Ramadhan, Ibadah dan Amal-Amal Saleh

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 27 Wafa 1391 HS/Juli 2012

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Dengan karunia Allah Ta’ala, sekarang ini kita tengah menjalani [ibadah] bulan suci Ramadhan. Maka sungguh beruntunglah mereka yang akan memperoleh faedah dari bulan yang diberkati ini. Namun, berbagai keberkatan bulan Ramadhan dapat diperoleh dengan cara memahami hakekat berpuasa dan memperoleh manfaat sepenuhnya [dari ibadah ini]. Sama sekali tidak diragukan, bahwa Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Saw) bersabda bahwa di bulan [Ramadhan] ini, pintu-pintu Surga dibukakan; sedangkan pintu-pintu Neraka ditutup; dan Setan dibelenggu. [2] Akan tetapi, apakah pintu-pintu Surga tersebut terbuka untuk setiap insan, dan setan terbelenggu bagi setiap manusia? Serta pintu-pintu Neraka tertutup bagi setiap orang? Sesungguhnya, hal ini tidaklah untuk setiap manusia, melainkan untuk orang mu’min (beriman) sebagaimana ditujukannya [perintah berpuasa] ini. Namun, apakah mereka itu pun dapat memperoleh faedahnya tersebut hanya melalui kulit dan iman yang hanya tampak di luarnya saja? Bila memang seperti itu, mengapa amal-amal saleh berkali-kali diperintahkan? Dan pada kenyataannya, dikatakan kepada kita, bahwa penganut agama mana pun yang berbuat baik pun, akan memperoleh pahalanya.

Jadi, seorang insan belum tentu menjadi pewaris surga hanya disebabkan ia rajin berpuasa dan menjalani bulan Ramadhan. Maka sangat penting untuk memenuhi tuntutan dan persyaratan hal [berpuasa] ini, serta memusatkan perhatian kepada amal-amal saleh. Jika tidak, banyak orang di dunia ini yang hanya makan di pagi hari lalu tidak makan apa-apa lagi hingga petang. Yakni, mereka yang disebut fakir (ascetics), yang tidak makan minum selama beberapa hari, berbaring beralaskan seadanya, tetapi tidak mempedulikan ibadah. Ada lagi mereka yang tidak makan disebabkan sesuatu pembatasan; ada pula yang disebabkan oleh perintah dokter untuk diet berpantang makan sesuatu, sementara yang lainnya, khususnya kaum wanita, tidak mau makan disebabkan semangat mereka untuk merampingkan badan.

Baru beberapa hari yang lalu ada sepasang suami-istri datang berjumpa dengan Hadhrat Khalifatul Masih yang anak perempuan mereka yang masih remaja tidak mau makan karena terobsesi untuk menurunkan berat badannya. Ia hanya mau makan sekali sehari, itupun hanya sedikit, hingga kehilangan berat badan 15 pounds (kl. 6 kg) dalam sebulan. Di lain pihak ada pula mereka yang berpuasa, tetapi tidur sepanjang hari agar dapat bertahan [hingga petang]. Padahal, maksud Hadhrat Rasulullah Saw sangat menganjurkan [ummat] untuk berpuasa, dan mengatakan, bahwa setan dibelenggu di bulan Ramadhan; dan pintu-pintu Surga dibukakan, sementara pintu-pintu Neraka ditutup, artinya hal ini menekankan, bahwa [ummat] haruslah banyak mengerjakan amal shalih. Dan sudah barang tentu, seseorang makan Sahur di pagi dini hari lalu berbuka  [Iftar di waktu Maghrib]. Ada juga mereka yang berpuasa tanpa bangun dan makan Sahur di waktu dini hari. Hendaknya tidak boleh dianggap dari hal ini bahwa seseorang telah memperoleh faedah berpuasa, dan Setan telah dibelenggu baginya.

Orang yang akan memperoleh manfaat dari puasanya adalah hanya mereka yang banyak mengerjakan amal-amal saleh; mereka menjaga puasanya dengan penuh rasa takut kepada Allah dan menyesuaikan amal perbuatannya dengan segala apa yang diridhai Allah Swt.            Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa puasa yang diterima adalah yang disertai dengan  keimanan dan penuh introspeksi diri. [3] Puasa yang dikerjakan sambil banyak beramal-shalih itulah yang artinya dapat menutup perbuatan buruk mereka. Orang mu’min (beriman) haqiqi senantiasa berusaha untuk meningkatkan tahapan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala, yakni, meningkatkan ibadah Salat-salat Nafal mereka sebagai tambahan atas Salat wajib lima waktu; meningkatkan pemenuhan hak-hak orang lain huquuqul ‘ibaad; pengorbanan harta benda dan terhadap fakir-miskin. Hanya dengan melalui cara itulah seseorang dapat memperoleh berbagai keberkatan dari puasanya.

Hadhrat Rasulullah Saw biasa berinfaq dan bersadaqah sepanjang tahun dalam jumlah yang tidak ada bandingannya. Tetapi di bulan Ramadhan bahkan lebih banyak lagi hingga bagaikan angin kencang. [4] Lalu beliau Saw pun meningkatkan segala peribadatan kepada Allah Swt hingga ke tahapan yang setinggi-tingginya. Beliau saw bersabda bahwa hendaknya tidak menganggap tanpa melakukan usaha keras akan mendapatkan sesuatu kebaikan bulan Ramadhan; melainkan, senantiasalah mencari berbagai faedahnya yang haqiqi. Allah Ta’ala tidak memerlukan perut yang kosong menahan lapar dan dahaga, yakni mereka yang tetap berkata atau bersikap dusta. Sesungguhnya, puasa mereka itu tidak mendatangkan manfaat. Yakni, manakala beliau Saw memohon perhatian kita, bahwa puasanya orang yang berdusta tidak diterima, beliau mengingatkan pula perbuatan dosa yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya.[5] Manakala beliau menasehati agar berhenti berdusta, dan besiteguhlah dalam kejujuran, maka berbagai kelemahan akhlak dan rohaniah ummat pun dilenyapkan. Sesungguhnya, kedustaan setara dengan syirik, seperti dinyatakan di dalam Al-Qur’an Karim: فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ …..maka jauhilah kenajisan berhala, dan jauhilah ucapan-ucapan dusta,” (Al-Hajj, 22:31).

Menjelaskan ayat di atas, Hadhrat Masih Mau’ud (Imam Mahdi) ‘alaihis salaam (as) bersabda bahwa kenajisan berhala dan kenajisan dusta, haruslah dihindarkan. Kedustaan adalah berhala. Barangsiapa yang mengandalkannya berarti ia meninggalkan Allah Ta’ala. Di satu pihak – orang yang mengatakan bahwa ia berpuasa itu – taat kepada perintah Allah sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur’an: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atasmu berpuasa…..,” (Al-Baqarah, 2:184);  akan tetapi di lain pihak disebabkan kebohongannya, ia menempatkan kedustaan sama pentingnya dengan Wujud yang memerintahnya untuk berpuasa. Maka pernyataan bersyarat: ‘Puasa adalah bagi-Ku. Aku sendirilah yang akan menjadi ganjaran pahalanya.[6] tidak akan dapat terpenuhi. Bukan hal yang mustahil orang beramal sesuatu demi Allah Ta’ala, untuk menarik kecintaan-Nya dan Allah Ta’ala yang menjadi ganjarannya. Akan tetapi kedustaan dicampurkan di dalam amalnya itu.

Hadhrat Rasulullah Saw menasehati agar menutup segala corak kedustaan ucapan maupun perbuatan. Misalnya, mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak dilakukan. Beliau pun menasehati bahwa bila ada yang memancing untuk bertengkar, jawablah, ‘Aku sedang berpuasa’.[7] Maka, bila reaksinya bertentangan [dengan nasehat beliau Saw] tersebut, artinya ia berdusta dalam prakteknya. Orang yang tidak melaksanakan kewajibannya dengan semestinya, juga dusta dalam praktek pelaksanaannya. Suami dan istri yang terus menerus cek-cok, tidak ada perubahan selama di bulan, Ramadhan, tidak ada pikiran untuk saling memperbaiki diri, serta tidak mempedulikan sikap saling mengasihi dan menyayangi sehingga menjadi sumber bagi kecintaan Allah Ta’ala, maka mereka itu boleh jadi mengaku berpuasa untuk Allah, tetapi dalam prakteknya terbukti tidak demikian. Kondisi yang terburuk adalah mendahulukan urusan perniagaan atau bisnis daripada ibadah, meskipun tahu bahwa ini adalah bulan Ramadhan. Bahkan, di antara mereka itu sudah keterlaluan, yakni, bergelimang dalam kedustaan demi mendapatkan keuntungan, seolah-olah kedustaan mereka itu lebih bermakna dibandingkan Allah Ta’ala. Maka berpuasa bagi mereka itu tidak lebih dari sekedar berlapar-lapar belaka.

Sesungguhnya, Ramadhan dapat menjadi sumber perubahan revolusioner (dalam akhlak diri), namun hal itu hanya dapat terjadi bagi mereka yang mau mengadakan perubahan suci di dalam dirinya. Yakni, mereka yang senantiasa berusaha untuk menyelaraskan ucapan dengan perbuatannya dengan kehendak dan keridhaan Allah Ta’ala. Mereka berikhtiar untuk menegakkan kerajaan Allah [di dalam dirinya] sehingga mereka pun berhasil memperoleh maghfirah selama bulan Ramadhan. Mereka hancur-leburkan segala kepalsuan diri (nafs), yang hanya akan berhasil apabila perubahan mendasar itu sudah terjadi. Jika selama bulan Ramadhan segala peribadatan kepada Allah Ta’ala meningkat, dan tilawat atau ta’limul Qur’an dilaksanakan dengan seksama serta dianggap penting, maka penting pula dampak positif dari segala peribadatan dan ta’lim-nya tersebut akan tampak jelas pada kondisi akhlak orangnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali pernah bersabda bahwa beliau tidak perlu menasehati agar tidak menumpahkan darah orang lain terkecuali bagi orang yang sangat jahat yang membunuh orang yang tidak bersalah. Beliau menasehati agar kebenaran tidak dibunuh dengan cara memaksakan ketidakadilan. Bersiteguhlah dalam kebenaran. Bersaksilah dengan benar, sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman, “…..maka jauhilah kenajisan berhala, dan jauhilah ucapan-ucapan dusta,” (Al-Hajj, 22:31). Hadhrat Masih Mau’ud as menerangkan bahwa kenajisan berbagai berhala dan kenajisan kedustaan haruslah dihindari. Karena kedustaan tidak kurang berbahayanya sebagaimana menyembah berhala. Beliau as bersabda bahwa apapun yang membelokkan insan dari jalan lurus yang lugas, adalah berhala yang menghalanginya di jalan tersebut. Kerusakan yang diakibatkan oleh [ucapan] lidah adalah sangat berbahaya. Inilah sebabnya mengapa orang beriman harus sangat berhati-hati dalam menjaga lidahnya.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa seandainya setiap orang mawas diri, maka ia pun dapat menyadari siapakah yang sebenarnya mengikuti nasehat penting Hadhrat Masih Mau’ud as ini, khususnya lagi bagi para anggota Jemaat beliau. Menaati perkataan beliau as ini niscaya dapat mengatasi berbagai masalah rumah tangga. Pertengkaran antar sesama saudara yang dari waktu ke waktu selalu timbul, niscaya akan hilang. Setidaknya, berbagai masalah yang timbul dari urusan bersama di dalam jamaah kaum Ahmadi dapat dihilangkan. Sebab, berbagai masalah tersebut pada dasarnya timbul disebabkan tidak menjalankan kejujuran (kebenaran), melainkan mendahulukan sikap ego diri sendiri. Inilah mengapa sebabnya Hadhrat Masih Mau’ud as sangat mementingkan kebenaran (kejujuran). Untuk berlaku benar seperti itu memerlukan derajat kerendahan hati yang sangat. Allah Ta’ala sangat menyukai sikap rendah hati. Jadi, hal terpenting dari berbagai ikhtisar nasehat Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah dikutip tadi, ialah apa saja  yang mengalihkan kita dari jalan lurus menuju kebenaran, maka itu adalah sebuah berhala di jalan kita.

Jika kita ingin memperoleh faedah bulan Ramadhan sepenuhnya, haruslah melugaskan (menegakkan) jalan kebenaran (kejujuran) tersebut. Kita dapat mencapai pintu-pintu Surga itu hanya dengan mencamkan dan mempraktekkan nasehat penting Hadhrat Rasulullah Saw, yang mana beliau pernah bersabda bahwa standar kebenaran ucapan dan perbuatan seseorang harus ditingkatkan. Jika tidak, Allah Ta’ala tidak tertarik kepada orang yang hanya berlapar-lapar belaka. Di dalam sifat Maha Pemurah-Nya yang tidak berbatas, Allah Ta’ala menjanjikan berbagai karunia dan rahmat-Nya, yang di bulan Ramadhan ini, Dia hilangkan berbagai macam penghalang untuk mendapatkan karunia dan rahmat-Nya itu. Allah mengundang manusia untuk memasuki surga Keridhaan-Nya yang tidak akan dapat dicapai jika tidak ada keselarasan antara ucapan yang lurus dengan amalannya. Jika aspek ini dilaksanakan, maka ibarat alat sistem navigasi di suatu wahana transportasi (GPS) yang dapat menuntun orang ke tujuannya; begitu pula dengan kiat [rohani] ini, seseorang niscaya akan tiba di tempat tujuannya yang tepat. Jika tidak, tentulah meskipun sudah berada di bulan Ramadhan, ia tetap tersesat. Bahkan, jika alat sistem navigasi (GPS) kadangkala ‘error’, tidak menampilkan jalur jalan baru. Atau kalau kita memilih rute alternatif, akhirnya malah lebih jauh. Atau, ketika kita memilih jarak tersingkat, yang didapatkan malah harus menyusuri jalan-jalan sempit, lalu terjebak dalam kemacetan. Akan tetapi jalan yang menuju Allah Ta’ala ini, lurus dan langsung ke pintu-pintu surga.

Di bulan Ramadhan ini setiap diri kita hendaknya berusaha untuk meluruskan jalannya masing-masing; meningkatkan standar kejujuran kita dalam ucapan dan perbuatan, berusaha dan mencapai surga keridhaan Allah Swt. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita sekalian untuk mengamalkannya demikian. Topik pembahasan [Khutbah Jum’at] ini dipersingkat, yang Insya Allah akan disampaikan lagi pada Jum’at yang akan datang.

Selanjutnya Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan berita duka telah meninggalnya seorang sesepuh Jemaat [yang bernama] Choudhry Shabbir Ahmad sahib pada tanggal 22 Juli [2012] yang lalu, pada usia 95 tahun. Beliau mengkhidmati Jemaat untuk waktu yang panjang sebagai Vakilul Maal. Almarhum adalah salah satu sesepuh yang telah berperan sangat penting bagi Jemaat sejak periode Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (II) ra, sedemikian rupa hingga abai terhadap kepentingan diri sendiri (selflessly), yang kini kita menikmati berbagai hasilnya; juga dari sesepuh lainnya. Ayah maupun ibu dari Shabbir sahib ini adalah sahabi Hadhrat Masih Mau’ud as. Pendidikan [hingga SLTA]-nya di Sialkot, kemudian lulus [sertifikat] Matrikulasi di Qadian, tempat beliau tinggal bersama Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (II) ra. Tetapi kemudian kembali lagi ke Sialkot untuk menempuh pendidikan tinggi (College). Kemudian beliau sempat bekerja sama dengan Maulana Sher Ali sahib, yakni ketika beliau sedang menterjemahkan Al Qur’an Karim, tuan Shabbir inilah yang biasa mengetikkannya. Beliau pun pernah bekerja sebagai wartawan (journalis) di Lahore selama beberapa waktu. Almarhum yang juga adalah seorang penyair ini, berkepribadian sangat santun, perduli [terhadap orang lain], dan berbobot. Pada tahun 1940 bekerja untuk [Bagian] Keuangan Militer, kemudian menjadi Waqf Zindegi pada tahun 1944, meskipun baru pada tahun 1950 Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (II) ra resmi menerimanya. Yakni, Shabbir sahib mengundurkan dari profesi [duniawi]-nya kemudian pindah ke Rabwah berkhidmat sebagai Vakilul Maal hingga akhir hayat beliau. Jadi, almarhum mendapat taufiq untuk mengkhidmati Jemaat sejak zaman Khilafat Tsaniah hingga sekarang, namun pernah pula berkhidmat di Badan-badan (Khuddam dan Ansarullah). Salah satu kemahiran beliau lainnya adalah mendendangkan Nazm sebagaimana pernah tampil pada Jalsah Salanah di  Rabwah [dulu] dan juga di UK sini, yang sempat dikomentari oleh Hadhrat Khalifatul Masih Rabi (IV) rh.a.: ‘Langgam penyampaian [Nazmi] beliau mengingatkan kita pada beberapa Jalsah Salanah di masa lalu.’

Jika tuan Shabbir ini kunjungan/lawatan [dalam rangka tugas Jemaat], beliau suka membawa projector dan sejumlah slides. Sehingga, tanpa berceramah panjang, beliau menyampaikan berbagai pesannya itu melalui sejumlah slides tersebut, misalnya sejumlah rumah missi, sekolah, rumah sakit dan Masjid [yang berhasil dibangun Jemaat]. Sehingga menjadi media Tarbiyyat bagi anggota Jamaah kita, sekaligus sebagai media Tabligh bagi kalangan luar Jemaat. Pada tahun 2009 almarhum hadir pada Jalsah Salanah UK untuk mempersembahkan Laporan Tasyakur Jubilium Khilafat. Salah seorang anak beliau adalah Mubaligh di [Jemaat] USA, seorang lainnya di Rabwah. Sedangkan yang ketiga menjadi Sekretaris Ta’lim di [Jemaat] UK, ialah, tuan Fazal Ahmad Tahir. Dan anak-anak perempuan beliau, juga menantunya, aktif dalam Jemaat.

Dalam hal bertabligh, beliau dawam mengirim berbagai literature Jemaat melalui pos kepada handai-taulan ghair-Ahmadi. Perlakuan terhadap orang-orang yang bekerja dengan beliau sangat baik dan penuh kepedulian (perhatian). Anak perempuan beliau mengatakan bahwa beliau daripada banyak memberi nasehat kepada keluarga tentang suatu perkara, beliau memperlihatkan contoh yang baik. Atau menyampaikan suatu cerita sedemikian rupa, sehingga orang yang dimaksud pun memperbaiki dirinya. Almarhum senantiasa terlihat bertahmid dan berdzikrullah dengan penuh rasa syukur.

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (II) ra suatu kali berpesan ketika beliau memulai Waqaf supaya mengurus pekerjaan Jemaat sebagaimana seorang ibu mengurus dan membesarkan anaknya. Maka nasehat ini pun hendaknya dapat diikuti oleh semua yang mewaqafkan dirinya.

Tuan Shabbir biasa abai terhadap kepentingan pribadi atau keluarganya demi untuk pengkhidmatan kepada Jemaat, dengan mengatakan bahwa beliau meninggalkan rumah untuk mengkhidmati agama. Maka Allah Ta’ala niscaya akan memperhatikan segala tugas kewajibannya. Salah satu contoh baik beliau yang dapat dijadikan pelajaran bagi setiap orang Ahmadi, ialah:      Suatu kali, berbagai buku Jemaat [di kantor beliau] dijilid, yang kemudian diketahui oleh Shabbir sahib bahwa koleksi buku-buku milik pribadinya pun ikut terjilid. Maka beliau pun tidak bisa tidur hingga mendapatkan perhitungan berapa biaya khusus penjilidan buku miliknya itu, lalu dibayarnya kepada pihak Jemaat. Mereka yang pernah bekerja bersama-sama almarhum, mengatakan bahwa beliau senantiasa memberikan saran perbaikan dengan cara yang sangat menyenangkan, disertai pesan bahwa mengkhidmati agama hendaknya dikerjakan dengan senang hati, penuh kecintaan, dan tidak mengharapkan sesuatu pamrih. Kemudian, manakala aparat Inspektur [Maal] beliau turba (kunjungan ke berbagai jemaat local), beliau pun berpesan: Sampaikanlah pula berbagai pesan Khalifah Waqt. Dan dikarenakan tuan-tuan ini adalah wakil Pusat, berhati-hatilah dalam menjaga ucapan dan perbuatan.

Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan secara singkat mengenai almarhum tuan Shabbir ini padamana beliau pernah bekerja bersama beliau. Yakni, almarhum ini memiliki banyak sifat yang terpuji. Bekerja dengan cermat dan periang. Erat hubungannya dengan Khilafat. Penolong istimewa dan banyak mendoakan Khalifah Waqt. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat almarhum dan semoga pula Dia memberikan lebih banyak lagi insan seperti beliau bagi Jemaat ini.

Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan beberapa orang lainnya yang meninggal dunia, yang beliau akan mengimami salat jenazah ghaibnya setelah shalat Jum’at.

Maqbul Ahmad Zafar sahib, seorang mubaligh yang meninggal dunia pada tanggal 25 Juli [2012] yang lalu, yang adalah dosen Bahasa Arab di Jamiah. Almarhum adalah pribadi yang terpelajar dan memiliki kualitas sebagai seorang Waqfi Zindegi maupun Murrabi. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan istiqamah bagi keluarga yang ditinggalkan dan mengangkat derajat almarhum.

Maraj Sultana sahibah yang adalah istri seorang Darwisyi. Wanita pemberani ini pernah berkhidmat sebagai Sekretaris Jendral Lajnah Imaillah Qadian. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat [arwah] almarhumah.

Maryam Sultana sahibah yang adalah istri dari Dr Muhammad Ahmad Khan syahid, yang meninggal dunia pada tamggal 18 July [2012] yang lalu. Wanita pekerja keras dan rajin bertabligh ini memperlihatkan keberanian dan kesabaran luar biasa ketika suaminya disyahidkan di Lahore pada tahun 1957. Yakni, ketika jenazahnya diterima di rumahnya, hanya ada beliau sendiri dan anak-anak yang masih kecil. tidak ada yang membantu dan menghiburnya. Dikarenakan suaminya itu seorang Musi, beliau sangat khawatir mengenai pemakamannya. [Karena pada waktu itu belum ada fasilitas jaringan telepon ke Rabwah, maka] dengan keberanian luar biasa, beliau pun menyewa sebuah mobil truck lalu memutuskan untuk berangkat dengan harapan ada Jemaat yang menyertai,jenazah suami dan anak-anaknya itu. Selanjutnya, almarhumah membesarkan anak-anaknya itu dengan baik. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi karunia kepada anak keturunan beliau itu untuk menghasilkan para pengkhidmat [Jemaat] Ahmadiyah. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat arwah almarhumah. 

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ. ‘idzaa dakhala syahru Ramadhaana futihat abwaabus samaa-i wa ghuliqat abwaabu jahannama wa sulsilatisy syayaathiin.’ (Shahih Bukhari, Kitab ash-Shaum)

[3] مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا   ‘Man qaama Ramadhaana iimaanaw wahtisaaban..’ – “Barangsiapa yang teguh (beribadah) di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh mawas diri (muhasabah).”

[4] Shahih Al-Bukhari Kitab ash-Shaum Baab Ajwadu Maa kaanan Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam fii Ramadhan hadits nomor 1902

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ ـ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ ـ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ‏.

[5] مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan kotor dan beramal berdasarkan hal itu maka tidak ada kepentingan bagi Allah atasnya bahwa ia meninggalkan makan dan minumnya.”

[6] “كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أُجْزى بِهِ” – “Tiap-tiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa maka sesungguhnya Aku-lah (Allah) yang menjadi pahala baginya.” Hadits Qudsi

[7] قال النبي وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ، “Jika seseorang bermaksud membunuhnya atau memancingnya untuk bertengkar maka ia berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’”

(Visited 231 times, 1 visits today)