Berikut adalah sejarah singkat dari Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as, pendiri dari Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Table of Content:

AHMAD


Pendiri Jemaat Ahmadiyah bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Nama beliau yang asli hanyalah Ghulam Ahmad. Mirza melambangkan keturunan Moghul. Kebiasaan beliau adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam ilham-ilham, Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad juga. Hazrat Ahmad as lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Demikianlah sempurna sudah kabar ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Qadian terletak 57 km sebelah Timur kota Lahore, dan 24 km dari kota Amritsar dipropinsi Punjab, India.

Hazrat Ahmad as adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenam belas masehi, seorang keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya dari sungai tersebut.

Qadian


Mirza Hadi Beg adalah seorang cerdik pandai, karena beliau oleh pemerintah pusat Delhi diangkat sebagai qadhi (hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai qadhi itulah maka tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang, tinggal Qadhi saja. Dikarenakan logat daerah setempat, akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian. Demikianlah keluarga Barlas tersebut pindah dari Khorasan ke Qadian secara permanen.

Selama kerajaan Moghul berkuasa, keluarga ini senantiasa memperoleh kedudukan mulia dan terpandang dalam pemerintahan negara. Setelah kejatuhan kerajaan Moghul, keluarga ini tetap menguasai kawasan 60 pal sekitar Qadian, sebagai kawasan otonomi. Tetapi lambat laun bangsa Sikh mulai berkuasa dan kuat, dan beberapa suku Sikh dari Ramgarhia, setelah bersatu mulai menyerang keluarga ini. Selama itu buyut Hazrat Ahmad as tetap mempertahankan diri dari serangan musuh. Teapi di zaman kakek beliau, daerah otonomi keluarga ini menjadi sangat lemah, dan hanya terbatas di dalam Qadian saja yang menyerupai benteng dengan tembok pertahanan di sekelilingnya. Daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan musuh. Akhirnya bangsa Sikh dapat juga menguasai Qadian dengan jalan mengadakan kontak rahasia dengan beberapa penduduk Qadian, dan semua anggota keluarga ini ditawan oleh bangsa Sikh. Tetapi setelah beberapa hari, keluarga ini diizinkan meninggalkan Qadian, lalu mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala dan menetap disana selama 12 tahun. Setelah itu tibalah zaman kekuasaan Maharaja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, dan beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga tersebut kepada ayah Hazrat Ahmad as yang bekerja dalam tentara Maharaja itu beserta saudara-saudaranya. Kemudian datanglah bangsa Inggris yang mengalahkan pemerintah Sikh, dan merampas segala kekayaan keluarga ini, kecuali satu daerah Qadian yang amat kecil dibiarkan dalam kepemilikan keluarga tersebut.

Masa Kanak-kanak


Setelah sejarah ringkas silsilah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as, baiklah sekarang saya terangkan keadaan beliau dimasa kanak-kanak. Sebagaimana telah dijelaskan, Hazrat Ahmad lahir pada tahun 1835 ketika ayah beliau sedang jaya dan gembira karena berhasil mendapatkan kembali tanah-tanah pusaka, serta mempunyai kedudukan yang baik di kerajaan Maharaja Ranjit Singh. Akan tetapi Allah Ta’ala menghendaki supaya  Hazrat Ahmad mendapat pendidikan dan pemeliharaan dalam suasana yang lebih menarik perhatian beliau kepada-Nya.

Tiga tahun setelah Hazrat Ahmad as lahir, Maharaja Ranjit Singh meninggal dunia, dan kerajaan Sikh mulai melemah. Kejadian ini mempengaruhi keadaan ayah beliau. Dan ketika seluruh Punjab jatuh ke tangan Inggris, tanah-tanah pusaka dirampas kembali. Meskipun ayah beliau membelanjakan puluhan ribu rupis untuk mengambil kembali tanah-tanah pusaka tersebut, tetap tak berhasil. Dan hal ini sangat menyedihkan hatinya. Hazrat Ahmad as sendiri telah menerangkan hal itu dalam sebuah buku beliau sebagai berikut:

“Ayahanda berduka dan bersedih hati karena kekalahan-kekalahan yang dialaminya dalam perkara-perkara untuk mendapatkan kembali tanah-tanah pusakanya. Beliau telah membelanjakan 70.000 rupis dalam perkara-perkara semacam itu, yang kesemuanya tidak berhasil sedikit pun. Kehilangan semua harta pusaka dari tangan kami yang tidak mungkin diperoleh kembali. Kerugian ini sangat menyedihkan ayahanda, dan beliau menjalani hidupnya dengan penuh duka dan penyesalan yang amat dalam. Melihat keadaan ayahanda demikian, saya mendapat gerakan dan kesempatan untuk mengadakan perubahan suci dan sejati dalam diri saya. Pengalaman yang sedih dan pahit dari kehidupan ayahanda menjadi pelajaran bagi saya untuk mencari kehidupan yang suci dan bersih dari kekotoran dunia. Walaupun ayahanda masih memiliki beberapa kampung dan mendapat hadiah tahunan dari pemerintah serta menerima pula pensiun dari dinasnya, namun kesemuanya itu tidak berarti baginya dibandingkan dengan kejayaannya dahulu. Oleh karena itulah beliau selalu sedih dan berduka. Biasanya ayahanda suka mengatakan: “Usaha dan perjuangannya yang telah aku lakukan untuk dunia yang kotor ini aku sudah menjadi wali atau orang suci.”

Demikian pula beliau sering membaca syair-syair yang menyatakan betapa dalam penyesalan hati beliau atas kehidupannya sendiri yang sebagian besar disia-siakannya dalam urusan dunia belaka. Dan hati beliau berhasrat untuk mendapat rahmat serta karunia Allah.

Penyesalan beliau– karena tidak mengusahakan apa-apa untuk menghadap ke hadirat Ilahi–makin lama semakin bertambah kuat di hati beliau. Dengan sedih beliau sering berkata: “Sayang aku telah merusak hidupku untuk urusan dunia yang sia-sia belaka.”

Tulisan tentang keadaan ayah beliau tersebut, sewaktu beliau masih kanak-kanak sampai baligh, menyatakan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan kondisi tertentu sebagai pelajaran dan pendidikan bagi beliau sehingga kecintaan terhadap dunia tidak timbul di hati beliau. Ayah serta kakek beliau pada waktu itu memiliki kedudukan tinggi dan terhormat di masyarakat dunia, dan para pejabat negara sangat hormat serta ta’zim kepada mereka. Tetapi upaya mereka seumur hidup — untuk merebut kemuliaan dan kekayaan dunia sebagaimana yang mereka inginkan menurut hak keluarga itu — akhirnya gagal semua. Hal ini menjadi pelajaran bagi seorang yang hatinya suci dari segala kekotoran, bahwasanya dunia ini tidak kekal dan akhirat-lah yang disukai oleh Allah. Maka Hazrat Ahmad as pun tidak melupakan pelajaran ini sampai wafat. Walau dunia mencoba menarik beliau dengan berbagai cara untuk menyesatkan beliau dari tujuan, beliau tetap tidak pernah tergoda untuk keluar setapak pun dari jalan yang benar.

Pendek kata, Hazrat Ahmad as sewaktu kanak-kanak telah menyaksikan contoh-contoh yang begitu pahit dalam kehidupan ayah beliau, sehingga kemauan untuk dunia telah padam dari sanubari beliau. Ketika masih kecil sekali, segala keinginan dan cita-cita beliau ditujukan pada keridhoan Ilahi.

Tuan Syekh Yaqub Ali, pengarang riiwayat hidup Hazrat Ahmad Ahmad as , telah mencantumkan suatu kejadian yang amat menarik. Ketika kecil, Hazrat Ahmad as sering mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau, “Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.” Perkataan ini menyatakan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubari beliau ketika masih kanak-kanak. Dan segala keinginan serta cita-cita beliau hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala semata.

Demikianlah pula hal ini menampilkan anggapan beliau ketika kecil bahwa hanya Allah lah yang dapat menyempurnakan segala keinginan dan yang memberi taufik, juga untuk beribadah. Sejak kecil beliau hidup dalam keluarga yang sama sekali condong kepada dunia belaka. Tetapi beliau as. pada waktu kanak-kanak mempunyai keinginan untuk shalat dan percaya bahwa taufik untuk menyempurnakan keinginan itu hanya Allah lah yang dapat memberikannya.

Hal ini membuktikan bahwa keadan semacam itu tidak mungkin timbul dalam sanubari seseorang selain yang hatinya suci dari sentuhan dunia sama sekali, serta yang ditolong oleh Allah untuk mengadakan suatu perubahan agung dan suci di dunia ini.

Masa-Masa Pendidikan


Kejahilan/kebodohan benar-benar dominan ketika Hazrat Ahmad as lahir ke dunia ini. Orang-orang umumnya tidak memberikan perhatian pada pelajaran dan pengetahuan sedikitpun. Pada zaman pemerintahan Sikh, jarang terdapat orang yang pandai membaca dan menulis. Sebagian besar orang-orang kaya dan terpandang pun buta huruf. Tetapi karena Allah Ta’ala hendak menggunakan beliau Ahmad as untuk suatu pekerjaan yang sangat agung, maka Dia menanamkan kemauan yang cukup kepada beliau Ahmad as.

Berbagai macam hambatan dan keadaan jahiliyah zaman itu tidak melalaikan sang ayah dari kewajibannya menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya. Waktu Hazrat Ahmad as masih kanak-kanak, ayah beliau telah mempekerjakan seorang guru bernama Fazal Ilahi untuk mengajar beliau mengaji Al-Qur’an serta beberapa kitab bahasa Farsi (1841). Setelah berusia 10 tahun, dipanggil lagi seorang guru bernama Fazal Ahmad yang amat baik dan benar-benar beragama (1845). Hazrat Ahmad as sendiri menuliskan bahwa guru itu mengajar beliau beberapa kitab shoraf-nahwu (gramatika) bahasa Arab, dengan giat dan penuh kecintaan. Setelah beliau as berusia 17 tahun, ditetapkan seorang guru lain bernama Gul Ali Shah, untuk mengajarkan beberapa kitab nahu dan mantik ( logika). Ilmu ketabihan beliau pelajari dari ayah beliau sendiri yang merupakan seorang tabib mahir dan pandai. Pelajaran semacam ini pada zaman itu terpandang cukup tinggi, namun bila dibandingkan dengan kewajiban yang akan beliau emban, hal itu tidak berarti sedikit pun. Kami telah menyaksikan sendiri orang-orang lain yang ikut belajar bersama beliau as dari guru-guru yang sama.

Mereka tidak memiliki kepandaian yang luar biasa dan mereka tidak berbeda dengan orang-orang lain yang mendapatkan pelajaran semacam itu. Begitu pun guru-guru yang mengajar beliau as bukanlah alim ulama yang tinggi ilmunya, melainkan hanya menguasai beberapa kitab bahasa Arab serta Farsi saja. Pelajaran yang diberikan kepada beliau as pada waktu itu sama sekali tidak cukup untuk mempersiapkan beliau terhadap kewajiban yang bakal Allah Ta’ala serahkan kepada beliau as.

Masa Setelah Pendidikan


Ketika Hazrat Ahmad as selesai menuntut pelajaran, waktu itu pemerintah Inggris sepenuhnya telah menguasai seluruh Punjab. Dan bahaya pemberontakan pun telah padam. Warga India telah mulai bekerja di pemerintah Inggris untuk mendapakan kedudukan dan kemajuan. Para pemuda dari berbagai keluarga telah mulai bekerja di kantor-kantor pemerintah. Dalam situasi demikian, Hazrat Ahmad as yang sama sekali tidak tertarik pada pekerjaan pertanian — atas kehendak ayah beliau — berangkat di kantor Bupati Sialkot. Tetapi sebagian besar waktu beliau digunakan untuk menimba ilmu. Waktu di luar beliau pakai untuk menelaah buku-buku atau mengajar orang lain, berdiskusi tentang agama. Walupun beliau masih muda — waktu itu berusia 28 tahun — karena takwa dan kesucian amal beliau, para orang tua dari golongan Islam maupun Hindu sama-sama menghormati beliau. Pada waktu itu beliau jarang bepergian, justru suka menyendiri dan menyepi.

Para pendeta Kristen pun pada waktu itu mulai menyebarkan agama mereka di Punjab. Sebagian besar orang Islam tidak dapat menjawab serangan-serangan mereka. Tetapi ketika berdiskusi dengan Hazrat Ahmad as senantiasa saja orang-orang Kristen mengalami kekalahan dan dari antara pendeta Kristen, mereka yang mencintai kebenaran sangat hormat terhadap beliau as. Seorang pendeta Kristen bernama Mr. Butler M.A. yang bekerja di Scoth Mission di kota Sialkot, sering bertukar pikiran dengan Hazrat Ahmad as , dan sangat tertarik pada beliau. Tatkala Mr. Butler hendak kembali ke negerinya, ia datang ke kantor kabupaten Sialkot untuk berjumpa dengan Hazrat Ahmad Ahmad as . Bupati menanyakan, untuk apa tuan datang ke kantor kami? Dijawab oleh Mr. Butler, bahwa ia datang hanya untuk berjumpa dengan Tuan Mirza Ghulam Ahmad saja. kemudian ia terus pergi ke tempat Hazrat Ahmad as dan setelah berbincang-bincang beberapa saat, ia pun pulang.

Ada waktu itu, para pendeta Kristen menganggap kemenangan pemerintah Inggris sebagai kemenangan agama mereka, dan mereka sangat sombong serta karangan-karangan mereka ketika itu menyatakan keinginan mereka untuk memasukkan semua orang Islam ke dalam agama Kristen melalui tangan besi pemerintah. Mereka menggunaan kata-kata yang sangat kotor dan keji terhadap agama Islam dan Nabi Muhammad saw. Beberapa orang Eropa yang ahli, pernah menyatakan bahwa kemungkinan timbulnya kembali pemberontakan seperti tahun 1857 dapat muncul akibat tulisan-tulisan yang sekeji itu dari kalangan Kristen. Lama sekali para pendeta Kristen berpendirian seolah-olah merekalah yang berkuasa di India, dan bukan pemerintah Inggris. Tetapi akhirnya mereka insyaf juga, bahwa pemeriintah Inggris yang berkuasa di India dan pemerintahan Ratu Victoria tidak ingin mengembangkan agama Kristen dengan tangan besi, dan sama sekali tidak ingin mengganggu agama manapun.

Boleh dikatakan bahwa pergeseran antara orang-orang Islam dan Kristen ketika itu sangat hebat. Para pendeta Kristen suka marah kepada siapa saja yang berani membantah keterangan-keterangan mereka. Meski pun Hazrat Ahmad as senantiasa menyalahkan keterangan-keterangan Kristen, tetapi pendeta Butler M.A. sangat tertarik pada kesucian, ketakwaan dan keikhlasan beliau as. Sekali pun Mr. Butler mengetahui bahwa ia tidak akan dapat menarik Hazrat Ahmad as dan malahan ia sendiri yang akan tertarik oleh keterangan-keterangan yang jitu dari Hazrat Ahmad as , namun ia tidak mampu menjauhkan diri dari beliau as. Mr. Butler benar-benar tertarik pada kesucian dan ketakwaan Hazrat Ahmad as dan ketika hendak pulang ke negerinya, ia menyempatkan waktu untuk berjumpa dengan Hazrat Ahmad as terlebih dahulu.

Berhenti Bekerja


Hampir 4 tahun lamanya Hazrat Ahmad as bekerja di Sialkot dengan memaksakan diri. Namun akhirnya setelah mendapat izin dari sang ayah, beliau as minta berhenti dari pekerjaan beliau dan pulang dari Qadian.

Berdasarkan perintah sang ayah, beliau as bekerja harus mengikuti perkara-perkara pengadilan tanah pusaka keluarga, namun hati beliau sama sekali tidak tertarik pada hal-hal semacam itu. Beliau as sangat patuh dan tunduk terhadap perintah orang-tua beliau. Beliau tidak mau membantah perintah sang ayah. Padahal beliau sendiri tidak senang terhadap pekerjaan itu. Seringkali setelah kalah dalam suatu perkara beliau pulang dengan air muka yang berseri-seri, sehingga orang-orang menganggap beliau telah menang dalam perkara tersebut. Tatkala beliau as menerangkan bahwa beliau kalah dalam perkara itu, orang-orang bertanya, mengapa Tuan begitu gembira?

Beliau as menjawab, “Saya telah berupaya tetapi terjadi apa yang telah dikehendaki oleh Allah Ta’ala, dan dengan selesainya perkara ini saya mendapat kelonggaran waktu untuk mengingat Allah Ta’ala.”

Itulah masa yang sangat sukar dan ganjil bagi Hazrat Ahmad as. Sang ayah menghendaki beliau as mengurus tanah-tanahnya atau mencari pekerjaan lain, sedangkan kedua hal itu tidak beliau sukai. Oleh karenanya, sering beliau as dicela atau dimarahi, tetapi ketika ibu beliau masiih hidup, sang ibu senantiasa melindungi beliau as. Setelah ibu beliau wafat, beliau as sering menanggung kemarahan serta celaan dari kakak dan ayah beliau, sebab mereka menganggap beliau as tidak suka bekerja untuk penghidupan hanya karena malas.

Ayah beliau sering mengatakan dengan sedih, “Bagaimanakah anakku ini akan memperoleh penghidupannya, dan juga sangat sedih kalau nanti untuk keperluan hidupnya ia memerlukan pemberian kakaknya saja.” Melihat Hazrat Ahmad as siang malam hanya membaca buku saja, sang ayah sering gusar hati, dengan menamakan beliau maulvi (kiai) sang ayah mengatakan: “Dari mana pula maulvi yang satu ini telah muncul di rumah kita?”

Walau pun begitu, sang ayah sangat terkesan oleh kesucian dan ketakwaan beliau as. Apalagi ketika merasakan dan teringat akan kekalahan dalam usaha-usaha duniawinya. Sang ayah gembira juga melihat beliau as begitu giat dalam keagamaan dengan mengatakan, “Inilah sebenarnya pekerjaan yang tengah dikerjakan oleh anakku ini.” Disebabkan ayah beliau seumur hidup berjuang hanya untuk dunia saja, maka rasa penyesalan sering mempengaruhi Hazrat Ahmad as. Tetapi hal itu sama sekali tidak menghalangi beliau as dari tujuan yang sebenarnya. Bahkan as sering membacakan Al-Quran dan Hadis bagi ayah beliau.

Itulah suatu kondisi yang amat menakjubkan, bapak dan anak asyik dalam suatu tujuan yang berlainan, masing-masing hendak menarik yang lain kepada tujuannya. Sang bapak ingin supaya anaknya menyetujui pendiriannya dan berjuang untuk kehormatan serta kekayaan dunia, tetapi sang anak berkeinginan agar bapaknya lepas dari cengkeraman dunia dan masuk dalam kecintaan Ilahi. Pendek kata, keadaan hari-hari itu tidak dapat digambarkan dalam tulisan. Masing-masing hanya dapat dibayangkan dalam sanubarinya.

Sekali lagi beliau as dimintakan untuk menjadi kepala pendidikan di Kesultanan Kapurtala, tetapi itu pun beliau tolak dan lebih suka tnggal di rumah saja, supaya sedapat mungkin menolong sang ayah yang amat sedih itu. Sebagaimana telah dijelaskan, beliau memang tidak menyuka urusan-urusan tanah pusaka itu, tetapi atas perintah ayah beliau dan guna menggembirakan serta menghibur sang ayah yang sudah lanjut usia itu, beliau as dengan giat menjalankan perkara-perkara tersebut tanpa memperhatikan menang kalahnya.

Walau pun Hazrat Ahmad as menjalankan perkara-perkara tu sekedar untuk membantu ayah beliau, namun hati beliau tetap terkat dalam kecintaan Ilahi. Misi beliau as adalah: “Tangan bekerja, hati tertumpu pada Sang Kekasih.” Setiap selesai urusan perkaraperkara itu beliau as langsung kembali tenggelam dalam ibadah dan zikir Ilahi. Selama bepergian untuk perkara-perkara tersebut, tidak ada satu shalat pun yang tidak beliau kerjakan pada waktunya. Bahkan ketika pengadilan sedang berlangsung, shalat tetap tidak beliau lewatkan dari waktunya.

Sekali peristiwa, beliau as pergi ke pengadilan untuk suatu urusan perkara yang sangat penting dan dapat mempengaruhi perkara-perkara lainnya. Waktu itu hakim sedang memeriksa perkara lain, maka perkara beliau lambat diperiksa. Sementara menunggu giliran perkara beliau, waktu shalat sudah mulai sempit, maka setelah berwudhu beliau langsung shalat di bawah pohon, dengan menyerahkan perkara itu kepada Allah Ta’ala.

Ketika beliau as sedang shalat, hakim memanggil nama beliau, tetapi beliau as dengan tenang terus saja mengerjakan shalat beliau dan sama sekali tidak peduli pada hal-hal lain. Menurut peraturan pengadilan, dalam suatu perkara kalau satu pihak tidak hadir bila dipanggil, maka perkara itu akan diputuskan dengan memenangkan pihak yang lain. Maka setelah shalat, beliau as menganggap tentu perkara beliau telah dikalahkan, dan beliau menuju ke ruang pengadilan untuk mendapatkan kabar tentang keputusan perkara tersebut. Kepala pengadilan disitu adalah seorang Inggris. Setelah memeriksa berkas-berkas perkara tersebut, kepala pengadilan itu ternyata telah memutuskan perkara tersebut dengan kemenangan di pihak Hazrat Ahmad as.

Demikianlah Allah Ta’ala menolong beliau. Dapat dikatakan bahwa beliau as menjalankan tugas itu seperti dipaksakan mengerjakan hal-hal yang tidak beliau sukai. Padahal perkara-perkara itu akan bermanfaat bagi di beliau as. Sebab dengan terpeliharanya harta pusaka sang ayah, berarti terpelihara pula harta pusaka bagi diri beliau as sendiri, karena beliau akan mewarisinya. Meskipun beliau as cukup cerdas dan cerdik, beliau tetap tidak suka perkara-perkara demikian. Hal itu membuktikan bahwa beliau as sangat tidak menyukai keduniawian dan hanya bertujuan kepada Allah Ta’ala semata.

Rajin Bekerja


Sekali pun beliau as tidak menyukai keduniaan, beliau sama sekali bukan orang yang malas. Justru beliau sangat rajin dan suka bekerja keras. Beliau suka menyepi dan menyendiri, tetapi sedikitpun tidak berarti menjauhkan diri dari kerja keras. Kadangkala bila bepergian, Khadim disuruh menunggang kuda ke depan lebih dulu dan beliau sendiri jalan kaki sampai lebih dari 20 pal hingga ke tujuan. Jarang sekali beliau memakai kendaraan, bahkan sering pergi dengan berjalan kaki saja. Sampai akhir hayat pun beliau biasa berjalan kaki demikian. Walau usia telah lebih 70 tahun dan beliau sering sakit keras, namun hampir tiap hari beliau berjalan kaki empat sampai lima pal. Bahkan kadang-kadang sampai tujuh pal. Sebelum beliau terlalu tua, kadang-kadang sebelum subuh beliau as berangkat dari rumah di Qadian untuk berjalan kaki dan setelah sampai di kampung Wadulah yang terletak lima setengah pal dari Qadian barulah masuk waktu untuk shalat subuh.

Kewafatan Sang Ayah dan Ilham Pertama


Pada tahun 1876 Hazrat Ahmad as berusia kurang lebih 40 tahun ketika ayah beliau sakit, dan penyakitnya tidaklah begitu berbahaya. Tetapi Allah Ta’ala menurunkan ilham berikut ini kepada beliau as :

Wassamaai wa thooriq

Persumpahan demi Langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari ini.

Beriringan dengan itu kepada beliau diberikan pengertian bahwa ilham ini mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau as yang akan terjadi setelah Maghrib. Sebelum ilham ini, sudah lama Hazrat Ahmad as sering mendapat ru’ya shalihah (mimpi yang benar) yang telah sempurna dengan jelas pada waktunya, dan disaksikan pula oleh orang-orang Sikh dan Hindu yang sebagian masih hidup sampai sekarang. Tetapi sebagai ilham, inilah ilham yang pertama beliau terima, dan dengan perantaraan ilham ini Allah Ta’ala dengan cinta-Nya seolah-olah menyatakan behwa: Ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu.

Demikianlah ilham pertama yang diterima Hazrat Masih Mau’ud as yang mengabarkan tentang kewafatan sang ayah. Sudah wajar khabar ini membuat hati beliau sedih, bahkan kesedihan itu ditambah dengan kekhawatiran tentang siapa yang akan mengurus penghidupan beliau as selanjutnya? Oleh sebab itu Allah Ta’ala memberikan ilham kedua kepada beliau as untuk menenteramkan hati beliau. Baiklah, kejadian itu saya terangkan dalam kata-kata Hazrat Ahmad as sendiri:

“Ketika saya diberi khabar oleh-Nya bahwa ayahanda akan wafat setelah matahari terbenam, sebagai manusia hati saya sangat sedih dan gelisah. Sebagian besar penghidupan kami bergantung pada ayahanda. Sebab beliau biasa mendapat pensiun dan hadiah yang agak besar dari pemerintah, yang tentu akan dihentikan setelah beliau wafat. Maka timbullah di dalam pikiran, apa yang akan terjadi setelah ayahanda wafat?

Hati merasa khawatir kalau-kalau dalam hari-hari mendatang kami akan menderita kesusahan dan kesukaran. Semua pikiran ini secepat kilat melewati diri saya, tiba-tiba saya rasakan seperti tidur dan menerima ilham yang kedua ini :

Apakah Allah tidak cukup bagi hamba- Nya?

Dari ilham ini hati saya menjadi teguh, bagai luka parah yang tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah mendapat ilham ‘Alaisallaahu bikaafin ‘abdahu’ saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolong saya. Kemudian saya memanggil seorang warga Hindu penduduk Qadian, bernama Malawa Mal yang hingga kini masih hidup, dan menceritakan semua kejadian itu kepadanya. Lalu saya serahkan tulisan ilham itu kepadanya dan menyuruhnya pergi ke Amritsar minta tolong Hakim Maulvi Muhammad Syarif Kalanauri untuk mengukirkan ilham tersebut pada sebuah mata cincin berupa stempel (cap). Untuk menyelesaikan urusan ini saya sengaja memilih orang Hindu supaya ia menjadi saksi tentang khabar ghaib itu. Maka cincin cap itu diselesaikan oleh Maulvi tersebut dengan harga 5 rupis, kemudian oleh Malawa Mal diserahkan pada saya.”

Cincin itu sampai sekarang ada pada saya (Khalifatul Masih II, penulis buku ini-pen.).

Pendek kata, pada hari kewafatan beliau, beberapa jam sebelum Maghrib Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau. Sesudah itu Allah Ta’ala menenteramkan dan membesarkan hati beliau dengan menerangkan bahwa beliau tidak perlu khawatir, sebab Allah Ta’ala lah yang akan mengatur segala urusan beliau.

Pada hari beliau mendapat ilham-iham itu, ayah beliau as pun wafat setelah Maghrib, dan mulailah suatu era baru dalam kehidupan beliau as.

Harta pusaka ayah beliau berupa rumah-rumah, toko dan tanah-tanah terletak di kota Batala, Amritsar, Gurdaspur dan Qadian. Beliau punya saudara seorang lagi, sehingga hanya dua orang saja yang akan mewarisi harta pusaka ayah beliau. Yakni beliau as berhak mendapat setengah harta pusaka itu yang akan mencukupi keperluan hidup beliau as. Tetapi beliau tidak minta harta benda itu dibagi, melainkan apa saja yang diberi oleh kakak beliau, beliau terima dengan rasa syukur dan senang.

Demikianlah Hazrat Ahmad as menganggap sang kakak sebagai pengganti ayah beliau. Tetapi berhubung sang kakak dinas dan tinggal di Gurdaspur, waktu itu beliau as selalu mengalami kesulitan yang berlanjut sampai kewafatan sang kakak. Dapat dikatakan beliau as mendapat cobaan yang berat dalam tahun-tahun itu. Namun beliau as tetap sabar dan teguh menghadapi cobaan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa beliau as sangat mulia dan tinggi dalam kerohaniannya.

Walau pun beliau as mampunyai hak sama dalam harta pusaka itu, namun melihat sang kakak sangat cenderung pada keduniaan, beliau as tidak meminta bagian sendiri dan hanya mencukupkan diri dengan pakaian dan makanan saja. Sang kakak pun, karena cinta dan hormat, menurut perasaannya ingin mencukupi keperluan-keperluan beliau as. Tetapi sang kakak lebih mencintai keduniaan, sedangkan beliau as sangat tidak menyukai keduniaan. Oleh sebab itu sang kakak menganggap beliau pemalas dan tidak mengenal tuntutan zaman. Malah sang kakak sering mengungkapkan kekesalannya, karena beliau as tidak mau memperhatikan urusan-urusan keduniaan.

Sekali peristiwa Hazrat Ahmad as meminta sedikit uang untuk berlangganan sebuah surat kabar, namun meskipun menguasai harta pusaka beliau as sang kakak menolak permintaan itu dengan mengatakannya sebagai pemborosan untuk orang yang tidak mau bekerja dan hanya duduk-duduk saja membaca surat kabar serta buku-buku.

Demikianlah sang kakak tenggelam dalam keduniaan, sehingga tidak mau tahu akan keperluan-keperluan beliau as serta tidak mau memberikan perhatian guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan itu sangat menyusahkan beliau as , tetapi hal yang lebih menyusahkan dari itu adalah, sang kakak jarang tinggal di Qadian. Maka pegawai dan pengurus-pengurus hartanyapun mendapat kesempatan untuk lebih menyusahkan Hazrat Ahmad as .

Mujahidah


Dalam masa itu Allah Ta’ala menerangkan kepada beliau as bahwa untuk mendapatkan nikmat-nikmat Ilahi perlu melakukan mujahidah juga. Yakni beliau as harus berpuasa. Menurut perintah Ilahi ini beliau as berpuasa berturut-turut 6 bulan lamanya. Acapkali makanan yang dikirim untuk beliau telah beliau bagikan kepada fakir miskin. Setelah berbuka puasa, bila beliau as meminta makanan dari rumah, sering ditolak. Karena itu Hazrat Ahmad as mencukupkan hanya dengan sedikit air, atau barang lain semacam itu, dan esok harinya berpuasa terus tanpa makan sahur lebih dahulu. Pendek kata, pada waktu itu beliau dalam keadaaan mujahiidah yang tinggi, dan beliau menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keteguhan.

Pada waktu yang amat susah sekali pun beliau as tidak menunjukkan– secara langsung ataupun dengan isyarat  untuk memperoleh bagian dari harta pusaka beliau. Bukan hanya selama hari-hari puasa itu saja, bahkan pada waktu-waktu lainnya pun Hazrat Ahmad as. Suka membagikan makanan kepada orang-orang miskin, dan untuk diri sendiri beliau as hanya mencukupkan dengan sekerat roti yang tidak lebih dari 50 gram. Kadang-kadang beliau hanya makan kacang-kacangan yang disangrai, sedangkan makanan beliau dibagikan kepada fakir miskin. Maka banyak para fakir miskin suka tinggal dengan Hazrat Ahmad as. Mereka diperhatikan dan diurus oleh beliau lebih dari keperluan dan kepentingan sendiri — walau pun beliau as sendiri berada dalam kesusahan. Sedangkan kakak beliau hanya bergaul dan bersahabat dengan orang-orang kaya saja.

Tampil di Hadapan Umum


Hazrat Ahmad as mulai mengkhidmati agama Islam dengan mengarang buku yang berisi keterangan-keterangan untuk melawan agama Kristen dan Hindu Ariya. Karangan-karangan beliau diterbitkan juga di surat-surat kabar. Karena karangan-karangan inilah nama Hazrat Ahmad as populer di masyarakat umum, meski pun beliau sendiri jarang keluar dari ruangan yang kecil dan sunyi itu. Malah para tamu sering beliau terima di dalam mesjid, atau suka berdiam di rumah saja. Pada waktu tu nama Hazrat Ahmad as telah mulai dikenal dan tersiar, tetapi beliau sendiri tidak tampil di hadapan umum, dan tetap dalam suasana yang sunyi dan terpisah itu.

Ketika Hazrat Ahmad as tengah menjalankan mujahidah tersebut, Allah Ta’ala sering memberi ilham kepada beliau yang mengandung kabar-kabar ghaib, dan menjadi sempurna pada waktunya. Hal-hal ini menambah keimanan serta keyakinan beliau maupun rekan-rekan beliau yang diantaranya terdapat juga orang-orang Sikh serta Hindu. Mereka amat heran dan takjub melihat kejadian-kejadian itu.

Mula-mula beliau as memuat karangan dalam surat-surat kabar saja. Tetapi ketika beliau melihat bahwa musuh Islam menyerang dengan lebih hebat dan orang-orang Islam tidak mampu menjawab serangan-serangan itu, hingga ghairat Islam bergolak di dada beliau as. Maka berdasarkan ilham dan wahyu Ilahi, beliau bangkit untuk mengarang sebuah buku yang menerangkan perkara-perkara tentang kebenaran agama Islam, yang betul-betul tidak dapat dijawab oleh para musuh Islam untuk selamanya. Tiap-tiap orang Islam dapat mempergunakan keterangan-keterangan itu untuk menjawab segala serangan terhadap Islam. Dengan kemauan dan tujuan itulah beliau as mulai mengarang buku yang terkenal dengan nama Barahiyn Ahmadiyah, yang tidak ada bandingannya dari karangan-karangan orang lain.

Ketika sebagian karangan telah selesai, beliau as menganjurkan agar dicetak, dan atas pertolongan orang-orang yang sangat gemar dan memuji karangan-karangan beliau, dapatlah tercetak bagian pertama berupa suatu pengumuman dan seruan. Bagian yang pertama itu saja telah menggoncangkan dan menggemparkan seluruh negeri. Walau pun bagian pertama itu hanya berupa pengumuman dan seruan, tetapi di dalamnya diterangkan juga hal-hal tertentu untuk membuktikan kebenaran Islam, yang amat menarik dan mendapat pujian dari para pembaca buku tersebut.

Dalam pengumuman itu Hazrat Ahmad as mengemukakan suatu syarat, bahwa keindahan-keindahan Islam yang akan beliau terangkan, jika hal demikian dapat dipaparkan oleh seorang pengikut suatu agama lain dalam agamanya, atau setengahnya saja, atau malah seperempatnya saja sekali pun, maka beliau as akan menghadiahkan seluruh harta pusaka beliau yang berharga 10.000 rupis kepada orang itu. Inilah pertama kali beliau as menggunakan harta pusaka beliau dengan menetapkannya sebagai hadiah demi memaparkan keindahan-keindahan Islam, supaya para pengikut agama lain memberanikan diri tampil melawan Islam, yang akhirnya akan membuktikan keunggulan serta kemenangan Islam.

Bagian pertama buku ini dicetak pada tahun 1880, bagian kedua pada tahun 1881, bagian ketiga tahun 1880 dan bagian keempat pada tahun 1884. Sebelum selesai penulisan seluruh buku ini, Allah Ta’ala telah memberi ilham bahwa beliau akan membela dan menyiarkan Islam dengan cara yang lain lagi. Tetapi apa yang telah ditulis dalam buku tersebut pun cukuplah untuk membukakan mata dunia. Setelah tersiarnya buku itu, lawan mau pun kawan memuji serta yakin akan kecakapan beliau. Tidak seorang pun musuh-musuh Islam dapat menyanggah buku itu. Orang-orang Islam sangat bergembira hati dan mulai menganggap beliau sebagai mujaddid, padahal waktu itu beliau as. belum mendakwahkan apa-apa. Para alim ulama pun mengaku kepandaian beliau.

Mlv. Muhammad Hussein Batalwi yang memimpin golongan Ahli-hadiis dan Wahabi — pemerintah pun waktu itu menghormatinya — menulis komentar panjang lebar yang memuji buku Barahiyn Ahmadiyah, dan menerangkan bahwa dalam 13 abad sebelumnya, tidak pernah terbit sebuah buku yang membela Islam sedemikian rupa seperti buku tersebut.

Di dalam buku itu Hazrat Ahmad as juga mencantumkan beberapa ilham yang beliau terima, sebagian diantaranya kami paparkan disini supaya dapat terlihat bukti-bukti kebenarannya :

Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya.

Akan datang kepadamu hadiah-hadiah dari tempat-tempat yang jauh, dan orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh.

Raja-raja akan mencari berkat dari pakaian-pakaianmu.

Ilham-ilham ini telah dicetak dalam Barahiyn Ahmadiyah pada tahun 1884, ketika beliau as masih hidup dalam suasana yang sepi dan terpisah dari dunia ramai. Tetapi setelah terbitnya buku itu, nama Hazrat Ahmad as mulai tersiar ke seluruh India. Banyak pula yang menaruh harapan bahwa pengarang Barahiyn Ahmadiyah akan membela Islam menjawab segala serangan serta tuduhan yang dilontarkan kepada Islam. Dugaan mereka benar, tetapi Allah Ta’ala mengkehendaki agar hal itu sempurna dengan cara lain.

Kejadian-kejadian berikutnya menyatakan bahwa mereka yang tadinya begitu memuliakan serta menghormati beliau as. ternyata merekalah yang menjadi musuh keras beliau, serta berusaha menjatuhkan beliau as. Akan tetapi penerimaan diri beliau capai tidaklah bergantung pada pertolongan manusia, melainkan Allah Ta’ala sematalah yang dengan serangan-serangan hebat akan memastikan dan membuktikan hal itu.

Bai’at Pertama


Dengan tersiarnya Barahiyn Ahmadiyah orang-orang dari berbagai tempat mulai simpati kepada Hazrat Ahmad as Qadian yang terletak jauh dan terpencil mulai sering dikunjungi para tamu dari tempat-tempat jauh. Para cendekiawan seperti Hazrat Maulvi Nuruddin, yang dipuji dan dijunjung oleh kawan maupun lawan karena ilmunya, sangat tertarik pula pada Barahiyn Ahmadiyah, sewaktu menjadi tabib istimewa Maharaja Jammu dan Kashmir. Hazrat Mlv. Nuruddin ini kemudan tidak terpisahkan lagi dari Hazrat Ahmad as untuk selama-lamanya. Barahiyn Ahmadiyah makin lama semakin mengambil tempat di hati umat, bahkan banyak yang mengajukan permintaan supaya Hazrat Ahmad as mengambil bai’at. Tetapi permintaan itu senantiasa beliau as tolak, dengan menjawab bahwa segala urusan beliau berada di tangan Allah.

Akhirnya tibalah bulan Desember 1888 ketika melalui ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as diperintahkan untuk mengambil bai’at dari orang-orang. Bai’at yang pertama diselenggarakan di kota Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889 di rumah seorang mukhlis bernama Mia Ahmad Jaan. Dan orang yang bai’at pertama kali adalah Hazrat Maulvi Nuruddin ra Pada hari itu kurang lebih 40 orang telah bai’at. Setelah itu berangsur-angsur semakin banyak yang bai’at.

Pendakwaan Diri Sebagai Masih Mau’ud


Tetapi pada tahun 1891 telah terjadi suatu perubahan yang amat besar. Yakni Hazrat Ahmad as diberi ilham oleh Allah Ta’ala bahwasanya Nabi Isa as yang ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali kali itu telah wafat dan tidak akan datang lagi ke dunia ini. Kedatangan Nabi Isa kedua, adalah orang lain yang akan datang dengan sifat dan cara seperti Nabi Isa as , yaitu Hazrat Ahmad as sendiri orangnya.

Ketika hal ini telah betul-betul jelas, dan ilham Ilahi berulang-ulang menyatakan supaya beliau as mengumumkannya, maka mulailah beliau as menjalankan kewajiban yang baru dan suci ini. Ilham tersebut turun ketika beliau as berada di Qadian, lalu beliau menerangkan kepada anggota keluarga beliau bahwa kini beliau telah diserahi suatu kewajiban yang akan menimbulkan perlawanan dari orang-orang. Setelah itu Hazrat Ahmad as pergi ke Ludhiana, dan pada tahun 1891 mengumumkan pendakwaan sebagai Masih Mau’ud (Isa yang dijanjikan) melalui sebuah selebaran.

Awal Timbulnya Pergolakan dan Penentangan


Pengumuman itu tersiar secepat kilat, dan di seluruh India timbul perlawanan serta kehebohan yang sangat hebat terhadap pendakwaan tersebut. Para alim ulama yang dahulu simpatik dan memuji, kini serentak berdiri menentang beliau as. Mlv Muhammad Hussein Batalwi yang dahulu dalam majalahnya Isyaatus Sunnah sangat memuji Hazrat Ahmad as , kini menggunakan segala kekuatannya untuk menentang beliau as. Dengan sombong dia berkata:

“Saya yang dahulu telah memajukan orang ini, maka saya lah sekarang yang akan menjatuhkannya. Yakni, dahulu karena pertolongan dan pujian dari saya lah orang ini mendapat kehormatan, dan sekarang saya akan menentangnya dengan gigih, sampai orang ini akan dibenci dan dihina orang-orang.”

Mlv. Muhammad Hussein Batalwi bersama beberapa ulama lainnya pergi ke Ludhiana menantang Hazrat Ahmad as untuk berdebat. Hal itu diterima oleh beliau as. Tetapi dalam perdebatan itu, pihak mereka memakai bermacam cara untuk mengacau, sehingga acara itu gagal. Oleh karena keributan dan kekacauan tersebut, pihak yang berwajib memerintahkan Mlv. Muhammad Hussein Batalwi agar meninggalkan kota Ludhiana pada hari itu juga.

Untuk menghindari suasana yang tidak diinginkan, Hazrat Ahmad as pun pergi ke Amritsar, dan setelah seminggu beliau kembali ke Ludhiana. Satu minggu beliau menetap disana, kemudian kembali ke Qadian. Beliau as tinggal di Qadian untuk beberapa lama, kemudian pergi ke Ludhiana lagi untuk beberapa hari. Dari sana beliau terus ke Delhi.

Perdebatan Delhi


Hazrat Ahmad as tiba di Delhi pada tanggal 27 September 1891. Pada waktu itu Delhi dipandang sebagai pusat ilmu pengetahuan di seluruh India. Dan pihak lawan lebih dahulu telah menghasut penduduk Delhi menentang beliau as. Maka dengan kedatangan beliau timbulah suatu keributan dan kegoncangan yang hebat. Para ulama menantang Hazrat Ahmad as berdebat. Akhirnya mereka secara sepihak telah menetapkan Maulvi Nazir Hussein, tokoh Ahli-Hadis, akan berdebat dengan Hazrat Ahmad as di Masjid Jami’ Delhi. Sedangkan hal itu tidak diberitahukan kepada Hazrat Ahmad as.

Pada waktunya, datanglah Hakim Abdul Majid membawa kendaraan supaya Hazrat Ahmad as berangkat ke Masjid Jamii’ untuk perdebatan itu. Hazrat Ahmad as menjawab:

“Dalam keributan dan kekacauan yang begini hebat, jika belum ada pengawalan yang lengkap dari pemerintah, saya tidak dapat pergi ke tempat perdebatan itu. Lagi pula, masalah perdebatan serta syarat-syaratnya seharusnya telah dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan saya juga.”

Atas jawaban ini, para penentang semakin ribut. Oleh karena itu, Hazrat Ahmad as mengumumkan: “Baiklah, Mlv. Nazir Hussein Delwi menyatakan dengan sumpah di Masjid Jami’, bahwamenurut ayat-ayat Al-Quran Nabi Isa as masih hidup dan sampai sekarang belum wafat. Setelah sumpah itu, jika dalam tempo satu tahun Mlv. Nazir Hussein tidak mendapat suatu siksaan dari langit, maka boleh lah saya dianggap sebagai pendustadan saya akan membakar seluruh buku saya.”

Untuk hal itu Hazrat Ahmad as telah pula menetapkan hari dan tanggalnya. Permintaan tersebut sangat menggelisahkan murid-murid Mlv. Nazir Hussein, dan mereka berupaya dengan berbagai cara untuk menghalangi persumpahan itu. Tetapi masyarakat umum mendesak Mlv. Nazir Hussein agar bersumpah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah dusta dalam pendakwahanya.

Pada waktu itu rakyat jelata berduyun-duyun berkumpul di Masjid Jami’ Delhi. Banyak orang memberi pandangan agar Hazrat Ahmad as tidak usah pergi ke tempat itu, sebab diri beliau as terancam dan mungkin timbul bahaya bagi diri beliau. Tetapi Hazrat Ahmad as beserta 12 orang sahabat beliau pergi juga ke tempat itu (Nabi Isa Israili dahulu juga mempunyai 12 orang sahabat/hawariyin, dan pada kejadian ini Hazrat Ahmad as pun ditemani oleh 12 orang sahabat beliau).

Bagian luar dan dalam Masjid Jamii’ Delhi telah penuh sesak oleh massa, bahkan di tangga-tangga luar pun penuh dengan khalayak ramai. Dalam kerumunan puluhan ribu orang itu — yang sebagian besar berkumpul karena kebencian terhadap Hazrat Ahmad as — telah naik darah dan gelap mata. Beliau as dengan beberapa sahabat itu berjalan terus melalui kerumunan masa sampai ke tempat imam dalam masjid itu, dan beliau pun duduk disana. Seorang perwira polisi dengan seratus orang pasukannya telah berada di tempat untuk menjaga ketenteraman dan keamanan. Dari antara hadirin banyak pula yang membawa batu untuk melempar Hazrat Ahmad as.

Demikianlah Masih Mau’ud yang sekarang ini, seperti halnya Masih Israili dahulu juga terancam oleh para ulama dan pendeta. Hanya saja Masih Mau’ud as ini bukan disalibkan, melainkan akan dirajam dengan batu-batuan.

Dalam perdebatan itu pihak lawan menderita kekalahan. Tidak ada yang mau memperbincangkan masalah kewafatan Nabi Isa as. Demikian pula Mlv. Nazir Hussein atau orang lainnya tidak berani bersumpah seperti yang dimintakan. Seorang advokat dari Aligarh bernama Khwaja Muhammad Yusuf, telah menerima tulisan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as yang akan dibacakannya di hadapan umum. Tetapi para ulama yang telah menyebarkan fitnah — bahwa Hazrat Ahmad as tidak mempercayai Al-Quran, Hadis dan Junjungan Nabi Muhammad saw — mereka takut bila tipu muslihat dan fitnah mereka itu terbongkar. Maka mereka terus menghasut, supaya masyarakat umum jangan sampai mendengarkan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as yang sebenarnya.

Atas hasutan mereka timbul-lah keributan dan kekacauan besar, sehingga Khwaja Muhammad Yusuf tidak dapat membacakan tulisan itu. Oleh karena keadaan begitu gawat, perwira polisi memberi peringatan untuk  membubarkan pertemuan, dan melarang mengadakan perdebatan pada waktu itu. Polisi mengantar Hazrat Ahmad as sampai ke luar pintu mesjid, dan ketika menunggu kendaraan, banyak orang berkumpul hendak membuat keributan. Lalu beliau as naik kendaraan untuk pulang, dan polisi membubarkan massa yang ada.

Kemudian pada kesempatan lain, masyarakat Delhi memanggil Maulvi Muhammad Bashir dari Bhopal untuk mengadakan perdebatan dengan Hazrat Ahmad as dan pesan perdebatan itu telah dicetak juga. Beberapa hari setelah itu Hazrat Ahmad as kembali ke Qadian. Setelah beberapa bulan, pada tahun 1891 itu juga, beliau as berangkat ke Lahore dan mengadakan suatu perdebatan dengan Maulvi Abdul Hakim Kalanauri. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke Sialkot, lalu terus ke Jallandar dan Ludhiana. Dari sana beliau as kembali ke Qadian.

Perdebatan Dengan Pihak Kristen


Pada tahun 1893 berlangsung perdebatan antara Hazrat Ahmad as dengan Abdullah Atham yang mewakili pihak Kristen. Perdebatan ini diadakan di Amritsar dan berlangsung selama 15 hari, sedangkan hasil perdebatan ini dicetak dalam bentuk buku dengan judul Jangg-e-Muqaddas. Dalam perdebatan ini pihak yang melawan Hazrat Ahmad as mengalami kekalahan seperti perdebatan-perdebatan lainnya.

Perdebatan ini berlangsung secara tertulis. Kedua belah pihak duduk berhadapan satu sama lain dan menulis jawaban-jawabannya. Tulisan-tulisan itu yang kemudian dicetak dalam bentuk buku. Dampaknya, perdebatan tersebut sangat baik dan menyenangkan. Dalam perdebatan itu ternyata kadang-kadang pihak Kristen sama sekali tidak dapat menjawab argumentasi-argumentasi yang dipaparkan oleh Hazrat Ahmad as. Bahkan kadangkala mereka berputar lidah dan merubah pendirian mereka, serta menggunakan kata-kata kasar yang tidak pada tempatnya.

Hazrat Ahmad as telah mengemukakan suatu cara baru dalam ilmu kalam, bahwa tiap pihak harus  mengemukakan pendakwaan dan keterangan-keterangan tentang kebenaran agamanya dari kitab suci masing-masing. Dalam perdebatan itu, terjadi pula suatu kejadian aneh yang menggambarkan keunggulan dan kecerdasan Hazrat Ahmad as. Meski pun hal yang dibahas adalah lain, tetapi untuk menghinakan beliau as pihak Kristen telah mengumpulkan orang-orang buta, pincang dan cacat yang dihadapkan kepada Hazrat Ahmad as.

Pada saat berlangsung perdebatan, mereka mengatakan: “Jika betul Tuan sebagai Isa yang dijanjikan, cobalah Tuan sembuhkan orang-orang yang buta, pincang dan cacat ini. Sebab Isa yang dahulu dapat menyembuhkan  orang-orang sakit semacam ini.”

Permintaan orang-orang Kristen tersebut sangat mengherankan para hadirin. Dan tiap mereka ingin mendengarkan jawaban dari Hazrat Ahmad as. Orang-orang Kristen pun merasa gembira, karena menganggap permintaan tersebut tidak akan dapat dijawab oleh Hazrat Ahmad as. Tetap ketika beliau as menjawab permintaan itu, maka segala kegembiraan mereka lenyap, berobah menjadi kekalahan. Semua orang merasa puas dan memuji jawaban yang jitu dari Hazrat Ahmad as. Beliau as menerangkan :

“Menyembuhkan orang-orang sakit semacam itu, adalah tersebut di dalam Injil. Sedangkan kami tidak mempercayai hal-hal demikian. Menurut pendapat kami, mukjizat Nabi Isa as terjadi di dalam cara dan bentuk yang lain. Injil menyatakan bahwa Nabi Isa as dapat menyembuhkan penyakit-penyakit zahir dalam badan manusia hanya dengan mengusap-usapkan tangan saja, tanpa menggunakan obat-obatan serta doa. Begitu pun dalam Injil dinyatakan bahwa kalau kamu mempunyai iman walau sebesar biji sawi sekali pun, maka kamu akan dapat melakukan pekerjaan yang lebih ajaib dari ini. Orang-orang sakit semacam ini, bukanlah pihak Kristen yang harus menyodorkannya kepada kami. Justru kami lah yang harus menyodorkannya kepada orang-orang Kristen. Maka orang-orang sakit yang telah dikumpulkan ini, kami serahkan kembali kepada pihak Kristen, dengan mengatakan bahwa jika tuan-tuan memiliki keimanan sebedar biji sawi sekali pun, cobalah dengan hanya meletakkan tangan pada mereka sembuhkanlah orang-orang sakit ini. Jikalau orang-orang sakit ini baik dan sembuh, maka kami akan percaya bahwa Tuan-tuan tidak dapat membuktikan dan menyempurnakan pendirian yang kalian paparkan sendiri, maka bagaimana mungkin kami akan dapat meyakini kebenaran Tuan-tuan?”

Jawaban Hazrat Ahmad as ini sangat membingungkan orang-orang Kristen dan mereka tidak dapat menjawab apa-apa lagi, serta mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal lain.

Permohonan Libur Umum Pada Hari Jumat


Tidak berapa lama sesudah itu, Hazrat Ahmad as pergi ke Ferozpur. Pada semua perjalanan ini, di tiap-tiap tempat beliau as selalu disulitkan orang melalui lisan maupun tulisan. Mereka berusaha mencelakakan beliau.

Pada tanggal 1 Januari 1896, Hazrat Ahmad as memulai suatu upaya baru berkaitan dengan shalat Jumat, untuk menjunjung kehormatan serta peraturan Islam. Beliau mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk menetapkan hari Jumat sebagai hari libur. Sayang pada waktu itu di kalangan umat Islam sendiri sudah banyak timbul perselisihan tentang shalat Jumat. Banyak yang menetapkan berbagai macam syarat tentang boleh atau wajib diadakannya shalat Jumat. Bahkan banyak yang sudah tidak mengerjakan shalat Jumat lagi.

Upaya Hazrat Ahmad as menghidupkan kembali shalat Jumat dan agar pemerintah menetapkan Jumat sebagai hari libur, adalah satu tanda kebenaran beliau as yang amat jelas. Sebelum beliau menyampaikan permohonan itu pada pemerintah, para ulama telah menentang dan hendak mengambil alih urusan tersebut. Hazrat Ahmad as bekerja semata-mata demi Allah dan bukan untuk mendapatkan pujian manusia. Tujuan beliau hanya ingin mengkhidmati dan menegakkan agama Allah semata, tidak peduli siapa pun yang menyelesaikannya.

Atas permintaan Maulvi Muhammad Hussein Batalwi, Hazrat Ahmad as mengumumkan bahwa jika Maulvi Muhammad Hussein mau, ia boleh menyelesaikan urusan libur hari Jumat itu. Sangat disayangkan, Maulvi Muhammad Hussein dengan cara demikian telah mengulur-ulur urusan yang baik itu. Namun anjuran beliau as ini adalah anjuran Ilahi, dan pekerjaan baik ini akhirnya dilaksanakan sendiri oleh jemaat belau as.

Konferensi Agama-agama di Lahore


Pada akhir tahun 1896 beberapa orang membentuk sebuah panitia untuk mengadakan konferensi agama-agama di Lahore dan mengundang tokoh-tokoh dari berbagai agama untuk ikut serta dalam konferensi tersebut. Mereka semua menerima undangan itu dengan senang hati. Dalam konferensi itu ditetapkan satu syarat, bahwa tidak boleh seorang pembicara pun menyerang agama lain. Serta dimintakan kepada para wakil dari berbagai agama untuk menguraikan pandangan agamanya tentang kelima perkara di bawah ini:

  1. Keadaan alami, akhlak dan ruhani manusia
  2. Keadaan manusia sesudah mati
  3. Tujuan hidup manusia di dunia ini, dan cara untuk mencapainya
  4. Dampak amal perbuatan manusia di dunia dan di akhirat
  5. Jalan untuk memperoleh ilmu dan makrifat Ilahi

Orang yang merencanakan konferensi ini datang ke Qadian menjumpai Hazrat Ahmad as, dan beliau menyatakan kesetujuan beliau serta berjanji menolong sedapat mungkin. Bahkan dapat dikatakan bahwa sebenarnya Hazrat Ahmad as lah yang telah mencetuskan ide konferensi tersebut. Sebelum mulai merencanakan konferensi itu, orang tersebut pernah datang ke Qadian, dan Hazrat Ahmad as menganjurkan padanya agar menyelenggarakan konferensi semacam itu. Beliau as senantiasa berusaha menyampaikan amanat dan kebenaran yang beliau bawa tersebut ke seluruh dunia, dan beliau as sekali-kali tidak mau mengerjakan suatu pekerjaan hanya untuk pamer atau untuk dipuji saja.

Maka Hazrat Ahmad as menganjurkan kepada orang itu untuk menyelenggarakan konferensi yang dimaksud. Bahkan pengumuman pertamanya dicetak di Qadian. Beliau telah berjanji untuk mempersiapkan sebuah karangan tentang perkara-perkara tersebut pada konferensi itu, serta telah menetapkan seorang murid beliau untuk membantu dalam urusan konferensi tersebut. Ketika Hazrat Ahmad as mulai mempersiapkan naskah untuk konferensi itu, tiba-tiba beliau sakit keras terserang diare. Namun dalam kondisi sakit demikian pun beliau tetap mempersiapkan sebuah karangan. Sewaktu menulis karangan itu lah beliau as menerima ilham dalam bahasa Urdu sebagai berikut:

Inilah karangan yang akan unggul atas karangan lainnya

Oleh karenanya, sebelum peristiwa tersebut Hazrat Ahmad as telah mencetak sebuah selebaran untuk mengumumkan bahwa karangan beliau as akan unggul dari karangan-karangan orang lain.

Konferensi itu diselenggarakan pada tanggal 26, 27, 28 Desember 1896, yang berlangsung di bawah penilikan 6 orang tokoh: 1. Rai Bahadur Pratul Chandra Chatterji, hakim Pengadilan Tinggi Punjab, 2. Khan Bahadur Shaikh Khuda Bakhs, hakim Pengadilan Negeri Lahore, 3. Rai Bahadur Pandit Radha Kishen, pengacara di pengadilan tinggi dan bekas Gubernur Jammu, 4. Hazrat Hakim Maulvi Nuruddin, tabib Maharaja Kashmir, 5. Rai Bahadur Bhavani Darsan, M.A., Settlement Officer, Jhelum, 6. Ardar Jowahar Singh, Sekretaris Khalsa College Committee, Lahore.

Para alim ulama ternama dari masing-masing agama telah mempersiapkan karangan untuk dibacakan dalam konferensi itu. Masyarakat umum memberikan perhatian yang luar biasa terhadap konferensi yang merupakan arena perbandingan agama-agama ini. Tiap-tiap golongan mengharapkan kemenangan bagi utusan mereka. Agama yang tua dan telah memiliki banyak pengikut, lebih kuat dan terjamin di dalam konferensi itu karena pengikutnya banyak yang hadir untuk membela para utusan mereka. Sedangkan Hazrat Ahmad as pada waktu itu baru mempunyai pengikut sekitar 300 orang saja, dan yang hadir dalam konferensi itu tidak lebih dari 58 orang.

Pidato Hazrat Ahmad as ditetapkan pada tanggal 27 Desember 1896, dari jam 13.30 sampai 15.30 sore. Beliau sendiri tidak dapat hadir dalam konferensi itu. Beliau serahkan karangan itu pada seorang murid beliau yang mukhlis, bernama Maulvi Abdul Karim Sialkoti, untuk membacakannya pada konferensi tersebut.

Hadirin mendengarkan karangan beliau as dengan penuh perhatian dan minat yang tinggi. Terpikat sedemikian rupa sehingga semuanya asyik mendengarkannya. Orang-orang terperanjat mendengar bahwa waktu yang ditetapkan untuk pidato Hazrat Ahmad as itu telah habis. Padahal karangan beliau tentang perkara pertama saja belum lagi selesai dibacakan. Maulvi Mubarik Ali Sialkoti yang akan berpidato sesudah giliran Hazrat Ahmad as mengumumkan bahwa waktu yang diisediakan bagi pidatonya dengan tulus hati ia serahkan agar dimanfaatkan untuk pembacaan karangan Hazrat Ahmad as lebih lanjut. Hal itu disambut oleh para hadirin dengan sangat senang dan gembira. Maka Maulvi Abdul Karim pun melanjutkan pembacaan pidato Hazrat Ahmad as itu hingga tiba waktu penutupan acara itu, pukul 16.30 sore. Tetapi perkara pertama pun masih belum selesai dibacakan.

Hadirin mendesak supaya karangan tersebut dibacakan sampai tamat. Oleh karena itu panitia mengumumkan bahwa pidato Hazrat Ahmad as boleh dilanjutkan tanpa dibatasi waktunya. Akhirnya perkara pertama selesai dibacakan pada pukul 17.30 sore. Dengan segera hadirin kembali mendesak agar konferensi diperpanjang satu hari lagi untuk menyelesaikan pembacaan karangan Hazrat Ahmad as. Konferensi itu pun ditambah satu hari lagi sampai tanggal 29 Desember 1896.

Dikarenakan banyak orang yang meminta waktu dipercepat, maka diumumkan bahwa keesokan hari acara akan dimulai pada pukul 09.30 pagi, bukan pukul 10.30, serta pembicara pertama ialah Hazrat Ahmad as juga. Biasanya pada pukul 10.30 pun para hadirin belum pada datang semuanya, tetapi pada hari itu sebelum pukul 09.00 orang sudah berduyun-duyun datang dari masing-masing golongan, dan berkumpul di arena pertemuan tersebut.

Acara dibuka tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Meski pada hari itu pun dua setengah jam diberikan jatah waktu untuk karangan Hazrat Ahmad as, tetap saja karangan itu tidak selesai dibacakan dalam waktu tersebut. Seluruh hadirin dengan sepakat mendesak supaya pembacaan karangan itu terus dilanjutkan. Maka para pemimpin acara pun telah menambah lagi waktu untuk karangan tersebut. Pidato Hazrat Ahmad as selesai dibacakan dalam dua hari, memakan waktu tujuh setengah jam lamanya. Seluruh kota Lahore goncang dan gempar. Semua orang mengakui bahwa karangan Hazrat Ahmad as betul-betul lebih unggul dari karangan lainnya. Para pengikut dari agama-agama lain pun memuji karangan beliau as ini. Orang-orang yang menyusun laporan acara itu menyatakan bahwa ketika pidato beliau itu dibacakan jumlah hadirin mencapai 8.000 orang banyaknya. Boleh dikatakan dengan pidato ini Hazrat Ahmad as mendapat kemenangan yang amat besar.

Musuh-musuh pun terpengaruh oleh kecerdasan dan penjelasan beliau as. Surat-surat kabar dari pihak lawan pun mengakui bahwa dalam konferensi tersebut karangan Hazrat Ahmad as paling unggul atas yang lainnya. Karangan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Teaching of Islam, dan telah disebarluaskan di Eropa, Amerika serta benua lainnya, dengan mendapat sambutan yang memuaskan.

Tantangan Bagi Kaum Kristen


Pada permulaan tahun 1897 Hazrat Ahmad as menantang pihak Kristen untuk menjawab dan menyangkal argumentasi-argumentasi beliau dalam tempo 40 hari. Dan beliau menyediakan hadiah sebesar 1000 Rupee bagi orang yang dapat membuktikan kabar ghaib serta tanda-tanda Nabi Isa Israili as lebih kuat dan lebih tinggi dari pada kabar ghaib dan tanda-tanda yang dimiliki oleh Hazrat Ahmad as. Tidak ada seorang pun yang berani tampil ke muka. Tindakan ini beliau ambil untuk membuktikan keadaan Nabi Isa as yang sebenarnya serta untuk memperbaiki kesalahan akidah kaum Kristen.

Kematian Pandit Lekhram


Pada tanggal 6 Maret 1897 seorang Hindu Ariya bernama Lekhram telah mati terbunuh berdasarkan kabar ghaib yang diterima oleh Hazrat Ahmad as. Kaum Ariya sangat heboh oleh kejadian itu. Banyak orang jahat dari kalangan mereka mulai memberikan kemudaratan pada orang-orang Ahmadi maupun orang Islam lainnya dengan berbagai macam cara, terutama terhadap diri Hazrat Ahmad as. Mereka mencetuskan fitnah besar secara terang-terangan menuduh beliau as sebagai pembunuh. Pihak yang berwajib dengan segea mengadakan penyelidikan dan pengusutan atas diri beliau as.

Namun Allah Ta’ala menggagalkan segala usaha para musuh itu. Mereka berusaha dengan segala cara untuk menyalahkan Hazrat Ahmad as, tetapi tidak berhasil dan beliau as sama sekali bebas dan terlepas dari tuduhan serta fitnah itu.

Kesultanan Turki


Sebuah kejadian penting terjadi pada bulan Mei 1897 yang menjadi suatu tanda dalam riwayat Hazrat Ahmad as Seorang duta dari Kesultanan Turki bernama Hussein Kami, setelah berulang kali mengajukan permohonan, datang ke Qadian untuk menghadap Hazrat Ahmad as.

Dengan firasat yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada beliau as dan juga sesuai dengan ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as mendapat informasi tentang diri orang itu maupun tentang musibah yang bakal menimpa Kesultanan Turki. Duta tersebut telah mengajukan permohonan doa khusus untuk Kesultanan Turki, maka Hazrat Ahmad as terus terang menjelaskan kepadanya bahwa kondisi Sultan Turki serta kerajaannya tidak baik. Dan melalui perantaraan kasyaf Hazrat Ahmad as pun telah menyaksikan keadaan para menterinya yang kurang baik. Maka menurut pendapat beliau as dengan kondisi buruk demikian, akibatnya pun tidak akan baik.

Atas jawaban tersebut, sang duta itu merasa tidak senang dan pulang. Bahkan ia menulis sebuah surat berisi cacian dan kata-kata yang dicetak dalam sebuah surat kabar di Lahore, yang menimbulkan kegoncangan besar di kalangan kaum Muslim di Punjab, India. Tetapi kejadian dan peristiwa-peristiwa selanjutnya telah membuktikan hakikat yang sebenarnya. Dan banyak kabar ghaib tentang hal itu telah menjadi sempurna. Bahkan sang duta itu pun tidak luput dari ancaman yang terkandung dalam ilham yang diterima oleh Hazrat Ahmad as ini:

Aku akan menghinakan orang yang bermaksud menghinakan engkau.

Kemudian dia ditangkap karena suatu kesalahan besar dan mendapat hukuman pula. Bahkan surat kabar yang memuat dan membantu menyiarkan keterangan-keterangan itu pun luput dari hukuman, dan kondisi Kesultanan Turki yang tidak baik telah terbuka di mata dunia.

Dr. Henry Martin Clark


Pada tanggal 1 Agustus 1897 seorang pendeta bernama Martin Clark telah membuat sebuah tuduhan palsu dan memperkarakan Hazrat Ahmad as ke pengadilan yang dikepalai oleh A.E. Martineu, hakim Pengadilan Negeri Distrik Amritsar. Tuduhannya adalah, Hazrat Ahmad as telah mengirim seorang bernama Abdul Hamid untuk membunuh kepala pendeta itu. Kepala daerah Amritsar pun pertama-tama mengeluarkan surat perintah untuk menangkap dan mengambil Hazrat Ahmad as.

Tetapi kemudian ia mengetahui bahwa hal itu diluar kekuasannya, sebab Hazrat Ahmad tinggal di distrik lain. Maka perkara tersebut kemudian dilaihkan ke Kepala Pengadilan Distrik Gurdaspur, bernama M.W. Douglas, yang saat ini berada di England. Dia hadapan hakim ini pun Abdul Hamid menguatkan pengakuannya bahwa ia telah diperintahkan oleh Hazrat Ahmad as untuk membunuh pendeta Martin Clark dengan cara melemparkan batu besar kepadanya.

Tetapi dalam pengakuannya dihadapan hakim di Amritsar bertentangan dengan pengakuan yang ia sampaikan di hadapan hakim di Gurdaspur. Karena itu, hakim M.W. Douglas meragukannya, dan mulai mengadakan penyelidikan intensif dan cermat. Dengan empat kali panggilan, dalam tempo 27 hari saja ia telah memutuskan perkara ini. Meski pun pihak kedua adalah golongan Kristen, namun dengan tidak berat sebelah hakim tersebut telah memberikan keputusan yang benar dan membebaskan Hazrat Ahmad as untuk mengajukan tuntutan terhadap pihak lawan beliau itu, tetapi beliau as telah memaafkan dan tidak mempermasalahkan perkara itu lagi. Hakim M.W. Douglas di dalam keputusannya menuliskan:

Kami menganggap pengakuan (Abdul Hamid) bertentangan dengan akal, sebab yang diterangkannya di depan kami berbeda dari yang ia terangkan di hadapan kepala pengadilan Amritsar. Demikian gerak-geriknya sangat meragukan. Dan kami menyaksikan satu hal yang paling ganjil dalam pengakuannya, bahwa selama ia tinggal bersama para petugas Kristen di Batala, pengakuan-pengakuannya pun senantiasa bertambah. Ia memberikan pengakuannya pada tanggal 12 Agustus 1897 dan 13 Agustus 1897. Tetapi pada pengakuan hari kedua banyak hal-hal yang tidak ia paparkan pada hari pertama. Hal ini menimbulkan prasangka dalam hati, bahwa mungkin ada yang mengajarinya untuk berkata demikian atau mungkin dia mengetahui banyak hal namun tidak mau memaparkannya. Oleh sebab itu kami mintakan kepada pejabat polisi supaya orang itu diambil dari tempat para pendeta Kristen dan dia harus tinggal dibawah pengawasan polisi untuk didengarkan lagi pengakuannya yang benar. Pihak polisi pun mengambilnya dari tempat orang Kristen itu dan meminta lagi keterangan darinya. Tanpa ada perjanjian apa-apa lantas orang itu berlutut dan sambil menangis mengatakan: ‘Saya telah dipaksa dengan berbagai macam ancaman untuk mengatakan segala tuduhan dan keterangan-keterangan yang dusta itu. Dan sebenarnya apa yang telah saya katakan untuk menentang Mirza Ghulam Ahmad, semua itu adalah rekayasa dan perintah orang-orang Kristen yang bernama Abdul Rahim Warisuddin dan Prim Das.

Mirza Ghulam Ahmad tidak memerintahkan apa-apa pada saya. Dan saya pun tidak punya hubungan apa-apa dengan beliau. Hal-hal yang tampaknya sulit pada pengakuan saya di hari tertentu, maka orang-orang itu itu mengajarkan lebih lanjut tentang hal-hal tersebut untuk dapat saya utarakan pada hari berikutnya. Apa yang telah saya terangkan tentang seorang murid Mirza Ghulam Ahmad, bahwa sesudah pembunuhan tersebut dia akan memberikan perlidungan pada saya, sebetulnya saya sama sekali tidak mengenalnya, bahkan tidak pernah mendengan namanya. Merekalah yang telah memberikan nama serta alamat orang itu pada saya, dan supaya tidak lupa, namanya dituliskan di telapak tangan saya sehingga dapat terlihat pada waktu memberikan pengakuan.”

Kemudian dia menerangkan lagi: “Waktu pertama kali saya memberikan keterangan di pengadilan untuk melawan Mirza Ghulam Ahmad, orang-orang Kristen itu mengatakan dengan sangat gembira: ‘Kini cita-cita kami telah terwujud. Sekarang kami dapat mencelakakan Mirza Ghulam Ahmad.” Setelah menulis segala keterangan yang itu, Kepala Pengadilan tersebut pun membebaskan Hazrat Ahmad as.

Musuh-musuh Hazrat Ahmad as sangat gembira beliau diseret ke pengadilan. Bahkan ada seorang advokat dari golongan Ariya yang ikut membela perkara tersebut di pihak Kristen secara cuma-cuma. Demikian pula ada seorang ulama Islam yang datang memberi kesaksian memberatkan Hazrat Ahmad as. Boleh dikatakan orang-orang Kristen, Hindu dan beberapa orang Islam sekaligus menyerang beliau as. Dan mereka menggunakan berbagai cara yang tidak dibenarkan oleh agama demi mewujudkan hawa nafsu mereka. Tetapi Allah Ta’ala telah memberikan keberanian dan kecakapan kepada hakim M.W. Douglas lebih daripada yang diimiliki oleh Pilatus (di masa Nabi Isa Israili as) dahulu. Dalam setiap langkahnya dia memegang teguh kejujuran. Ia tidak mencuci tangan dan menyerahkan Masih Mau’ud as ke tangan para musuh beliau. Bahkan ia membebaskan beliau dari segala tuduhan. Demikianlah hakim itu telah menyatakan ketinggian Kerajaan Inggris lebih dari Kerajaan Romawi zaman dahulu itu.

Tawaran Damai Kepada Para Ulama Islam


Pada hari-hari itu Hazrat Ahmad as menerbitkan sebuah selebaran dengan judul Ashshuluh Khair. Selebaran ini ditujukan kepada para ulama Islam dimana beliau mengemukakan supaya dalam tempo sepuluh tahun para ulama itu tidak menentang dan menghalangi beliau dulu dan agar membiarkan beliau menghadapi musuh-musuh Islam terlebih dahulu. Hazrat Ahmad as menjelaskan :

“Sekiranya saya seorang pendusta, penipu, niscaya saya akan binasa dalam tempo tersebut. Dan jika saya benar, maka kalian pun akan terpelihara dari sikasan yang akan diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk mereka yang melawan orang yang benar.”

Tetapi sayang, para ulama itu tidak menyambut permohonan beliau tersebut, dan daripada melawan para musuh Islam ternyata mereka lebih suka melawan seorang pembela Islam.

Pada bulan Oktober 1897 Hazrat Ahmad as pergi ke Multan sebagai saksi dalam sebuah perkara. Ketika kembali beliau singgah dulu di Lahore untuk beberapa hari lamanya. Di setiap jalan dan gang yang beliau lalui, orang-orang berkumpul mencaci-maki dan menghina beliau as dengan kata-kata yang sangat kotor.

Pada waktu itu saya (Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad –pen) baru berumur 8 tahun, dan saya pun ikut serta dalam perjalanan itu. Saya belum dapat mengerti ketika itu, mengapa orang-orang memusuhi dan menghina beliau as. Hal itu sangat mengherankan saya. Saya masih ingat, saat itu di tangga Masjid Wajir Khan ada seseorang yang tangannya buntung sebelah. Bahkan bekas potongan atau lukanya masih baru dan dibalut kain perca. Ia pun ikut dengan orang-orang ramai serta bersuit dan bertepuk tangan dengan menepuk tangan yang buntung itu ke tangan yang lain sambil berteriak-teriak mengatakan, ” Mirza sudah lari… Mirza sudah lari!”

Pemandangan tersebut sangat mengherankan hati saya, dan agak lama saya mengeluarkan kepala (dari kendaraan) untuk melihat orang itu. Dari Lahore kemudian Hazrat Ahmad as terus kembali ke Qadian. Pada tahun itu juga berjangkit wabah pes di Punjab. Semua golongan agama pada waktu itu sangat menentang cara-cara yang ditempuh pemerintah untuk membasmi wabah tersebut. Tetapi Hazrat Ahmad as justru menyetujui cara-cara itu dan menganjurkan agar para pengikut beliau jangan ragu-ragu menggunakan cara-cara itu, sebab Islam menganjurkan menjaga kesehatan.

Demikianlah Hazrat Ahmad as telah berjasa menegakkan ketenteraman publik. Karena, secara umum tersiar kabar bahwa pemerintah sendirilah yang telah menyebarkan wabah pes tersebut, sedangkan cara-cara yang dikatakan dapat membasmi wabah, sebenarnya itulah yang menyebabkan tersebarnya penyakit tersebut, dan bertentangan dengan agama Islam. Maka para ulama pun memberi fatwa tegas, bahwa pada masa wabah pes berjangkit orang-orang sama sekali tidak dibenarkan keluar rumah. Fatwa ini pun telah menyebabkan kematian beribu-ribu orang yang tidak tahu apa-apa. Obat pembasmi tikus mereka anggap sebagai bibit penyakit pes. Perangkap-perangkap tikus pun mereka tolak dan mereka cemoohkan.

Pendek kata pada waktu itu kekacauan merajalela dan di beberapa tempat para pembesar negeri diserang oleh rakyat. Dalam keadaan demikian, anjuran dan seruan Hazrat Ahmad as serta contoh dan amal yang ditampilkan oleh Jemaat beliau telah memberi inspirasi kepada orang-orang lain juga. Beliau as menerangkan kepada orang-orang Islam bahwa menurut agama Islam, dalam musim wabah pes, keluar dari rumah atau tinggal jauh dari kota, tidaklah dilarang. Yang dilarang adalah, pada musim wabah pes pergi dari suatu kota (yang telah terjangkit wabah pes tersebut) ke kota lain. Karena hal itu akan menjangkitkan wabah pes tersebut ke kota lainnya.

Menjawab Serangan Yang Ditujukan Kepada Islam


Pada tahun 1898, seorang Kristen yang asalnya murtad dari Islam, telah menerbitkan sebuah buku yang sangat kotor menghina serta menimbulkan kemarahan dan pergolakan yang sangat hebat di kalangan orang-orang Islam. Hazrat Ahmad as pun menganggap bahwa hal itu akan menggoyahkan keamanan dalam negeri. Sebuah perkumpulan Islam di Lahore mengajukan suatu permohonan kepada pemerintah, supaya buku tersebut disita kesemuanya. Hazrat Ahmad as menyarankan kepada mereka bahwa permintaan semacam itu tidak akan begitu bermanfaat, dan lebih baik diterbitkan sebuah jawaban yang jitu dan tepat terhadap buku itu. Namun perkumpulan tersebut tidak mengindahkan saran beliau as dan akhirnya maksud mereka pun tidak berhasil — seperti yang telah beliau as sampaikan pada mereka. Hazrat Ahmad as tidak menyetujui permohonan mereka itu, karena dengan dikabulkanya permintaan tersebut berarti terbukti kelemahan Islam. Beliau as lebih setuju untuk menjawab buku itu.

Pemerintah pun lebih menghargai permintaan beliau ini. Demikanlah beliau as telah memelihara hak-hak orang Islam, untuk menablighkan Islam dan menjawab segala tuduhan pihak lain terhadap Islam.

Tabligh Kepada Para Pejabat Pemerintah


Pada tahun itu juga Hazrat Ahmad as mengundang pemerintah menyaksikan tanda-tanda beliau as. Sebenarnya dengan jalan demikian beliau berniat hendak menablighi para pembesar dan pejabat-pejabat pemerintah, dan beliau as berhasil juga dengan baik.

Mendirikan Sekolah


Pada tahun 1898, Hazrat Ahmad as mendirikan sebuah sekolah untuk pendidikan anak-anak Ahmadi dari berbagai tempat, agar mereka terpelihara dari pengaruh buruk yang ada di tempat-tempat lain. Pada awalnya sekolah ini dimulai sebagai sekolah dasar, tetapi setiap tahun maju terus sehingga pada tahun 1903 telah menjadi sekolah lanjutan pertama (Kini telah menjadi sekolah lanjutan atas serta perguruan tinggi).

Diperkarakan Kembali


Pada tahun 1899 para penantang Hazrat Ahmad as kembali memperkarakan beliau as dengan tuduhan mengacau keamanan. Tetapi dalam perkara ini pun para musuh beliau menderita kekalahan yang hina, dan beliau as memperoleh kemenangan yang gemilang.

Tantangan Untuk Bishop Lahore


Pada tahun 1900, Hazrat Ahmadas memenuhi pertablighan kepada para penganut agama Kristen dengan mengundang Bishop Lahore untuk meminta keputusan Ilahi agar tampak siapa yang benar. Walau pun hal ini dibantu pula oleh surat-surat kabar yang terkenal, namun Bishop tersebut tidak berani tampil menghadapi beliau as.

Pernyataan Sebagai Ahmadi Muslim


Pada tahun 1901, akan diadakan sensus penduduk di seluruh India. Maka Hazrat Ahmad as menerbitkan sebuah pengumuman kepada seluruh pengikut beliau untuk mencatatkan diri dalam sensus tersebut sebagai Ahmadi Muslim. Yakni, pada tahun itulah Hazrat Ahmad as telah menetapkan nama Ahmadi bagi para pengikut beliau as, untuk membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya.

Memperkarakan Pihak Keluarga Yang Menentang


Ada beberapa orang dari keluarga Hazrat Ahmad as yang tidak senang kepada beliau. Untuk menyusahkan beliau as mereka telah sengaja mendirikan sebuah dinding di hadapan Mesjid Mubarak, Qadian. Sehingga beliau dan para pengikut beliau yang biasa shalat di mesjid itu terpaksa harus berputar jauh untuk masuk ke dalam mesjid. Dan hal ini sangat menyusahkan hati. Hazrat Ahmad as telah berusaha dengan berbagai cara untuk memecahkan permasalahan itu, namun mereka tetap tidak memperkenankan juga. Sehingga terpaksa pada bulan Juli 1901 Hazrat Ahmad as mengajukan perkara ini ke pengadilan.

Pada bulan Agustus 1901 perkara itu diputuskan dengan kemenangan di pihak Hazrat Ahmad as maka dinding itu pun diruntuhkan kembali. Dan segala biaya serta kerugian dibebankan pada pihak lawan, akan tetapi hal itu telah dimaafkan semuanya oleh beliau as.

Penerbitan Majalah Review of Religions


Pada tahun 1902, Hazrat Ahmad as menerbitkan sebuah majalah bulanan untuk pertablighan kepada orang-orang Eropa, yang hingga sekarang masih berjalan, dengan nama Review of Religions. Terbit dalam dua bahasa, Inggris dan Urdu. Majalah ini menyiarkan tabligh Islam ke Eropa dan Amerika, dengan jalan yang sebaik-baiknya. Para musuh pun memuji karangan-karangan yang sangat bermutu di dalamnya. Pada masa permulaan, Hazrat Ahmad as sendiri sering memuat karangan-karangan beliau di majalah tersebut, dari bahasa Urdu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karangan-karangan beliau sangat menarik para pembaca. Dan karena karangan-karangan itu lah dalam tempo satu tahun saja majalah Review of Religions telah terkenal dimana-mana.

Khutbah Ilhamiyah


Pada tahun 1902 itu juga, dalam kesempatan hari raya Idul Adha, Hazrat Ahmad as telah menyampaikan khutbah yang langsung berisikan ilham-ilham Ilahi dalam bahasa Arab yang sangat fasih. Sewaktu berpidato itu keadaan beliau sangat lain. Wajah beliau menjadi merah dan memancarkan cahaya serta kegagahan. Tampak seolah-olah beliau as berada dalam keadaan bawah sadar. Khutbah itu sangat halus dan bahasanya juga sangat bagus, sehingga banyak orang yang pandai bahasa Arab pun tidak sanggup mengarang yang demikian. Apalagi isinya pun mengandung hikmah serta rahasia-rahasia yang menakjubkan akal pikiran manusia. Khutbah ini seluruhnya di dalam bahasa Arab, dan telah dicetak dalam bentuk buku yang berjudul Khutbah Ilhamiyah.

Pelajaran Bahasa Arab


Pada masa-masa itu juga, Hazrat Ahmad as telah mengemukakan sebuah rencana untuk mengajarkan bahasa Arab kepada warga Jemaat Ahmadiyah. Yakni tiap-tiap orang harus menghafalkan beberapa kalimat bahasa Arab yang fasih dan mudah serta lazim dipakai dalam percakapan sehari-hari. Dengan demikian, orang-orang akan lekas dapat mempelajari bahasa Arab. Beberapa kali pelajaran semacam itu telah diterbitkan, namun kemudian karena banyaknya pekerjaan, pelajaran itu terhenti.

Contoh dan cara yang dimaksudkan oleh Hazrat Ahmad as ini dapat dipakai oleh Jemaat untuk maju dalam pelajaran bahasa Arab. Beliau as sangat menghendaki agar orang-orang Islam di negerinya masing-masing, selain menguasai bahasa setempat, seharusnya juga menguasai bahasa Arab seperti bahasanya sendiri. Laki-laki dan perempuan semua harus belajar bahasa Arab, supaya keturunan yang akan datang tidak akan sulit mempelajari bahasa Arab itu. Anak-anak pun sejak kecil, selain bahasa negerinya, haruslah diajari bahasa Arab juga. Inilah suatu hal penting yang harus disempurnakan untuk menegakkan agama Islam dengan benar dan kuat.

Suatu kaum yang tidak mengetahui bahasa agamanya, tentulah tidak akan dapat memahami agamanya dengan benar. Suatu kaum yang tidak memahami agamanya sendiri, niscaya tidak akan dapat menjaga diri dari serangan agama lain. Suatu bangsa yang hanya mengenal terjemahan kitab agamanya, niscaya tidak akan dapat mempelajari agamanya dengan sempurna. dan kitab agamanya pun akan rusak. Karena terjemahan itu maka lambat laun orang-orang akan lalai membaca bahasa asli kitab tersebut. Memang, terjemahan itu tidak dapat dikatakan benar seperti kitab aslinya, maka akhirnya, lambat laun golongan itu akan tersesat dari tujuan agamanya. Jemaat Ahmadiyah berupaya pula untuk menyempurnakan keinginan Hazrat Ahmad as tersebut, dan insya Allah akan berhasil.

Minaratul Masih


Pada tahun 1902 itu juga, Hazrat Ahmad as telah menanamkan batu fondasi untuk mendirikan sebuah menara guna menyempurnakan secara zahir sebuah kabar ghaib (dari Rasulullah saw), bahwa Masih Mau’ud akan turun di atas sebuah menera putih di sebelah timur Damaskus.

Memang yang dimaksud oleh kabar ghaib itu sebenarnya adalah: Masih Mau’ud akan datang membawa keterangan-keterangan yang jelas dan tanda-tanda nyata, serta kegagahannya akan tampak ke seluruh dunia, dan beliau akan memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang. Menurut ilmu ta’bir ru’ya, menara berarti keterangan-keterangan yang tidak dapat dibantah oleh manusia. Berada di tempat tinggi yang dapat disaksikan oleh manusia. Menuju ke jurusan Timur berarti akan memperoleh kemajuan yang tidak dapat dihalangi oleh siapa pun juga.

Perjalanan ke Jhelum


Pada akhir tahun 1902, seorang bernama Karam Din memperkarakan Hz. Masih Mau’ud di Jhelum dengan tuduhan bahwa beliau berencana untuk membinasakan orang itu. Maka pengadilan negeri Jhelum memanggil belaiu as.. Untuk itu pada bulan Januari 1903, Hazrat Ahmad as berangkat ke Jhelum. Perjalanan ini menjadi salah satu tanda

mulainya kemajuan beliau as..

Meski pun Hazrat Ahmad as. pergi hanya untuk menjawab tuduhan dan fitnah yang dilemparkan kepada beliau itu, tetapi masyarakat telah ramai yang datang untuk menjumpai beliau dalam jumlah besar. Ketika Hazrat Ahmad as. tiba di stasiun Jhelum, orang-orang yang menjemput dan menjenguk sedemikian rupa banyaknya sehingga ruangan stasiun itu penuh sesak oleh massa. Bahkan sampai bagian luar stasiun, di jalan-jalan besar, sampai jauh, penuh oleh orang-orang. Dan kendaraan pun sukar bergerak. Para pejabat pihak yang berwajib telah mengambil tindakan-tindakan khusus untuk mengatur massa yang begitu ramainya.

Ghulam Heydar, wedana Jhelum ditetapkan untuk menyertai Hazrat Ahmad as. supaya kendaraan dapat bergerak. Ribuan orang dari kampung-kampung telah datang untuk melihat dan menyaksikan kedatangan beliau as.. Sekitar seribu orang telah bai’at kepada Hazrat Ahmad as. pada saat itu. Ruang pengadilan dan lapangan di luar pun betul-betul sesak oleh orang-orang yang mengikuti jalannya perkara itu. Sampai pihak yang berwajib kewalahan mengatur masaa yang demikian banyaknya. Dalam pemeriksaan pertama saja, Hazrat Ahmad as. telah dibebaskan. Maka dengan selamat sejahtera, beliau as. kembali ke Qadian.

Kemajuan Yang Pesat


Pada tahun 1903 Jemaat Ahmadiyah mulai mengalami kemajuan yang luar biasa. Kadang-kadang dalam satu hari saja sekitar 500 orang baiat kepada Hazrat Ahmad as. Sedangkan pengikut beliau sudah ratusan ribu banyaknya. Orang-orang dari segala lapisan mulai baiat kepada beliau. Jemaat Ahmadiyah mulai maju dengan sangat cepat dan pesat, dari kawasan Punjab sampai ke daerah-daerah lainnya. Dan kemudian mulai tersebar ke benua-benua lain.

Mati Syahidnya Syahzada Abdul Lathief


Pada tahun 1903 itu juga, Jemaat Ahmadiyah mengalami kejadian yang sangat menyedihkan. Seorang Ahmadi terpandang dan terhormat di Kabul, Afghanistan — Syahzada Abdul Lathief — telah dirajam dengan batu sampai beliau syahid hanya karena perbedaan paham masalah agama saja.

Perkara Pengadilan di Gurdaspur


Perkara-perkara yang ditimbulkan oleh Karam Din di Jhelum pada zahirnya telah selesai dan ditutup. Tetapi tidak lama kemudian Karam Din kembali memperkarakan Hazrat Ahmad as dengan tuduhan-tuduhan palsu seperti dahulu, di pengadilan negeri Gurdaspur. Perkara ini menjadi sangat panjang, sampai-sampai hakim pengadilan itu telah pindah digantikan dengan yang baru. Hari-hari pemeriksaan pun ditetapkan cepat-cepat, sehingga untuk sementara waktu beliau as terpaksa harus menetap di Gurdaspur.

Perkara ini diperpanjang dengan tidak semestinya. Padahal yang hanyalah beberapa perkara saja. Karam Din telah berdusta tentang Hazrat Ahmad as oleh karena itu di dalam sebuah buku beliau as telah menyebut orang ini sebagai kadzab dalam bahasa Arab, yang bertarti pendusta atau pendusta besar. Demikian pula beliau menggunakan kata la’iyn dalam bahasa Arab yang artinya terkutuk, atau kadang-kadang digunakan juga dalam arti haramzadah.

Karam Din mengemukakan bahwa ia dituduh pendusta dan haramzadah, padahal yang dikemukakan oleh Hazrat Ahmad hanyalah berupa kedustaan yang memang telah dilakukan oleh orang itu sendiri. Pengadilan pun mulai mengusut perkataan tersebut. Hal itu semakin berlarut-larut, yang mengakibatkan perkara ini berlangsung sampai dua tahun lamanya.

Walau perkara ini masih dalam pengusutan, telah tersiar di surat kabar bahwa rekan-rekan seagama sang hakim  pengadilan itu telah mendesaknya untuk menghukum Hazrat Ahmad as — walau satu hari sekali pun. Para pengikut Hazrat Ahmad as sangat gelisah mendengar kabar tersebut dan segera menyampaikannya dengan rasa haru kepada beliau as. Mendengar kabar itu, Hazrat Ahmad as dengan wajah merah dan lantang menjawab:

“Apakah dia mau menyerang singa Allah? Jika dia berani berbuat demikian, niscaya dia akan menanggung akibatnya!”

Terlepas dari benar tidaknya berita tersebut, tetapi pada masa-masa itu juga hakim tersebut telah dipindahkan ke tempat lain. Kekuasaannya dikurangi, bahkan tidak lama sesudah itu pangkatnya pun diturunkan.

Perkara itu kemudian diserahkan kepada hakim lain, dan ia pun mengulur-ulur perkara itu tanpa seperlunya. Biasanya Hazrat Ahmad as mendapat kursi tempat duduk di pengadilan, tetapi hakim ini tidak memberikan kursi bagi beliau as padahal beliau dalam keadaan sakit. Bahkan beliau tidak diperkenankan minum ketika beliau benar-benar haus. Akhirnya setelah pemeriksaan yang begitu panjang, Hazrat Ahmad as didenda 200 rupis.

Tetapi keputusan itu ditinjau kembali di pengadilan oleh Mr. Hetry di Amritsar. Setelah mempelajari perkara tersebut, Mr. Hetry menyatakan keheranannya, mengapa perkara yang begitu sederhana diperpanjang sampai berlarut-larut demikian lamanya? Mr. Hetry mengatakan :

“Saya dapat menyelesaikan perkara ini dalam satu hari saja. Dan Karam Din memang patut disebut dengan perkataan yang lebih keras dari apa yang telah dikatakan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan pengusutan yang demikian panjang itu memang tidak pada tempatnya.”

Dalam waktu dua jam saja hakim Mr. Hetry ini telah membebaskan Hazrat Ahmad as dan membatalkan seluruh denda itu. Demikianlah, untuk kedua kalinya seorang hakim bangsa Eropa telah membuktikan dengan amal-amalnya bahwa Allah Ta’ala suka menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada orang-orang yang memang dianggap ahli untuknya. Perkara tersebut diputuskan pada bulan Januari 1905. Maka wahyu Allah Ta’ala yang turun kepada Hazrat Ahmad as beberapa tahun sebelumnya — tentang hasil perkara itu — telah menjadi sempurna.

Pidato Lahore


Selama dalam perkara yang berlarut-larut di Gurdaspur, Hazrat ahmad as pernah melakukan perjalanan penting. Pertama pada bulan Agustus 1904, beliau as pergi ke Lahore untuk 15 hari lamanya. Orang datang berduyun-duyun untuk menjenguk beliau as. Setiap hari di dekat tempat tinggal beliau, orang-orang pada berkumpul ramai. Para musuh beliau pun datang untuk membuat keributan dan mencaci maki beliau. Ada seseorang yang lolos menembus dan masuk ke dalam rumah, sehingga terpaksa dikeluarkan dengan cara kekerasan.

Atas permintaan saudara-saudara di Lahore, Hazrat Ahmad as menyusun sebuah pidato yang kemudian dicetak dalam bentuk buku. Pidato ini dibacakan oleh Hazrat Maulvi Abdul Karim Sialkoti dalam sebuah pertemuan besar yang dihadiri oleh sekitar 8000 orang. Hazrat Ahmad as sendiri hadiir pada acara itu. Setelah selesai dibacakan, hadirin minta supaya beliau as juga menyampaikan beberapa ucapan dari mulut suci beliau sendiri. Oleh karena itu Hazrat Ahmad as berdiri dan berbicara dengan ringkas selama setengah jam.

Pengalaman yang berulang-ulang telah menyatakan bahwa di setiap tempat yang beliau as kunjungi, orang-orang dari berbagai agama — terutama dari kalangan yang menamakan diri sebagai Muslim — bangkit untuk melawan dan memperlihatkan kebencian mereka pada Hazrat Ahmad as. Maka para pejabat polisi telah mengatur dengan sebaik-baiknya. Polisi pribumi maupun polisi Eropa dengan senjata lengkap telah mengawal acara itu. Pejabat Polisi telah mendapat kabar terlebih dahulu bahwa beberapa orang yang tidak bertanggung jawab telah berkumpul di luar tempat pertemuan, sengaja untuk menimbulkan keributan. Maka polisi pun telah mengatur kepulangan beliau secara khusus dengan selamat. Di bawah pengawalan yang ketat, di depan dan di belakang serta di tengah-tengah kendaraan, Hazrat Ahmad as pulang ke tempat beliau menetap. Orang-orang berniat jahat itu tidak berhasil melaksanakan apa yang mereka rencanakan. Dari sana Hazrat Ahmad as kembali lagi ke Gurdaspur.

Pidato Sialkot


Pada akhir Oktober 1904, Hazrat Ahmad as. mendapat sedikit kelonggaran dari urusan perkara di Gurdaspur untuk pulang ke Qadian. Pada tanggal 27 Oktober 1904, beliau berangkat ke Sialkot atas permintaan saudara-saudara Ahmadi disana. Mereka mengemukakan bahwa dahulu ketika masih muda beliau pernah beberapa tahun tinggal di Sialkot, maka sekarang pun setelah mendapat kemajuan yang begitu mulia, beliau dimohon mengunjungi tempat itu untuk memberkatinya.

Perjalanan ini pun membuktikan kemenangan Hazrat Ahmad as.. Di setiap stasiun, luar biasa banyaknya orang yang berkumpul untuk menjumpai beliau. Begitu banyaknya masa sehingga begitu sulit dikendalikan oleh petugas stasiun. Di stasiun Lahore karcis masuk ke stasiun habis sama sekali, dan terpaksa kepala stasiun mengizinkan orang-orang masuk tanpa karcis.

Ketika Hazrat Ahmad as. tiba di Sialkot, mulai dari stasiun sampai ke tempat penginapan beliau, lebih satu pal panjangnya penuh sesak oleh khalayak ramai yang ingin menyaksikan kedatangan beliau as.. Kereta api tiba di stasiun hampir malam, dan karena banyaknya penumpang yang mencari kendaraan untuk pergi ke tempat masingmasing, maka beliau as. terlambat. Dan kendaraan beliau aas. baru jalan sedikit, malam sudah gelap betul. Karena banyaknya orang dan kegelapan malam — dikhawatirkan ada yang dapat tergilas roda kendaraan — maka polsi mengambil tindakan penertiban yang perlu, untuk melapangkan jalan agar kendaraan beliau as. dapat berjalan dengan lancar.

Seorang hartawan dari Sialkot disertai seorang jaksa ditetapkan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut, dan mereka mengatur jalan-jalan dengan susah payah. Kendaraan-kendaraan pun jalan dengan sangat perlahan, dan jendela-jendelanya dibiarkan terbuka. Jalanan di kiri kanan penuh oleh manusia, dan banyak pula yang tidak dapat tempat berdiri sehingga terpaksa naik ke atap-atap rumah dan jendela.

Orang-orang Hindu dan Muslim menunggu-nunggu kedatangan Hazrat Ahmad as. Dengan menyalakan lampu-lampu malam itu. Banyak yang menggunakan obor besar untuk melihat wajah beliau as.. Dan ada pula yang menaburkan bunga kepada beliau as..

Di Sialkot, Hazrat Ahmad as tinggal selama 5 hari. Dan selain tabligh kepada orangorang yang datang menjumpai beliau di rumah, beliau as. mengadakan pidato dalampertemuan terbuka. Ketika berita tentang pidato tersebut disiarkan, maka para ulama diSialkot pun berusaha keras agar masyarakat menambahkan fatwa:  barangsiapa mendengarkan pidato beliau as. maka nikahnya akan batal.

Para ulama itu tidak berhenti sampai disitu saja, malah mereka mengumumkan akan menyelenggarakan ceramah-ceramah tandingan dari beberapa ulama di depan bangunan tempat Hazrat Ahmad as. akan menyampaikan pidato beliau as. dan tertahan di luar saja. Selain itu ditugaskan pula beberapa orang dipintu-pintu tempat rapat itu untuk melarang orang-orang masuk dan menjelaskan bahwa mendengarkan pidato Hazrat Ahmad as. adalah dosa.

Memang ada yang benar-benar dipaksa agar pergi ke tempat para ulama itu berpidato. Meskipun demikian, ketika mendengar kabar Hazrat Ahmad as. telah tiba di tempat yang telah ditentukan, maka banyak orang yang lari meninggalkan pidato para ulama tersebut, lalu masuk mendengarkan pidato yang disampaikan oleh Hazrat Ahmad as. sehingga para pegawai pemerintah yang pada hari itu tidak cuti sekali pun, telah merasa perlu menghadiri pidato beliau as. atas kemauan mereka sendiri.

Pidato Hazrat Ahmad as. tersebut telah dicetak dalam bentuk buku dan dibacakan oleh Hz. Mlv. Abdul Karim Sialkoti. Ada juga beberapa orang yang hendak menimbulkan keributan ketika pidato dibacakan, tetapi seorang pejabat polisi Eropa dapat mengendalikan mereka dengan bijaksana. Pejabat itu menjelaskan:

“Orang-orang Islam tidak perlu gelisah atau gusar atas pidato Mirza Ghulam Ahmad. Karena, pidato ini adalah untuk membela agama Islam serta untuk memuliakan Nabi Muhammad. Justru orang-orang Kristen lah yang berhak untuk merah dan gusar hati, karena pidato-pidato Mirza Ghulam Ahmad ini menyatakan bahwa Tuhan orang Kristen (Jesus) telah wafat.”

Pendeknya, karena kecakapan polisi, tidak ada keributan maupun huru-hara yang timbul. Satu hal yang istimewa dalam pidato ini adalah, pertama kali Hazrat Ahmad as.menyatakan diri sebagai Khrisna untuk menyempurnakan keterangan-keterangan bagi orang-orang Hindu.

Sesudah pidato itu, ketika Hazrat Ahmad as. menuju ke tempat tinggal beliau as., ada beberapa orang yang hendak melemparkan batu. Tetapi kejadian itu pun dapat dicegah oleh poliisi. Begitu pula pada hari kedua, ketika beliau as. berangkat pulang dari Sialkot, karena upaya polisi, tidak ada kejadian yang buruk. Orang-orang yang ingin memudaratkan beliau as. tidak mendapat kesempatan. Lalu beberapa orang dari mereka pergi ke pinggir kota di tepi rel kereta api, dan melempari kereta api itu dengan batu. Tetapi selain beberapa kaca yang pecah, tidak ada seorang pun yang terluka.

Maulvi Abul Karim Sialkoti Wafat dan Pendidikan Ulama

Seorang murid mukhlis Hazrat Ahmad as bernama Maulvi Abdul Karim Siialkoti — yang selalu membacakan pidato beliau as pada beberapa acara besar — setelah lama sakit, wafat pada tanggal 11 Oktober 1905. Hazrat Ahmad as memberi anjuran untuk membuka sebuah lembaga pendidikan berbahasa Arab di Qadian untuk mempersiapkan orang-orang yang pandai dan alim dalam agama Islam. Sehingga para alim ulama yang wafat dapat digantikan oleh mereka.

Perjalanan ke Delhi


Beberapa hari setelah wafatnya Maulvi Abdul Karim Sialkoti ra, Hazrat Ahmad as berangkat ke Delhi untuk 15 hari lamanya. Delhi pada kali ini tidaklah seperti Delhi 15 tahun lalu yang kacau, namun tidak pula kosong dari keributan atas kedatangan beliau as. Selama 15 hari di Delhi itu, beliau as tidak mengadakan pidato di hadapan umum di tempat terbuka. Tetapi di rumah tempat beliau menetap, hampir setiap hari beliau mengadakan ceramah-ceramah yang dapat dihadiri oleh 250 orang pada satu waktu, berhubung tempatnya sempit.

Satu dua hari ada juga orang-orang yang ingin menimbulkan keributan. Bahkan suatu hari mereka datang dengan niat menyerang rumah dimana Hazrat Ahmad as menetap. Tetapi semua kejadian ini jauh berbeda dari kedatangan beliau as yang pertama ke Delhi dahulu.

Kunjungan ke Ludhiana dan Amritsar


Ketika kembali, Jemaat Ahmadiyah di Ludhiana memohon agar Hazrat Ahmad as singgah d Ludhiana untuk satu dua hari. Disana beliau as menyampaikan sebuah pidato di hadapan umum yang mendapat cukup perhatian.

Kemudian datang permintaan dari Jemaat Ahmadiyah Amritsar agar beliau sudi pula datang ke Amritsar. Hazrat Ahmad as memenuhi permintaan mereka, dan dari Ludhiana beliau singgah di Amritsar. Disana telah direncanakan agar beliau menyampaikan sebuah pidato di hadapan umum.

Di Amritsar banyak pihak yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah. Dan saat itu para ulama yang mempunyai pengaruh besar menghasut masyarakat umum untuk menimbulkan keributan dan kekacauan. Pada hari pidato akan diselenggarakan, pihak musuh telah berniat mengacaukan suasana supaya pidato beliau as tidak jadi diselenggarakan disana.

Ketika Hazrat Ahmad as tiba di tempat acara pidato itu, tampak banyak para ulama mengenakan jubah-jubah panjang berdiri di pintu gedung. Mereka menghasut masyarakat untuk menentang beliau as. Banyak orang membawa batu. Hazrat Ahmad terus masuk ke dalam gedung tempat diselenggarakannya pidato itu dan mulai menyampaikan pidato beliau, supaya orang-orang tidak berkesempatan untuk mencela. Pidato baru saja berlangsung dua menit, lalu ada orang yang meletakkan secangkir teh di depan Hazrat Ahmad as. Pada waktu itu tenggorokan beliau as sakit, dan kalau minum sedikit dan berulang-ulang tentu akan meredakan sakit tenggorokan itu. Beliau memberi isyarat dengan tangan supaya tidak diberi teh, tetapi mengingat sakit tenggorokan beliau itu orang-orang tersebut tetap saja menaruh teh di hadapan beliau. Kemudian Hazrat Ahmad as meminum sedikit air teh tersebut. Sedangkan waktu itu Ramadhan, bulan puasa. Maka para ulama pun ribut menyatakan bahwa Hazrat Ahmad as bukan orang Islam, sebab tidak puasa pada bulan Ramadhan.

Hazrat Ahmad as menjawab, menurut firman Allah dalam Al-Quran, orang-orang sakit dan bepergian tidak perlu berpuasa, melainkan apabila sudah sehat atau kembali dari perjalanan, barulah boleh berpuasa. Sedangkan beliau sendiri dalam keadaan sakit serta dalam perjalanan.

Tetapi mereka yang telah emosi itu tidak mau memperhatikan penjelasan beliau. Kekacauan semakin meningkat, polisi pun tidak dapat mengendalikan suasana. Melihat keadaan itu, Hazrat Ahmad as duduk dan meminta orang lain untuk membacakan syair-syair dengan suara merdu. Hal itu berhasil juga menentramkan khalayak ramai. Kemudian beliau as kembali berdiri dan meneruskan pidato beliau. Namun para ulama kembali ribut dan mulai menyerang ke arah mimbar, dan polisi yang sedikit itu tidak mampu mengendalikan ribuan orang yang maju seperti ombak itu. Karena pihak keamanan tidak berdaya lagi, Hazrat Ahmad as pun menghentikan pidato beliau.

Tetapi kekacauan tidak berhenti, dan mereka terus membuat keributan. Para pejabat polisi meminta agar Hazrat Ahmad as pindah ke ruangan lain, dan memerintahkan para petugas untuk segera mendatangkan kendaraan yang tertutup. Polisi mencegah orang-orang masuk ke ruangan yang ditempati Hazrat Ahmad as , dan dari pintu yang lain telah didatangkan kendaraan tersebut. Beliau pun keluar menaiki kendaraan itu, dan orang-orang yang mengadakan keributan tersebut mengetahui bahwa beliau akan berangkat, maka mereka serentak keluar dari gedung dan  menyerbu ke arah kendaraan beliau.

Seorang dari mereka menyerang Hazrat Ahmad as dengan tongkat besar. Tetapi seorang murid beliau as menghalangi, dan pintu kendaraan yang masih terbuka justru menghalangi tongkat tersebut, sehingga murid beliau itu hanya mengalami luka ringan saja. Sekiranya tidak demikian, tentu orang itu akan mengalami luka parah. Kendaraan terus berangkat membawa Hazrat Ahmad as namun pihak penentang terus saja melempari batu dari kiri dan kanan. Meski jendela kendaraan itu telah ditutup, lemparan-lemparan batu membuatnya terbuka lagi. Kami yang duduk dalam kendaraan itu menutup kembali jendela-jendela dan menahannya dengan tangan. Namun lemparan-lemparan batu itu cukup kuat sehingga jendela kendaraan tersebut berkali-kali terbuka lagi.

Dengan karunia Ilahi tidak ada yang terluka, hanya sebuah batu mengenai tangan adik saya. Polisi yang mengawal di sekelilling kendaraan itu banyak yang kena batu. Maka pihak yang berwajib mengambil tindakan untuk menjauhkan orang-orang itu. Dari depan dan belakang kendaraan itu terus dikawal oleh polisi. Bahkan ada polisi yang duduk di atap kendaraan. Dengan cepat kendaraan itu tiba di tempat kediaman beliau as. Nafsu amarah para penentang itu bergelora, dan benyak yang berlari mengejar dari belakang kendaraan yang terus dikawal oleh polisi itu. Pada keesokan harinya Hazrat Ahmad as pun kembali pulang ke Qadian.

Al-Wasiat


Pada bulan Desember 1905, Hazrat Ahmad as mendapat ilham yang menerangkan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, oleh karenanya beliau menulis sebuah buku yang berjudul Al-Wasiat, yang disebar luaskan kepada seluruh warga Jemaat Ahmadiyah.

Di dalamnya beliau as memberitahukan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, dan menasihatkan agar Jemaat tenteram serta berbesar hati. Demikian pula, berdasarkan ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as mengumumkan untuk membuat sebuah areal perkuburan khusus (Bahesyti Maqbarah), dan orang-orang yang akan dikebumikan disana harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Yakni mengurbankan paling sedikit 1/10 harta bendanya dan 1/10 dari penghasilannya setiap bulan untuk kepentingan Islam. Hazrat Ahmad as menjelaskan :

“Allah Taala telah memberi kabar suka kepada saya, bahwa di perkuburan itu hanya orang-orang ahli surga saja lah yang akan dikuburkan.”

Dan beliau as juga membentuk sebuah badan untuk mengurus harta benda yang akan diserahkan oleh orang-orang yang akan dikuburkan di pekuburan tersebut, untuk digunakan bagi pengembangan Islam. Selain ketentuan tersebut, beliau as memberikan sebuah kabar ghaib :

“Untuk menjaga dan mengurus Jemaat ini setelah kewafatanku Allah Taala sendiri yang akan mengaturnya sebagaimana Dia telah mengatur setelah (kewafatan) nabi-nabi terdahulu. Allah akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hazrat Abu Bakar ra mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw.

Sebelum Al-Wasiat terbit, terlebih dahulu sudah ada badan-badan yang mengurus masalah pekerjaan-pekerjaan, pendidikan dan tabligh, yakni yang mengurus sekolahsekolah dan majalah. Kemudian untuk mengurus Bahesyti Maqbarah, tempat perkuburan tersebut, telah pula dibentuk sebuah badan baru. Namun atas permintaan beberapa murid beliau as, pada bulan Desember 1906, badan urusan wasiat atau Bahesyti Maqbarah itu diganti dengan sebuah lembaga yang mengurus sekolahsekolah, majalah Review of Religions, Bahesyti Maqbarah tempat perkuburan itu, dan urusan-urusan lainnya. Yakni sebuah lembaga yang dinamakan Sadr Anjuman Ahmadiyah yang berpusat di Qadian.

Kunjungan Sir Wilson ke Qadian


Pada tanggal 21 Maret 1908, Sir Wilson sebagai Financial Commissioner propinsi Punjab berkunjung ke Qadian. Hazrat Ahmad as memerintahkan warga Ahmadi menyambut dan menghormati Sir Wilson, serta menyediakan sebuah kemah di lapangan sekolah, dan memberikan jamuan kepadanya.

Para penentang Hazrat Ahmad as sudah lama menyebarluaskan isu bahwa beliau anti pemerintah, sebab tidak suka bergaul dengan para pembesar negeri. Maka dengan amal perbuatan nyata beliau as telah membersihkan tuduhan itu. Hazrat Ahmad as sendiri beserta tujuh atau delapan tokoh Ahmadi lain pergi menemui tamu tersebut. Sir Wilson pun menerima Hazrat Ahmad as dengan sangat hormat di depan pintu kemahnya, dan menanyakan berbagai hal tentang Jemaat Ahmadiyah. Satu hal yang penting dalam pembicaraan tersebut ialah tentang Muslim League yang baru saja didirikan pada waktu itu. Para pembesar pemerintah Inggris waktu itu sangat menyetujui anggaran dasar partai Muslim League tersebut, dan menganggap bahwa partai ini benar-benar akan dapat menjauhkan kesalahan-kesalahan yang ditimbulkan oleh partai Kongres. Bahkan ada juga para pembesar negeri yang dengan halus menganjurkan tokoh-tokoh terkemuka dan rakyat untuk masuk ke dalam partai tersebut. Sir Wilson pun menceritakan tentang Muslim League ke Hazrat Ahmad as dan menanyakan tanggapan beliau as. Hazrat Ahmad as menerangkan, beliau tidak begitu menyetujuinya. Sir Wilson memuji lagi lembaga itu. Hazrat Ahmad as menerangkan bahwa lembaga itu dapat membahayakan. Sir Wilson menyatakan, lembaga ini jangan disamakan dengan partai Kongres, karena dari permulaan pun telah kelihatan bahwa partai Kongres akan melampaui batas-batas yang diinginkan, tetapi lembaga yang satu ini telah didirikan atas undang-undang dan peraturan yang sedemikian rupa sehingga tidak akanmenyerupai partai Kongres.

Seorang murid Hazrat Ahmad as bernama Khwaja Kamaluddin — yang mendirikan Woking Mission dan menerbitkan majalah Muslim India — juga menyatakan persetujuannya atas keteranngan Sir Wilson. Ia menerangkan bahwa ia pun ikut menjadi anggota partai tersebut karena undang-undang dasarnya bagus dan jauh dari bahaya. Tetapi Hazrat Ahmad as menjawab, ” Saya merasa lembaga ini pun nanti pada suatu waktu akan menyerupai partai Kongres, dan caranya ikut campur dalam politik negeri akan berbahaya juga.”

Kini setiap orang yang memperhatikan masalah politik dapat menyaksikan kebenaran ucapan Hazrat Ahmad as yang telah menjadi sempurna itu.

Perjalanan Terakhir


Pada tanggal 27 April 1908, berhubung karena sakitnya ibu kami, Hazrat Mu’minin (istri Hazrat Ahmad as , yang bernama Nusrat Jahan Begum ra. -pen.), beliau akan berangkat ke Lahore. Malam itu beliau as mendapat ilham: Janganlah mengabaikan permainan zaman Hazrat Ahmad as menerangkan bahwa ilham ini mengisyaratkan pada suatu peristiwa yang akan menyedihkan. Justru pada malam itu juga, adik kami, Mirza Syarif Ahmad jatuh sakit. Namun Hazrat Ahmad as tetap memaksakan untuk berangkat.

Ketika sampai di Batala — stasiun kereta api terdekat dari Qadian — pada waktu itu diketahui bahwa karena ada huru-hara di perbatasan, hanya sedikit kereta api yang digunakan untuk keperluan umum. Maka Hazrat Ahmad as terpaksa menunggu dua tiga hari di Batala, kemudian barulah diperoleh sebuah gerbong bagi beliau as. Dan beliau menceritakan kepada kami anggota keluarga, bahwa beliau mendapat ilham yang menakutkan, dan juga mendapat beberapa hambatan di perjalanan. Oleh karena itu beliau as menetapkan untuk sementara waktu menetap dulu di Batala dan memanggil seorang dokter perempuan.

Tetapi istri beliau as meminta supaya tetap melanjutkan perjalanan ke Lahore. Setelah dua tiga hari, beliau as meneruskan perjalanan ke Lahore. Kedatangan Hazrat Ahmad as di Lahore menimbulkan keributan besar. Dan sebagaimana biasanya, para ulama berkumpul untuk menentang beliau as.

Di sebuah lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah tempat Hazrat Ahmad as menginap, setiap hari dari jam empat sore sampai jam sembilan malam para penentang itu menyelenggarakan pidato-pidato yang menghina dan mencaci maki beliau as dengan kata-kata kotor. Para murid beliau as yang terpaksa harus melalui kawasan itu, menyatakan keprihatinan atas kata-kata kotor para penentang tersebut. Hazrat Ahmad as memberi nasihat kepada murid-murid beliau bahwa cacian dan kata-kata kotor itu sedikit pun tidak merugikan kita, maka jangan perdulikan hal itu, bahkan tidak perlu memandang ke arah itu.

Oleh karena Hazrat Ahmad as akan menetap agak lama di Lahore, maka orang-orang Ahmadi dari kota-kora lain pun banyak berdatangan dan berkumpul di Lahore. Setiap waktu ramai orang yang datang untuk berjumpa dengan beliau as.

Umumnya orang-orang kaya di seluruh dunia kurang memberikan perhatian agama. Maka untuk menyampaikan tabligh kepda orang-orang kaya di Lahore, Hazrat Ahmad as melalui seorang hartawan yang telah beriman kepada beliau as. mengundang orang-orang kaya lainnya dala sebuah jamuan khusus. Sebelum jamuan disajikan, Hazrat Ahmad as menyampaikan sebuah pidato yang agak panjang. Baru satu jam beliau as berbicara, sudah ada seorang dari hadirin yang menyatakan kebosanannya. Tetapi hadirin lainnya segera membantah dan mendesak supaya santapan rohani itu dilanjutkan. Maka Hazrat Ahmad as pun meneruskan pidato beliau setengah jam lamanya.

Ada yang salah paham tentang pidato tersebut, bahwasanya Hazrat Ahmad as telah menarik kembali penda’waan beliau sebagai nabi. Dan berita yang berisikan kesalahpahaman itu dicetak pula oleh sebuah surat kabar bernama Akbhar-e-Aam Lahore.

Hazrat Ahmad as pun segera membantah berita yang salah itu dan menyiarkan sebuah karangan yang berjudul Ek Ghalathy Ka Izalah, yakni memperbaiki suatu kesalahan. Beliau as menjelaskan :

“Saya memang mendakwahkan sebagai nabi dan sama sekali tidak pernah menarik kembali pendakwahan itu. Hanya saja saya tidak membawa syariat baru, dan tetap hanya satu syariat saja, yang dibawa oleh Junjungan yang Mulia Nabi Muhammad saw.

Kewafatan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.


Hazrat Ahmad as sering terserang penyakit diare, dan kali ini setelah tiba di Lahore penyakit ini menyerang dengan lebih hebat lagi. Orang-orang tidak henti-hentinya datang menjumpai beliau, sehingga beliau tidak dapat waktu yang cukup untuk istirahat. dalam keadaan sakit demikian beliau as menerima sebuah ilham :

Waktu berangkat telah tiba, lalu waktu untuk berangkat telah tiba.

Ilham ini menimbulkan kekhawatiran pada banyak orang. Lalu datang pula sebuah berita dari Qadian bahwa seorang Ahmadi mukhlis disana telah wafat. Sebagian orang mulai menganggap bahwa ilham tersebut berkenaan dengan Ahmadi yang telah wafat itu. Tetapi Hazrat Ahmad as menjelaskan bahwa ilham itu adalah tentang seseorang yang terkemuka dalam Jemaat Ahmadiyah, dan bukan tentang orang yang telah wafat tersebut.

Karena perasaan yang ditimbulkan oleh ilham itu, Hazrat Ummul Mu’minin mengajak Hazrat Ahmad as pulang ke Qadian. Hazrat Ahmad as menjawab :

“Sekarang saya tidak kuasa lagi untuk pulang, dan jika Allah mau membawa nanti, saya dapat juga sampai ke Qadian.”

Meski pun beliau telah menerima ilham itu dan dalam keadaan sakit, Hazrat Ahmad  as tetap saja sibuk dalam pekerjaan beliau. Dalam keadaan sakit itu beliau merencanakan sebuah pidato untuk menimbulkan kecintaan dan perdamaian antara Hindu dan Muslim. Hazrat Ahmad as mulai menulis pidato tersebut, yang diberi nama Peygham-e-Suluh yang artinya Himbauan ke Arah Perdamaian.

Pekerjaan ini semakin melemahkan tubuh belaiu as dan penyakit buang-buang air pun bertambah parah. Sebelum karangan pidato tersebut selesai, pada malam hari itu Hazrat Ahmad as mendapat ilham dalam bahasa Farsi : Janganlah menyandarkan diri pada umur yang tidak kekal.

Hazrat Ahmad  as menyampaikan ilham ini kepada anggota keluarga beliau, dan menerangkan bahwa, “Ilham ini adalah tentang diri saya.”

Keesokan harinya naskah pidato itu telah selesai dan diserahkan untuk dicetak. Setelah itu pada waktu malam, penyakit Hazrat Ahmad as semakin parah dan sangat melemahkan tubuh beliau. Hazrat Ummul Mu’minin bangun dan terkejut melihat keadaan beliau a as yang sudah benar-benar lemah, lalu menanyakan kenapa. Hazrat Ahmad as menjawab, “Sekarang saat kewafatan saya sudah tiba.”

Kemudian beliau  as buang air lagi, dan kondisi beliau menjadi sangat lemah. Beliau memerintahkan agar memanggil Hazrat Maulvi Nuruddin ra (tabib yang ahli dan seorang Ahmadi Mukhlis). Kemudian beliau as meminta agar membangunkan Mahmud (penulis buku ini) dan Mir Sahib (mertua beliau as.)

Tempat tidur saya tidak jauh dari tempat tidur beliau as. Saya pun bangun dan melihat keadaaan beliau yang sangat gelisah. Para dokter telah datang, dan mulai mengobati beliau. Tetapi obat-obat itu tidak dapat menolong. Akhirnya beberapa obat diberikan melalui suntikan, dan beliau pun dapat tertidur. Pada waktu Subuh, Hazrat Ahmad as terbangun dari tidur, dan melaksanakan shalat Subuh. Suara beliau as serak, sehingga sulit berbicara. Kemudian beliau meminta pena dan tinta untuk menulis sesuatu, tetapi karena terlalu lemah, Beliau tidak mampu memegang pena lagi dan tidak dapat menulis. Beliau pun merebahkan diri di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian tampak beliau as seperti tertidur.

Pada tanggal 26 Mei 1908, pukul 10:30 pagi Hazrat Ahmad as  Telah mengkhidmati agama-Nya. Innaa lillahi wa innaa illayhi roji’uwn.

Sewaktu sakit, hanya satu perkataan yang selalu beliau ucapkan, yaitu “Allah”. Kabar tentang kewafatan Hazrat Ahmad as dengan cepat tersebar keseluruh Lahore. Jemaat Ahmadiyah di tempat-tempat lain -pun diberitahukan dengan telegram pada petang hari itu dan esok harinya, surat-surat kabar diseluruh India memuat berita tentang kewafatan beliau as.

Selama hidup, Hazrat Ahmad as senantiasa bersikap halus dan sopan terhadap musuh-musuh beliau. Akan tetapi ketika beliau as wafat, para musuh beliau memperlihatkan kebencian dan dendam mereka, dengan melakukan berbagai macam perbuatan yang hina.

Setengah jam setelah kewafatan beliau as sebuah rombongan besar orang-orang yang tidak senang terhadap beliau as telah berkumpul didepan rumah tempat tinggal beliau di Lahore. Mereka berteriak dan bersorak-sorak, serta melakukan berbagai macam tindakan yang menampakan kekotoran batin mereka.

Jemaat Hazrat Ahmad as sangat mencintai beliau. Mereka menyaksikan jenazah beliau di hadapan mereka. Namun karena kecintaan yang tinggi, mereka hampir tidak sudi menerima kenyataan bahwasanya beliau as telah wafat, berpisah dari mereka untuk selama-lamanya. Murid-murid Nabi Isa Israili dahulu sangat heran melihat Nabi Isa as masih tetap hidup setelah disalib. Tetapi murid-murid Masih Mau’ud as yang sekarang justru sangat heran melihat beliau as telah wafat. Seribu tiga ratus tahun sebelumnya, ketika Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad sawKhaataman Nabiyyin, penghulu sekalian Nabi — telah wafat, seorang penyair Muslim pernah mengungkapkan perasaan hatinya sebagai berikut:

Engkau lah biji mataku,

kewafatanmu telah menghilangkan penglihatanku;

kini setelahmu, siapa pun yang meninggal aku tidak perduli,

sebab hanya kewafatnmu lah yang daku risaukan.

Kini setelah 1300 tahun, kita menyaksikan lagi keadaan semacam itu atas wafatnya.

Hazrat Ahmad as — seorang murid Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. Orang-orang yang telah beriman kepada Hazrat Ahmad as sangat berduka dan bersedih hati atas kewafatan beliau. Seolah-olah dunia telah menjadi gelap bagi mereka. Hingga sekarang pun mereka tetap berduka demikian di dalam hati. Walaupun sudah seabad mereka tidak akan dapat melupakan suasana tersebut — tatkala Rasul Allah, Hazrat Ahmad as yang mereka cintai itu masih hidup dan bergaul dengan mereka. Kedukaan hati dapat mempengaruhi dan menggelisahkan manusia. Saya pun sewaktu, menceritakan keawafatan Hazrat Masih Mau’ud as. ini telah jauh bergeser dari pokok pembahasan.

Saya telah ungkapkan tadi bahwa Hazrat Ahmad as wafat pada pukul 10:30 pagi. Kemudian segera diatur segala yang perlu untuk membawa jenazah beliau as ke Qadian. Dengan kereta api sore, pada hari itu juga, jenazah beliau as disertai rombongan besar Jemaat Ahmadiyah, diberangkatkan ke Qadian. Demikianlah telah sempurna ilham beliau as (dalam bahasa Urdu berikut ini) yang telah dicetak sebelumnya :

Jenazahnya telah dibawa dengan terbungkus kain kafan. Setelah turun di stasiun Batala, jenazah Hazrat Ahmad as diusung sampai ke Qadian. Sebelum beliau dikebumikan Jemaat yang berada di Qadian dan ratusan wakil Jemaat Ahmadiyah dari tempat-tempat lainnya dengan sepakat telah mamilih Hazrat Haji Maulvi Nuruddin sebagai pengganti beliau as dan sebagai Khalifatul Masih Awwal. Dan mereka pun bai’at kepadanya. Demikianlah kabar ghaib yang tercetak di dalam buku Al-Wasiat Hazrat Ahmad as telah menjadi sempurna:

“Allah Taala akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hazrat Abu Bakar ra mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw.

Kemudian Hazrat Khalifatul Masih Awwal ra. memimpin shalat jenazah Hazrat Ahmad as. Dan setelah Zuhur, jenazah hazrat Ahmad as dikebumikan.

Demikian pula telah sempurna ilham Hazrat Ahmad as yang beliau terima pada bulan Desember 1907, dan yang telah dicetak sebelumnya: “Sebuah peristiwa pada tanggal 27.”

Hazrat Ahmad as wafat pada tanggal 26 Mei 1908, dan dikebumikan di Qadian pada tanggal 27 Mei 1908. Selain ilham tersebut, ada lagi ilham (dalam bahasa Farsi) yang menjelaskan hal itu: “Telah tiba saatnya.”

Pada peristiwa kewafatan Hazrat Ahmad as seluruh surat kabar berbahasa Inggris maupun Urdu di India — walau memusuhi — juga mengakui bahwa beliau as adalah seorang tokoh besar zaman sekarang ini. [SELESAI]

(Visited 492 times, 1 visits today)