan hutang yang beliau pinjam kepada seorang Yahudi. Namun, beliau mengatakan kepada putranya, “Ayah tidak berharap kamu melunasi hutang tersebut dari kantongmu sendiri. Sebaliknya, insya Allah, hutang tersebut harus dilunasi pada waktunya dari hasil yang diperoleh dari kebun kurma Ayah sendiri.

Ayah tidak ingin membebani masalah keuangan kepadamu. Ayah hanya memberitahumu kewajiban Ayah tersebut yang harus Ayah lunasi dari uang Ayah sendiri. Membayar hutang merupakan perintah penting dari sekian perintah dalam Islam. Itu harus diamalkan. Kamu akan mewarisi semua uang dan properti Ayah hanya setelah melunasi hutang tersebut. Sebab, peraturan pertama adalah terlebih dahulu membayar hutang untuk orang mati.”

Mengenai bagaimana Allah Ta’ala menerima kesyahidan dan pengorbanannya, diriwayatkan bahwa Nabi ketika melihat putra Abdullah tengah sedih, berkata: “Mari, saya akan memberi tahu Anda apa yang akan membahagiakan Anda. Ayah Anda telah Allah Ta’ala dudukkan di hadapan-Nya dan Dia berfirman kepadanya: ‘Wahai hamba-Ku, Aku ingin memberi anugerah kepada engkau.’

Abdullah berkata, ‘Ya Tuhan, bagaimana saya bisa berharap agar saya Engkau beri anugerah padahal saya tidak memenuhi hak untuk beribadah sebagaimana mestinya?’ (Dia mengatakan hal ini padahal ibadah-ibadah dan pengorbanan-pengorbanannya juga banyak). Saya tidak memiliki harapan, ya Tuhan, kecuali Engkau menghidupkan kembali saya, saya akan melawan mereka yang memusuhi Nabi Engkau dan saya akan berperang lagi.’ Tuhan berfirman: ‘Aku telah memutuskan mereka yang mati tidak kembali ke dunia lagi.’”[9]

Oleh karena itu, Allah Ta’ala tidak akan memenuhi keinginannya, namun beliau menerima tingkat tinggi kesyahidan yang tak terelakkan.

Demikian juga, kita membaca tentang antusiasme (ghairat semangat) berkorban dan kesyahidan Hadhrat Amru bin Jamuh radhiyAllahu ‘anhu. Dikatakan beliau biasa berjalan dengan terpincang-pincang karena kakinya luka (cacat). Beliau benar-benar susah. Putra-putra beliau tidak ingin membiarkan beliau ikut dalam perang Badar karena cacat tersebut.

Ketika orang-orang kafir pergi berbaris ke medan peperangan Uhud untuk memerangi orang-orang Muslim, beliau berkata kepada putra-putranya itu, “Kalian bisa melakukan apa yang kalian suka namun saya tidak akan mendengarkan kalian. Saya akan turut serta dalam perang ini.”

Oleh karena itu, beliau menghadap Rasulullah (saw) dan memohon: “Ya Rasulullah, anak-anak saya melarang saya ikut dalam peperangan ini karena masalah kaki saya ini. Tapi saya ingin bergabung dengan Anda dalam berjihad. Demi Allah, saya ingin supaya Allah Ta’ala mengabulkan niat saya ini dan menganugerahi saya kesyahidan. Saya akan masuk surga bersama kaki yang cacat ini.” Rasulullah (saw) menjawab, “Jihad tidak wajib bagi Anda sebab kecacatan Anda itu. Akan tetapi jika ini merupakan keinginan Anda maka Anda boleh bergabung.”

Kemudian beliau (saw) menyuruh anak-anaknya untuk tidak melarangnya. Amru ikut serta dalam perang itu dan mengajukan permohonan kepada Allah: اللهم ارزقني الشهادة، ولا تردني إلى أهلي خائباً.   “Ya Allah anugerahilah hamba kesyahidan. Janganlah Engkau kembalikan hamba kepada keluarga hamba dalam keadaan gagal dan tanpa meraih cita-cita.” Keinginannya benar-benar terkabulkan, beliau syahid di perang Uhud.[10]

Para Sahabat ini telah menempuh perjalanan panjang dalam iman dan kepastian. Ambillah kejadian Sahabat manapun, Anda akan menemukan dia adalah model ketulusan dan kesetiaan serta siap setiap saat mengorbankan hidupnya.

Ada Sahabat lain yaitu Hadhrat Abu Thalhah radhiyAllahu ‘anhu. Ia merupakan salah seorang sahabat dari kalangan Anshar yang terkenal dengan kemahiran memanahnya. Beliau memperlihatkan keahlian memanahnya saat perang Uhud.[11] Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ﺃَﻧْﺜﺮُوا النبل ﻷَﺑِﻲ ﻃَﻠْﺤَﺔَ “Letakkan panah di depan Abu Talhah!” Hal demikian karena ia akan menggunakan panah tersebut dengan cepat dan juga akan tepat mengenai sasaran yang diinginkan. Beliau juga berkesempatan melindungi Rasulullah (saw) saat Perang Uhud sebagai salah seorang tameng hidup bagi Nabi (saw) dengan menempatkan diri di seputar beliau saw. Abu Talhah adalah seorang Anshar (pendukung). Beliau juga meletakan tangannya persis di depan wajah Rasulullah (saw) untuk melindungi beliau.

Tanpa rasa takut beliau memilih mengakses tempat-tempat berbahaya selama pertempuran dengan berani., ia menghadapi musuh yang datang untuk melenyapkan Islam, sebagaimana beliau berjuang untuk membangun keamanan dan perdamaian.

Seperti yang saya katakan, para Sahabat ini tidak berperang dalam rangka mempraktikkan kekejaman, tapi ketika musuh menyerang mereka, mereka tidak gentar, namun memperlihatkan model keberanian dan kepahlawanan dan mempersembahkan sebagian besar kompetensi mereka untuk meraih ridha Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Apa yang diwahyukan dari Tuhan pasti akan terjadi. Perihal sarana-sarananya tidak menjadi persoalan. Tuhan berfirman, ‘Jika kalian pergi di jalan-Ku, kalian akan mendapatkan مراغما كثيرا banyak tempat perlindungan dan kelapangan.’ (Surah an-Nisa, 4:101) Mereka yang melangkah dengan niat baik akan didampingi Tuhan, bahkan penyakit akan Dia hilangkan, jika manusia itu mempunyai penyakit.

Lihatlah para Sahabat Nabi saw! Di dalam keteladanan mereka tampak semua Nabi. Sesungguhnya Tuhan hanya menyukai perbuatan. Para sahabat telah mempersembahkan hidup mereka sebagai korban layaknya domba. Permisalan mereka ialah sistem para nabi yang telah dan sedang berlangsung dari semenjak Adam (yaitu, bentuk dan keagungan kenabian tampak dalam suatu bentuk. Sejarah agama kita telah berlangsung dalam sejarah agama kita sejak Adam ‘alaihis salaam). Tetapi para sahabat amat agung dan lebih cemerlang (artinya, mereka tidak menunjukkan tingginya keilmuan mereka saja melainkan menampakkan dengan terang dan agung hakikat keilmuan mereka dengan amal perbuatan mereka) “seolah-olah mereka menguraikan dengan perbuatan mereka apa yang disebut dengan kejujuran dan kesetiaan.”

Adapun Hadhrat Isa (Yesus), tidak ada yang berkeberatan mengenai apa yang telah terjadi pada beliau. Jika tidak ada yang menjual Musa, sementara murid Yesus telah menjual Yesus demi uang yang senilai tiga puluh dirham [30 keping perak/emas]. Terbukti dari Alquran bahwa para Hawari (murid dekat) Yesus mengeluh tentang kebenaran Yesus. Oleh karena itu mereka meminta al-maaidah (hidangan) ketika mereka berkata: وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا ‘supaya kami tahu (yakin) engkau telah berkata benar kepada kami..’ (Surah Al-Maa’idah 114). Dari hal ini, terungkap sebelum turunnya maaidah, mereka tidak naik ke keadaan ‘kami tahu’.”[12]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Tidak ditemukan perbandingan atas penindasan-penindasan yang pernah mereka alami,” (yaitu para sahabat), “tapi mereka sekelompok besar yang layak dihormati dan diteladani. Keyakinan mengalir pada hati mereka. Pada saat keyakinan tercipta pada diri seseorang maka pada awalnya dengan senang hati mengorbankan hartanya. Pada saat keyakinan mereka meningkat maka mereka akan rela hati mengorbankan jiwanya di jalan Allah.”[13]

Keyakinan mereka ini bertambah setiap saat dikarenakan kekuatan penyucian Nabi Muhammad saw. Urusan sehari-hari para sahabat ini menunjukkan pemandangan menakjubkan kecintaan mereka kepada Nabi saw. Mereka berusaha menemukan kesempatan untuk menunjukkan kecintaan mereka kepada Nabi.

Diriwayatkan mengenai Hadhrat Abdullah bin Amru radhiyAllahu ‘anhu beliau selalu berpikir untuk menunjukkan kecintaannya kepada Nabi (saw) dalam keadaan normal juga. Riwayat-riwayat mengisahkan bahwa beliau mengirimkan sesuatu makanan yang manis yang mereka buat di rumah kepada Nabi (saw) yang diantarkan oleh anaknya, Jabir. Ketika Jabir kembali ke rumah, Hadhrat Abdullah bertanya kepadanya: “Apakah Rasulullah berkata sesuatu?” Dia berkata: “Ya, beliau bersabda: ‘Apa yang Anda bawa ini, Jabir? Apakah daging?’”

Abdullah bin Amru berkata: “Sepertinya Rasulullah (saw) menginginkan daging.” Dia segera berdiri dan pergi ke hewan ternaknya lalu menyembelihnya. Kemudian, dia perintahkan untuk memasaknya dan kemudian dikirim ke Rasulullah saw. Beliau (saw) pun menerimanya dan mendoakannya dan keluarganya.[14]

Para sahabat sejak semula menghadapi banyak kesulitan dalam mengkomunikasikan Tabligh Islam ke keluarga mereka. Jika seorang anak masuk Islam, dia menghadapi banyak masalah karena ayahnya tidak masuk Islam bersamanya, dan jika dia seorang Muslim – pria atau wanita – dalam keluarga yang lemah, dia akan dianiaya atau ditolak oleh pihak keluarga yang kuat.

Putra Amr ibn al-Jamuh radhiyAllahu ‘anhu telah berbaiat sebelum ayahnya, yang adalah seorang politeis (musyrik). Ketika dia melihat ayahnya tidak menyadari kebenaran kepercayaannya, dia mengambil cara guna membuatnya mengerti yaitu mengambil berhala – yang telah diletakkan ayahnya di dalam rumah setelah dihias dan dipercantik – dan dia buang ke dalam lubang tempat orang membuang sampah mereka. Amr ibn al-Jamuh mencarinya dan membawa lagi patung itu ke rumahnya dan bersumpah untuk memberi hukuman bagi pelaku yang membuangnya.

Anak laki-lakinya melakukan lagi apa yang telah ia lakukan pada patung ayahnya keesokan harinya juga apa yang dia lakukan sebelumnya. Amr menemukan patung itu tergeletak di sebuah lubang, dan suatu hari Amr ibn al-Jumhouh membasuhinya, menghiasinya dan meletakkan pedang di leher patung berhalanya. Dia berkata kepada patung itu: “Saya tidak tahu siapa yang melakukan ini terhadapmu. Pedang ini ada bersamamu, berbuatlah sesuatu.”

Patung itu hilang lagi keesokan harinya hingga ditemukan setelah mencarinya di sebuah lupang yang digantung di leher anjing. Amr berpikir, “Berhala yang saya anggap Tuhan tidak bisa membela dirinya sendiri, bagaimana membela saya.”

Dan dia berkata kepadanya, “Jika engkau adalah Tuhan yang benar, engkau tidak akan tergantung di leher seekor anjing.”

Ia pun memuji Allah, Yang Maha Pemberi Rezeki dan Maha Adil. Perawi mengatakan Amr ibn al-Jamuh orang Anshar terakhir yang masuk Islam.[15]

Daya tarik cinta kasih Nabi (saw) bagi sahabat-sahabatnya menyebabkan terciptanya hubungan mereka dengan Tuhan sebagai hasil daya penyucian beliau saw. Selain itu, Tuhan kadang-kadang menurunkan karunia-karunia-Nya kepada mereka secara langsung atau melalui Nabi, namun yang menyebutkan juga dari itu isyarat status para Sahabat.

Hadhrat Ubay bin Ka’ab radhiyAllahu ‘anhu pun menempati kedudukan yang tinggi dalam hal hubungan yang spesial dengan Allah Ta’ala. Tertulis dalam riwayat Bukhari bahwa pada suatu kesempatan Rasulullah (saw) berkata kepadanya: إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أُقْرِئَكَ الْقُرْآنَ “Allah Ta’ala telah memberikan pesan padaku untuk membacakan Al-Quran ini kepadamu.” Rasulullah (saw) bersabda kepada para sahabat beliau bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan beliau untuk membacakan al-Quran tersebut kepada Hadhrat Ubay bin Kaab.

Hadhrat Ubay tercengang mendengar hal tersebut dan berkata: أَاللَّهُ سَمَّانِي لَكَ؟ “Allah Ta’ala menyebutkan nama saya kepada Anda?” Nabi menjawab, نَعَمْ “Iya.” Hadhrat Ubay bertanya lagi, وَقَدْ ذُكِرْتُ عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Apakah Tuhan Semesta Alam menyebutkan nama saya dan meminta Anda untuk membacakan al-Quran kepada saya?” Rasulullah (saw) menjawab: نَعَمْ فَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ “Ya, Dia menyebutkan namamu.” Beliau ra amat bersemangat. Nabi lalu membacakan ayat لَمْ يَكُنْ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ atau Surah al-Bayyinah kepadanya.[16]

Sesaat kemudian seseorag bertanya kepada Ubay bin Kaab, “Anda pasti senang mendengar hal ini,” beliau menjawab: “Jika Allah Ta’ala yang Maha Rahman dan Rahim menyebut seseorang yang dikehendaki-Nya, bagaimana mungkin saya tidak gembira.”[17]

Hadhrat Ubay bin Ka’ab mempunyai pemahaman sangat mendalam mengenai al-Quran. Pada satu kesempatan Rasulullah (saw) bertanya kepada beliau, — dan saya sudah menjelaskan tema tersebut pada khotbah sebelumnya kira-kira dua atau tiga Jumat yang lalu –, [beliau (saw) bertanya] آيَة هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ “Ayat al-Quran manakah yang harus dinyatakan sebagai ayat yang paling agung?” Beliau ra mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya (saw) yang lebih tahu.”

Setelah Nabi (saw) secara mendesak bertanya lagi, Ubay bin Ka’ab menjawab, هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ “Ayatul Kursi adalah salah satu ayat yang dapat dinyatakan salah satu dari ayat-ayat yang agung.” Rasulullah (saw) senang mendengarnya dan berkata: “Wahai Ubay! Semoga Allah Ta’ala memberkati ilmu engkau. Memang benar ayat teragung dalam Al-Qur’an ialah Ayatul Kursi.”[18]

Pada tahun ketika Nabi (saw) wafat, beliau (saw) juga mengajarkan (mendaraskan) bersama Hadhrat Ubay ra seluruh Al-Qur’anul Karim.[19] Pada masa Hadhrat Umar, dengan izin beliau (ra), Hadhrat Ubay bin Ka’ab mengajar orang-orang ilmu al-Quran serta tafsirnya.[20] Inilah biografi para sahabat yang terus saja maju dalam kerohanian sampai mereka mencapai kesempurnaan hingga ke puncak.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Sudah diketahui bahwa kemajuan terjadi secara bertahap, jadi itu terjadi pada para sahabat juga secara bertahap, namun hati para Nabi secara alami berdiri diatas simpati, dan tambahan dari itu, Nabi kita yang mulia adalah seorang yang padanya terdapat kumpulan semua kualitas, dan sifat simpati ini mencapai kesempurnaan.

Setelah menyaksikan para Sahabat, beliau (saw) menginginkan agar para sahabat mencapai kesempurnaan. Tapi ini ditentukan pada waktu tertentu. (maksudnya, bertahap) Para sahabat menemukan yang dunia belum pernah temukan, dan menyaksikan apa yang tidak dilihat oleh seorang pun.”[21]

Itulah [kisah] para sahabat Rasulullah (saw) yang taraf tingkatannya maju sedemikian rupa sehingga mereka meraih derajat yang paling tinggi.

Berkenaan dengan para sahabat Rasulullah (saw) tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Apabila seseorang memperhatikan dengan seksama (kehidupan) para sahabat Rasulullah (saw) tersebut, maka akan diketahui mereka adalah orang-orang yang sangat lurus. Sama halnya bejana yang menjadi bersih setelah digosok, begitupun qalbu mereka bersih yang dipenuhi dengan cahaya ilahi dan terbebas dari kotornya nafsu jasmani. Intinya, mereka ini merupakan perwujudan sejati ayat: قد أفلح من زكاها Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.”[22]

Kemudian beliau (as) bersabda: “Para sahabat telah menunjukkan kejujuran dan ketulusan sehingga mereka tidak hanya meninggalkan penyembahan berhala dan penyembahan makhluk saja (sanjungan kepada manusia dan memohon mereka juga semacam ibadah atau penyembahan), bahkan mencari dunia ini pun sebenarnya telah dirampas dari hati mereka, dan mulai senantiasa melihat Allah. Tiap orang dari mereka mengorbankan diri di jalan Allah dengan semangat dan kejujuran yang maksimal seakan-akan masing-masing dari mereka ialah Ibrahim…”[23]

Selanjutnya, beliau (as) bersabda, “Nabi (saw) berkedudukan sebagai satu tubuh dan para sahabat itu sebagai anggota-anggota tubuhnya.”[24]

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk benar-benar memahami kedudukan para sahabat sesuai haknya dan dengan mengamalkan keteladanan mereka, semoga Allah meningkatkan keikhlasan dan kesetiaan. Amiin!

[1] Malfuzhat jilid 5, h. 398-399, dengan catatan kaki, edisi 1985, terbitan UK.

[2] Asadul Ghabah, jilid 3, h. 46, Abbad ibn Bishr, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2003.

Al-Ishabah fi Tamyiizish Shahabah, jilid 3, h. 496, Abbad ibn Bishr, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2005.

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang kesyahidan, 2655

[4] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad terjemahan Urdu, jilid 4, h. 41, bab Nafis Academy, Karachi-Pakistan.

[5] Shahih Muslim Kitab al-Imarah, bab Tsubutil Jannati lisy Syahid menyebutkan seruan Sahabat Nabi (saw) bernama Haraam ibn Milham ra saat ditusuk tombak dari belakang atas perintah Amir ibn Thufail, sepupu Abu Barra’ Amir bin Malik, pemuka suku Bani Amir. Beliau anggota rombongan 70 orang sahabat pilihan, utusan kiriman Nabi (saw) kepada orang-orang Najd (Arab tengah, jarak perjalanan saat itu berhari-hari), dan saat itu sedang mengantarkan surat dari Nabi (saw) sementara anggota rombongan lain sedang transit di Bi’r Ma’unah. Pemuka mereka sendiri, Abu Barra’ yang meminta Nabi (saw) mengirim orang untuk mengajar mereka. Kabilah Bani Amir menaati pimpinan tertingginya untuk menjamin keamanan dan tidak menyerang rombongan Sahabat Nabi saw, namun sepupu Abu Barra, Amir ibn Thufail, berhasil mengajak kabilah tetangga, Bani Sulaim menyerbu rombongan sahabat itu. Dari 70 anggota rombongan, hanya dua yang selamat. Peristiwa ini terjadi pada 4 Hijriyah setelah perang Uhud.

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Maghazi, bab perang Raji’, no. 4091.

[7] Malfuzhat jilid 2, h. 308-309, dengan catatan kaki, edisi 1985, terbitan UK.

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab Jenazah, bab hal yakhruju minal qabri wal lahad, 1351

[9] Majma’uz Zawaaid, jilid 9, h. 389. 15756, manaqib Abdullah ibn Amru, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, Beirut, 2001

[10] Asadul Ghabah, jilid 7, h. 688, Amru ibn al-Jamuh, penerbit al-Mizan, nasyiran o tajiran kutub, Lahore.

[11] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Manaqib, bab Manaqib Abu Thalhah, 3811

[12] Surah al-Maaidah, 5:113-114: “Ingatlah ketika para hawari berkata, ‘Hai Isa ibnu Maryam adakah Tuhan engkau mampu menurunkan kepada kami hidangan dari langit?’

Berkata ia, ‘Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.’”

“Mereka berkata, ‘Kami ingin makan hidangan itu dan supaya hati kami tenteram dan supaya kami tahu (yakin) bahwa engkau telah berkata benar kepada kami dan supaya kami dapat menjadi saksi terhadapnya.’

[13] Malfuzhat jilid 5, h. 42, edisi 1985, terbitan UK.

[14] Al-Jaami’ li Syi’bil Iiman, jilid 8, h. 62, hadits 5503, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, 2003.

[15] Asadul Ghabah, jilid 7, h. 688, penerbit al-Mizan, nasyiran o tajiran kutub, Lahore.

[16] Shahih al-Bukhari, Kitab Tafsirul Qur’an, Bab kalla la-il lam yantahi, 4960

[17] Asadul Ghabah, jilid 1, h. 111, Ubay ibn Ka’b, penerbit al-Mizan, nasyiran o tajiran kutub, Lahore.

[18] Sunan Abi Daud, Kitab tentang Witr, bab ayat kursi, 1460

[19] Kanzul ‘Ummal, jilid 13, h. 266, hadits 36779, Muassasah ar-Risaalah, Beirut, 1985.

[20] Shahih al-Bukhari, Kitab Shalat Tarawih, Bab keutamaan menghidupkan Ramadhan, 2010

[21] Malfuzhat jilid 2, h.52, edisi 1985, terbitan UK

[22] Malfuzhat jilid 6, h. 15, edisi 1985, terbitan UK

[23] Malfuzhat jilid 6, h. 137, edisi 1985, terbitan UK

[24] Malfuzhat jilid 6, h. 279, edisi 1985, terbitan UK

(Visited 43 times, 1 visits today)