Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 21 Maret 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ

Pada hari ini saya akan mengemukakan beberapa kutipan dari karya tulis Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang menjelaskan tentang kebenaran, Tanda-tanda dan mu’jizat-mu’jizat. Namun sebelumnya saya ingin mengulangi beberapa hal dari Khotbah yang lalu. Di dalam Khotbah yang lalu saya menjelaskan tentang pentingnya dan cara meraih ma’rifat Ilahi berdasarkan intisari dari karya tulis Hadhrat Masih Mau’ud a.s dan diantaranya saya telah menjelaskan satu atau dua buah perkara yang nampaknya sulit juga. Akan tetapi setelah saya mendengar terjemah Khotbah itu di dalam Bahasa Inggeris dan juga melihat dalam bentuk tulisan di dalam bahasa Urdu yang akan dimuat di dalam Al Fazl, saya merasa bahwa sebuah kutipan tidak dijelaskan dengan sempurna dan hal itu mungkin para penterjemah di dalam berbagai Bahasa akan menghadapi sedikit kesulitan begitu juga mungkin telah menyebabkan adanya kesulitan bagi orang yang telah menyalin Khotbah itu. Oleh sebab itu hari ini pertama, saya akan membaca sebagian dari kutipan itu dan menjelaskannya secara ringkas di dalam bahasa yang mudah.

Sambil menjelaskan bahwa hukum-hukum Ilahi tidak dapat diamalkan tanpa ma’rifat Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Allah Ta’ala telah menetapkan Ilmu dan ma’rifat sebagai dasar utama sarana untuk meraih hakikat atau pengertian yang sebenarnya tentang Islam dan sekalipun masih banyak lagi sarana-sarana lain untuk meraih hakikat Islam itu seperti, puasa, salat, do’a dan semua hukum-hukum Ilahi yang jumlahnya lebih dari 600, akan tetapi ma’rifat Keagungan Allah Ta’ala dan Tauhid-Nya, ma’rifat sifat-sifat Jalali dan Jamali Hadhrat Bari ‘Azza Ismuhu, Wasilatul Wasail adalah tumpuan utama bagi memahami semua. Orang yang lalai hatinya dan bernasib malang sepenuhnya dari ma’rifat Ilahi, ia tidak akan mendapat taufiq untuk menunaikan kewajiban puasa, salat dan do’a atau menaruh perhatian terhadap derma dan sedekah dan penggerak semua amal saleh itu adalah ma’rifat Ilahi dan semua sarana-sarana lainnya juga sesungguhnya tercipta dari padanya.[2]

Kutipan ini penting sekali, oleh sebab itulah saya menganggap perlu untuk menjelaskannya kembali demi memudahkan pemahamannya bagi setiap orang. Perkara utama yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah katakan adalah, bahwa hakikat atau pengertian Islam dapat diketahui oleh seseorang apabila ia menela’ahnya secara mendalam, berusaha untuk meraih ilmu dan ma’rifatnya. Atau akan diketahui hakikat-nya apabila diusahakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih marifatnya.

Untuk menghasilkan hakikat Islam banyak sekali sarananya dan hakikat Islam akan jelas kepada mereka yang telah menghasilkan sarana-sarana itu. Jika mereka berusaha untuk menghasilkan sarana-sarana itu barulah hakikat Islam akan jelas kepada mereka. Diantara sarana-sarana itu adalah Salat, puasa, do’a dan semua hukum-hukum Ilahi yang tercantum di dalam Kitab Suci Alqur’anul Karim dan berdasarkan perkiraan jumlahnya lebih dari 600. Namun ingatlah! Seseorang tidak akan mengetahui hakikat Salat, tidak akan mengetahui hakikat puasa, yakni seseorang tidak dapat menunaikan salat dengan sesungguhnya dan tidak pula dapat menunaikan kewajiban puasa dengan sesungguhnya dan tidak dapat pula mengetahui hakikat do’a, tidak pula dapat memahami dengan benar hukum-hukum lainnya dalam Al Qur’an. Pengertian mendalam tentang semua perkara itu, pentingnya dan pengetahuan hakikatnya akan diperoleh apabila ilmu dan ma’rifat keagungan Allah Ta’ala telah dihasilkan dan apabila ma’rifat wahdaniyat (keesaan) Zat Allah Ta’ala telah dihasilkan. Harus yakin bahwa Dialah Tuhan tiada yang lain selain Allah Ta’ala. Sifat-sfat Allah Ta’ala bermacam-macam, diantaranya adalah sifat Jalal (gagah) dan Sifat Jamal (indah). Jika seseorang tidak memiliki pemahaman tentang manifestasi yang cemerlang sifat-sifat-Nya itu dan tidak memiliki ma’rifat-Nya, maka ia tidak akan dapat mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Jika pengertian sifat-sifat Allah Ta’ala telah dipahami maka barulah hukum-hukum-Nya dapat dia amalkan dengan sebaik-baiknya. Seolah-olah jika ruh dan intisari Salat, puasa dan hukum-hukum lainnya harus betul-betul dipahami maka sesuai dengan firman Allah Ta’ala : yakni, setiap waktu Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan (Ar Rahman:30), memperoleh ma’rifatnya sangat penting sekali. Maka, dasar untuk memahami hakikat Islam, ibadah dan hukum-hukum Ilahi adalah mengetahui dengan pasti keagungan Allah Ta’ala. Betapa agungnya Zat Allah Ta’ala itu. Mengetahui wahdaniyat Allah Ta’ala dan berbagai segi sifat Jalali dan Jamali Allah Ta’ala dan kemuliaan-Nya sangat penting sekali. Atau berusaha untuk menghasilkan ilmu dan ma’rifatnya sangat penting sekali. Jika tidak dapat memahami sepenuhnya dan tidak memiliki pengertian, maka manusia harus berusaha untuk memahami betul sifat-sifat Allah Ta’ala itu agar dapat menunaikan ibadah kepada-Nya dan mengamalkan hukum-hukum-Nya. Sebab untuk mengamalkan semua hukum-hukum Allah Ta’ala itu bertumpu kepada ma’rifat Ilahi itu.

Beliau a.s. bersabda: “Hati yang lalai yang tidak tahu apakah ma’rifat Ilahi itu dan apakah keagungan Wahdaniyat, Zat dan Sifat Allah Ta’ala itu, bagaimana ia akan memperoleh taufiq untuk menunaikan ibadah kepada-Nya dan mengamalkan hukum-hukum-Nya serta punya perhatian terhadap do’a dan memberi sedeqah. Ilmu atau ma’rifat Ilahi-lah yang memberi inspirasi kepada manusia untuk melakukan semua amal saleh itu. Semakin banyak manusia memahami ma’rifat Allah Ta’ala semakin banyak perhatian untuk menunaikan ibadah, dan memahami ruh amal saleh. “

Jika kita menaruh perhatian penuh untuk memahami ma’rifat Allah Ta’ala maka akan timbul perhatian kita terhadap melaksanakan hukum-hukum Allah Ta’ala juga. Memang betul, mula-mula pengertian tentang Tuhan adalah anugerah khas dari pada Sifat Rahmaniyat-Nya (Sifat Pengasih) kepada orang-orang saleh. Akan tetapi ma’rifat ini meningkat terus berkat keindahan iman dan melakukan amal saleh dan manusia sampai kepada martabah dimana ia mengetahui keadaan Islam hakiki dan hatinya menjadi cemerlang dengan ma’rifat Allah Ta’ala.

Martabah itulah yang harus diraih oleh setiap orang yang menamakan diri orang Muslim. Dua hari lagi, insya Allah Ta’ala, Jema’at akan memperingati Hari Masih Mau’ud pada tanggal 23 Maret 2014. Para Ulama Jema’at dan penceramah akan menyampaikan pidato atau ceramah tentang tajuk ini dan tentang Tanda-tanda serta pertolongan-pertolongan Tuhan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Walhasil, kesempatan ini sangat baik sekali dua hari sebelum waktunya saya sedang memberi penjelasan tentang tajuk yang sama. Tentang itu saya ingin memberi tahukan bahwa pada tahun ini akan disiarkan secara langsung dari Qadian selama tiga hari untuk memperingati Hari Masih Mau’ud. Program ini akan disiarkan di dalam Bahasa Arab. Saudara-saudara kita dari Arab sudah berangkat ke Qadian untuk menyiarkan program ini dan akan menjelaskan pentingnya hari ini atau pentingnya tajuk ini yang akan disiarkan langsung dari Qadian dan insya Allah Ta’ala, saya juga dalam kesempatan ini diharapkan akan menyampaikan amanat pada hari Minggu. Saudara-saudara juga harus berusaha untuk mengmbil faedah dari program ini.

Sekarang saya akan menyampaikan beberapa kutipan dari tulisan dan sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Pertama tentang kedatangan dan kebenaran beliau a.s. sendiri.

Dalam menjelaskan mengenai gerhana bulan dan gerhana amatahari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Di dalam Sahih Daru Qutni terdapat sebuah Hadis bahwa Imam Muhammad al-Baqir meriwayatkan sebagai berikut: “إِنَّ لِمَهْدِينَا آيَتَيْنِ لَمْ تَكُونَا مُنْذُ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَنْكَسِفُ الْقَمَرُ لأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَتَنْكَسِفُ الشَّمْسُ فِى النِّصْفِ مِنْهُ وَلَمْ تَكُونَا مُنْذُ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ. “Inna limahdiyyina ayataini lam takuna munzu kholqis samaawaati wal ardha, yankasiful qomaru fi awwali lailatin mir Ramadhana wa tankasifusy syamsu fi nisfi minhu. Artinya: Untuk Mahdi kami akan terdapat dua tanda, semenjak Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi kedua tanda ini tidak pernah timbul di dalam waktu seorang Utusan atau Rasul Allah manapun. Salah satu diantaranya adalah di zaman Mahdi Mau’ud gerhana bulan akan terjadi pada awal bulan Ramadhan, yakni tanggal 13 dan gerhana matahari pada pertengahannya diantara hari-hari terjadinya gerhana, yakni pada tanggal 28 di dalam bulam Ramadhan itu juga dan peristiwa seperti itu semenjak dunia diciptakan di zaman seorang Nabi atau Rasul manapun tidak pernah terjadi, hanyalah ditetapkan di waktu datangnya Imam Mahdi. Semua Surat Kabar berbahasa Inggeris dan Urdu dan sejumlah para pakar telah menjadi saksi di zaman saya kira-kira 12 tahun sudah berlalu sudah terjadi gerhana bulan dan gerhana mata hari itu di dalam bulan Ramadhan dan sebagaimana telah diriwayatkan di dalam Hadis lainnya bahwa gerhana ini sudah dua kali terjadi di dalam bulan Ramadhan, pertama di Negeri ini (India) dan kedua di America dan kedua-duanya telah terjadi di dalam tanggal-tanggal yang sama, yang telah disebutkan di dalam hadis tersebut dan oleh karena di waktu terjadi gerhana itu tidak ada orang lain di atas dunia ini yang menda’wakan diri sebagai Mahdi Mau’ud kecuali saya, dan tidak ada pula orang seperti saya yang menyatakan gerhana itu sebagai tanda kebenaran dirinya sebagai Mahdi, dan menyebarkan beratus ribu selebaran dan risalah di dalam Bahasa Urdu, Farsi dan Bahasa Arab di atas dunia, oleh sebab itu tanda samawi ini telah ditetapkan hanyalah bagi saya.

Dalil kedua adalah, 12 tahun sebelum gerhana ini zahir Allah Ta’ala telah memberi tahu kepada saya bahwa tanda seperti ini akan zahir dan kabar ini telah ditulis di dalam Barahin Ahmadiyya, dan sebelum tanda ini zahir beratus ribu manusia telah menerima selebaran ini.[3]

Sekalipun banyak orang telah menentang dan mengemukakan dalil-dalil tentang gerhana bulan ini, akan tetapi keistimewaannya adalah, jauh sebelumnya beliau telah mengumumkan tentang akan terjadinya gerhana ini. Dalam menjelaskan lebih lanjut tentang itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Hadis ini mengandung kabar ghaib yang telah zahir setelah 1300 tahun. Ringkasannya adalah, di zaman Mahdi Mau’ud, akan terjadi gerhana bulan pada malam ke 13 di bulan Ramadhan dan di dalam bulan ini juga gerhana mata hari akan terjadi pada hari yang ke 28 dan peristiwa seperti ini tidak akan terjadi di zaman siapapun yang mendawakan diri sebagai Utusan Tuhan kecuali di zaman Mahdi Mau’ud dan jelaslah bahwa memberi tahu perkara ghaib dengan jelas bukan pekerjaan siapapun kecuali seorang Nabi Allah. Didalam Al Qur’anul Karim Allah Ta’ala berfirman:    Yakni: Dia tidak menzahirkan rahasia ghaib kepada siapapun. Kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai. (Al Jin ayat 27-28). Maka semenjak nubuatan ini dari segi maknanya telah terpenuhi dengan sempurna, kemudian mereka berkata bahwa hadis ini Dhoif (lemah) atau ini hanyalah perkataan Imam Muhammad Baqir, maka sesungguhnya mereka itu sekali-kali tidak menghendaki nubuatan apapun dari Nabi Muhammad saw atau nubuatan Al Qur’an menjadi sempurna. Tanda kebenaran ini adalah tanda sempurnanya nubuatan Hadhrat Rasulullah saw. Dunia sudah hampir akan berakhir, namun menurut mereka di akhir zaman ini tidak ada suatu nubuatan yang telah sempurna. Hadis mana lagi yang lebih sohih dari pada hadis ini, sebab hadis ini tidak pernah dikritik oleh para Muhaditsin (para Ahli Hadis) bahkan kesohihannya telah ditunjukkan oleh sempurnanya Hadis ini sendiri, bahwa kesohihannya mencapai tingkat yang sangat tinggi. Jika mereka tidak mau menerima kebenaran Tanda dari Allah Ta’ala lain perkara. Padahal, ini adalah sebuah Tanda yang sangat agung sekali. Beribu-ribu Ulama dan para Muhaditsin sebelum saya sangat menunggu-nunggu waktu kejadiannya dan mereka naik keatas mimbar kemudian mengingatkan orang-orang tentang itu. Yang paling akhir dari antara mereka adalah Maulwi Muhammad Lukhoky yang telah menulis sebuah syair di dalam kitabnya bernama ‘Ahwalul Aakhirat’ dimana dijelaskan tentang gerhana bagi Mahdi Mau’ud (syair di dalam Bahasa Punjabi) yaitu:

terhwin chand so therwin suraj grehen ho si ho sale andar mah e ramzan lekhea ik riwayat wale. (Sudah tertulis di dalam Hadis bahwa gerhana bulan dan gerhana matahari akan terjadi di abad ke tiga belas dalam bulan Ramadhan).

Kemudian, seorang suci lainnya lagi menulis sya’ir di dalam Bahasa Farsi yang sangat terkenal semenjak berabad-abad, bahwa apabila terjadi gerhana bulan dan matahari di dalam satu bulan di abad ke 14 tahun 1311 Hijriyah, maka ia akan menjadi tanda turunnya Mahdi Mau’ud dan Dajjal. Syair ini telah memberi tahukan waktu yang tepat bagi terjadinya gerhana bulan dan matahari. [4]

Berkenaan dengan hubungan dengan Allah Ta’ala sebelum menda’wakan diri, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Ketika saya diberi kabar bahwa ayah saya akan wafat setelah matahari terbenam, karena sebagai manusia saya merasa sedih sekali mendengar kabar ini. Sebab sumber penghasilan saya sangat bergantung dengan wujud beliau dan beliau biasa menerima uang pension dari Pemerintah British lebih-lebih suka menerima hadiah-hadiah yang cukup besar jumlahnya yang terikat dengan syarat kehidupan beliau. Oleh sebab itu sebuah perkiraan telah terlintas di dalam benak, bahwa kami akan menghadapi kesempitan dan kesulitan dan semua anggapan seperti itu tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang lenyap dari benak saya laksana sebuah kilat, barulah ketika dalam keadaan sedikit ngantuk diterima ilham kedua “أليس الله بكافٍ عبده “Yakni: Tidakkah cukup Allah bagi hamba-Nya? (Az Zumar :37). Berkat menerima ilham Ilahi ini hati saya begitu kuat dan tegar sekali laksana sebuah luka yang sangat ngeri dan menakutkan tiba-tiba dengan spontan menjadi sembuh karena diolesi salep (ointment) obat luka. Sesungguhnya perkara ini telah berulang kali dialami bahwa wahyu Ilahi mempunyai keistimewaan sendiri untuk menenteramkan kalbu dan akar keistimewaan ini adalah manusia harus mempunyai keyakinan terhadap wahyu Ilahi. Alangkah disesalkannya sekalipun mereka mendawakan menerima Ilham namun orang-orang itu mengatakan bahwa Ilham kami hanyalah prasangka belaka, mereka tidak yakin apakah wahyu ini datang dari syaitan atau dari Tuhan Yang Rahman. Ilham demikian lebih banyak bahayanya ketimbang faedahnya. Namun saya bersumpah atas Nama Allah, bahwa saya beriman kepada Ilham ini seperti saya beriman kepada Al Qur’an dan kepada Kitab-kitab Tuhan lainnya dan sebagaimana saya yakin sepenuhnya bahwa Al Qur’anul Karim adalah kalam atau firman Allah Ta’ala, seperti itu juga kalam atau firman Tuhan yang turun kepada saya adalah juga kalam Allah Ta’ala. Sebab saya melihat nur Ilahi di dalamnya dan saya mendapatkan contoh-contoh Kudrat Allah Ta’ala di dalamnya.

Pendek kata, ketika saya menerima ilham ini “أليس الله بكافٍ عبده “yakni: Tidakkah cukup Allah bagi hamba-Nya? (Az Zumar :37), maka pada waktu itu juga saya mengerti bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan saya. Maka saya tulis Ilham itu kemudian diberikan kepada seorang Hindu bernama Mulawalmal yang tinggal di Qadian dan sampai sekarang masih hidup, dan saya ceritakan semua kissah kepadanya kemudian saya kirim dia ke Amritsar supaya melalui Hakeem Maulwi Muhammad Sharif Kalanoori membuat sebentuk cincin bertuliskan wahyu itu diatasnya dan saya menyuruh seorang Hindu untuk pekerjaan itu semata-mata dengan tujuan agar dia menjadi saksi terhadap nubuatan agung itu dan Hakeem Maulwi Muhammad Sharif Kalanoori juga menjadi saksi untuk itu. Maka melalui Maulwi Muhammad Sharif Sahib itu cincin yang dimaksud telah selesai dipersiapkan dengan biaya 5 Rupees dan sampailah kepada saya, yang sampai sekarang masih ada ditangan saya. Ilham ini turun diwaktu semua perbelanjaan saya sehari-hari bergantung kepada penghasilan ayah saya yang tidak berapa banyak jumlahnya dan seorang-pun dari luar tidak ada yang kenal kepada saya. Saya seorang yang tidak dikenal tinggal di sebuah sudut kampung Qadian yang betul-betul sunyi. Kemudian setelah itu sesuai dengan nubuatan itu, Allah Ta’ala telah memalingkan sebuah dunia kearah saya dan menyediakan bantuan keuangan melalui keberhasilan yang terus-menerus sehingga saya tidak mempunyai kata-kata untuk menyatakan rasa syukur kepada-Nya. Mengingat keadaan saya di waktu itu, saya betul-betul tidak mempunyai harapan sekalipun untuk menerima 10 Rupees setiap bulan. Akan tetapi Allah Ta’ala Yang mengangkat hamba yang lemah dari debu dan menjatuhkan orang-orang takabbur kedalam debu, Dia telah mengayomi saya demikian rupa sehingga saya berkata dengan penuh yakin sampai sekarang sudah diterima uang sebanyak Rupees 300.000, mungkin juga lebih. Pendapatan ini harus dipikirkan penggunaannya. Bahwa bertahun-tahun biaya Langgar Khana saja mencapai Rupee 1500 per bulan. Perbelanjaan lainnya, seperti Madrassa, biaya percetakan buku-buku terpisah dari perbelanjaan itu. Maka harus diperhatikan bahwa nubuatn “أليس الله بكافٍ عبده “Yakni: Tidakkah cukup Allah bagi hamba-Nya? (Az Zumar :37) telah sempurna dengan sangat cemerlang sekali. Apakah ini pekerjaan seorang pendusta atau sebuah penipuan syaitan? Sama sekali bukan! Melainkan ini adalah kinerja Tuhan Yang di tangan-Nya terletak segala kehormatan, kehinaan, kesengsaraan dan juga kemakmuran. Jika tidak percaya terhadap perkataan saya maka lihatlah! ke dalam Buku Register Kantor Pos 20 tahun kebelakang berapa banyak uang telah diterima selama itu. “[5]

Dengan karunia Allah Ta’ala sekarang Langgar Khana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini telah dibuka diseluruh dunia dan di UK juga telah dibuka secara permanent, sebab Khilafat berada di sini. Ini juga salah satu cabang dari missi Hadhrat Masih Mau’ud yang tidak kurang pentingnya. Oleh sebab itu merupakan kewajiban para petugas pengelola Langgar Khana untuk menangani pengkhidmatan para tamu yang datang ke sini dengan perhatian yang khas. Memang belanja berlebihan tidak dibenarkan, harus dibuat suatu perencanaan anggaran, akan tetapi sebaliknya jangan berlaku kedekut atau kikir terhadap para tetamu. Sebab Langgar ini bukan milik saudara-saudara melainkan milik Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Kadangkala diterima keluhan tentang dhiafat (pengkhidmatan tamu), tentang kelompok pengelola atau tentang para pengurus Langgar Khana. Mereka harus menaruh perhatian penuh terhadap kewajiban mereka ini, disetiap tempat di seluruh dunia, terutama para petugas di sini, di Rabwah dan juga di Qadian.

Dalam menguraikan kemajuan Jem’aat sambil membacakan sebuah Ilham beliau, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Terdapat sebuah nubuatan di dalam kitab Barahin Ahmadiyya bahwa: “كزرع أخرج شطأه فآزره فاستغلظ فاستوى على سوقه “. ka zar-‘in akhraja syath-ahu fa-aazarahu fastaghlazha fastawaa ‘alaa suuqihi.’ Yakni: laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi kokoh dan berdiri mantap pada batangnya..(Al Fath:30). Ini sebuah nubuatan yang sangat agung yang dicetuskan 25 tahun yang silam tentang perkembangan Jema’at padahal pada waktu itu Jema’at ini belum di-dirikan dan tidak pula ada orang yang menjalin hubungan dengan saya untuk Bai’at. Bahkan belum ada orang yang kenal dengan nama saya. Kemudian setelah itu dengan karunia Allah Ta’ala Jema’at ini telah didirikan yang sekarang anggotanya sudah mencapai 300.000 orang lebih. Saya laksana sebutir biji yang kecil sekali yang telah ditanamkan melalui tangan Tuhan, kemudian saya tetap tersembunyi untuk beberapa waktu lamanya, kemudian saya mulai menampakkan diri, dan banyak sekali orang yang membuat hubungan dengan saya. Maka nubuatan ini semata-mata telah sempurna melalui karunia Allah Ta’ala. “[6]

Dan sekarang dengan karunia Allah Ta’ala kita dapat melihat Jema’at sudah berdiri di 204 Negara diseluruh dunia dan dengan karunia Allah Ta’ala jumlah anggotanya sudah mencapai puluhan bahkan ratusan juta dan amanat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sedang berkumandang kesegenap penjuru dunia melalui MTA.

Selanjutnya tentang sebuah Tanda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Di dalam Kitab Barahin Ahmadiyya terdapat sebuah nubuatan lain lagi yakni “والله يعصمك من عنده ولو لم يعصمك الناس “ Yakni : Allah Ta’ala pasti akan menyelamatkan engkau dari semua musibat. Sekalipun manusia tidak menghendaki agar engkau selamat. Nubuatan ini untuk zaman dulu ketika saya masih tinggal sendiri dan belum dikenal, tidak ada seorangpun yang menjalin hubungan dengan saya dan tidak ada pula permusuhan. Dalam nubuatan ini Tuhan akan menyelamatkan saya dari tangan manusia, jangankan permusuhan sedangkan seorang-pun belum ada yang kenal dengan saya, bagaimana saya akan dselamatkan dari musuh. Namun setelah saya menda’wakan sebagai Masih Mau’ud, maka kemarahan semua maulvi bersama teman-teman mereka berkobar laksana kobaran api. Pada masa itu seorang Padri bernama Dr Martyn Clark telah mengadukan saya ke Pengadilan dengan tuduhan pembunuhan. Di dalam sidang Pengadilan itu saya sudah berpengalaman bahwa para maulvi seluruh Punjab merasa haus akan darah saya dan mereka menganggap saya lebih buruk dari pada Kristen. Seorang Kristen yang menjadi musuh Hadhrat Rasulullah saw dan memaki-maki beliau saw karena ia menganggap beliau saw orang sangat jelek. Oleh karena para maulvi itu menentang saya, mereka hadir di Pengadilan menjadi para pendukung Padri itu dan memberi kesaksian atas namanya, dan kebanyakan mereka memanjatkan do’a agar Padri itu mendapat kemenangan di dalam persidangan itu. Saya mendengar suara dari Masjid bahwa mereka berdo’a sambil menangis : Hai Tuhan, tolonglah Padri ini dan berilah kemenangan kepadanya! Namun Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui, tidak mendengar do’a seorang–pun dari mereka, tidak pula orang yang memberi kesaksian untuk Padri itu berhasil di dalam kesaksian mereka dan tidak pula do’a mereka terkabul. Itulah para Ulama, penolong Agama, itulah kaum yang biasa dihormati masyarakat. Mereka telah berjuang keras sampai keujung kuku jari kaki mereka agar saya dijatuhi hukuman mati di hadapan mereka dan mereka telah membantu seorang musuh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. Mereka telah berusaha keras membuat rencana untuk membantu musuh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. Maka secara alami timbul pikiran di dalam benak saya bahwa semua maulvi dan semua pengikut mereka telah menjadi musuh yang haus akan darah saya. Siapakah yang telah menolong saya dari api yang berkobar-kobar itu? Padahal delapan bahkan sembilan orang saksi untuk membinasakan saya telah hadir di hadapan Pengadilan. Jawabannya adalah: Saya telah diselamatkan oleh Dia Yang telah berjanji 25 tahun yang lampau kepada saya bahwa: Kaum engkau tidak akan menyelamatkan engkau bahkan mereka berusaha agar engkau binasa, akan tetapi Aku akan menyelamatkan engkau! Sebagaimana Dia telah memberi tahu sebelumnya, dan 25 tahun sebelumnya telah tertulis di dalam Kitab Barahin Ahmadiyya. Inilah janji-Nya itu: “فبرَّأه اللهُ مما قالوا وكان عند الله وجيها “ Fabarra-ahu mimma qoluu wa ‘indallahi wajihan. Yakni, Allah Ta’ala telah menyelamatkan-nya dari tuduhan mereka yang telah dituduhkan kepadanya dan dia mempunyai kedudukan tinggi bersama Tuhan. “[7]

Lihatlah!, Tanda ini telah sempurna dengan cemerlang sekali, ketika anak dari cucu Martyn Clark mengakui secara terbuka di depan kita katanya: Ayah kakek saya (Martyn Clark) ada di pihak yang salah sedangkan Mirza Ghulam Ahmad Qadiani di pihak yang benar.

Tentang sebuah Tanda lain lagi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Maulvi Ghulam Dastagir Kasturi telah menerbitkan sebuah risalah bernama Fatah Rahmani untuk menentang saya dalam bentuk mubahala dan berdo’a buruk untuk saya sebagai berikut: “اللهم يا ذا الجلال والإكرام يا مالك الملك Allahumma ya zal jalali wal ikram, ya malikal mulki, Ya Allah sebagaimana Engkau telah membinasakan seorang pendusta dan penda’wa palsu sebagai Mahdi melalui do’a dan usaha seorang ulama bernama Muhammad Tahir penulis kitab Majma’ul Bahrain (pada zaman kehidupannya), seperti itulah hamba yang fakir dari Kasur ini berdo’a dan memohon kepada Allah, yang sedang mengkhidmati Agama Engkau sesuai dengan kemampuannya bahwa Engkau berilah taufiq kepada Mirza Qadiani dan para pengikutnya untuk bertobat dengan sesungguhnya dan jika hal itu tidak mungkin terjadi, maka jadikanlah dia sasaran dari ayat Qur’an berikut ini: فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ Yakni: Maka kaum yang aniaya itu dipotong sampai ke akar-akarnya dan segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian Alamin. (Al An’am :46). إنك على كل شيء قدير، وبالإجابة جدير، آمين. “ Amin !Di dalam catatan kaki pada halaman 26 dari bukunya tersebut diatas Maulvi Ghulam Dastagir itu menulis tentang diri saya: Binasalah dia bersama para pengikutnya. Maka dengan karunia Allah Ta’ala saya masih hidup sampai sekarang dan jumlah para pengikut saya semenjak waktu itu meningkat ratusan ribu lebih dari pada sebelumnya. Jelaslah bahwa Maulwi Ghulam Dastagir telah memutuskan kebenaran saya dengan meninggalkan ayat berikut ini فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا Yang maksudnya, kaum yang aniaya itu dipotong sampai ke akar-akarnya dan perkara ini tidak tersembunyi dari pengetahuan orang-orang berilmu bahwa maksud ayat tersebut diatas sangat awam, yang sasarannya tertuju kepada orang zalim. Maka pastilah sasaran ayat tersebut adalah orang zalim untuk dibinasakan. Karena dalam pandangan Allah Ta’ala Maulwi Ghulam Dastagir itu orang zalim maka ia tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan terbitnya risalah itu dan semua orang tahu bahwa ia mati beberapa hari setelah memanjatkan do’anya itu.

Beberapa orang maulvi yang tuna ilmu menulis, “Maulwi Ghulam Dastagir tidak melakukan mubahalah, hanya berdo’a buruk terhadap orang zalim. Akan tetapi saya berkata bahwa, karena dia memohon keputusan kepada Allah Ta’ala untuk kematian saya dan saya dinyatakan zalim olehnya, maka mengapa do’a buruk atau kutukan itu jatuh menimpa dirinya sendiri? Dan mengapa Allah Ta’ala mematikan Maulwi Ghulam Dastagir di waktu yang sangat kritis, yaitu di waktu orang-orang sedang menanti-nantikan keputusan Ilahi, karena dia menghendaki kematian saya melalui do’anya itu, supaya dia dapat membuktikan kepada dunia bahwa seorang Mahdi dan Masih palsu sudah mati sebagaimana melalui do’a buruk Mohammad Tahir seorang Mahdi palsu telah mati, begitu juga melalui do’a saya orang ini telah binasa. Mengapa kesan do’a itu jadi terbalik?

Memang betul melalui do’a Muhammad Tahir seorang Mahdi dan Masih dusta dan palsu telah binasa dan dengan menjiplak cara Muhammad Tahir itu Maulwi Ghulam Dastagir telah berdo’a buruk untuk saya, maka sekarang manusia harus berpikir bagaimana kesan do’a Muhammad Tahir dan bagaimana kesan do’a Maulwi Ghulam Dastagir itu. Jika dikatakan bahwa Ghulam Dastagir mati tanpa diduga, maka Mahdi palsu juga telah mati tanpa diduga. Muhammad Tahir tidak mempunyai suatu kelebihan apapun. لعنة الله على الكاذبين Laknatullah ‘alal kadzibin!

Kira-kira sebelas tahun sudah berlalu semenjak kematian Ghulam Dastagir, orang zalim itu telah dibinasakan oleh Allah Ta’ala dan rumahnya dijadikan sunyi senyap. Sekarang katakanlah secara adil, akar siapkah yang telah dipotong dan menimpa siapa kesan do’a itu? Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut, وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَائِرَ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ Yakni: Hai Nabi, musuh menanti-nantikan bencana-bencana menimpa atas dirimu. Atas merekalah bencana buruk itu menimpa. (At Taubah: 98). Maka berdasarkan ayat karimah ini adalah sunnatullah bahwa, orang yang berdo’a buruk terhadap orang yang benar, maka do’a buruk itulah menimpa dirinya. Itulah sebabnya dari sunnatullah dan dari Hadis juga jelaslah sudah. Sekarang katakanlah, apakah Ghulam Dastagir mati atau tidak setelah berdo’a buruknya itu. Oleh karena itu beritahulah apa rahasianya di dalam perkara ini. Seorang Mahdi dusta telah mati karena do’a Muhammad Tahir, akan tetapi orang yang telah berdo’a buruk untuk saya, dia sendiri telah mati! Allah Ta’ala telah memberi panjang umur kepada saya, sebelas tahun telah berlalu namun saya masih tetap hidup dan Ghulam Dastagir tidak diberi kesempatan untuk hidup sekalipun hanya untuk sebulan.[8]

Selanjutnya Tanda tentang ke-fasihan Bahasa Arab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Telah tertulis nubuatan di dalam Kitab Barahin Ahmadiyya bahwa: Engkau akan dianugerahi kefasihan dan kelebihan Bahasa Arab. Tidak akan ada orang yang dapat menandingi engkau. Maka sampai sekarang tidak ada seorang-pun yang dapat menandingi saya. Tentang ini telah diterima ilham dari Allah Ta’ala, “كلام أفصِحت من لدن رب كريم “ Kalamun ufsihat mil ladun Rabbin Karim. Yakni, Kitab yang telah saya tulis di dalam Bahasa Arab sampai sekarang, diantaranya banyak yang berupa prosa dan banyak berupa puisi atau Nazam juga. Yang tandingannya tidak dapat dilakukan oleh para ulama yang melawan saya. Buku-buku yang ditulis di dalam Bahasa Arab iu rinciannya sebagai berikut: Anjaam Atham halaman 73 sampai 282 di dalam Bahasa Arab, At Tabligh, Aina Kamalati Islam, Karamatus Sadiqeen, Hamamatul Bushra, Seeratul Abdal, Nurul Haq bagian I, Nurul Haq Bagian II, Tuhfa Baghdad, Ijazul Masih, Itmamul Hujjat, Hujjatullah, Sirrul Khilafa, Mawahibur Rahman, Ijaz-e-Ahmadi, Khotbah Ilhamiyya. Al Huda, Tadhkiratush Shahadatain dan buku-buku lainnya telah ditulis di dalam Bahasa Arab namun belum dicetak yaitu: Targhibul Mu’mineen, Lujjatun Noor, Najmul Huda. “[9]

Itu semua sesuai dengan nubuatan Allah swt dan buku-buku-pun telah ditulis di dalam Bahasa Arab. Kefasihan dan keistimewaan Bahasa Arab di dalam buku-buku saya itu telah diakui oleh orang-orang Arab sendiri. Sebagaimana telah saya jelaskan dalam beberapa Khotbah sebelumnya berdasarkan kutipan-kutipan.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Pada suatu hari seorang Hindu datang kepada saya di Qadian, namanya saya tidak ingat lagi. Dia berkata, saya ingin mengadakan Jalsa Agama-agama. Tuan juga tulislah sebuah naskah tentang keindahan dan keistimewaan Agama tuan untuk dibacakan di dalam Jalsa itu. Saya menyatakan keberatan namun dia dengan mendesak berkata, Tuan harus menulis sebuah naskah! Oleh karena saya sendiri tahu, saya tidak dapat menulis apapun, bahkan saya tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Saya tidak bisa bercakap tanpa dukungan Allah Ta’ala dan tanpa diperlihatkan oleh-Nya sedikitpun saya tidak bisa melihat. Itulah sebabnya saya berdo’a kepada Allah Ta’ala Yang Maha Mulia, agar Dia mewahyukan sebuah naskah kepada saya yang akan unggul diatas semua pidato-pidato yang akan disampaikan di dalam Jalsa itu. Setelah berdo’a saya merasa suatu kekuatan telah ditiupkan kedalam diri saya. Saya merasa ada sebuah kekuatan gerak samawi di dalam diri saya, dan teman saya yang hadir pada waktu itu dihadapan saya mengetahui, bahwa saya tidak menulis sebuah konsep apapun untuk naskah pidato itu. Apapun yang telah saya tulis adalah tanpa persiapan sebelumnya dan saya tulis naskah itu demikian cepatnya sehingga menyusahkan orang yang menyalinnya. Ketika saya selesai menulis naskah itu maka diterima Ilham dari Allah Ta’ala yakni mazmoon balaa raha. Yakni, naskah unggul di atas semua!

Ringkasnya, ketika naskah itu dibacakan di dalam Jalsa itu, semua hadirin sangat terpesona dan tergiur oleh keindahannya sehingga terdengar sambutan gegap gempita dari setiap sudut ruangan Jalsa itu. Sehingga orang Hindu yang memimpin Conferensi itu juga tanpa disadari keluar ucapan dari mulutnya : “The paper transcends all others. “Yakni, Nskah ini unggul diatas semua naskah lainnya! Sebuah Surat Kabar harian berbahasa Inggeris yang diterbitkan dari Lahore The Civil and Military Gazette juga meliput-nya sebagai saksi sambil mengatakan “The paper transcends all others. “Kira-kira 20 buah Surat Kabar berbahasa Urdu juga memberi kesaksian yang sama. Didalam Conferensi itu selain orang-orang anti yang berprasangka buruk, semua orang menyatakan : Naskah ini telah unggul diats semua naskah! Dan sampai sekarang ada beratus ribu orang yang memberi kesaksian sama seperti itu.

Pendeknya, dengan kesaksian setiap golongan dan kesaksian Surat Kabar Bahasa Inggeris nubuatan saya telah sempurna bahwa mazmoon balaa raha. Yakni, naskah unggul di atas semua! Pertandingan itu laksana sebuah pertandingan Nabi Musa dengan para pakar atau ahli Sihir. Sebab di dalam Conferensi itu semua Mazhab telah memperdengarkan pidato mereka masing-masing. Diantaranya beberapa orang dari Kristen, beberapa orang dari Sanatan Dharma atau Arya Samaj, beberapa orang dari Brahmus, Sikh dan beberapa orang Muslim penentang kita. Semua telah memainkan tongkat mereka kedalam sistim khayalan ular mereka. Akan tetapi ketika Tuhan melalui tangan saya melepaskan tali kebenaran Islam melawan mereka dalam bentuk sebuah pidato yang suci bersih telah dilepas melawan mereka, ia berobah menjadi seekor ular naga yang menelan semua ular-ular mereka dan sampai sekarang Bangsa-bangsa di dunia terus memuji keindahan naskah pidato saya yang keluar dari mulut saya. فالحمد لله على ذلك Alhamdulillah ‘ala zalik![10]

Bukan hanya orang-orang yang hidup di zaman itu melainkan sampai sekarang juga orang-orang mengakui dan memujinya. Oleh sebab itu saya sering menganjurkan agar kemasyhuran Kitab ini disebarkan terus melalui literature Jema’at. Banyak orang-orang Ghair Muslim mengirim surat kepada saya, kami mengetahui keindahan ajaran Islam dengan membaca Kitab itu. Sering saya bertanya kepada para Mubaiyi’in baru mengenai kesan-kesan buku tersebut. Mereka mengatakan bahwa buku Pilsafat Ajaran Islam sangat mengesankan sekali sehingga perhatian kami terpusat kepada Islam dan Ahmadiyyah.

Tentang sebuah nubuatan, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “”مَا كَانَ اللهُ لِيَتْركَكَ حَتَّى يَمِيْزَ الخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِ” Allah tidak akan meninggalkan engkau selama belum membedakan antara yang suci dengan yang kotor di zaman ini telah dizahirkan. Maka kalian telah menyaksikannya, sekalipun perlawanan kalian sangat keras dan do’a-do’a buruk yang kalian panjatkan menentang saya, Tuhan tidak meninggalkan saya dan Dia menjadi Penolong saya di setiap medan. Setiap batu yang dilemparkan kepada saya, Dia ambil dengan tangan-Nya. Setiap ujung tombak yang dilepaskan kepada saya Dia kembalikan ujung tombak itu kearah musuh yang telah melemparkannya. Saya dahulu lemah tidak berdaya, Dia memberi perlindungan kepada saya. Saya dahulu seorang diri, Dia ambil dan meletakkan aku diatas pangkuan-Nya. Saya sangat tidak berarti, namun Dia membuat daku masyhur dengan penuh hormat dan membuat beratus ribu orang menyerahkan diri kepada-ku.

Kemudian Dia berfirman dengan wahyu muqaddas-Nya yakni: “إذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ…وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلْون” Apabila pertolongan-Ku sampai kepada engkau dan perkataan mulut-Ku akan sempurna. Yakni makhluk Allah akan menyerahkan diri kepada engkau dan pertolongan berupa harta akan sampai kepada engkau- maka akan dikatakan kepada orang-orang yang ingkar: Lihatlah!! Apakah tidak sempurna apa yang telah dikatakan sebelumnya, tentang mana kalian ingin cepat dan menunjukkan tidak sabar? Maka sekarang semua perkara telah zahir dengan sempurna. Tidak perlu lagi mengatakan bahwa Tuhan telah menepati janji-Nya dan membuat ratusan ribu manusia menyerahkan diri kepada-ku dan telah menganugerahkan pertolongan harta yang sangat melimpah kepadaku diluar dugaan siapapun sebelumnya.

Maka, hai para penentang! Semoga Allah Ta’ala mengasihani kalian dan semoga Dia membuka mata kalian. Kalian harus berpikir, apakah ini semua perbuatan makar manusia ? Janji-janji ini semua telah dibuat diwaktu Kitab Barahin Ahmadiyya sedang disusun, dan janji-janji ini patut ditertawai oleh kaum penentang ketika dikekmukakan kepada mereka dan kedudukan saya juga di waktu itu tidak mempunyai bobot sedikitpun, laksana bobot sebutir biji wijen (sesame). Adakah diantara kalian yang percaya kepada pernyataan ini? Siapakah diantara kalian yang dapat membuktikan bahwa di waktu itu ribuan orang telah menyerahkan diri kepada-ku? Ketika Kitab Barahin Ahmadiyya sedang dicetak saya sama sekali tidak dikenal oleh siapapun. Buku saya Barahin Ahmadiyya dicitak di Amritsar melalui sebuah percetakan milik seorang padri Kristen bernama Rajab ‘Ali. Untuk memeriksa proof (proof reading) dan untuk mencetak buku itu saya sering pergi sendirian ke Amritsar dan pulang dari sana juga sendirian. Tidak ada seorangpun yang bertanya kepada saya di waktu pergi dan di waktu balik dari sana dan tidak ada orang yang kenal kepada saya dan bukan pula saya orang yang patut dihormati. Orang-orang Aria di Qadian menjadi saksi tentang keadaan saya seperti itu, diantara mereka bernama Sharampat yang sampai sekarang masih tinggal di Qadian. Kadangkala ia pergi bersama saya ke percetakan milik Padri Rajab ‘Ali itu di Amritsar dimana buku saya Barahin Ahmadiyya dicitak dan semua nubuatan itu secara lengkap ditulis oleh Katib (juru tulis) di Percetakan itu dan Padri itu sendiri membaca nubuatan-nubuatan itu sambil keheran-heranan, bagaimana mungkin terjadi semua dunia akan rujuk terhadap seorang biasa dan sederhana? Akan tetapi oleh karena perkataan itu datang dari Allah Ta’ala dan bukan buatan saya sendiri, semua telah terjadi dengan sempurna pada waktunya masing-masing dan terus-menerus sempurna sesuai dengan nubuatan-nubuatan itu. Pada suatu waktu mata manusia merasa ta’ajub dan pada suatu waktu mata manusia melihatnya juga.“[11]

Dengan karunia Allah Ta’ala sekarang nubuatan-nubuatan itu sedang terus-menerus mencapai kesempurnaannya. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya bahwa melalui MTA amanat beliau a.s. telah sampai keseluruh pelosok dunia. Begitu juga dahulu kita sering pergi ke Amritsar untuk mencetak buku-buku, akan tetapi sekarang dengan karunia Allah Ta’ala di Qadian juga sudah ada Percetakan dimana Buku-buku Jema’at sedang banyak dicetak disana.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Untuk kesaksian kebenaran saya Allah Ta’ala telah menzahirkan lebih dari 300.000 Tanda Samawi. Di langit telah terjadi Gerhana Bulan dan Matahari di bulan Ramadhan. Sekarang manusia yang tidak percaya kepada firman Allah dan Rasul-Nya dan mendustakan Al Qur’anul Karim dan dengan sengaja menolak Tanda-tanda Allah Yang Maha Mulia dan sekalipun telah zahir ratusan Tanda mereka tetap menuduh saya pendusta, maka bagaimana ia dapat menjadi orang mu’min?”[12]

Ringkasnya, saya telah mengemukakan beberapa Tanda-tanda, yang menurut sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ratusan ribu banyaknya. Semuanya adalah Tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s dan Tanda-tanda itu terus berlangsung sampai sekarang dan dengan karunia Allah Ta’ala ribuan orang Bai’at masuk Jema’at Ahmadiyya setelah menyaksikan Tanda-tanda itu. Memang di beberapa tempat orang-orang Ahmadi menghadapi bermacam-macam kesulitan, akan tetapi insya Allah waktunya akan tiba apabila semua kesulitan itu akan sirna dan dengan meyaksikan-nya akan meningkatkan iman dan ma’rifat kita kepada Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Para pemerhati harus merenungkan sedikit karena Allah, terhadap suasana ini agar Allah Ta’ala memberi pembalasan. Bahwa Allah Ta’ala belum berhenti menunjukkan Tanda-tanda-Nya dan pertolongan-Nya. Saya bersumpah, demi Allah, Dia tidak akan berhenti selama kebenaran saya belum nampak seluruhnya kepada dunia.

Maka, hai semua manusia! Dengarlah suara-ku dan takutlah kepada Tuhan dan hindarilah perbuatan melampaui batas. Jika semua program ini buatan manusia, maka pasti Tuhan telah membinasakan saya dan semua usaha gerakan ini akan hancur berantakan. Akan tetapi kalian telah menyaksikan bahwa pertolongan Allah Ta’ala selalu bersama saya dan betapa banyak Tanda-tanda telah turun yang tidak terhitung banyaknya.

Lihatlah! Betapa banyak musuh yang telah melakukan mubahallah denganku kemudian mereka sendiri yang telah binasa. Hai hamba-hamba Allah! Berpikirlah sejenak, apakah Allah Ta’ala bersikap demikian terhadap penda’wa dusta?”[13]

Pada hari ini genap 125 tahun dan Jema’at terus-menerus bergerak maju sambil menyandang sukses yang luar biasa. Apakah orang-orang itu tidak menggunakan akal? Para penentang tidak akan berhenti menentang? Hanya do’a yang dapat kita panjatkan semoga Allah Ta’ala memberi akal kepada mereka dan semoga mereka mengenal Imam Zaman, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Mahdi dan Masih Mau’ud a.s. Sebab apabila turunnya kemurkaan Allah Ta’ala sudah tiba sa’atnya, maka berapapun hebatnya kekuatan yang dimiliki para penentang akan diterbangkan sampai hancur laksana debu.

Semoga mereka segera menggunakan akal dan menjadi para penerima kebenaran.

Di samping itu kita harus mendo’akan para Ahmadi yang tinggal di Syria begitu juga para Ahmadi yang tinggal di seluruh Pakistan harus kita do’akan secara khusus. Kebanyakan para Ahmadi tinggal di Mesir juga sedang menghadapi banyak kesulitan, harus kita do’akan secara khas. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan semua kesulitan mereka, agar kita dapat menyaksikan turunnya pertolongan Tuhan kepada mereka, sehingga dengan bebas mereka dapat menyatakan identitas mereka dan dengan bebas melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala dan semoga Allah Ta’ala menjauhkan semua jenis sekatan-sekatan yang diberlakukan terhadap para Ahmadi dimanapun juga berada.

Setelah salat Jum’ah saya akan memimpin salat jenazah ghaib untuk Sister Latifa Ilyas of Baltimore, USA yang wafat tgl 9 Maret 2014 pada umur 76 tahun. Beliau seorang wanita African American yang masuk Jema’at lebih dari 50 tahun yang lalu. Beliau sangat sederhana, Ahmadi solehah yang mempunyai kecintaan penuh terhadap Khilafat. Putera beliau Jamal Ilyas juga seorang Ahmadi mukhlis. Sadr Jema’at menulis bahwa sekalipun sumber kehidupan beliau sangat terbatas, namun beliau sering membawa barang-barang peralatan kebersihan dan berjam-jam lamanya beliau membersihkan Masjid. Selesai membersihkan Mesjid beliau sibuk dengan senandung puji dan syukur kepada Allah swt. Bulan Ramadhan beliau datang kemesjid jauh sebelum waktu santap iftar tiba, kemudian langsung membersihkan dapur. Tidak pernah mengeluh mengapa orang-orang mengotori halaman Mesjid dengan sampah berserakan. Beliau mengamalkan sabda ini: Anggaplah khidmat agama sebagai karunia Ilahi. Sekalipun umur telah mencapai 70 tahun beliau datang ke Masjid berjalan kaki. Jika ada orang ingin menolong beliau bersama-sama naik kendaraan ke Masjid sebagai tanda hormat, beliau menolak dan berkata: Semakin banyak langkah ke Masjid semakin banyak pehalanya, biarkanlah saya berjalan kaki! Beliau sering menjalankan tugas sebagai security dan juga sebagai sekretaris keuangan Lajna serta Sekretaris Khidmat Khalq. Beliau tidak pernah mempunyai sifat benci kepada siapapun, bahkan sebaliknya mempunyai kecintaan sangat dalam terhadap anak-anak. Beliau sangat regular mendengarkan Khotbah Jum’ah di MTA dengan semangat dan penuh perhatian dan selalu menganjurkan kepada yang lain juga untuk mendengarkannya. Dengan sangat rajin beliau datang ke Masjid untuk menunaikan salat Jum’ah. Jika anak beliau tidak pergi ke Masjid untuk salat Jum’ah ditanya mengapa tidak pergi? Beliau selalu memberi nasihat kepada anak beliau jangan meninggalkan salat Jum’ah. Dasar-dasar tarbiyyat beliau sangat berkesan terhadap anak beliau. Anak beliau juga mempunyai semangat mendengarkan Khotbah melalui MTA. Kadang-kadang sambil driving juga ia mendengarkan Khotbah yang disiarkan langsung melalui MTA. Seorang telah menulis katanya, Sister Latifa Ilyas sebuah Tanda yang sangat indah bagi kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s dan beliau sangat mencintai Khilafat bahkan berserah diri terhadap Khilafat Ahmadiyyah. Semoga Allah swt berlaku kasih sayang kepada beliau dan orang-orang lain juga harus menaruh perhatian penuh terhadap MTA, mereka harus menyaksikan tayangan Khotbah melalui MTA. Jika setiap Ahmadi mulai menyaksikan siaran langsung Khotbah Jum’ah melalui MTA dengan penuh perhatian maka dengan karunia Allah Ta’ala standar tarbiyyat kita akan semakin baik. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada semua untuk melakukan hal itu dan semoga Allah Ta’ala meningkatkan derajat Sister Latifa Ilyas dan memelihara putera beliau di bawah naungan dan perlindungan-Nya.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] (A’ina-e-Kamalat-e-Islam, Ruhani Khazain, Vol. 5, pp. 187- 188 – Essence of Islam, Vol. I, pp. 203 – 204)

[3] Haqiqat-ul-Wahi, Ruhani Khaza’in, vol. 22, p.202 – Essence of Islam, Vol. V, p. 166

[4] Haqiqat-ul-Wahi, hal.204-205

[5] (Haqiqat-ul-Wahi, pp. 219-221)

[6] Haqiqatul Wahyi

[7] Haqiqat-ul-Wahi, Ruhani Khazain,jld 22, hal. 242-243 – Essence of Islam,jld. V, hal.128 – 130)

[8] Haqiqat-ul-Wahi, pp. 343-345

[9] Haqiqatul Wahi hal.235

[10] Haqiqat-ul-Wahi, Ruhani Khaza’in, vol. 22, pp. 291-292 – Essence of Islam, Vo. V. pp. 59-61

[11] Barahin-e-Ahmadiyya, part 5, Ruhani Khaza’in, vol. 21, pp.79-80 – Essence of Islam, Vol. V, pp. 136 – 137)

[12] Haqiqat-ul-Wahi, p. 168

[13] Haqiqat-ul-Wahi, p. 554