Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin  Hadhrat  Mirza Masrur  Ahmad  Hadhrat Khalifatul Masih VAtba.[1]

Tanggal 13 Hijrah 1390 HS/Mei 2011

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam[2] dalam buku beliau as ‘Nuzulul Masih’ bersabda, “Sejak permulaan Tuhan telah menetapkan undang-undang dan sunnah-Nya bahwa, Dia dan rasul-rasul-Nya akan selalu menang. Oleh karena aku seorang rasul-Nya atau utusan-Nya, tanpa membawa syari’at baru, tanpa membawa nama baru, melainkan aku datang atas nama Nabi Yang Mulia, Khatamul Anbiya shallallahu ‘alaihi wa sallam[3] dan mencintai-nya serta menjadi mazhar (cerminan) dari pada wujudnya. Maka aku katakan, sejak dahulu yakni sejak zaman Nabi Adam a.s. sampai kepada zaman Hadhrat Rasulullah saw makna ayat tersebut selalu sempurna kebenarannya. Sekarang juga ayat ini akan sempurna kebenarannya bagi mendukung kebenaran diriku.”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud as disini (dalam pembahasan diatas) sedang merujuk pada ayat dalam surat al-Mujaadalah yang ayatnya ialah كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Kataballahu laaghlibanna ana wa rusulii, Innallaha qawiyyun aziz. “Allah telah tetapkan bahwa Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa  Maha  Mulia.” (Surah al-Mujadalah, 58: 22)

Beberapa hari yang lalu saya menerima sepucuk surat dari seseorang yang tinggal di Pakistan. Walaupun saya tidak sepakat dengan penulis tersebut, sebab apa yang dia uraikan itu tidak dapat dianggap sebagai pendapat umum. Dia menulis bahwa dalam literatur dan buku-buku Jemaat sangat diperlukan banyak penjelasan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as adalah seorang Nabi Allah sebab banyak sekali orang-orang [Jemaat] merasa ragu menyebut beliau sebagai Nabi. Menurut pendapat saya penulis surat itu telah berburuk sangka terhadap orang-orang Jemaat lainnya, dan pendapatnya ini tidak dapat dianggap mewakili pendapat umum. Mungkin saja penulis surat itu sepergaulan dengan orang-orang yang mempunyai pemikiran serupa itu disebabkan pengaruh beberapa keadaan. Mereka yang tidak banyak jumlahnya itu telah dikuasai oleh masalah kebendaan duniawi. Mungkin saja mereka telah menjadi sasaran pemikiran mereka sendiri. Dimana mereka tidak pernah melihat tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as tentang itu atau mungkin mereka tidak pernah membacanya. Bahkan, mungkin saja mereka tidak mendengar khutbah-khutbah saya. Sekalipun saya selalu berusaha dengan beberapa macam cara untuk memperkenalkan atau menjelaskan kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud as.       Bagaimanapun, jika seseorang mempunyai pikiran demikian dalam hatinya, maka setiap orang yang mengaku dirinya Ahmadi, harus jelas bahwa Hadhrat Masih Mau’ud [Mirza Ghulam Ahmad] as adalah seorang Nabi Allah sesuai dengan nubuatan Hadhrat Rasulullah saw. Demikian juga jika ada orang yang tinggal disuatu tempat di dunia yang mengaku dirinya Ahmadi dan mempunyai pikiran demikian dalam hatinya, ia harus menjauhkannya. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as  sendiri telah bersabda yang telah saya jelaskan bahwa beliau a.s. adalah seorang Rasul, tanpa syaria’at baru dan dalam mengikuti Nabi Karim dan Khatamul Anbiya saw dan atas nama beliau saw, sesuai dengan nubuatan dalam ayat Alqur’anul Karim Surah Al Jum’ah ayat 4 yaitu  وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ

yakni Dia akan membangkitkannya ditengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah, 62 : 4).

Sejauh ini pertanyaan untuk para Ahmadi di Pakistan dan pertanyaan untuk para Ahmadi di Indonesia yang mana mereka sedang menghadapi penganiayaan yang keras sekali ialah mengapa mereka mengatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud sebagai nabi Allah dan mengapa menganggap beliau as sebagai nabi? Oleh sebab itu selain dari beberapa gelintir orang yang telah mengambil jalan mudaahanah (sikap mengiya-iyakan pendapat lawan bicara walau bertentangan dengan keyakinan), secara umum para Ahmadi yang tinggal di Pakistan tidak dapat dikatakan bahwa mereka tidak menganggap Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai nabi. Bahkan, dengan berlebihan para penentang kita menuduh para Ahmadi, na’uzu billah, mempercayai Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai nabi terakhir. Padahal tidak pernah walau satu orang Ahmadi pun yang membayangkan bahwa selain Hadhrat Rasulullah saw dapat ada lagi nabi pembawa syariat terakhir atau ada orang lain yang dapat mengungguli kedudukan beliau saw. Apa yang dinyatakan oleh orang-orang Ahmadi hanyalah keluhuran dan keistimewaan Hadhrat Rasulullah saw semata. Dan termasuk iman dan keyakinan orang-orang Ahmadi bahwa Allah Ta’ala telah memberi kedudukan yang sangat tinggi kepada beliau saw dan Allah Ta’alat elah memberi martabat demikian rupa kepada beliau saw, sehingga terhadap orang yang beriman kepada beliau, yang terbenam dalam kecintaan kepada beliau dan menjadi pengikut sejati beliau dan yang merasa bangga menjadi umat beliau, kepadanya Allah Ta’ala memberi kedudukan nubuwwat (kenabian).

Tidak ragu lagi bahwa Hadhrat Nabi Muhammad saw adalah Khatamun Nabiyyin dan karena patuh mengikuti beliau saw Hadhrat Masih Mau’ud as adalah nabi Allah. Jika kita tidak beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai nabi Allah, maka pengakuan kita tentang kebangkitan Islam dan kemenangan Islam akan diraih melalui Ahmadiyyat yakni Islam hakiki adalah salah. Sebab janji Allah Ta’ala mengenai kemenangan Islam diakhir zaman akan diraih oleh seorang Nabi atau Rasul akhir zaman, bukan dengan seorang Mujaddid atau seorang Muslih, sebagaimana telah difirmankan dengan jelas didalam ayat tersebut diatas. Kemenangan Islam diakhir zaman akan dapat diraih apabila orang-orang Mukmin bersama Jemaat betul-betul sesuai dengan yang dijanjikan Tuhan dalam ayat berikut :

 وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ

yakni dari antara golongan lain yang belum pernah bergabung dengan mereka. (Surah Al-Jumu’ah, 62:4). Oleh sebab itulah Hadhrat Rasulullah saw telah menegaskan terhadap orang-orang beriman dengan nasihat bahwa apabila Al-Masih dan Al-Mahdi sudah datang maka kalian harus pergi berjumpa dengannya dan sampaikan salamku kepadanya sekalipun untuk menjumpainya kalian harus merangkak keatas bukit salju.” Mengapa harus melakukan demikian?  Sebab dengan itu iman kalian menjadi kuat dan tangguh dan kemenangan Islam yang akan diperjuangkan bukan dengan pedang atau dengan senjata melainkan dengan menggunakan dalil-dalil dan keterangan yang jelas. Jika kalian mengambil bagian didalam perjuangan itu maka kalian akan menjadi para pengikut-ku yang sesungguhnya dan kalian akan menjadi orang-orang yang akan meraih keridhaan Allah Ta’ala dan kalian akan menjadi orang-orang mukmin yang sejati.

Jadi, orang Ahmadi beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan menggabungkan diri dengan beliau yang dengan itu iman kepada Allah dan Rasulullah saw menjadi bertambah kuat dan agar dapat menyaksikan kemenangan Islam [yang dijanjikan].

Lalu hendaklah mencamkan hal ini bahwa jika Hadhrat Masih Mau’ud as bukan seorang nabi, maka tentunya Khilafat juga tidak akan ada. Hal demikian karena adanya (eksistensi) khilafat sangat erat kaitannya dengan nubuwwat (kenabian). Dan Khilafat berjalan atas dasar minhaj kenabian (Khilafah ála minhajin nubuwwat). Beliau as adalah Khatamul Khulafa dan karena kedudukan khatamul khulafa itulah beliau mendapat derajat nubuwah atau kenabian. Dan setelah beliau atau melalui beliau silsilah (rangkaian) Khilafat dimulai. Jadi, rangkaian Nizam Khilafat dalam Jemaat Ahmadiyah yang berlangsung terus-menerus menggantikan satu dengan yang lain kaitannya sangat erat dengan penerimaan, keimanan dan keyakinan kita bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as adalah seorang nabi.

Pada suatu ketika beberapa orang telah hadir di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as untuk baiat. Demi memperkuat iman mereka itu beliau as memberi nasehat mengenai berbagai macam perkara dengan sangat rinci sekali. Yang ringkasannya sebagai berikut,

“Hanya di mulut saja menyatakan bai’at bukanlah tobat, bai’at dan taubah harus ikrar dengan sepenuh hati. Jika hal itu sudah dipenuhi, maka sempurnanya janji-janji Tuhan akan dapat disaksikan oleh kalian. Orang-orang yang bai’at yang pada hakikatnya adalah keinginannya yaitu agar mereka dapat menciptakan perobahan suci dalam diri mereka. Dan pemandangan seperti ini sekarang juga orang-orang yang bai’at itu dapat menyaksikannya. Keadaan ruhaniyat mereka akan semakin meningkat. Banyak orang-orang yang telah bai’at menceritakan keadaan diri mereka dalam surat-surat mereka, bahkan perobahan yang timbal dalam diri mereka, dapat dirasakan oleh orang lain juga yang menyaksikannya. Anak-anak dan isteri mereka juga merasa heran dahulu suami atau ayah mereka keadaannya begitu sekarang telah berobah menjadi begini baik.  Sesungguhnya itulah yang disebut bai’at sejati yang dapat membuat perobahan suci pada diri seseorang.

Selain itu beliau as memberi nasihat kepada orang-orang yang baru bai’at itu, “Kapanpun jangan melakukan bai’at dicampuri syarat untuk mendapatkan barang-barang duniawi, akan tetapi [baiat] untuk menciptakan keadaan lebih baik dalam setiap amal perbuatan kalian. Dan perhatikanlah nanti Allah Ta’ala tidak akan membiarkan tanpa memberi pembalasan dan ganjaran yang baik kepada kalian. Janganlah merasa gelisah setelah melakukan bai’at apabila banyak kesulitan yang dihadapi, selangkah demi selangkah mukmin sejati pasti akan selalu menang dan unggul diatas musuh-musuhnya. Sebab Allah Ta’ala telah berjanji “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.”[5]

Bersabda, “Senjata kita untuk meraih kemenangan adalah istighfar, taubah, pengenalan ilmu-ilmu pengetahuan agama, setiap saat memusatkan perhatian terhadap keagungan Allah Ta’aladan menunaikan salat lima waktu. Bersabda : “Salat adalah kunci bagi terkabulnya do’a-do’a. Apabila kalian menunaikan salat berdo’alah dengan khusyu dan jangan lengah, dan hindarkanlah diri dari setiap keburukan apakah yang berkaitan dengan hak-hak Allah Ta’alaataupun berkaitan dengan hak-hak sesama manusia.”[6]  Oleh karena itu kita harus menaruh perhatian sepenuhnya terhadap nasihat-nasihat beliau as yang sangat penting itu. Nasihat-nasihat itu bukan hanya bagi para anggauta baru bai’at saja, melainkan bagi setiap orang Ahmadi, dan berapa lama seseorang sudah masuk Jemaat Ahmadiyah ia harus lebih maju dalam keimanan. Hendaknya mereka  harus berusaha lebih giat dari pada pendatang baru masuk Jemaat dalam meningkatkan iman. Setelah itu apa yang harus dia lakukan, hendaknya ia harus memohon ampunan dari segala dosa dan kesalahan dimasa lampau maupun dosa-dosa dimasa yang akan datang, memohon perlindungan kepada Allah swt, supaya jangan melakukan perbuatan dosa lagi.

Apakah arti istighfar? [Istighfar] artinya penyesalan dari perbuatan salah yang dikerjakan dimasa lampau kemudian dimasa yang akan datang bertekad keras untuk menyelamatkan diri dari padanya. Kemudian tetap berpegang teguh diatas tekad itu sambil memohon pertolongan dari Allah swt. Kemudian harus berusaha mengetahui ilmu pengetahuan agama, yang pertama dan paling utama adalah pengetahuan Kitab Suci Alquranul Karim, kemudian diikuti pada zaman sekarang ini dengan pengetahuan dari buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s., tulisan-tulisan beliau dan risalah-risalah beliau a.s. yang berdasar kepada Alqur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw, yang membuktikan keindahan dan keagungan ajaran-ajaran Islam kepada dunia dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kongkrit. Tidak ada yang dapat menandinginya, sebab Islam adalah agama yang kamil dan paripurna. Jika keagungan Tuhan menjadi tumpuan dan perhatian kita, artinya jika kita beriman dan yakin dengan sesungguhnya bahwa Tuhanlah Pencipta setiap benda didunia ini dan Yang Menyempurnakan setiap keperluan makhluk-makhluk-Nya dan benda apapun yang ada diatas langit dan bumi, semua berada didalam pengetahuan-Nya secara kamil dan Dia Berkuasa atas segala sesuatu, Dialah Rab Kita Yang ditangan-Nya terletak hidup dan mati kita. Kita yakin Dia hadir disetiap tempat dan Dia menyaksikan kita setiap saat. Maka kita tidak dapat berbuat apapun yang bertentangan dengan kehendak dan keinginan-Nya. Dan apabila semua keagungan Allah Ta’ala ini sudah meresap dalam kalbu kita, maka fikiran untuk menunaikan kewajiban salat lima waktu setiap hari akan timbul dengan sendirinya didalam kalbu kita, dan dengan sendirinya pula kalbu kita akan selalu runduk dihadapan Tuhan untuk memanjatkan do’a-do’a kepada-Nya. Berkat eratnya hubungan dengan Allah Ta’ala itu akan timbul keyakinan didalam kalbu kita terhadap sempurnanya janji-janji Allah Ta’ala bahkan akan terus menerus tercipta kekuatan didalamnya. Dasar mengenai salat telah disabdakan bahwa ia adalah kunci kemaqbulan semua do’a-do’a. Salat adalah do’a yang dapat mendekatkan diri manusia kepada Tuhan dan dapat menghidupkan hubungan manusia dengan-Nya. Jadi, salat dikerjakan dengan tertib, dengan penuh perhatian serta tepat pada waktunya adalah satu ajaran Alquran juga dan Hadhrat Rasulullah saw juga telah menegaskannya demikian terhadap umat beliau saw. Demikian juga Hadhrat Masih Mau’ud as telah menegaskannya pula terhadap hal itu. Dan apabila manusia sudah mengamalkan semua hal itu, maka perhatiannya baik terhadap kewajiban memenuhi hak-hak Allah Ta’ala maupun terhadap kewajiban memenuhi hak-hak sesama manusia juga akan tetap tercurah.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Jika inqilaab (perubahan-perubahan revolusioner, mendasar) itu telah diciptakan dalam diri kalian, maka kalian akan mendapat bagian dalam kemenangan yang telah ditakdirkan dengan diutusnya Masih Mau’ud as yang kemenangannya berpasangan dengannya.” Tidak terdapat keraguan sedikitpun dalam hati kita tentang akan tercapainya kemenangan yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada Masih Mau’ud as. Akan tetapi sambil memberi nasihat kepada kita beliau as bersabda, “Itulah senjata-senjata bagi mencapai kemenangan kita, jika kalian berusaha menggunakannya tentu kalian akan memperoleh bagian dalam kemenangan itu. Jika tidak, kalian memang orang-orang Ahmadi dalam hal nama saja akan tetapi dalam amalan kalian bukan Ahmadi.”  Jadi, setiap orang Ahmadi harus berusaha menjadi para Ahmadi yang pandai beramal, yang siap sedia menjadi bagian dari kegiatan Hadhrat Masih Mau’ud as dalam  memperjuangkan kemenangan Islam. Allah Ta’ala telah memberi kabar-kabar suka di beberapa tempat yang tidak dapat dihitung banyaknya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai kemenangan itu. Dan setiap matahari terbit diatas Jemaat ini kita menyaksikan sempurnanya kabar-kabar gembira itu. Begitu kerasnya perlawanan secara kejam dan terus-menerus dilancarkan terhadap Jemaat Ahmadiyah, jika seandainya Jemaat Ahmadiyah ini hasil karya manusia, bukan didirikan atas perintah Tuhan, maka jangankan untuk maju beberapa langkah, satu saat-pun Jemaat ini tidak mungkin dapat hidup. Akan tetapi ingat, Allah Ta’ala telah berjanji terhadap Jemaat ini, bagaimanapun kerasnya semua perlawanan, semua kesulitan mereka lancarkan, Jemaat ini akan terus maju diatas jalan kemenangan. Allah Ta’ala telah memberitahu beliau as tentang kemajuan-kemajuan itu melalui ilham-ilham-Nya seperti telah saya sebutkan tadi.

Kita harus selalu ingat setiap waktu bahwa kabar-kabar suka Allah Ta’ala itu pasti benar. Dan telah ditaqdirkan Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as pasti menang. Akan tetapi apabila Allah Ta’ala memberi kabar-kabar suka tentang kemenangan, maka tanggung jawab orang-orang beriman-pun akan semakin meningkat. Ada beberapa tanggung jawab tertentu diatas pundak orang-orang beriman yang harus dilaksanakan. Allah Ta’ala berfirman ‘me teri tabligh ko zamin ke kinarung tak pahuncaungga’. Artinya “Aku akan sampaikan tabligh engkau sampai ke pelosok-pelosok dunia.” [7]

Sungguh! Tuhanlah yang sedang melaksanakan pekerjaan [tabligh] ini. Dan pada zaman ini Allah Ta’ala telah menjadikan MTA sarana yang besar [penting] untuk kegiatan [tabligh] itu yaitu Allah Ta’ala menyampaikan pesan ini ke berbagai penjuru dunia. Jadi, sekarang pesan (amanat) Hadhrat Masih Mau’ud as itu sampai ke seluruh pelosok dunia, MTA sedang memenuhi tugas itu (menyampaikan tabligh Jemaat ini). Akan tetapi jika kita memasang perangkat MTA lalu duduk malas, tidak mengerjakan apa pun, tidak menyusun suatu program, tidak ada rekaman berbagai macam kegiatan tabligh yang dibuat, atau kegiatan-kegiatan lainnya itu lalu kita tidak memanfaatkannya juga, berarti kita membuat diri kita mahrum (luput) dan tidak mendapat faedah dari pada sarana yang telah Tuhan sediakan itu. Jika kita tidak mengambil faedah dari literatur yang sangat luas yang telah disediakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as untuk disampaikan kepada orang lain atau disebarluaskan kepada masyarakat maka berarti kita tidak menunaikan kewajiban kita yang akibatnya kita akan menjadi orang berdosa. Walaupun demikian keadaan kita, pekerjaan Allah Ta’ala ini akan berjalan terus. Kita menjadi orang berdosa jika tidak memanfaatkan sarana yang telah disediakan oleh AllahTa’ala. Tidak pernah terjadi diatas dunia ini seorang nabi beserta para pengikutnya meninggalkan semua pekerjaan setelah menerima banyak janji [kemenangan] dari Allah Ta’ala, kemudian duduk bermalas-malas. Siapakah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala selain Nabi Muhammad saw? Akan tetapi ketika beliau saw diberi kabar oleh Allah Ta’ala tentang kemenangan diatas pemerintahan Kaisar Kisra, maka para sahabah juga terpaksa berusaha keras untuk itu dan banyak mengeluarkan pengurbanan juga untuk itu. Dahulu musuh-musuh Islam menganggap orang-orang Islam sangat lemah sekali dan berusaha hendak menghancurkan mereka. Padahal, sekalipun dunia menganggap mereka tidak berarti apa-apa, namun para sahabat Rasulullah saw yang memiliki kedaulatan iman yang kuat dan tangguh, banyak bertaubah dan terus-menerus membaca istighfar, yang menunaikan kewajiban salat-salat dengan tekun dan sangat merendahkan diri, yang telah menanamkan keagungan Allah Ta’ala didalam kalbu-kalbu mereka, maka kebesaran dan keistimewaan duniawi dan kekuasaan serta kedaulatan raja-raja tidak mempunyai hakikat apapun di hadapan mereka. Untuk menyempurnakan janji-janji mereka kepada Allah Ta’ala demi menunaikan kewajiban, mereka telah menghancurkan Kaisar Kisra. Pemerintahan-nya telah mereka hancur-leburkan hingga porak-poranda. Mereka telah berhasil dengan gemilang menjalankan tugas setelah mereka berjuang dengan giat dan semangat disertai dedikasi dan pengurbanan yang ikhlas. Mereka yakin dan beriman bahwa Zat Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan kekuatan iman didalam kalbu mereka, sekalipun mereka itu atau raja-raja itu memiliki kekuatan, kebesaran dan kedaulatan duniawi, mereka memiliki jumlah rakyat cukup banyak, akan tetapi benda-benda itu semua tidak dapat menggentarkan hati kami, sebab Tuhan telah berjanji bahwa semua itu akan kami peroleh dari pada-Nya. Kami hanya berusaha menjalankan tugas dan Tuhan melimpahkan hasilnya kepada kami. Jika perjuangan ini telah berhasil melalui tangan kami tentu kami akan meraih keridhaan dari Allah swt. Jadi, keadaan semangat dan dedikasi serupa itulah yang harus dimiliki oleh Jemaat kita sekarang. Kita harus yakin sepenuhnya bahwa janji-janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pasti akan sempurna semuanya. Jika untuk menyempurnakan janji-janji itu kita ikut berjuang didalamnya, jika kita betul-betul faham terhadap pentingnya tanggungjawab kita, maka kita akan berhasil meraih keridhaan Allah swt. Setiap orang Ahmadi, setiap karyawan didalam Jemaat harus faham terhadap kewajiban itu dan harus berusaha mengamalkannya.

Sekarang saya ingin mengemukakan beberapa nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dihadapan anda semua. Didalam Kitab Tadzkiratus Syahadatain Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda :

“ Hai manusia sekalian! Dengarlah kabar ghaib ini yang datang dari Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi. Dia akan menyebar-luaskan Jemaat ini keseluruh negeri didunia. Dia akan memberi kemenangan kepada mereka diatas setiap orang dengan dalil dan argumentasi. Hari yang ditunggu itu sudah tiba bahkan sudah sangat dekat sekali bahwa didunia akan ada hanya satu Agama ini saja yang akan dikenang dengan penuh hormat. Tuhan akan menurunkan barkat-barkat-Nya diatas Agama dan Jemaat ini sangat luar biasa. Terhadap setiap orang yang berusaha untuk menghapuskan-nya akan digagalkan. Dan kemenangan ini akan tetap berlangsung selamanya sampai Hari Kiamat.” (Tadzkiratusy Syahadatain, Ruhani Khazain jilid 20 halaman 66)

Itulah keyakinan yang pasti yang telah beliau umumkan. Dan beliau a.s. tetap teguh diatas keyakinan itu, sebab Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa Dia akan lakukan itu semua, tidak ada keraguan sedikitpun pasti kemenangan Islam akan diperoleh hanya melalui Jemaat Ahmadiyah. Dan pasti akan diperoleh, insya Allah !! Dan kita saksikan bagaimana Allah Ta’alatelah menyempurnakan kabar ghaib itu dan Dia sedang terus-menerus menyempurnakannya.

Kutipan tersebut ditulis tahun 1903. Telah disebutkan bahwa pada tahun itu Jemaat Ahmadiyah mulai dikenal diluar negara Hindustan (India) namun tidak dikatakan bahwa Jemaat sedang berkekmbang diluar negara Hindustan. Akan tetapi sekarang, dengan karunia Allah swt, perwakilan Jemaat Ahmadiyah telah berdiri di 198 Negara. Kurang-lebih disetiap Negara didunia dengan cara bagaimanapun Jemaat Ahmadiyah telah diperkenalkan. Jadi, Tuhan Yang Maha Kuasa dengan perantaraan Ahmadiyyat telah menyampaikan atau sedang giat menyampaikan amanat Islam diseluruh dunia, Dia-lah juga Yang akan menyempurnakan kabar ghaib yang lainnya. Dimana timbul perlawanan terhadap Jemaat Ahmadiyah disana berkat perlawanan itu sendiri menjadi sarana bagi penyampaian amanat Jemaat Ahmadiyah. Dan disebabkan gejolak perlawanan itu orang-orang yang berhati bersih menaruh perhatian terhadap Jemaat Ahmadiyah. Secara zahir musuh-musuh sedang melawan Ahmadiyah supaya orang-orang lain semakin jauh dari Ahmadiyyah. Akan tetapi orang-orang yang berfitrat lurus dan berhati bersih semakin dalam menaruh perhatian terhadap Jemaat Ahmadiyah. Dan dimanapun amanat Jemaat Ahmadiyyah disampaikan untuk menciptakan kecintaan dan kedamaian, perhatian dunia sedang tertarik terhadap Jemaat Ahmadiyah. Melihat cara kita berlaku sambil merendahkan diri dan khidmat khalq yang kita berikan dengan sangat sedarhana, sangat menarik perhatian manusia terhadap Ahmadiyah. Banyak manusia yang telah mengenal dan menerima Jemaat Ahmadiyah melalui ru’ya dan kasyaf dari Allah swt. Pendeknya dunia sedang ramai mengenal Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Jemaat beliau. Dalil-dalil yang dimilki oleh Jemaat Ahmadiyah yang langsung diterima dari Allah Ta’alatelah diajarkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. kepada kita, kemudian dalil-dalil dan argumentasi itu diperdengarkan dan ditayangkan melalui MTA sangat menarik perhatian banyak sekali manusia didunia. Musuh-musuh Ahmadiyah berusaha keras menghalangi manusia agar tidak menyaksikan siaran Muslim Televisi Ahmadiyah (MTA). Tanpa kecuali disetiap negara Muslim, para kiyai dan mereka yang menamakan diri ulama berkata kepada orang-orang awam:”Jangan menyaksikan siaran MTA karena akan merusak iman dan akan mempengaruhi kalian menjadi kuffur.” (Na’uzubillah !) Akan tetapi orang-orang yang telah terbuka hati mereka dengan kebenaran dan telah faham dengan amanat yang disampaikan kepada mereka, meminta kepada orang-orang yang menamakan diri ulama itu untuk menentangnya dengan dalil atau argumentasi, namun mereka tidak mampu menjawab. Sesungguhnya ”para ulama” itu melarang menyaksikan MTA dengan kekerasan tiada lain maksudnya bahwa mereka sendiri tidak memiliki dalil untuk menjawab semua pertanyaan. ”Para ulama” itu sendiri tidak tahu bahwa ajaran Islam tidak mengizinkan bercakap sesuatu tanpa akal dan dalil. Itulah bukti keistimewaan sempurnanya janji-janji Allah Ta’alakepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Jadi setiap orang Ahmadi berkewajiban untuk memahami tanggung jawab mereka. Bukan hanya mengharapkan sempurnanya janji-janji Tuhan itu tanpa tadbir atau usaha kita.

Maka semakin besar kedudukan janji-janji dan semakin besar kahabar-kabar suka itu, maka semakin besar pula tanggung jawab kita untuk mengambil bagian didalamnya. Kita harus mengambil bagian dengan sungguh-sungguh dalam menunaikan hak-hak Allah swt. Dan dalam menunaikan hak-hak sesama manusia kita harus menjauhkan diri dari semua dorongan hawa nafsu. Harus  mengambil bagian dalam menunaikan da’wat ilallah sebanyak mungkin dengan menggunakan semua kekuatan, semua ilmu pengetahuan dan dengan segala kemampuan usaha kita. Barulah kita akan memperoleh banyak faedah dari gerakan agung dengan berkat-berkat-nya yang agung itu. Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. baersabda bahwa beliau telah menerima ilham dari Allah Ta’alasebagai kabar suka dengan firman-Nya:

“لا تيأسوا من خزائن رحمة ربي، إنّا أعطيناك الكوثر”

laa taiasu min khazaini rahmati rabbi inna atainaakal kautsar artinya : Janganlah engkau berputus asa dari khazanah rahmat Tuhan, akan Kami anugerahkan kepada engkau kebaikan yang melimpah. (Tadzkirah halaman 440, edisi keempat, cetakan Rabwah)

Maka, kegelisahan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atas keadaan orang-orang Muslim atau atas keadaan Islam telah dijauhkan oleh Allah Ta’ala kemudian Dia memberi ketenteraman dengan firman-Nya : Janganlah engkau berputus asa dari khazanah rahmat Allah. Kami anugerahkan kepada engkau kebaikan yang melimpah. Telah ditaqdirkan bagi engkau. Kebaikan melimpah-ruah yang telah diperoleh Rasulullah saw telah diterima pula oleh Kaum akhirin dengan perantaraan engkau. Sumber mata air kebaikan Rasulullah saw sekarang telah mengalir dengan perantaraan engkau. Maka, bergembiralah engkau dan berlompatlah dengan gembira bahwa pintu khazanah rahmat Allah Ta’ala telah terbuka kembali dengan semarak baru. Dari pintu-pintu mana akan masuk untuk menerima khazana ia akan menjadi kaya-raya dengan rahmat itu.”

Pada zaman sekarang terdapat kegelisahan dikalangan orang-orang Muslim dan mereka merasakan perlunya suatu pertolongan bagi agama, namun mereka tidak menemukan suatu bimbingan dan tidak pula nampak adanya jalan bagi mereka, kemudian mereka berputus asa. Rasa putus asa ini semakin meningkatkan kegelisahan mereka sehingga membuat mereka salah langkah didalam memecahkan problema yang mereka hadapi. Hendaknya kita harus menyampaikan amanat kepada mereka bahwa Allah Ta’alatelah menganugerahkan sumber mata air kebaikan yang melimpah kepada hamba pilihan-Nya dizaman ini, yaitu pencinta hakiki Rasulullah saw, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Dan disebabkan kecintaan dan dedikasi beliau yang sangat tinggi terhadap Rasulullah saw, beliau dianugerahi kedudukan nubuwwat (kenabian) oleh Allah swt. Dengan perantaraan beliau a.s. ini sumber mata air kebaikan itu mengalir kembali. Maka jika ingin menghapuskan perasaan putus asa, datanglah bergabung dengan Jemaat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. agar perasaan putus asa itu hilang lenyap. Sebab beliaulah orang yang disokong dan didukung oleh Allah Ta’alayang sedang kalian tunggu kedatangannya. Renungkan dan perhatikanlah semua kekuatan telah bersatu padu untuk menekan dan mengahancurkan semua usaha dan kegiatan Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Sejak lebih dari seratus tahun yang lampau mereka telah bersatu-padu melancarkan perlawanan itu. Apakah berhasil didalam usaha mereka itu? Apakah mereka berhasil meredam suara Jemaat beliau ini? Saya sudah berulang kali mengatakan bahwa suara Jemaat ini berkumandang dan berkembang terus sampai kesetiap pelosok dunia. Bahkan suara itu terus-menerus berkumandang dan bergema dengan sangat heibat dan dahsyat diatas dunia ini. Dan insya Allah suara itu tidak akan berhenti bahkan terus menerus mengumandang dan menggema diatas dunia.

Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. telah melukiskan dahsyatnya gempa bumi berkaitan dengan tanda bukti kebenaran beliau a.s. seperti berikut ini:

 ” Ingatlah setelah terjadi tanda-tanda ini, tidak akan berhenti, bahkan setelah terjadi satu tanda, akan terus-menerus disusul dengan kejadian-kejadian tanda yang lainnya sehingga mata manusia akan terbelalak keheran-heranan, apa yang akan terjadi? Setiap hari terasa susah dan pahit dan akan semakin buruk keadaannya. Allah Ta’ala berfirman : ”Akan Aku perlihatkan keadaan yang sangat mengerikan dan tidak akan berhenti selama manusia tidak memperbaiki hati mereka.”    (Majmu’ah Isytihaarat jilid nomor 2 ’An-Nidaau min Wahyis Samaa-i’ halaman 638 cetakan Rabwah)

Sekarang kita sedang menyaksikan setiap negara didunia sedang ditimpa oleh berbagai macam musibah berupa bencana alam. Jika dunia menganggap semua musibah ini hanya sebagai bencana alam semata yang terjadi setelah beberapa periode menurut pendapat para pakar sains atau para ahli dunia lainnya lagi, kemudian mereka tidak menaruh perhatian kepadanya, maka ingatlah bahwa semua bencana dan gempa-gempa bumi yang terjadi ini sangat erat hubungannya dengan zaman Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Musibah-musibah ini akan datang terus menimpa dunia. Maka, untuk mengingatkan dunia adalah tugas setiap orang Ahmadi. Dimana mereka diingatkan untuk memperbaiki diri disana harus diusahakan untuk menyampaikan amanat ini kepada mereka. Berusahalah mengajak dunia untuk dekat kepada Tuhan. Alangkah pentingnya tugas yang diserahkan kepada kita ini. Disetiap tempat Jemaat ini telah diperkenalkan dengan simpatik dan dengan kasih sayang. Dan pesan yang kita sampaikan itu adalah, suara kecintaan hati nurani kami dan kasih-sayang serta kedamaian. Kami dituntut untuk berusaha menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran. Kami mengajak manusia untuk mengenal Tuhan agar mereka terhindar dan selamat dari semua bencana dan musibah itu. Dan mengingatkan manusia kepada maksud dan tujuan mereka telah diciptakan oleh Allah Ta’alakedunia. Allah Ta’alamenurunkan bencana-bencana dari waktu kewaktu agar manusia ingat apa maksud dan tujuan mereka telah diciptakan kedunia. Jika manusia tidak juga mau sadar maka musibah akan  terus-menerus turun kedunia, sebagaimana telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Sekarang mengingatkan dunia kearah ini adalah tugas dan kewajiban Jemaat Ahmadiyah tidak ada yang lain lagi. Sebab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang dengan menghambakan diri kepada Hadhrat Rasulullah saw telah mendapat kedudukan dari Allah Ta’alasebagai hamba yang paling dicintai-Nya pada zaman ini. Bahkan dalam sebuah Ilham Allah Ta’alatelah menganugrahkan kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai putera Hadhrat Rasulullah saw. Sebagaimana firman-Nya kepada beliau a.s. : Inni ma’aka ya ibna rasulillah ! Aku bersama engkau hai putera Rasulullah ! (Malfuzhat jilid nomor 4 halaman 569)

Jadi beliau a.s. adalah putera ruhani Hadhrat Rasulullah saw yang akan menyempurnakan Missi beliau saw. Dan itulah pula tanggung jawab para pengikut beliau a.s. Jika menginginkan Allah Ta’ala menjadi pendamping, jika ingin menjadi pewaris ni’mat-ni’mat  Allah Ta’ala maka laksanakanlah kewajiban tabligh lebih giat dari sebelumnya. Semakin gencar dan semakin dahsyat bencana-bencana telah melanda dunia semakin keras pula diperlukan usaha untuk mengingatkan dunia. Dan terutama terhadap orang-orang Muslim sangat perlu diberi pengertian dan peringatan. Sebab terdapat ilham lainnya yang berkaitan dengan ilham tersebut yaitu :

Himpunlah semua orang Muslim yang tinggal diseluruh permukaan bumi ini kepada agama yang tunggal. (Malfuzhat jilid nomor 4 halaman 569)

Sekalipun perintah dalam ilham ini turun secara langsung kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan tentu merupakan pekerjaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan telah-pun beliau melaksanakannya. Namun hal itu adalah pekerjaan para pengikut beliau a.s. juga, yakni pekerjaan kita semua untuk menyebar luaskan amanat itu. Sekalipun telah dilancarkan banyak sekali kekerasan dan larangan-larangan dibeberapa negara orang Islam, hingga kita tidak dapat bertabligh secara bebas dan terbuka disana. Dan orang-orang yang menamakan diri mereka ulama berusaha keras menghalangi orang-orang yang ingin mendengar amanat yang disampaikan oleh orang-orang Ahmadi kepada mereka, akan tetapi jika sebuah sarana kegiatan telah ditutup atau dilarang maka dapat diusahakan sarana lain sebagai gantinya untuk menjalankan kegiatan itu. Jika didalam satu daerah atau disatu negeri ditutup atau dilarang kegiatan Jemaat Ahmadiyah maka didaerah atau dinegeri lain masih dapat dilaksanakan. Jika dinegara-negara tertentu tabligh Ahmadiyah secara langsung tidak diizinkan maka Allah Ta’ala telah menyediakan MTA sebagai sarana tabligh yang lebih luas lagi. Dan dengan karunia Allah Ta’ala melalui MTA ini sekalipun banyak sekali hambatan-hambatannya tabligh sedang giat dilaksanakan dan amanat Jemaat dapat disampaikan kepada masyarakat luas dan dengan karunia Allah Ta’alasetelah menyaksikan siaran-siaran MTA itu ramai orang-orang bai’at masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah. Ada juga negara-negara dimana undang-undang tidak melarang kegiatan Ahmadiyah, namun banyak para ulama yang melancarkan perlawanan terhadap Ahmadiyah. Dan justeru dari antara mereka itulah banyak yang berfitrat baik dan berhati lurus ikut menghadiri kegiatan-kegiatan Jemaat, menyaksikan program-program Jemaat sehingga banyak yang menaruh simpati terhadap Jemaat. Istimewa sekali di negara-negara belahan Afrika sekarang Imam-imam beserta para pengikut mereka banyak sekali orang-orang yang bai’at masuk Jemaat Ahmadiyah. Itulah karunia dari Allah Ta’alasebab Dialah yang dapat merubah sikap hati manusia. Usaha kita tidak berarti apa-apa dalam hal itu. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Ilham yang berbunyi : Himpunlah semua orang Muslim yang tinggal diseluruh permukaan bumi ini kepada agama yang tunggal merupakan perintah yang sangat khas.

Hukum mempunyai dua bagian, pertama berupa syari’at misalnya : kerjakanlah salat, bayarlah zakat, jangan membunuh dan sebagainya. Didalam perintah-perintah ini mengandung sebuah nubuatan juga, yang diantaranya manusia akan mengingkarinya. Sebagaimana telah dikatakan kepada orang-orang Yahudi, jangan merubah ayat-ayat Taurat. Seharusnya sudah dikatakan bahwa banyak orang yang akan melakukan-nya demikian. Sekarang ternyata telah mereka lakukan. Pendeknya perintah itu adalah perintah syari’at. Perintah kedua adalah kouni merupakan perintah langsung dari Allah Ta’ala misalnya : ya naaru kunii bardan wasalaman artinya : hai api, dinginlah engkau dan jadilah keselamatan atas Ibrahim! (Surah Al-Anbiyaa: 70) Dan api itu secara total telah menjadi dingin. Dan perintah yang tercantum didalam ilham saya ini nampaknya ilham serupa dengan itu. Yaitu Allah Ta’ala menghendaki orang-orang Muslim diseluruh permukaan bumi akan berhimpun kepada Agama yang tunggal dan ia akan terbukti dengan sempurna. Namun hal itu bukanlah berarti bahwa tidak akan terjadi suatu perlawanan dan pertentangan. Perlawanan pasti akan terjadi, namun hal itu tidak patut diperhatikan dan tidak patut diceritakan.” (Malfuzhat nomor 4 halaman 569-570)

Maka penjelasan ilham yang telah diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. merupakan kabar suka bagi kita bahwa perintah Allah Ta’ala ini sifatnya ”kouni” yakni sehubungan dengan itu jika Allah Ta’ala berfirman ”kun” yakni ”jadilah” maka pasti akan terjadi. Yakni bagi suatu perkara yang Allah Ta’alahendak buat hanya berfirman ”kun” maka jadilah ia. Namun tidak setiap firman Allah Ta’ala”kun” berarti semua perkara tiba-tiba terjadi setelah ilham turun kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu. Sesungguhnya sempurnanya ilham itu akan terikat kepada qanun qudrat atau hukum alam. Atau berapa lama waktu yang dikehendaki Allah Ta’alauntuk itu, sesuai dengan itu ia akan terjadi. Dan natijahnya pasti akan zahir sesuai dengan yang dikehendaki. Seperti Allah Ta’aladengan firman-Nya ”kun” ketika asas kelahiran seorang anak dimulai, maka setiap khaiwan atau-pun manusia berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses kelahirannya menurut qanun qudrat atau hukum alam, maka sesuai dengan itu akan berlaku. Bukan berarti dengan firman-Nya ”kun” dalam tempo satu, dua hari atau dalam waktu beberapa menit saja seorang anak lahir. Berapapun lamanya proses itu diperlukan, terjadinya melalui perintah Allah Ta’ala”kun” juga. Jadi, dalam perkara ini juga jangan ada yang salah faham. Taqdir Allah Ta’alatelah memutuskan bahwa semua orang-orang Muslim akan berhimpun dibawah naungan satu mazhab dan prosesnya sejak lama sudah dimulai, lambat-laun orang-orang Muslim dan dari setiap golongan Muslim orang-orang sedang ramai masuk kedalam Jemaat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. yakni Jemaat Ahmadiyah. Oleh sebab itu kita tidak perlu gelisah bahwa dibeberapa negara Muslim orang-orang Ahmadi diperlakukan sebagai penduduk kelas tiga, bagaimana orang-orang Muslim akan menggabungkan diri dengan kita? Atau berapa banyak kiranya orang-orang Muslim dinegara-negara itu akan menggabungkan diri dengan kita? Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : ” Taqdir Allah Ta’alatelah memutuskan, bagaimanapun juga semua perkara pasti akan terjadi dengan sempurna.” Biarlah sekarang orang-orang Ahmadi sedang dianiaya dan penganiayaan itu dilakukan oleh orang-orang Muslim. Akan tetapi, insya Allah swt, dari antara orang-orang itulah air mata kecintaan akan mulai menetes dan insya Allah keadaan itu akan kita saksikan. Maka, orang-orang yang bertabi’at lemah hendaknya tetap yakin dan tetap beriman dan mereka yang terlibat dalam keduniawian harus ingat bahwa taqdir Allah Ta’alaakan menang. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita dimanapun dan bagaimanapun keadaannya untuk menunjukkan kelemahan atau menunjukkan rasa malu atau merasa gelisah disebabkan gencarnya perlawanan dari pihak musuh. Jangan takut dari perlakuan pihak lawan,  apabila kita menzahirkan iman yang sesungguhnya. Kesulitan-kesulitan pasti ada, dan orang-orang mu’min sejati menganggap kesulitan-kesulitan itu ibarat tusukan sebuah jarum atau lebih kecil dari itu, tidak menganggapnya penting atau besar. Disebabkan takut dari kesulitan-kesulitan itu kita tidak mungkin meninggalkan pekerjaan kita. Kita tidak dapat menyembunyikan iman. Sebagian besar orang-orang Ahmadi Pakistan bahkan 99.99% dari Ahmadi Pakistan sedang menghadapi taufan perlawanan yang sangat keras dan dahsyat sekali, walaupun demikian mereka sedang menghadapinya dengan semangat dan gagah berani. Para Ahmadi Pakistan dan para Ahmadi Indonesia, dan para Ahmadi diberbagai negara lainnya juga dimanapun taufan perlawanan sedang dikobarkan, berkat pengurbanan para Ahmadi disanalah telah terbuka kawasan-kawasan baru bagi kegiatan tabligh. Dan insya Allah pada satu hari tertentu Dunia Muslim dan gahir Dunia Muslim juga berkat menjalin hubungan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. akan menyaksikan pemandangan Umatan Wahidah. Itulah janji Alah swt.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : ” Allah Ta’alatelah berulang kali memberi kabar kepada-ku bahwa Dia akan memberi kebesaran kepada-ku dan kecintaan manusia kepadaku akan Dia tanamkan didalam kalbu-kalbu mereka. Dia akan menyebar luaskan Jemaat-ku keseluruh pelosok dunia dan Dia akan memenangkan Jemaat-ku diatas golongan-golongan lain. Dan para anggauta Jemaat-ku akan memperoleh ilmu pengetahuan demikian sempurna sehingga dengan nur kebenaran mereka dan dengan dalil-dalil dan dengan tanda-tanda nyata, mereka akan menutup mulut semua lawan.” (Tajalliyaati Ilahiyyah, Ruhani Khazain jilid nomor 20 halaman 409)

Itulah isyarah yang sangat dahsyat yang sesungguhnya hal itu berkaitan dengan kemenangan Islam diatas semua agama didunia. Maka tugas kita adalah berusaha terus-menerus memperkuat iman kita, meningkatkan ketertiban beribadah, meningkatkan hubungan dengan Allah Ta’alademi kebangkitan Islam kedua kali yang akan diperoleh dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang sekarang sedang berlangsung. Kita harus membantu dan mendukung segala usaha beliau a.s. agar kita dan anak keturunan kita menjadi para pewaris rahmat dan karunia Allah swt. Untuk itu semoga Allah Ta’alamemberi taufiq kepada kita semua. Amin !

Setelah salat Jum’ah akan diadakan salat jenazah ghaib untuk beberapa orang diantaranya : Sahibzadah Rasheed Latief Sahib Rashedi. Wafat pada tgl 27 April 2011 di Los Angelos-USA. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau adalah cucu Hadhrat Sahibzadah Abdul Latief Sahib Shahid. Beliau mempunyai hubungan yang sangat mukhlis dengan Jemaat. Atas perintah dari Hadhrat Khalifatul Masih lV r.h. beliau telah pindah ke USA pada tahun 1965. Beliau menterjemahkan Buku Tazkiratus Shahadatain kedalam Bahsa Local di Afghanistan.

Jenazah kedua adalah Mubarak Mahmood Sahib, Muballigh Jemaat, meninggal pada tgl 4 Mei 2011 dalam umur 42 tahun setelah mengalami sakit cukup lama karena cancer. Beliau graduated dari Jamia Ahmadiyya Rabwah pada tahun 1989. Berkhidmat dalam Silsilah Ahmadiyyah di Tanzania selama 8 tahun, kemudian kembali ke Rabwah. Sekalipun sakit cancer beliau tetap giat bekerja dengan perangai sangat ceriah. Beliau meninggalkan seorang janda dan tiga oran putera.

Yang ketiga; Muzaffar Ahmad Sahib dari Shekhupura beserta keluarganya Farzana Jabeen Sahibah, Amatun Noor, Waleed Ahmad dan Tassawer Ahmad, semuanya meninggal dalam musibah kecelakaan sepeda motor di jalan raya dari Faisalabad ke Cheniot. Semoga Allah Ta’alatelah menyayanginya ketiga anaknya berumur 6, 4, dan 2 tahun usianya.  Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Beliau mempunyai ikatan keluarga dari sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as Hadhrat Mia Syu’ban Ahmad. Beliau datang ke Qadian menerima Ahmadiyah setelah melihat mimpi.

Tuan Muzaffar adalah seorang Qaid Khuddamul Ahmadiyah mendapat taufik berkhidmat kepada Jemaat sebagai ketua kelompok dan sekretaris mubayyi’in baru. Sebelum wafat beliau adalah sekretaris Tahrik Jadid, Sekretaris Ishlah wa Irsyad dan Nazim Athfal.

Orang yang sangat bersih, menyukai kejujuran dan manusia yang mukhlis. Ketika mesjid di Sayyid Wala (nama tempat-penterjemah) didirikan maka beliau dengan teamnya bekerja dengan terampil karena banyak sekali peraturan-peraturan pemerintah yang harus ditaati dan harus dikerjakan dengan hati-hati. Kemudian masjid itu tahun 2001 dirusak. Beliau beberapa waktu lamanya tinggal di penjara di jalan Allah. Beliau seorang musi. Dalam keluarganya (Muzaffar) ada dua orang saudara perempuan dan empat orang saudara laki-laki. Dengan demikian dalam keluarga istrinya ada orangtuanya tuan Syaikh Fazl Karim (Lahore), enam orang perempuan dan empat orang laki-laki. Semoga Allah Ta’alamemberikan derajat yang tinggi kepada mereka semua. Mengampuni. [Aamiin]

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri dari Audio Urdu

[1]Ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz (semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan yang agung)

[2] Selanjutnya disingkat as

[3] Selanjutnya disingkat saw

[4] Nuzulul Masih, Ruhani Khazin Jilid 18 halaman 381-382

[5] Malfuzaat  jilid nomor 3, halaman 219 s/d 221

[6] Malfuzaat jilid nomor 3, halaman 221-222

[7] Tadzkirah halaman 260 edisi keempat cetakan Rabwah