Sifat-Sifat Orang Beriman, Alim-Ulama Sejati dan Khasy-yatullah

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 3 Zhuhur 1391 HS/Agustus 2012

Di Masjid Baitul Futuh-Morden-London-UK.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لا يُشْرِكُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

 

Terjemahan ayat-ayat ini adalah sebagai berikut: “Sesungguhnya, orang-orang yang karena takut kepada Tuhan mereka, mereka gemetar untuk menjaga diri dari segala dosa. Dan orang-orang yang kepada Tanda-tanda dari Tuhan mereka, mereka pun beriman, Dan orang-orang yang kepada Tuhan mereka, mereka tidak mempersekutukan, Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sedang hati mereka penuh ketakutan bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka — Mereka itulah yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan mereka untuk itu berlomba-lomba.” (Surah Al-Mu’minun, 23:58-62)

Itu tadi adalah ayat-ayat dari Surah Al-Mu’minun. Ayat selanjutnya ialah dari Surah Al-Bayyinah. Terjemahannya sebagai berikut: “Pahala mereka ada di sisi Tuhan mereka, Kebun-kebun Abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka akan menetap di dalamnya untuk selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya, Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Surah Al-Bayyinah, 98:9).

Pada Khotbah Jum’at yang lalu, telah disampaikan bahasan mengenai Ramadhan dan telah dijelaskan di dalamnya, bahwa untuk memperoleh faedah sepenuhnya dari bulan Ramadhan, perbaikan perkataan dan perbuatan, sangatlah penting. Saat itulah puasa menjadi sarana untuk membawa pada kedekatan dengan Tuhan. Saya telah menjelaskan pula, bahwa puasa seperti itulah yang akan memperoleh berbagai keberkatan bulan Ramadhan, yakni, yang dikerjakan dengan sikap Khasy-yat (takut dan takjub) terhadap Allah Ta’ala, bergetar di dalam qalbu. Hal itu dikarenakan, ketika bahasan mengenai Ramadhan sedang berlangsung, saya telah menghubungkan antara Ramadhan dengan Khasy-yat kepada Allah Ta’ala. Hubungan itu terlihat, sebabnya setiap kebaikan yang manusia berusaha melakukannya akan menjadi kebaikan hakiki hanya apabila di dalam hatinya terdapat Khasy-yat.

Di waktu itu, saya telah menyampaikan, bahwa ada beberapa bagian lainnya dari bahasan itu, dan karena itu saya ingin menguraikan mengenai Khasy-yat kepada Allah Ta’ala. Tetapi, sesungguhnya mengenai bahasan itu telah bertambah cukup luas maka saya sekarang ingin menjelaskannya. Kata Khasy-yat telah umum kita gunakan. Jika ruhnya dapat dipahami, maka niscaya akan dapat meningkatkan derajat kebaikan-kebaikan kita. Oleh karena itu, saya juga akan menjelaskannya secara lughawi (bahasa).

Arti kata khasy-yat umumnya dipahami sebagai khauf (takut). Tak diragukan lagi, itu adalah benar, dan di dalam rasa takut kepada Allah Ta’ala akan membawa manusia kepada kebaikan-kebaikan. Akan tetapi, hendaklah diingat, takut kepada Tuhan tidaklah sama dengan ketakutan terhadap sesuatu umumnya. Oleh karena itulah, para ahli lughat (kamus bahasa) juga menjelaskannya. Contohnya, satu kitab lughat menerangkan, bahwa kata khasy-yat lebih menekankan dalam hal takut dibandingkan khauf. Selanjutnya, di dalam Khasy-yat dan khauf juga ada perbedaan karena di dalam kata khasy-yat dipahamkan sebagai ketakutan (gentar) yang timbul disebabkan keagungan Dzaat Itu (Tuhan). Sedangkan di dalam kata khauf takut lebih berkonotasi kepada kelemahan manusia yang merasa ketakutan. Mengenai hal tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menjelaskan dengan terang berdasarkan rujukan kitab-kitab lughat. [2]

Kemudian, Imam Raghib dalam kitab beliau [al-Mufradaat) mengatakan, ‘al-khasy-yat’ adalah khauf sikap hati yang timbul dikarenakan keagungan sesuatu. Hal ini terjadi setelah memperoleh ilmu mengenainya, yang membuat seseorang menjadi takut. Inilah mengapa ayat ini إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ.” (فاطر:29)innama yakhsyallaha min ibadihil ‘ulamaa’ – “Sesungguhnya. yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah al-‘ulamaa’u, orang-orang berilmu.” (Al-Faathir, 35:29). Beliau menulis, di dalam ayat ini khasy-yat Ilahi telah dikaitkan secara khas dengan ‘ulamaa’u, atau orang-orang yang berilmu. Sebagai tambahan pokok-pokok pikiran Imam Raghib ialah, bahwa beliau menjelaskan berbagai corak makna kata-kata merujuk dari ayat-ayat Al-Qur’an maka beliau telah menyebut ayat ini. Demikian pula, beliau juga mengatakan, mereka yang takut (gentar) kepada keagungan Tuhan, mengenainya Al-Qur’an telah menyatakan,مَن خشي الرحمنَ بالغيب ‘man khasyiyar Rahmaana bil ghaib‘ – “Mereka yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang Tidak Nampak.” (Surah YaaSiin, 36:12). [3]

Yakni, sikap takut [dan takjub] kepada Yang Ghaib itu dapat terjadi saat di dalam hati terdapat khauf yang menuntut adanya ma’rifat Ilahi [ilmu dan pemahaman yang tepat mengenai-Nya].

Pendek kata, penjelasan Khasy-yat adalah demikian, khas-yat ialah takut yang timbul disebabkan keagungan sesuatu atau suatu Wujud dan ini timbul bukan semata-mata karena kelemahannya sendiri, dan Khasy-yat terhadap Allah Ta’ala sesungguhnya ialah demikian, di dalamnya terdapat pengakuan terhadap keagungan Allah Ta’ala, dan pernyataan akan kelemahan diri dari seorang hamba yang lemah. Apakah keagungan Allah Ta’ala itu? Keyakinan bahwa Allah Ta’ala adalah Pemilik segala kekuatan (kekuasaan), dan Dia meliputi atas segala sesuatu. Segala sesuatu adalah ciptaan-Nya, dan tegak lantara karena ada-Nya. Segala sesuatu adalah milik-Nya, dan hanya dengan kehendak-Nya saja, sehingga seseorang bisa mendapatkannya. Oleh karena itu, seseorang hanya dapat memperoleh faedah dari kudrat-kudrat-Nya, manakala ia telah mengimani sepenuhnya Tuhan yang Qadir dan Muqtadir itu, dan telah timbul Khasy-yat kepada-Nya di dalam qalbunya.

Di sini timbul pertanyaan dalam benak, Allah Ta’ala berfirman, bahwa Khasy-yat yang hakiki terhadap Allah Ta’ala terdapat dalam diri para ‘ulaama’ (orang-orang yang berpengetahuan) maka apakah itu berarti setiap orang yang disebut alim-ulama atau mengaku diri alim-ulama berarti mereka memiliki sikap Khasy-yat terhadap Allah Ta’ala. Atau, mungkin mereka yang tidak berilmu (bukan ulama) tidak mampu mencapai standar itu, standar khasy-yat yang Allah Ta’ala inginkan. Jika demikianlah standar itu, bahwa hanya para alim-ulama saja yang dapat sampai ke situ maka pada kenyataannya, kita menyaksikan ada ribuan atau ratusan ribu ulama sekarang ini yang ucapan-ucapan mereka dan perbuatan-perbuatan mereka saling bertentangan. Mereka tidak memahami dengan benar akan Al-Qur’an, bukan saja tidak menerima Imam di zaman ini, bahkan mencapai puncaknya dalam penentangan mereka, dan dalam keadaan demikian mereka disebut ulama.

Oleh karena itu, semua hal itu memaksa orang untuk berpikir, bahwa definisi al-‘ulamaa’ pastilah lain lagi. Orang-orang berilmu (al-ulamaa’, bentuk tunggalnya ialah aalim) sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala, dan yang Allah Ta’ala menamai mereka ulama pasti tidak demikian. Apabila setiap orang disebut aalim (berilmu), yaitu mereka yang sibuk dalam meraih pelajaran yang diharuskan di madrasah-madrasah agama, yang umum kita saksikan di negeri kita saat ini, atau yang orang-orang duniawi umumnya dan orang-orang di sekitar ia menganggapnya ulama, atau mereka yang meraih pendidikan duniawi, aalim (orang berilmu) dalam corak lain yaitu yang kosong dari ilmu agama tetapi sibuk dalam meraih ilmu-ilmu duniawi hingga mencapai puncaknya. Banyak sekali para saintis besar, mereka telah mengadakan percobaan-percobaan sains. Dibandingkan dengan mereka, dalam hal ilmu-ilmu duniawi, sedikit pun kita tidak dapat menjadi bandingannya.  Adalah salah bila menganggap bahwa yang dimaksud dengan aalim (orang berilmu) adalah yang berilmu dalam hal duniawi. Banyak di antara mereka itu yang bahkan tidak mempercayai keberadaan Tuhan, jangankan lagi memiliki sikap Khasy-yat (atau takut dan takjub) kepada Allah. Oleh karena itu, mau tak mau kita harus membahas mengenai ta’rif (definisi) mengenai aalim agar kita bisa mengetahui siapakah itu aalim hakiki? Di sini yang dimaksud dengan ulama bukanlah yang hanya dari segi nama saja yang tenggelam dalam ambisi duniawi, yang dimaksud adalah alim-ulama agama bukan alim-ulama duniawi.

Di sini saya harus menyampaikan dengan jelas bahwa tanpa ragu lagi Islam adalah agama yang sempurna, dan mereka yang memiliki ilmu agama Islam menyatakan diri, “Kami telah meraih ilmu agama.” Banyak orang mendakwahkan pesan-pesan Islam. Meluasnya syiar Islam adalah salah satu takdir dari takdir-takdir Allah Ta’ala, akan tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi melalui tangan para ulama yang memiliki berbagai kepentingan duniawi atau yang banyak memiliki kepentingan duniawi, dan dalam diri mereka tidak ada sedikit pun sebutan mengenai khasy-yat Allah Ta’ala.

Mungkin, sebelumnya saya pernah mengatakan, pada kunjungan saya belum lama ini ke Amerika Serikat, saat perwakilan dari sebuah stasiun TV [CNN] bertanya, “Bagaimanakah prospek penyebaran Islam di Amerika Serikat?” Atas hal itu saya menjawab, “Insya Allah, Islam akan menyebar luas di mana-mana. Bukan hanya di USA, tetapi juga di seluruh dunia. Namun, Islam tidak akan tersebar melalui para pembesar yang menyebut diri Islam dan para ulama mereka, melainkan, itu akan terjadi melalui Jemaat Ahmadiyah, yakni dengan memenangkan hati umat manusia, mengajarkan tentang perdamaian, cinta dan kasih-sayang, bukan ekstremisme dan bukan pula senang kepada kekerasan yang dewasa ini banyak diajarkan oleh para ulama. Sebabnya, hal-hal itu bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an.”

Sekarang ini, Haqiqi Islam (Islam yang sebenarnya) hanya dan hanya ada pada Jemaat Ahmadiyah, yang Imam di zaman ini, Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud telah membukakannya, menyampaikannya dan mengajarkannya kepada kita. Dengan mana Hadhrat Masih Mau’ud as telah membuat kita mendalami dan memahami ajaran sejati dari Al-Qur’anul Karim. Beliau as membukakan dalam uraian beliau as mengenai Khasy-yat yang hakiki kepada Allah, dan menjelaskan bahwa beliau bersabda bahwa tidak ada satu pun yang memonopoli [membatasi untuk dirinya dalam hal] Khasy-yat (atau takut) kepada Allah. Ulama bukanlah golongan yang hanya sekedar nama saja. Khasyiyat terhdap Allah Ta’ala tidaklah ada hal demikian bahwa ia dibatasi [pada golongan tertentu saja]. Melainkan, Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw datang untuk membawa setiap orang di dunia ini bertemu dengan Allah Ta’ala. Beliau saw menjadikan mereka sebagai insane-insan ber-Tuhan, namun, tak ada seorang pun dapat menjadi insan Ilahi selama di dalam diri mereka tidak tercipta sikap Khasy-yat kepada Allah. Sesungguhnya, ada banyak pencuri, penjahat dan perampok besar yang berubah menjadi wali Allah setelah dalam diri mereka timbul pemahaman dan pendalaman tentang Khasy-yat kepada Allah.

Di dalam nasehat-nasehat beliau as, Hadhrat Masih Mau’ud as menceritakan di banyak tempat tentang berbagai kisah para suci yang dikutip dari buku Tadzkiratul Auliya. Saat ini, saya sebutkan satu saja contoh dari buku itu. Mengenai Fudhail bin Iyadh, di dalam buku Tadzkiratul Auliya tertulis, bahwa pada suatu hari di kota Herat, ada Kafilah (rombongan pedagang) yang singgah di sana, dan diantara mereka ada seseorang yang menilawatkan ayat Al-Quran ini أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ (الحديد: 17) “Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati hendaknya mereka tunduk takut dalam mengingat Allah…’ (Surah Al-Hadid, 57:17). Ayat itu demikian berpengaruh ke dalam hati Fudhail bagaikan ada anak panah yang menembusnya, lalu ia menyesali keadaan dirinya dan berkata dalam hati, “Sampai kapan aku melakukan perbuatan jahat ini? Kinilah saatnya untuk berderap di jalan Allah Ta’ala.” Ia pun menangis terus menerus, dan kemudian, ia mulai sibuk dengan melakukan riyadhah (berjuang keras untuk beribadah dan memperbaiki diri). Menyesali perbuatannya di masa lalu kemudian menjadi sufi. Pada suatu hari, ketika ia sedang melintasi suatu padang gurun, berpapasan dengan satu kafilah yang sedang berkemah. Ia mendengar salah satu di antara mereka berkata, “Ini adalah jalur lintasan [komplotan] Fudhail biasa merampok. Kita harus merubah jalur perjalanan.” Demi mendengarnya, maka beliau pun menghampiri mereka seraya berkata, “Tuan-tuan tidak perlu merasa takut karena kini saya telah bertaubat dan meninggalkan perbuatan menyamun.” Kemudian, beliau mendatangi semua orang yang pernah beliau sakiti dan memohon maaf kepada mereka. Begitulah, seorang Penyamun Besar seperti beliau akhirnya terkenal dengan sebutan rahmatullahi ‘alaih (semoga Allah senantiasa merahmatinya).[4]

Jadi, inilah dia mukjizat dari khasy-yat kepada Allah Ta’ala, seorang biasa, bahkan seorang jahat yang di zamannya disebut-sebut jahat, dan dibenci oleh masyarakat, ia memberhentikan dirinya dari kejahatan dan dalam sekejap mata menjadi termasuk kedalam barisan ulama. Sementara itu, ada orang-orang yang memakai jubah panjang namun tenggelam dalam sikap ketakaburan, sementara masyarakatnya menganggap mereka sebagai orang yang sangat saleh, padahal di dalam diri mereka itu tidak terdapat sikap Khasy-yat kepada Allah. Mereka yang bersikap takabbur kepada orang lain, tidak akan pernah menetap di hati mereka sikap khasy-yat kepada Allah Ta’ala.

Jadi, pengertian khasy-yat bagi para ulama di zaman sekarang pun lain lagi. Apakah itu Khasy-yat bagi para ulama? Atau, siapakah itu orang alim dan apakah Khasy-yat itu? Pengertiannya lain lagi. Kita sangat beruntung karena dengan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga kita pun dapat memahami definisi yang benar mengenai Khasy-yat. Sayyidina Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Orang yang memiliki khasy-yat kepada Allah Jalla Syaanuhu adalah mereka yang telah memiliki ilmu yang sempurna mengenai Izhmat (keagungan), Qudrat (Kekuasaan), Ihsaan (Kedermawanan), Husn dan Jamaal (Keelokan)-Nya. Dilihat dari segi pengertian yang dikandungnya, Khasy-yat dan Islam sesungguhnya adalah satu, karena pengertian mengenai Khasy-yat yang sempurna terkait erat dengan pengertian mengenai Islam.” [5]

Yakni, disebutkan di dalam ayat ini, orang-orang yang memiliki ilmu tentang sifat-sifat dan Dzat Allah Ta’ala, dia menjadi seorang aalim. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang Muslim hakiki, adalah keharusan untuk mengenal keagungan dan sifat-sifat Allah Ta’ala, tanpa itu, tidak dapat memiliki sikap khasy-yat, dan tidak ada pengkhususan (pengistimewaan) dalam hal ini, bahwa satu golongan orang meraih hal ini sedangkan selainnya tidak. Maka, sangat penting bagi setiap orang Mu’min dengan segenap kesiapan dan kemampuannya masing-masing untuk memperoleh hal ini, sebab hanya dengan itulah ia dapat memperoleh kemajuan iman, dan kemajuan dalam hal hubungannya dengan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Hadhrat Masih Mau’ud as dengan menyebut Islam dan Khasy-yat itu satu jenis, maka seorang Muslim hakiki telah diposisikan dalam sifat seorang ’aalim (orang berilmu).

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Lebih atau kurangnya, sifat alami manusia adalah mereka meraih hidayah (petunjuk) setelah mendapatkan ilmu yang sempurna tentang Tuhan, sebagaimana yang Dia nyatakan, ‘…..innama yakhsyallaha min ibadihil ‘ulamaa’u…..’ – “Sesungguhnya. yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah al-‘ulamaa’uMaka mereka yang bersikap setani, yakni, bertentangan dengannya, adalah berada di luar kaidah tersebut.” [6]

Ini berarti bahwa mereka yang di dalam fitrat (nurani) mereka sendiri telah rusak oleh syaithaniyyat (pengaruh setan), maka mereka berada di luar itu (mereka tidak dibimbing). Mereka yang mengklaim (mengaku-aku) meraih ilmu namun tidak berjalan diatas hidayah (petunjuk), mereka bukanlah orang alim, kendati pun mereka senang terlihat seperti orang berilmu. Jika dikatakan, “Orang itu mengajar Al-Quran,” Kita mengatakan, “Al-Qur’an tidak salah, tetapi pernyataan mereka adalah salah dengan mengatakan bahwa mereka mengetahui Al-Qur’an, namun, mereka tidak berusaha untuk mengetahui semangat Al-Qur’an.” Ini adalah fakta bahwa Al-Qur’an melimpahkan ilmu pengetahuan dan irfan kepada mereka yang memiliki hati penuh khasy-yat, tetapi bagi orang-orang yang sombong, yang hati mereka kosong dari khasy-yat (takut kepada Allah) dan yang lalim, Al-Qur’an tidak menyebabkan apa pun bagi merekaselain kerugian.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as pun bersabda,

“Yang dimaksud dengan ilmu bukanlah mantiq (logika) dan filsafat, melainkan, ilmu yang hakiki adalah ilmu yang diberikan oleh Allah Ta’ala sebagai karunia-Nya semata. Ilmu semacam itu menjadi sarana ma’rifat Allah Ta’ala (sumber kesadaran akan keberadaan Allah) dan menimbulkan sikap Khasy-yat Ilahi. Sebagaimana dinyatakan-Nya di dalam Al-Qur’an Asy-Syarif: ‘…..innama yakhsyallaha min ibadihil ‘ulamaa’u…..’  Jadi, jika ilmu tersebut tidak membuat kemajuan dalam hal khasy-yat kepada Allah, maka ingatlah ilmu tersebut tidak menjadi sarana ma’rifat.” [7]

Jadi, orang-orang yang [ucapan] lidahnya tiada lain hanya mengeluarkan kata-kata dusta, mereka yang amal perbuatannya tidak keluar dari ambisi-ambisi duniawi (materi). Mereka yang tiada lain perkataannya selain melontarkan penghinaan. Dewasa ini saksikanlah di Pakistan, bahkan di sini (Inggris), kebanyakan di masjid-masjid selama khotbah, mereka membicarakan mengenai penentangan terhadap Jemaat dan penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, tiada lain yang keluar dari mulut mereka selain kata-kata keras dan penghinaan. Inikah para ulama yang di hatinya terdapat khasy-yat terhadap Allah? Sungguh pasti, jawabannya ialah tidak.

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

‘Ingatlah selalu, hanya mereka yang bodohlah yang tergelincir (tersesat). Setan yang tergelincir, itu bukan dikarenakan ilmunya, melainkan kebodohannya. Jika ia memiliki ilmu yang sempurna, tentulah ia pun tak akan tergelincir. Di dalam AlQur’an tidak ada cercaan terhadap ilmu, melainkan menegaskan: ‘…..innama yakhsyallaha min ibadihil ‘ulamaa’u’ – “Sesungguhnya. yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah al-‘ulamaa’u,…” Maka para mullah yang berilmu kurang itulah yang masyhur disebut membahayakan iman. Jadi, para penentangku tidaklah hancur karena keilmuan mereka melainkan karena jahaalat (kebodohan, ketuna-ilmuan) mereka.” [8]

Hadhrat Masih Mau’ud as pun bersabda,

’Aalim Rabbani tidaklah menunjukkan mereka yang mahir dalam hal ilmu Sharaf, Nahwu, Mantiq, dan yang lainnya melainkan mereka yang senantiasa bersikap takut kepada Allah; dan lidahnya pun tidak mengutarakan hal-hal yang tak masuk di akal. Akan tetapi sayang, sekarang ini, telah terjadi hal demikian, bahkan tukang memandikan jenazah pun mulai menamakan dirinya ulama dan menjadikan diri mereka masuk dalam istilah itu (ulama).” (Yakni, para tukang memandikan jenazah disebut atau menyebut diri ulama karena di beberapa tempat, mereka sangat jarang sehingga dicari orang-orang khusus untuk memandikan jenazah. Tidak setiap orang yang memandikan jenazah. Maka, mereka pun mulai menyebutnya ulama.) Beliau as bersabda, “Dan begitulah mereka menggunakan kata itu [ulama] untuk kepentingan mereka sendiri. Atas hal tersebut kata itu sedemikian rupa telah direndahkan, dan pengertian dan konotasinya telah dibawa ke arah yang bertentangan dengan kehendak dan tujuan Allah Ta’ala. Padahal Al-Qur’an Karim telah menegaskan, bahwa inilah sifat-sifat para ulama: ‘…..innama yakhsyallaha min ibadihil ‘ulamaa’u…..’. Yakni, para hamba Allah yang bersikap takut kepada Allah saja-lah yang disebut ulama. Maka kini menjadi sangat penting untuk dapat mengamati, bahwa mereka yang tidak memiliki sifat khauf, khasy-yat dan Taqwa kepada Allah, sungguh tidak patut untuk disebut dengan julukan [‘ulaama’] tersebut.”

Kemudian bersabda,

“Pada dasarnya, ulamaa’ adalah jamak dari kata ‘aalim, dan yang disebut dengan ilmu adalah sesuatu yang yaqiini (meyakinkan) dan qath’i (jelas dan pasti), dan ilmu yang benar ditemukan dari Al-Qur’an asy-Syarif. Ia tidak didapat dari filsafat Yunani ataupun Inggris kontemporer. Melainkan, falsafah keimanan yang benar ada didapat sebagai bagian dari Al-Qur’an al-Karim. Kesempurnaan dan titik puncak seorang mukmin adalah mencapai derajat ‘ulama’ dan meraih maqam (kedudukan) haqqul-yaqin yang merupakan titik puncak yang tertinggi ilmu.” [9]

Sekarang ini, setiap mu’min, setiap Muslim yang beriman yang maju dalam hal keimanan maka ia disebut mu’min. Tidak perlu baginya menyatakan diri bersaksi sebagai seorang alim-ulama. Akan tetapi, mereka yang tidak dikaruniai ilmu-ilmu haqqah (kebenaran), yang tidak dibukakan bagi mereka ma’rifat dan bashirat, silakan menganggap diri mereka ulama, tetapi mereka itu sungguh telah kosong dari keistimewaan dan sifat-sifat ilmu [yang hakiki] tersebut, mereka tak memiliki terang dan nur (cahaya) yang dapat ditemukan di dalam ilmu yang hakiki. Bahkan, orang-orang seperti mereka itu telah berada dalam kesesatan dan kerugian. Mereka mengisi akhirat mereka dengan kabut asap dan kegelapan…Sedangkan mereka yang telah dikaruniai ma’rifat yang benar dan bashirat, dan ilmu itu yang natijahnya dianugerahi sikap khasy-yatullah, mereka itulah yang di dalam hadits ditasybihkan (dipersamakan) dengan para nabi Bani Israil. [10]

Pendeknya, aalim-ulaama yang sebenarnya ialah orang-orang yang seperti disebut tadi. Dewasa ini mengenai keadaan para ulama telah ada disebutkan dalam hadits. Mereka itulah para ulama yang hanya menyatakan diri alim-ulama namun dalam hal amal perbuatan tidak ada sama sekali. Disebutkan dalam hadits “علماؤهم شرُّ مَن تحتَ أديم السماء، مِن عندهم تخرُج الفتنة وفيهم تعود”.  ‘ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i min ‘indihim takhrujul fitnatu wa fiihum ta’uudu.’ – “Ulama mereka (ulama pada zaman itu) adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit, karena dari mereka keluar fitnah dan fitnah itu kembali kepada mereka.” [11]  Dan saat ini, silakan disaksikan oleh saudara-saudara berapa banyak huru-hara dan kerusakan yang timbul disebabkan ulah para ulama, para ulama yang hanya sekedar nama saja ulama. Oleh karena itu, hadits ini juga menjelaskan, setiap orang alim atau orang yang disebut alim tidak [dijamin] terdapat sikap khasy-yat kepada Allah, dan saat ini seperti sebelumnya telah saya katakan telah sama-sama kita saksikan, bahwa penyebab timbulnya fitnah dan fasad (kerusakan) kebanyakan dari  orang-orang yang menamakan diri ulama.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

Taqwa dan takut kepada Allah timbul karena adanya ilmu sebagaimana dinyatakan oleh Allah Ta’ala: ‘…..innama yakhsyallaha min ibadihil ‘ulamaa’u…..’, yakni, hanya mereka yang takut kepada Allah Ta’ala yang berilmu [atau alim].’ Hal ini jelas menunjukkan, bahwa ilmu yang hakiki menimbulkan sikap Khasy-yat; dan Allah Ta’ala telah mengaitkan Taqwa dengan adanya ilmu. Yakni, orang ‘alim yang sesungguhnya tentulah akan memiliki sikap Khasy-yat kepada Allah. Adapun yang dimaksud dengan ilmu, yang aku maksudkan adalah ilmu Al-Qur’an. Bukan ilmu filsafat, sains, ataupun berbagai gelar kontemporer. Sebab, untuk dapat mencapai derajat Taqwa [bukan itu], Taqwa tidak bersyarat [kepada hal itu]. Karena si pendosa dan biadab pun dapat mempelajarinya, demikian pun orang yang beragama. Akan tetapi ilmu Al-Qur’an tidak diberikan kepada sembarang orang yang tidak muttaqi dan tidak beragama. Jadi, yang dimaksud dengan ilmu di sini, adalah ilmu Al-Qur’an yang menimbulkan sikap Taqwa dan  Khasy-yat kepada Allah.” [12]

Hadhrat Masih Mau’ud as lagi bersabda,

“Seseorang hendaknya jangan sampai tertipu dengan istilah ‘ulama’ (orang yang memiliki ilmu). Ingatlah, orang alim adalah ia yang takut kepada Allah Ta’ala, yakni, ‘…..innama yakhsallaha min ibadihil ‘ulamaa’u…..’ Jadi, tak diragukan lagi, orang-orang yang bersikap takut kepada Allah dari antara para abdi-Nya, itulah dia yang disebut alim (orang berilmu). Di dalam diri mereka terdapat ubudiyyat taammah (penghambaan sempurna) dan khasy-yatullah sedemikian tinggi, sehingga Allah Ta’ala sendiri yang mengajarkan kepada mereka suatu ilmu dan makrifat, serta mendapatkan faedah darinya, dan maqam (kedudukan) dan derajat mulia ini hanya dapat diperoleh melalui kaamil ittiba’ (mengikuti dengan sempurna) dan kecintaan sepenuhnya kepada Hadhrat Rasulullah saw sedemikian rupa, sehingga jati dirinya pun larut sepenuhnya kepada rona corak warna akhlak beliau Saw.”[13]

Pendek kata, inilah hakikat aalim dan inilah dia makna dari ulama yang memiliki sikap Khasy-yat kepada Allah Ta’ala. Dari kutipan-kutipan [tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as] ini telah dapat kita ketahui perbedaan antara ulama hakiki dan ulama-ulamaan dimana hal itu menarik perhatian kita, “Usahakanlah olehmu ketakwaan hakiki dan ciptakanlah Khasy-yatullah!” Sebab, bagi seorang beriman hal ini adalah penting supaya menjadi mu’min dan Muslim hakiki. Oleh karena itu, di dalamnya (kutipan-kutipan itu) terdapat kewajiban-kewajiban bagi kita. Hal ini tidak bersifat eksklusif hanya untuk suatu kelompok masyarakat saja. Berjalan diatas ketakwaan adalah ketetapan untuk setiap Mu’min. Adalah keharusan bagi setiap orang untuk berjalan diatas keteladanan Nabi saw karena tanpa itu takkan mendapat kecintaan Tuhan.

Ringkasnya, di bulan Ramadhan ini pintu-pintu kedekatan dengan Allah Ta’ala yang telah dibukakan, dan tercipta lingkungan sedemikian rupa penolong dan pendukung untuk memajukan ketakwaan. Menjadi sara memfokuskan diri bagi kita untuk berjalan diatas uswah hasanah Hadhrat Rasulullah saw. Ada juga dars-dars dan lainnya. Dars-dars (pengkajian) Hadits juga. Ada juga dars-dars Al-Qur’an. Kita mendengarkannya; maka kita mendapatkan faedah sebanyak-banyaknya darinya. Hendaknya kita membahas ilmu dan makrifat tentang jalan-jalan yang membuat kita maju dalam ketakwaan dan khasy-yat kepada Allah selama tilawat dan daras Al-Qur’an atau mendengarkannya.

Saya hendak menjelaskan sedikit dengan merujuk pada ayat-ayat [Quran] yang telah saya tilawatkan di awal Khotbah. Lima ayat pertama sebagaimana saya katakan dari Surah al-Mu’minun, di dalamnya menyebut mengenai keistimewaan seorang Mu’min hakiki. Ayat pertama menyebutkan, seorang mu’min hakiki senantiasa takut kepada Tuhan mereka; mereka gentar, inilah khasy-yat yang seharusnya ada pada orang-orang beriman. Yakni, seperti telah saya sampaikan, mereka mengikrarkan keagungan Allah Ta’ala, dan menganggap Pemilik semua kekuatan adalah Allah Ta’ala serta gentar takut kepada-Nya. Selanjutnya, mengimani tanda-tanda Allah Ta’ala. Itulah Mu’min hakiki. Itulah Muslim hakiki.

Dan, apakah tanda-tanda itu? Ialah semua perintah, semua tanda dan semua mukjizat dari Allah Ta’ala yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’anul Karim, dan semua ayat Al-Qur’an, ini semua ialah tanda-tanda. Bagi seorang beriman, beramal berdasarkan itu adalah sangat penting. Iman sempurna terjadi dengan pengamalan atasnya. Amal perbuatan tersebut menjadi sumber penguatan keimanannya dan menambah Khasy-yatnya kepada Allah Ta’ala. Berfirman, “Mu’min hakiki tidak akan menetapkan sekutu bagi Tuhannya.” Orang yang di dalamnya terdapat sikap Khasy-yat, dan yang beriman kepada tanda-tanda-Nya, tidak akan berbuat syirk, namun, adakalanya makhfi syirk (syirik tersembunyi) timbul juga dalam diri seorang insan. Oleh karena itulah, penting baginya untuk senantiasa mengawasi dirinya sendiri setiap waktu, dengan demikian saat itulah ia menjadi Mu’min hakiki. Adalah penting baginya setiap saat untuk harus menjaga agar ucapan dan perbuatannya teguh setiap saat dalam kebenaran. Kemudian ciri khas keempat yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut adalah: Mereka yang mengkhidmati agama, melakukan pengorbanan waktu dan harta bendanya, mereka berusaha mengamalkan perintah-perintah Tuhan, namun, sebagaimana mereka itu adalah mu’min hakiki, qalbu mereka diliputi rasa takut, “Segala hal kebajikan telah kulakukan, aku tidak tahu apakah kiranya ini semua diterima oleh Allah Ta’ala ataukah tidak.” Kapan pun tidak membiarkan ada kesalahan yang demikian halus tersembunyi yang membuat keridhaan Tuhan pun menjauh. Kapan pun tidak akan membuat sedikit pun adanya makhfi syirk yang dapat merusak amalan. Kapan pun tidak akan menjadi sebab timbulnya kelemahan iman karena ketiadaan pengamalan perintah Allah atau memperlihatkan kelemahan. Kapan pun tidak ingin memperlihatkan khasy-yat kepada Allah Ta’ala hanya pada tataran lahiriah.

Diriwayatkan oleh Hadhrat ‘Aisyah r.ha bahwa suatu kali beliau r.ha bertanya kepada Hadhrat Rasulullah saw, “Wahai Rasul Allah! Apakah وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ‘walladziina yu-tuuna maa aataw wa quluubuhum wajilah’ – “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sedang hati mereka penuh ketakutan bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” – maksudnya ialah seseorang dapat melakukan apa pun yang disukainya, tetapi ia [sembari] takut kepada Allah?” Hadhrat Rasulullah saw menjawab, “Tidak [demikian maksudnya]. Melainkan artinya ialah manusia harus mempraktekkan kebaikan-kebaikan namun bersamaan dengan itu ia juga bersikap takut kepada Allah.” [14]

Oleh karena itulah, hendaklah senantiasa mengingat hal ini bahwa Allah Ta’ala itu be Niyaaz (Al-Ghani, Maha Kaya, tidak bergantung kepada segala sesuatu) Dia berkenan menerima suatu amal kebaikan-kebaikan dan tidak menerima amal kebaikan-kebaikan lainnya. Hal ini adalah tergantung yang Dia sukai; mana yang Dia kehendaki; Dia menerimanya. Dia Berkehendak pula untuk tidak menerima sesuatu yang lain. Oleh karenanya, senantiasalah takut dan takjub kepada-Nya setiap waktu supaya ketika kita hadir di hadapan-Nya, Dia memperlakukan kita dengan penuh karunia dan ampunan. Hendaknya tidak membanggakan suatu kebaikan macam apa pun.

Hadhrat Rasulullah saw biasa menyertakan doa ini dalam doa-doa beliau saw. Disebutkan di dalam sebuah riwayat bahwa Syahr bin Hausab menceritakan, “Saya bertanya kepada Ummu Salamah r.ha, ‘Wahai Ummul Mukminin! Tatkala Nabi saw sedang menyendiri doa yang mana yang banyak beliau saw panjatkan?’ Atas hal itu Ummu Salamah r.ha menjelaskan, “Doa yang sering beliau saw panjatkan ialah يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ ‘[Yaa Muqallibal quluubi tsabbit qalbii ala diinika], yakni, ‘Wahai Engkau Pengubah qalbu, teguhkanlah qalbuku atas agama-Mu.’ Hadhrat Ummu Salamah r.ha bertanya kepada Rasulullah saw mengenai perlunya memanjatkan doa ini secara terus-menerus dan teratur; beliau saw menjawab, ‘Wahai Ummu Salamah, qalbu setiap insan berada di antara dua jari Allah. Dia meneguhkan mereka yang dikehendaki, dan membalikkan mereka yang Dia kehendaki.’” [15]

Pendek kata, beliau saw yang telah datang untuk memberikan bimbingan kepada kita; dengan mengikuti keteladanan beliau saw, seseorang mencapai Taqwa dan Khasy-yat hakiki, yang dengan mengikuti beliau saw menjadikannya sebagai kekasih Allah Ta’ala,  standar khasy-yat beliau saw adalah senantiasa takut kepada Allah Ta’ala dan seberapakah kita untuk memperhatikan pentingnya hal ini? Allah Ta’ala berfirman bahwa barangsiapa yang mencapai keadaan [khasy-yat] ini maka merekalah yang terdepan berlomba-lomba dalam hal kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan. Ia akan memperhatikan keadaan dirinya setiap segi dan setiap waktu atau menjadi orang yang dalam keadaa seperti ini maka kemudian akan timbul perhatian kearah perbuatan baik dan utama; dan manusia akan tetap berusaha untuk itu. Mereka berusaha melakukan ini supaya memiliki segala jenis kebaikan. Mereka mengalami kemajuan dalam ketakwaan namun tidak bersikap bangga dalam hal ini. Dalam setiap keadaan di setiap waktu hatinya ditundukkan kepada Tuhan. Dan inilah keadaan yang mengarahkan pada kedekatan kepada Tuhan.

Salah satu kebaikan sangat besar di antara kebaikan-kebaikan Hadhrat Rasulullah saw kepada kita adalah beliau mengajarkan kita cara-cara berdoa. Sebuah doa demikian dapat ditemui di dalam hadits-hadist yang pada dasarnya itu untuk kita. Tiap-tiap orang dari kita hendaknya banyak membacanya. Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah saw biasa berdoa ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعِ.

“Allahumma innii a’uudzu bika min qalbin laa takhsya’u wa min du’aa-in laa yusma’u wa min nafsin laa tasyba’u wa min ‘ilmin laa yanfa’u a’uudzu bika min haa-ulaail arba’” “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari hati yang tidak khusyu’; dari doa-doa yang tidak dikabulkan; dari jiwa [atau nafs] yang tak pernah terpuaskan; dan dari ilmu yang tidak mendatangkan faedah. Aku berlindung kepada Engkau dari keempat hal tersebut.” [16]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua orang-orang yang memahami doa ini.

Saya juga ingin menyajikan sebuah doa lainnya dari Hadhrat saw. Doa ini mencapai titik puncak kerendahan hati dan Khasyyatullah yang merupakan sebuah contoh sempurna khasy-yat beliau saw. Pada kesempatan Hajjatul Wida beliau memanjatkan doa memohon kepada Maula (Tuhan Maha Pelindung) beliau saw, ‘‘Wahai Allah, Engkau mendengar apa yang aku katakan dan melihat kondisiku. Engkau Maha Mengetahui segala hal yang tersembunyi maupun semua perkaraku yang tampak. Tidak ada sedikitpun tentang diriku yang tersembunyi dari Engkau. Aku ini fakir dan miskin yang senantiasa memerlukan pertolongan dan perlindungan Engkau; dari ketakutan maupun kepengecutan. Aku menghadap kepada Engkau dengan mengakui segala dosaku. Aku memohon kepada Engkau layaknya orang miskin yang merendah; dan aku mengiba di hadapan Engkau sebagaimana orang hina yang berdosa. Aku memanjatkan doa kepada Engkau seperti si buta yang ketakutan. Leherku tunduk di hadapan Engkau. Air mataku mengalir atas Kehadiran Engkau. Tubuhku menaati Engkau lalu menjatuhkan diri dalam sujud di hadapan Engkau dan hidungku penuh dengan debu. Wahai Allah, janganlah sia-siakan diriku dengan doa-doaku ini. Perlakukanlah diriku dengan kasih dan sayang. Wahai Engkau Sebaik-baik Pengabul rintihan para pemohon, dan Sebaik-baik Pemberi Karunia, terimalah doa-doaku ini.”[17]

Begitulah sikap seorang Nabi Besar, yang telah memberi kita contoh teladan besar sikap Khasy-yat kepada Allah yang setiap waktu disampaikan di depan umat beliau saw. Perhatikanlah setiap kata-katanya; perhatikanlah setiap amal perbuatan beliau yang penuh dengan sikap Khasy-yat, meskipun beliau itu adalah insan yang paling dekat dengan Allah Ta’ala. Mereka yang mengaitkan dirinya dengan beliau saw, mendapat kabar suka disebut ‘radhiyAllah’ (semoga Allah senantiasa meridhai mereka). Pendek kata, inilah uswah hasanah (teladan terbaik) dan inilah khasyyatullah. Jika kita mengikuti Nabi saw itu dan menerapkan hal itu, menumbuhkannya di dalam diri kita niscaya kita pun dapat menjadi orang-orang yang memperoleh karunia Allah Ta’ala itu pula.

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk memahami ruh Khasy-yat ini selama bulan Ramadhan sehingga menjadi orang-orang yang melewati kehidupan berdasarkan hal itu. Semoga pula Allah Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang melakukan perubahan rohani yang revolusioner dalam diri sendiri lewat Ramadhan ini.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Aqrabul Mawaarid pada kata ‘khasyiya’ dari Tafsir Kabir jilid 1 halaman 525″الخشية تكون من عظمة المخشيّ، والخوف من ضعف الخائف.” (الأقرب).

[3] Mu’jam Mufradaat Alfaazhil Qur’aan oleh Imam Raghib pada kata ‘khasyiya’ “الخشية خوف يشوبه تعظيم، وأكثر ما يكون ذلك عن علم بما يُخشى منه، ولذلك خُصَّ العلماء بها في قوله تعالى: إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ.”

[4] Dikutip dari Tadzkiratul Auliya oleh Hadhrat Syaikh Fariduddin Athar rha, halaman 74-75 terbitan Islami Kutub Khaanah, Lahore

[5] Ainah Kamaalaati Islam, Ruhani Khazain jilid 5 halaman 185

[6] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain, jilid 22, halaman 122

[7] Malfuuzhaat, jilid 1, halaman 195, edisi 2003, terbitan Rabwah

[8] Malfuuzhaat, jilid 2, halaman 223, edisi 2003, terbitan Rabwah

[9] Malfuuzhaat, jilid 1, halaman 231, edisi 2003, terbitan Rabwah

[10] Malfuuzhaat, jilid 1, halaman 231-132, edisi 2003, terbitan Rabwah

[11] Hadits ini tersebut dalam Al-Baihaqi dan Misykat. Juga dalam ‘Al-Jaami’ li sya’bil iiman’ juz 3 halaman 317-318, bagian qaala wa yanbaghi li thaalibi ‘ilmin ay yakuuna ta’limihi, terbitan Maktabah ar-Rusyd as Sa’udiyyah, 2004

[12] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 599, edisi 2003, terbitan Rabwah

[13] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 433-434, edisi 2003, terbitan Rabwah

[14] Sunan at-Tirmidzi, Kitab Tafsil al-Qur’an, bab min Suratil Mu’minun

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ وَهْبٍ الْهَمْدَانِيِّ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ { وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ } قَالَتْ عَائِشَةُ أَهُمْ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ قَالَ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

Dari Abdurrahman bin Sa’id bin Wahab Al Hamdani bahwa Aisyah, istri nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tentang ayat ini: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut, ” (Al Mu’minuun: 60) Aisyah bertanya: Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri? Beliau menjawab: Bukan, wahai putri Ash Shiddiq, tapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat dan bersedekah, mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan.”

[15] Sunan at-Tirmidzi, Kitab ad-Da’waat (tentang doa-doa) menyebutkan:

عن شهر بن حوشب قَالَ: قُلْتُ لأُمِّ سَلَمَةَ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ  إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ. قَالَتْ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ؟ قَالَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ. (الترمذي، كتاب الدعوات عن النبي)

[16] Di dalam hadits dari Sunan at-Tirmidzi, Kitab ad-Da’waat

[17] Kitab hadits al-Mu’jam al-Kabiir oleh Ath-Thabraani jilid 11, h. 140 Atha dari Ibnu Abbas hadits 11405, penerbit Dar Ihya-it Turats al-‘Arabi disebutkan:

“اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلامِي، وَتَرَى مَكَانِي، وَتَعْلَمُ سِرِّي وعلانيتِي، لا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِي، أَنَا الْبَائِسُ الْفَقِيرُ الْمُسْتَغِيثُ الْمُسْتَجِيرُ الْرَجِلُ الْمُشْفِقُ الْمُقِرُّ الْمُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ، أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمستكينِ وأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابتهالَ الْمُذْنِبِ الذَّلِيلِ، وَأَدْعُوكَ دُعَاءَ الْخَائِفِ الضَّرِيرِ مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ وَفَاضَتْ لَكَ عَيْنَاهُ وذلَّ جَسَدُهُ وَرَغِمَ أَنْفُهُ لَكَ، اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْنِي بدُعائِكَ شَقِيًّا، وَكُنْ بِي دَوْمًا رَحِيمًا، يَا خَيْرَ الْمَسْئُولينَ وَيَا خَيْرَ الْمُعْطِينَ.”

“Allahumma innaka tasma’u kalaami wa tara makaani wa ta’lamu sirrii wa ‘alaaniyatii, laa yakhfaa ‘alaika syai-un min amrii; anal baa-isul faqiirul mustaghiitsul mustajiirur rajilul musyfiqul muqirrul mu’tafiru bi dzanbih; as-aluka mas-alatul mustakiini wa abtahilu ilaika ibtihaalal mudznibidz dzaliil; wa ad’uuka du’aa-al khaaifidh dhariiri man khadha’at laka raqbatuhu wa faadhat laka ‘ainaahu wa dzalla jasaduhu wa raghima anfuhu laka; Allahumma laa taj’alnii bi du’aa-ika syaqiyyaa; wa kun bii Dauman Rahiiman; yaa Khairal Mas-uuliina wa Yaa Khairal Mu’thiin.”