Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 24 April 2009/Shahadat 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar sebuah perkataan yang banyak sekali digunakan oleh orang-orang yaitu perkataan nafa’ yakni keuntungan. Para pedagang di dalam perniagaan mereka sangat bertumpu kepada perkataan ini, sekalipun perniagaan itu kecil. Orang-orang peniaga yang kadar perniagaannya mencapai milyaran Dollar, mereka selalu memikirkan bagaimana untuk mendapatkan nafa’ atau keuntungan sebanyak-banyaknya. Yang kadangkala selain mereka menggunakan cara-cara usaha yang legal (halal), dalam dunia sekarang ini manusia mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar atau illegal (haram) juga. Atau banyak juga orang yang tidak mempunyai sangkut paut secara langsung dengan perniagaan itu, namun mereka dengan cara lain berusaha untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari perniagaan yang tengah mereka lakukan itu. Dan cara demikianlah orang seperti itu berusaha meraih keuntungan sebanyak mungkin. Demikianlah perkataan nafa’ atau keuntungan itu dipergunakan untuk urusan perniagaan duniawi. Akan tetapi perkataan itu banyak dipergunakan di dalam urusan keagamaan juga. Dalam hubungan dengan perkataan ini saya akan menjelaskan berdasarkan hadits maupun ayat-ayat suci Alqur’an. Perkataan itu dipergunakan di dalam Kitab-kitab Lughat Bahasa Arab. Oleh sebab itu saya ingin menjelaskan makna perkataan itu menurut Lughat Bahasa Arab.

نَفَعَ (nafa’a) di dalam bahasa kita artinya memberi faedah atau keuntungan kepada orang lain, seseorang mendapatkan sesuatu, sesuatu benda yang patut dipergunakan atau patut mendapatkan faedah dari padanya. Di dalam Kitab Lughat bernama Lane diterangkan di dalamnya نَفَّعَ – naffa’a – (dengan tasydid di atas huruf fa) artinya sesuatu yang menjadi sebab berfaedah bagi seseorang. Di dalam kamus Mufradât dikatakan bahwa نَفَعُ dikatakan kepada setiap benda yang dihasilkan untuk memberikan khoyrot (kebaikan). Jadi نَفَعْ  adalah nama kebaikan. Di dalam Kamus Lane dikatakan bahwa نَفَعَ  sebuah sarana untuk mencapai maksud seseorang. Di dalam kitab Lughat Lisanul Arab disebutkan bahwa  النَّافِعُAn-Nâfi’u – adalah salah satu nama sifat Allah Swt. Yakni Dzat yang memberi faedah kepada makhluk-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Sebab Dia adalah Yang menciptakan setiap kebaikan dan keburukan dan menciptakan setiap keuntungan dan kerugian.

Setelah menjelaskan dari segi lughat (bahasa), sekarang saya ingin menjelaskan berdasarkan hadits-hadits Rasulullahsaw bahwa bagaimana perkataan ini harus diterapkan terhadap orang-orang mukmin. Orang mukmin menggunakan perkataan ini bukan hanya untuk faedah dirinya sendiri  melainkan mereka memikirkan untuk faedah orang lain juga. Di dalam Kitab suci Alqur’an juga AllahSwt mengajarkan seperti itu, begitu pula sabda-sabda Hadhrat Rasulullahsaw. Dan dari perkataan itu banyak sekali cara untuk mendatangkan faedah kepada orang lain, seperti yang telah diberitahukan oleh Hadhrat Rasulullahsaw kepada kita. Saya akan menjelaskan beberapa hadits yang menasihatkan bagaimana memberi faedah kepada orang lain.

Hadhrat Sa’îd Bin Abi Wardâr.a. meriwayatkan dari Hadhrat Rasulullahsaw katanya Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “Setiap orang Muslim diharuskan memberikan sedekah.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana bagi orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberi sedekah?” Beliau bersabda: “Ia harus berusaha keras untuk mencari sesuatu dengan tangannya sendiri, dari hasilnya ia sendiri akan mendapat faedah dan dia bisa memberi sedekah juga kepada orang lain.” Mereka berkata, hal itupun jika tidak bisa dilakukan, bagaimana? Beliau bersabda: “Ia hendaklah menolong orang yang memerlukan sesuatu bantuan.” Para sahabah berkata, jika hal itupun tidak bisa dilakukan bagaimana? Rasulullahsaw bersabda: “Hendaklah dia berbuat suatu amal kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan, maka itulah sedekah baginya.”

Ada sebuah hadits lagi diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairahr.a. katanya, Rasulullahsaw bersabda: “Seseorang telah melihat sebatang pohon telah runtuh menghalangi jalan orang yang lewat di situ. Orang itu berkata: Demi Allah batang kayu ini akan saya singkirkan dari jalan ini supaya orang-orang Muslim yang lewat di sini tidak mendapat kesulitan. Allah Swt sangat senang atas perbuatannya itu sehingga Dia memasukkannya ke dalam surga.” Sebuah hadits lagi yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Said Al Khudrir.a. katanya, Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuan, yang menurut pandangan Allah Swt, ilmu itu bisa memberi keuntungan atau memberi faedah kepada manusia, maka sebagai hukumannya pada hari kiamat Allah Swt akan memasangkan tali kekang (tali kendali) dari api pada mulutnya.”

Jadi bagi seorang mukmin, memperbanyak harta kekayaannya dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari hartanya bukanlah suatu keuntungan yang sejati baginya. Keuntungan yang sejati orang-orang mukmin adalah yang berusaha mencari keridhaan Allah Swt yang kekal dan yang Account book-nya (buku rekeningnya) akan dibuka dan ditentukan pada hari kiamat.” Di dalam hadits-hadits tersebut yang pertama kali telah disebutkan oleh Hadhrat Rasulullahsaw untuk memperoleh keuntungan adalah sedekah. Yang dibelanjakan untuk membantu keperluan sandang dan pangan orang-orang yang sangat memerlukan, orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan bagi orang-orang yang sangat susah tidak berdaya.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Aisyahr.a. katanya, pada suatu ketika beliau menyembelih seekor kambing dan dagingnya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan sedikit saja dari padanya disisihkan di rumah beliau. Ketika Hadhrat Rasulullahsaw bertanya kepada Hadhrat Aisyahr.a., berapa bagian dari daging kambing yang disembelih itu disimpan di rumah? Hadhrat Aisyahr.a. menjawab: “Semua daging telah saya bagikan kepada fakir miskin, kecuali yang tersisa hanya segenggam tangan saja.” Maka Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Selain dari segenggam daging ini semua daging terselamatkan. Sebab pahala yang sesungguhnya akan diperoleh dari semua daging yang telah dikeluarkan untuk mendatangkan faedah bagi orang lain, dan dari situlah keuntungan sesungguhnya yang akan diperoleh. Dan keuntungan itulah yang akan tersimpan.”

Demikianlah teladan dari seorang Insan Kamil. Beliau tidak mengharapkan keuntungan dari benda-benda duniawi. Dan tujuan beliau setiap saat semata-mata untuk meraih keridhaan Allah Swt. Setiap manusia tidak bisa meraih kedudukan seperti yang telah beliau peroleh. Akan tetapi dengan menegakkan teladan seperti itu, beliausaw telah memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus selalu memikirkan keuntungan bagi orang-orang fakir-miskin dan perhatian kita harus selalu tertuju kepada nilai keuntungan yang bisa diperoleh dari Allah Swt. Apa yang telah beliausaw jelaskan itu sangat penting sekali bagi semua, sehingga ketika seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, jika seseorang tidak mendapat kekuatan untuk memberi sedekah apa yang harus dilakukan?” Beliausaw bersabda: ”Hendaklah ia berusaha keras untuk mencari sesuatu dengan tangannya sendiri, dari hasilnya ia sendiri akan mendapat faedah dan orang lain juga akan mendapat faedah dari padanya. Janganlah kita menjadi beban bagi bangsa. Jika kalian berusaha mencari nafkah dan tidak menjadi beban bagi bangsa, maka selain itu kalian tidak akan menjadi tangan peminta-minta, melainkan menjadi tangan yang selalu memberi, kemudian akan menjadi orang penerima keridhaan Allah Swt

Di negeri-negeri Barat ini, pemerintah memberikan bantuan sosial kepada para penganggur. Orang-orang yang menerima bantuan itu harus berpikir dan sedapat mungkin harus berusaha mencari pekerjaan, sekali pun pekerjaan yang kecil-kecilan. Kadangkala seseorang tidak bisa mendapat pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang telah dia peroleh. Untuk sementara pekerjaan apa pun yang diperoleh hendaknya diteruskan dan berapa saja penghasilan yang diperoleh harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan kurangilah beban terhadap pemerintah. Dan seorang Ahmadi, bagaimanapun alasannya tidak dibenarkan untuk menerima bantuan dari pemerintah dengan memberi keterangan secara tidak jujur. Uang yang diperoleh dengan cara demikian bukan hasil usaha yang menguntungkan, bahkan penghasilan itu semata-mata akan membawa kerugian. Seperti di Negara Pakistan, Hindustan dan negara-negara miskin lainnya, setiap orang Ahmadi di sana sedapat mungkin harus berusaha keras supaya tidak menjadi orang yang meletakkan tangan di bawah –sebagai peminta-minta‑ melainkan harus menjadi pemberi.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullahsaw, jika tidak ada kemungkinan untuk mencari nafkah, tidak mendapat pekerjaan, pekerjaan apa pun tidak bisa diperoleh, sekali pun mendapat pekerjaan namun hasilnya sangat sedikit sehingga tidak bisa mencukupi keperluan sendiri dan dalam keadaan demikian tidak ada peluang untuk memberi sedekah. Dalam keadaan begini apa yang harus dilakukan ya Rasulullah? Maka Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Banyak cara untuk menolong orang lain. Berusahalah mencari jalan bagaimanapun untuk itu! Bantulah siapapun yang memerlukan sesuatu. Apapun bantuan yang bisa dilakukan, bantulah!” Hadhrat Rasulullahsaw telah menegakkan sebuah contoh yang sangat baik sekali, ketika beliau menolong seorang perempuan tua yang sangat membenci beliausaw, barangnya diangkat dan dipikul oleh Rasulullahsaw sampai ke rumah si perempuan tua itu. Perempuan itu tidak kenal siapa yang sedang menolongnya itu. Sepanjang jalan perempuan itu banyak bercakap tentang tuduhan buruk terhadap beliau, namun beliau tidak menzahirkan sesuatu kepada perempuan tua itu. Tatkala sampai di rumah perempuan tua itu, beliau bersabda kepadanya: “Sayalah orangnya yang telah engkau sebut-sebut penipu atau tukang sihir itu!” Maka dengan terperanjat si perempuan tua itu serentak berkata: “Sekarang sihir saya dan sihir engkau telah berlalu!” Jadi, menolong kesusahan orang, membantu menyampaikan beban orang sampai di tujuannya, memberi sesuatu yang mendatangkan faedah bagi seseorang, merupakan pekerjaan yang mendatangkan ganjaran dari Allah Swt. Apa yang dikatakan oleh seorang sahabat, pekerjaan seperti ini juga tidak bisa dilakukannya, maksudnya keadaan sahabat itu sudah benar-benar uzur, tidak mampu bekerja berat lagi. Maka beliausaw bersabda: “Banyak sekali jalan kebaikan yang Allah Swt telah memberikan perintah untuk melakukannya. Apa yang telah diperintahkan oleh-Nya, kita harus mengamalkannya. Hal itulah yang menjadi amalan yang mendatangkan keuntungan bagi kalian. Dan apa pun yang termasuk keburukan, harus menjauhkan diri dari padanya. Pekerjaan seperti itu, setiap orang miskin pun bisa melakukannya, yaitu melakukan kebaikan-kebaikan dan menghindarkan diri dari pada keburukan-keburukan. Untuk itu semua tidak perlu mengeluarkan sesuatu pembelanjaan uang. Untuk melakukan hal itu tidak diperlukan suatu kekuatan fisik kita. Tengoklah betapapun kecilnya kebaikan itu baginya, Allah Swt telah menyediakan ganjarannya. Dan melalui Hadhrat Rasulullahsaw, kita menerima penjelasannya tentang itu semua.

Tentang sebuah kisah seperti ini kita telah mendengar sebuah hadits, bahwa menyingkirkan benda-benda yang mendatangkan kesusahan terhadap orang-orang mukmin atau menjauhkan kesusahan dari sebuah jalan dengan menyingkirkan sebatang pohon yang menghalangi jalan, Allah Swt memasukkan orang yang berbuat demikian ke dalam surga. Jadi, betapa banyaknya keuntungan dari perbuatan baik itu, sehingga Allah Swt memberi pembalasan yang sangat banyak, yaitu berupa surga terhadap kebaikan itu. Manusia tidak mampu membayangkan sampai batas mana Allah Swt memberikan anugerah pembalasan terhadap hamba-Nya. Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda bahwa, untuk manusia diperlukan dua macam perkara, yaitu menghindarkan diri dari keburukan dan bergegas kepada kebaikan. Dan kebaikan mempunyai dua cabang, pertama meninggalkan perbuatan buruk dan kedua menyalurkan kebaikan kepada yang lain. Pertama meninggalkan keburukan, kedua mengambil faedah dari kebaikan. Hanya dengan meninggalkan keburukan manusia tidak bisa menjadi kamil jika tidak disertai dengan menyalurkan kebaikan kepada orang lain, yakni memberi keuntungan kepada orang lain. Dari perbuatan itu akan diketahui bagaimana akan terjadi perubahan pada diri manusia. Dan martabat itu baru akan diperoleh apabila manusia betul-betul beriman kepada sifat-sifat Allah Swt dan memiliki pengetahuan sifat-sfat itu. Sebelum hal itu semua dimiliki, manusia tidak bisa terhindar dari keburukan-keburukan. Beliau bersabda, memberi faedah atau keuntungan kepada orang lain adalah amal perbuatan yang sangat sulit. Contohnya banyak manusia yang merasa takut terhadap raja-raja dan terhadap orang-orang yang kuat dan gagah perkasa. Banyak sekali manusia yang tidak berani menentang undang-undang mereka. Namun mengapa manusia berani melanggar undang-undang Allah Swt Yang Ahkamul Hâkimîn? Yakni jika manusia betul-betul mengetahui sifat-sifat Allah Swt, tentu mereka akan mengamalkan hukum-hukum-Nya. Memberi keuntungan kepada orang lain tidak mungkin bisa dilakukan, apabila banyak orang semakin berani melupakan perintah dan melakukan larangan yang telah ditentukan oleh AllahSwt. Mereka tidak mempunyai perhatian sama sekali terhadap perkara-perkara itu. Bahkan mereka dengan sangat berani melakukan pekerjaan yang telah dilarang oleh Allah Swt Sedangkan pemerintahan dunia-pun merasa takut dari padanya. Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Banyak sekali manusia yang tidak melanggar undang-undang yang dibuat oleh manusia, namun apa sebabnya di kalangan mereka itu timbul keberanian untuk melanggar peraturan Tuhan yang Ahkamul Hakimin (Hakim Yang Maha Adil diantara para hakim). Adakah sesuatu sebab untuk itu? Tidak ada sebab, kecuali tidak adanya iman yang menjadi sebab mereka berani melanggar hukum-hukum Allah Swt.”

Kemudian ada perintah untuk memberi faedah kepada orang lain dari ilmu yang telah diperoleh. Sebagaimana Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Jika seseorang mempunyai ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan duniawi, jika disampaikan faedahnya kepada orang lain maka sambil meraih keridhaan Allah Swt, hal itu akan menjadi suatu perniagaan yang sangat menguntungkan baginya.” Jika ilmu pengetahuan yang telah diberi oleh Allah Swt itu disembunyikan, dengan anggapan bahwa jika ilmu ini aku sampaikan kepada orang lain jangan-jangan ilmu pengetahuan mereka semakin bertambah dan akan mengungguli aku. Maka terhadap orang seperti itu, Hadhrat Rasulullah sangat mengutuknya dan beliau menasihati umat beliau untuk menghindar dari perbuatan buruk seperti itu. Bahkan beliau menasihatkan untuk menyelamatkan diri dari perbuatan buruk seperti itu.

Hadhrat Rasulullahsaw telah mengajarkan beberapa macam do’a kepada kita. Beliau sebagai insan kamil telah mewakafkan setiap nafas dan setiap saat dari kehidupan beliau bagi kepentingan manusia, apabila di depan para sahabat memanjatkan do’a ini, beliau juga menganjurkan kepada para sahabat untuk membacanya dan mengajarkannya kepada orang lain dan do’a ini harus sering dibaca secara berterusan.

Keuntungan yang sesungguhnya akan dapat diperoleh apabila keridhaan Allah Swt telah diraih. Berikut ini saya kemukakan do’a yang selalu dibaca oleh Hadhrat Rasulullahsaw, yaitu yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah bin Amarr.a. katanya, Hadhrat Rasulullahsaw berdo’a seperti berikut: “Ya Allah! Aku memohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak merasa takut kepada Engkau dan dari do’a yang tidak dikabulkan dan dari jiwa yang tidak merasa kenyang (puas) dan dari ilmu yang tidak memberi faedah, aku berlinding kepada Engkau ya Allah, dari keempat perkara tersebut.”

Terdapat di dalam sebuah hadis lagi  yang diriwayatkan oleh Ummi Salamahr.a., katanya apabila Hadhrat Rasulullahsaw menunaikan shalat fajar, maka setelah mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri beliau membaca do’a seperti berikut ini:

 

اَللّهُمَّ اِنِّى اَسئَلُكَ عِلْماً ناَفِعًا وَرِزْقاً طَيِّباً وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

— Allôhumma innî as-aluka ‘ilman nâfi’an wa rizqon thoyyiban wa ‘amalan mutaqobbala(n) –

 

Artinya: Ya Tuhanku! Aku memohon kepada Engkau ilmu pengetahuan yang mendatang faedah dan keuntungan dan aku memohon kepada Engkau rizki yang baik dan aku memohon kepada Engkau amal perbuatan yang layak diterima oleh Engkau.

Jadi untuk membuat diri pribadi menjadi wujud yang mendatangkan faedah disertai amal perbuatan yang baik, sangat diperlukan pertolongan dari Allah Swt. Dzat Tuhanlah yang bisa memberikan perlindungan kepada manusia dari setiap jenis godaan syaithan. Dan pertolongan Allah Swt akan turun kepada kita, apabila kita memanjatkan do’a melalui kekasih Tuhan yang sangat dicintai-Nya. Permohonan do’a itu akan terkabul dengan sempurna apabila kita berusaha mengamalkan uswah hasanah (suri teladan) Hadhrat Rasulullahsaw. Apabila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka Allah Swt akan menjadikan amal perbuatan kita itu sangat banyak mendatangkan faedah dan keuntungan bagi kita.

Sebuah do’a yang diajarkan oleh Hadhrat Rasulullahsaw kepada kita yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah Bin Yazidr.a. adalah: “Wahai Tuhan-ku! Anugerahkanlah kecintaan Engkau pada-ku! Dan anugerahkanlah kecintaan orang yang kecintaannya memberi faedah dan keuntungan bagiku di sisi Engkau. Wahai Tuhan-ku! Dari antara benda-benda yang kucintai, yang telah Engkau anugerahkan pada-ku, aku berharap Engkau juga menyukainya dan jadikanlah hal itu sarana kekuatan bagiku. Wahai Tuhan-ku!! Dari antara barang-barang yang aku senangi berilah kemudahan bagi-ku untuk mendapatkannya.”

Di dunia ini tidak ada orang yang paling dicintai oleh Allah Swt kecuali Hadhrat Rasulullahsaw. Oleh sebab itu kita harus memanjatkan do’a dengan perantaraan beliau saw. Orang yang menjadi kekasih Allah Swt, semoga beliau menjadi kekasih kita juga. Dan dengan perantaraan beliau semoga kita selalu mendapatkan banyak berkat di dalam kehidupan kita yang untuk menegakkan dan untuk menyebar luaskannya Hadhrat Rasulullahsaw telah datang ke dunia.

Untuk menyalurkan manfaat kepada manusia sesuai dengan nasihat Alqur’an berikut ini  لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْن   — Lan tanâlul-birro hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn — Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Di dalam dunia ini manusia sangat mencintai harta. Itulah sebabnya di dalam ta’wil ru’ya dikatakan bahwa, jika seseorang melihat di dalam mimpi mengeluarkan hatinya lalu diberikan kepada orang lain, maka maksud hati di sini adalah harta. Maka itulah sebabnya untuk meraih iman dan takwa yang hakiki Allah Swt berfirman :  لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْن  — Lan tanâlul-birro hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn — artinya: Sekali-kali kalian tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna sebelum kalian membelanjakan sebagian dari harta yang kalian cintai. (Ali Imran : 93)  Sebab, bagian terbesar usaha yang dilakukan untuk menanamkan simpati dan kecintaan terhadap makhluk Allah Swt perlu membelanjakan harta yang kita miliki. Dan menaruh simpati terhadap sesama manusia dan terhadap sesama kaum atau bangsa dan makhluk-makhluk Allah Swt merupakan bahagian kedua dari pada iman. Tanpa itu semua iman tidak akan mencapai kekuatan dan kesempurnaan. Selama manusia tidak memperhatikan keperluan orang lain melebihi keperluan pribadi bagaimana mungkin mereka bisa memberi faedah kepada orang lain. Untuk menyalurkan rasa simpati dan faedah kepada orang, perhatian yang serius terhadap mereka sangat diperlukan. Dan di dalam ayat:  لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنLan tanâlul-birro hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn — artinya : Sekali-kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna sebelum kamu membelanjakan sebagian dari harta yang kamu cintai. (Ali Imran : 93)  kepada perhatian serius seperti itulah Allah Swt telah memberikan petunjuk. Maka membelanjakan harta di jalan Allah Swt juga merupakan karunia dan keberuntungan bahkan menjadi standar takwa dan iman bagi hamba Allah Swt. Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits bahwa untuk memberi faedah kepada orang lain diperintahkan kepada orang mukmin untuk memberi sedekah. Hal itu bisa dilaksanakan apabila di dalam diri orang mukmin terdapat ruh atau semangat dan kecintaan untuk berkurban. Dan pengurbanan hakiki itu dapat dilakukan dengan sesungguhnya apabila ia betul-betul mencintai Allah dan Rasul-Nya. Untuk meraih hal itulah tujuan do’a yang telah saya bacakan di atas yang di dalamnya Hadhrat Rasulullahsaw telah memberi bimbingan kepada kita dengan bersabda: “Dapatkanlah kecintaan-ku.”

Sambil menjelaskan makna nafa’a (keuntungan) menurut lughat saya telah menjelaskan   bahwa  النَّافِعُAn-Nâfi’uadalah salah satu nama sifat Allah Swt. Dan Dialah Yang memberi faedah dan keuntungan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Dialah Yang menciptakan keuntungan dan faedah. Maka manusia juga baru bisa menjadi penerima keuntungan dan pemberi keuntungan apabila ada keridhaan dari Allah Swt. Oleh sebab itu tatkala Hadhrat Rasulullah saw memberi nasihat kepada umat beliau dengan sabdanya: “Jadilah kalian manusia yang berfaedah bagi yang lain baik dengan amal perbuatan maupun dengan nasihat kepada yang lain!” Bersabda lagi: Berusahalah menjadi wujud yang memberi keuntungan kepada orang lain sambil meminta pertolongan dari Allah Swt. Sebab Dzat Hakiki yakni Dzat yang memberi faedah kepada yang lain adalah Allah Swt. Yang warna sifat-Nya diusahakan oleh hamba-hamba-Nya untuk diterapkan pada diri mereka. Di dalam Kitab Suci Alqur’an perkara ini telah dijelaskan oleh Allah Swt bahwa mukmin hakiki bisa meraih nafa’a (keuntungan hakiki) dari Dzat Allah Swt. Oleh sebab itu tunduklah di hadapan Allah Swt dan ingatlah selalu setiap saat kepada-Nya dan serulah nama-Nya.” Pokok pembicaraan seperti ini telah dikemukakan di berbagai tempat di dalam Kitab Suci Alqur’an. Di antaranya Allah  Swt berfirman:

قَالَ اَفَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لاَ يَنْفَعُكُمْ شَيْـًٔـا وَّلاَ يَضُرُّكُم

— Qôla afata’budûna min dûnil-Lâhi mâ lâ yanfa’ukum syay-aw wa lâ yadhurrukum  —

 

Artinya: Berkatalah ia, ‘Maka apakah kalian, selain terhadap Allah, menyembah sesuatu yang tak dapat memberikan manfaat kepada kalian sedikit jua pun dan pula tidak dapat mendatangkan mudharat kepada kalian?’ (Al-Anbiya : 67)

Maka Dzat Allah Swt lah yang memberi faedah kepada manusia, baik di dunia ini juga maupun di akhirat nanti. Kebanyakan syirik itu tampak secara zahir, misalnya manusia memuja patung, sampai sekarang manusia banyak yang memuja patung-patung yang dibuat oleh tangan mereka sendiri, yang sama sekali tidak bisa memberi faedah maupun kemudharatan. Syirik zahir itu tampak wujudnya kepada manusia. Selain itu banyak syirik yang tersembunyi juga. Di kala tengah menghadapi kesulitan, manusia menaruh perhatian sepenuhnya kepada sarana-sarana duniawi, mencari dan menghasilkan barang-barang duniawi melampaui batas keperluan, menjilat sambil memuji atasan secara berlebihan, padahal jika tidak ada kehendak Allah Swt, maka semua sarana duniawi itu tidak bisa memberi faedah apa pun.

Seorang Ahmadi telah menceritakan sebuah kisah kepada saya, katanya ia sedang susah tidak mendapatkan pekerjaan. Akhirnya pada suatu hari kerabat dekatnya mengetahui bahwa dia sedang kesusahan tidak mendapatkan pekerjaan. Dia seorang terpelajar, sangat cerdas dan terdidik. Dia berkata, “Baiklah pimpinan saya seorang pejabat tinggi dan dia sahabat saya dan saya kenal betul siapa dia. Datanglah engkau besok pagi ke sini. Kita akan pergi bersama-sama berjumpa dengan dia.” Pagi-pagi ia pergi dan berjumpa dengan orang ini. Lalu orang itu berkata kepadanya: “Datanglah engkau besok pagi-pagi ke kantor saya, nanti akan saya bantu untuk mendapatkan pekerjaan, ada lowongan satu, insya Allah kamu akan mendapatkan pekerjaan itu.” Orang itu berkata: Saya pagi-pagi pergi naik sepeda ke kantornya. Sampai di sana saya melihat pintu gerbang tertutup. Penjaga pintu bertanya kepada saya: Ada apa datang ke sini?” Saya jawab: “Si Fulan menyuruh saya datang ke sini, saya datang untuk berjumpa dengannya. Tolong bukalah pintu gerbang ini!” Penjaga pintu itu berkata: “Orang itu sebelum datang ke sini, tiba-tiba mendapat serangan jantung lalu meninggal.”

Demikianlah keadaan orang yang bertumpu kepada manusia selain kepada Tuhan. Demikianlah Allah Swt telah menghapuskan harapannya. Dia kembali dengan perasaan putus asa. Maka, demikianlah keadaan seseorang apabila dia menjadikan manusia sebagai Tuhan-nya. Dan Allah Swt berfirman: Jika kamu sungguh-sungguh ruju’ (kembali) kepada-Ku, maka Akulah Yang bisa memberi nafa’ (faedah) kepada kamu dan Akulah Yang bisa menyediakan pekerjaan bagi kamu dan Akulah Yang bisa menyediakan segala sesuatu bagi kamu. Di satu tempat Allah Swt berfirman: “Aku jelaskan lebih lanjut bahwa dunia ini sifatnya sementara, oleh sebab itu kamu harus banyak menaruh perhatian bagi kehidupan di akhirat. Sebab semua keuntungan dan kerugian akan tampak jelas di hadapan mata di hari akhirat nanti. Sebagaimana firman-Nya:

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَۙ – اِلاَّ مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ‏

— Yawma lâ yanfa’u mâluw-wa lâ banûn. Illâ man atal-Lôha biqolbin salîm —

Artinya: Pada hari, ketika harta benda dan anak-anak tidak bermanfaat. Kecuali orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang sehat akan mendapat manfaat. (As Syu’ara : 89-90)

Jika tidak beribadah kepada Allah Swt dan orang yang memberitahukan kebaikan-kebaikannya namun tidak diamalkannya, maka harta dan anak-anak yang dia miliki tidak mendatangkan suatu faedah apa-apa. Sedikit pun tidak akan ada gunanya. Allah Swt tidak akan bertanya tentang berapa harta kamu yang kamu tinggalkan di dunia? Dan tidak pula Dia akan bertanya berapa orang anak ditinggalkan di dunia? Yang akan membawa faedah hanyalah amal-amal kebaikan sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadits Rasulullah saw bersabda: “Disebabkan seorang hamba telah menyingkirkan sebatang pohon yang tumbang menghalangi jalan, Allah Swt telah mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga.” Baiklah, seorang anak akan mendatangkan faedah jika anak itu seorang yang beramal saleh, anak yang terus-menerus melanjutkan amal kebaikan yang telah dimulai oleh orang tuanya. Kebaikan anak itu akan memberi manfaat dan faedah kepada ibu bapaknya di hari akhirat nanti. Jadi, Allah Swt  berfirman: “Seorang yang hadir dengan hati yang mempunyai syiar ketaatan, maka hal itulah yang sesungguhnya bermanfaat bagi kamu. Hadir dengan hati yang pada waktu di dunia sungguh-sungguh perhatiannya untuk beribadah kepada Allah Swt. Itulah maksud hakiki kelahiran manusia ke dunia. Jika di akhirat nanti hadir dengan hati seperti itu, maka kalian akan bisa meraih keridhaan Allah Swt. Jika hadir dengan hati yang selalu memenuhi hak-hak sesama manusia di dunia, maka pasti akan mendapatkan barkat dari sifat Nafi’ Allah Swt. Berdasarkan lughat (bahasa), qalbun salim adalah hati yang secara sempurna suci dari pengaruh benda atau makhluk selain Allah. Dan maksudnya adalah hati itu betul-betul suci dari kelemahan iman. Dan suci dari setiap macam penipuan. Suci dari keinginan untuk mencelakakan orang lain, suci dari akhlak yang buruk. Itulah yang disebut qalbun salim. Menurut pendapat kebanyakan orang, qalbun salim adalah kalbu yang selalu memikirkan keadaan nasib orang lain. Allah Swt berfirman: Orang-orang yang beribadah kepada-Ku, orang yang selalu beramal saleh, adalah mereka yang akan masuk ke dalam surga, dan di dalamnya akan tinggal selama-lamanya. Semoga Allah Swt menganugerahkan hati kepada kita yang selalu beramal saleh dan meraih keridhaannya. Saya kemukakan kutipan dari sabda Hadhrat Masih Mau’uda.s. agar dengannya orang-orang Ahmadi akan mengetahui apa yang diharapkan oleh beliau. Beliau bersabda: Keadaan yang mengesankan diri saya dan dengan melihatnya timbul gerakan dalam hati saya untuk berdo’a, hanyalah satu perkara bahwa saya ingin mengetahui tentang seseorang bahwa hal itu adalah ganjaran dari pengkhidmatan terhadap agama dan wujudnya semata-mata untuk Allah Swt, untuk Rasul Tuhan, untuk Kitab Tuhan dan untuk hamba-hamba Tuhan sebagai Nâfi’ (pembawa faedah). Orang yang ditimpa oleh kepedihan dan kesakitan, sesungguhnya hal itu menimpa diri saya. Bersabda: Hendaklah kawan-kawan tanamkanlah niat di dalam hati untuk berkhidmat kepada agama dengan cara pengkhidmatan yang sebaik-baiknya. Saya berkata dengan sesungguhnya, di sisi Allah Swt kedudukan dan martabat seseorang yang menjadi khadim bagi agama dan orang yang memberi faedah kepada manusia. Sebab kalau tidak Dia tidak akan menghiraukan apakah manusia mati sebagai anjing atau serigala. Semoga Allah Swt memberikan taufik untuk mendapatkan kedudukan kepada kita yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s  ingin menyaksikan keadaan kita betul-betul mengikuti ajaran Alqur’an dan Sunnah Rasulullahsaw. Amin!!!

Alihbasa langsung dari Audio Urdu oleh Hasan Basri