0%

Carut-Marut Problematika Umat Muslim Dewasa Ini dan Ajaran Islam yang Sejati

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ู

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Muโ€™minin

Hadhratย  Mirza Masroor Ahmad

ย  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Taโ€™aala binashrihil โ€˜aziiz [1]

Tanggal 1 Aman 1392 HS/Maret 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุง ุฅูู„ูฐู‡ูŽ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุง ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ู

ูˆูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู

ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏู ูุฃุนูˆุฐ ุจูุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู’ู…ู

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ู (ูก) ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูฐู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ (ูข) ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ู (ูฃ) ู…ูŽุงู„ููƒู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู’ู†ู (ูค) ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูŽ ู†ูŽุนู’ุจูุฏู ูˆูŽุฅููŠู‘ูŽุงูƒูŽ ู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู’ู†ู (ูฅ) ุงูู‡ู’ุฏูู†ูŽุง ุงู„ุตูู‘ุฑูŽุงุทูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู’ู…ูŽ (ูฆ) ย ุตูุฑูŽุงุทูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ุนูŽู…ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุถููˆู’ุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุง ุงู„ุถู‘ูŽุงู„ูู‘ูŠู’ู†ูŽย  (ูง)

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุตูู„ููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุตูŽู„ูŽ ูˆูŽูŠูŽุฎู’ุดูŽูˆู’ู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุฎูŽุงูููˆู†ูŽ ุณููˆุกูŽ ุงู„ู’ุญูุณูŽุงุจู (ุงู„ุฑุนุฏ: 22)

โ€œDan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan, dan takut kepada hisab yang buruk.โ€ (Surah Ar-Raโ€™d, 13:22).

Dalam ayat tersebut Allah berfirman mengenai menjalin hubungan yang bukan hanya memerintahkan untuk menjalinnya saja tapi memerintahkan untuk menjaganya. Jalinlah hubungan kemudian jagalah.

ย ย ย ย ย ย  Yakni, seorang muโ€™min, seorang muโ€™min hakiki yang kepadanya Allah telah menganugerahkan firasat seorang muโ€™min, bahkan tidak bisa membayangkan melakukan suatu pekerjaan yang bertentangan dengan keridhaan Allah Taโ€™ala. Maka jika dia adalah seorang muโ€™min hakiki, ketika dia telah menjalin hubungan dengan Allah Taโ€™ala, dan dia menjalin hubungan sesuai dengan perintah-perintah yang telah Allah Taโ€™ala firmankan,ย  dia akan menjaganya tetap langgeng. Dia berfirman bahwa satu tanda orang yang berakal dan muโ€™min sejati adalah ูŠูŽุตูู„ููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุตูŽู„ูŽ ย yakni dia menjaga hubungan-hubungan yang telah Allah perintahkan untuk dijaga.

Penjelasan Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallaahu Taโ€™ala โ€˜anhu tentang Khasy-yat dan Menunaikan Hak-Hak Makhluk

Dalam menjelaskan bagian ayat ini Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda secara ringkas sebagai berikut, โ€œOrang beriman senantiasa meraih kesempurnaan dalam ketaatan dan kecintaan kepada Allah Taโ€™ala (muโ€™min), dan berdasarkan perintah dan petunjuk-Nya mereka memberikan perhatian kepada makhluk, menjalin kekeluargaan, persatuan, persaudaraan dan kebaikan dengan makhluk. Kemudian, mereka berusaha mencapai kesempurnaan dalam ketaatan dan kecintaan kepada Allah Taโ€™ala karena ‘ูˆูŽูŠูŽุฎู’ุดูŽูˆู’ู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุฎูŽุงูููˆู†ูŽ ุณููˆุกูŽ ุงู„ู’ุญูุณูŽุงุจู’ — karena mereka takut kepada Rabb mereka dan takut pada perhitungan yang buruk. Mereka menjaga rasa takut (khasy-yat) kepada Rabb mereka di dalam hatinya.

Dalam lughat (kamus), ุงู„ุฎุดูŠุฉ khasyyat berarti rasa takut kehilangan sesuatu yang bersifat luhur, setelah mengetahui kesempurnaan danย  keindahannya. Dikatakan, โ€˜Jangan sampai ini terlepas dari tanganku.โ€™ Yakni khasyyat diucapkan ketika seseorang memperoleh makrifat mengenai sesuatu yang dia takuti. Tambahan lagi, rasa takut itu bukan karena kerugian atau kesusahan, tapi karena manusia yakin bahwa itu adalah sesuatu sangat luhur dan agung. Jangan sampai karena kelalaiannya dia kehilangan kedekatan dengannya. Dan bagi seorang muโ€™min sesuatu yang luhur dan agung di langit dan di bumi adalah zat Allah Taโ€™ala.โ€[2]

Jadi tidak ada wujud lain selain Dia dan tidak bisa ada. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Muโ€™min (orang beriman) setelah meraih kedekatan dengan Allah Taโ€™ala, memberikan perhatian kepada makhluk, dan inilah tanda seorang muโ€™min. Jadi, khasyyat ini dan rasa takut kepada perhitungan yang buruk menahan seorang muโ€™min dari mendurhakai Allah dan tidak membayar hak makhluk dan hendaknya demikian.

ย Seperti telah saya katakan, inilah tanda seorang muโ€™min. Dia tidak bisa tahan jika Tuhan marah padanya. Umumnya inilah yang dikatakan. Bahkan seseorang yang bukan muโ€™min sejati pun, yang keimanannya kecil sekalipun, inilah yang dia inginkan. Tapi kita melihat di dunia banyak sekali orang yang membaca Al-Quran, juga membaca terjemahannya, juga memperlihatkan rasa takut kepada Allah Taโ€™ala, dia sekali-kali tidak senang jika mendapatkan kemarahan dari Allah Taโ€™ala, tapi tidak memberikan hak-hak makhluk.

Hubungan yang Allah Taโ€™ala perintahkan untuk dijalin, mereka tidak berusaha menjalinnya dengan sungguh-sungguh. Kontradiksi inilah yang umumnya nampak di dunia pada kebanyakan umat Muslim pada umumnya. Demikianlah yang nampak oleh kita, kendati pun kaum Muslimin mempunyai keinginan dan pendakwaan yang sama. Berkenaan dengan para Ahmadi pun kita tidak bisa mengatakan 100% bahwa mereka sesuai dengan pengertian muโ€™min yang telah Allah Taโ€™ala beritahukan. Jadi kita pun hendaknya terus mengoreksi diri mengenai hal ini.

Tanda Muโ€™min Hakiki โ€œKasih-Sayang Sesama Merekaโ€

Saat ini saya hanya ingin membahas satu sifat dari sifat-sifat orang Muslim, yang mengenainya terdapat petunjuk Allah Taโ€™ala yang sangat jelas bahwa apakah keistimewaan seorang Muslim, dan bahwa ini harus ada dalam dirinya. Dari keistimewaan-keistimewaan seorang muโ€™min yang diterangkan, ini adalah satu keistimewaan besar.

Tentang hal ini pertama saya ingin menyampaikan mengenai negara-negara Muslim secara umum dimana para ulama dan pemerintah mulai menghancurkan kewajiban dan keistimewaan tersebut atas nama Islam dan iman. Allah Taโ€™ala berfirman bahwa tanda muโ€™min hakiki adalah ‘ุฑุญู…ุงุกู ุจูŠู†ู‡ู…’ (ruhamaa-u bainahum — Al-Fath: 30) yakni sangat mengasihi, sopan, dan lembut diantara mereka.

ย Seperti telah saya katakan, pelanggaran atas perintah ini atau tanda orang-orang muโ€™min ini, bukan hanya di satu negara. Bahkan hampir di semua dunia Muslim hal inilah yang nampak kepada kita. Di sebagian tempat agak kurang, sebagian lagi lebih banyak. Karena keuntungan pribadi telah mengalahkan usaha untuk meraih keridhaan Allah Taโ€™ala.

Lihatlah kondisi Pakistan. Puluhan orang setiap hari terbunuh. Muslim membunuh Muslim lainnya. Jika jumlah pembunuhan dan perampokan dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi karena pertikaian dan serangan antar umat Muslim dijumlahkan maka jumlahnya mencapai ribuan. Saat ini saya tidak punya jumlah dan perhitungan pastinya. Tapi dengan membaca dari surat kabar diketahui bahwa tiap hari puluhan orang terbunuh.

Keliru Memaknai โ€œKeras Terhadap Orang-orang Kafirโ€

Selain itu, setiap tahun juga ratusan orang, bahkan mencapai ribuan orang terbunuh karena bom bunuh diri. Orang-orang dibunuh, dan semua ini terjadi atas nama Tuhan dan atas nama agama. Karena sebelum ‘ุฑุญู…ุงุกู ุจูŠู†ู‡ู…’ Allah Taโ€™ala juga memberitahukan satu keistimewaan orang-orang muโ€™min, yakni ‘ุฃุดุฏุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ูƒูุงุฑ’ (asyidaa-u โ€˜alal- kuffaar) yakni mereka bersemangat melawan orang-orang kafir, sangat keras terhadap mereka. Karena itu para ulama menganggap bahwa setelah menyatakan seseorang kafir maka sekehendaknya sendiri mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan terhadapnya. โ€œKami telah mendapat izinโ€. Ketika mereka berpikir seperti ini, bertindak seperti ini, maka orang-orang yang memberikan fatwa kufur, mereka sendirilah yang menjadi kufur berdasarkan ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Pendeknya, di Pakistan dari segi ini secara nyata dalam kondisi aman, yakni [dari segi] tidak ada pertikaian antara pemerintah dengan masyarakat awam [perlawanan rakyat bersenjata]. Tetapi negara-negara yang dalam keadaan perang, di sana, dimana tentara musuh [negara asing yang mengagresi] juga melakukan kezaliman dan kekejian, di sana juga Muslim sendiri sedang membunuh Muslim lainnya. Misalnya, perhatikanlah Afghanistan, di sana Muslim sendirilah yang memulai penyerangan langsung, bom bunuh diri atau serangan biasa satu sama lain.

Dikatakan bahwa di Afghanistan dalam 10 tahun terakhir sekitar lebih dari 50 ribu orang telah mati karena hal itu. Dari jumlah itu, tentara asing [anggota NATO] hanya sedikit, bahkan kalaupun mau (menghitung) semua tentara, termasuk Afghanistan, hanya sedikit. Jumlah kematian penduduk kota lebih banyak, yang merupakan orang-orang tak berdosa yang duduk di rumahnya atau lewat di pasar, menjadi tanda kekejian orang-orang mereka sendiri.

Khususnya di Syam (Suriah, Syria) umat Muslim sedang berperang satu sama lain, dan dikatakan (ini adalah perhitungan yang hati-hati) bahwa sampai sekarang 77 ribu orang telah terbunuh. Kebanyakan adalah penduduk kota yang tidak berdosa. Di Mesir ribuan orang dibunuh dengan dalih untuk mengadakan revolusi. Di Libya ribuan orang terbunuh dan sampai sekarang masih terbunuh. Di Irak, dari 2003 sampai sekarang, dikatakan bahwa 500 ribu lebih orang terbunuh. Setelah perang berhenti pun, sampai sekarang di Irak orang-orang terbunuh karena serangan bom ย bunuh diri. Atau terbunuh karena pertikaian di antara mereka sendiri.

Sekarang di surat-surat kabar juga muncul berita bahwa negara-negara Muslim, negara-negara luar lainnya juga, melakukan semua ini satu sama lain karena menjadi alat kekuatan-kekuatan jahat. Misalnya dua hari yang lalu muncul berita mengenai Syam, Arab Saudi mengambil senjata dari salah satu negara Eropa, lalu menyuplainya kepada kelompok pemberontak yang menentang pemerintah (Suriah), dan di antara orang-orang itu juga terdapat kaum ekstrimis. Jika mereka mendapat kekuasaan, masyarakat akan dilumat oleh kezaliman.

Di Mesir pun sekarang orang sedang menyaksikan pemandangan ini. Bukan hanya keamanan masyarakat awam, bahkan keamanan wilayah juga akan hancur, dan bukan hanya ini, bahkan kemudian atas nama ‘asyiddaau ‘alal kuffar ุฃุดุฏุงุก ุนู„ู‰ ุงู„ูƒูุงุฑ ‘ mereka akan berusaha menghancurkan keamanan dunia. Jika negara-negara Muslim melihat kezaliman di suatu negara, maka ajaran Islam yang benar adalah, dewan negara-negara Muslim mengusahakan keamanan dan hak-hak masyarakat awam dengan sarana musyawarah tanpa campur-tangan pihak lain, dan dulu mereka bisa melakukannya. Di Syam, jika sebelumnya kaum Alawi menzalimi orang-orang Sunni, maka sekarang sedang terjadi sebaliknya, dan karena itu di antara negara-negara Muslim terbentuk dua blok yang menjadi bahaya bagi negara.

Perang Dunia III dan Tanggungjawab Negara Muslim

Sekarang, jika sampai terjadi perang dunia, maka akan dimulai dari negara-negara Timur, bukan dari Eropa seperti yang terjadi pada perang-perang sebelumnya. Jadi negara-negara Muslim mesti memahami tanggungjawab mereka. Seandainya orang-orang ini, pemerintahnya, para ulama, dan para politisinya menjadi orang-orang yang mengamalkan perintah Al Quran Karim ini, dimana Allah Taโ€™ala berfirman:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุฅูุฎู’ูˆูŽุฉูŒ ููŽุฃูŽุตู’ู„ูุญููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุฎูŽูˆูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุงุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูุฑู’ุญูŽู…ููˆู†ูŽ.

โ€œSesungguhnya orang-orang muโ€™min adalah bersaudara, maka damaikanlah diantara dua saudara kalian, dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian dikasihani.โ€ (Al Hujurat: 11)

Orang-orang ini mesti bertakwa, supaya karena kehangatan semangat kasihsayang di antara mereka, karena ruhamaau bainahum (berkasih-sayang di antara mereka), mereka juga mendapat bagian kasihsayang Allah Taโ€™ala. Memerintahkan kepada umat Muslim, maka diakhirnya juga menjanjikan ajrun ‘azhiim’ (ganjaran yang besar) kepada orang-orang itu, kepada orang-orang muโ€™min itu, yang melakukan amal-amal baik.

ย Pembunuhan dan perampokan di negara-negara tersebut yang telah saya jelaskan merupakan pemberontakan atau perang yang hanya namanya saja [perang yang diciptakan, direkayasa]. Saya mengatakan perang yang hanya namanya, karena beberapa kekuatan besar, para tentara negara-negara besar — untuk membuktikan keunggulan mereka — memaksa bercokol di sana dan menciptakan suasana perang, (lalu berkata): โ€œKami datang untuk perdamaian di wilayah itu.โ€

Padahal seandainya umat Muslim sebelumnya beramal sesuai dengan perintah Allah Taโ€™ala โ€œruhamaau bainahumโ€ (berkasih-sayang di antara mereka), berusaha mengadakan perbaikan, dan jika karena suatu sebab terjadi kondisi pemberontakan atau perang, lalu mengamalkan ููŽุฃูŽุตู’ู„ูุญููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุฎูŽูˆูŽูŠู’ูƒูู…ู’ yakni โ€œdamaikanlah di antara dua saudara kalianโ€, maka orang asing tidak perlu datang, dan tidak akan berani datang.

Pendek kata, saya menyampaikan bahwa dalam perang dan kekacauan itu kondisi negara-negara [Muslim] tersebut yang kacau memang nampak. Tetapi di negara-negara yang secara lahiriah nampak aman, di sana juga umat Muslim sedang membunuh sesama umat Muslim. Lihatlah Bangladesh. Jika pemerintah melakukan tindakan hukum pada seseorang, memberi hukuman secara hukum kepada seorang pemimpin, maka para simpatisannya atau orang-orang yang memiliki hubungan dengannya bangkit dan mulai melakukan pembunuhan, kezaliman dan kekejian. Orang-orang yang tidak berdosa pun mulai dibunuh. Jadi Islam yang bagaimana ini? Ajaran Islam yang mana yang diamalkan orang-orang Muslim ini? Jika kalian memeriksa maka akan nampak bahwa saat ini kezaliman dan kekejian di negara-negara Muslim adalah paling banyak, atau umat Muslim melakukannya atas nama Islam.

Kemalangan Umat Islam

Ini adalah kemalangan umat Muslim, atau umat Muslim yang hanya namanya, karena Allah Taโ€™ala memberitahukan bahwa tanda Muslim hakiki adalah, karena hubungannya dengan Allah Taโ€™ala, maka hubungannya dengan makhluk Allah Taโ€™ala menjadi kuat, dan khususnya hubungan seorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah satu hubungan persaudaraan yang khas. Jika ini bukan kemalangan lalu apa? Seberapa banyak Islam menarik perhatian pada amal-amal baik, seberapa banyak Islam menarik perhatian untuk berjalan di jalan keamanan, cinta dan kasihsayang, namun pada kenyatannya sebanyak itu pula umat Muslim menjadi rusak, sebanyak itu pula timbul kezaliman dalam diri orang-orang itu.

Kalau kalian melihat negara-negara Kristen, maka orang-orang Muslimlah yang dianggap [oleh orang Kristen] sebagai sumber kekacauan. Dikatakan juga bahwa di penjara-penjara negara-negara tersebut, jika kita bandingkan jumlah penghuninya maka tahanan Muslim lebih banyak. Oleh karena itu, kondisi degradasi umat Muslim inilah yang untuk memperbaikinya Masih Mau’ud harus datang, dan memang telah datang. Tetapi orang-orang ini berkata bahwa โ€œKami tidak memerlukan seorang Mushlih maupun seorang Masih. Ajaran kami sudah cukup untuk kami.โ€ Jika ajaran saja sudah cukup, mereka tidak takut pada Rabb mereka, tidak pula pada kitab hisab (perhitungan) Hari akhir. Para pemimpin dan pemberi fatwa ini terus mengelabui orang-orang tak berdosa dan orang awam yang tidak tahu agama dengan ajaran dan tafsir buatan mereka sendiri.

Menghina Rasulullah Saw: Mengatasnamakan Rasul Tetapi Beramal Lain dari Pesan dan Petunjuk Beliau

Pesan agung Rasulullah s.a.w. itulah yang akan terus berlanjut sampai akhir dunia, sebab beliau bersabda bahwa โ€œsampaikan terus pesan iniโ€, beliau memberikan pesan kepada umat supaya jangan melupakannya, dan orang-orang yang menyatakan diri ulama ini melupakannya. Bahkan tidak, mereka tidak lupa, karena dikatakan bahwa dengan mengabaikan pesan Rasulullah S.a.w., tidak menganggap penting pesan beliau s.a.w., sungguh mereka sedang melakukan penghinaan terhadap Rasul.

Beliau s.a.w. pada kesempatan Hujjatul Wida bersabda dengan sangat jelas, โ€œHari ini darah kalian, harta, dan kehormatan kalian adalah suci dan harus dihormati. Seperti hari kalian ini, kota kalian ini, dan bulan kalian ini harus dihormati. Hai manusia, kalian akan segera bertemu dengan Rabb kalian, Dia akan bertanya pada kalian, bagaimana kalian beramal. Lihat! Janganlah kembali kafir setelahku atau kalian akan mulai memotong leher satu sama lain. Dan ingatlah, kalian yang berada di sini sampaikan pesan ini kepada orang-orang yang tidak hadir. Karena bisa jadi orang yang diberitahu lebih memahami daripada orang yang mendengarkan.โ€ Lalu beliau s.a.w. bersabda: โ€œBukankah aku telah menyampaikan pesan Allah dengan benar?โ€ Beliau S.a.w. mengulangi perkataan ini 3 kali. Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Bakar bahwa kami menjawab, โ€œBenar ya Rasulullah. Anda telah menyampaikan pesan Allah Taโ€™ala dengan benar. Atas hal itu beliau S.a.w. bersabda, โ€œYa Allah saksikanlahโ€.[3]

Pesan inilah yang mereka terima, tapi amalan seperti itulah yang nampak kepada kita.

Jadi, setelah petunjuk yang jelas tersebut apa lagi yang tertinggal pada para ulama yang hanya nama, karena mereka menggiatkan kezaliman danย  membunuh satu sama lain atas nama agama. Bukankah dengan tidak mengamalkan petunjuk ini, bahkan menginjak-injaknya, orang-orang ini sendirilah yang sedang menghina Rasul. Kemudian Rasulullah S.a.w. bersabda:

ุงู„ู…ุณู„ู… ู…ูŽู†ู’ ุณู„ู… ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ู…ูู† ู„ุณุงู†ู‡ ูˆูŠุฏู‡

โ€œMuslim adalah orang yang Muslim lainnya terjaga dari lidah dan tangannyaโ€.[4]

Apakah para ulama dewasa ini berhak menyatakan dirinya sebagai Muslim dalam pengertian itu? Mereka telah mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam untuk tujuan kekuasaan, yang di dalamnya semua firqah bersatu-padu. Bagaimanapun hal itu tidak ada pengaruhnya pada kami. Allah Taโ€™ala menyatakan kami adalah Muslim. Kami membaca Syahadat, dan merupakan khadim Khatamul Mursalin (Rasulullah s.a.w.) dari lubuk hati.

ย Tetapi firqah-firqah lain di luar Ahmadiyah, sekarang lihatlah betapa kezaliman yang terjadi pada mereka. Kenapa Di Quetta, Pakistan dalam dua kesempatan yang berbeda, puluhan orang-orang tak berdosa, anak-anak, dan perempuan dibunuh? [dengan bom bunuh diri] Sebenarnya atas dosa apa? Karena orang-orang ini berasal dari firqah yang tidak mereka sukai. Jumlah mereka bukan mayoritas. [mereka orang Syiah di tengah golongan Sunni]

ย Jadi hukum yang mereka buat terhadap para Ahmadi untuk memanjangkan tangan kezaliman mereka, semuanya ikut serta di dalamnya. Sekarang hukum itu berbalik kepada orang-orang Syiah di antara mereka. Sekarang mereka menjadi targetnya. Kemudian kezaliman ini kembali akan terjadi antara satu firqah dengan yang lain. Setiap firqah akan melakukannya terhadap firqah lainnya.

Saya mengatakan sekali lagi, karena sebelumnya yang terus terjadi adalah mereka hanya bersatu ketika menentang Ahmadiyah. Tetapi ketika mulut seseorang sudah merasakan kelezatan kemabukan, maka tidak ada lagi batasnya. Sekarang mulut mereka merasakan kelezatan ini. Setelah mulut mereka merasakan darah maka sekarang mereka akan mengalirkan darah satu sama lain, dan ini jugalah yang sedang terjadi disini.

Ahmadi yang memahami maqam (martabat) sejati Rasulullah S.a.w., ย kita bukan hanya membatasi makna hadist itu kepada orang-orang Muslim. Tetapi Hadhrat Mushlih Mau’ud menjelaskan keluasannya bahwa bukan hanya terbatas kepada orang-orang Muslim, bahkan maknanya adalah orang Muslim adalah yang setiap orang yang mencintai perdamaian dan keamanan akan selamat dari lidah dan tangannya.

Perbedaan โ€œIslamโ€œ Para Pecinta Ego dan Keinginannya dengan Islam Orang-orang Ahmadi

Jadi inilah makna sejati petunjuk-petunjuk Rasulullah S.a.w. yang sesuai dengan ketakwaan. Para ulama itu tidak memiliki ketakwaan ini. Mereka adalah pecinta ego (keakuan) dan keinginannya sendiri. Akibatnya mereka tidak mendapatkan pemahaman ini. Jadi selama keinginan-keinginan pribadi mereka tidak berakhir, selama itu tidak akan timbul jiwa pengorbanan dalam diri mereka. Selama belum timbul jiwa pengorbanan, dan mengedepankan jiwa ruhamaau bainahum (berkasih-sayang di antara mereka) serta mengamalkannya, maka sepanjang apapun jubah yang mereka kenakan — dalam pandangan Allah Taโ€™ala – dia bukan muโ€™min hakiki, dan orang yang bukan muโ€™min hakiki, bagaimana pula dia akan memberi petunjuk pada orang lain?

Beberapa hari yang lalu di Pakistan seorang maulwi menjelaskan bahwa Ahmadi adalah borok. Tidak tahu dia ingin menjelaskan borok mana, borok negarakah atau yang mana? Pendeknya Ahmadi bukanlah borok. Para Ahmadi justru menjalankan pekerjaan ‘syifaaul linnaas’ (penyembuh untuk manusia), menyinari dunia dengan ajaran sejati Allah Taโ€™ala.

Ahmadi adalah orang yang — setelah mendengar perkataannya ย — orang non-Muslim pun berkata, demikian juga orang yang menulis dan berbicara menentang Islam juga berkata, โ€œIslam kalian berbeda dengan Islam yang lain atau Islamnya para ulama. Kenapa bisa begini?โ€

Maka kita harus memberitahukan, โ€œIslam kami adalah Islamnya Rasulullah s.a.w. Islam kami adalah yang sesuai dengan ajaran AlQurโ€™an. Sebaliknya Islamnya para maulwi adalah Islam bikinan mereka sendiri, dan cerminan keinginan-keinginan pribadi mereka atas nama agama.

Semoga Allah Taโ€™ala membuka mata umat Muslim, membuka dada mereka dan menerangi mereka dengan ajaran Islam hakiki, yang sekarang sedang menyebar di dunia dengan perantaraan hamba sejati dan pecinta sejati Rasulullah s.a.w..

Pentingnya Mengamalkan Sifat Allah: Memaafkan

Pendeknya, selain hal-hal itu seperti yang telah saya katakan diย  awal bahwa kita juga tidak bisa memberi jaminan 100% mengenai diri kita, apakah kita dalam segala segi menjadi orang-orang yang mengamalkan ‘ูŠูŽุตูู„ููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุตูŽู„ูŽ’ ย (menghubungkan apa yang diperintahkan Allah yang mengenainya harus dihubungkan) atau menjadi contoh firman tersebut. Jika setiap orang memeriksa dirinya sendiri maka akan timbul perhatian, dan akan terlihat kondisi ini bahwa kita hendaknya tidak terpedaya. Jangankan dalam lingkup yang luas, dalam lingkup yang kecil pun, dalam lingkungan kita sendiri pun kita tidak melihat keadaan kita sendiri. Maka ketika tindakan-tindakan semacam ini mulai terjadi dalam skala kecil, inilah yang biasanya menjadi kerusakan besar.

Kitaย  mengharapkan ampunan dan rahmat untuk kita, tetapi ย kita tidak mengenal kasihsayang dan maaf untuk orang lain. Jika kita menjadi orang yang memperhatikan orang lain karena ghairat kasihsayang maka banyak sekali masalah-masalah tarbiyatย  dan masalah-masalah hukum Jemaat yang akan selesai dengan sendirinya. Allah Taโ€™ala berfirman dalam Al Quran Karim

‘ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุนู’ูููˆุง ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุตู’ููŽุญููˆุง ุฃูŽู„ูŽุง ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุบู’ููุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

โ€œMaka hendaknya kalian memaafkan dan mengampuni. Apakah kalian tidak suka Allah mengampuni kalian dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.โ€ (An-Nuur: 23)

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam suatu tempat bersabda mengenai hal ini: โ€œMaafkanlah dosa orang-orang, dan ampunilah pelanggaran dan kesalahan mereka. Apakah kalian tidak ingin Tuhan juga memaafkan kalian dan mengampuni dosa kalian, dan Dia Maha Pengampun Maha Penyayangโ€’[5]

Maka siapakah yang tidak menginginkan ampunan dari Allah Taโ€™ala. Setiap orang yang meyakini wujud Allah Taโ€™ala, yang di dunia inipun membutuhkan kerahiman dan karunia Allah Taโ€™ala, dan di akhirat juga, dia setiap saat mengharapkan Allah Taโ€™ala. Jika hal ini benar, maka Allah Taโ€™ala berfirman, โ€œJika kamu menginginkan ini maka kamu milikilah sifat-Ku ini, dan dalam hubungan-hubungan kamu dengan hamba-hamba-Ku sebanyak mungkin kalian meningkatkan ghairat kasihsayang.โ€

ย 

Hadits-Hadits Rasulullah s.a.w.

Tanpa menjelaskan topik ini lebih lanjut saya ingin menyampaikan beberapa hadits ke hadapan Saudara-saudara, karena ini adalah hadist yang sederhana dan membuat terang topik ini. Hadhrat Anas bin Malik menerangkan bahwa:ย  Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, โ€œOrang yang menginginkan keluasan rezeki, atau bertambah umur atau nama baiknya, dia hendaknya menjalin silaturahmi dengan orang lain.โ€[6]

Yakni hendaknya menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Hendaknya menjalin hubungan baik dengan kerabatnya. Hendaknya memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.

Hadhrat ‘Amr bin Syu’aib radhiyallahu โ€˜anhu meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, โ€œOrang itu tidak punya hubungan denganku, yang tidak mengasihi yang kecil, dan tidak memuliakan yang lebih tua. Yakni menghormatinya.โ€[7]

Hadist-hadist ini orang membacanya sejak masih kecil, di sini juga diajarkan di kelas-kelas. Disebutkan di berbagai tempat. Kita mendengarnya. Tapi setelah mendengarnya kita keluar dari mesjid atau dari Jalsah Gah dan melupakannya.

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu โ€˜anhu menerangkan bahwa Rasulullah S.a.w. Bersabda, โ€œSeluruh makhluk adalah keluarga Allah Taโ€™ala. Jadi Allah Taโ€™ala menyukai orang yang memperlakukan keluarga-Nya dengan baik, dan memperhatikan kebutuhannyaโ€.[8]

Memperhatikan kebutuhan dapat dilakukan ketika terdapat jiwa pengorbanan satu sama lain, ada ghairat kasih-sayang, kecintaan.

Hadhrat Abdullah bin โ€˜Umar menjelaskan bahwa Rasulullah S.a.w. Bersabda, โ€œAllah yang Rahman akan mengasihi orang yang mengasihi (yang lain). Kasihilah penduduk bumi maka Allah akan mengasihi kalian di langit.โ€[9]

Kemudian seperti itu pula Hadhrat Jabir menjelaskan bahwa Rasulullah s.a.w. Bersabda, โ€œAda tiga hal yang jika seseorang memilikinya, Allah Taโ€™ala akan melindunginya dan mengasihinya, dan memasukkannya ke dalam surga. Pertama orang yang mengasihi orang-orang lemah. Kedua, yang mencintai ibu bapaknya. Ketiga yang memperlakukan budak dan pekerjanya dengan baik.โ€[10]

ย 

Penting Sikap Lemah-Lembut

Hadhrat โ€˜Aisyah Shadiqah radhiyallahu โ€˜anha menerangkan bahwa Rasulullah S.a.w. Bersabda, โ€œAllah Taโ€™ala itu lembut, dan menyukai kelembutan. Dia tidak mengganjar untuk kekerasan sebanyak Dia mengganjar untuk kelembutan. Bahkan Dia tidak mengganjar kebaikan lain sebanyak itu.โ€[11]

Yakni masalah-masalah yang bisa diselesaikan dengan kelembutan, hendaknya berusaha menyelesaikannya dengan kelembutan.

Kemudian Hadhrat Aisyah r.a. juga meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. Bahwa, โ€œSemakin banyak kelembutan ada dalam sesuatu, semakin itu menjadi sumber keindahan baginya. Akan timbul keindahan darinya. Dan semakin kelembutan diambil darinya semakin itu menjadi buruk. Kekerasan juga membuat buruk (amal) dan orang lari darinya.โ€ [12]

Yakni dalam kelembutan hanya ada keindahan dan keindahan.

Lalu, Hadhrat Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa Rasulullah s.a.w. Bersabda, โ€œMaukah aku beritahu kalian atas siapa api (neraka) diharamkan? Ia haram atas setiap orang yang qarib (dekat dengan orang-orang atau mudah didekati), hayyin (lemah-lembut), dan sahl (mudah).โ€ Yakni tidak membenci orang-orang, berlaku lembut, memberikan kemudahan untuk mereka dan suka kemudahan. [13]

Di sini mengenai masalah ini saya ingin menarik perhatian para pengurus secara khusus, bahwa setiap pengurus, khususnya pengurus nasional, memiliki ghairat kebaikan dan ghairat kasih sayang. Tentu saja ini harus menjadi ciri setiap Ahmadi. Tetapi para pengurus yang mengatur pengkhidmatan Jemaat, mereka khususnya, hendaknya tidak merasa terganggu atas seorang penanya, seseorang yang berkali-kali datang ke kantor, melakukan kontak, dan hendaknya menerimanya dengan hati terbuka. Hendaknya selalu ingat bahwa pekerja apapun di Jemaat dalam kondisi apapun hendaknya tidak melenceng jauh dari akhlak luhur. Atau sampai timbul kondisi yang menimbulkan keraguan sekecil apapun bahwa mereka tidak memperlihatkan akhlak luhur. Bahkan hendaknya berusaha bahwa seberapa pun kemudahan yang tersedia, sebanyak mungkin kelembutan yang bisa dilakukan, hendaknya berusaha melakukannya.

Keberkatan Sedekah dan Saling Memaafkan

Lalu Hadhrat Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu menerangkan bahwa Rasulullah S.a.w. Bersabda, โ€œDengan sedekah harta tidak akan berkurang, dan orang yang memaafkan kesalahan orang lain, Allah Taโ€™ala akan menambah kehormatannya.โ€[14]

Dengan memaafkan kesalahan orang lain dia tidak akan terhina. Semoga Allah menjadikan standar ini tegak dalam diri setiap anggota jemaat kita.

Lalu, diriwayatkan dari Hadhrat Anas r.a. bahwa Rasulullah S.a.w. Bersabda, โ€œJangan saling mendengki, jangan iri, jangan saling menghindar dan menjauhi, jangan memutuskan hubungan di antara kalian. Bahkan jadilah hamba-hamba Allah Taโ€™ala dan saudara satu sama lain. Tidak halal bagi seorang Muslim marah kepada saudaranya lebih dari 3 hari dan memutuskan hubungan dengannya.โ€[15]

Hadhrat Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu menerangkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, โ€œJangan iri satu sama lain, jangan berlomba-lomba berusaha merugikan satu sama lain. Jangan saling mendengki, jangan saling memalingkan punggung, yakni jangan berusaha memutuskan hubungan. Jangan menjual diatas jualan saudaranya, bahkan jadilah hamba Tuhan dan saudara di antara kalian. Muslim tidak mendzalimi saudaranya. Tidak meremehkannya. Tidak mempermalukannya atau merendahkannya.โ€

Kemudian beliau mengisyaratkan ke dada beliau dan berkata, โ€œTakwa itu di sini.โ€ Dan beliau mengulangi kata-kata ini 3 kali. Kemudian bersabda, โ€œSudah cukup manusia berbuat buruk kepada saudaranya yang Muslim dengan memandangnya rendah. Darah, harta, dan kehormatan setiap Muslim haram [suci, tidak boleh diusik] bagi Muslim lainnya dan wajib dihormati.โ€[16]

Semoga ketakwaan ini, yang paling banyak terdapat dalam diri Rasulullah s.a.w., setiap orang dari kita berusaha mengamalkan hati [sesuai pola pikir] beliau, teladan beliau, dan berusaha memperolehnya. Hadhrat Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah S.a.w. Bersabda, โ€œPada hari Kiamat Allah Taโ€™ala akan berfirman, ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai demi Jalal-Ku (keagungan-Ku). Hari ini ketika tidak ada naungan lain kecuali naungan-Ku, Aku akan memberikan mereka tempat dalam naungan rahmat-Kuโ€.[17]

Semoga kita menjadi orang-orang yang meningkatkan semangat mahabbah (kecintaan) dan mawaddah (belas-kasih) serta menyayangi satu sama lain dalam hubungan di antara kita. Menjadi Jemaat seperti yang ingin dibentuk oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Rasulullah s.a.w. sesuai dengan cahaya petunjuk beliau-beliau. Semoga Jemaat Ahmadiyah juga menjadi penjamin keamanan dunia.

Semoga kaum Muslimin menjadi orang-orang yang memahami mahabbah (kecintaan) dan mawaddah (belas-kasih) diantara mereka setelah menerima ghulam shadiq Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Semoga para pemimpin Muslim yang dewasa ini menzalimi warga negaranya, menghentikannya dan menjadi orang-orang yang memperlakukan rakyatnya dengan adil dan kasihsayang. Semoga masyarakat awam pun menggunakan akal mereka serta mencari hukum Allah yang benar dan berusaha mengamalkannya, bukan bermain-main di tangan orang-orang yang suka memanfaatkan mereka dan menjadikan mereka alat.

Semoga Allah segera menyelamatkan negara-negara Muslim khususnya dan dunia umumnya dari orang-orang yang berbahaya dan para ekstrimis yang menguasai negara-negara Muslim, yang dalam kondisi apapun mengutamakan kepentingannya sendiri, sehingga kita bisa menyebarkan ajaran indah Islam dengan cara lebih baik dan lebih cepat. Semoga Allah Taโ€™ala memberikan taufik kepada kita.

Kewafatan Seorang Wanita Ahmadi Afro-Amerika

Hari ini, setelah shalat Jumat saya akan menshalatkan satu jenazah gaib. Ini salat jenazah gaib untuk Mukarramah Nashirah Salimah Ridha Sahibah, yang merupakan Ahmadi Afro-Amerika di Zion, Amerika. Beliau wafat pada 18 Februari 2013. ‘innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Beliau lahir di Saint Louis, Amerika pada tahun 1927. Ayah beliau adalah pendeta Baptist, tetapi beliau sendiri tidak tertarik dengan Kristen. Beliau tertarik pada Yoga dan Budha, tapi tidak menerimanya sebagai agama. Pada 1949 beliau mendapatkan keberuntungan menerima Ahmadiyah melalui Dr. Khalil Ahmad Sahib Nasir Marhum sahib.

Pada 1951 beliau menikah dengan Muhtaram Nasir Ali Radha Sahib yang selama bertahun-tahun menjadi ketua Jemaat Kenosha Waukegan [negara bagian Wisconsin, WI]. Pada 1955 keluarga beliau pindah ke Milwaukee (kota terbesar di Wisconsin) dimana beliau mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai Sekretaris Ta’lim. Selama itu, selain keluarga beliau sendiri beliau juga mengatur ta’lim dan tarbiyat 3 keluarga lainnya. Pada 1975 beliau ditetapkan sebagai Sadr Lajnah regional [wilayah]. Dari tahun 1981-1985 dua kali beliau ditetapkan sebagai Sadr regional. Beliau mengawasi 5 majelis Lajnah Imaillah dan juga bekerja sebagai ketua lokal [LI]. Dari tahun 1985-1995 beliau melaksanakan pengkhidmatan di Lajnah Imailah setempat dalam berbagai jabatan. Pada 1995 dua kali beliau ditetapkan menjadi ketua Lajnah Waukegan.

Beliau sangat suka bertabligh. Karena itu beliau mencetak pamflet, selebaran dan laporan berkala kemudian membagi-bagikannya. Ketika bepergian dengan bus beliau membawa literatur Jemaat. Beliau membagi-bagikannya. Beliau menempatkan buku-buku Islam dan Al-Quran di perpustakaan-perpustakaan dan sekolah-sekolah. Beliau banyak diwawancarai di radio dan televisi. Dengan perantaraan beliau lebih dari 50 orang mendapatkan keberuntungan menerima Ahmadiyah. Beliau memiliki sifat yang sangat ramah. Sangat cerdas dan terpelajar. Karena kelebihannya itu banyak wanita yang suka datang menemui beliau. Kecintaan Islam dalam hati beliau sangat besar. Beliau dianggap sebagai guru yang baik. Di sana juga para wanita menganggap beliau seperti ibu. Beliau menasehati orang dan memperbaiki kesalahan dengan penuh kecintaan.

Beliau selalu memberikan pelajaran mengenai pardah kepada anak-anak, begitu juga mengajarkan akhlak-akhlak Islami. Juga memberitahu bagaimana melawan adat-adat buruk masyarakat Barat. Demikianlah kerja keras beliau, yang semua orang tahu. Dewasa ini sedikit saja ada pengaruh Barat, maka bukan hanya anak-anak kita bahkan orang dewasa pun terpengaruh. Beliau terus bertabligh kepada ibu beliau selama bertahun-tahun. Hingga ibu beliau menjadi Ahmadi pada usia 50 tahun. Beliau sangat gembira atas hal itu. Allah Taโ€™ala memberikan umur panjang kepada ibu beliau. Ia wafat pada usia 98 tahun tapi sampai akhir sangat aktif dan selalu mengerjakan shalat Jumat.

[1] Semoga Allah Taโ€™ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Tafsir Kabir, jilid 3, hal. 409

[3] Shahih Bukhari kitab Maghazi bab Haji Wida no. 4406, Sunan Ibnu Majah kitab Manasik bab khutbah pada Hari Kurban no. 3055

ู„ู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ูŠูˆู… ุญุฌู‘ุฉ ุงู„ูˆุฏุงุน ุจุตุฑุงุญุฉ ุชุงู…ู‘ุฉ ุฅู† ุฏู…ุงุกูƒู… ูˆุฃู…ูˆุงู„ูƒู… ูˆุฃุนุฑุงุถูƒู… ุญุฑุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูƒูŽุญูุฑู’ู…ูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ููƒูู…ู’ ู‡ูŽุฐูŽุงุŒ ูููŠ ุจูŽู„ูŽุฏููƒูู…ู’ ู‡ูŽุฐูŽุงุŒ ูููŠ ุดูŽู‡ู’ุฑููƒูู…ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง. ูˆูŽุณูŽุชูŽู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูู…ู’ุŒ ููŽูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ููƒูู…ู’ุŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฑู’ุฌูุนูู†ู‘ูŽ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ูƒููู‘ูŽุงุฑู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุถูู„ู‘ูŽุงู„ู‹ุงุŒ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุฑูู‚ูŽุงุจูŽ ุจูŽุนู’ุถู. ุฃูŽู„ูŽุง ู„ููŠูุจูŽู„ู‘ูุบ ุงู„ุดู‘ูŽุงู‡ูุฏู ุงู„ู’ุบูŽุงุฆูุจูŽุŒ ููŽู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽ ุจูŽุนู’ุถูŽ ู…ูŽู†ู’ ูŠูุจูŽู„ู‘ูุบูู‡ู ูŠูŽูƒููˆู†ู ุฃูŽูˆู’ุนูŽู‰ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุถู ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู…ูุนูŽู‡ู. ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽู„ูŽุง ู‡ูŽู„ู’ ุจูŽู„ู‘ูŽุบู’ุชูุŸ ูˆุฃุนุงุฏ ู‡ุฐู‡ ุงู„ูƒู„ู…ุงุช ุซู„ุงุซู‹ุง. ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ: ู‚ู„ู†ุง: ู†ุนู…ู’ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ู„ู‚ุฏ ุจู„ู‘ุบุชูŽ. ูู‚ุงู„: ุงู„ู„ู‡ู…ุŒ ูุงุดู‡ุฏ

[4] Bukhari kitab iman bab muslim adalah yang muslim lain selamat dari lidah dan tangannya.

[5] Chasyma-e-Ma’rifat, Ruhani Khazain, jilid 23, hal. 387

[6] Shahih Muslim, Kitabul Birri wash shilah, Bab Shilatur rahm

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฑู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุจู’ุณูŽุทูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูุฒู’ู‚ูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ูŠูู†ู’ุณูŽุฃูŽ ูููŠ ุฃูŽุซูŽุฑูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุตูู„ู’ ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู

[7] Sunan At-Tirmidzi, Abwaabul Birri wash shilah, bab rahmatish shibyaan

ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุดูุนูŽูŠู’ุจู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุฏู‘ูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู‘ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ ุตูŽุบููŠุฑูŽู†ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุนู’ุฑููู’ ุดูŽุฑูŽููŽ ูƒูŽุจููŠุฑูู†ูŽ

[8] Syiโ€™bil Iman oleh al-Baihaqi, jilid 9

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู:”ุงูŽู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุนูŽูŠูŽุงู„ู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ููŽุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุนููŠูŽุงู„ูู‡ู

[9] Sunan Abi Daud, Kitab al-Adab, bab fir rahmah

ูˆุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ู‚ุงู„ ู‚ุงู„ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ: ุงู„ุฑู‘ูŽุงุญูู…ููˆู†ูŽ ูŠูŽุฑู’ุญูŽู…ูู‡ูู…ู’ ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุงุฑู’ุญูŽู…ููˆุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูŠูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู

[10] Sunan At-Tirmidzi, Abwab shifat al-Qiyamah

ุนู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู: ุซูŽู„ูŽุงุซูŒ ู…ูŽู†ู’ ูƒูู†ู‘ูŽ ูููŠู‡ู ุณูŽุชูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูƒูŽู†ูŽููŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ู ุฌูŽู†ู‘ูŽุชูŽู‡ู: ุฑููู’ู‚ูŒ ุจูุงู„ุถู‘ูŽุนููŠููุŒ ูˆูŽุดูŽููŽู‚ูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆูŽุฅูุญู’ุณูŽุงู†ูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู…ู’ู„ููˆูƒู

[11] Shahih Muslim, Kitab al-Birri wash Shilah, Fadhl ar-Rifq

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช: ู‚ุงู„ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฑูŽูููŠู‚ูŒ ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ุฑู‘ููู’ู‚ูŽุŒ ูˆูŽูŠูุนู’ุทููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ููู’ู‚ู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูุนู’ุทููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูู†ู’ูู ูˆูŽู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูุนู’ุทููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุณููˆูŽุงู‡ู

[12] Shahih Muslim, Kitab al-Birri wash Shilah, Fadhl ar-Rifq

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช: ู‚ุงู„ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ููู’ู‚ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ูููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฒูŽุงู†ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูู†ู’ุฒูŽุนู ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุดูŽุงู†ูŽู‡ู

[13] Sunan At-Tirmidzi, Abwab shifat al-Qiyamah

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ุฃูŽู„ูŽุง ุฃูุฎู’ุจูุฑููƒูู…ู’ ุจูู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูุŒ ุฃูŽูˆู’ ุจูู…ูŽู†ู’ ุชูŽุญู’ุฑูู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูุŸ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ู‚ูŽุฑููŠุจู ู‡ูŽูŠู‘ูู†ู ุณูŽู‡ู’ู„ู

[14] Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 hal 23, musnad Abu Hurairah hadits no. 7205, alamul kutub Beirut, 1998

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุนูŽู† ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู: ู…ูŽุง ู†ูŽู‚ูŽุตูŽุชู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงู„ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽููŽุง ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽุธู’ู„ูŽู…ูŽุฉู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฒูŽุงุฏูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูุฒู‘ู‹ุง

[15] Shahih al-Bukhari, bab maa yanha โ€˜anil tahaasid

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽุง ุชูŽุจูŽุงุบูŽุถููˆุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุญูŽุงุณูŽุฏููˆุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฏูŽุงุจูŽุฑููˆุงุŒ ูˆู„ุง ุชู‚ุงุทุนูˆุงุŒ ูˆูŽูƒููˆู†ููˆุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ู‹ุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุญูู„ู‘ู ู„ูู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฌูุฑูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ููŽูˆู’ู‚ูŽ ุซูŽู„ูŽุงุซู ู„ูŽูŠูŽุงู„ู

[16] Shahih Muslim, Kitabul Birri wash Shilah, Bab Tahrim zhulmil Muslim wa khadzalihi (larangan menyakiti orang Muslim dan merendahkannya)

ูˆุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู: ู„ูŽุง ุชูŽุญูŽุงุณูŽุฏููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู†ูŽุงุฌูŽุดููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุจูŽุงุบูŽุถููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฏูŽุงุจูŽุฑููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุจูุนู’ ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽูŠู’ุนู ุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽูƒููˆู†ููˆุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ู‹ุง ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃูŽุฎููˆ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ูŽุง ูŠูŽุธู’ู„ูู…ูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุฐูู„ูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุญู’ู‚ูุฑูู‡ู ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ู‡ูŽุงู‡ูู†ูŽุง ูˆูŽูŠูุดููŠุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุตูŽุฏู’ุฑูู‡ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุงุชู ุจูุญูŽุณู’ุจู ุงู…ู’ุฑูุฆู ู…ูู† ุงู„ุดู‘ูŽุฑู‘ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ู‚ูุฑูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽ ูƒูู„ู‘ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุฏูŽู…ูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ู ูˆูŽุนูุฑู’ุถูู‡ู

[17] Shahih Muslim, Kitabul Birri wash Shilah, Bab Fadhl al-Hubb fillaah (bab keutamaan cinta kasih karena Allah)

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู: ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู: ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุชูŽุญูŽุงุจู‘ููˆู†ูŽ ุจูุฌูŽู„ูŽุงู„ููŠุŸ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูุธูู„ู‘ูู‡ูู…ู’ ูููŠ ุธูู„ู‘ููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ู„ูŽุง ุธูู„ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุธูู„ู‘ููŠ

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, ัolors are shown for an example.