Mutiara-Mutiara Hikmah Khalifatul Masih II ra:

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

 tanggal 12 Februari 2016 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.    

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. آمين

 

Dalam berbagai kesempatan khotbah dan pidato, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah menyampaikan sabda-sabda dan kisah-kisah yang penuh dengan pelajaran dan cerita-cerita dari Hadhrat Masih Mau’ud as dan hal ini telah saya sampaikan dalam berbagai kesempatan. Dan pada hari ini pun akan saya sampaikan. Dalam kesempatan sebuah khotbah Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ketika Allah Ta’ala mengutus utusan-Nya atau mengutus para Nabi maka Dia pun menolongnya, memberikan dukungan kepada para utusan-Nya itu. Jika demi menampakkan kebenaran utusan-Nya itu terpaksa harus memberikan hukuman kepada penduduk dunia, Allah Ta’ala tidak akan segan-segan sekalipun harus menghukum penduduk dunia itu.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga bersabda, “Ketika kecil kami senang sekali mendengar cerita dari Hadhrat Masih Mau’ud as, ketika kami meminta maka beliau menyampaikan kisah-kisah kepada kami yang mengandung pelajaran. Salah satunya yang saya ingat pada hari ini yang saya dengar langsung dari mulut penuh berkat Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Pada zaman Nabi Nuh as badai topan datang pada saat itu karena orang sudah sedemikan rupa dipenuhi dengan dosa dan kekotoran. Demikan sudah tenggelam dalam dosa-dosa, maka di pandangan Allah Ta’ala mereka sudah tidak ada nilainya. Ada kisah seekor burung dan beberapa anaknya di sarang di atas sebuah pohon di sebuah puncak gunung. Induknya pergi untuk suatu alasan dan tidak kembali. Suatu ketika anak burung itu kehausan dan membuka mulutnya. Ketika melihat kondisi anak burung tersebut, Allah Ta’ala memerintahkan kepada Malaikat, “Ayo pergilah kamu untuk menurunkan hujan!” Turunlah hujan lebat sampai-sampai air hujan itu tiba di puncak gunung di pohon itu sehingga anak burung itu dapat meminum air hujan itu. Sang Malaikat menjawab, “Tuhan, jika saya menurunkan hujan sampai ke puncak gunung itu maka semua akan tenggelam karena air itu.” Allah Ta’ala berfirman, “Aku tidak peduli. Bagi-Ku seisi dunia nilainya tidak melebihi dibandingkan anak burung itu.”[1]

Ini memang hanya sebuah kisah, tapi di dalamnya terdapat suatu nilai pelajaran bahwa dunia yang kosong dari kebenaran, meskipun bersatu tidak ada artinya di pandangan Allah Ta’ala. Dari kisah ini, hendaknya kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita harus tegak dalam kebenaran. Kita meninjau diri apakah setelah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, kita sudah mendahulukan agama daripada dunia, menjauhkan keburukan dalam diri kita dan menegakkan kebaikan dalam diri kita? Tapi seiring dengan berjalannya waktu, jika bukan maju dalam kerohanian malah justru timbul penurunan maka sebetulnya kita mundur dan tidak berhasil dalam tujuan kita dan Allah pun tidak akan peduli.

Begitu juga bukan hal yang rahasia, bagaimana keadaan dunia saat ini di berbagai negara, masyarakat dan pemerintahnya tidak melaksanakan hak-hak dan kewajiban mereka masing-masing. Fitnah dan keburukan terjadi dimana-mana. Ada pun negeri-negeri yang tidak terjadi kerusakan dan kerusuhan meskipun lahirnya tidak tampak seperti itu atau keadaannya belum memburuk, tapi tetap saja para penduduknya di sana tidak hanya menentang kehendak Allah Ta’ala, bahkan menjauh dari Allah Ta’ala dan bersikap lancang kepada Allah Ta’ala dengan melontarkan kata-kata salah yang mereka buat-buat tentang Dia. Mereka juga larut dalam hal-hal kenajisan sampai-sampai mewajibkan hal-hal yang tidak fitrati kepada orang-orang selain mereka atas nama Undang-Undang bahkan berkata, “Siapa yang tidak mendukung perbuatan kekotoran ini [contohnya pernikahan sesama jenis] berarti melawan Undang-Undang.”

Jadi bagaimana gempa bumi, topan, kerusakan dan wabah dimana-mana yang menciptakan kerusakan ini disebabkan dosa-dosa manusia yang sudah mencapai puncaknya. Ini merupakan peringatan dari Allah Ta’ala. Jadi dari sisi ini merupakan tanggung jawab Jemaat Ahmadiyah untuk mengingatkan dunia katakanlah kepada dunia, “Jika kalian tidak memperhatikan kepada ishlaah (perbaikan), maka Allah Ta’ala dapat menghukum dengan bala bencana yang lebih besar lagi dari ini. Semoga dunia ini menggunakan akalnya.”

Lalu kita melihat dan yang terjadi di dunia ini mereka ribut untuk meraih hak-haknya meskipun orang lain merugi. Seorang Muslim hakiki itu bagaimana dia harus berpikiran untuk tidak berbuat seperti itu. Berkenaan dengan hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sering menyampaikan bahwa ada seorang sahabat Nabi saw ingin menjual kudanya kepada sahabat yang lain misalnya harganya 200 pada saat itu. Sahabat yang ingin membeli ini mengatakan: “Saya tidak bisa membeli kuda ini dengan harga itu, menurut saya harga kuda ini dua kali lipat lebih mahal.” Tapi sahabat yang menjual itu tetap teguh ingin menjualnya dengan harga 200 sehingga mereka berdua terlibat dalam perdebatan dan akhirnya meminta keputusan seorang Hakim.

Kalau kita melihat bagaimana kedua sahabat itu terdapat ruh Islamiyah yaitu Islam memerintahkan kepada tiap orang untuk memberikan hak mereka sendiri kepada yang lain alih-alih meminta dan bersikeras menuntut hak. Jika semangat itu tercipta, otomatis semua perselisihan berhenti. Adapun perkataan, “Kami akan menahan hak selain kami sampai jangka waktu lama dan memanfaatkannya dan kami akan kembalikan jika hak kami diberikan”, itu tak bisa kami terima. [2] Ini semangat yang tidak Islami bahkan perbuatan buruk dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

 Saya membicarakan tentang tingkat tinggi kebaikan yaitu memberikan hak pada orang lain segera setelah kita menyadarinya. Pada zaman itu, ada juga demo-demo ketika timbul permasalahan mengenai hak-hak masyarakat. Tetapi pemerintah tidak memenuhi hak-hak masyarakat tersebut dengan alasan pemerintah sudah terbiasa merugikan hak-hak masyarakat sehingga sudah menjadi kebiasaan. Ini hal salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Pada zaman modern ini pun, mereka yang diberi hak untuk strikes (mogok) melakukannya tanpa pemikiran. Tidak mempertimbangkan bagaimana tepatnya itu dilakukan dan dalam batas-batas yang bagaimana. Contohnya, di negara UK (Inggris) ini terjadi para Dokter Junior melakukan demonstrasi sehingga para pasien sangat khawatir karena itu menyebabkan banyak pasien terlantar. Tidak hanya itu, mereka juga tidak memberikan pelayanan yang baik bahkan mempermainkan nyawa para pasien itu. Jadi ada seorang Pendeta Kristen yang bertemu dengan saya di Jepang, bertanya kepada saya, “Apa definisi perdamaian? Bagaimana perdamaian itu dapat ditegakkan? Saya belum mendapatkan jawaban memuaskan sampai saat ini.”

Saya katakan kepada Pendeta itu: “Islam mengajarkan, ‘Perlakukanlah kepada orang lain apa-apa yang kalian sukai untuk diperlakukan terhadap diri kalian.’ Ketika kalian melakukannya maka kalian menegakkan hak-hak dan kewajiban sehingga tercipta perdamaian. Dan kalian pun membawa keselamatan antara satu sama lain”. Pendeta itu berkata: “Saya sangat tersentuh dengan definisi yang Tuan (Hudhur) berikan ini.” Jadi, Islamlah yang hanya bisa memperlihatkan jalan hakiki dalam berbagai permasalahan. Jika kita tidak bisa memberikan teladan maka kita tidak bisa meyakinkan dunia. Jika kita siap untuk meninggalkan hak kita sendiri sekalipun merugikan kita dan kita satu sama lain memahami hak dan kewajiban masing-masing maka kita menjadi mukmin sejati. Mustahil merampas hak-hak orang lain.

Tapi sangat disesalkan terkadang dalam Dewan Qada juga diajukan oleh seseorang di Jemaat kita tuntutan yang merampas hak-hak orang lain, sesama saudara Jemaat atau keluarga dan kerabat sendiri. Jika diperhatikan, permasalahan di Dewan Qada ini sangat banyak. Untuk menyelesaikan perselisihan seperti ini, bagaimana contoh yang diperlihatkan oleh para sahabat dalam hal ini. Di dalam riwayat dikisahkan, pada suatu ketika Imam Hasan ra dan Imam Husain ra pernah berselisih. Terkadang sesama saudara biasa timbul perselisihan seperti ini. Hadhrat Imam Husain ra memiliki sikap yang cukup keras sedangkan Hadhrat Imam Hasan ra bersikap lembut.

Ketika terjadi perselisihan Hadhrat Imam Husain ra cukup berlaku keras pada saat itu dan Hadhrat Imam Hasan ra memperlihatkan kesabaran. Pada saat itu ada beberapa sahabat yang melihat. Dan pada besok harinya ketika perselisihan itu telah selesai, orang-orang melihat Hadhrat Imam Hasan ra pergi ke rumah Hadhrat Husain ra. Kemudian sahabat tadi bertanya, “Tuan mau pergi kemana?” Imam Hasan ra menjawab, “Saya akan pergi ke rumah Imam Husain ra.” Sahabat tadi berkata, “Tuan mau meminta maaf kepada Hadhrat Imam Husain ra? Padahal apa yang saya lihat dalam perselisihan kemarin, beliau bersikap keras kepada Tuan, sebetulnya yang pantas meminta maaf adalah Imam Husain ra, bukan sebaliknya Tuan yang meminta maaf kepada beliau.”

Hadhrat Imam Hasan ra bersabda, “Oleh karena itulah saya meminta maaf kepada Imam Husain ra walaupun beliau bersikap keras kepada saya sebagaimana sabda Rasulullah saw, ‘Dalam perselisihan, siapa yang terlebih dahulu meminta maaf akan masuk surga lebih awal 500 tahun dibanding pihak kedua.’ Saya telah mendapat perlakuan keras dari Hadhrat Imam Husain ra kemarin. Sekarang jika beliau lebih dulu meminta maaf kepada saya berarti saya rugi dua-duanya yakni saya di sini mendapat kekerasan dan kemudian malah beliau yang lebih awal masuk surga 500 tahun sedangkan saya harus menunggu. Lebih baik saya meminta maaf lebih dulu, supaya bisa masuk surga lebih cepat daripada beliau.”[3] Dan itulah yang harus kita amalkan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda : “Saya mendengarkan kisah dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang mungkin diambil dari Maqamat Hariri. [4]. Ada seorang tamu yang datang untuk mandi ke suatu tempat. Pemilik kamar mandi itu menunjuk para pembantu untuk melayani tamunya agar dipijat dan sebagainya. Suatu ketika seorang tamu pergi ke sana. Secara kebetulan tidak ada pemilik tempat itu.

Ketika tamu itu duduk, para pembantu datang mendekat untuk memijat kepalanya dengan berebutan, sampai-sampai ada seorang pembantu yang menikam pembantu lain dengan pisau lalu itu dilaporkan ke polisi. Di pengadilan, setelah ditanya Hakim, tamu itu berkata, “Tuan, itu mereka tak punya kepala alias bodoh. Saya tak terkejut dengan kata-kata mereka. Saya justru terkejut dengan pertanyaan Anda. Kepala saya ini bukan milik mereka tapi milik saya.” Jadi apa yang diperselisihkan oleh para pembantu itu disebabkan hanya karena berebutan untuk memijat kepalanya. Hadhrat Masih Mau’ud as dari kisah ini menunjukkan perselisihan manusia umumnya ialah “Siapa saya?” dan “Siapa engkau?”

Seorang khadim (pelayan) tidak punya apa-apa. Jika seseorang mengatakan, “Saya hamba Allah”, itu artinya dia tidak punya apa-apa. Pada hakikatnya, apa yang mereka perselisihkan bukan milik mereka tetapi milik majikannya yaitu Allah Ta’ala. Sebagai Muslim hakiki dan sebagai hamba Allah, manusia seharusnya berpikiran semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah Ta’ala dan tidak pantas untuk diperselisihkan, “Ini milik saya” atau “ini milik engkau”. Dia hamba Allah. Tidak tersisa sedikit pun yang menjadi miliknya. Ketika menjadi orang beriman hakiki, dia berkata, “Segala sesuatu itu milik Allah.”

Lihatlah! Dalam Al-Qur’anul Majid pada ayat [22, Surah al-Jinn/72] tercantum,  لمَّا قامَ عبْد الله Rasulullah saw dinamakan Abdullah, hamba Allah juga. Sebagai hamba Allah Ta’ala, kita tidak memiliki apapun. Semuanya milik Allah Ta’ala. Untuk itu dalam Al-Qur’anul Majid (Surah at- Taubah, 9:112) dengan jelasnya Allah Ta’ala menerangkan Dia telah membeli dari orang beriman ” أموالهم ” (harta mereka) dan ” أنفسهم ” (jiwa mereka). Kata ” أنفسهم ” (jiwa mereka) mencakup semua kehormatan dan kekerabatan sedangkan kata ” أموالهم ” (harta mereka) mencakup semua kepemilikian. Inilah dua hal yang dimiliki oleh manusia.” Itu artinya, diantara kalian jangan ada pertengkaran, ‘Ini milik saya, Itu milik saya’. Berusahalah sekuat tenaga untuk sampai kepada tujuan akhir, tinggalkanlah pikiran negatif seperti, ‘Kenapa si fulan jadi Amir atau Presiden? Kenapa si fulan jadi Ketua? Kenapa si fulan jadi Imam Shalat? Kenapa si fulan jadi ini itu dan sebagainya? Saya tidak mau menjadi makmum di belakang Imam itu.”[5]

Di zaman Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, ada juga orang seperti itu dan pada zaman ini juga masih ada orang-orang bersikap seperti itu. Biasanya para sahabat yang sering melakukan ishlaah kepada orang-orang yang mempunyai pikiran sempit seperti itu. Tapi kita yang hidup jauh dari masa kenabian dan akan terus jauh dari masa-masa kenabian, kita harus memberikan perhatian khusus dan pernah saya sampaikan juga, kita harus berhati-hati dalam hal ini. Kita harus lebih memahami dari sebelumnya bagaimana menjadi hamba Allah yang mempergunakan hak dan kewajibannya secara tepat.

Tinggalkanlah kebanggaan dan berupayalah untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Pada saat pemilihan pengurus, sering timbul pemikiran sempit seperti itu. Ketika diberikan voting kepada si A kadang timbul keluhan yang seperti ini. Tahun ini pun merupakan tahun pemilihan pengurus. Karena itu semua orang harus berpikiran positif, berdoa, tinggalkanlah segala ikatan, gunakanlah haknya sebaik mungkin dan setelah diputuskan, terimalah dengan lapang dada siapapun yang terpilih sebagai pengurus. Dan di dalam pemilihan pengurus Badan Lajnah Imailah pun misalnya, kenapa si Anu jadi pengurus padahal orangnya begini begitu. Hendaknya kita terhindar dari pemikiran-pemikiran seperti itu. Siapapun yang ditunjuk sebagai pengurus harus didukung sepenuhnya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Seorang mukmin hendaknya bertekad kuat berupaya untuk sampai kepada hasil akhir, alih-alih bersandar kepada orang lain meskipun mempunyai bawahan. bahkan hendaknya kita secara langsung mengawasi dan involve (terlibat) dalam pekerjaan supaya bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.”

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa bersabda : “Ada seorang kaya yang memiliki dapur umum. Banyak orang yang biasa makan di dapur umum itu. Tapi yang menyedihkan adalah pengaturannya sangat tidak baik. Orang kaya itu tidak ada keinginan untuk mengawasi langsung dapur itu sedangkan para pekerjanya tidak jujur. Mereka membeli barang-barang yang mahal, memakan sendiri dan diberikan kepada keluarganya. Gudang pun dibiarkan terbuka hingga malam tiba sehingga anjing pun bisa masuk untuk mengambil makanan di dapur itu. Akhirnya orang kaya itu pun bangkrut karena punya banyak hutang setelah 20 tahun.

Orang kaya ini begitu dermawan sehingga dia tidak tega menutup dapur umur itu. Tetapi dia bingung, bagaimana bisa melunasi hutang-hutangnya yang sudah banyak itu. Dan dia berkata kepada kawannya bahwa dia sudah terjerumus hutang. Temannya berkata, ‘Kamu tidak menutup gudang itu dengan baik, anjing dan serigala biasa mengambil makanan dari gudang itu. Jika dipasang pintu di gudang itu, maka bisa terhindar dari kerugian. Oleh sebab itu, tutuplah gudang itu!’

Ini memang merupakan suatu kisah belaka. Hewan-hewan itu pun berbicara. Mereka ribut karena gudang itu tertutup dan terkunci. Mereka sedih dan menangis. Ada anjing tua dan serigala yang bertanya kepada anjing dan serigala yang sedih itu “Mengapa kalian ribut?” Anjing itu menjawab “Pintu gudang tertutup dan dikunci, biasanya kami makan di sini.” Kemudian kembali berkata “Lalu mengapa kalian menangis? Tidak perlu menangis. Kalian menyia-nyiakan waktu saja. Tidak usah khawatir dengan orang yang selama 20 tahun tersebut tidak peduli isi gudangnya dicuri dan siapa yang menutup pintu gudangnya tersebut.

Para anjing dan serigala berdebat, ‘Jika orang itu “ingin” menutup pintu maka dari mana kita makan?’ Pemimpin mereka yang berpengalaman berkata, “Orang kaya ini tidak memiliki keinginan kuat dan tak paham, maka tak perlu khawatir, nanti juga akan terbuka lagi.” Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini ialah ada perbedaan yang jelas antara ‘Jika kami ingin’ dan ‘kami ingin melakukannya’.” Setelah menceritakan kisah ini, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Jika anggota Jemaat kita tidak bertekad menjadikan Jemaat ini maju, kemajuan itu tidak akan terwujud. Begitu juga sebaliknya, jika ada keinginan kuat maka pekerjaan yang sulit pun bisa dikerjakan dalam beberapa hari saja.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: “Satu diantara kisah-kisah masa kecil kita adalah kisah Aladin. Dia seorang anak miskin. Dia membawa lampu dan ketika diusap, muncullah seorang Jin. Apapun yang dikatakan oleh Aladin, Jin tadi mengabulkannya seketika itu juga. Misalnya jika dia minta dibuatkan istana, maka Jin tadi membuatkan istana secara langsung. Sewaktu masih kecil, kita menganggap kisah lampu Aladin itu nyata. Tetapi ketika kita sudah dewasa, kita baru sadar ini kisah fiktif. Namun, ketika sudah tua baru kita menyadari kisah ini ada benarnya. Tiap kita hendaknya mengambil pemikiran untuk tidak mengecilkan perbuatan pada “jika kita ingin”, melainkan mengikat tekad dan dengan bertekad kita menyelesaikan pekerjaan kita dan meminta pertolongan Allah.

Terkadang sebagian orang memiliki keinginan tetapi tidak terwujud karena orang itu berkeinginan tanpa tekad yang kuat. Tekadnya kurang dan tidak disertai keharusan-keharusan yang telah saya sebut tadi, yaitu niat, kekuatan dan kesungguhan usaha, bahkan pemikiran mereka pada ‘keinginan’ ini dan itu saja. Lampu Aladin memang bukan lampu minyak melainkan lampu tekad. Kepada siapa pun yang Allah Ta’ala anugerahi lampu tekad, dan pemilik lampu itu menggosoknya dengan amal perbuatan maka apapun pekerjaannya akan selesai karena tekad dan kehendak kuat termasuk dari sifat-sifat Allah. Sebagaimana ketika Allah Ta’ala berfirman ” كُن ” “kun” (jadilah!) maka فيكون fayakuun (mulailah terjadi), demikian pula jika seseorang berkata ‘kun’, maka sesuai dengan hukum alam dan diiringi doa memohon kepada-Nya, maka itu akan terjadi. Dan kisah Lampu Aladin ini suatu kisah permisalan.”[6]

Seperti berkenaan dengan shalat, ada orang yang datang kepada saya seraya berkata, “Hudhur doakan saya supaya dawam dalam shalat. Saya tidak bisa dawam juga, tapi untuk pekerjaan lain saya bisa.” Tetapi karena keinginannya tidak disertai tekad yang kuat dan dia pun tidak memohon doa kepada Allah Ta’ala maka dia tidak bisa dawam dalam mengerjakan shalat. Jadi ini merupakan rasa malas dan tidak ada ghairat yang mendasarinya untuk memiliki keinginan.

Ada satu kisah yang beliau ra sampaikan: “Ketika kecil kami selalu mendengarkan kisah yang selalu membuat kami tertawa mendengarnya walau kenyataannya bukan untuk ditertawakan tapi untuk ditangisi mengenai bagaimana kondisi umat Islam. Tapi, orang yang membuat kisah ini menjelaskan supaya para maulwi tidak mengikuti jejaknya. Jika ada Ahmadi yang melakukan itu hendaknya dia mengevaluasi diri. Kisahnya, ada seorang majikan perempuan yang punya seorang pelayan perempuan. Si pelayan bangun pada waktu sahur tapi tidak puasa karena ia menyiapkan sahur untuk majikannya. Ia ikut makan juga sehingga sang majikan berpikir dan berkata tiga atau empat hari kemudian, ‘Wahai fulan jangan kamu bangun untuk sahur. Saya yang sahur. Tidak perlu merepotkan.’ Lalu dia melihat majikannya dan berkata “Saya tidak shalat dan tidak puasa, lalu jika saya tidak makan sahur juga, saya menjadi kafir”

Digambarkan dalam kisah ini kondisi umat Islam atau mereka yang tidak perhatian pada shalat. Jika dikatakan kepada seorang Muslim mengenai Jumu’atul Wida dan juga keadaannya pada setiap shalat yang juga seperti itu bahwa apa pengaruhnya hanya dengan Jum’atul Wida ini sementara dia sepanjang tahun tidak shalat dan hanya hadir pada Jum’atul Wida? Dia menjawab, “Apa yang kamu katakan? Saya tidak shalat ke mesjd setiap hari, tidak puasa, lalu jika saya tidak hadir dalam Jumu’atul Wida juga maka saya menjadi kafir.” Jadi ini hal yang lucu… [7] Dia tidak shalat sepanjang tahun dan hanya pada akhir tahun. Ketahuilah bahwa shalat lima waktu itu wajib bagi orang yang baligh dan berakal. Jika tidak melakukannya berarti bukan orang yang baligh dan berakal.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya mendengar dari Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa suatu ketika seorang raja pergi ke suatu tempat. Para bodyguard (pengawal) dan asisten pribadinya pun mengiringi sang raja tersebut dan memiliki hak yang sama seperti raja tanpa harus ada undangan atau izin dari pemilik suatu tempat tersebut. Jadi serendah apapun kedudukan kalian, jika kalian menjalin hubungan dengan malaikat, kemana pun malaikat itu pergi kalian pun akan ikut. Dan, jika kalian menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala maka kalian pun akan membuat hubungan dengan para Malaikat Allah Ta’ala, menjadi khadim mereka dan penjaga mereka. Dan, jika mereka masuk ke hati dan pikiran orang-orang, kalian masuk bersama mereka. Kalian harus paham kekuatan besar yang Allah ciptakan bagi kalian. Jadi berkaitan dengan kerohanian itu kalian harus memperkuat hubungan dengan malaikat seerat mungkin supaya bisa mempengaruhi hati orang-orang. Jika kalian bisa mempengaruhi hati orang-orang maka hijab atau pardah (tirai penghalang kemajuan rohaniah) akan terangkat dan saat itulah nur Allah mencapai kalian.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah menasehati peserta Jalsah, “Pahamilah tanggung jawab kalian! Berusahalah tujuan datangnya kalian ke mari dengan penuh kegemaran supaya kalian datang kemari bukan karena ingin menonton tontonan gulat. Melainkan, ciptakanlah jalinan dengan Allah Ta’ala yang membuat kalian dapat berhubungan dengan para Malaikat. Ketika kerohanian demikian sudah bisa mempengaruhi hati orang-orang, maka para Malaikat akan menolong kalian, memohon rahmat atas nama kalian dan mengerjakan pekerjaan kalian. Sebab, niat kalian baik, kerohanian kalian luhur dan beramal demi ridha Allah Ta’ala.”[8]

Maka dari itu, prinsip dasar ini harus kalian ingat ketika berkumpul di suatu tempat; apakah itu Jalsah, atau Ijtima-Ijtima, suatu perkumupulan yang meningkatkan kerohanian; untuk berupaya meraih tujuan ini. Dan janganlah menciptakannya hanya sementara saja, tapi seabadi mungkin sehingga para malaikat pun menjadi penolong kalian selamanya dan di mana pun. Kapanpun kita berupaya untuk hal itu, para malaikat pun akan ikut dan berpengaruh di dalamnya serta menyukseskannya.

Ingatlah! Seorang mukmin hakiki ialah seorang yang melakukan amal saleh. Dan tiap kali amal salehnya lebih besar dari sebelumnya maka dengan merendahkan diri dan beristighfar, ia memohon kepada Allah Ta’ala agar memberinya taufik melakukan amal saleh yang lebih baik lagi supaya rangkaiannya terus berjalan dan hasil akhirnya pun lebih baik.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Sebagian sahabat Nabi saw berkata, ‘Ketika kami melihat Rasul karim saw tengah shalat, kami dengar suara beliau seperti suara periuk yang mendidih karena tengah merebus daging dengan air panas di dalamnya.’ [9] Maka dari itu, kalian harus mengarahkan perhatian pada perbaikan diri kalian, dan jangan menyangka kalian tengah berbuat kebaikan karena bisa jadi muncul ketidakjujuran dari amal yang paling saleh sekalipun. Terkadang orang-orang saat ini berhaji, tapi hati mereka lebih buruk dari sebelumnya karena tidak memahami makna Haji. Alih-alih mengambil manfaat berhaji, mereka justru bangga diri dengan gelar haji yang disandang. Ada suatu lathifah (kisah lucu, anekdot) seorang nenek yang sedang duduk di stasiun kereta di musim dingin. Ada seorang yang mengambil kain cadarnya. Si nenek kedinginan lalu berkata: “Hai Pak Haji tolong kembalikan kain cadar saya.” Tuan Haji pun malu seraya mengembalikan cadar itu lalu berkata: “Nek, bagaimana bisa tahu saya ini sudah berhaji?” Nenek menjawab: “Di zaman ini, yang bisa melakukan perbuatan kotor seperti ini hanya seorang Haji.”

Jadi, janganlah berpikiran kita sedang melakukan amal saleh besar serta memiliki iradah (tekad) baik. Seberapa banyak amal saleh yang sedang kita kerjakan dan seberapa besar niat baik kita, keburukan juga bisa timbul di dalamnya yang bisa merusak keimanan. Sebab, keimanan bukan timbul dari amalan kita melainkan dari kasih sayang Allah Ta’ala. Meskipun kita memiliki amal saleh banyak tapi jika tidak ada kasih sayang dan kurnia dari Allah Ta’ala, maka tidak akan timbul keimanan sempurna. Jadi hendaklah kita memandang kasih sayang Allah Ta’ala dan pandangan kita tertuju kepada pertolongan Allah Ta’ala. Karena seseorang yang memohon serta beranggapan tidak ada pertolongan lain baginya selain dari Allah Ta’ala, maka hal itu senantiasa menarik karunia Allah Ta’ala. Sebelum kalian bisa mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada karunia Allah Ta’ala, maka setan bisa mempengaruhi kalian.[10]

Jadi berupayalah untuk meminta kasih sayang Allah Ta’ala. Inilah hal-hal yang bisa menyelamatkan kita agar memperoleh husnul khotimah (akhir hidup dalam kondisi baik dan diridhai oleh Allah Ta’ala -red).

Tidak ada bedanya antara mengecam dan pernyataan taat hanya dengan lisan saja. Perbuatan-lah yang menjadi dasarnya. Jika tidak demikian, pelaku pernyataan taat dengan lisan telah menjadi munafik yang lebih besar dari segi kenyataannya. Perkara ini menuntut pemikiran yang banyak dan mau tak mau harus diperhatikan senantiasa.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan, “Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa suatu kali di rumah Hadhrat Abu Bakar ra atau Hadhrat Umar ra -saya tidak ingat pasti- kecurian berupa perhiasan. Salah seorang pembantu di rumah beliau berteriak ‘Pencuri ini tidak punya malu, mencuri perhiasan di rumah seorang Khalifah. Saya melaknat pencuri itu, semoga Allah Ta’ala menemukan pencuri ini.’ Lalu akhirnya diketahui perhiasan itu berada di seorang Yahudi. Ketika ditanyakan kepadanya darimana dia mendapatkan perhiasan ini, seorang Yahudi tadi menjawab, ‘Saya mendapatkannya dari seorang pembantu.’ Ternyata pencuri itu adalah pembantu di rumah beliau yang berteriak-berteriak bahkan melaknat pencuri perhiasan. Demikianlah, orang-orang yang berteriak-teriak (banyak lantang berbicara) terkadang munafik.” [11] Ini yang perlu kita renungkan dan perhatikan dengan baik.

Pada zaman Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, penentang Jemaat telah memutuskan, “Kami akan menghancurkan Ahmadiyah.” Tetapi beliau ra menjawab “Silahkan kalian ingin menghancurkan Ahmadiyah, tapi merupakan kekuasaan Allah Ta’ala apakah ingin menghancurkan atau menegakkan Jemaat ini. Jadi jika Allah Ta’ala menginginkan Jemaat ini hancur, maka tidak perlu kalian berupaya untuk menghancurkannya. Begitu pula sebaliknya, jika Allah Ta’ala ingin menegakkan Jemaat ini maka tidak ada upaya yang bisa kalian lakukan.” Inilah ketakwaan yang bisa menyelamatkan Jemaat dari pernyataan penentang Jemaat untuk menghancurkannya. Apa gunanya pernyataan seperti itu?

Hadhrat Masih Mau’ud as meriwayatkan bahwa di Qadian dan di tempat lain pernah terjadi wabah kolera. Ketika ada jenazah dilewatkan oleh rombongan pembawanya, ada seseorang mengatakan, ‘Lihatlah banyak yang mati karena banyak makan, makanlah satu suap saja maka kalian tidak akan mati seperti halnya diriku.’ Selang beberapa hari kemudian orang sombong yang hanya makan satu suap tadi menjadi jenazah juga. Jadi apa artinya kesombongan seperti itu dengan menyatakan telah melakukan ini dan itu. Jika Allah Ta’ala mengatakan sesuatu, kita bisa mengatakan hal tersebut akan terjadi.”

Bersikap rendah hati bukan berarti menyembunyikan apa yang Allah Ta’ala firmankan,

كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ  عَزِيزٌ قَوِيٌّ

“Kami telah menetapkan, ‘Kami dan Rasul Kami pasti akan unggul.’” [Al-Mujadillah, 58:22] Saya (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra) bisa mengatakan kepada para penentang yang ingin menghancurkan Ahmadiyah, “Saya tidak bisa melakukan apa-apa jika itu terkait kekuatan saya pribadi. Namun, jika kalimat kalian tujukan pada atau tentang Ahmadiyah, tujuan kalian takkan tercapai. Ahmadiyah pasti akan menang. Insya Allah.”[12]

Kami yakin dengan janji-janji Allah Ta’ala, lebih dari keyakinan dengan hidup kami bahwa Jemaat Ahmadiyah pasti akan unggul walaupun kemenangan itu muncul semasa hidup kami atau setelahnya. Demi hal ini kita harus berjalan pada ketakwaan dan dawwam diatasnya sehingga kita menjadi bagian dari kemenangan ini; dan supaya anak keturunan selanjutnya kita terus bisa tegak dalam ketakwaan ini dan menyaksikan kemenangan itu jika itu tidak terjadi di kehidupan kita.

Bagaimana kita teguh dalam doa-doa? Bagaimana para Ahmadi keluar dari keadaan sulit yang menimpanya? Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda tentang tema itu, “Hadhrat Masih Mau’ud as biasa sabdakan, contoh kecintaan terbaik di dunia dapat kita lihat pada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Terkadang susu itu kering di dada ibunya tetapi ketika anak itu menangis air maka susu itu bisa keluar dari dada sang ibu sehingga si anak bisa minum. Sebagaimana susu sang ibu tak keluar tanpa tangisan sang anak, demikian pula Allah Ta’ala menghubungkan rahmat-Nya dengan tangisan dan kerendahan hati sang hamba sehingga ketika seorang hamba menangis dan dengan merendah-rendah, maka susu rahmat-Nya pun mulai turun.” Seperti yang saya katakan tadi, kita harus berupaya sekuat mungkin, berdoa sebanyak mungkin. Namun, bukan seperti upaya orang Munafik.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pada saat itu pun mencanangkan supaya berpuasa selama 7 hari dan memperbanyak berdoa. Dan beberapa tahun yang lalu, untuk meraih rahmat Allah Ta’ala saya pun mengamanahkan kepada seluruh Ahmadi untuk berpuasa.[13]  Dan, sampai saat ini masih ada Ahmadi dawam berpuasa, dan atas kita sekurang-kurangnya [setiap tahun, di luar Ramadhan, editor] 40 hari berpuasa dengan melaksanakan sehari setiap minggu [setiap 7 hari], memperbanyak berdoa, nawafil dan bersedekah, karena di beberapa tempat Jemaat ini telah menghadapi ujian dan kesulitan yang luar biasa. Jika kita meratap di hadapan Allah seperti tangisan anak kecil insya Allah turun pertolongan Allah dari langit seperti bisa keluarnya air susu dari dada seorang ibu saat tangisan bayinya. Selanjutnya, akan tersingkirkanlah penghalang dan kesulitan itu yang menyusahkan kita. Insyallah hambatan itu pun pada saat ini akan segera hilang sebagaimana dulu pun juga telah hilang.

Hadhrat Mushlih Mau’ud as menyampaikan, “Ada kesulitan-kesulitan yang di luar kemampuan kita untuk menghapusnya. Kita tidak bisa membendung kata-kata para penentang dan menghentikan penulisan mereka. (Dan, pada masa ini kita melihat sedemikian kotornya kata-kata dan tulisan yang penentang Jemaat lontarkan ketika menghina Hadhrat Masih Mau’ud as di Pakistan. Pada saat itu [zaman Hudhur II ra] Jemaat menyampaikan kepada Pemerintah yang meskipun berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Inggris namun tidak merespon apa-apa seperti bisu kepada para penentang Jemaat.) “Jika kata-kata kotor yang ditujukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as itu ditujukan kepada orang lain pasti akan terjadi kerusuhan dan fitnah dimana-mana di negeri ini. Namun tetap saja terjadi kata-kata seperti itu terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as tanpa ada penangkapan kepada orang yang mengatakannya ini. Sampai-sampai kami mendapatkan laporan (pada masa itu) bahkan dari pihak penentang sendiri bahwa para pejabat mengatakan, ‘Meskipun kalian (para penentang Jemaat) berlaku sewenang-wenang kepada para Ahmadi, kami tidak akan menangkap kalian.”[14]

 Beginilah selalu perlakuan terhadap Jemaat. Namun, dengan karunia Allah, setiap menghadapi hambatan dan rintangan di jalannya malah semakin bertambah maju dan berkembang. Itu adalah keadaan pemerintah [British-India] yang tidak atau belum terdapat undang-undang menentang Ahmadiyah. Sementara di Pakistan pada masa ini, undangundang pemerintah mendukung para penentang Jemaat sehingga mereka melakukan apa saja yang mereka mau. Mereka dapat berbicara apa saja yang mereka sukai menentang Hadhrat Masih Mau’ud as baik itu berupa kekotoran berbicara dan omong kosong tanpa keberatan dan larangan.

Para Ahmadi dapat menjadi sasaran tindak kejahatan mereka. Pengadilan bisa menjatuhkan hukuman pada para Ahmadi untuk hal-hal sepele. Untuk itu, kita harus berdoa sebanyak-banyaknya, berteriak dan merintih kepada Allah Ta’ala. Khususnya para Ahmadi yang berada di Pakistan perhatian kearah itu lebih banyak lagi dari sebelumnya. Secara ikhlas menghadaplah kepada Allah Ta’ala, berdoalah kepada-Nya, mengerjakan nafal, bersedekah dan berpuasa. Tidak ada cara lain bagi kita selain doa dan menarik ghairat Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada para Ahmadi – di mana saja mereka yang tengah menghadapi kezaliman di berbagai wilayah di seluruh dunia – untuk selalu berdoa yang menggoncang singgasana Ilahi. Para Ahmadi di seluruh dunia hendaknya mengarahkan perhatian pada doa secara umum guna kemajuan Jemaat dan pembebasan para anggota Jemaat dari kezaliman dan kesulitan. Semoga Allah memberi taufik untuk itu. [ آمين Aamiin]


[1] Khuthbaat-i-Mahmud, jilid 17, 678

[2] Khuthbaat-i-Mahmud, jilid 17, 137

[3] Al-Fadhl, 23 Mei 1944, h. 4, kalim 2-3, jilid 32, nomor 119

[4] Maqamah atau maqamat al-Hariri adalah sebuah buku cerita berisi petualangan seorang tokoh. Ia berbahasa Arab dan berisi prosa terdiri dari banyak percakapan bernada puitis dan anekdot (cerita lucu). Buku ini ditulis oleh Abu Muhammad al- Qasim ibn Ali ibn Muhammad ibn Uthman al-Hariri dari Basra, Iraq (1054–1122). Beliau juga pejabat penting Dinasti Seljuk. Buku ini diterjemahkan kedalam beberapa bahasa terkenal seperti Jerman dan Inggris pada abad 19-20.

[5] Khuthbaat-i-Mahmud, jilid 16, 270-271

[6] Al-Fadhl, 24-01-1962, h. 2-3, jilid 16/51, nomor 20

[7] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 23, h. 438-439

[8] Al-Fadhl,9-01-1955, h.3, kalam1, jilid9/44, nomor 8

[9] Abdullah bin Syikhkhir ra:a, “Suatu waktu saya datang menemui Rasulullah, namun saya dapati sedang shalat. Dari rongga dada beliau terdengar isak tangis seperti suara periuk yang sedang mendidih.” Sebuah riwayat menyatakan, “Tiba-tiba terdengar dari dadanya suara menggelegak seperti suara penggilingan.” Abu Dawud no 904, At-Tirmidzi di Syamaail no 321, dan An-Nasaai no 1214, Hadits Ahmad No.15727

[10] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 17, h. 216-218

[11] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 17, h. 516

[12] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 17, h. 343

[13] Khuthbaat-e-Masrur, jilid nehem, h. 501-502

[14] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 17, h. 152-153

(Visited 309 times, 1 visits today)