Islam Agama Sempurna dan Diridhai Tuhan:

Download (719kb)   

اليَومَ أَكمَلتُ لَكُم دينَكُم وَأَتمَمتُ عَلَيكُم نِعمَتي وَرَضيتُ لَكُمُ الإِسلامَ دينًا

islam agama sempurna“Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagi manfaat-mu, dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama.” (Surah Al-Maidah 5: 4)

Pengertian Agama Islam

Islam adalah agama Allah swt yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Nama Islam ini bukan pemberian dari Nabi Muhammad saw dan bukan pula pemberian para pengikut agama Islam,  tetapi nama Islam itu adalah pemberian dari Allah swt sendiri (QS 5:3; QS 3:86) [1]dan para pengikut Islam disebut Muslimun (QS 22:79) Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri juga disebut Muslim (QS 6:164)

Agama bahasa Arabnya “diin” atau “millah”. Kata diin  makna aslinya ketaatan,  hukum, dll.  Adapun millah makna aslinya adalah perintah.  Millah terutama sekali bertalian dengan nabi,  yang kepadanya agama itu diwahyukan, sedang diin  bertalian dengan orang yang menganut agama itu (Al-Mufradat fi ghoribil Quran). Adapun Islam artinya masuk dalam “silm”; kata “salm” atau “silm”, dua-duanya berarti  damai (Al-Mufradat fi ghoribil Quran).  Jadi agama Islam itu adalah agama yang diwahyukan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw untuk umat manusia agar mengenal dan taat kepada-nya  dalam satu jamaah yang dipimpin beliau saw  atau Khalifah, pengganti beliau supaya iman mereka terpelihara dan memperoleh kedamaian serta ridha-Nya .

islam agama sempurna dan diridhai Allah

Islam Agama Yang Diridhai

Agama Islam adalah agama yang sempurna dan diridhai Allah (QS 5:4).  Agama ini membicarakan segala perkara (QS 97:5), baik dalam urusan duniawi maupun urusan ukhrawi (QS 2:201), misalnya nabi-nabi dan raja-raja (QS 5:21) dan orang yang beragama Islam diperintahkan berdoa agar dibimbing di jalan yang benar untuk mendapatkan kenikmatan dan dihindarkan  dari murka Allah dan jalan yang sesat (QS 1:6-7).  Oleh karena itu setelah Nabi Muhammad saw diutus ke dunia ini, Allah menolak pilihan orang yang memilih selain agama Islam, dan ia tergolong orang orang yang merugi (QS 3: 86).

Islam Agama Pembawa Rahmat

Agama Islam itu merupakan rahmat bagi semesta alam (QS 21: 108) dan mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, bahkan Islam mampu membuat orang yang mati dapat berbicara (QS 13:32). Maksudnya adalah mati rohaninya, sebab orang yang mati jasmaninya tidak akan bisa hidup kembali ke dunia ini dengan jasad nya (QS 21: 96; 23: 100-101), sedangkan “berbicara” maksudnya adalah berbicara tentang kebenaran Islam untuk disampaikan (tabligh)  kepada orang-orang yang belum mengerti agar mengenal Allah swt dan mengikuti jejak Nabi Muhammad  saw (QS 33: 40; 7: 69) serta sebagai bukti mereka telah menerima dan meyakini kebenaran ajaran Islam dengan tujuan agar umat Islam selamat bersamanya dalam satu jamaah yang telah didirikan Nabi Muhammad saw (QS 2:214). Mereka yang beriman dan berhimpun dalam jamaah itu akan selamat dari kemauan hawa nafsu dan bisikan setan, sebaliknya akan senantiasa menaati kehendak Allah dan Rasul-Nya (QS 4:70), sehingga mereka penampakan budi pekerti yang luhur dan Akhlak yang mulia  serta kesempurnaan akhlak. [2] Jamaah kaum muslimin yang demikian inilah yang diuji Allah swt sebagai umat yang terbaik (QS 3:111) dan dinyatakan sebagai umat yang paling unggul (QS 2:144). Sebab iman mereka tampak sempurna dalam wujud akhlak yang terbaik.[3]

Islam Agama Penghimpun Semua Kebenaran

Agama Islam itu merupakan agama yang menghimpun semua kebenaran agama-agama yang pernah diajarkan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw (QS 98: 3-4) untuk diyakini kebenarannya dan diamalkan dalam kehidupan umat Islam . Misalnya Nabi Isa as (Yesus Kristus) mengajarkan bahwa Allah itu Esa dan beliau  as hanya menyuruh menyembah Allah saja.

Dalam kitab Injil tertulis:

“Tetapi Yesus berkata kepadanya: Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu,  dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (Lukas 4:8)

Dalam Al Quran tertulis:

وَقالَ المَسيحُ يا بَني إِسرائيلَ اعبُدُوا اللَّهَ رَبّي وَرَبَّكُم ۖ إِنَّهُ مَن يُشرِك بِاللَّهِ فَقَد حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيهِ الجَنَّةَ وَمَأواهُ النّارُ ۖ 

“Dan Al Masih berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya, siapa saja yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ketahuilah bahwa Allah mengharamkan baginya surga dan tempat tinggalnya ialah api. (QS 5: 73)

Dalam Kitab Taurat tertulis:

“Nabi Musa melarang umatnya memakan darah, minum minuman keras dan makan daging babi dan sebagainya.” (Imamat, 3:17; 17:12; 10: 8; 11:17)

Dalam kitab Al-Quran tertulis:

إِنَّما حَرَّمَ عَلَيكُمُ المَيتَةَ وَالدَّمَ وَلَحمَ الخِنزيرِ وَما أُهِلَّ بِهِ لِغَيرِ اللَّهِ ۖ

“Sesungguhnya yang Dia haramkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih atas nama selain dari Allah.” (QS 2: 174)

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا إِنَّمَا الخَمرُ وَالمَيسِرُ وَالأَنصابُ وَالأَزلامُ رِجسٌ مِن عَمَلِ الشَّيطانِ فَاجتَنِبوهُ لَعَلَّكُم تُفلِحونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala-berhala dan panah-panah undian itu hanyalah suatu kecemaran dari perbuatan syaitan. Maka jauhilah itu semuanya supaya kamu berbahagia.” (QS 5: 91)

Islam Agama Islam itu Fitriah

Ajaran agama Islam itu berguna apabila diimani dan diamalkan.[4] Guna mengimani kebenaran agama Islam itu diperlukan keyakinan, [5] dan keyakinan itu bisa diperoleh melalui ilmu atau makrifat. Ilmu atau makrifat agama Islam itu terdapat dalam kitab suci Al-Quran dan untuk mendapatkan isi kandungan Al-Quran itu hati harus mendapat anugerahkesucian dari Allah (QS 56:80. Pendek kata keyakinan akan kebenaran agama Islam itu sangat dibutuhkan untuk mendatangkan kekuatan dalam mengamalkannya, sehingga antara iman dan amal menjadi terpadu dalam diri orang Islam.

Nabi Muhammad saw bersabda:

لاَ يُقْبَلُ اِيْمَانٌ بِلَا عَمَلٍ وَلاَ عَمَلٌ بِلاَ اِيْمَانٍ

“Iman tidak diterima tanpa amal dan amal tidak diterima tanpa iman.” [6]

اَلْاِيْمَانُ وَالْعَمَلُ اَخَوَانِ شَرِكَانِ فِى قَرَنٍ لاَيُقْبَلُ اللهُ اَحَدَهُمَا اِلاَّ بِصَاحِبِهِ

“Iman dan amal itu bagaikan dua bersaudara dalam berteman, Allah tidak akan menerima satu dari keduanya, kecuali dengan kawannya.” [7]

Jadi berdasarkan kedua hadits di atas setiap ajaran agama Islam itu bisa dipahami dan dinalar oleh akal, sehingga tak ada tekanan yang dipaksakan kepada akal untuk menerimanya. Ajaran Islam yang demikian inilah yang mampu mendatangkan keyakinan yang benar dan mampu menumbuhkan kekuatan untuk mengamalkannya. Dengan demikian agama Islam mampu melahirkan iman dalam hati. Iman yang demikian itu merupakan landasan bagi perbuatan orang Islam. Jadi dalam agama Islam tidak ada ajaran yang dogmatis, yaitu suatu ajaran yang harus diterima walaupun bertentangan dengan akal. Apalagi memaksakan kehendak, itu bertentangan dengan Islam

Rasulullah saw bersabda:

دِيْنُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ وَمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ لاَ دِيْنَ لَهُ

“Agama seseorang tergantung akalnya, dan siapa yang tidak memiliki akal ia tidak mempunyai agama.” [8]

Sehubungan dengan masalah iman ini, Rasulullah saw menegaskan bahwa “Iman itu adalah keyakinan”. [9] Dan keyakinan itu diperoleh berdasarkan ilmu dan ilmu itu berkaitan dengan akal dan hati manusia. Inilah iman yang sejati atau yang sempurna, yaitu iman yang dihiasi dengan rasa malu kepada Allah jika berbuat buruk atau meninggalkan kewajiban, dalam menunaikan tugas senantiasa menggunakan pakaian takwa, artinya ia selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan senantiasa membekali diri dengan ilmu untuk menyokong tegarnya iman dan menambah wawasan yang lebih luas.

 Nabi Muhammad saw bersabda:

اَلْاِيْمَانُ عُرْيَانُ وَزِيْنَتُهُ الْحَيَاءُ وَلِبَسُهُ التَّقْوٰى وَمَالُهُ الْفِقْهُ

“Iman itu telanjang; hiasannya ialah rasa malu, pakaiannya adalah takwa, dan hartanya adalah pemahaman (ilmu).” [10]

Guna mengimani kebenaran agama Islam seseorang tidak harus bertemu dengan Nabi Muhammad saw, sebab kebenaran ajaran Islam yang telah beliau ajarkan itu bisa diyakini kebenarannya melalui proses ilmu. Oleh karena itu, tidak ada masalah yang bisa merintangi orang-orang yang hidup sesudah beliau saw wafat untuk mengimani kebenaran beliau saw dan  agama Islam yang telah beliau ajarkan.

Beliau saw bersabda:

طُوْبٰى لِمَنْ اَدْرَكَنِيْ وَاٰمَنَ بِيْ وَطُوبٰى لِمَنْ لَمْ يُدْرِكْنِيْ ثُمَّ اٰمَنَ بِيْ

“Berbahagialah bagi orang yang telah bertemu aku dan dia mengimani aku; dan Berbahagialah bagi orang yang tidak bertemu aku, kemudian ia mengimani aku.”[11]

Agama Islam Mampu Mengangkat Derajat Manusia

Umat Islam pada zaman Nabi Muhammad diberi julukan sebagai umat wasath (QS 2:143),  artinya umat yang mengambil jalan tengah atau adil dalam menyikapi ajaran-ajaran agama yang ada pada waktu itu. Sebagai umat Islam selalu bersikap lapang dada, mereka tidak apriori dan tidak selalu menolak setiap ajaran dari agama-agama lain dan tidak pula menerima begitu saja semua ajaran dari agama-agama lain sebelum mereka teliti, tetapi sebaliknya mereka selalu bersikap kritis dan selektif terhadap semua ajaran agama yang ada waktu itu. Setiap ajaran yang sesuai dengan kitab suci Al-Quran mereka ambil dan setiap Ajaran yang bertentangan dengan Al-Quran mereka tolak. Sikap demikian membuat umat Islam itu lebih baik dan lebih unggul dibandingkan umat lainnya, karena mereka menempatkan diri mereka sebagai sanksi bagi umat manusia (QS 2: 144). Dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya selalu mewarnai dalam kehidupan mereka.

Tujuan Agama Islam

Agama Islam diwahyukan oleh Allah mempunyai tujuan:

  1. Mendatangkan perdamaian dan menyatukan umat manusia dalam satu persaudaraan (QS 2:5, 214 & 286)
  2. Menghimpun segala kebenaran yang pernah diajarkan oleh para Nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw (QS 98: 3-4)
  3. Meluruskan kesalahan dan menyaring ajaran yang benar (QS 5: 49)
  4. Mengajarkan dan memberikan contoh ajaran kebenaran yang sempurna dan abadi (QS 5:4)

Janji Allah Kepada Orang Islam

Orang yang dengan hati tulus berserah diri kepada apa yang dikehendaki oleh Allah swt dan berbuat baik kepada sesama makhluk, baik manusia maupun bukan manusia, baginya diberi pahala surga dari sisinya (QS 2: 112-113). Gambaran surga itu adalah apabila ia menghadapi waktu sekarang, hatinya merasa berkecukupan, apabila ia menatap masa yang akan datang, hatinya tidak merasa takut dan khawatir dan jika ia mengingat masa lalunya, hatinya dihindarkan dari rasa susah (QS 2:113). Inilah surga yang diberikan kepada orang Islam di dunia ini. Sebab ia telah berhasil mencintai Allah dengan mengorbankan segala yang dimilikinya, sehingga Allah ridha kepadanya dan ia pun ridha kepada-Nya (QS 98: 9). Orang yang demikian inilah yang dijanjikan akan mendapat dua surge, yaitu surga di dunia ini dan surga di alam akhirat nanti (QS 55: 47)


Sektab PB JAI, Cet. 1. 2017

 

[1] Penulisan nomor ayat Al-Quran dalam brosur ini berdasarkan Hadits Nabi Besar Muhammadsaw. riwayat sahabat, Ibnu Abbasra yang menunjukkan bahwa setiap Basmalah pada tiap awal surah adalah ayat pertama dari surah itu.

كَنَا لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتّٰى يَنْزِلَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Nabi Muhammadsaw. tidak mengetahui pemisahan antara surah itu sehingga bismillaahirrahmaanirrahiim turun kepada beliausaw..” [HR. Abu Daud, “Kitab Shalat” dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”]

[2] Kanzul Ummal, Juz XI, Hadits no. 31929, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[3] Kanzul Ummal, Juz III, Hadits no. 5236, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[4] Kanzul Ummal, Juz I, Hadits no. 260, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[5] Kanzul Ummal, Juz I, Hadits no. 260, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[6] HR Ath-thabrani dalam “Al-Kabir” dari Ibnu Umar ra, Kanzul Ummal , Juz I, Hadits no. 260, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[7] HR Ibnu Syahin dalam “As-Sunnah” dari Ali ra; dan Kanzul Ummal, Juz I, Hadits no. 59, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[8] Hr Abusy-Syeikhdalam “Ats-Tsawaab”, dan Ibnu An-Najjar – dari sahabat Jabir ra; dan Kanzul Ummal, Juz III, Hadits no. 7033, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[9] Kanzul Ummal, Juz III/7331

[10] Hr ibnu Najjar dari Abu Hurairah ra; dan Kanzul Ummal, Juz I, Hadits no. 87, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[11] HR Ibnu Annajjar dari Abu Hurairah ra; dan Kanzul Ummal, Juzl I, Hadits no. 248, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

(Visited 99 times, 1 visits today)