Khotbah Idul Adhha

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala bi nashrihil ‘aziiz

Tanggal 9 Fatah 1387 HS/Desember 2008

Di Masjid Baitul Futuh, London.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala, hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan Idul Adhha. Id ini di Negara Pakistan dan India dinamakan “عيد القربان” Idul Qurban (Hari Raya Pengorbanan) dan juga disebut juga “العيد الكبير”  Idul Kabir (Hari Raya Besar). Meskipun Id ini disebut Idul Korban, terlebih lagi pemahaman itu menunjukkan kepada kita bahwa Idul Fitri juga Idul Korban, yang mana insan berpuasa sebelumnya sebagai wujud ketaatan pada perintah Allah swt untuk mencari ridha-ridhaNya; oleh karena itu ia akan berhenti dari melakukan semua hal yang biasanya diperbolehkan mengerjakannya pada saat-saat siang hari selama satu bulan penuh, ia banyak mengorbankan hak-hak pribadinya dan mengupayakan untuk menunaikan hak ibadah dengan meningkatkan standar ibadah-ibadahnya, ia memohon pertolongan Allah Ta’ala sampai-sampai mereka itu susah payah bangun untuk melaksanakan Shalat Subuh yang biasanya pada ujung-ujung malam, pada bulan RamAdhhan mereka bangun untuk berdoa dengan khusyuk dan berdoa dengan sepenuh hati di hadapan Allah pada awal-awal malam-malamnya; karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk merayakan Id setelah bulan RamAdhhan sebagai akhir pengorbanan ini, Dia mengatakan kepada kita, “Sekarang kenakanlah pakaian-pakaian yang baik, makan minumlah dan berkumpullah pada suatu tempat, lakukan dua rakaat Shalat Id dan bersyukurlah kepada Allah swt.”

Maka pada hari itu yang akan merayakan Id adalah mereka yang mengorbankan hak-hak Syariahnya selama satu bulan terus-menerus dengan menanggung rasa lapar dan dahaga, mereka mengekang nafsunya berempati kepada yang lain pada saat-saat siang harinya yang akan berbeda-beda sesuai dengan musim-musimnya, dimana lamanya pengorbanan itu dari mulai sepuluh hingga 18 jam, lalu mereka menghidupkan malam-malamnya. Mereka mengorientasikan perhatiannya yang khas terhadap ibadah, dan sebagai buah pengorbanan ini adalah di dalam kehidupan orang-orang mu’min akan terjadi perubahan-perubahan (revolusi) kedekatan mereka dengan Allah, mereka akan memasuki dunia baru dimana mereka akan membiasakan dirinya berkorban. Tidak diragukan lagi dalam hal ini banyak orang yang tidak menaruh perhatian terhadap pengorbanan untuk membuat dirinya menjadi lebih baik sebagaimana seorang mu’min berorientasi, betapa pun mereka merayakan Id dan seakan-akan merekalah yang telah mempersembahkan pengorbanan hakiki satu bulan penuh, dan nyatanya Id mereka itu tidak lebih sebatas pesta perayaan dan mengekspresikan keriuh-rendahan. Adapun Id hakiki yaitu untuk mereka yang mempersembahkan pengorbanan dirinya selama satu bulan penuh serta meresapi falsafah pengorbanan dan hikmahnya.

Ringkasnya, saya selalu mengatakan, “Id yang kita rayakan pada hari ini dinamakan Idul Qurban dan saya berbelok – secara implisit – pada topik Idul Fitri karena pada akhirnya bisa disebut Idul Qurban walaupun itu adalah perayaan pengorbanan individu, adapun Idul Adhha itu perayaan Pengorbanan Jemaat dan Umat, ketika ada pribadi yang karenanya kita merayakan Id ini – atau pribadi-pribadi yang menjadi sebab adanya Id ini — menunjukkan dan mengarahkan pengorbanannya untuk proses perubahan (revolusi) pada dua bidang, revolusi Umat dan Dunia. Sebagaimana Idul Fitri tertentu bagi mereka yang mempersembahkan pengorbanan individu untuk peningkatan keruhanian – dan sekiranya itu secara pasti membawa pada peningkatan standar Jemaat dan juga standar keruhanian – pun demikian Idul Korban yang sebenarnya [yaitu Idul Adhha], tentu bagi mereka yang mengupayakan untuk memahami secara mendalam ruh itu yang ada di balik pengorbanan Ibrahim, Ismail dan Hajar as. Seorang mu’min itu akan berupaya untuk memahami maksud pengorbanan yang dipersembahkan oleh mereka bertiga. Apabila kita memahami ruh ini, maka kita telah merayakan Id secara hakiki, jika tidak, tak ada nilainya bagi orang yang semata-mata hanya menyembelih kambing, domba, sapi atau pun unta dimana dengan hewan-hewan korbannya itu para pemiliknya saling membanggakan diri dengan kekayaan mereka.

Tujuan dari pengorbanan itu bukanlah semata-mata menyembelih korban dan memotong hewan-hewan tersebut – secara lahiriah – serta melaksanakan pesta-pesta dan jamuan-jamuan kepada orang-orang maupun berkirim daging ke rumah-rumah yang lainnya. Tujuan macam mana yang akan terwujud dengan penyembelihan hewan-hewan kambing, domba, sapi dan unta ini, selain mengalirkan darah-darahnya? Apakah pengorbanan-pengorbanan ini akan mempersembahkan beragam pengkhidmatan bagi Islam? Apakah korban hewan-hewan ini akan mengantarkan kepada kemajuan dan perkembangan Islam? Apakah dalam hal ini ada pengabdian yang akan terlaksana selain makan daging dan pendistribusiannya?

Sekiranya dikatakan, “Diantara tujuan pengorbanan ini adalah menyediakan dan mengatur daging untuk orang-orang fakir, maka ganjaran macam apa yang akan Anda sekalian peroleh dari memberi makan daging kepada orang fakir sekali saja dalam setahun tapi Anda sekalian tidak menaruh perhatian dengan menutupi rasa lapar mereka sepanjang tahun?”

Lalu di sana, ada banyak negara yang seseorang itu tidak mendapati orang-orang yang akan memberinya makan daging atau mengalokasikannya untuk dia, atau di negara-negara itu tersedia banyak daging sementara memberikannya terus-menerus adalah suatu kesulitan besar. Sebagai contoh, mengalokasikan secara dawan korban-korban orang-orang yang berhaji di Mekah sendiri suatu kesulitan besar. Tidak diragukan lagi bahwa mereka mengatur pengiriman daging-dagingnya ke Negara-negara miskin, tetapi berapa banyak orang-orang fakir yang akan tercukupi rasa laparnya dengan daging-daging itu secara rutin? Memang saya pernah hidup di Afrika dan saya melihat di sana banyak orang-orang miskin, dua kali ransum dalam sehari tidak cukupi bagi mereka. Di Pakistan didapati ratusan ribu orang-orang miskin yang melewatkan malam dalam keadaan lapar. Daging ini yang nampaknya banyak, tetapi tidak mungkin akan mencukupi lapar orang-orang di dunia, sungguh pun para penjual hewan ternak berkaki empat akan mendapatkan banyak sekali keuntungan menghadapi Id dimana mereka menjualnya dengan harga-harga jual yang fantastis dan orang-orang membayarnya dengan harga yang tidak biasanya dalam corak berbangga diri dan demonstratif atas harta kekayaannya.

Pengorbanan lahiriah yang kita persembahkan pada hari Id dengan menyembelih hewan-hewan itu seyogianya akan mengingatkan kita bahwa perubahan (revolusi) yang karenanya atau untuk memperingatinya kita diperintahkan mengorbankan binatang-binatang berkaki empat, tidak terbatas pada selamatnya Ismail as dari penyembelihan, bahkan di balik itu ada ruh dari kedudukan pengorbanan itu yang akan menciptakan revolusi besar. Oleh karena itu hal ini bukan hanya memperingati selamatnya Ismail dari penyembelihan dan bukan sebagai izin menyembelih domba dan kambing atau pun hewan-hewan berkaki empat lainnya, atau pun bukan pula merupakan ekspresi kegembiraan dengan menikmati beraneka makanan yang diinginkan serta mengenakan pakaian-pakaian yang istimewa.

Sekali-kali bukan, justru maksudnya adalah kita mengarahkan perhatian dengan menunaikan huquuqul ‘ibaad sebagai wujud ketaatan kepada perintah Allah swt karena setiap hukum dari semua Hukum-hukum Islam mengandung banyak hikmah serta maksud. Sebagai contoh, ketika kita diperintahkan satu segi pengorbanan, Rasulullah Saw menerangkan kepada kita bahwa kita harus membagi daging itu menjadi tiga[1] bagian : satu bagiannya untuk orang-orang miskin dan satu bagiannya untuk keluarga-keluarga dekat, hal itu untuk mengingatkan kita bahwasanya yang harus Anda sekalian perhatikan bukan hanya hak-hak Anda sekalian saja, tapi hak-hak keluarga-keluarga dekat pun harus dipenuhi serta hak-hak orang-orang miskin juga harus dipenuhi. Harusnya hak-hak tersebut dipenuhi di hari-hari biasa, di hari-hari senang dan juga pada hari-hari susah.

Sesungguhnya orang kaya itu pada hari-hari normal, biasanya tidak memikirkan untuk memenuhi hak orang miskin, adapun pada hari-hari bahagia mungkin saja mereka memberi sesuatu kepada mereka karena dorongan riya, seiring itu ia tidak menaruh perhatian untuk memenuhi hak-hak orang lain kepada orang-orang pada umumnya. Allah telah menerangkan kepada kita melalui perintah ini bahwa pengorbanan Anda sekalian ini – yang Anda sekalian persembahkan untuk memperingati pengorbanan agung yang dipersembahkan oleh bapaknya para Nabi, Ibrahim dan Ismail as – sekali-kali tidak akan tergambar sebagai suatu pengorbanan hakiki, kecuali ketika Anda sekalian memenuhi hak-hak orang lain terutama hak-hak masyarakat kaum miskin.

Dalam hal ini ada penekanan khusus pada hal itu yang mana Allah swt mengarahkan pandangan kita agar selalu memperhatikan orang-orang miskin, di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, seperti Firman Allah Ta’ala, وَلاَ يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ ( … dan [orang yang mendustakan agama itu] tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin – Q.S. Al-Mā’ūn : 4), maksudnya mereka yang telah menjauh dari Allah swt tidak akan menganjurkan orang lain untuk memberi makan kepada orang-orang miskin dan fakir… artinya mereka sendiri tidak memberi makan kepada [orang-orang miskin] sebagaimana mereka tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan kepada mereka [orang-orang miskin]. Sebenarnya perintah menutupi rasa laparnya orang miskin adalah perintah yang dawam, maka tidak cukup memberi mereka daging sekali saja dalam setahun sebagai wujud perayaan Idul Kabir, tetapi Rasulullah Saw memerintahkan kepada kita untuk memberikan bagian daging-daging korban kepada orang-orang miskin supaya kegembiaraan-kegembiraan itu tidak membuat kita lalai dari memunaikan hak-hak orang-orang miskin. Sebenarnya zakat yang dibayarkan oleh orang kaya dengan proporsi atau rasio tertentu dari harta kekayaannya serta berdasarkan syarat-syarat tertentu dan nilai yang seorang muzaki bayarkan – sekali dalam setahun – kecil sekali, yang mana ia membayarnya dengan rata-rata tertentu, sebagaimana sedekah-sedekah dan candah-candah kita yang kita keluarkan, maka sebenarnya kita itu lebih baik dalam pembayarannya sesuai dengan proporsi yang dengan mudahnya kita akan sanggup memenuhinya. Adapun daging-daging korban di dalam Id, maka kita telah diperintahkan untuk memberikannya kepada orang-orang miskin sebanding apa-apa yang kita tinggalkan untuk orang-orang rumah, dan itu karena menghilangkan rasa lapar adalah kewajiban setiap orang muslim dan mementingkan hak saudara muslim adalah kewajiban setiap muslim.

Sebenarnya perintah ini adalah peringatan bagi setiap orang yang kaya – atau bagi setiap orang yang mampu memberikan pengorbanan, jika memungkinkan seseorang itu memberikan pengorbanan tanpa ia harus merupakan wajib zakat – karena memperhatikan seorang yang lapar dan berteman dengan orang yang sangat berkekurangan harta adalah supaya tercipta pada dirinya kesadaran yang akan mengantarkan kepada kemajuan dan perkembangan Jemaat karena menaruh perhatian terhadap pelaksanaan huquuqul ‘ibaad yang mana kerisauan dan kegelisahan Jemaat tesembunyi. Pengorbanan-pengorbanan dan Idul Adhha ini meIambangkan wasilah untuk memelihara rasa saling simpati dan saling mengasihi di dalam Jemaat orang-orang mu’min yang disebutkan dalam Firman Allah Ta’ala : [رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ] – ruhamā’ bainahum, orang-orang yang saling mengasihi di antara mereka. Ketika Anda sekalian memberikan daging kepada fakir mana pun, sebenarnya Anda sekalian ketika itu saja akan memahami sisi-sisi ketidakbelaskasihan yang dengannya akan berlalu, dengan demikian Anda sekalian akan menaruh perhatian untuk memenuhi hak-haknya juga.

Mayoritas penduduk negara-negara miskin seperti Pakistan, India dan Afrika, mereka itu termasuk orang-orang miskin yang ketika Anda sekalian memberikan daging kepada mereka, tersedia kesempatan untuk Anda sekalian untuk memahami kondisi-kondisi mereka yang tidak beruntung untuk pertama kalinya. Akan menjadi lengkap ketika jumpa dengan salah seorang dari antara mereka, Anda sekalian akan mengetahui orang fakir ini menahan lapar selama 24 atau 48 jam dimana tidak dimasak di rumahnya sesuatu pun, atau ia tidak pernah mencicipi makan daging selama berminggu-minggu. Dengan masuknya daging di rumahnya sekarang ia menyalakan api di tungkunya. Dalam kondisi-kondisi seperti ini, ketika Anda memberikan hadiah Id kepada mereka akan membuat keadaan mereka diliputi kegembiraan dan kebahagiaan yang tidak akan terlukiskan. Ini adalah apa-apa yang sering kali kita dapati dari pengalaman.

Adapun pada hari-hari ini dimana tingginya harga-harga yang kelewat batas dan dunia mengalami krisis ekonomi, maka mendapatkan pekerjaan-pekerjaan menjadi sangat sulit dan pengangguran tersebar hampir-hampir berskala luas, karena itu sangat susah sekali bagi orang fakir membiayai keluarga dan mencukupi makanan untuk anak-anaknya, hal itu yang menggiring beberapa orang kepada aksi bunuh diri sebagaimana berita-berita menyebutkan di beberapa surat-surat kabar. Maka Idul Qurban ini seyogianya mengajari kita pemahaman akan pemenuhan hak-hak kaum miskin supaya kelaparan dunia tertutupi. Kemudian, seyogianya Anda sekalian tidak merasa cukup dengan memberikan daging sekali, lalu kita merasa puas dengan itu dengan menganggap bahwa kita telah menunaikan kewajiban kita. Sekali-kali tidak! Bahkan, seharusnya Anda sekalian mengarahkan perhatian untuk senantiasa menjalankan huquuqul ‘ibaad termasuk apabila dari Anda sekalian itu diminta berulang kali mengorbankan sebagian hak-hak kalian. Pakailah perhiasan takwa, karena itu merupakan wasilah satu-satunya yang akan memungkinkan Anda sekalian meraih kejayaan dan kedekatan dengan Allah swt., jika tidak, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan daging atau pun darah.

Di dalam Nizam Jemaat, terdapat bermacam pos-pos untuk membahagiakan orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, yang dengan karunia Allah Ta’ala akan senantiasa bekerja. Dari titik ini saya ingin mengarahkan pandangan Jemaat dan khususnya para anggota Jemaat yang kaya untuk menaruh perhatian secara khusus terhadap hal ini, jika tidak, maka sebagaimana saya katakan Allah swt tidak membutuhkan darah dan daging korban-korban ini, sebagaimana bukan perkara darah dan daging ini yang akan menciptakan berbagai perubahan – di dunia – apabila di sana tidak ada perhatian kepada pelaksanaan huququllah dan huquuqul ‘ibaad dengan cara yang benar. Allah swt menerangkan hal ini dalam Al-Qur’an hal mana Dia berfirman, لَنْ يَّنَالَ اللهُ لُحُوْمُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ “sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, dagingnya dan tidak pula darahnya, akan tetapi yang akan sampai kepada Allah adalah ketakwaan dari kalian.” (Q.S. Al-Hajj, 22 : 38) maka seyogianya pengorbanan-pengorbanan kita ditandai dengan ruh ini.

Di sini saya sudah terangkan satu sisi mengenai huquuqul ‘ibaad, yakni menghapuskan rasa lapar, sungguhpun dalam hal ini ada banyak hak-hak yang lainnya. Di dalam Nizam Jemaat terdapat berbagai pos dan program pengembangan, dengan karunia Allah Ta’ala, di antaranya untuk bantuan untuk orang-orang yang membutuhkan. Seharusnya para anggota Jemaat itu bergerak cepat dalam mempersembahkan candah-candah tersebut pada pos-pos ini, karena di sini terdapat sejumlah hak yang harus dijalankan. Ketika penunaiannya sempurna tentu pada saat itu kesadaaran terhadap agama akan tercipta karena kita adalah suatu Jemaat dan masing-masing dari kita merasakan penderitaan yang lainnya dan ia akan menunaikan hak-hak yang lainnya juga.

Di sini saya sebutkan satu hak saja dari sekian banyak hak, adapun tujuan terbesar dari pengorbanan ini yaitu memberikan contoh terjadinya perubahan (revolusi) yang akan merubah kondisi-kondisi dunia secara terbalik. Dan jika tidak, maka ketika Sayidina Ibrahim as membuat Sayidina Ismail as bersedia menjadi tebusan (korban) dan Allah swt berkata kepadanya : “Sembelihlah kibas sebagai gantinya”, maka bukanlah penyembelihan kibas dan bukan pula penyembelihan Ismail as untuk menciptakan berbagai revolusi di dunia. Sesungguhnya penyembelihan kibas seyogianya ada dan akan selalu menjadi peringatan untuk pengorbanan agung itu supaya orang mu’min selamanya tidak akan melupakan maksud pengorbanan agung tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud as pada satu tempat pernah bersabda, “Pengorbanan hakiki adalah penyucian kalbu, adapun daging dan darah itu bukan pengorbanan yang hakiki. Di tengah-tengah kebanyakan orang menyembelih binatang-binatang ternak dan hewan-hewan berkaki empat, maka yang paling utama mereka menyembelih kalbunya. Allah Ta’ala juga tidak melarang korban-korban ini, supaya nyata bahwa pengorbanan-pengorbanan ini juga ada ikatan dengan orang-orang.”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as pada tempat yang lain bersabda: “Allah swt menegakkan di dalam Syariat Islam contoh-contoh dan teladan-teladan untuk banyak urusan-urusan penting, insan telah diperintahkan untuk mengorbankan dirinya dengan segenap kekuatannya dan seluruh eksistensinya pada jalan Allah swt., maka pengorbanan-pengorbanan lahiriah menjadi model untuk keadaan ini, akan tetapi tujuan hakiki dari itu adalah pengorbanan ini [penyucian kalbu].”

Inilah yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, maka seharusnya kita menumbuhkan di dalam diri kita ruh pengorbanan tersebut, bukan maju sendiri tetapi kita seharusnya menjadikan seisi rumah mengerti akan ruh pengorbanan ini dan memahaminya dengan baik. Kemudian untuk kemajuan Jemaat, masing-masing anggota Jemaat harus mengerti pengorbanan ini, pada saat itulah semua pengorbanan-pengorbanan yang kita persembahkan pada satu tujuan akan bergerak dan akan menjadi musabab terjadinya perubahan. Maka apakah tebusan dan pengorbanan di jalan Allah itu? Ketahuilah bahwa hal itu adalah tunduk patuh pada hukum-hukum Allah swt dan menjadikan semua karunia-karunia serta kemampuan-kemampuan sebagai wasilah untuk meraih ridha Allah swt.

Ketika Sayidina Ibrahim as melihat dalam mimpinya ia menyembelih putranya, tetapi ia menunggu putranya itu bersedia untuk berpartisipasi di dalam pengorbanan. Sekiranya Ibrahim menyembelih putranya, Ismail, dengan pisau sedang ia tidak sampai usia baligh dan pengorbanan selesai di level ini, tentu hal itu sangat sederhana dan tidak menarik perhatian manusia. Sebabnya, pada zaman Nabi Ibrahim as persembahan korban-korban manusia menjadi tradisi yang tersebar di kalangan manusia dan kaum bapak biasa mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban. Buktinya, pemahaman persembahan korban-korban manusia masih ada hingga hari ini di beberapa kepercayaan, meskipun korban-korban itu tidak dipersembahkan atas nama Allah atau atas nama berhala-berhala. Sesungguhnya korban-korban itu dari pihak wanita untuk suami-suaminya pada beberapa agama dan sekte, sebagai contoh ada sebuah tradisi dalam agama Hindu, dan itu berlangsung sampai sekarang di beberapa tempat yang jauh dari aturan undang-undang dimana perempuan akan dibakar hidup-hidup bersama-sama dengan suaminya yang sudah meninggal.

Apakah korban-korban manusia – yang dipersembahkan saat itu dan dipersembahkan pada hari ini didasarkan pada tradisi-tradisi yang meliputi beberapa negeri Afrika atau dalam beberapa kepercayaan – dapat membuahkan terjadinya proses perubahan hakiki di dunia? Ataukah orang-orang akan merayakan korban-korban ini sebagai kegembiraan dengannya? Sekali-kali tidak! Malahan pengorbanan-pengorbanan ini akan membawa kepada gangguan dan kegelisahan di kalangan manusia, karena itulah berbagai undang-undang ditetapkan untuk mencegahnya. Adapun pengorbanan yang Ibrahim dan Ismail as persembahkan akan menjadikan seorang mu’min penuh akan semangat, ketika putra itu tunduk sepenuhnya setelah mendengar ru-ya bapaknya dan berkata, يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ “Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Q.S. Al-Saffāt, 37:103). Alangkah indahnya jawaban dari seorang putra yang mu’min kepada Allah Ta’ala dengan keimanan yang sempurna dan ia mengenal Zat Allah swt dengan pengenalan yang sempurna. Inilah pengorbanan hakiki.

Sesungguhnya ini merupakan gambaran pengamalan dari seorang putra dan bapak, mereka berdua bersedia untuk mempersembahkan berbagai pengorbanan untuk meraih ridha Allah Ta’ala tanpa ada rasa bimbang. Tidak terdapat pertanyaan Ibrahim asyang dipanggil dengan sebutan Abu al-Anbiyā – kepada putranya tentang sekiranya ia bersedia untuk berkorban atau tidak, atau tidak terjadi Ibrahim as menunggu putranya mencapai usia balig dikarenakan ia merasa ragu-ragu dalam mengorbankan putranya. Sekali-kali tidak! Bahkan, melalui pengorbanan itu Ibrahim as ingin putranya berpartisipasi juga dengan senang hati dalam pengorbanan yang ia berniat mempersembahkannya untuk meraih ridha Allah Ta’ala, ketika ia berkeyakinan bahwa jawaban putranya pasti akan menerima.

Ibrahim ingin membuktikan bahwa putranya juga diberikan manisnya ma’rifat yang sempurna terhadap Allah Ta’ala, ia ingin putra itu turut andil hingga semaksimal maksimalnya dalam pahala yang ditetapkan untuk mereka berdua sebagai buah pengorbanannya, akan tetapi Allah Ta’ala ingin sesuatu yang lain. Allah Ta’ala ingin meletakkan – dengan peristiwa atau pengorbanan atau dengan mimpi yang Ibrahim lihat — batas untuk kebiasaan buruk korban-korban manusia yang dipersembahkan tanpa alasan yang benar. Ketika bapak mendapati putranya berada di atas tanah, Allah Ta’ala memandang ke arahnya dengan pandangan cinta dan kelembutan dan berfirman, “Wahai Ibrahim, berhenti. Engkau telah membenarkan mimpi sebelumnya. Mulai hari ini dan seterusnya, manusia dikorbankan seperti ternak dan hewan berkaki empat tidak dibenarkan, sebaliknya, sejak hari ini kita akan meletakkan kebiasaan suatu warna baru dan indah pengorbanan manusia.”

Supaya corak pengorbanan lahiriah juga sempurna Allah Ta’ala menyuruh Ibrahim menyembelih kibas (domba). Dia berfirman, “Jadikanlah pengorbanan Anda sekalian menjadi pengorbanan yang bermakna. Engkau telah membenarkan mimpimu, Wahai Ibrahim di saat engkau meninggalkan istrimu, Hajar beserta putranya pada suatu lembah yang tidak memiliki tanaman untuk mengangkat Nama Allah di padang-padang sahara yang tandus, tidak berpenduduk dan juga tidak bertanaman, supaya dunia menyaksikan bahwa di dalam pengorbanan ini tidak hanya ayah dan putra yang turut ambil bagian, bahkan di dalamnya ibu sudah turut ambil bagian juga, dan supaya dunia melihat mukjizat Kodrat Allah atas terjadinya peralihan pada tanah yang tidak berpenduduk, tandus serta tidak bertanaman itu menjadi kota-kota yang ramai, dan supaya dunia melihat mukjizat peralihan tanah-tanah yang tandus yang hari ini tak seorang pun mengarahkan perhatian kepadanya, akan menjadi rujukan makhluk-makhluk pada suatu hari, dan supaya dunia melihat Tanda ciptaan Allah Ta’ala dari keluarga yang mukhlis ini seseorang yang ditakdirkan baginya akan mengajarkan pada seluruh dunia langkah-langkah pengorbanan hakiki dan bermakna, akan mengemukakan contoh-contoh mulia yang dunia belum pernah lihat sebelumnya dan sekali-kali tak akan engkau lihat di masa yang akan datang pun.

Sesungguhnya Rasulullah Saw adalah contoh sempurna dan teladan yang baik, ketika hidup dan matinya ada pada jalan Allah swt. Kehidupan Nabi swt. sarat akan contoh-contoh pengorbanan baik harta, pengorbanan jiwa, waktu, kehormatan maupun kemuliaan. Kita ambil contoh pengorbanan harta, Nabi Saw sangat cepat dalam memberi infak di jalan agama, maka berkatalah sekehendakmu mengenai itu, seperti sedekah-sedekah dan infaknya Nabi Saw kepada orang-orang fakir yang tanpa batas. Sebagai tambahan atas itu, adalah Nabi Saw juga berinfak dengan kedermawanan yang tidak terhingga untuk menyenangkan kalbu. Disebutkan dalam banyak riwayat bahwa Nabi Saw dengan tidak ragu-ragu menghadiahkan sebuah lembah yang penuh dengan bermacam hewan ternak kepada seseorang yang belum lama bergabung pada Islam. Itu supaya dunia memahami hakikat Islam dan mengerti tujuan hakiki Islam dan kedatangan Nabi Saw.

Sehubungan dengan pengorbanan diri di jalan Allah, Nabi Saw senantiasa akan didapati berada di dalam peperangan-peperangan yang Islam diserang pada posisi yang sangat terjepit. Salah seorang Sahabat mengatakan, “Sesungguhnya orang yang paling berani di antara kami dalam medan perang adalah yang paling dekat dengan Nabi Saw.”[2] Memang benar Allah Ta’ala melindungi Nabi Saw dari setiap bahaya sebagaimana Dia berjanji, tetapi Nabi Saw dengan ilmunya mengajari para Sahabat ra  apabila hal itu menuntut pengorbanan jiwa, beginilah caranya, beliau juga menjelaskan tujuan di balik itu adalah pengorbanan dipersembahkan untuk membela Islam, berkorbanlah dengan hidup Anda sekalian untuk tujuan yang sangat luhur karena di dalam hal tersebut ada kehidupan yang kekal. Maka perkenankanlah seluruh jiwa Anda sekalian pada jalan meninggikan kalimat Allah.

Adapun pengorbanan waktu, akan kita lihat bahwa setiap garis kehidupan suci Rasulullah Saw digunakan pada jalan Allah, sampai-sampai dalam tidur pun Nabi Saw menyebut Tuhannya. Sebagaimana beliau mengorbankan waktunya dalam menunaikan hak-hak manusia. Ringkasnya, beliau Saw tidak akan menyia-nyiakan sedikit pun waktu terbuang di dalam hidupnya. Adapun mengorbankan kehormatan dan pangkat, maka Nabi Saw telah menampilkan contoh agung dalam hal ini pun berpatokan dari sumber yang mengatakan, “العزة لله جميعا” ‘al-‘izzatu liLlaahi jamii’a’ – “Kehormatan itu semuanya milik Allah” , maka ia telah menaruh emosinya di bawah telapak kakinya di hadapan keinginan Allah Ta’ala seakan-akan beliau tidak memiliki emosi sama sekali.

Empati di tengah-tengah Perjanjian Damai Hudaibiyah

Dunia menyaksikan standar-standar pengorbanan dengan rasa-rasa simpati dan kesadaran-kesadaran ketika terjadi Perjanjian Damai Hudaibiyah ketika Nabi Saw mengadakan perjalanan dengan para Sahabat ke Mekah untuk menyempurnakan rukyat yang beliau lihat, akan tetapi sesampainya di sana beliau merasa bahwa ridha Allah Ta’ala pada hari itu tersembunyi pada pengorbanan perasaan-perasaanya, maka beliau membuat perjanjian dengan syarat-syarat yang nampaknya merendahkan dan menghinakan. Maka para Sahabat dihinggapi kegelisahan yang sangat sampai-sampai Umar rayang terkenal dengan ketepatan pandangannya dan kekuatan imannya – dengan berani dan antusiasnya bertanya kepada Nabi Saw : “Bukankah engkau seorang Nabi Allah yang hak?” semua Sahabat diam dengan duka yang mendalam. Pada posisi itu para Sahabat bersedia untuk mengorbankan dirinya – sebagaimana Nabi Saw telah mengambil baiat dari mereka atas itu – tetapi mereka tidak bersedia untuk mengorbankan kehormatan, kemuliaan dan emosi mereka. Adapun Rasul ini, ya! Itulah Rasul kamil yang merupakan gunung tinggi kewibawaan dan keagungan, yang baju dalam dan baju luarnya adalah ridha Allah Ta’ala, yang berada dalam keadaan siap sedia untuk mempersembahkan setiap pengorbanan pada jalan Allah Ta’ala, beliau dikenal baik sebagai Nabi Shadiq dan menjadikan makhluk mencintai Tuhannya swt. Adapun perjanjian yang nampaknya pada saat itu akan menyebabkan kehinaan dan kerendahan, namun pada kenyataannya berupa kemenangan yang nyata dengan izin Allah.

Kemudian Nabi Saw menampilkan teladan luhur dengan menyembelih korban untuk pengorbanan lahiriah yang merupakan hal yang penting juga untuk mengorbankan segala emosi. Pengorbanan ini menggoyang eksistensi para Sahabat yang belum bersedia untuk menyembelih korban mereka, tetapi ketika Nabi menyembelih hewan korbannya, mereka memahami hakikat pengorbanan yang konstruktif ini, maka mereka menyembelih binatang-binatang mereka.

Pada dasarnya pengorbanan-pengorbanan Ibrahim, Ismail dan Hajar as telah memotivasi insan mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan hakiki dan dinamakan insan kamil dan mewariskan teladan baiknya hingga Hari Kiamat dengan persembahan pengorbanan-pengorbanan level utama,

 اَلّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدِ وَ بَارِكْ وَسَلِّمْ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ (Ya Allah limpahkanlah selawat, berkat serta salam kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji, Mahamulia)

Sesungguhnya Id yang kita rayakan pada hari ini mengingatkan kita dengan teladan baik itu, membimbing kita untuk meraih standar-standar luhut tersebut, mengarahkan perhatian kita pada pelaksanaan huququllah dan huquuqul ‘ibaad, mengingatkan kita pada janji-janji kita yang kita ikrarkan bahwasanya kita akan menjadi orang-orang yang selalu siap sedia untuk mengorbankan diri kita, harta kekayaan kita, waktu serta kehormatan kita.

Baginda Nabi Saw telah menampilkan teladan-teladan agung segala macam pengorbanan untuk menyempurnakan tujuan agung dari penciptaannya. Anda sekalian mengaku bergabung kepada Jemaat Khadim mukhlis dan pecinta sejati Nabi Saw yang paling mulia tersebut, bangkitlah dan berjanjilah bahwa kita akan senantiasa siap sedia untuk memberikan segala pengorbanan untuk memperkukuh tiang-tiang keagungan Islam di dunia, membangkitkan menegakkan kemuliaan Nabi Saw di dunia, mengibarkan bendera keagungan Allah di dunia, perkara yang untuk itu Allah mengirimkan Masih Mau’ud as ke dunia. Setiap muslim Ahmadi akan mempersembahkan dirinya pada hari ini dengan dengan pola tampilan yang baru untuk mempersembahkan berbagai pengorbanan bermakna sehingga pemerintahan Allah Yang Maha Esa dan Tunggal yang akan eksis di permukaan bumi.

Sungguh! Jemaat Ahmadiyah tidak akan rela pada setiap sejarahnya selama kurang lebih 120 tahun jika pengorbanan-pengorbanannya yang terarah akan sedikit demi sedikit berkurang, sama saja apakah itu pengorbanan jiwa, harta benda atau pun waktu, kehormatan dan perasaan. Oleh sebab itu, anda sekalian harus berjanji pada hari ini juga untuk tidak akan pernah membiarkan nyala api pengorbanan-pengorbanan ini padam di dalam dada Anda sekalian dan tidak pula pada dada generasi keturunan-keturunan kita. Tujuan kita yaitu senantiasa meraih ridha Allah Ta’ala dan tentunya kita akan menjadikan pada sasaran ini teladan majikan dan junjungan kita, Muhammad Mushtafa Saw di hadapan mata kita dengan senantiasa tunduk merendahkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla.

Beberapa hari sebelumnya saya mengadakan lawatan ke India menuju Qadian, tetapi sebelum sampai di Qadian – ketika saya dalam lawatan ke Selatan India selama dua minggu dan berjalan sukses dan berhasil – keadaan-keadaan tiba-tiba memaksa kami untuk kembali ke sini [Inggris] dari Delhi (India). Merupakan keputusan yang benar-benar sulit memaksa saya untuk itu, tetapi saya ambil demi kemaslahatan Jemaat dan untuk pengetahuan saya bahwa di dalam hal itu ada ridha Allah Ta’ala. Setelah itu banyak orang-orang Ahmadi yang menulis kepada saya, masing-masing sesuai dengan perasaan dan keadaannya. Pemikiran-pemikiran kebanyakan di antara mereka melintas menuju pada bahwa kejadian ini mirip peristiwa Hudaibiyah. Saya tidak mengatakan itu dan bukan hak saya untuk itu, kita tidak bisa mengatakan dengan yakin peristiwa ini mirip perjanjian damai Hudaibiyah atau kemiripannya begitu sempurna. Sebagaimana saya katakan sebelumnya, setiap orang memiliki cita rasa dan cara pandang masing-masing. Orang-orang berusaha membahas mengenai segi-segi kemiripan sesuai perasaannya. Berdoalah kepada Allah Ta’ala supaya Dia mewujudkan buah-buahnya dalam bentuk kesuksesan dan kemenangan dengan perantaraan karunia dan rahmat-Nya, karena dalam apa-apa yang berkaitan dengan implementasi, ketika orang-orang mengaplikasikan kejadian tertentu pada kejadian yang serupa, mereka akan mengharapkan adanya proyeksi buah-buahnya juga sesuai tipe atau coraknya sendiri atau menurut eranya sendiri, orang-orang yang lemah imannya akan terpeleset.

Tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala akan mewujudkan dengan karunia dan rahmat-Nya, buah-buah positifnya bagi keputusan kita, karena Allah Ta’ala telah berjanji kepada Masih Mau’ud as dengan itu, akan tetapi Allah Ta’ala Dia Yang Maha Tahu dengan waktu penampakan janji-Nya. Apabila dalam hal ini terdapat keserupaan antara dua peristiwa, maka kewajiban kita adalah berdoa supaya akan terjadi pada buah-buahnya. Sesungguhnya pengorbanan perasaan-perasaan serta emosi yang dipersembahkan oleh penduduk Qadian dan orang-orang Ahmadi di Pakistan – mereka yang telah mendapatkan Visa (izin tinggal) masuk India dan di dalam kalbu mereka terdapat keinginan kuat untuk menghadiri Jalsah dan berjumpa dengan saya – tidak diragukan lagu sesuai dengan takdir agung. Seiring dengan itu saya ingin menyampaikan dan telah mengatakan sebelumnya juga, kewajiban kita adalah mengikuti teladan para Sahabat ketika peristiwa Hudaibiyah dimana para Sahabat ra mengorientasikan perhatian pada doa-doa. Kewajiban kita adalah mengerjakan apa yang mereka amalkan setelah mengorbankan emosi-emosi dan kehormatan di samping mengorbankan yang lainnya.

Kemukakanlah rintihan-rintihan kalian, kekhusyukan dan doa-doa Anda sekalian yang sepenuh hati dengan disertai kegelisahan dan kegundahan di hadapan Allah, sehingga Allah Ta’ala akan mengabulkan pengorbanan-pengorbanan serta doa-doa kita yang lemah, dan menolak kejahatan-kejahatan para musuh dalam permusuhannya, menyediakan untuk kita sebab-musabab yang akan mengatasi semua rintangan-rintangan yang ada pada jalan kita sehingga segala tipu daya musuh-musuh dan makar para pembuat makar semuanya akan sirna seperti buih ombak di lautan. Maka mungkin saja kita dapat melaksanakan Jalsah-jalsah di Pakistan dan di Qadian juga, kemeriahan dan keindahannya akan kembali serta hujan karunia-karunia Allah akan turun kepada kita lebih banyak lagi dibandingkan sebelumnya. Amin.

“Ya Tuhan kami, kami adalah hamba-hamba engkau yang tidak berdaya lagi bergelimang dosa, oleh karena itu senantiasa limpahkanlah rahmat kepada kami, terimalah pengorbanan-pengorbanan kami yang lemah ini, dan senantiasa turunkanlah kepada kami karunia-karunia-Mu.” Amin.

Sehubungan dengan Id, saya ingin menyampaikan ucapan selamat merayakan Id, salam hangat saya untuk para Ahmadi di Qadian yang sedang menanti-nantikan saya penuh kegelisahan, ketika telah ditetapkan sesuai rencana sebelumnya akan melaksanakan Shalat Id bersama di Qadian. Saya menerima banyak surat dari orang-orang Ahmadi di Qadian untuk maksud ini. Tidak lama lagi Allah Ta’ala akan menurunkan karunia-karunia-Nya kepada kita dan semua kebahagiaan kita dan kemeriahan Qadian akan kembali lagi.

Demikian pula saya ucapkan selamat merayakan Id dan salam hangat saya untuk para Ahmadi di Pakistan semuanya dan saya katakan, “Sesungguhnya saya merasakan sendiri derita yang Anda sekalian sedang rasakan, karena saya juga melalui masa serupa ketika saya berada di Pakistan, meskipun kini sebenarnya saya merasakan pahitnya keadaan yang lebih menyakitkan dari sebelum-sebelumnya.” Sesungguhnya para Ahmadi di Pakistan telah menampilkan teladan-teladan luhur dalam mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan sejak dulu dan akan selalu mempersembahkannya, sebagaimana para Darwisy Qadian hingga masa yang lama dan selalu mempersembahkannya. Cara yang paling pantas untuk menjadikan pengorbanan-pengorbanan ini diterima di sisi Allah Ta’ala yaitu senantiasa merendahkan diri kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk itu.

Sebagaimana saya sampaikan ucapan selamat Id dan salam hangat saya untuk orang-orang yang duduk di sini di depan saya, untuk semua Muslim Ahmadi di seluruh penjuru dunia dan untuk mereka yang melewati hidup dengan aman dan damai. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala semoga memberikan taufik kepada mereka untuk senantiasa hidup dalam keadaan aman sentosa. Sudah menjadi seharusnya bahwa Anda sekalian memeriksa standar pengorbanan-pengorbanan pada keadaan aman juga dan mengupayakan meningkatkan standar ibadah-ibadah Anda sekalian supaya kita melihat pemandangan-pemandangan kemenangan yang nyata di dalam hidup kita.

Sekarang kita akan berdoa bersama. Di dalam doa ini saya harap Anda sekalian mengingat mereka yang mewakafkan hidupnya di jalan Allah, untuk waqifin Nou, untuk mereka yang mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan harta atau yang lainnya. Pun demikian, Anda sekalian harus mendoakan seluruh anggota Jemaat, semoga Allah merahmati mereka semua dengan karunia dan rahmat-Nya. [Aamiin.]  (Mln. Abdul Karim Munwana)

[1] Sunan Abi Daud, Kitab adh-Dhahaya (mengenai Kurban), Bab fi habs luhum al-Adhaaha (Menyimpan Daging Korban), hadis nomor 2812.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : دَفَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ فِي زَمَانِ رَسُوْلِ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم : ادَّخِرُوْا الثُّلُثَ وَتَصَدَّقُوْا بِمَا بَقِيَ قَالَتْ : فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَالِكَ قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم : يَا رَسُوْلَ اللهِ, لَقَدْ كَانَ النَّاسُ يَنْتَفِعُوْنَ مِنِ ضَحَايَاهُمْ وَ يُجْمِلُوْنَ بِهَا الْوَدَكَ وَ يَتَّخِذُوْنَ مِنْهَا اْلأَسْقِيَةَ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم : وَمَا ذَاكَ ؟ أَوْ كَمَا قَالَ, قَالُوْا : يَا رَسُوْلِ اللهِ نَهَيْتَ عَنِ إِمْسَاكِ لُحُوْمِ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلاَثٍ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم : إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَةِ الَّتِيْ دَفَّتْ عَلَيْكُمْ, كُلُوْا وَتَصَدَّقُوْا وَادَّخِرُوْا. وَأَخْرَجَهُ مسلم و النسائيّ.

Dari Aisyah r.a. ia berkata, “Orang-orang pedalaman di masa Rasulullah saw pernah datang menyaksikan Idul Adha. Rasulullah Saw bersabda, ‘Simpanlah sepertiganya, dan sedekahkanlah sisanya.’” Aisyah berkata, “Setelah tahun itu ditanyakan kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulallah, orang-orang memanfaatkan sebagian dari binatang korban mereka. Mereka membuat minyak dari lemak binatang korban itu, dan mereka jadikan pula minuman.’ Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Apakah itu?’ Sahabat berkata, ‘Ya Rasul Allah, engkau telah melarang menahan daging-daging hewan korban sesudah tiga malam,’ maka Rasulullah Saw bersabda, ‘Aku melarang kamu [waktu itu] hanya karena adanya rombongan beberapa keluarga Arab dusun yang datang bertemu padamu. Karena itu makanlah, sedekahkanlah dan simpanlah!’“.

[2][Muslim: Kitab Jihad dan Perjalanan, bab mengenai Peperangan Hunain].

قَالَ الْبَرَاءُ : كُنَّا, وَاللهِ إِذَا احْمَرَّ الْبَأْسُ نَتَّقِيْ بِهِ وَإِنَّ الشُّجَاعَ مِنَّا لَلَّذِيْ يُحَاذِيْ بِهِ يَعْنِي النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم

(مسلم : كتاب الجهاد والسير, غزوة حنين)

Berkata Al-Barā’ : Adalah kami, demi Allah, apabila keberanian itu telah memerah (menggelora), kami bertakwa kepada Allah, dan sesungguhnya orang yang pemberani di antara kami, sungguh ia yang dekat dengannya, yaitu Nabi Saw. [Hal demikian, karena Nabi saw adalah panglima kaum Muslim. Panglima adalah pusat kekuatan dalam suatu peperangan. Bila terbunuh atau tertawan, akan mudah memperlemah pasukannya. Serangan pasukan musuh akan membanjiri pusat tersebut.]

(Visited 78 times, 1 visits today)