Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 24 Mei 2013 di Masjid an-Nur, Calgary, Kanada.

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ *

 وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ *

 وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ قُلْ لَا تُقْسِمُوا طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ *

 قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ *

 وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ *

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya perkataan orang-orang mu’min apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya supaya dia menghakimi di antara mereka itu ialah, mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat.” Dan mereka itu orang-orang yang berhasil (meraih tujuannya).

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang menang.

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka, bahwa jika engkau perintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan keluar segera. Katakanlah, “Janganlah bersumpah; apa yang dituntut dari kamu adalah taat kepada yang benar (beramal sesuai aturan Tuhan). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Katakanlah, “Taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul.” Maka jika kamu berpaling, maka ia bertanggung-jawab tentang apa yang dibebankan kepadanya, dan kamu bertanggung jawab tentang apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, kamu akan mendapat petunjuk. Dan tidaklah kewajiban Rasul melainkan menyampaikan secara jelas.

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal shaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia sukai bagi mereka; dan niscaya Dia akan menggantikan mereka sesudah ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka.

Dan dirikanlah shalat, dan bayarlah zakat, dan taatlah kepada Rasul supaya kamu mendapat rahmat.” (Surah An-Nuur [24] : 52-57)

Bagi para anggota Jemaat Ahmadiyah ada hari khusus yang datang di bulan Mei. Maksud saya 27 Mei, yang dikenal sebagai hari Khilafat dan dirayakan oleh Jemaat. Sehubungan dengan hal ini, meskipun itu masih tiga hari lagi, saya telah memilih untuk berbicara tentang topik ini hari ini. Sementara 26 Mei 1908 adalah hari yang menyayat hati bagi para anggota Jemaat Ahmadiyah, dan mengguncang keimanan banyak orang, dan menyebabkan kegelisahan di hati beberapa orang. Untuk pihak-pihak yang memusuhi Ahmadiyah itu adalah hari yang mereka gunakan untuk menimbulkan rasa sakit dan mencoba dan membuat para anggota Jemaat Ahmadiyah menderita.

 Dalam sejarah Ahmadiyah, ada peristiwa menyakitkan yang tercatat mengenai pernyataan dan tindakan pihak-pihak yang memusuhi Ahmadiyah, sehingga orang merasa heran ketika membacanya dan sulit membayangkan bahwa manusia dapat jatuh kedalam kondisi yang demikian rendah dan melibatkan diri dalam tindakan seperti yang mereka lakukan pada saat kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam.

Bagaimana mungkin perbuatan yang demikian diharapkan dari orang-orang yang menisbahkan diri mereka kepada Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diutus sebagai “رحمة للعالمين” – ‘rahmatan lil ‘aalamiin’ – rahmat bagi seluruh alam! Orang bertindak sesuai dengan sifat dasar mereka, tetapi pada 27 Mei 1908, kami melihat kekuasaan dan takdir Allah memanifestasikan dirinya, dan kami melihat Dia menyempurnakan janji-Nya.

 

Hari Pesan Perdamaian dan Keamanan Bagi Ahmadiyah

Tanggal 27 Mei datang menyampaikan pesan perdamaian dan keamanan bagi Jemaat Ahmadiyah. Hari ini datang membawa kabar gembira pemenuhan janji-janji yang telah Allah berikan berkenaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., dan hari ini datang menghanguskan pihak-pihak yang memusuhi Ahmadiyah dalam api kemarahan dan kekecewaan mereka sendiri, dan hari ini datang sebagai hari yang menghancurkan sukacita dan kebahagiaan palsu.

Pendeknya, tanggal 27 Mei bukan hari yang biasa untuk Jemaat Ahmadiyah. Ini adalah hari yang sangat penting (signifikan) dan kepentingan ini semakin bertambah lagi ketika kita melihat nubuatan Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Sebagian besar umat Muslim di dunia melihat Jemaat Ahmadiyah dengan penyesalan dan kebencian besar, bahkan kita bisa mengatakan mereka melihat kita dengan enggan dan iri yang membesar bahwa kita punya Khilafat yang tegak di antara kita. Mereka telah mencoba berkali-kali untuk mendirikan khilafah diantara mereka sendiri dan mereka terus mencoba, namun mereka selalu gagal dalam usaha ini. Hal demikian (kegagalan ini), ialah karena mereka telah mendurhakai perintah tegas (jelas) dari Hadhrat Rasulullah s.a.w..

Hadhrat Rasulullah s.a.w. telah bersabda bahwa ketika Masih Mau’ud dan Imam Mahdi muncul, mereka harus menanggung rasa sakit dan penderitaan macam apa pun yang mungkin diperlukan, dan pergi merangkak pada lutut mereka, di atas gunung es jika perlu[1], dan menyampaikan salam beliau s.a.w., salam damai kepadanya.[2]

Kemudian, sehubungan dengan hal ini, Rasulullah s.a.w. juga memberitahu semua orang mengenai tanda-tanda, bahwa jika mereka melihatnya sempurna, mereka harus menyadari bahwa orang yang membuat pendakwaan itu benar pendakwaannya. Tanda-tanda yang Rasulullah s.a.w. sebutkan keduanya, (tanda-tanda) samawi dan zamini (bumi), dan tanda-tanda itu sering disampaikan dalam pertemuan di antara Jemaat. Para anggota Jemaat juga terus menyampaikannya kepada orang-orang yang keberatan terhadap kita – tapi saya tidak akan menyampaikannya saat ini.

Kemalangan Besar Para Penentang Ahmadiyah

Akan tetapi perihal yang hendak saya sampaikan saat ini, adalah, penyebab kemalangan besar bagi mereka yang tidak beriman, bahwa karena alasan duniawi, atau karena takut pada ulama agama yang hanya nama, atau karena mereka tidak memperhatikan atau mengindahkan petunjuk-petunjuk dari Rasulullah saw, tidak hanya mereka tidak menerima orang yang mendakwakan diri sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, bahkan ada dari antara para Mulla (ulama) semakin bertambah dalam jenis intensitas permusuhannya, sampai-sampai pemerintah mereka telah menjadi begitu ketakutan terhadap mereka (para ulama) sehingga aparat pemerintahan yang dibawah pengaruh mereka berani menggunakan bahasa yang paling busuk dan penuh kebencian ketika mengacu pada wujud suci ini yang telah diutus oleh Allah. Tindakan mereka memang sedemikian memuakkan, dan mereka melakukannya, meskipun mengetahui bahwa zaman di mana kita hidup berteriak dan memberitahu siapa pun yang peduli, untuk mendengarkan bahwa ini adalah waktu bagi orang yang akan datang (Imam Mahdi) untuk benar-benar muncul. Allah telah menunjukkan semua tanda-tanda yang mendukung hal-hal ini dan terus menunjukkan tanda-tanda, tapi orang-orang ini masih saja terus menentang orang yang diutus oleh Allah.

Setelah setiap tindakan penentangan oleh para pihak yang memusuhi Ahmadiyah, Allah menghukum mereka dengan hukuman baru tapi pembangkangan dan keberanian mereka sedemikian rupa, sehingga mereka tidak mau menghentikan penentangan mereka. Jika ini bukan kemalangan besar mereka lalu apa ini, dan bisa kita sebut apa?

Bagaimanapun, seperti yang telah saya katakan, hari ini adalah sangat penting dan Rasulullah s.a.w. sendiri telah menyatakan hal ini dalam salah satu nubuatan beliau. Tanggal yang tepat tidak dinubuatkan, tapi jelas, dengan mengumumkan pengutusan orang yang akan datang, yang menjadi ‘Asyiq Shadiq’ beliau s.a.w. (orang yang larut dalam kecintaan terhadap Nabi saw dengan sebenar-benarnya), yang akan datang sebagai Al-Masih yang dijanjikan, dan kemudian setelahnya, beliau s.a.w. menyebut nubuatan tentang berdirinya Khilafat. Jadi apa yang lebih penting dari sesuatu yang Rasulullah s.a.w. sendiri harus membuat pengumuman mengenainya.

Kemunculan Kedua Kali Khilafat Berdasarkan Kenabian

Ada sebuah hadits Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Hadhrat Huzaifah r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kenabian akan tetap di antara kalian selama Allah menghendakinya. Kemudian Dia akan mengambilnya lalu khilaafah ‘ala minhajin nubuwwah (Khilafat berdasarkan kenabian) akan dimulai, dan kemudian, ketika Allah menghendaki, Dia akan mengambil karunia ini juga. Kemudian sesuai dengan Taqdir-Nya, kerajaan yang menggigit (menyakitkan dan mengesalkan) akan tegak, yang akan membuat orang sedih dan merasa terkekang dan kemudian ketika era ini akan berakhir, sesuai dengan Taqdir Tuhan selanjutnya, kerajaan yang lalim akan muncul, sampai datang gelora rahmat Allah dan Dia mengakhiri era tirani dan penindasan ini. Kemudian, Khilafat berdasarkan kenabian akan tegak lagi dan setelah mengatakan hal ini Rasulullah s.a.w. diam.” [3]

Jadi jelas dalam hadits ini, pertama Rasulullah s.a.w. berbicara tentang kenabian beliau sendiri, kemudian beliau berbicara tentang tegaknya Khilafat Rasyidah, yang akan bergerak maju berdasarkan minhaj (metode, cara-cara, perilaku, jalan lurus) nubuwwah (kenabian), dan dunia melihat dan menyaksikan bagaimana empat khalifah pertama, yang disebut sebagai Khilafat Rasyidah, jauh dari kemegahan dan kelengkapan kemewahan duniawi, dan mereka bekerja hanya dengan satu tujuan dalam pikiran, untuk mencapai ridha Allah Ta’ala, dan terus memperhatikan hal ini di setiap saat dan keadaan dalam menjalankan tanggungjawab Khilafat.

Kemudian bagaimana dalam corak huruf demi huruf setiap kata yang Rasulullah s.a.w. sabdakan pun terjadi, ketika beliau bersabda, akan ada masa ketika kerajaan berkuasa diantara kaum Muslim, pada satu waktu akan sedikit dan di lain waktu akan sangat parah dalam menindas (menyakiti) rakyat mereka.

Kerajaan tersebut berdiri setelah Khilaafat Rasyidah. Kata-kata yang disabdakan oleh Nabi pun telah sempurna. Jadi jika kita membaca sejarah kita melihat kata-kata Rasulullah s.a.w. menjadi sempurna dengan tegaknya Khilafat Rasyidah, dan kemudian kerajaan di mana sampai beberapa derajat keparahan kita melihat tirani dan pelanggaran berlangsung. Raja-raja yang datang lebih cenderung kepada hal-hal dunia dan materi daripada agama.

Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa, seperti yang selalu terjadi, Allah kembali dengan kasih-sayang pada makhluk-Nya, dan setelah periode panjang kegelapan, kasih sayang Allah akan turun dan mengakhiri era tirani dan pelanggaran, dan Khilafat berdasarkan pola kenabian akan kembali tegak, lalu beliau s.a.w. diam seperti yang dinyatakan dalam hadits.

Kaum Lain dari Antara Mereka dan Nabi Allah yang Bukan-Arab

Setiap orang dapat merenungkan hadits ini dan melihat sempurnanya nubuatan Rasulullah s.a.w. tentang Khilafat Rasyidah, kemudian kata-kata beliau menubuatkan datangnya mulkan ‘aadhdhan (kerajaan yang menyakiti dan mengekang), kemudian mulkan jabariyyatan (kerajaan pemaksa/tirani), juga sempurna. Jadi bagaimana bisa ada keraguan tentang bagian terakhir dari nubuatan beliau? Jadi, ketika semua tanda-tanda telah sempurna dan juga Allah menyatakan dalam Al-Quran: وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ — “Dan yang lain dari antara mereka yang belum bergabung dengan mereka. Dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.62:4). Dengan kata lain, Allah akan mengatur lagi hal-hal untuk terwujudnya Khilafat mengikuti jalur kenabian. Allah Ta’ala, berfirman, وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ringkasnya, ketika Kebijaksanaan Allah Ta’ala yang meliputi semuanya telah menetapkan, dan ketika kasihsayang-Nya bergejolak, umat Islam dibebaskan dari kerajaan yang zalim lalu Khilafat mengikuti pola kenabian berdiri seperti yang Dia diinginkan, dan Dia telah melakukan demikian.

Oleh karena itu, kita para Ahmadi beruntung karena kita menjadi saksi kebenaran bagian pertama nubuatan Rasulullah s.a.w. dan meyakininya, dan telah melihatnya sempurna, dan kita orang-orang yang juga percaya pada bagian terakhir dari nubuatan beliau. Kita yakin sepenuhnya bahwa nubuatan beliau bagian ini juga telah sempurna.

Ada hadits lain dari Rasulullah s.a.w. yang berkaitan dengan ayat dari Surah Al-Jumu’ah – “Dan yang lain dari antara mereka yang belum bergabung dengan mereka. Dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.62:4), Dengan memperhatikan firman Allah ini, dan memperhatikan kondisi dunia dan setelah melihat semua tanda yang telah nampak, kami telah beriman pada Imam Zaman yang telah datang. Dalam salah satu sabda beliau, Rasulullah s.a.w. menyebut Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai, “نبي الله” “nabiyullah,” dan Rasul Allah.[4] Kemudian Rasulullah s.a.w. juga bersabda bahwa “antara aku dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tidak ada nabi”.[5] Kemudian sesuai dengan ayat wa aakhariina minhum, Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa orang yang akan dibangkitkan di Akhir Zaman akan menjadi seperti kedatangan beliau sendiri ke dunia. Dengan kata lain, orang yang akan datang, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. akan benar-benar tenggelam dalam kecintaannya kepada Hadhrat Rasulullah saw, sehingga ia akan menjadi – seperti yang terjadi – cerminan (bayangan) beliau s.a.w., dan dengan demikian ia akan mencapai gelar nabi setelah dikirim ke dunia.

Ketika menjelaskan ayat dari Surah Al-Jumu’ah ini, Rasulullah s.a.w. telah menempatkan tangan beliau di bahu Hadhrat Salman Farsi r.a. dan bersabda, bahwa orang yang akan datang di Akhir Zaman adalah di antara orang-orang ini (Salman Al-Farisi) dan merupakan non-Arab.

Rasulullah s.a.w. juga memberitahu kepada kita tanda yang menceritakan hilangnya iman dan iman diangkat ke langit terjauh. Ini adalah tanda zaman bahwa ulama ini, ulama Islam, maulwi, juga menerima dan mereka mengakui bahwa masa ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyatakan pendakwaan beliau, kondisi keimanan kaum Muslimin sangat miskin seakan-akan iman telah terangkat dari bumi.

Jadi mereka semua melihat bahwa semua tanda-tanda telah sempurna. Dan tanda-tanda yang telah sempurna memberitahu kita bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang akan datang memang telah datang pada waktu yang ditentukan. [6]

Puncak Tertinggi Khilafat dan Masa Keberadaannya

Di sini, saya juga ingin menjelaskan, bahwa karena Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjadi Khaatamul Khulafa, beliau mencapai puncak tertinggi Khilafat mengikuti jalur kenabian, atau kita dapat mengatakan bahwa beliau dianugerahkan puncak tertinggi Khilafat berdasarkan pola kenabian, dan karena beliau adalah Al-Masih yang dijanjikan a.s. dan dalam menyempurnakan kata-kata Rasulullah benar-benar tenggelam dalam kecintaan kepada Rasulullah s.a.w., beliau a.s juga dianugerahkan kenabian zhilli.

Dengan demikian sistem Khilafat yang dimulai dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebenarnya merupakan kelanjutan dari pola kenabian Rasulullah s.a.w.. Dan pekerjaan yang harus dilakukan oleh Khilafat ini adalah untuk memastikan bahwa perintah-perintah Al-Quran diikuti oleh umat Muslim, serta hak dan kewajiban yang harus diberikan kepada Allah dan makhluk-Nya dipenuhi dan dilaksanakan oleh umat Muslim. Dan dengan menjadikan sunnah Rasulullah sebagai teladan kita, memastikan bahwa itu dijalankan dan Jemaat ini didorong untuk bertindak sesuai dengan itu.

Jadi Khilafat Ahmadiyah merupakan kelanjutan dari Khilafat Rasyidah dalam periode kebangkitan kembali Islam di Akhir Zaman ini. Berkenaan dengan periode pertama Islam, dan setelah mengetahui dari Allah, Rasulullah s.a.w. telah mengumumkan bahwa Khilafat Rasyidah akan berakhir setelah jangka waktu tertentu. Tetapi sehubungan dengan Khilafat yang akan dimulai pada kebangkitan Islam di Akhir Zaman, beliau telah diberi kabar suka dari Allah bahwa Khilafat ini akan tetap selamanya.

Tetapi kepada siapa kabar suka ini diberikan? tentu saja kabar baik ini diberikan dan akan menjadi kenyataan untuk orang-orang yang memberikan hak-hak Khilafat. Mereka yang berjalan di jalan ketakwaan, dan melakukan perbuatan baik, dan mereka yang terus menyempurnakan ibadah mereka.

“Cabang Kering” Dipangkas Muncul “Cabang Hijau”

Ada banyak orang yang masuk Jemaat Ahmadiyah, tetapi karena mereka adalah orang-orang yang gagal memenuhi kewajiban mereka kepada Khilafat Ahmadiyah, sehingga ketetapan Allah menyebabkan mereka memisahkan diri dari Jemaat Ahmadiyah. Demi kekhawatiran dan keinginan duniawi, mereka terpisah dari Jemaat, atau mereka sendiri mengumumkan memisahkan diri dari Jemaat.

Tetapi apakah tingkat kemajuan Jemaat pernah menderita kerugian karena dari orang-orang seperti ini memisahkan diri dari Jemaat ini? Apakah hambatan pernah muncul di jalan kita dengan hal-hal seperti itu? Tidak.

Ketika orang seperti ini pergi, Allah justru menganugerahkan banyak orang kepada kita. Ketika cabang-cabang kering dipotong atau dipangkas, cabang yang hijau dan hidup tumbuh dalam ukuran yang lebih besar sebagai hasilnya.

Jadi karena ini adalah janji Allah bahwa sistem Khilafat pasti berlanjut, maka Allah sendiri telah melakukan tugas pemangkasan dan penyiangan. Tidak mungkin Allah Ta’ala tidak memperhatikan dan gagal memenuhi nubuatan yang dibuat oleh manusia yang paling dicintai dan disayangi-Nya. Sudah pasti nubuatan ini telah sempurna dan akan terus sempurna.

Ya, memang benar bahwa dalam saat-saat seperti ini orang-orang lemah iman dan penentang Ahmadiyah mulai berpikir bahwa sekarang Ahmadiyah akan menemui ajalnya, tetapi tanda-tanda pertolongan Allah datang dan mengeluarkan Jemaat dari setiap masa-masa sulit. Masa yang paling menyayat hati yang menimpa Jemaat tentu saja ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. wafat.

Al-Wasiyat tentang Khilafat Sebagai “Kudrat Kedua”

Musuh-musuh gembira dan anggota Jemaat yang dalam keadaan ketakutan, tetapi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mempersiapkan Jemaat untuk ini beberapa waktu sebelumnya dengan mengatakan kepada mereka, Allah telah memberitahu beliau berulang kali bahwa waktu kematian beliau sudah dekat. Tetapi beliau mengatakan bahwa ini bukan alasan untuk khawatir atau putus asa.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis semua ini dalam buku beliau, “Al-Wasiyat.” Dan di mana beliau menulis — beliau akan segera pergi dari dunia ini –beliau juga menata metodologi keruhanian, keuangan, dan operasional Jemaat serta memberitahu semua orang bahwa Jemaat memang akan tegak dan terus ada selamanya.

Beliau memberitahu para anggota Jemaat bahwa mereka tidak perlu khawatir, karena Allah telah berjanji kepada beliau bahwa Dia akan menjadikan Jemaat terus berkembang, karena ini adalah Jemaat, yang tentang kemajuannya, Rasulullah s.a.w. telah memberikan kabar suka, dan ini adalah Jemaat yang telah beliau sabdakan bahwa di dalamnya Khilafah akan didirikan kembali di Akhir Zaman.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis: “Tuhan berfirman kepadaku, bahwa beberapa kejadian akan lahir dan beberapa bala bencana akan turun ke bumi ini. sebagiannya akan lahir (muncul) di masa hidupku dan sebagian lagi sepeninggalanku. Dia akan memberi kemajuan sempurna kepada Silsilah (Jemaat) ini, sebagian melalui [perantaraan] tanganku dan sebagian lagi kemudian setelah aku tiada” [7]

Beliau selanjutnya bersabda: “Walhasil, Dia (“Allah Ta’ala”) memperlihatkan dua macam Kudrat (Kekuasaan); Pertama (1) Dia memperlihatkan Tangan Kudrat-Nya di tangan para nabi-Nya sendiri. (2) Kedua, di waktu sepeninggal (setelah kewafatan] nabi, kesukaran-kesukaran pun muncul, dan musuh merasa lebih kuat dan berpikir bahwa keadaan (Jemaat) berantakan dan yakin bahwa sekarang Jemaat ini akan musnah, dan bahkan sebagian anggota Jemaat juga, berada dalam kebingungan dan punggung mereka patah (putus harapan), dan beberapa yang malang memilih jalur yang mengarah pada kemurtadan. Dalam keadaan demikian Allah Ta’ala untuk kedua kali menujukkan kudrat-Nya yang amat kuat, dan Jemaat yang hampir akan roboh itu disambut-Nya kembali.”

Beliau lebih lanjut bersabda: “…adalah penting bagi kamu untuk menyaksikan Manifestasi (penzahiran) kudrat kedua juga, dan kedatangannya lebih baik bagi kamu karena ia kekal, kelangsungannya tidak akan berakhir sampai hari kiamat. Dan Manifestasi kedua tidak bisa datang kecuali aku pergi.”[8]

Beliau bersabda, “Akan tetapi bila aku pergi, maka Tuhan akan mengirim kudrat kedua itu kepadamu, yang akan tinggal bersama kamu selama-lamanya; sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam “Barahin Ahmadiyah”. Janji itu bukan untuk aku, melainkan untuk kamu, seperti firman Tuhan: “Aku akan memberi kepada Jemaat ini. Yaitu pengikut-pengikut engkau kemenangan di atas golongan-golongan lain sampai sampai hari kiamat.[9]

Sempurnanya Janji dan Dukungan Allah Ta’ala

Jadi dengan karunia Allah Ta’ala, selama 105 tahun terakhir kita telah melihat Allah menyempurnakan janji-Nya ini. Jemaat melalui semua jenis periode kesulitan, tetapi dengan karunia Allah, Jemaat terus bergerak maju dengan kecepatan yang sangat besar di sepanjang jalan keberhasilan dan prestasi.

Jika musuh mencoba untuk memaksakan pada Jemaat masa tirani dan kebrutalan di satu negara, Allah membalasnya dengan membuka untuk Jemaat, di negara lain jalan-jalan dan sarana yang luar biasa untuk kemajuan. Tetapi tidak hanya itu, bahkan di negara di mana kesulitan diciptakan untuk kita, di sana juga Allah terus memperkuat iman para anggota Jemaat. Dan kemudian, ketika saya melihat ini dan mengalaminya secara pribadi, bahwa meskipun dengan semua kelemahan saya, bagaimana Allah Ta’ala, memberi taufik kepada Jemaat untuk terus maju ke depan di jalan besar dan luas keberhasilan dan prestasi, keimanan saya semakin meningkat kepada Allah, dan keyakinan pada janji-Nya terus menjadi lebih sempurna dan lengkap.

Tentu saja tangan tak terlihat Allah-lah yang terus mendorong Jemaat maju lebih jauh. Dan siapapun yang Allah jadikan Khalifah, terlepas dari bagaimanapun mungkin kondisi orang itu, Ia akan terus memberikan kepadanya pertolongan dan dukungan-Nya. Insya-Allah!

Allah menunjukkan dukungan praktek dan nyata serta Tanda-tanda-Nya dengan segera pada saat berdirinya Khilafat-e-Khaamisah – khalifah kelima Hadhrat Masih Mau’ud a.s. – dan menjadikannya jelas bagi semua untuk melihat bahwa nubuatan Rasulullah s.a.w. dan pernyataan pencinta sejati beliau, Hadhrat Masih Mau’ud, adalah Keputusan Ilahi bahwa Khilafat dalam kebangkitan Kedua Islam di Akhir Zaman akan berlangsung selamanya, dan bahwa sistem ini akan terus berjalan di masa depan juga. Insya-Allah!

Karakteristik Orang-orang yang Mendapatkan Manfaat dari Berkah Khilafat

Tetapi kita perlu ingat kenyataan, bahwa Allah telah menyebutkan beberapa karakteristik orang-orang yang bisa mendapatkan manfaat dari berkah Khilafat. Allah telah memberikan gambaran lengkap semua hal ini dalam ayat-ayat Al-Quran yang saya tilawatkan dan orang yang ingin menarik manfaat dari berkah Khilafat perlu memenuhi persyaratan ini.

Allah Ta’ala, mengatakan, “Jawaban orang-orang beriman, ketika mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar dia bisa menghakimi di antara mereka, adalah mereka berkata: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ‘Kami mendengar dan kami taat .’”( QS.24:52). Tuhan berfirman, “Inilah orang-orang yang akan mencapai kesuksesan.” (QS.24:52) Merekalah yang akan mencapai kesuksesan.

Jadi kita dapat melihat bahwa di sini pembahasannya bukan hanya ibadah khusus dan melaksanakan beberapa ritual keagamaan, melainkan seperti dinyatakan oleh Al-Quran, bahwa sementara di satu sisi rincian tugas dan kewajiban seseorang kepada Tuhan, dijelaskan juga semua tugas dan kewajiban seseorang kepada makhluk Allah.

Al-Quran menjabarkan juga sistem sosial dan sistem pemerintahan. Al-Quran menyediakan sistem lengkap untuk mengatur semua aspek kehidupan manusia. Jadi di sini juga ada peringatan bagi orang-orang yang membawa sengketa dan urusan duniawi di depan pengadilan negeri, meskipun ada sistem dalam Jemaat, dimana dilakukan usaha untuk menyelesaikan sengketa ini dan membuat seluruh urusan mereka didasarkan pada syariah dan ajaran Al-Quran – terutama urusan yang berhubungan dengan perselisihan keluarga dan sengketa yang melibatkan suami dan istri.

Ada hal-hal lain yang serupa juga dan niat buruk orang-orang seperti ini menjadi nyata ketika pada awalnya mereka menolak untuk menggunakan sistem Jemaat dan justru pergi ke pengadilan negara. Tetapi jika kasus mereka kalah atau mereka gagal mendapatkan apa yang mereka harapkan dari pengadilan di negara ini, maka mereka kembali, ingin menyampaikan kasus mereka dalam sistem Jemaat. Ini adalah hal-hal yang memanifestasikan kelemahan iman orang-orang seperti ini. Allah Ta’ala, berfirman bahwa seorang mu’min, seorang mu’min sejati, adalah orang yang menyelesaikan urusannya sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan sistem Jemaat memang memang berusaha, dan harus berusaha, supaya keputusan mereka harus sesuai dan berdasarkan keputusan Allah dan keputusan Rasul-Nya.

Peringatan kepada Para “Pengambil Keputusan

Di sini juga saya ingin memperingatkan bagian dari sistem Jemaat yang tidak memberikan perhatian yang diperlukan untuk melihat secara mendalam urusan yang diserahkan kepada mereka untuk diputuskan, dan mereka gagal untuk membuat keputusan sesuai dengan tuntutan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang seperti ini melakukan dosa dan menjadi penyebab menjauhkan orang dari sistem Jemaat dan juga dari Khilafat.

Allah telah menjadikannya tugas Khilafat untuk memberikan keputusan dalam konflik antara orang-orang berdasarkan keadilan. Saat ini Jemaat telah berkembang sedemikian rupa oleh karunia Allah sehingga tidak mungkin bagi Khalifah untuk mencapai setiap tempat dan melibatkan dirinya secara pribadi dalam setiap keputusan. Dan karena Jemaat akan terus maju, kesulitan semacam ini akan terus tumbuh. Para pemegang jabatan yang telah ditunjuk untuk tujuan memberikan keputusan ini dan menyelesaikan perselisihan ini, jika mereka tidak melakukan tugas mereka dengan memperhatikan rasa takut kepada Allah dan berdasarkan tuntutan ketakwaan, mereka juga akan menyeret Khalifah-e-waqt ke dalam kehinaan dan berdosa di hadapan Allah, dan juga menjadikan Khalifah-e-waqt orang berdosa di hadapan-Nya.

Jadi saya menasihatkan terutama Qadi dan para pengurus dan Amir yang diberi tugas untuk membuat keputusan, bahwa mereka harus berpegang teguh pada tuntutan keadilan dan dengan demikian menjadi sarana menguatkan lembaga Khilafat, dan mereka harus berusaha sepenuhnya untuk melakukan hal ini dan mencapai hal ini. Jika tidak, mereka akan menjadi orang-orang yang — walaupun menjadi pengurus — namun akan menjadi penyebab akar lembaga Khilafat berlubang.

Jadi, ya, Allah telah menyatakan orang yang berusaha melakukan semua yang mereka bisa murni demi Allah, dan berusaha melaksanakan dan memenuhi perintah sistem Jemaat serta arahan dari Khalifah untuk meraih keridhaan Allah, sebagai orang yang sukses.

Tetapi saya juga meminta kepada semua orang yang diberi tugas untuk membuat keputusan, termasuk Amir dan Qadi, saya berkata kepada mereka semua, bahwa kalian juga harus bekerja sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka hendaknya tidak melakukan hal-hal yang akan menjauhkan kalian dari tuntutan keadilan, dan yang dapat jauh dari tuntutan ketakwaan. Berusahalah sekemampuan kalian untuk memenuhi tuntutan sebagai wakil dari Khalifah-e-waqt.

Jika kalian tidak melakukan ini, pasti akan datang waktunya ketika kalian akan ditangkap, dan selain dari tindakan duniawi yang akan dilakukan terhadap kalian, yang tentu saja akan terjadi, tetapi kalian juga harus menghadapi hukuman Allah. Ini adalah hal yang sangat menakutkan bagi setiap pengurus untuk direnungkan, dan ini perlu diingat. Menjadi pengurus tidak hanya berarti menempati kantor, itu berarti meminta tanggung jawab yang sangat besar.

Kewajiban Melaksanakan Ketentuan Al-Quran Berkenaan Busana Muslimah (Hijab atau Pardah)

 

Kemudian Allah Ta’ala, berfirman bahwa jika kalian mengaku beriman kepada Allah, dan mendakwakan beriman kepada Rasul-Nya, dan mendakwakan telah menerima dan telah menyatakan beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., dan jika kalian mendakwakan mengutamakan tuntutan agama di atas semua kekhawatiran duniawi, maka kalian harus mematuhi setiap perintah dan keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Apapun yang Imam Zaman beritahukan kepada kalian untuk melakukannya, kalian harus melaksanakannya. Dan kalian harus mengikuti semua petunjuk yang diberikan kepada kalian oleh Khalifah-e-waqt. Dan jika kalian tidak melakukan ini, janji kalian dan membuat pernyataan besar bahwa kalian akan melakukan ini dan itu, akan menjadi tidak berarti. Allah mengetahui kondisi hati kalian. Dia tahu betul apa yang kalian katakan dan apa yang kalian lakukan.

Pada setiap Ijtima, bersama-sama kita bersumpah (janji-setia) bahwa kita akan menganggap itu tugas kita, melaksanakan hal baik apa pun yang Khalifah-e-waqt minta kita untuk melakukan,sebagai kewajiban kita, namun kita gagal untuk mematuhi dan melaksanakan beberapa hal yang sangat kecil sekalipun – lebih dari itu, kita gagal melakukan upaya untuk menjalankan beberapa petunjuk yang terkandung dalam Al-Quran dan tidak berusaha untuk memenuhi atau mencapai standar minimum yang diminta.

Saya akan memberikan contoh. Di sini, kami baru saja mengadakan Jalsah West Coast (Pantai Barat Amerika Serikat) dan meskipun mungkin ada hal lain yang akan muncul di pikiran untuk saya sampaikan nanti, untuk saat ini, contoh dari para perempuan ada di depan saya. saya telah menarik perhatian mereka pada fakta bahwa semua perempuan kita harus mengenakan pakaian yang sederhana dan bermartabat, dan bahwa mereka harus mengenakan hijab dan harus menutupi diri mereka.

Ini adalah perintah Al-Quran. Ini bukan perintah biasa. Al-Qur’an secara tegas memberikan perintah ini. Dan itu harus dilaksanakan. Tetapi setelah beberapa waktu saya mengamati bahwa tidak ada perhatian kepada hal ini, dan beberapa perempuan — yang mungkin telah dipaksa untuk memakai penutup kepala oleh para pengurus Lajnah — hanya meninggalkan burqah mereka di masjid ketika pergi (dari Jalsah) dan para petugas kebersihan yang mengumpulkannya. Memang benar bahwa Islam telah mengarahkan perhatian pria dan perempuan untuk memperhatikan kesopanan tetapi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. secara khusus telah mengarahkan perempuan untuk memperhatikan diri dalam hal ini, karena penampilan pria tidak mengundang perhatian.[10]

Dan perintah ini telah diberikan untuk kemajuan keduanya, baik pria maupun perempuan. Tidak diperlukan biaya yang luar biasa untuk mengamalkan perintah ini, juga tidak diperlukan upaya berat untuk melaksanakannya; tetapi karena materialisme dan ketakutan duniawi lebih dominan dalam pemikiran orang sehingga mereka tidak memperhatikan hal ini.

Jadi Allah Ta’ala, berfirman bahwa jika kalian mengikuti perintah tersebut dan melakukan perbuatan yang diminta maka kalian akan mencapai kesuksesan. Dan jika kalian gagal untuk melakukan hal-hal yang diminta dari kalian, maka Allah Ta’ala berfirman bahwa “Ketahuilah bahwa tugas nabi hanyalah menyampaikan pesan dan menyampaikannya dengan cara yang sangat jelas.”

Jika kalian menjalankan perintah tersebut maka kalian akan termasuk di antara orang-orang yang mendapat petunjuk, dan termasuk di antara orang-orang yang telah memenuhi persyaratan setelah mengambil baiat, dan jika tidak, maka Allah Mengetahui segala sesuatu. Jangan hanya karena kalian telah menjadi seorang Ahmadi atau telah lahir di keluarga Ahmadi. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga mengatakan : “Baiat kepada saya tidak akan memberi manfaat apapun bagi kalian selama kalian tidak menyertainya dengan amal saleh (perbuatan baik).”[11]

Peringatan Bagi Para Pengurus yang Lalai Mengerjakan Shalat ketika Berada di Rumah

 

Kemudian, mengerjakan shalat adalah perintah Ilahi yang pokok yang telah dinyatakan sebagai alasan bagi penciptaan manusia. Tetapi meski demikian dalam hal ini juga, pengurus kita yang sangat senior, memperlihatkan kemalasan yang besar. Ada beberapa pengurus yang ketika mereka berada di luar rumah, dapat dilihat sangat aktif dan melakukan pekerjaan yang besar, dan ketika mereka datang ke sini mereka mengerjakan shalat juga dan dengan khusyuk dan rasa takut yang nampak kepada Tuhan, tetapi istri-istri mereka menginformasikan bahwa mereka tidak mengerjakan shalat ketika mereka berada di rumah. Jadi, ketika perintah Allah yang sangat penting dan mendasar tidak dipenuhi, tidak dikerjakan, maka pernyataan, “kami akan melakukan ini atau itu” sama sekali tidak berguna.

Pertama-tama perlu bahwa kalian memperbaiki kondisi pribadi kalian sendiri, dan kemudian ketika kalian menjadi orang yang menjalankan setiap perintah Allah, dan kalian melakukan upaya khusus untuk meraih keridhaan Allah barulah seorang Ahmadi dapat disebut seseorang yang memenuhi tuntutan سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا “kami mendengar dan kami taat”, barulah kemudian ia dapat dianggap sebagai mu’min sejati, dan ketika hal ini tercapai dan setelah beriman, orang terus membuat kemajuan dalam tingkat keimanannya, dan membayar perhatian terhadap melakukan perbuatan baik maka orang tersebut menjadi layak mendapat manfaat dari karunia Khilafat.

Makna dan Kondisi Keamanan Dalam Khilafat

 

Dengan kata lain, Allah telah membuat janji ini dengan orang-orang yang seperti ini, atau kita dapat mengatakan bahwa orang-orang ini saja yang akan mendapat manfaat dari sistem Khilafat, dan orang-orang ini akan mendapatkan keselamatan, perdamaian dan keamanan, serta rasa takut orang-orang ini akan diganti dengan perdamaian dan keamanan. Yakni, orang yang beriman dan melakukan perbuatan baik serta memenuhi tuntutan ibadah dan siapa yang menjauhi segala macam syirik, atau menyekutukan sesuatu dengan Allah dan siapa yang bersyukur untuk berkat besar dan karunia Allah ini yang telah diberikan kepada mereka dalam bentuk Khilafat.

Seperti yang saya katakan, Allah Ta’ala telah memulai sistem Khilafat ini dalam Ahmadiyah dan sistem ini tidak dapat dimulai di tempat lain. Para Ahmadi sungguh beruntung karena dengan menerima Hadhrat Masih Mau’ud a.s., mereka telah diberkati dengan karunia Khilafat. Jadi selalulah ingat bahwa janji yang telah Allah berikan itu bersyarat. Hal ini tergantung pada hal-hal tertentu. Dan bila syarat-syarat tersebut terpenuhi maka dengan karunia Allah keamanan juga akan diberikan dan keadaan takut akan diubah menjadi perdamaian, dan para anggota Jemaat telah mengalami hal ini berkali-kali.

Memang, di saat-saat ini, bahkan orang-orang ghair Ahmadi telah melihat dan merasakan bagaimana Allah mengatur untuk keamanan dan keselamatan para Ahmadi. Saya telah menyebutkan hal ini beberapa kali di masa lalu. Kondisi yang berlaku di antara Ahmadi sebelum pemilihan Khalifah kelima dilaksanakan, itu dirasakan oleh orang-orang ghair Ahmadi juga dan beberapa di antara mereka duduk menunggu untuk melihat Jemaat akan jatuh dalam keadaan menyedihkan seperti apa.

Namun Allah Ta’ala, memenuhi janji yang telah Dia berikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s, dengan cara yang sedemikian rupa indah, sehingga dunia terkagum-kagum, dan melalui MTA, orang-orang ghair Ahmadi juga menyaksikan [menonton] betapa luar biasa dan nyata, keadaan ketakutan berubah menjadi kedamaian dan kepuasan.

Seorang pemimpin ghair Ahmadi yang cukup terkenal, teman dari seorang Ahmadi, mengatakan bahwa, “Meskipun saya tidak percaya bahwa kalian benar, namun saya percaya, setelah menyaksikan seluruh urusan ini, bahwa ketetapan praktis dan nyata Allah dan dukungan-Nya menyertai kalian.” Jadi ada juga orang-orang yang meskipun menyaksikan semuanya masih bersikeras teguh pada kelalaian dan keras kepala mereka.

Gelombang tirani yang bertiup di Pakistan dewasa ini adalah ekspresi dari kenyataan bahwa para Ahmadi terus bertambah serta maju, dan mereka melihat bidang kesuksesan kita semakin berkembang setiap hari, dan semua upaya mereka untuk menghabisi kita tidak pernah berhasil. Mereka terus mencoba mencari tahu bagaimana mereka harus berupaya menghancurkan kita?

Tetapi saya katakan kepada orang-orang itu: Hai musuh-musuh Ahmadiyah! Ingatlah bahwa Tuhan kami, Sahabat kami, adalah Tuhan Yang merupakan Pemilik Semua Kekuatan. Dia tidak akan pernah membiarkan kalian berhasil. Kemajuan Islam sekarang ditakdirkan untuk terjadi melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Bendera Islam Rasulullah s.a.w. sekarang akan ditinggikan di dunia melalui hamba-hamba Hadhrat Masih Mau’ud a.s., bendera ini sekarang akan ditinggikan di dunia oleh orang-orang yang memiliki keyakinan yang teguh pada Khilafat yang mengikuti jalan kenabian, mereka yang terikat pada Khilafat, yang telah menjadi manik-manik dari kalung tersebut, yakni Jemaat Ahmadiyah telah memegang teguh tali Allah.

Jadi tidak ada usaha kalian, dan tidak ada kelakuan buruk atau serangan yang kalian lakukan, bahkan jika itu dibantu oleh pemerintahan dunia, tidak akan mampu menghentikan Khilafat Ahmadiyah dari mencapai tujuannya, tidak pula upaya tersebut akan dapat menghentikan kemajuan Jemaat Ahmadiyya.

Para anggota Jemaat juga harus ingat, bahwa seperti yang saya katakan, mengikuti jalan ketakwaan, mendirikan shalat, dan maju dalam pengorbanan keuangan akan memberi taufik kepada mereka untuk terus mendapatkan manfaat dari karunia Khilafat. Jadi adalah tugas setiap orang supaya ia melakukan upaya penuh sehingga dengan rahmat dan rahmat Allah, ia dapat mengambil bagian besar dari karunia tersebut.

 

Sabda-sabda Mengenai Ketakwaan dan Keterlibatan Ruhul Qudus

Sekarang saya akan membaca beberapa kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang beliau tulis bagi mereka yang tetap terikat dengan Khilafat, atau Jemaat, atau yang mendapatkan manfaat dari karunia Khilafat dan meraih keridhaan Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Dan hendaknya kalian juga harus mengambil bagian dari Ruhul Kudus itu untuk berkasihsayang kepada sesama makhluk dan untuk membersihkan jiwa kalian. Sebab takwa yang sejati tidak akan tercapai tanpa Ruhul Kudus. Ambillah jalan keridhaan Tuhan sampai meninggalkan kehendak-kehendak nafsu, yaitu jalan yang tidak ada yang lebih sempit dari jalan itu.

Jangan kalian mabuk oleh kelezatan dunia, karena semuanya akan menjauhkan dari Tuhan. Terimalah penghidupan pahit karena Tuhan. Kesukaran yang karenanya Tuhan suka itu lebih baik dari kemenangan yang menyebabkan kemurkaan Ilahi itu. Buanglah kecintaan yang mendekatkan kemarahan Tuhan itu. Kalau kalian datang kepada-Nya dengan hati bersih, niscaya di tiap jalan kalian akan ditolong-Nya. Dan tak seorang musuh pun yang dapat merusakkan kalian.

 Sekali-kali kalian tak akan dapat mencapai keridhaan Tuhan sebelum kalian meninggalkan kemauan kalian, kesenangan kalian, kehormatan kalian, harta-benda kalian, jiwa kalian, serta menanggung segala kepahitan di jalan-Nya, yang hampir-hampir menyerupai kematian. Akan tetapi kalau kepahitan itu kalian tanggung, maka laksana seorang kanak-kanak yang disayangi, kamu akan berada dalam pangkuan Tuhan. Dan kalian akan jadi pewaris orang-orang suci yang telah berlalu sebelum kalian. Segala pintu nikmat akan terbuka bagi kamu, tetapi amat sedikit orang yang demikian itu.

Tuhan berfirman kepadaku bahwa: Takwa adalah sebuah pohon yang harus ditanam di dalam hati. Air yang mengalir dari takwa, dialah yang dapat menyirami seluruh kebun. Takwa adalah urat tunggal (akar), kalau ini tidak ada semua akan percuma; dan kalau ini ada, semuanya pun ada. Hanya bicara saja, apa faedahnya bagi manusia; di mulut ia mengaku hendak mencari Tuhan tetapi langkahnya tidak benar. Cobalah! Aku benar-benar berkata kepada kalian; celakalah orang yang mencampur-baur keduniaan dengan agama, dan neraka amat dekat kepada orang yang semua maksudnya (tujuannya) bukan karena Allah, malah sebagian karena Allah dan sebagian untuk dunia. Jadi kalau dalam cita-cita kalian itu ada tercampur sedikit saja oleh keduniaan, maka semua ibadah kalian percuma.” [12]

Yang Terpilih dan Terbukanya Pintu Qurb kepada Tuhan

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Akan tetapi kalau sebenar-benarnya kalian telah mati dari nafsu kalian, ketika itu barulah kalian akan zahir dalam Tuhan dan Tuhan akan ada bersama kalian. Dan rumah tempat kalian tinggal akan diberkati. Dan ke atas dinding-dinding itupun akan turun rahmat Tuhan yang jadi dinding rumah kalian. Dan negeri itu, dimana orang-orang demikian mendiaminya, akan diberkati.

Kalau penghidupan kalian, kematian kalian, tiap gerak-gerik kalian, lemah-lembut kalian dan kekerasan kalian semata-mata untuk Tuhan, dan di waktu kesulitan dan kesusahan, kalian tidak menguji Tuhan dan perhubungan tidak kalian putuskan, malah kalian bertambah berderap maju ke depan, maka aku berkata dengan sesungguh-sungguhnya, bahwa kalian akan jadi satu kaum, satu kaum Tuhan yang istimewa.

Kalian juga manusia seperti aku pun manusia, dan Tuhanku Tuhan kalian itu jugalah. Sebab itu janganlah kamu buang percuma tenaga-tenaga (potensi-potensi) kalian yang suci itu. Kalau kalian benar-benar tunduk kepada Tuhan, maka perhatikanlah — aku berkata kepada kalian menurut kehendak Tuhan — bahwa kalian akan jadi satu kaum Tuhan yang terpilih.

Resapkanlah kebesaran Tuhan itu di dalam hati kalian. Akuilah Tauhid Tuhan, bukan saja di lidah, tetapi dengan amal perbuatan juga supaya Tuhan pun menzahirkan karunia dan sayang-Nya kepada kalian dengan perbuatan pula. Jauhilah dendam kesumat. Berlakulah kepada sesama makhluk dengan kasih-sayang yang sebenarnya. Ambillah tiap-tiap jalan kebaikan, karena tidak diketahui dan jalan manakah kamu akan diterima.” [13]

Bersabda; “Bersukacitalah kalian, sebab medan untuk mencapai qurb (kedekatan) kepada Tuhan, sekarang lagi sunyi-sepi. Tiap-tiap bangsa sedang asyik dalam urusan dunia, dan tiap amal yang diridhai oleh Tuhan itu sedang tidak diacuhkan oleh dunia. Bagi orang-orang yang dengan sekuat tenaganya hendak memasuki pintu itu ada kesempatan baik untuk memperlihatkan kecakapannya serta memperoleh hadiah istimewa dari Tuhan. Janganlah kalian menyangka bahwa Tuhan akan menyia-nyiakan kalian. Kalian adalah sebuah benih dari Tuhan yang sudah ditanam dalam bumi.

Tuhan berfirman bahwa benih ini akan tumbuh kian besar dan berbunga dan cabang-cabangnya akan menyebar ke segala arah dan akan jadi sebuah pohon yang besar. Berbahagialah orang yang percaya kepada perkataan Tuhan, dan dia tidak gentar menghadapi cobaan-cobaan yang akan datang di pertengahan masa itu, sebab kedatangan cobaan- cobaan pun perlu pula supaya Tuhan menguji kalian, siapakah yang benar dalam pengakuan baiatnya dan siapa pula yang bohong“.[14]

Bersabda: “Tuhan berfirman kepadaku, bahwa aku harus memberitahu kepada Jemaatku, yaitu: orang-orang yang beriman, dengan iman yang tidak dicampuri keduniaan, iman yang tidak dinodai kemunafikan atau kegentaran, dan iman itu tidak kosong dari tingkat-tingkat ketaatan (meliputi semua derajat ketaatan), orang-orang yang demikian inilah yang disukai oleh Tuhan. Tuhan berfirman: Orang-orang inilah yang jejak dan langkahnya terletak di atas jejak kebenaran.”[15]

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk memenuhi semua harapan dan keinginan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atas semua Jemaat, dan memberi taufik kepada kita semua untuk menjalin ikatan sejati dan kesetiaan sempurna dengan Khilafat Ahmadiyah.

Semoga Dia menganugerahi kita kemampuan untuk menegakkan standar ketaatan tertinggi dan memberi taufik kepada kita untuk mencapai derajat ibadah tertinggi sehingga kita semua terus diberkahi dengan karunia Khilafat. [Aamiin!]

Penerjemahan oleh:

Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Mln. Abdul Wahhab, Mbsy

[1] Sunan Ibni Maajah, Kitabul Fitan, Bab Khuruj al-Mahdi,

[2] Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Hurairah, jilid som (III), halaman 182, hadits 7957. Sesuai dengan pesan Nabi Muhammad saw kala menyebut tentang Isa yang akan datang dalam hadits sebagai berikut: 1. ‘… man adrakahu fal yaqra’ ‘alaihissalaam’ – “Barangsiapa menemuinya (Isa yang dijanjikan) hendaknya sampaikan salam saya kepadanya.” (Thabrani, al-Ausath wash Shaghir); 2. ‘… man adraka minkum ‘Isa bna Maryama falyaqra’hu minnis salaam’ – “Barangsiapa dari antara kalian menemui Isa ibnu Maryam (mengetahui, mengimaninya) maka sampaikan salamku padanya.” (Durrul Mantsur juz II)

[3] Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 6, halaman 285, hadits an-Nu’man bin Basyir, hadits 18596, ‘Alimul Kutub, Beirut, Lebanon, 1998

عن حُذَيْفَةَ قالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. (مسند أحمد بن حنبل، مسند الكوفيين، حديث النعمان بن بشير عن النبي)

[4] Shahih Muslim Kitab al-Fitan wa Asyrathus Saa’ah, bab maa jaa-a fi dzikrid Dajjal

 وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللَّهُ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللَّهُ عَلَيْهُمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي الأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللَّهِ

[5] Al-Mu’jam ash-Shaghir karya Ath-Thabrani, jilid I, halaman 257, bab ‘ain min ismuhu ‘Iisa, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 1983. Disebutkan bahwa: “ليس بيني وبينه نبي” ‘Laisa baini wa bainahu nabiyyun.’ – “Antara aku (Nabi saw) dan dia (Isa yang dijanjikan kedatangannya) tidak ada nabi.”

Hal ini berarti juga bahwa Isa yang akan datang itu adalah Nabi karena antara masa sebelum beliau dan Nabi s.a.w. tidak ada nabi.

[6] Shahih Bukhari, Kitab tafsir, tafsir Surah Jum’ah, bab. Lafadz wa aakhariina minhum terdapat juga dalam Shahih Muslim, Kitab Fadhailish Shahabah. Nubuatan atau kabar gaib dari Nabi Muhammd s.a.w. mengenai seorang laki-laki atau beberapa orang laki-laki yang membawa kembali iman yang telah terbang ke bintang Tsurayya tergenapi dalam diri Hadhrat Masih Mau’ud a.s. (Imam Mahdi) dan para Khalifah beliau, termasuk Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. Beliau-beliau dengan keteladanan, keilmuan dan kerohaniannya telah dan tengah memasukkan kembali iman kedalam diri manusia di zaman ketika manusia kehilangan kepercayaan akan Allah, Al-Quran, Nabi Muhammad s.a.w., dan keimanan pokok lainnya.

عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ الْجُمُعَةِ: {وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ} قَالَ قُلْتُ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلاَثًا، وَفِينَا سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ، وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ ثُمَّ قَالَ: «لَوْ كَانَ الإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ- أَوْ رَجُلٌ- مِنْ هَؤُلاَءِ».
عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلاَءِ».

[7] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, halaman 303-304

[8] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, halaman 304-305

[9] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, halaman 305-306

[10] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 104, edisi 2003, terbitan Rabwah

[11] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 104, edisi 2003, terbitan Rabwah

[12] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 309

[13] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 309

[14] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 309

[15] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 309