• Minggu, 13 November 2016

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata peran pemimpin dunia sebaiknya untuk “mengajak orang agar dapat bersatu daripada membuat ancaman pelarangan Muslim masuk ke negara mereka” dalam Simposium Perdamaian di Kalgari.

Pada tanggal 11 November 2016, Pemimpin Dunia Jemaat Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Yang Mulia, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato utama dalam Simposium Perdamian di Kalgari, yang diselenggarakan oleh Jemaat Ahmadiyah Kanada.

Lebih dari 800 undang, diantaranya 650 pejabat dan tamu hadir dalam acara ini, antara lain Mantan Perdana Mentri Kanada, Yang Terhormat Stephen Harper, Walikota Kalgari, Naheed Nenshi dan Irfan Sabir, Mentri Propinsi Pelayanan Publik. Hadir juga perwakilan-perwakilan senior First Nations, pemimpin akademik serta media.

Sebelum acara, Yang Mulia mengadakan pertemuan dengan Yang Terhormat Stephen Harper, yang pada kesempatan tersebut mantan Perdana Mentri ini menyampaikan rasa terima kasih atas komitmen Ahmadiyah untuk terus menyebarkan misi perdamaian dan kemanusiaan.

Dalam pidato utamanya, Yang Mulia berbicara mengenai meningkatnya ketidaktentuan di dunia serta mengingatkan resiko Perang Dunia Ketiga. Beliau mengutuk ekstrimis Muslim dan teroris dan menyatakan bahwa perbuatan mereka sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Beliau mengutip beberapa ayat Al Quran dan kejadian pada masa Rasulullah saw yang membuktikan kebenaran damainya ajaran Islam. Beliau juga merujuk tulisan-tulisan dari akademisi-akademisi non-Muslim yang berkaitan dengan ajaran Islam.

Berbicara tentang perlunya perdamaian di dunia, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menerangkan:

“Semua menyadari bahwa dunia sangat memerlukan perdamaian dan keharmonisan, namun walaupun memahaminya, sepertinya kita enggan untuk mengambil langkah demi mencapainya. Sangat disesalkan, di berbagai belahan dunia, prioritas lebih diutamakan, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk memperkuat dominansi dan supremasi terhadap negara lain serta memuaskan nafsu kekuatan dan kekuasaan.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Beberapa diantara anda mungkin bertanya apa pendapat seorang pemimpin Muslim mengenai pembentukan perdamaian dunia, mengingat kekacauan di dunia akhir-akhir ini terjadi di seputar negara Muslim atau apa disebut dengan kelompok Islam… Namun, sebelum menghakimi, perlulah kita mengenal ajaran Islam yang sebenarnya. Dengan demikian, tidak seorangpun akan menganggap perbuatan ekstrimis dan teroris berkaitan dengan Islam.”

Yang Mulia berbicara mengenai gagalnya Pemerintah menegakan hak warganya sehingga terorisme dan ekstrimisme berkembang di beberapa negara Muslim. Beliau menjelaskan akar penyebab kurangnya perdamaian adalah kurangnya keadilan

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Sebelumnya negara kaya telah terpecah-belah dan tenggelam dalam kekacauan perang sipil. Semua konflik dan perang ini adalah karena mayoritas Muslim telah melupakan kebenaran dari ajaran agamanya dan gagal memenuhi hak-hak satu sama lain. Alih-alih menunjukan keadilan dan integritas, mereka terjerumus pada keserakahan dan nafsu kekuasaan. Patut disayangkan, akibatnya adalah perdamaian menjadi luruh, karena kekhawatiran mulai mengelilingi.”

Berkenaan dengan standard keadilan yang Islam syaratkan kepada Muslim, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan:

“Al Quran berfirman seseorang harus siap untuk bersaksi melawan dirinya ataupun orang-orang yang dicintainya demi menjunjung kebenaran. Sangat mudah mengatakan “Saya siap untuk berkata hal yang merugikan saya”, namun pada kenyataannya sangat sulit untuk menegakan standar ini. Walaupun demikian, inilah target dan tantangan yang Allah Ta’ala berikan kepada Muslim yang mana dalam firman-Nya keadilan sejati tidak akan dapat terlaksana sebelum seseorang bersedia mengesampingkan semua kepentingan pribadinya.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Jika princip ini dilaksanakan tidak hanya oleh negara Muslim, melainkan oleh seluruh desa, kota, negara di dunia, maka perdamaian akan berdiri.”

Pemimpin Jemaat Ahmadiyah menjelaskan alasan mengapa Muslim pada masa awal diizinkan untuk berperang dalam mempertahankan diri atas penganiayaan yang terjadi selama bertahun-tahun. Beliau berkata izin telah diberikan oleh Allah Ta’ala untuk melindungi hak kebebasan berkeyakinan pada tiap orang.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menerangkan:

“Ini adalah suatu manifestasi luar biasa dari ajaran Islam yang mencerahkan, yakni Al Quran tidak mengizinkan Muslim untuk berperang demi melindungi Islam, atau karena takut seluruh masjid akan diruntuhkan. Melainkan, izin diberikan demi melindungi semua agama dan semua rumah ibadah, baik itu gereja, kuil, sinagog, masjid, atau yang lainnya.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Muslim pada masa awal tidak mempertaruhkan hidup untuk mempertahankan diri sendiri, melainkan untuk melindungi umat manusia, dan untuk menjunjung nilai-nilai universal kebebasan berhati nurani dan berkeyakinan. Muslim masa itu mempertaruhkan hidup mereka untuk melawan penguasa yang akan menghancurkan perdamaian dunia.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan konflik dunia seharusnya tidak disalahkan sepenuhnya kepada Muslim. Beliau menyatakan ada negara-negara non-Muslim yang membuat lalu menjual senjata ke negara Muslim, yang selanjutnya menjadi penyulut peperangan.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menerangkan:

“Alih-alih mengakhiri perang yang terjadi di dunia Muslim, mereka malah membakarnya. Alih-alih mengedepankan perdamaian, mereka malah terus mencari pengaruh bahkan keuntungan dari perang.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melnjutkan:

“Kenyataannya perang yang terjadi sekarang ini bukanlah demi agama melainkan demi tujuan geo-politik dan demi memperoleh kekayaan dan kekuasaan.”

Khalifah kemudian mengingatkan bahaya dari perang dunia, yang beliau sebut sebagai suatu “malapetaka”.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menerangkan:

“Awan badai pertanda Perang Dunia Ketiga kian hari, kian mendekat. Akibat dari perang tersebut akan berpuluh-puluh tahun. Keturunan-keturunan akan terlahir cacat fisik atau genetic karena efek radiasi.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Sekarang adalah waktunya bagi manusia untuk melindungi masa depan. Daripada hanya menyalahkan Muslim atas kekacauan global, kekuatan utama dunia sebaiknya juga mundur dan melihat diri sendiri. Alih-alih para politikus yang mencari publikasi dengan menyatakan keinginannya untuk melarang Muslim masuk ke negaranya, dunia lebih membutuhkan pemimpin yang berusaha dengan tulus menjembatani perbedaan yang memisahkan kita.”

Penutup, Hazrat Mirza Marsoor Ahmad berpesan:

“Pemerintah dan pembuat kebijakan sebaiknya menyadari besarnya tangguang jawab mereka sebagai pemelihara dunia. Mereka harus berjang keras untuk memastikan pengikutnya tidak terlahir cacat atau dibesarkan di dunia yang hancur, tetapi terlahir sehat, bahagia dan di dunia yang selalu damai dan harmonis.”

Sebelumnya, mengiringi pidato sambutan oleh Tuan Lal Khan Malik, Presiden Jemaat Ahmadiyah Kanada, para pejabat berdiri ke atas panggung untuk menyambut Yang Mulia di Kanada.

Walikota Kalgari, Naheed Nenshi berkata:

“Jemaat Muslim Ahmadiyah telah ada di Kanada sejak 50 tahun lalu dan sekarang adalah saatnya untuk berterimakkasih atas apa yang telah jemaat ini kerjakan, mungkin lebih daripada yang lainnya, karena mereka memahami perjuangan melawan intoleransi dan kepicikan merupakan perjuangan kita semua. Jemaat ini memahami bahwa membangun jemaat bersama-sama setiap hari pada akhirnya akan memperkaya tiap diri kita.”

Yang Terhormat, Stephen Harper, mantan Perdana Mentri Kanada, berkata:

“Selama saya menjabat sebagai Perdana Mentri, Jemaat Muslim Ahmadiyah merupakan salah satu kawan bekerja sama yang terbaik… Seperti di negera manapun, Ahmadi Muslim di Kanada juga dikenal dengan kecintaan mereka kepada perdamaian, persaudaraan dan takdir Tuhan – prinsip utama Islam sejati. Dan selalu berbuat kebaikan dalam banyak hal, tidak hanya di Kanada, namun di manapun Ahmadi tinggal di dunia. Dimanapun Ahmadi berada, mereka selalu menyerukan, cinta kepada semua, kebencian tidak kepada siapapun, anda adalah partner, tetangga, kawan yang paling berharga bagi semua warga Kanada.”

Irfan Sabir, Mentri Propinsi Pelayanan Publik, berkata:

“Selama beberapa minggu ini, dalam perjalanannya di Kanada, Yang Mulia (Hazrat Mirza Masroor Ahmad) telah menyebarkan pesan ‘Cinta kepada semua, Kebencian tidak kepada siapapun’. Ia telah menginspirasi warga Kanada atas keberaniannya menyerukan perdamaian dan kasih-sayang.”

Darshan Kang, Anggota Federasi Parlemen, berkata:

“Mereka yang berkesempatan bertemu dan bekerja sama dengan Jemaat Muslim Ahmadiyah pasti tahu kontribusi luar biasa yang telah Ahmadi Muslim buat di lingkungan warga Kanada. Jemaat Muslim Ahmadiyah berdiri sendiri mewujudkan nilai-nilai yang kami pegang erat sebagai warga Kanada.”

Setelah penutupan acara tersebut, Yang Mulia juga disambut oleh perwakilan First Nations. Tetua suku asli menyambut beliau dengan sambutan tradisional mereka lalu dilanjutkan dengan pertemuan tertutup.

Simposium Perdamaian di Kalgari merupakan acara resmi terakhir dari rangkaian perjalanan beliau. Beberapa minggu sebelumnya, Yang Mulia menyampaikan pidato utama di Parliament Hill di Ottawa, Universitas York, Simposium Perdamaian di Kanada dan Pembukaan Masjid di Regina dan Lloydminster.


Ahmadiyya Muslim Community
Press & Media Office

URL sumberpressahmadiyya.com

(Visited 660 times, 2 visits today)